hit counter code



Jump to content


Situs Judi Bola

ss Situs Judi Bola Situs Judi Bola ss

ingin beriklan? hubungi kami: email : megalendir@gmail.com , big.lendir@yahoo.com atau Skype : big.lendir@yahoo.com

ss ss ss
ss ss ss
vert
vert
Photo
- - - - -

Pesta Di Akhir Pekan

pesta seks copas

  • Please log in to reply
25 replies to this topic

#1 Cioe_pek_tong

Cioe_pek_tong

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 16 posts

Posted 23 January 2017 - 06:31 AM


Chapter 6: Hadiah

Sebagai pemenang, Mas Asep bakal dilayanin sama kita bertiga dan Dinda dapat tiga cowok sekaligus! seru Eci sambil bertepuk tangan
Asik, sama tiga orang sekaligus, akhirnya ngerasain juga! sorak Dinda bahagia
Beuh, malah seneng dia...Hayu Jen, Ri, kita hajar sama-sama si Dinceu! balas Reza
Dinda dan para cowok lalu sibuk berbalas ledekan. Sementara Asep tentu kecewa. Kalo gini ceritanya mending gak usah menang deh tadi, pikirnya. Tapi kalau mereka kalah pun, ya tetap saja mereka tidak akan berpasangan lagi. Yah, sudahlah. Mungkin memang takdirnya.
Mas Asep gak usah tampang grogi gitu kalee ujar Dita memecah lamunan Asep
Hmm? O-oh iya Mbak, kaget saya nih sama tiga cewek sekaligus haha Asep mencoba menutupi kekecewaannya
Tenang aja Mas Asep...kita bakal melayani Mas Asep sepenuh hati goda Eci dengan mata berbinar
Cieee Mas Asep jadi raja sehari nih timpal Irma

Reza yang menggamit tangan Dinda berteriak dari pintu belakang Mbak Eci, gak harus maen di situ kan? Kita mau ngegarap si Dinda di kamar atas
Yoooooo balas Eci tanpa menengok, dan Dinda beserta ketiga pria yang siap mengganyang tubuhnya itu pun menghilang di balik pintu.
Asep sedikit lega dia tidak harus melihat eksekusi Dinda di depan matanya, tapi tetap saja dia merasa cemburu. Dan Asep semakin dongkol ketika dia sadar bahwa dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena dia tidak punya hak apapun untuk protes.
Mas Asep gak usah pikirin macem-macem, nikmatin aja saran Dita
I-iya Mbak, hehe, grogi saya Asep tahu yang dimaksud Dita adalah tentang Dinda
Ya udah kalo Mas Asep belum panas kita aja yang mulai, ok gals? Aku punya ide ujar Eci sambil berbisik bergantian ke telinga Dita dan Irma. Asep hanya bisa garuk-garuk kepala.

Asep kemudian dibimbing para gadis ke arah kursi panjang di teras belakang. Matahari sudah mulai condong ke barat saat Asep duduk menghadap halaman belakang yang luas. Seperti seorang raja minyak dengan haremnya, Asep diapit oleh Dita dan Irma di kanan kirinya. Oleh kedua gadis itu, tangan Asep diarahkan untuk merangkul bahu mereka. Dengan binal keduanya mulai menciumi leher Asep, membuat pria beruntung itu kegelian. Ditambah lagi gesekan empuk pabrik susu Irma dan Dita beserta puting mereka yang sudah menegang di kanan-kiri dada Asep. Tangan mereka membimbing tangan Asep yang sedang merangkul mereka untuk meremas payudara keduanya yang tidak sedang menempel di dada Asep. Puas mencumbui leher Asep, Dita dan Irma bergantian mencium mesra bibir Asep, mengajari pria lugu itu french kiss yang panas. Saat salah satunya mencium bibir Asep, yang lain turun mencumbui dada Asep. Kontolnya tak disentuh sama sekali, tapi perlakuan kedua gadis di bagian tubuh lainnya cukup untuk membuat senjata Asep terkokang siap untuk ditembakkan.
Mas Asep susah panasnya tapi kalo udah mood maennya mantep gila..hmmmhh..cuupphh goda Irma di sela-sela cumbuannya.

Tentu ada alasannya kontol Asep tidak mereka sentuh sama sekali. Karena benda yang mereka puja itu adalah jatahnya Eci sekarang. Asep tidak percaya ketika melihat Eci dengan binalnya merangkak ke arah selangkangannya. Di balik kacamata bingkai tebalnya, mata Eci tampak begitu fokus memandangi pedang Asep yang terhunus tegak. Begitu sampai, Eci langsung membenamkan kepalanya yang terbungkus jilbab di selangkangan Asep. Gadis bertubuh mungil itu menggesekkan wajahnya di batang Asep, persis seperti kucing yang merajuk minta makan dengan cara menggesekkan kepalanya di kaki majikannya. Hembusan nafas Eci begitu terasa di kulit kontol Asep yang sensitif, membuat Asep semakin geli-geli nikmat. Dan itu belum seberapa, karena kemudian Eci mulai menjilati peler Asep dengan lidahnya yang lembut, basah, dan hangat. Jilatan Eci di kulit peler Asep yang tipis begitu nikmat, lalu gadis itu semakin naik, dari pangkal kontol, ke bagian tengah, hingga ke ujung. Dirangsang seperti itu, Asep ingin bersuara mengekspresikan kenikmatannya...tapi tak bisa karena sekarang Dita dan Irma bergantian menyumpal mulut Asep dengan payudara mereka. Asep pun hanya bisa pasrah menyusu bergantian kanan-kiri.

Bibir Eci yang lembut sudah di ujung kontol Asep sekarang. Bergantian mencium dan menjilati kepala kontol itu seperti es krim. Lalu HAP! Rahang Eci terbuka menelan kontol Asep, dan dalam sekejap batang sakti itu sudah terbenam seluruhnya. Karena mulut Eci yang mungil, kontol Asep sampai menyentuh ujung tenggorokan Eci yang lunak dan basah. Sensasi deepthroat ini sungguh membuat Asep yang masih terjepit gunung empuk semakin panas dingin, apalagi kemudian Eci menggerakkan kepalanya maju mundur, menyedot kontol Asep dengan syahdu dari pangkal hingga ke ujung. Bagai burung pelatuk, Eci menggerakkan kepalanya dengan cepat tanpa ampun. Suara sedotan dan hisapan mulut Eci memenuhi tempat itu.
Sluuurrrpp...Phuaahh! Eci akhirnya melepas mulutnya dari kontol Asep, air liur menetes-netes dari sudut bibirnya, bercampur dengan beberapa helai jembut Asep yang tercabut saking buasnya sepongan Eci.
Ahh gila, sampe masuk ke tenggorokan gue... gumam Eci sambil mengusap-ngusap lehernya. Lalu gadis berkacamata itu berdiri dan menaikkan tubuhnya ke pangkuan Asep.
Saatnya penetrasi.
Ahhh lenguhnya saat kepala kontol Asep menyentuh bibir memeknya
Hnngghhh Eci mengerang sambil memejamkan mata ketika kontol Asep mulai melesak masuk ke memeknya yang mungil dan sempit itu
Oooohhhh...Oohhhh Eci mendesah lega ketika kontol Asep amblas seluruhnya.
Baru masuk ajah, udah enak ginih racaunya sambil gemetar.
Tampaknya Eci orgasme ringan dipenetrasi Asep.

Kontol Asep sudah dirangsang setengah mati, dan bagian atasnya pun tak mau kalah. Dua bukit susu menjepit Asep dari kanan-kiri. Bila salah satunya masuk di mulut, yang lain digesek-gesek ke wajahnya seolah ingin melukis pipi Asep dengan puting susu sebagai kuasnya. Diserang gencar seperti itu, akhirnya mesin Asep panas juga. Ah bodo amat sama si Dinda, mending hajar yang di depan mata ajah! Pikir Asep yang akal sehatnya sudah ditendang jauh-jauh oleh nafsu. Dan inilah yang diharapkan Dita, Irma dan Eci. Tangan Asep yang tadinya pasif, mulai bergerak. Mulanya dia mengelus-elus punggung Dita dan Irma yang membuat kedua gadis itu menggelinjang. Lalu turun ke bawah meremas pantat empuk mereka, tak lupa menepuk-nepuk buntalan lemak menggiurkan itu. Dan tangan Asep semakin turun,
Hingga akhirnya sukses mencucuk memek Dita dan Irma secara bersamaan dengan jarinya.
Ahhh.. Irma mengerang ketika jari Asep menembus belahan memeknya yang sudah sangat basah
Akhirnyaa...Ahhh...Sukseess kita Ir... racau Dita
Iiyaahhh...Ahhh...Kalo udah gini Mas Asep mantep dehh timpal Irma
Menggencarkan serangan, Irma dan Dita saling mendekat dan kedua sahabat itu pun berciuman mesra tanpa tanggung. Ini membuat kepala Asep semakin terjepit payudara mereka. Susu Dita yang montok dan empuk di kanan, dan susu Irma yang sedikit lebih kecil tapi padat dan sekal di kiri. Asep balas menyerang dengan semakin gencar mengobel memek keduanya dengan dua jari. Irma yang paling gampang orgasme pun bobol pertahanannya.
Aduhh..Ahhh..Gua keluar..Ahh..Ditaaaa! Irma menggelinjang, membuat payudaranya yang masih menempel di wajah Asep bergerak liar.
Anjrit, seumur idup belom pernah gua mimpi nih mata nyaris kecolok pentil, pikir Asep. Sementara Irma sedang di awang-awang, Dita menurunkan tubuhnya agar bisa mencium bibir Asep. Sambutan ciuman Asep meyakinkannya bahwa keraguan Asep sudah hilang.

Di bawah sana. Eci dengan khidmat menggerakkan tubuh mungilnya di atas kontol Asep. Naik-turun, maju-mundur, diputar, digoyang, dikocok semuanya dia kerahkan. Dengan memek mungilnya gerakan apapun terhadap kontol Asep memberi Eci kenikmatan tiada tara. Bahkan dengan hanya diam pun, desakan kontol Asep yang sampai menyentuh bibir rahimnya sudah terasa nikmat; Tapi Eci ingin lebih dan lebih. Gerakan tubuhnya yang liar membuat buah dadanya memantul-mantul liar, keringat mengalir deras di tubuhnya walau cuaca mulai sejuk sore itu. Dan suasana sore yang damai itu pun dipenuhi suara kecipak memek banjir Eci yang sedang menggesek kontol Asep, diiringi lenguhan, erangan, desahan, dan pekikan nikmat ketiga gadis berjilbab itu. Eci terus mengejar kenikmatannya hingga akhirnya tubuh mungilnya tersentak, matanya terpejam dengan erangan nikmat keluar dari mulutnya.
Gaahhhhhh..Ahhhhh! erangnya sambil mengejang di atas pangkuan Asep.
Asep sukses mengantar gadis mungil itu ke puncak kenikmatannya, tapi hebatnya gempuran dahsyat mulut dan memek Eci tidak cukup untuk membuatnya muncrat.
Eci menarik tubuhnya, melepas memek hangatnya yang banjir bandang dari kontol Asep yang masih sangat keras. Masih ngos-ngosan, dia merebahkan tubuhnya di sebelah Dita, menggumam tak jelas.
Mas Asep giliran aku yaaa bisik Irma manja di telinga Asep
Irma lalu berdiri dan menarik tangan Asep agar ikut berdiri. Sekilas Asep melirik ke arah Dita, terlihat olehnya gadis itu sedang memeluk dan menggerayangi Eci yang masih lemas.

Setelah saling berciuman dalam posisi berdiri, Irma berlutut di depan Asep.
Hmmhhhm cupphh lidah Irma menjelajahi sekujur batang Asep. Irma masih merasakan cairan memek Eci di kontol Asep, dan bukannya jijik, irma justru tampak senang. Seperti sedang menjilati es krim batangan, Irma terlihat begitu menikmati mengulum batang kemaluan asep. Sesekali mata bulatnya menatap binal ke mata Asep, membuat Asep semakin bergairah.
Ahhh...Uhhh...Enakh bangethh Mbakkhh erang Asep yang merasa nikmat luar biasa
Slurrphh..Puahh..nih udah aku bersihin ya Maaas ujar Irma dengan manja
Gadis jangkung itu berdiri kembali, memeluk Asep dan melingkarkan tangannya di leher Asep. Saat Asep meremas-remas pantat sekalnya, Irma menaikkan salah satu kakinya hingga lubang memeknya yang basah total merekah, siap untuk ditusuk. Seperti lomba Ekiben tadi, Asep menggunakan sebelah tangannya untuk mengarahkan kontolnya ke lubang nikmat Irma.
BLESH!
Auhhhh...Mas Aseeppphhh! Irma melenguh nikmat dengan suara serak-serak basahnya.
Asep mengira Irma ingin disetubuhi seperti ini jadi mulai menggerakkan pinggulnya untuk menggenjot memek Irma. Tapi tanpa disangkanya Irma meloncat secara tiba-tiba hingga tubuh Irma nemplok di pangkuannya, persis seperti posisi lomba tadi. Untung saja waktu itu Asep sedang meremas pantat bulat Irma hingga dia bisa menangkap tubuh semampai gadis itu. Belum lama tadi Asep mengerahkan tenaganya hingga kelelahan bolak-balik halaman sambil menggendong Dinda, tapi Asep tidak keberatan harus kembali mengambil posisi ini. Instingnya yang sudah on langsung menggempur memek Irma dengan gencar bagai piston. Irma yang menggantungkan tubuhnya di badan Asep pun terlonjak-lonjak seiring pompaan kontol Asep yang ganas.

Irma terus mengerang-erang ah dan oh tanpa henti sambil menengadah. Dalam posisi seperti ini, Irma memasrahkan tubuhnya sepenuhnya di tangan Asep. Sekarang dia bagai hanya sebuah boneka yang terlempar-lempar oleh sodokan brutal kontol Asep di memeknya. Irma sangat menikmati posisinya yang tak berdaya, takluk, dan pasrah dikuasai oleh seorang pejantan yang mengobrak-abrik tubuhnya tanpa bisa melawan. Sedangkan Asep begitu menikmati dominasinya, egonya sebagai seorang lelaki terpuaskan saat dia bisa menguasai tubuh gadis cantik berjilbab seperti Irma sepenuhnya.
Ahhh...Oohhhh...Ahhh! Irma terus mendesah, mengerang, dengan penuh kepasrahan dan kenikmatan. Tubuhnya yang indah seperti model bermandikan keringat. Apalagi Asep, tanpa harus berjalan bolak-balik seperti lomba tadi dan hanya diam di tempat sambil menggenjot pun posisi ini sudah melelahkan. Tapi Asep sudah di puncak birahinya sekarang. Nafsunya untuk menyikat tubuh gadis-gadis yang memancing birahinya sudah menguasai akal sehatnya. Tadi sempat terkekang karena Eci mengambil kendali sementara dia disandera Dita dan Irma, sekarang dia bebas. Asep akan memberi pelajaran kepada mereka yang sudah memancing birahinya hingga nyaris gila.

Dan tiba-tiba terdengar pekikan Eci. Asep yang melirik ke arahnya kaget melihat Dita sudah membenamkan kepalanya di selangkangan Eci. Tampaknya Dita sedang asyik menyedot cairan cinta rekan kerja seniornya itu, karena suara seruput yang erotis terdengar sampai ke telinga Asep. Melihat pemandangan permainan sesama jenis itu, Asep semakin bernafsu. Cewek-cewek binal ini harus dihukum! Tekad Asep. Sambil terus menggendong dan menggenjot Irma, Asep melangkah mendekati dinding tembok tak jauh dari situ. Begitu sampai, Asep langsung memepet tubuh ke tembok. Irma memekik saat tubuhnya dengan seenaknya dihempas Asep ke tembok. Pekikan kaget, sakit, tapi juga nikmat. Sekarang Irma dijepit tubuh Asep dan tembok, membuat Asep bisa semakin leluasa dan gencar menyodok kontolnya dalam memek Irma. Ibarat ditindih dalam posisi misionaris, tapi dalam posisi vertikal.
Ahh Mas Asephhh yang kencenggg...Terusss...Ahhh! Irma memohon, merengek agar Asep terus menyetubuhinya semakin cepat, semakin kasar, semakin tidak manusiawi. Kaki Irma sudah tidak memijak tanah, tubuhnya hanya ditopang oleh kontol Asep. Perasaan tidak berdaya ini membuai angan gadis modis berjilbab itu, membuatnya ketagihan. Kepasrahan Irma adalah kenikmatan buat Asep. Irma yang tak berdaya jadi sasaran empuk bagi kontol kerasnya. Irma hanya megap-megap, merem-melek tak berdaya memeknya dihujam habis-habisan oleh kontol perkasa Asep.
Ahhhhh...Ohhhh! keduanya terus macu birahi dengan liar, tak peduli dengan keringat yang mengucur membanjiri tubuh mereka. Sementara Irma juga semakin banjir di liang nikmatnya, bersiap untuk orgasme super dahsyat yang segera tiba.

Hhhaaaahhhhh...Mas Aseppppphhhh! Irma berteriak keras memanggil namanya, dan insting Asep pun langsung bekerja mendeteksi datangnya orgasme Irma. Dia mengganti tusukan-tusukan pendeknya yang seperti piston dengan tusukan-tusukan panjang dengan hentakan kuat. Tusukan Asep yang begitu dalam memicu gelombang kenikmatan di pusat syaraf Irma.
Oooouuhhhhhhhhh! Irma melolong merasakan orgasme maksimalnya. Tubuhnya menggelepar dalam pelukan Asep. Begitu seluruh otot di tubuhnya selesai berkontraksi, Irma merasa tubuh dan pikirannya begitu damai dan ringan.
Hahhh...hahh dengan nafas masih memburu, Irma menatap mata Asep dengan matanya yang bulat indah. Dia memandangi sang pejantan yang sudah mempecundangi tubuhnya itu dengan pandangan antara mesra, takjub, dan pasrah. Tak terpikirkan sekalipun pacarnya sendiri, saat ini insting primitif liar Irma sebagai seorang wanita lebih tergila-gila dengan pemilik kontol perkasa yang memberinya kenikmatan duniawi. Apalagi kontol itu masih menancap keras dalam memeknya.
Sang pejantan sendiri begitu lega melihat betinanya takluk di pelukannya. Ego Asep melambung tinggi. Ditatap dengan penuh kepasrahan oleh Irma, Asep tersenyum sombong sambil sesekali menyundul-nyundul memek Irma dengan kontolnya.
Iihh Mas Aseeeepp... desah Irma sambil terus menatap mata Asep dengan pasrah

Tapi Asep si pejantan tak punya waktu untuk terus bermesraan dengan Irma. Dia masih punya satu target lagi untuk dihukum. Irma melenguh kecewa ketika kontol Asep tercabut dari lubang memeknya. Gadis itu terduduk lemas, bersandar di dinding melihat Asep mendekati Dita yang saat itu sedang ber-69 dengan Eci. Dita berada di atas, asyik menjilati memek dan kelentit Eci di bawahnya sehingga dia tidak menyadari kedatangan Asep. Dibiarkannya pantatnya menungging membelakangi Asep dan Irma, memperlihatkan pantat dan belahan memeknya yang sedang dijilati Eci. Hingga tiba-tiba...
Ahhhh! Dita memekik ketika memeknya tiba-tiba tertusuk benda keras nan panjang milik Asep
PLAK! PLAK! Asep lalu menampar pantat putih dan montok Dita, menghukum gadis yang terlihat alim tapi sebenarnya super binal itu. Tadi siang atas permintaan Dita, Asep menyetubuhinya dengan pelan-pelan dan mesra. Tapi sekarang dia ingin mencoba kebalikannya, seperti yang dilakukan Jejen di malam pertama. Toh, Dita sendiri bilang dia suka main kasar. Asep ingin melihat sebinal apa gadis yang sudah mengetahui rahasianya itu. Dita menjerit-jerit nikmat ketika Asep semakin gencar menggenjot memeknya. Suara kecipak dari memek basah Dita yang dipompa oleh kontol Asep mengiringi jeritannya.

Sibuk menikmati genjotan Asep, Dita melupakan memek Eci yang tadi dilahapnya. Tapi Eci tak keberatan, karena dia disuguhi pemandangan fantastis. Tepat di depan mukanya, dia bisa melihat dari dekat kontol Asep yang keluar masuk memek tembem Dita. Cairan cinta Dita yang melimpah memercik di setiap tusukan kontol Asep, membasahi wajah dan kacamata Eci seperti hujan. Dengan lahap Eci menjilat dan menelan setiap percikan cairan memek Dita yang kebetulan hinggap di mulutnya. Lalu Eci mendongakkan kepalanya dan mengulurkan lidahnya sepanjang mungkin, hingga mencapai kelentit Dita. Sehingga Dita semakin histeris saat merasakan kelentitnya dijilat Eci, padahal memeknya sendiri sedang digenjot kontol Asep. Dita yang kelabakan ambruk menindih tubuh Eci. Kepalanya terbenam dalam jembut Eci. Tapi Asep tidak memberinya ampun. Dia ingin menaklukkan Dita sebelum gadis itu bisa membalas dengan kekuatan kedutan memek khasnya. Asep terus menghantam kemaluan Dita dari belakang. Sesekali dia menepuk, menampar, meremas, dan mempermainkan pantat empuk Dita hingga yang tadinya putih mulus menjadi kemerahan.
Ngghhhahhhhh Mas Aseeppp... Dita melenguh setelah berhasil mengangkat kepalanya dari selangkangan Eci.
Dita memang tidak bohong, dia sangat menikmati percintaan mesra dengan Asep tadi siang, dia senang memegang kendali, tapi dia juga seperti Irma ketagihan dengan nikmatnya memasrahkan tubuhnya untuk didominasi oleh para pria. Apalagi oleh para pria di bawah mereka seperti Asep, Reza, dan yang lainnya yang sehari-hari biasa mereka suruh-suruh. Membayangkannya saja sudah membuat memek Dita basah. Dirinya yang dibesarkan dengan nilai-nilai agama oleh keluarganya, dirinya yang tidak pernah pacaran, dirinya yang selalu berbusana sopan, dirinya yang selalu menjaga pandangan...perbedaan yang begitu mencolok antara kesehariannya dengan Dita yang saat ini telanjang bulat, menungging di atas memek wanita lain sedangkan alat kelaminnya yang mestinya suci itu dihajar habis-habisan oleh kontol pria yang posisinya lebih rendah darinya. Perbedaan yang begitu kontras, tapi inilah yang dicari dan diinginkan Dita. Mendominasi atau didominasi tak masalah, yang penting Dita bisa lari dari kehidupannya yang biasa.

Dita kembali memekik ketika Asep menarik pinggangnya dengan tiba-tiba. Asep membawa gadis yang memeknya masih menancap di kontolnya itu agak jauh dari Eci. Dia lalu merebahkan Dita dengan posisi miring, rupanya Asep ingin mencoba posisi baru yang belum pernah dicobanya. Meniru Ari malam tadi yang menyetubuhi Dinda dengan posisi menyamping, Asep lalu mulai menggerakkan pinggulnya untuk kembali menggenjot memek Dita. Tangannya memeluk Dita erat sambil meremas pabrik susu gadis itu. Dita bisa merasakan hembusan nafas Asep yang memburu di dekat telinganya yang masih terbungkus jilbab. Disetubuhi sambil dipeluk erat seperti ini, insting alami Dita sebagai wanita bangkit. Kenikmatan tiada tara didapatnya justru saat dia dalam posisi tak berdaya. Apapun yang pejantannya akan lakukan, Dita akan terima. Karena dia adalah wanita, yang ingin disetubuhi dan dibuahi. Asep juga saat itu sudah dikuasai oleh instingnya sebagai seorang pria. Klop sudah.

Asep menggagahi Dita dalam posisi ini cukup lama, sebelum dia kembali mengganti posisi. Keringat Dita bercucuran saat Asep menyeret tubuhnya yang sudah lemas bangun. Kali ini Asep bersimpuh dengan Dita juga ikut bersimpuh di depannya dengan posisi membelakangi Asep. Tubuh Dita miring ke depan sehingga Asep bebas merojok lubang memeknya dari belakang. Agar tak jatuh ke depan, tubuh Dita ditahan tangan Asep yang sedang mencengkram kedua payudaranya. Nampaknya Asep ingin total menyetubuhi Dita dari belakang dengan brutal dalam sesi ini, setelah sebelumnya siang tadi mereka saling berhadapan dan bercinta dengan mesra. Dita yang sudah digenjot dari tadi mulai kewalahan. Kulit tubuh dan wajahnya yang biasanya putih mulus tampak memerah akibat aktivitas fisik dan rangsangan seksual yang intens. Tampang kalemnya nampak kusut, jilbabnya sudah acak-acakan dan lepek oleh keringat. Keringat yang mengucur ditubuhnya tidak usah ditanya lagi. Asep tak peduli. Dia mulai menggenjot memek Dita dengan brutal sementara tangannya meremas-remas bukit susu Dita. Dita mengerang pasrah, merasakan kenikmatan yang terakumulasi dalam dirinya. Sesaat lagi, kenikmatan itu akan meledak dahsyat, melemparakannya ke langit ke tujuh. Memek Dita mulai berkontraksi tanpa kendali, pikirannya sudah tak fokus sehingga dia tidak bisa mengendalikan kemampuan khususnya itu.
Ahhh! Mas Asep...Mas Aseeep...Mas Aseeeeppp! Dita berteriak histeris
Dan Asep pun paham. Seperti Irma tadi, Asep mengganti tusukan-tusukan cepat tapi dangkalnya dengan tusukan panjang dengan hentakan kuat. Dan di ujung hentakan kontol Asep itu, Dita pun meledak.

Ahhhhhrrgghhhhhhhhhhhhhhhh! Dita menjerit kencang, tubuhnya tersentak-sentak.
Otaknya serasa kosong. Cahaya menyilaukan seolah menutupi semuanya. Seperti Irma, Dita pun merasakan dirinya begitu damai selepas orgasme.

Nghhhhh Dita melenguh lirih menikmati sisa-sisa orgasmenya. Memeknya terus berkedut tanpa henti, membasahi kontol Asep yang masih betah di sana dengan cairan cinta. Dita terjerembab pasrah saat Asep melepas cengkraman di payudaranya. Ini membuat kontol Asep terlepas keluar dari memeknya. Selesai dengan Dita, Asep memandang sekeliling. Hampir tak percaya, Asep sadar dia sukses memuaskan tiga wanita sekaligus, memporak-porandakan tubuh mereka hingga pasrah tak berdaya. Dan hebatnya Asep sendiri belum keluar sekalipun. Gila...Manteb banget gue, batinnya.
Kontolnya yang masih berlumur lendir Dita terus mengacung tegak. Sebenarnya pertahanan Asep sudah hampir jebol tadi, setelah bersetubuh dengan tiga gadis berurutan. Apalagi saat memek Dita mulai berkedut-kedut liar. Tapi untungnya Dita orgasme duluan.
Nah sekarang di mana Asep akan menumpahkan benihnya? Asep memandang Dita yang tertelungkup di lantai.
Baru aja tadi siang buang pejuh di situ, pikirnya. Lalu ke Irma yang terduduk lemas bersandar di dinding. Boleh nih, tapi tadi malem juga udah, timbang Asep. Dan pandangan Asep kemudian tertuju ke Eci yang berbaring sambil mengangkang. Belahan memeknya tampak mengkilat, penuh oleh cairan cinta. Asep baru ingat, dia belum pernah crot di dalam memek Eci.

Nggahhhh! Eci memekik kaget ketika Asep tiba-tiba menindih tubuh mungilnya. Tanpa basa-basi Asep pun menusukkan kontolnya ke dalam memek sempit Eci, dalam satu tusukan kuat yang langsung menyundul bibir rahim gadis berkacamata itu. Memek Eci yang banjir memudahkan penetrasi Asep sehingga dia tidak kesulitan dalam menembus lubang sempit Eci. Tapi buat Eci, ditusuk benda sebesar kontol Asep dalam satu tusukan sensasinya begitu luar biasa dan meng-overload syaraf nikmatnya. Hingga Eci pun kembali orgasme hanya dengan satu tusukan.
Nggrrhhhhhhhhaahhhhhh! Mas Aseeeppppp!
Asep yang mengejar kenikmatannya sendiri tak peduli. Dia terus menggenjot Eci saat gadis itu masih menggelinjang memekik-mekik nikmat. Terus menusuk-nusuk memek Eci tanpa ampun sambil menindih tubuh gadis itu, yang membuat puting susu Eci menggesek-gesek dada Asep.
Dan tak lama Asep merasa tubuhnya mulai menghangat, sesuatu menjalar dari tulang belakang ke seluruh tubuhnya, dan rasa nikmat luar biasa memenuhi kontolnya yang terbenam dalam memek Eci. Rasa nikmat itu mengalir ke semua bagian tubuh yang lain, mengisi kepala Asep dengan rasa damai tak terkira.
CROT CROT CROT!
Hngggrhkkkk! Asep menggeram, diiringi jeritan histeris Eci. Gadis itu masih orgasme saat Asep menyemprot rahimnya dengan cairan kental hangat, membuat orgasme gadis itu semakin menjadi-jadi.
Asep tidak menyadari hal itu. Karena dia masih tenggelam dalam sisa kenikmatan orgasmenya. Setelah rasa itu hilang dan nafasnya mulai tenang dia mencabut kontolnya dari memek Eci. Tubuh gadis itu masih tersentak-sentak saat lubang nikmatnya sudah tak disumbat kontol Asep lagi.
Asep kembali berdiri dan memandang sekeliling. Lengkap sudah, dia sudah membuang pejunya sembarangan dalam memek keempat gadis itu. Dinda, Irma, Dita, dan terakhir tadi Eci. Egonya sebagai lelaki melambung tinggi. Sangat puas dengan pencapaiannya walaupun dia hanya keluar sekali. Tubuhnya serasa jauh lebih lemas dibandingkan lomba tadi siang. Dengan sempoyongan, Asep mendekati Irma untuk menuntaskan hasratnya yang terakhir.

Mbak, bersihin lagi dong perintahnya
Irma menuruti tanpa protes. Dia mengulum kontol Asep yang mulai melemas ke pangkalnya, menggunakan mulut dan lidahnya untuk membersihkan kontol Asep dari berbagai cairan, termasuk miliknya sendiri. Asep ingin menunjukkan dominasinya yang terakhir dengan menyuruh gadis itu membersihkan kontolnya yang sudah memperbudak mereka.
...Udah Mas Asep... gumam Irma lirih saat kontol Asep terlepas dari mulutnya
Makasih Mbak
Asep dengan sempoyongan meninggalkan Irma lalu mendudukkan tubuhnya yang lelah di kursi teras.
Manteb banget gue, pikirnya memuji diri sendiri. Sampai saat ini Dinda tak terbersit sekalipun dalam pikirannya. Bahkan dia tidak sadar, sebagai pemenang lomba sebenarnya dia bisa menggunakan haknya untuk menyuruh ketiga gadis itu yang memegang kendali. Dia tinggal diam dan menikmati. Tapi rangsangan ketiga gadis itu telah membuat akal sehatnya ditendang keluar oleh insting dan nafsu binatangnya.
Lelah dan puas, Asep pun tertidur.
Samar-samar Asep mendengar Eci meracau Rencana kita berhasil...Gals...
***

Woi Sep, bangun! Udah maghrib noh
Asep terbangun oleh suara Reza. Langit sudah gelap dengan semburat kuning tua sedikit tersisa di barat.
Mandi sono gih, kita lagi nunggu Mbak Eci sama si Jejen nyari makan
Lo udah mandi Za?
Udah lah, gua udah pake baju nih jawab Reza
Dengan gontai Asep berjalan kamar mandi. Masih bugil sambil menenteng bajunya yang dia lepas di teras siang tadi. Di ruang tengah Asep mendapati Dinda duduk sendirian di sofa sambil mengutak-atik HPnya. Gadis itu sudah berpakaian rapih dengan pakaian santai. Asep bahkan bisa samar-samar mencium bau shampo dan body lotion khas cewek. Di depan Dinda yang berpakaian, entah kenapa Asep merasa malu dan jengah bertelanjang. Padahal sewaktu mereka bugil sama-sama, rasa itu tidak ada.
Cieeee yang abis maen sama tigaan baru bangun nih goda Dinda tanpa rasa bersalah
Iye nih, situ udah rapih ajah jawab Asep berbasa-basi
Iiya, abis badan aku lengket disemburin peju tiga orang barbar itu ujar Dinda cuek
Sial, gua gak pengen denger detilnya, rutuk Asep dalam hati.
Udah sono mandi gih, anduknya ambil yang dilipet di meja depan pintu kamar mandi
Iya iya

Siraman air dingin perlahan mengembalikan akal sehat Asep yang sempat hilang. Dia mengingat-ingat reward yang dia dapat. Bisa menggarap tiga orang cewek sekaligus, benar-benar luar biasa.
Apalagi kalo Dinda juga ikut berempat, wih mantap, lamunnya.
Tapi Asep tiba-tiba teringat sesuatu. Tadi dia menyetubuhi Dita dengan kasar, langsung colok tanpa sepengetahuan Dita dan sampai menampar-nampar pantatnya. Padahal Dita sudah cukup baik mau menyimpan rahasianya dan mendukung perasaannya terhadap Dinda. Asep merasa bersalah, memang sih dia ingat kalau Dita bilang dia juga suka dikasarin. Tapi kalau yang tadi terlalu berlebihan, bisa jadi Dita sakit hati dan melaporkan rahasianya ke Eci. Dan ngomong-ngomong soal Eci, tadi siang dia merasa sedikit takut dengan Eci mendengar cerita Ari; tapi tadi dengan seenaknya Asep buang peju ke dalam rahim Eci tanpa permisi. Bagaimana kalau dia marah? Asep mengutuk dirinya yang selalu kehilangan akal sehat sewaktu nafsu mengambil alih.
Gawat ini mah, pikir Asep.
Suara ketukan di pintu mengagetkannya
Woi Sep! Cepetan siah, mules nih! teriak Ari di balik pintu

Asep adalah yang terakhir mandi. Saat Eci dan Jejen berangkat mencari makan malam, yang lain segera beristirahat, mandi membasuh semua keringat dan cairan lain yang menempel di tubuh mereka. Dinda dan Irma lalu sibuk dengan HP mereka, berbalas pesan dengan pacar masing-masing. Reza dan Ari duduk di ruang tengah menyaksikan pertandingan sepak bola di TV. Sementara Asep nongkrong di halaman belakang sambil merokok. Dia memandang halaman luas yang jadi tempat pesta gila mereka tadi siang. Suara jangkrik menggantikan erangan dan lenguhan penuh nafsu di tempat itu.
Mas Asep...
Asep menengok ke arah suara yang memanggilnya. Dita tampak manis dengan piyama putih lengan panjang dan jilbab warna pink muda. Gadis itu lalu duduk di sebelah Asep yang segera mematikan rokoknya.
Mbak, m-maaf ya yang tadi sore ujar Asep dengan muka serius
Kok minta maaf?
Abis...Setelah sayah pikir-pikir lagi kok kayaknya saya kasar banget yah maennya sama kalian bertiga
Dita malah tertawa mendengar pengakuan Asep
Ya ampun Mas Asep ini kayak punya kepribadian ganda, beda banget sama yang tadi ngabisin kita
Yah apalah, pokoknya saya...Trus tadi juga crot di dalem Mbak Eci gak bilang-bilang...Takut sayah...
Iih Mas Asep udah ah, kita udah berkali-kali maen, udah tau luar dalam masa masih ga enakan sih, lagian kita seneng...Kita bisa ngeliat sisi liarnya Mas Asep hehe...Sukses deh rencana si Mpok potong Dita sambil tertawa
Kalo soal si Mpok Eci, masa Mas Asep belom tau tuh anak maniaknya kayak gimana sambungnya
Asep menggaruk-garuk kepalanya Iya juga ya...
Beneran gua dimanfaatin mereka kalo gini, pikir Asep. Dia pikir dia sudah menaklukkan mereka, tak tahunya malah dia yang sengaja dipancing oleh para gadis itu. Dan dia pun menyambar umpan mereka dengan lahap.

Mas Asep kenapa gak ikut nonton bola sama Reza & Ari? Dita mengalihkan pembicaraan
Gak suka liga lokal saya mah...Mbak Dita gak ngumpul sama yang lain?
Si Irma ama Dinda lagi sibuk BBM-an sama pacarnya kali, aku ya pasti dikacangin
Ooh
Gimana Mas Asep, udah mulai biasa? tanya Dita
Yah, masih sulit sih Mbak, saya masih grogi nih. Bener kata Mbak Irma sayah susah panasnya hehe
Karena ada Dinda? tanya Dita dengan suara pelan dan sedikit menengok ke belakang memastikan tidak ada yang mencuri dengar
Yaa itu salah satunya Mbak...Saya jadi rada malu, yang lain rela bagi-bagi tapi saya egois gini pengen dia buat saya seorang Asep curhat dengan polosnya
Aku ngerti kok, Mas Asep kan sukanya udah dari dulu kan sebelum di sini. Tapi ada alasannya Mbak Eci bikin peraturan gak boleh bawa perasaan, buat kenyamanan kita juga jelas Dita
Biar gak ada yang rebutan dan monopoli kayak sayah gitu Mbak?
Dita tampak berpikir Iya, itu juga, tapi lebih ke arah ngebentuk mindset kita para cewek. Tanpa ngebawa perasaan kita nganggap acara ini cuman permainan fisik, hepi-hepi buat ngelepas stres. Jadi aku gak perlu mikir emang aku rela ya dijamah sama Mas Jejen misalnya. Atau Dinda dan Irma ngerasa bersalah karena ngentotin cowok selain pacar mereka gitu
Asep manggut-manggut, sekarang dia mendapat jawaban kenapa para gadis itu dengan rela dan cueknya membiarkan tubuh mereka dimainkan Asep dan yang lain, biarpun masih tidak masuk di akal bagi Asep. Entahlah, mungkin dia sendiri masih lugu dan kampungan, pikir Asep. Pikirannya yang polos tidak bisa connect dengan para gadis kota itu. Masih ada pertanyaan soal pandangan mereka soal konsekuensi dosa dan moral tapi Asep memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh. Kalo soal dosa dan moral mah itu pandangan pribadi, batin Asep.

Jadi kalo saya gak sampe bikin gak nyaman yang lain, trus gak ngemonopoli Dinda, gak papa kan saya punya rasa? tanya Asep memastikan
Ya kalo Mas Asep rela cemburu terus dan nanggung beban sendiri mikirin dia terus
Ya jadi sayah harus gimana Mbak? Asep garuk-garuk kepala
Hmm? Aku gak bilang itu gak baik Mas Asep...Aku...Udah lama gak ngerasain cemburu dan rasanya kepikiran terus sama orang yang aku suka jawab Dita dengan ekspresi hampa
Lho lho lho, kok malah dia yang curhat?
  • anakpantai likes this

#2 tony.oyeah

tony.oyeah

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 10 posts

Posted 23 January 2017 - 10:19 PM

Tingkat dewa

#3 Cioe_pek_tong

Cioe_pek_tong

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 16 posts

Posted 24 January 2017 - 06:23 AM

Bonus Chapter: Eksekusi Dinda (Part 1: Foreplay)

Sebagai pemenang, Mas Asep bakal dilayanin sama kita bertiga dan Dinda dapat tiga cowok sekaligus! Seru Eci yang membuat jantung Dinda berdetak lebih kencang. Antara senang, penasaran, dan khawatir. Bagaimana tidak, selama ini Dinda belum pernah bermain seks segila itu. Sebelum Asep bergabung, jumlah cowok di grup itu lebih sedikit dari ceweknya. Dan Dinda kalah bersaing dengan Eci atau Dita yang lebih agresif. Jadi paling gila dia hanya pernah dihajar dua orang sekaligus, itu pun tidak full.
Asik, sama tiga orang sekaligus, akhirnya ngerasain juga! Dinda bersorak memasang tampang pede
Beuh, malah seneng dia...Hayu Jen, Ri, kita hajar sama-sama si Dinceu! ledek Reza
Hayoh siah mun kuat mah tantang Dinda membalas ledekannya, berpura-pura tegar
Anjirr, nantang ieu awewe teh timpal Jejen
Hayu lah, hajar! Ari yang biasanya diam ikut-ikutan
Sekilas Dinda memandang Asep. Dilihatnya pria itu hanya terdiam sementara gadis yang lain heboh. Pikir Dinda, pasti Asep juga bingung disuguhi tiga memek sekaligus. Dan Dinda sendiri tak tahu seperti apa nantinya tiga kontol itu akan mengaduk-aduk tubuhnya.

Reza adalah yang paling senang mendapat kesempatan mengeroyok Dinda. Pria bergigi tongos itu memang paling senang menggoda Dinda. Dia sering menyebut-nyebut nama pacar Dinda di depan gadis itu, yang sering membuat Dinda manyun. Sekarang dengan bantuan Jejen dan Ari, dia akan membuat gadis manis itu takluk dengan keperkasaan mereka. Lumayan buat bahan ledekan mereka nanti.
Eh gimana kalo kita maen di kamar atas aja yuk saran Reza sambil nyengir lebar
Hayulah, nyeri bujur aing yeuh, hayang maen di kasur Jejen setuju
Emang boleh yah? tanya Dinda ragu
Pasti boleh lah Reza menggamit tangan Dinda lalu berjalan ke arah pintu belakang
Ketika sampai di sana Reza berteriak Mbak Eci, gak harus maen di situ kan? Kita mau ngegarap si Dinda di kamar atas
Yoooooo balas Eci tanpa menengok

Dinda menurut saja membiarkan dirinya digiring Reza masuk. Sepanjang jalan Jejen dan Ari iseng mencubiti pantatnya, membuat Dinda harus menepis tangan-tangan jahil mereka. Tapi tampang cemberut Dinda malah membuat keusilan Jejen dan Ari menjadi-jadi. Dinda sendiri semakin masuk ke dalam rumah, semakin jauh dari cewek yang lain jantungnya semakin berdebar. Dia merasa menjadi satu-satunya perempuan di villa itu, hanya dengan tiga laki-laki yang siap memangsanya. Dan memang itulah tujuan Reza mengisolir Dinda dari yang lain. Bila tiga gadis yang lain masih dalam pandangan, Dinda akan merasa aman. Tapi sekarang, sendirian terpisah dari yang lain Dinda akan merasakan ketegangan tambahan. Dia akan merasakan sensasi baru yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

Darah Dinda berdesir. Sejuta kemungkinan yang akan terjadi nanti berseliweran di kepalanya yang masih tertutup jilbab. Tapi segala ketidakpastian itu malah membangkitkan birahinya. Perlahan memeknya mulai basah, puting susunya yang berwarna coklat muda kembali mengeras. Tubuh bugilnya serasa menghangat, seluruh kulitnya terasa lebih sensitif.
Mereka pun sampai di kamar di lantai 2. Gulp. Dinda menelan ludah. Inilah saatnya.
Ceu, duduk di situ Reza mengarahkan Dinda untuk duduk di ujung ranjang.
Dinda menurut. Mencoba menenangkan dirinya, tapi diamnya Dinda jadi perhatian para pria.
Ieu awewe naha diem wae? goda Jejen yang mendekati dari kanan
Deg-degan pasti timpal Ari dari kiri
Nggak kalee tukas Dinda cepat pura-pura tenang
Reza mengeluarkan jurus andalannya Serasa waktu mau diperawanin si Anto ya Ceu?
Dinda langsung merengut, Enak aja! tak suka nama pacarnya disebut-sebut
Reza yang dari tadi berdiri di depan Dinda nyengir lebar, lalu dengan tiba-tiba Reza mengangkangkan kaki Dinda dan dengan satu gerakan langsung mencaplok selangkangan pacar Anto itu dengan bibir tongosnya.
Kyaaaaa! Dinda memekik kaget, dan di saat bersamaan Jejen dan Ari menyerbu dari kanan-kiri membuat gadis itu tak bisa bergerak. Tangan Jejen dan Ari langsung menjelajahi tubuh Dinda, membuatnya menggelinjang geli-geli nikmat. Payudara mungilnya yang sensitif diremas-remas tanpa ampun. Putingnya yang sudah mengeras dari tadi dicubit, dipilin, digesek, dipelintir, ditarik sesuka hati. Sementara lidah Reza menjilat-jilat bibir memek Dinda, menyapu lubang kawin gadis berjilbab dengan bibir kasarnya. Liur Reza bercampur cairan cinta Dinda yang terus melimpah akibat dirangsang dari semua sisi. Tak dipedulikannya helaian jembut Dinda yang ikut tercabut saat Reza asyik menyantap kerang mentah basah yang nikmat itu.

Dinda yang kelabakan hanya bisa terpejam dan mendesah-desah menikmati serbuan dari ketiga lelaki. Dia hanya bisa pasrah ketika salah satu pria di sampingnya menarik wajahnya dan mencium bibirnya. Di saat yang bersamaan di sisi lain, Dinda merasakan sensasi bibir tebal penuh liur di salah satu puting susunya.
Hmmmhhpppphhhmmm lenguhan nikmat Dinda tertahan oleh bibir Jejen yang melumat bibirnya penuh nafsu. Lidah Jejen menari-nari dalam mulut Dinda, memaksa gadis itu menurut untuk bertukar liur dengan Jejen. Di bawah sana, lidah Reza semakin masuk ke dalam celah sempit Dinda, sementara bibir atasnya sesekali menyapu kelentit Dinda. Reza menyedot lubang basah Dinda bagai vacuum cleaner. Pria itu memang ahli dalam urusan menyantap memek. Irma saja sudah dibuatnya ketagihan. Walaupun dilarang tapi Irma sering mencuri waktu di kantor, menyediakan memeknya untuk dilahap oleh Reza. Sekarang selain serangan lidah maut Reza, Dinda dikeroyok kanan kiri. Giliran Ari yang mencumbui bibirnya sedangkan Jejen dengan brutal mengenyot salah satu bukit susu Dinda dengan tangannya seenaknya memilin puting susu bukit yang lain.

Dinda yang sering bercinta dengan pacarnya dan berkali-kali ikut pesta liar itu baru pertama kali merasakan memeknya begitu banjir. Serangan bertubi-tubi dari segala arah membuat tubuhnya tak mampu menahan gelombang kenikmatan yang mendera pusat syarafnya. Niatnya untuk menjaga imej agar tidak jadi bahan ledekan di kemudian hari oleh para cowok terlupakan. Akhirnya bendungan itu jebol juga.
Mmmppnnghhhhaaaaaahhhhhhhhhh! Dinda sampai harus melepas bibirnya dari pagutan Ari agar bisa berteriak mengekspresikan orgasme dahsyatnya.
Air bah mengalir deras dari lubang memeknya yang langsung diseruput oleh Reza dengan kuat bagai lintah. Tubuh Dinda tersentak-sentak dalam pelukan Jejen dan Ari merasakan sisa kenikmatan.
Enak eta memek Za? tanya Jejen
Segerrr! jawab Reza sambil menyeringai lebar
Dinda yang bersandar tak berdaya di tubuh Jejen dan Ari diam saja, mengatur nafas dan detak jantungnya. Dibiarkannya kakinya tetap mengangkang walaupun kepala Reza sudah tak disitu. Selangkangan Dinda benar-benar banjir, dengan cairan cintanya sendiri dan juga liur Reza.
Jiah, masa gini doang udah KO, mana tadi yang nantangin kita goda Reza melihat wajah sayu Dinda yang habis didera nikmatnya orgasme.
Licik ih kalian mah, aku dikeroyok gini Dinda menatap Reza dengan mata indahnya mencoba membela diri.
Ya masa kita maen satu-satu giliran, gak rame atuh protes Ari sambil membelai payudara Dinda pelan.
Heu-euh, sasakali dikeroyok atuh ngarasakeun timpal Jejen sambil menjawil puting Dinda yang masih mengacung tegak.

Dalam hati sebenarnya Dinda merasakan excitement luar biasa. Sensasi orgasmenya tadi benar-benar luar biasa. Jantungnya masih berdebar, walau rasa takutnya sudah hilang. Diganti rasa penasaran dengan kenikmatan apalagi yang akan dia dapat nanti. Tapi dia masih jual mahal. Gengsi dong kalau langsung pasrah.
Udah ah, terus ngapain? tanyanya
Tadi kita udah bikin lo nikmat, sekarang gantian dong
Owhh, mau pada disepong nih, ya udah hayu atuh Dinda mencoba memegang kendali
Bangkit dari tempat tidur, Dinda berjongkok di karpet di sebelah ranjang. Ketiga cowok jatahnya sore itu bergerak mendekatinya. Dinda kembali menelan ludah ketika tiga kontol yang sudah mengacung tegak mengelilingi kepalanya. Bau khas lelaki yang sangat kuat membuatnya pusing sekaligus terbuai. Dengan kedua tangan halusnya, dua kontol di kanan-kirinya dikocok pelan. Dinda lalu menciumi ujung kontol Jejen yang berada di depan mukanya, dan menjilati batangnya bagai es krim. Dinda melakukan servis mulutnya sambil memandang ke atas, menatap wajah Jejen dengan binal, tak keberatan wajah Jejen yang buruk rupa dan jelas jauh dengan pacarnya. Dilanjutkan dengan masuknya kontol Jejen seluruhnya dalam mulut Dinda yang mungil.

Mmmmhhhh...Slurrrrppp...Cppllkcpllkkk.... suara kecipak dari mulut Dinda mengiringi servisnya pada kontol Jejen.
Kontol Reza dan Ari di kanan kirinya dikocok dengan kedua tangan halusnya. Tubuh atas Dinda yang sibuk melayani ketiga lelaki mulai kembali berkeringat, bukit susunya ikut bergoyang seiring gerakan tubuhnya. Sementara di bawah, cairan memek Dinda menetes-netes ke karpet tempat ia jongkok.
Happpp...Mmmmhhhh Dinda melepas kontol Jejen dan beralih ke kontol Ari. Kontol Jejen dia ganti dengan tangannya. Tanpa sungkan dan ragu mengulum dan menyedot-nyedot batang Ari dengan nikmat. Si pemilik kontol hanya bisa memejamkan mata menikmati sepongan mulut Dinda.
Anjirr, tambah edun wae si Dinda nyepongna... racau Ari
Sering latihan sama si Anto yah Ceu? ledek Reza
Happpp...Berisik ah...Mmmhhhppp...Sluurrppp tukas Dinda sambil melepas kontol Ari dan melahap kontol Reza
Ingin membalas ledekan Reza, Dinda menyedot kontol pria kurus itu dengan lebih kuat dari yang lain. Lidahnya lebih agresif menyapu batang Reza, yang membuat pria itu meringis. Bukan hanya karena nikmat, tapi juga puas pancingannya berhasil.

Dan sekarang saatnya serangan balasan.

Kedua tangan Reza lalu mencengkram kepala Dinda yang terbungkus jilbab hitam. Dengan kasar digerakkannya kepala Dinda sementara pinggulnya bergerak berlawanan arah, yang membuat Dinda terbeliak kelabakan.
Mmmrrhhrhrhrhhgurhkkkmmmmmmhhhhhrrppp!
Ahhhh bangkeeee! Enak banget ngentotin mulut ceweknya si Anto! teriak Reza
Hrrnnnnggghhh! Dinda mencoba melawan, tapi tak bisa karena kepalanya dipegang erat oleh Reza. Sementara Jejen dan Ari memegang tangannya. Dinda hanya bisa pasrah merelakan mulutnya diperkosa oleh kontol Reza.
Face-fuck brutal itu berlangsung beberapa lama hingga akhirnya pinggul Reza berhenti bergerak. Begitupun kepala Dinda yang ditahan di posisi diam oleh tangan Reza. Mata Dinda membelalak ketika dirasakannya ada cairan kental hangat yang langsung menyemprot ke tenggorokkannya.
Hrrnghhhhhhhhh....Guulllpp!
Setelah momen yang terasa sangat lama buat Dinda, akhirnya Reza melepas kepala Dinda dari cengkramannya. Dinda langsung terbatuk-batuk, liur mengalir dari sudut mulutnya dengan beberapa helai jembut menempel di sana.
Uhukkk-uhuuukk...Puahhhh...Uhukk..Rekaaa sesek tauuu! protesnya sambil mengusap mulutnya dan menatap tajam ke arah Reza yang nyengir kuda.
Dinceu lu tambah cakep deh kalo lagi marah, apalagi kalo ada jembut gue di mulut lu
Gak bisa nafas akuuuu sungut Dinda
Peju gua lo telen Ceu?
Yaa gimana lagi atuh Reza, keselek aku iih... protesnya sambil memegang lehernya yang tertutup jilbab
Dinda terlalu sibuk marah-marah sehingga tak disadarinya seseorang yang mendekatinya.

Eh jiga nu enak euy, cobaan ah tukas Jejen yang tiba-tiba langsung menghampiri Dinda, memegang kepalanya dan dengan paksa memghujamkan kontolnya dalam mulut Dinda
Mas Jejen ap-grrggghhghghghghghhhhhhhhhhhh! refleks Dinda membuka mulutnya dan menelan kontol Jejen.
Seperti Reza, Jejen dengan brutal menghentakkan pinggulnya mendorong-dorong kontol hitamnya ke mulut Dinda seolah-olah mulut mungil gadis manis itu hanyalah sebuah lubang milik boneka seks. Kepala Dinda ikut digerakkannya maju mundur tanpa belas kasihan. Lagi-lagi gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan jeritannya pun tertahan kontol dalam mulut sehingga yang terdengar hanyalah suara seperti orang berkumur.
Grrrggghhhhhhhnnnkkggggghhhhh!
Ketika Dinda mulai kepayahan, Jejen melepas cengkramannya di kepala berjilbab Dinda. Gadis itu langsung terbatuk-batuk, seperti sebelumnya.
Kyaaa! Dinda memekik kaget ketika peju kental Jejen menyemprot muka mulusnya, meleleh di alis tebal dan hidung bangirnya.
Selain belepotan air mani Jejen, tampak wajah Dinda sudah memerah, matanya mulai basah oleh air mata. Tapi Dinda sudah tak punya tenaga untuk protes lagi, dia hanya bisa mengatur nafasnya yang memburu.
Giliran gua yah
Eh?
Ari tak mau kalah. Sekarang dia yang mengklaim mulut Dinda untuk kontolnya. Lagi-lagi Dinda digenjot dengan brutal di mulutnya, dan lagi-lagi Dinda hanya bisa menjerit tertahan.Tapi entah kenapa, dikasari seperti itu birahi Dinda malah semakin naik, nafsu primitifnya mulai bangkit. Pacarnya Anto bukan tipe yang akan memperlakukan Dinda seperti ini, dan bagaimanapun tentu cowok itu hanya punya satu kontol. Sensasi digilir tiga cowok yang memperlakukan dirinya seenak jidat hanya akan Dinda rasakan sekarang di tempat ini. Tanpa dia sadari, banjir di memeknya semakin menjadi-jadi.
Puahhhhh...Uhukk..Haahhhh hosh hosshhh... dengan wajah memerah dan mata sembab Dinda tersengal-sengal mengambil nafas setelah kontol Ari lepas dari mulutnya, yang untung tak selama dengan Reza atau Jejen tadi.
Tak dipedulikannya semprotan peju Ari yang mengarah ke jilbabnya, membuat jilbab hitam yang sudah basah dari dalam oleh keringat, sekarang dipenuhi bercak dari cairan kental dan hangat milik lelaki.

Anjir, lebih enakan dari disepong biasa euy seru Ari setelah kontolnya berhenti muntah
Bener kan, apalagi pake mulut si Dinceu yang hobinya nyerewetin kita di kantor balas Reza
Dinda hanya memandang tajam dengan mulut manyun ke arah mereka
Gila ih kalian mah protesnya pelan
Kapan lagi coba bisa digituin Ceu, lo dapet rezeki nomplok tiga kontol sekaligus hahaha goda Reza
Emang jarang si Anto maen kasar kitu? tanya Jejen dengan muka tengil
Diem ah Mas Jejen!
Melihat tampang Dinda yang kesal dan berantakan, ketiga cowok itu bukannya kasihan, ekspresi mereka malah semakin tampak menyebalkan.
Cup cup cup, udah jangan nangis neng Dinda Fitriani Anjani, sekarang gantian kita lagi yang ngasih enak, eneng diem aja yah, biar akang-akang ini yang nyervis goda Reza
Dinda hanya diam saja ketika dia diarahkan untuk duduk di pangkuan Jejen yang bersandar di tepi ranjang. Kontol Jejen yang setengah keras serasa menempel di pantatnya. Jejen memeluk pinggang Dinda sehingga gadis itu bersandar di dadanya.
Ri, keluarin jurus lo perintah Reza
Siap! Ari mengacungkan jari tengah dan telunjuknya berdampingan.

Dinda tahu apa yang akan Ari lakukan, sehingga tanpa diperintah dia mengangkangkan pahanya, menyajikan memek pinknya yang merekah dengan jembut tak terlalu lebat. Walaupun menurut, Dinda masih diam dan memasang tampang cemberut.
Tapi tak ayal bibir manisnya sedikit terbuka saat mendesah merasakan ujung jari Ari yang dengan nakal merabai bibir memeknya. Tangan Jejen juga mulai merabai payudaranya dan memainkan puting susunya yang sudah keras sempurna dan sangat sensitif.
Mmmmhhhhh... Dinda mendesah sambil sesekali memejamkan mata, sesekali memandang ke arah Ari yang menatapnya sambil nyengir menyebalkan. Dinda tak mau kalah, dia memasang tampang galak tapi apa daya permainan jari Ari di bibir memeknya membuat ekspresinya melunak. Walaupun baru hanya di bibir, banjirnya memek Dinda membuat suara kecipak terdengar jelas.
Mmmmm...Ahhhh! desahan Dinda semakin keras ketika sepertiga dari dua jari Ari masuk menerobos memeknya, tapi seketika Ari menarik jarinya sambil tertawa. Dinda blingsatan, dia ingin sekali jari Ari masuk sepenuhnya dalam memeknya, menggaruk bagian dalam lubang nikmatnya yang sudah gatal. Tapi Dinda masih gengsi. Dia masih marah dengan perlakuan ketiga cowok yang sudah memperkosa mulutnya tanpa ampun tadi.

Reza yang duduk di samping mereka melihat dilema Dinda tergambar jelas di wajah gadis itu yang masih blepotan air mani Jejen. Kesempatan baginya untuk semakin menjatuhkan gadis itu dalam perangkap birahi mereka.
Kenapa Dong, pengen dimasukin? Bilang aja ke si Ari ujar Reza santai sambil meremas salah satu susu Dinda yang bebas dari tangan Jejen
Nggak..Ahhh, ng..Nghhhh.... Dinda mati-matian menahan diri
Yahh Ri, si Dinda gak mau tuh lo kobel
Owh gitu yah, ya udah weh di luar aja, kayak gini terus yah? goda Ari menggesek jarinya di bibir memek Dinda
Dinda semakin blingsatan Ya kalo mau masuk mah masuk aja atuh...Ahhh! Dinda mengerang lirih, ekspresinya semakin campur aduk tak karuan. Sementara ekspresi ketiga lelaki yang sedang mengerubutinya semakin tengil.
Kayak gini? Ari menusukkan dua jarinya perlahan
Iiyaaaaaa! Ahhhhh! Dinda mengerang dengan kepala mendongak dan mata terpejam
Hahahaha! Takluk juga nih cewek! tawa mengejek Reza sudah tak dipedulikan Dinda
SLRPPHHHH! Suara becek terdengar ketika dua jari Ari sudah masuk sepenuhnya dalam gua berair Dinda dan mulai bergerak maju mundur. Dinda sekarang hanya bisa mendesah dan mengerang dengan mata terpejam dalam pelukan Jejen.
Anjir, ini memek basah banget siah seru Ari
Hayoh Ri, kobel langsung weh! saran Jejen

Dan sekarang saatnya jurus andalan Ari. Seperti teknik goldfinger milik aktor porno legendaris dari Jepang Taka Kato, Ari melengkungkan kedua jarinya yang berada dalam memek Dinda bagaikan cakar elang. Memang, bagaimanapun dikobel dengan jari sensasinya tidak akan sama dengan dipenetrasi oleh kontol. Tapi jari karena sifatnya yang prehensile bisa menggaruk bagian-bagian tertentu dalam dinding memek yang akan membuat pemilik memek itu mabuk kepayang.
Nggghhhhhhaaahhhhh! Dinda mulai histeris ketika ujung jari Ari menggaruk titik sensitifnya
Ari meraba-raba dinding memek Dinda dengan jarinya, mencoba mencari titik paling sensitif berdasarkan reaksi gadis itu.
Lo bukannya udah nemu dulu?
Lupa gua Za...Eh bentar, kayaknya di sebelah sini deh...
Nghhh..Ariiiii...Ahhh...Iiiya di situuuu!
Nah, ini dia!
Cakar elang milik Ari langsung bergerak menggaruk dinding memek Dinda dengan liar begitu menemukan tempatnya. Bila Reza jagonya melahap memek, Ari jagonya mengobel memek. Jari kasarnya bisa bergerak dengan cepat tanpa kenal lelah. Dinda yang jadi korbannya sekarang hanya bisa pasrah. Tubuhnya menegang, tangannya mencengkram erat lengan Jejen yang memeluk pinggangnya. Kepalanya terdongak jauh, bila tidak tertutup jilbab pastilah terlihat urat-urat di lehernya yang menegang.
KCPAKCPAKCPAK! Cairan bening memercik keluar dari lubang memek Dinda seolah-olah sedang diserok oleh jari Ari. Jumlahnya semakin banyak dan suara kecipaknya semakin keras.
Ooouuuuuhhhhhh! Dinda hanya bisa melenguh sambil menggelinjang. Kakinya yang tadi hanya diam mengangkang sekarang mulai bergerak tak beraturan.
Ggggrhhhh! Ari menggeretakkan giginya saat memfokuskan tenaga ke dua ujung jarinya. Karpet di bawah tubuh Dinda sudah basah kuyup oleh cairan memek yang diserok keluar oleh Ari.
Tubuh Dinda semakin menggelinjang ketika akhirnya gadis berjilbab itu memekik keras
Nnnnnngggggghhhhhhhhhhaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhkkkkkkk!
SPLRRT! Ari menarik tangannya dan seketika SERRRRRRRRRRRR! Bagai air mancur cairan bening memancar dari lubang nikmat Dinda. Tubuh gadis itu tersentak-sentak liar saat orgasme dahsyat dengan squirtnya tiba.

Jejen, Reza, dan Ari tertawa-tawa melihat usaha mereka membuat Dinda pipis nikmat berhasil. Sementara Dinda, pelan-pelan membuka matanya setelah kelebat sinar putih dari orgasmenya tadi mulai menghilang.
Hahhhh...Hahhh...Ampun gilaa..Lemes aku... gumamnya lirih
Enak Ceu? goda Reza
Iiya... Dinda menjawab pasrah, tak ingin lagi melawan
Belum juga dimasukin kontol tuh memek
Hah? Oh...Iiya yaa... Dinda terhenyak ketika dia baru sadar
Belum ada satupun dari tiga kontol itu yang masuk ke dalam memeknya. Sementara dia sudah takluk dua kali. Melihat ke sekeliling, tiga kontol milik Jejen, Reza, dan Ari sudah kembali mengacung tegak, siap mengobrak-abrik tubuh Dinda. Membayangkan apa yang akan terjadi nanti, Dinda merasa lemas tapi sekaligus bergairah. Dia sudah tak berminat lagi untuk menjaga harga dirinya. Biarlah dia diejek terus-terusan habis ini.
Ceu, masih kuat?
...Masih
Mau dimasukin kontol kita ke memek situ?

Dinda yang masih tersengal-sengal tersenyum dengan mata berbinar, lalu mengangguk pelan
Mau...

Bersambung ke Part 2

#4 Cioe_pek_tong

Cioe_pek_tong

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 16 posts

Posted 24 January 2017 - 06:26 AM

Bonus Chapter: Eksekusi Dinda (Part 2: Main Course)

Dinda Fitriani Anjani kecil yang masih duduk di bangku SMP terbangun menjelang tengah malam. Tadi siang dia bekerja keras menjadi pagar ayu di pernikahan kakak perempuannya, dan juga membantu keluarganya di resepsi ala rumahan yang tanpa EO dan berlangsung sampai sore. Sehingga selepas maghrib Dinda tidur begitu saja setelah membersihkan make-up dan berganti baju. Terlewat makan malam, gadis cilik itu sekarang bangun dengan perut lapar.
Tapi rasa laparnya hilang seketika begitu telinganya mendengar sesuatu yang aneh dari kamar di sebelahnya. Kamar kakaknya sang pengantin baru. Dinda mendengar suara yang dia yakini berasal dari kakaknya, tapi dengan nada yang tidak pernah dia dengar sebelumnya. Seperti campuran antara suara mengaduh dengan suara yang kakaknya sering keluarkan ketika keenakkan dipijat Dinda. Entah kenapa suara itu seperti memicu insting terdalam Dinda, membuatnya penasaran setengah mati dan melupakan rasa lapar di perutnya. Dengan jantung berdebar, Dinda memanjat meja belajarnya, mengintip melalui celah antar kamar yang waktu kecil sering mereka gunakan untuk saling melempar ular-ularan karet. Dinda tak tahu, pemandangan yang akan dia lihat akan mengubah hidup gadis sederhana dari pinggiran kota kecil itu untuk selamanya.

Begitu sadar dari lamunan masa kecilnya, Dinda sudah mendapati dirinya terduduk di tengah ranjang. Dengan tiga lelaki dari kantornya mengelilingi tubuhnya yang telanjang bulat, kecuali kepalanya yang masih tertutup jilbab. Itupun sudah lepek oleh keringat dan belepotan sperma. Wajah cantiknya yang juga belepotan sperma memandang tiga kontol yang mengacung keras di depan mukanya. Benda yang sekarang sudah sangat familiar baginya. Benda yang dimiliki oleh Anto, pria spesial di hatinya dan juga dimiliki oleh seluruh pria di dunia ini. Dan Dinda, gadis cilik nan polos itu sekarang tumbuh menjadi gadis yang menginginkan semua kontol di dunia ini untuk mengisi lubang-lubang nikmatnya, dan menginginkan tangan-tangan kasar mereka untuk menggerayangi tubuh ranumnya.
Hammmpphhhhhfhhhhhspppplllrrff Dinda melahap kontol hitam di depannya, tak peduli punya siapa. Mengulangi sesi blowjob sebelumnya, Dinda mengulum satu kontol bergantian sementara kedua tangannya mengocok dua kontol sisanya. Bedanya sekarang Dinda jauh lebih agresif, seolah-olah kelaparan ingin melahap semua kontol yang disajikan.
Ceu, mau kontol? tanya Reza
Mauuu...Hssslurrpppppcpppptt jawab Dinda diantara sedotan dan kocokannya
Mau dientot?
Iyarghhhghfhfhghghggh
Apa? Keluarin dulu atuh kontolnya dari mulut
Phuaahhh...Iiyaaa mauuu! jawab Dinda dengan nada seperti anak kecil merajuk minta permen
Dientot di manaaa? timpal Ari dengan muka mengejek
Memek akuuu...Plis masukin kontol ke memek akuuu! Dinda meceuak menatap ke arah tiga pria dengan tatapan memohon.

Sesuai janji para pria, sekarang saatnya menu utama. Dinda sudah dipuaskan oleh appetizer sebelumnya. Formasi lingkaran kontol itu bubar, dan seorang yang berada dibelakang Dinda mendorong gadis itu hingga menungging.
Aahhh! Aduh!
Dinda mengaduh diperlakukan seperti itu. Sekarang gadis itu pasrah bertumpu pada siku dan lututnya. Dinda menurut saja ketika pria di belakangnya menaikkan pantatnya sehingga tubuhnya semakin menungging. Segera dirasakannya ada sesuatu yang menggelitik bibir kelaminnya yang sangat basah. Tapi bukan jari. Dinda hafal betul dengan sensasi ini.
Ah si Dinda mah hanjakal euy awewe teh. Geulis-geulis beuki kontol Dinda mendengar ejekan Jejen di belakang tubuhnya, yang hanya menggesek-gesek bibir memek Dinda dengan kepala kontolnya
Masukin aja Mas Jejennn pinta Dinda lirih
Naooooonn? tanya Jejen pura-pura tak mendengar dengan ekspresi menyebalkan
Masukiiiiiiin kontolnyaaaaaahhh! Akku pengen dientot iiiih! teriak Dinda frustrasi
Para cowok tertawa terbahak-bahak mendengar Dinda putus asa
Cup cup cup, tong ceurik geulis goda Jejen seperti menenangkan anak kecil yang merajuk, lalu setelahnya...BLESH!
Ngrahhhhkkkhhhhhh! Dinda mengerang keras ketika kontol kokoh Jejen menghujam memeknya
Enaaakkkk neng Dindaaaa?
Enak..Ahhh...Bbangeettt..Shhhh
Gerak moal yeuh?
Gerakiiinnn...Yang kencengh Mas Jejennhhhh...Ahhh!
Jejen mulai mengocok memek Dinda dengan brutal, membuat gadis itu melenguh dan menjerit-jerit nikmat. Matanya terpejam erat menikmati genjotan kontol Jejen di memeknya. Hingga terdengar suara
Ceu, buka matanya coba

Tahu-tahu di depan mukanya sudah ada satu kelamin pria lagi yang mengacung tegak. Dinda memandang ke atas melihat tampang jelek Reza yang menyeringai lebar. Tanpa protes Dinda pun melahap kontol Reza, dan sekarang lengkap sudah, Dinda ditusuk depan belakang. Jejen lalu menggenjot memek Dinda dengan semakin brutal, setiap sodokan membuat wajah Dinda semakin terbenam dalam selangkangan Reza.
Grrggglllhhllpppppgrrrrgggggghhhh lenguhan Dinda tertahan sumbatan kontol dalam mulutnya
Serangan ketiga dimulai oleh Ari yang merebahkan dirinya kemudian menggeserkan kepalanya ke bawah tubuh Dinda. Seperti montir yang masuk ke bawah kolong mobil. Tapi bukan untuk ganti oli, Ari mencucup payudara Dinda yang menggelantung indah dan berguncang hebat seiring sodokan Jejen di memek Dinda. Puting susu Dinda yang berwarna coklat muda sudah mengeras sempurna, Ari tinggal menjulurkan lidahnya menyapu puting itu yang maju mundur dengan sendirinya. Terasa asin karena keringat oleh Ari, dan terasa sangat nikmat bagi Dinda. Apalagi ketika Ari mencaplok seluruh bukit susunya dan menyedot-nyedotnya seperti bayi.
Uoohhh...Anjing! Ngempot...Sempit..Awe..we..Bangor...Siah...Dinda! Jejen meracau diantara genjotannya dan PLAK! Jejen menampar pantat Dinda membuat gadis itu memekik sakit-sakit nikmat, tapi tertahan kontol Reza dalam mulutnya.

Diserang gencar seperti itu tentu Dinda tak tahan. Tubuhnya yang terpontang-panting antara tiga lelaki menegang, bersiap menyambut ledakan birahi yang segera tiba. Dan mata indah Dinda membelalak ketika gelombang kenikmatan akhirnya menyapu seluruh tubuhnya. Di saat bersamaan Reza mencabut kontolnya sehingga Dinda bisa menjerit keras meluapkan klimaks pertamanya dalam sesi main course ini.
A-a-akkuuu k-kke...Nggggraaaaaaaaaaaahhhhh! jerit Dinda sambil mengejang
Anjing yeuh memek banjirrrrr! geram Jejen merasakan kontolnya disiram cairan kewanitaan Dinda yang membanjir seiring orgasme gadis itu.
Tubuh Dinda tersentak-sentak tanpa kendali, seluruh tubuhnya seperti dialiri listrik ribuan volt. Sensasi klimaksnya kali ini jauh lebih dahsyat daripada waktu sesi foreplay tadi. Hingga setelah beberapa lama akhirnya aliran listrik itu hilang dan tubuhnya kehilangan tenaga. Ari menarik kepalanya tepat waktu sebelum tubuh Dinda ambruk, siku gadis berjilbab itu sudah lemas tak mampu menahan tubuhnya yang kembali digenjot Jejen tanpa ampun.
Mas Jejennnn...Udahhh...Aku...Memek aku udahh...Baru ajahh-Ahhhh! Dinda melenguh lirih, wajahnya yang sudah berantakan menempel di atas sprei kasur.
Jejen tahu kalau Dinda sudah mencapai puncak kenikmatannya tapi ia tidak berniat membiarkan gadis itu istirahat. Tidak sampai dia menyiram rahim gadis itu dengan benihnya. Pria buruk rupa itu mendengus seperti babi hutan dan mulai menggenjot Dinda dengan tusukan-tusukan panjang. Gadis itu sudah terjerembab di kasur, tangannya hanya bisa meremas kain sprei dengan kuat. Dinda melenguh-lenguh pasrah menikmati rasa yang menjulur di seluruh tubuhnya. Tanpa ada rehat dari orgasme sebelumnya, kenikmatan yang dialami Dinda semakin naik, naik, dan siap meledak lagi.
Jen, kayaknya si Dinda mau keluar lagi tuh lapor Reza setelah mengamati bahasa tubuh Dinda
Nyaho aing ge...Ugghhh! Ngempotna ajibb beuhhh! Jejen mengelap keringat di dahinya
Crot di dalem Jen, abis itu kita gantian ujar Ari yang dibalas anggukan Jejen yang tampak semakin kepayahan menahan ejakulasinya hingga akhirnya dia memaki dengan suara menggeram
Anjing!

CROTT! Cairan putih kental menyembur deras dari ujung kontol Jejen, langsung menyirami rahim Dinda.
Sensasi semburan cairan hangat itu memicu serangkaian proses dalam sistem syaraf Dinda, yang bereaksi dalam sepersekian detik mengalirkan hormon pemicu euforia ke seluruh tubuhnya. Dinda kembali dilanda orgasme dahsyat seiring sang pejantan menanam benih di tubuhnya. Tak peduli pejantan itu adalah Jejen yang hitam dan buruk rupa, yang hobi menggoda perempuan di kantor dengan rayuan basi dan kampungan. Tapi sekarang kontol Jejen sudah mengaduk-aduk memek Dinda dan membuktikan kejantanannya.
Hhhh-Oohhhhhhhh! Dinda melenguh panjang sambil membelalak, tangannya mencengkram sprei erat-erat
Nghh! pekikan kecil terdengar ketika Jejen mencabut kontolnya dari gua Dinda yang banjir berbagai jenis cairan.
Sementara Jejen beristirahat, Reza dan Ari mengamati dari dekat memek Dinda yang habis digempur Jejen. Gadis itu masih menungging, masih sesekali tersentak-sentak merasakan sisa-sisa klimaksnya.
Za, liat yeuh. Nyemprot keluar gitu dikit-dikit tunjuk Ari
Terlihat jelas dari luar memek Dinda tampak berkedut-kedut. Sesekali kedutan itu menyemprotkan cairan cinta bercampur peju Jejen seperti gunung berapi. Melihatnya, timbul ide di kepala Reza
PLAK!
Terdengar Dinda mengaduh saat Reza menampar pantatnya, dan di saat bersamaan memek Dinda kembali memuntahkan cairan dari dalam. Mendapat mainan baru, tanpa belas kasihan Ari dan Reza menampar-nampar pantat Dinda memicu erupsi dari memek Dinda. Lenguhan dan erangan Dinda yang meminta mereka berhenti tak diindahkan.
Jen! Liat nih, memek si Dinda bisa muncratin peju kayak kontol! seru Ari menunjuk memek Dinda yang terus memuncratkan peju Jejen yang tadi baru disetor ke sana.

Hingga tenaga Dinda sedikit pulih sehingga ia bisa bangkit dan segera berbalik melindungi pantatnya
Udah ih kalian mah! Sakit tau! seru Dinda dengan cemberut, tapi Reza dan Ari hanya tertawa yang membuat Dinda semakin manyun.
Udahlah Ceu, jangan cemberut gitu sayang...Yuk kita enjut-enjutan lagi rayu Reza
Ogah! tolak Dinda sambil membuang muka
Wah, jual mahal nih cewek! seru Ari
Iye nih, harus ditangkep dulu ini mah...Rrragh! Reza tiba-tiba meloncat ke arah Dinda, membuat gadis itu menjerit tapi masih bisa menghindar.
Sambil tertawa-tawa Dinda mencoba menghindar dari kejaran Reza sebisanya dengan merangkak melingkari kasur king size itu. Reza mengejar di belakang diikuti Ari. Sementara Jejen hanya menonton di tengah.
Kena! teriak Reza setelah berhasil menangkap Dinda
Kyaa! Ahahhahahhha!
Dinda tertelungkup di atas kasur dengan Reza menindihnya. Setelah derai tawa mereka habis, dengan nafas masih sedikit terengah-engah, Reza berujar sesuatu di telinga Dinda.
Ceu, sekarang jatahnya gua sama Ari. Lo mau gak kita DP?
Hah? Di-DP? Kayak biasa Mbak Eci? Waduh...
Kenape? Lo bukannya pernah dianal Jejen dulu?
Iiya sih, tapi udah lama...Apalagi kalo depan-belakang aku belom pernah
Makanya nyobain sekarang, kapan lagi coba?

Jantung Dinda berdebar kencang. Dia akan merasakan sebuah sensasi baru. Sekaligus pencapaian baru dalam kehidupan seksnya. Semakin lama gadis itu semakin binal saja. Debar jantungnya saat ini mengingatkan masa lalunya. Hari itu sobat karib Dinda di SMA membawa kabar. Ada warnet baru di kota kecamatan. Bedanya dengan yang sudah ada, warnet satu-satunya yang mereka tahu, adalah warnet baru itu punya bilik tertutup dan juga tidak memblok situs aneh-aneh. Penasaran, pulang sekolah mereka menyempatkan diri mampir ke sana. Walaupun harus menempuh perjalanan cukup jauh dari sekolah. Setelah berhaha-hihi mengecek dan mengupdate status alay mereka di facebook, keduanya dengan jantung berdebar mencoba mencari sesuatu yang anak laki-laki sekelas mereka sebut bokep. Namanya internet, dua remaja desa yang gaptek sekalipun bisa mengakses konten terlarang dari belahan dunia lain. Mereka hanya mengharapkan adegan seperti yang biasa mereka lihat di film-film hollywood. Tapi yang mereka lihat lebih dari itu. Adegan ekstrim tanpa sensor, tanpa penghalang, dengan alat kelamin yang di-zoom dari jarak dekat. Teman Dinda tak kuat melihatnya dan menutup wajahnya dengan tangan, tapi Dinda malah memandang tak berkedip ke arah pemandangan di layar. Debaran jantungnya saat itu adalah kombinasi dari rasa takut, takjub, penasaran, sekaligus bahagia. Setelah beberapa tahun sebelumnya menyaksikan sendiri hubungan antara pria dan wanita dewasa di rumahnya, Dinda semakin penasaran dengan seks. Hanya karena lingkungan dan keluarga yang melindungi dirinya dari liarnya dunia modern, Dinda kecil masih bisa tumbuh sebagai gadis polos.

Jadi siapa yang dapet belakang? tanya Ari memecah lamunan Dinda
Ya masa si Jejen lagi, jadi gue aja Ri. Lo dapet memek
Okeeh!
Setuju gak Dinceu? Bool lo buat gua ya
Pelan-pelan tapinya ah, jangan bikin sakit rajuk Dinda manja
Yee pasti sakit dikit awalnya, udah ayo mulai
Ari berbaring telentang di ranjang. Dinda memposisikan tubuhnya di atas selangkangan Ari. Perlahan, dia menurunkan tubuhnya hingga kontol Ari melesak menembus memek legitnya.
Nghhh... Dinda mendesah pelan sambil memejamkan mata
Akhirnya batang Ari sudah mentok di dalam gua basah Dinda. Tapi posisi cowgirl ini bukanlah tujuan utama Dinda. Perlahan sambil menggigit bibir gadis itu memiringkan tubuhnya ke depan, semakin lama semakin sejajar dengan tubuh Ari. Berhati-hati agar kontol Ari tidak lepas lagi, Dinda pun sekarang menindih tubuh Ari. Payudara kenyal dan sekalnya menempel di dada berbulu Ari, memberi sensasi empuk-empuk hangat.
Reza memandang puas ke pemandangan indah di depannya. Pantat Dinda terangkat, memperlihatkan lubang anusnya sementara di bawahnya tampak memek Dinda yang sudah tersumpal kontol Ari. Sekarang saatnya. Double Penetration pertama buat Dinda.

Dinda menelan ludah ketika dia merasakan jari Reza di anusnya. Lalu jari itu berganti dengan ujung kontol ketika Reza sudah memposisikan tubuhnya di belakang pantat Dinda.
Ri, mending lo panasin si Dinda dulu ujar Reza
Siap!
Panasin? Emang aku mo- Ahh! Dinda melenguh ketika Ari menggerakkan pinggulnya naik turun hingga kontolnya mulai memompa memek Dinda. Terangsang, gadis itu ikut mencari kenikmatan dengan menggerakkan pinggulnya seirama dengan sodokan kontol Ari.
Ahhh ahhh aaaahhhhhmmmmmmffhhhcuphhhhhhfhhh Dinda mendesah erotis sebelum bibirnya dikecup oleh Ari. Putingnya yang ikut bergerak maju mundur bergesekan dengan dada kasar Ari, memberinya kenikmatan lebih.
Nah udah rileks kan Ceu? Tuh bool lu juga keliatan kembang kempis gitu minta dicolok
Dinda kembali merasakan ujung kontol menggesek lubang anus imutnya. Tapi berkat genjotan dan rangsangan Ari, Dinda sekarang tidak gugup lagi. Bahkan sudah tidak sabar.
Mmmfhh...Ahhh...Reza pelan-pelan yah... pintanya dengan suara lirih sambil terus mendesah
Iyee, tenang aja, cuh! Reza meludahi lubang yang akan segera ditembusnya
Dan BLESH! Dinda memekik, mukanya tampak tegang
Adududuh Reza, sakiitttt! erangnya
Sabaaar, bentar lagi juga ilaaaang Reza menenangkan, tapi dia sendiri tidak tenang karena sulit memaksakan kontolnya masuk ke dalam lubang anus Dinda tanpa menyakiti gadis itu.
Ari yang mengurangi tempo genjotannya untuk memudahkan penetrasi Reza mengelus punggung dan kepala berjilbab Dinda untuk mengurangi rasa sakitnya.
Fiuuuh, masuk nih semua Reza mengusap keringat di dahinya
Eh jadi gimana nih kita genjotnya bareng atau berlawanan arahnya? tanya Ari
Hmm gimana ya? Gua juga bingung
Jejen yang dari tadi menonton memberi saran Gerak aja we saurang, ngke nu lain tinggal ngikut

Benar kata Jejen, Reza dan Ari dengan sendirinya bisa sinkron tanpa harus dipikir. Dinda masih meringis ketika Reza mulai menggerakkan kontolnya. Pertama kali dalam hidupnya, dua lubangnya terisi penuh dalam waktu yang sama. Sensasi yang tak mungkin dirasakannya kalau Dinda hanya bercinta dengan Anto saja.
Awhhh...Ssshhhh penuh bangetttt...Ughhhh erangnya
Masih sakit Ceu?
Dikittt..Aww...Tapi udah mendingan...
Ari kembali memagut bibir Dinda untuk menenangkannya. Sementara Dinda juga mulai terbiasa, pinggulnya kembali bergerak menyambut sodokan kontol Ari di memeknya. Lama-lama Reza merasa pinggul Dinda juga sesekali merespon sodokan di anus. Pelan-pelan tempo genjotannya dipercepat, tapi tak ada reaksi penolakan dari Dinda. Malah lenguhan dan erangannya terdengar nikmat tanpa rasa sakit ketika Ari melepas ciumannya.
Ahhh gilaaa...Aku disandwichhh...Pantat akuhhh...Memek akuhhhh...Ngaaahhhh! racau Dinda
Jejen yang menonton dari samping terkekeh Yey si Dinda budak bageur teh jadi dijepit oge euy!
Lalu dengan seenaknya dia mencolek pipi Dinda dengan kontolnya yang sudah keras kembali.
Sakalian lobang yang ini nih ehuehuehue perintahnya
Dinda hanya memandang sayu pada kontol hitam Jejen di depan mukanya. Tanpa protes dilahapnya ke dalam mulut mungilnya, sekarang lengkap sudah tiga lubangnya terisi kontol.
Hari itu di warnet kota kecamatan, Dinda remaja tak pernah menyangka pemandangan ekstrim di monitor yang dilihatnya akan dialaminya sendiri. Bertahun-tahun kemudian, Dinda sendiri yang disetubuhi dengan brutal di semua lubang.

Rasa sakit dan canggung hilang sudah. Dinda merasakan kenikmatan tiada tara digenjot dua kontol sekaligus depan belakang. Sebentar lagi klimaksnya akan segera meledak, setelah birahinya terus naik dan naik distimulasi di semua tempat. Bahkan dia jadi kurang konsentrasi mengulum kontol Jejen, beberapa kali kontol pria buruk rupa itu lepas dari mulut Dinda. Tapi selain Dinda, Reza juga merasakan ejakulasinya sebentar lagi. Tak terbiasa dengan sempitnya anus Dinda, Reza tak bisa bertahan selama biasanya.
Arrghh anjing gak kuat gua! Gua keluarin di pantat lo ya Dinda, gua muncratin bool lo-Arrgghhh!
Reza mengggeram sambil mengejang, menyemburkan cairan kental hangat dalam anus Dinda. Sensasi disembur plus hentakan ejakulasi Reza tak ayal mengantar Dinda ke orgasmenya. Orgasme pertama Dinda dari penetrasi ganda.
Ngahhhhhhkkkkkhhhh! Dinda memekik, kontol Jejen terlepas dari mulutnya
Lagi-lagi tubuh Dinda mengejang dan tersentak-sentak dilanda orgasme hebat. Ari merasa kontolnya dalam memek Dinda seperti kebanjiran. Sodokannya dihentikan sejenak untuk membiarkan Dinda menikmati puncak kenikmatannya.
Auuhhh! Dinda melenguh manja ketika Reza menarik kontolnya dari lubang pantat Dinda dengan sekali tarik. Tampak lubang itu menganga sekarang, dengan peju Reza mengalir keluar dari sana.
Dinda yang masih menindih tubuh Ari mengatur nafas. Matanya sayu, wajah cantiknya acak-cakan dengan keringat dan sisa-sisa sperma bercampur baur di sana. Jilbabnya sudah lepek total oleh keringat. Sekarang gadis itu berusaha mengumpulkan akal sehatnya kembali.

Tapi di luar dugaannya, sesi double penetration hari itu tidak selesai hanya dengan keluarnya Reza. Dinda menjerit kaget ketika ada kontol lain yang tiba-tiba menerobos pantatnya. Lebih mudah karena anusnya sudah menganga dan ada sperma Reza di sana.
Ahh Mas Jejennnnn! protesnya
Jejen tidak peduli. Dia terus menusukkan kontolnya ke dalam lubang anus Dinda sampai mentok.
Ri, cengkat geura perintahnya yang segera dituruti Ari
Sekarang Ari di posisi duduk, dengan Dinda dipangkuannya. Sementara Jejen menyodok pantat Dinda dari belakang. Lagi-lagi Dinda dijepit, tapi kali ini dengan posisi berpangkuan.
Lebih gampang euy nyodok memek di posisi gini mah ujar Ari
Bener pan, si Dinda na ge bisa gerak timpal Jejen
Dinda sendiri mencoba bergerak, mengangkat tubuhnya naik-turun memompa kedua kontol yang menyumbat kedua lubangnya. Walaupun sulit, Dinda yang sudah dimabuk birahi tidak peduli. Tubuhnya bergerak liar, bibirnya sesekali berciuman ganas dengan Ari di depannya, atau menengok ke belakang untuk menyambut bibir dan lidah Jejen. Tubuh ketiga manusia itu saling bergesekan, keringat yang mengucur dari tubuh masing-masing jadi seperti pelumas. Bila tidak menempel dan menggesek dada Ari, payudara ranum Dinda diremas-remas Jejen dari belakang. Putingnya yang sudah keras maksimal dipilin-pilin, dicubit, dipermainkan Jejen sesuka hati, membuat Dinda semakin tak tahan.

Aaahhhhh! Dinda kembali memekik sambil mengejang, merasakan orgasme dahsyatnya yang kesekian kali hari itu. Tapi Jejen seperti biasa cuek saja terus menggenjot pantat Dinda tanpa ampun. Begitu juga Ari yang nanggung sebentar lagi gilirannya orgasme. Kedutan dan banjirnya memek Dinda semakin membuatnya tak tahan. Saat tubuh Dinda masih menggelinjang, Ari mencabut kontolnya, membuka sumbat yang segera mengalirkan cairan cinta Dinda keluar.
SPLURT! SPLURT! SPLURT! Semburan cairan kental hangat dari Ari menyembur keluar beberapa detik kemudian. Semua semburan mengenai payudara Dinda, yang kemudian meleleh turun ke puting susu dan terus ke perutnya bercampur dengan keringat yang membasahi kulit mulusnya.
Dengan Ari out, tinggal Jejen yang tersisa. Tanpa mengubah posisi, tangan Jejen mencengkram bahu Dinda. Tanpa belas kasih digerakkannya tubuh Dinda naik turun, mengocok kontolnya menggunakan jepitan lubang pantat Dinda. Pinggul Jejen ikut bergerak menyambut pantat Dinda, yang hanya bisa pasrah saja dijadikan boneka seks oleh Jejen.
Aaahhhh! Ahhh Mas Jejennhhhhhh...Nggghhhh! boneka itu hanya bisa menjerit-jerit histeris disodomi dengan brutal oleh Jejen.
Sekarang sudah tidak ada bedanya lagi antara digenjot di memek atau di lubang pantat buat Dinda. Saat pantatnya digenjot Jejen, memeknya terus mengeluarkan cairan cinta, mengalir deras di lubang yang sekarang sudah kosong itu. Tak heran ketika kemudian orgasmenya yang kesekian kalinya hari itu bisa diraih hanya dengan pompaan kontol di anusnya.

Jejen mencabut kontolnya ketika tubuh Dinda mulai menegang menandakan klimaksnya. Dinda pun terjerembab, telungkup di atas kasur sambil mengejang dan mengeluarkan lenguhan panjang.
Di atas tubuh Dinda yang masih tersentak-sentak, Jejen mengocok kontolnya sendiri dan akhirnya memuncratkan ejakulasinya yang ke-3 di atas punggung Dinda. Lalu menyingkir begitu saja meninggalkan Dinda yang masih telungkup banjir keringat merasakan sisa-sisa orgasmenya di tengah kasur.
Antara sadar dan tidak, Dinda teringat saat-saat keperawanannya hilang di tangan Anto. Seksnya yang pertama, yang baru bisa dia rasakan setelah bekerja dan hidup sendiri jauh dari keluarga, walaupun Dinda sudah penasaran dengan seks sejak SMP. Tidak sesakit yang dia kira, dan rasanya seperti yang dia harapkan, mungkin lebih. Tapi saat itu seperti ada sesuatu yang bangkit dari dalam Dinda. Sesuatu yang membuatnya menyadari, ada potensi yang tak terbatas dari yang namanya seks ini. Ada kenikmatan yang lebih dari yang bisa dia bayangkan di luar sana, jika Dinda mau bereksplorasi. Dinda dan Anto saling bertukar kata mesra, saling berjanji sehabis seks pertama mereka saat itu, dan Dinda memang mencintai pria itu dari hati. Tapi di lubuk hatinya ada suara yang lain.
Fuuh, Jen lo keluarin di punggungya si Dinceu? suara Reza memecah lamunan Dinda
Hahhhh...Iyeh, si Ari di susu
Hmm, coba itung. Gua keluar di mulut, ditelen sama si Dinceu. Lo crot di mukanya, Ari di jilbab. Trus elo ngecrot dalem memek, gua dalem pantat, Ari di toket, terakhir lo di punggung
Yey, kita sukses ngecrotin si Dinda di segala tempat, haha!

Mendengar pembicaraan mereka, Dinda tidak tersinggung. Seulas senyum malah tersimpul di wajahnya. Teringat kata hatinya waktu itu Maaf ya sayang, tapi aku ingin lebih....

Bonus Chapter End

#5 Cioe_pek_tong

Cioe_pek_tong

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 16 posts

Posted 24 January 2017 - 06:31 AM

Chapter 7: Tebak-tebakan di Malam Minggu

Ah masa sih Mbak gak ada yang pernah naksir ujar Asep
Yang ngedeketin ada sih beberapa, tapi aku kan pemalu hehe jawab Dita sambil tersenyum tipis tapi masih memandang halaman belakang dengan hampa.
Dua hari lalu Asep masih percaya kalau gadis manis itu memang pemalu. Tapi sekarang, yah, kontolnya sudah bersarang di memek gadis itu berkali-kali tanpa malu-malu.
Kalo naksir cowok?
Hmm...Aku ngefans sama beberapa artis cowok juga sih...
Yee bukan itu maksud sayah, mbak
Hehe, iiya aku tau...Yaa aku juga kan cewek Mbak Asep, wajarlah kalo pernah
Oohh Asep meraih gelas berisi kopi di sebelahnya. Merokok sambil ngopi, memang kebiasaan favorit Asep.
Aku waktu kuliah diperkosa sama temen seangkatan yang udah aku anggap kakak sendiri

PFFFFTTT! Asep langsung menyemburkan kopi dalam mulutnya mendengar perkataan Dita yang begitu tiba-tiba.
Dita tak mempedulikan Asep yang gelagapan dan sibuk menyeka mulut. Dia melanjutkan ceritanya dengan muka kalem.
Padahal aku rada-rada naksir dia, eh ternyata penjahat kelamin juga biarpun tampangnya alim
Jadi, mmm, pertama sama dia Mbak? tanya Asep yang masih menyeka mulutnya
Iiya..Dan parahnya abis dia, temen-temenya langsung ngegilir aku. Bayangin coba Mas Asep, udah ilang perawan, digilir pula, pada keluar di dalem lagi jelas Dita, masih dengan wajah tenang
Sementara Asep malah melongo mendengar cerita Dita
Mas Asep pasti penasaran kan gimana ceritanya kita bisa kayak gini? tanya Dita sambil tersenyum. Asep hanya bisa mengangguk. Sekali lagi Dita bisa menebak isi hatinya. Memang yang diam yang paling menghanyutkan. Dita pun melanjutkan ceritanya.
Kampus aku itu biarpun gak terkenal ternyata punya rahasia. Cowok-cowoknya punya tradisi buat merawanin dan ngejadiin cewek-cewek di sana jadi budak seks mereka...Gak peduli apa itu cewek gaul atau yang jilbaban kayak aku
Masa gak ketauan? Gak ada yang lapor polisi gituh Mbak?
Mereka punya sistem, aku sendiri gak tau gimana, yang pasti efektif banget. Aku gak bisa bilang siapa-siapa, cuman bisa pasrah...tau-tau semua cowok seangkatan udah ngerasain badan aku. Dan temen-temen cewek aku juga akhirnya kena semua
Wew Asep tak tahu harus berkata apa
Dita melanjutkan ceritanya. Betapa dia sering digilir dan digangbang oleh teman-teman kuliahnya. Ataupun ikut orgy berkedok rapat organisasi kampus. Asep semakin melongo ketika dia mendengar Dita dioper seperti barang oleh teman-teman kuliahnya. Dan puncaknya di acara perpisahan sebelum wisuda, angkatan Dita menggelar pesta seks massal di sebuah bumi perkemahan. Dita menceritakan semua itu dengan muka datar tanpa raut sedih sedikitpun.

Abis lulus aku langsung kerja di tempat sekarang, rada jauh dari rumah sih tapi untungnya jadi jarang ketemu mereka
Temen-temen kuliah Mbak maksudnya?
Iiya...Aku bisa lepas dari mereka, jadi bisa mulai hidup baru
Wah, saya mah gak tau apa-apa soal pesiko-logi, tapi saya kagum liat Mbak yang gak trauma abis pengalaman kayak gitu cetus Asep
Yakin aku gak trauma?
Eh?
Mas Asep udah berapa kali ngentotin aku coba? Liatin aku digilir sama yang lain?
Asep hanya bisa garuk-garuk kepala tak mengerti
Aku rencananya pingin mulai dari nol, mulai hidup baru. Tapi...Kayaknya otak aku udah terlanjur konslet deh. Kalo ada temen atau keluarga ngejodoh-jodohin aku ama cowok yang katanya mapan, akhlaknya bagus, dan lain-lain, tapi aku malah kepikiran kontolnya kayak gimana ya, maennya kuat gak ya hahaha...Ngeliat cowok yang ada dipikiran malah gimana rasanya dientotin mereka...Jadi maaf ya Mas Asep waktu kenalan dulu aku kayak yang sombong jarang ngajak ngomong hahaha Dita tertawa tapi Asep bisa mendengar kehampaan dalam tawanya

Yah akhirnya aku gak tahan dan cerita ke si Mpok Eci. Eh bukannya nasehatin, dia malah ikutan curhat sambil nangis, katanya gak kuat nahan nafsu juga kayak aku...
Oohh Asep mulai paham Jadi kalian semua kayak begini karena pengalaman masa lalu gitu yah...
Nggak kok, cuman aku tukas Dita cuek
Eh!?
Yang pengalamannya bombastis kayak gitu cuman aku doang kok. Yang lain biasa aja
Masa sih Mbak? Asep semakin bingung
Si Mpok waktu kuliahnya rada badung, jadi dia pacaran bebas gitu deh sama beberapa cowok. Pas kerja katanya mau tobat tapi malah ketemu aku hehehe...Udah nasib kali ya
Kalo...Mbak Irma?
Dia sih awalnya baik-baik pas kuliah, tapi pacarnya yang sekarang - yang gak direstuin ortunya itu, merawanin dia dan ngenalin dia ama seks. Susah juga sih ngeyakinin dia biar ikut pesta ini, tapi akhirnya mau juga. Pas awal-awal dia malu-malu banget, eh sekarang jadi doyan kontol juga kayak kita. Emang bakat kali tuh anak
Asep terdiam, otaknya tak mampu memproses informasi absurd dari mulut gadis berpenampilan alim di sebelahnya.
Mas Asep gak nanya soal Dinda? tanya Dita yang menohok hati Asep
I-itu...Yah saya juga...Iyah Mbak saya pengen tau Asep menyerah
Mau tau apa mau tau banget?
Banget Mbak! Dita tertawa melihat Asep begitu desperate

Jadi Dinda...Mmmm, dulu sih kita gak ada niatan buat ngajak Dinda. Kita juga liatnya dia cewek polos dan baik-baik. Tapi kemudian Reza gak sengaja ngeliat Dinda lagi ngentot sama pacarnya di kosan Dinda
...Pacarnya yang si Anto itu? Hati Asep tak karuan mendengarnya
Iiya. Mas Asep patah hati? goda Dita
Ah, gimana lagi Mbak, emang mereka udah pacaran dari dulu, sayah bisa apa
Intinya kita tau Dinda gak sepolos yang kita duga, jadi yah kayak Irma kita undang juga. Dan sama kayak Irma akhirnya dia ketagihan juga

Asep menggeleng-gelengkan kepalanya Saya gak ngerti Mbak. Terus terang saya gak ngerti. Mungkin kasusnya Mbak Dita maaf ya Mbak- atau juga Mbak Eci, saya bisa paham kenapa jadi beginih. Tapi saya gak abis pikir soal Mbak Irma sama Dinda. Okelah kalo mereka gak perawan karena udah dijamah pacar masing-masing. Segitu mah menurut sayah yang orang kampung ini udah gak aneh di jaman modern sekarang. Tapi sampe mau digilir sama kita-kita yang bukan pacar mereka, di pesta gila kayak gini menurut sayah gak masuk akal Mbak

Dita tersenyum melihat wajah Asep yang begitu serius Kadang...Banyak hal di dunia ini yang kita gak ngerti, kita anggap gak masuk akal, tapi terjadi juga. Dulu waktu aku digilir bolak-balik sana-sini aku anggap itu gak masuk akal banget, kayak cerita-cerita panas di internet gitu tapi aku ngalamin sendiri. Aku bisa lulus dan dapet kerja tanpa trauma abis digituin selama kuliah juga sebenarnya ajaib banget, tapi kejadian juga. Terus aku dapet temen kerja yang keliatannya baik-baik tapi ternyata senasib sama aku, kayaknya kebetulan banget. Tapi beneran lho
Jadi, ini semacam takdir gitu empat cewek kayak kalian bisa ngumpul bareng di satu tempat dan bikin grup ini?
Dita mengangkat bahu Yah, kalau memang ini udah takdir kita-kita yang diem-diem punya kelainan soal seks, atau hanya kebetulan kita bisa ketemu ya anggap aja begitu
Asep menggaruk-garuk kepalanya. Kalo cerita ini gua tulis di internet, yang baca pasti protes karena beneran gak masuk akal, batinnya.

Dan mungkin, takdir juga Mas Asep bisa gabung di grup ini. Mas Asep nyesel setelah ngeliat kita kayak gini? tanya Dita pada Asep yang masih kalut
Yah...Saya gak munafik Mbak. Saya juga punya nafsu, saya juga butuh pelampiasan, jadi yah saya sih seneng-seneng aja. Tapi saya mah kaget aja Mbak, dunia yang sayah kenal serasa runtuh
Trus, ngeliat Dinda kayak gini perasaan Mas Asep gimana?
Asep hanya diam tak mampu menjawab pertanyaan Dita yang menohok hatinya. Dia masih berpikir keras ketika terdengar suara ramai dari ruang tengah
Eh, itu suaranya si Mpok Eci. Udah pulang mereka potong Dita
Yuk, kita ke dalem aja tambahnya sambil bangkit dan berjalan ke arah pintu. Asep tak punya pilihan selain mengikuti Dita, walau masih banyak pertanyaan di kepalanya.
Di ruang tengah Eci membagikan makan malam mereka. Di sudut ruang tampak Ari, Reza, dan Jejen berkumpul.
Sep! Makannya di sini aja, kita mo ngebahas games berikutnya! panggil Ari
Asep menurut saja. Cerita Dita barusan dilupakannya sejenak ketika Ari mengumumkan konsep games berikutnya.
****

Oke, tadi kita para cowok udah dites fisik sama permainan hasil ide kalian, sekarang giliran kita yang ngetes kalian-kalian para cewek Reza berpidato seusai makan malam
Tapi kita gak akan ngetes fisik, kita mau ngetes daya ingat kalian tambah Reza yang disambut anggukan Ari
Maksudnya? Jangan yang susah-susah ah Reza tanya Irma dengan khawatir, karena dia yang memang paling lemot di antara yang lain.
Tenang aja Ir, paling lo kalah lagi ledek Dita
Ah gak mau gua, dari kemarin kalah terus...Masa yang punya rumah gak pernah menang... rajuk Irma sambil manyun
Udah udah, dengerin dulu nih. Kita mau negetes seberapa familiar kalian sama kontol kita-kita potong Ari menenangkan suasana
Hah!? serempak para gadis heran
Yap, dengan ini lomba tebak kontol dibuka! seru Reza tak mempedulikan reaksi para cewek

Ayo ayo mulai, buka bajunya semua perintah Ari pada para gadis yang masih berdiri keheranan.
Mereka saling memandang, tapi akhirnya menurut saja melepas pakaian mereka. Ternyata di balik piyama dan baju santai yang mereka kenakan sehabis mandi, mereka tidak mengenakan pakaian dalam. Dengan menyisakan jilbab seperti sebelumnya, para gadis sudah bugil total dan berdiri berjajar. Asep mestinya sudah terbiasa, namun pemandangan absurd tapi erotis seperti ini selalu berhasil memancing pedang Asep untuk naik.
Sep, ayo ujar Jejen
Oh, iya hayu Asep dan Jejen melaksanakan tugasnya seperti yang direncanakan. Mereka bertugas menutup mata para gadis dengan kain yang sudah disediakan.
Permisi ya Mbak Asep melingkarkan kain penutup mata di kepala Eci
Duh, maksudnya apaan nih Sep, gak ngerti aku mah protes Dinda yang masih bingung di sebelah Eci
Ntar liat aja deh
Sementara Jejen dan Asep melaksanakan tugas masing-masing, Reza menjelaskan aturan main dari lomba tebak kontol ini.

Intinya para cewek dengan mata tertutup akan digilir oleh keempat cowok itu dengan urutan yang nantinya para cewek harus tebak. Misalnya Asep-Reza-Jejen-Ari. Yang bisa menebak semuanya dengan benar adalah pemenangnya, dan yang paling banyak salah menebak adalah yang kalah.
Ari udah mikirin reward-nya belum? tanya Eci
Tadi kan yang menang dapet hadiah, sementara yang kalah gak dihukum apa-apa, nah sekarang gantian, yang kalah bakal kena hukuman jelas Ari
Hagh siah Irma ledek Jejen menakut-nakuti Irma yang matanya sedang dia tutup dengan kain
Ah aku gak mau kalah lagi pokoknya! rengek Irma putus asa
Waduh, kayaknya aku bisa kalah nih gumam Dinda yang matanya sedang ditutup oleh Asep
Ah gampang kok, gak usah takut gitu...Eh terlalu kenceng gak ngiketnya? Asep mencoba menenangkan Dinda, curi-curi kesempatan
Gak kok...Hehe, iya juga ya mungkin gak bakalan susah jawab Dinda sambil tersenyum
Reza meneruskan penjelasannya. Nanti para cewek akan dapat kesempatan menyepong tiap kontol selama 3 menit, kemudian penetrasi juga 3 menit per kontol. Dan terakhir penetrasi 30 detik per kontol.
Jadi para gadis punya 3 kesempatan untuk merasakan dan mengira-ngira kontol siapa saja yang masuk ke mulut dan memek mereka. Dan setelah semuanya selesai, barulah mereka akan menebak urutan yang benar. Sebenarnya ronde terakhir saat waktu kontak antara kontol dan memek sangat singkat adalah bonus sekaligus rintangan yang disiapkan Ari dkk buat para cewek, tetapi mereka masih belum menyadarinya.

Sekarang Irma, Dita, Eci, dan Dinda berjejer rapi dengan mata tertutup kain. Mereka berlutut, dengan tangan di balik punggung sesuai perintah Reza. Mereka terlihat seperti tawanan perang yang siap dieksekusi. Melihat para gadis itu dalam kondisi pasrah, tak ayal Asep dan yang lain terpacu birahinya. Walaupun Reza, Ari, dan Jejen sudah sering menyetubuhi mereka bahkan sebelum pesta ini, tapi jarang mereka bisa mengambil kendali seperti ini. Karena biasanya merekalah yang didominasi oleh para cewek, tak jauh beda seperti waktu di kantor.
Untung lo ikut Sep, kita bisa bikin mereka kayak gini bisik Reza
Emang gak pernah games kayak gini atau tadi siang? tanya Asep heran
Susah Sep, kan cowoknya kurang
Asep hanya manggut-manggut sementara Ari mem-briefing team cowok sekali lagi
Inget yah, jangan terlalu banyak pegang-pegang kalo gak perlu, trus jangan bersuara. Si Reza yang pegang pluit sama stopwatch. Inget kan urutanna?
Sip, hayolah jawab Jejen

PRIIIITTTT!
Reza meniup peluit. Serempak Asep dkk mendekati para cewek tanpa bersuara dengan kontol menghunus tegak. Untung tinggi mereka tak terlalu beda jauh jadi sulit untuk menebak dari tinggi badan. Dinda tersentak kaget ketika ada kepala kontol menyentuh bibirnya. Lalu tanpa bisa melihat Dinda dengan hati-hati mengecup dan meraskan benda keras panjang yang ada di depan mulutnya. Di sebelah Dinda, Eci mengulum kontol jatahnya dengan pelan, mencoba mengenali karakteristik kontol di mulut mungilnya dengan menggerakkan kepalanya perlahan. Lain dengan Dita, gadis itu menelan kontol di depannya sampai ke pangkal, tak peduli sampai harus menelan jembut si pemilik kontol. Beda dengan Eci, mulut Dita tidak bergerak sama sekali. Sepertinya dia sedang mengukur panjang dan diameter dari kontol jatahnya. Sementara Irma hanya memasukkan ujung kontol dalam bibirnya, sambil sesekali dijilat seperti es krim. Irma lebih memilih strategi mengenali kontol dari karakteristik kepalanya yang khas.
Suara seruputan dan jilatan memenuhi ruangan itu. Tak ada suara lain karena para cowok harus menahan suaranya walaupun rasanya nikmat luar biasa disepong dengan penuh konsentrasi oleh para gadis. Hingga akhirnya suara peluit memecah keheningan.
PRITTT!
Duh, tadi siapa yaaa Irma menggumam cemas
Ih, aku sampe ngeces gini Dita mengusap liurnya yang tumpah sebelum kembali menyimpan tangannya di balik badan
Hmm, susah juga yaaa timpal Eci, sementara Dinda diam saja tapi tampak sibuk berpikir

Masih tanpa suara para cowok bertukar posisi dengan urutan yang sudah disepakati sebelumnya. Kembali keempat gadis berjilbab itu mengisi mulut mereka dengan kemaluan pria tanpa segan. Pemandangannya sungguh sangat erotis, para wanita yang berlutut dengan mata tertutup dan tangan di belakang badan nampak seperti sekelompok budak seks. Para pria yang sedang menyumpal mulut mereka dengan kontol berkacak pinggang tanpa suara bagaikan tuan dari para budak seks itu
PRITTT!
Suara peluit kembali terdengar setelah 3 menit. Dinda dan yang lain langsung mengambil nafas sebelum kontol urutan ketiga mengisi mulut mereka yang seharusnya suci itu.
Hmmpphhh...cplkcleppppkkkcleppeeep...sluurrrrpppp suara seruputan yang erotis kembali menggema.
Asep adalah urutan ketiga buat Dinda. Melihat ke bawah, Dinda tampak begitu semangat menyedot kontol Asep. Lidah gadis manis itu mempermainkan batang Asep, mencoba mengenali siapa pemilik kontol yang mengisi rongga mulutnya. Melihat binalnya Dinda saat itu, Asep teringat apa yang dijelaskan Dita. Hatinya masih belum bisa menerima. Apa sesimpel itu? Masa dengan mudahnya Dinda, yang tidak punya masa lalu sewarna-warni Dita, bisa jadi seperti sekarang? Tapi bagaimanapun, itulah kenyataannya. Dinda yang dulu Asep anggap gadis biasa saja sekarang sedang berlutut dengan mata tertutup. Telanjang bulat, dan tanpa malu-malu menelan kontol Asep. Asep sendiri tidak bisa munafik, dia sudah mencicipi tubuh gadis itu, dan dia sudah melihat teman-temannya ikut menikmati. Sekali lagi syarat yang diajukan Eci agar Asep bersikap biasa setelah semuanya selesai terasa semakin sulit.

PRITTT!
Lamunan Asep buyar oleh suara peluit. Serempak para pria menarik kontol masing-masing dari lubang tempat mereka bersarang selama tiga menit ke belakang.
Hmm kayaknya aku tau deh yang tadi... Dinda menggumam, yang membuat Asep berbunga-bunga mendengarnya. Dia hapal kontol gue!
Sesi keempat pun dimulai. Tampaknya semua sudah tidak kebingungan lagi dengan peran masing-masing. Hanya saja bila di awal para cewek bisa menebak lewat bau khas kontol setiap pria, sekarang setelah dikulum berkali-kali tentu baunya sudah hilang. Reza dan yang lain juga harus menjaga agar tidak ejakulasi. Mereka harus bertahan sampai permainan selesai.
PRITTT! PRITTT! PRITTT!
Reza meniup peluit tiga kali, tanda sesi blowjob selesai. Semuanya menarik nafas lega, rehat sebentar mengambil nafas.
Kayaknya aku ada gambaran deh, tapi ada yang aku gak yakin ujar Irma
Inget-inget sekarang Ir, nanti lupa saran Eci

Tak lama, Ari memberi komando OK cewek-cewek, semuanya nungging, kakinya direnggangin dikit...yak gitu
Sekarang pantat Irma, Dita, Eci, dan Dinda menghadap ke arah para cowok. Tampak lubang memek mereka yang sudah merekah basah, terangsang oleh kontak antara kontol dengan mulut mereka sebelumnya. Jejen menyikut Reza sambil nyengir tanpa suara. Asep sudah tidak mau berpikir lagi. Sebagai teman yang baik, Asep ikut saja dengan kemauan mereka. Sebagai anggota baru dari klub gila ini.

PRITTT!
Peluit tanda mulai sudah ditiup oleh Reza. Sebelumnya Ari mengingatkan teman-temannya agar jangan sampai ejakulasi dan meminimalisir rabaan dan gerayangan yang tidak perlu. Bagaimana cara mereka menggenjot memek jatah masing-masing, itu terserah mereka. Tentu, masih tanpa suara yang bisa mengungkap identitas mereka.
Ah kok aku jadi deg-degan ya ujar Eci yang merasakan pantatnya dipegang sepasang tangan misterius
Iiya Mbak, gak pernah ya kita maen sambil ditutup mata gini balas Dinda
Jadi khawatir memek kita malah dimasukin yang lain ya Mpok? ledek Dita
Ah elu Dit, bisa aj-AHH! Udah masuk aja iiihhhh... erang Eci yang dicoblos tiba-tiba
Ahhh...Ini beneran kontol... desah Dita, sementara di sebelahnya Irma hanya melenguh lirih
Memek keempat gadis berjilbab yang sedang nungging itu lalu dipompa dengan tempo dan gaya berbeda-beda. Memang sulit untuk mengukur dimensi dan bentuk dari kontol dengan memek, apalagi buat Eci, kontol apapun akan mentok dalam memeknya yang sempit. Jadi mereka diberi kemudahan dengan membiarkan para cowok menggenjot sesuai gaya dan ritme khas masing-masing sehingga setidaknya para cewek bisa menebak dari situ, dipadukan dengan data yang mereka dapat dari mulut mereka saat sesi blowjob tadi.

Setidaknya itu teorinya. Namanya kelamin bertemu, pasti rasa nikmat mulai perlahan menggantikan kemampuan berpikir dan mengolah informasi. Keempat gadis berjilbab itu mulai mendesah-desah erotis saat memek mereka digenjot bersamaan. Payudara mereka yang bergantung mengayun-ayun indah. Keringat mulai membasahi tubuh mereka, gaya gravitasi mengarahkan bulir-bulir keringat mereka ke titik paling rendah: puting susu mereka yang sudah mengacung tegak. Yang kemudian jatuh memercik seiring ayunan bukit susu keempat gadis itu.
Ahhh...Bener ini yang aku tebak... lenguh Dita
Mmmhh...Ahhh...Yang ini juga... balas Dinda sambil megap-megap
PRITTT!
Keempat gadis itu memekik terkejut saat kontol di memek masing-masing tercabut tiba-tiba seiring bunyi peluit. Pekikan kembali terdengar sesaat kemudian saat lubang nikmat mereka kembali tersumpal kontol.
Ahhhh susah ih ini nebaknya! racau Irma yang tampak sudah kepayahan menahan kenikmatannya
Mendengarnya, pria di belakang Irma malah semakin cepat menggenjot memek gadis tinggi semampai itu. Membuat Irma semakin berteriak nikmat.
Ahh bodo amat ahh...Ahh...Yang penting...Nghhh enakkk!
Sementara yang lain sibuk berpikir, siapa yang sedang mengaduk-aduk lubang kenikmatan mereka saat ini, mencocokkan dengan tebakan mereka sementara dari sesi sebelumnya.
PRITTT!
Yaaahhhhh! Irma melenguh kecewa ketika kontol di memeknya lepas, padahal dia hampir mencapai puncak kenikmatan. Begitu kontol yang lain mulai masuk, dia malah mendorong pantatnya kebelakang dengan agresif. Seandainya yang lain bisa melihat, tentu mereka akan menasihati Irma agar konsentrasi. Tapi masing-masing masih sibuk sendiri.
Seperti tadi, urutan ketiga untuk Dinda adalah Asep. Melihat punggung tipis nan mulus Dinda, pantat bulatnya, dan tentu lubang memeknya yang merekah, Asep menelan ludah. Dia bingung, seperti apa dia harus memompa memek Dinda? Tak mau kehilangan waktu 3 menitnya yang berharga, Asep mulai memasukkan kontolnya dalam memek Dinda. Masih tak yakin, Asep hanya menggenjot Dinda dengan tempo standar. Mestinya dia bisa menikmati, tapi kondisinya tidak memungkinkan. Selama tiga menit itu pikiran Asep kembali melayang.

Selama ini diam-diam dia sudah mengumpulkan informasi tentang Dinda. Gadis itu berasal dari kota kecil di Jawa Barat. Ayahnya adalah mantri desa, ibunya ibu rumah tangga. Punya beberapa kakak yang sebagian sudah menikah. Tak ada yang aneh. Mulai berpacaran dengan Anto tak lama setelah diterima bekerja di kantornya yang sekarang. Asep sudah beberapa kali melihat Anto dan Dinda bersama, Anto walaupun beda departemen cukup akrab dengan Jejen dkk, mereka sering main futsal atau konvoi jalan-jalan bersama. Walau cemburu, harus diakuinya dirinya memang kalah dengan Anto. Dan melihat gaya pacaran mereka, masih tampak normal buat Asep, walaupun tadi Dita bilang Antolah yang pertama memerawani Dinda. Apakah pria itu yang mengubah Dinda jadi gadis maniak seks seperti ini? Mungkin Anto bukanlah pria yang benar-benar alim, toh dia sudah berani berhubungan suami-istri dengan pacarnya sebelum menikah. Tapi rasanya tidak mungkin hanya satu pria bisa mengubah gadis seperti Dinda jadi begini.
PRITTT!
Ah sial, kebanyakan mikir malah gak bisa nikmatin, rutuk Asep kesal. Dicabutnya kontol miliknya dari memek Dinda yang diiring lenguhan manja gadis itu. Sementara terdengar protes Irma yang lagi-lagi nyaris meraih orgasme tapi gagal. Para cowok sebisa mungkin menahan tawa melihat Irma yang frustrasi. Termasuk Asep yang segera mulai berpindah posisi ke jatahnya saat ini.

Suara-suara erotis kembali memenuhi ruangan itu. Memek para gadis semakin basah, sehingga suara kontol yang menerjang-nerjang memek yang banjir semakin keras. Begitupun erangan dan lenguhan keempat gadis berjilbab itu. Irma terus berusaha menggapai kenikmatannya hingga akhirnya ia memekik nikmat dan tubuhnya tersentak-sentak liar.
Ahhh akhirnyaaa... erang Irma puas
Iiih Ir, lo keluar ya? tanya Dita mendengar kehebohan Irma
Iyaa Dit...Gila enak banget...
Ah elo emang gampangan...Nnghhh ledek Dita yang juga sudah mulai didera nikmat
Diem lo...Ahh masih gerak aja nih yang ngentotin gue...
Eci dan Dinda pun mulai kehilangan konsentrasi, mereka terus mengerang dan mendesah nikmat

PRITT! PRITTT! PRITTT!
Peluit berbunyi menandakan selesainya ronde kedua, dan saatnya ronde terakhir dimulai. Sebenarnya ronde ini tidak terlalu perlu, tapi Ari merancang ronde ini untuk menambah keseruan permainan.
Ini apa bedanya sama yang tadi? tanya Eci
Tak ada yang menjawab karena para cowok sibuk bertukar posisi kembali ke urutan awal.
PRITTT!
Peluit berbunyi dan serempak Irma, Dita, Eci, dan Dinda memekik kaget ketika memek mereka langsung dicoblos dengan tiba-tiba dan langsung dihajar dengan kecepatan tinggi. Memang perintah Ari untuk menggenjot dengan tempo seganas mungkin selama 30 detik. Para gadis protes diantara lenguhan nikmat dan pasrah mereka.
Ahh pelan-pelan iihhh! Aduhh!
Mhhhh bisa nyampe lagi akuuu!
PRITTT!
Eh? Kok cepet ama- Ahhhhh!
Kembali memek mereka ditusuk oleh kontol tak lama setelah kontol sebelumnya lepas. Dicoblos bergantian dengan genjotan brutal tak ayal membuat pertahanan mereka roboh.
Oooohhhh! Dinda melolong dan ambruk tak kuasa menahan nikmat orgasmenya. Tapi memeknya terus dihajar tanpa ampun membuat gadis itu belingsatan. Eci sudah di ambang puncak ketika peluit berbunyi.
PRITTT!
Nggaaaahhhhh! Ampuunnnn! jerit Eci saat gelombang orgasme datang bersamaan dengan masuknya kontol gelombang ketiga yang menggasak memek sempitnya.
Dita menyusul dengan pekikan membahana tak lama kemudian, dan terakhir Irma yang histeris saat orgasme keduanya menerpa.
PRITTT!
Tak ayal, setelah tumbang di sesi sebelumnya, para gadis hanya bisa mengerang lirih ketika memek mereka dibombardir di 30 detik terakhir. Inilah bonus dari Ari, memberi kesempatan bagi mereka untuk bisa meraih orgasme. Tapi sekaligus juga rintangan, karena orgasme dahsyat mereka bisa jadi membuyarkan konsentrasi dan membuat mereka lupa dengan jawaban yang sudah disusun di kepala mereka.
PRITT! PRITTT! PRITTT!

"Ngghhhkkk" para cewek mengejang ketika semua kontol tercabut dari memek mereka bersamaan
Hahh! para cowok pun sudah kelelahan sebenarnya. Mereka langsung terduduk mengambil nafas.
Anjirr, ampir bucat urang tadi ujar Jejen
Hehe, mantep pan yang terakhir Ari nyengir memuji idenya sendiri
Gila, seru tapi cape yang terakhir timpal Asep
Heueuh rame euy pindah-pindah memek siga tadi, kapan-kapan lagi atuh euy
Sementara Reza menunjuk kontolnya sendiri Ampir gak tahan gue, kalo keluar pasti banyak banget nih
Tahan dulu Za sampe kita nentuin siapa yang bakal dihukum, pasti nanti puas deh saran Ari
Sip lah Reza mengacungkan jempolnya. Lalu dia berdiri dan memberi pengumuman.
Oke, cewek-cewek silakan buka penutup matanya dan mendekat sini, saatnya kalian ngasih jawaban
Reza menggosok-gosokkan tangannya dan menyeringai lebar
Heheheh, siapa nih yang bakal kena hukuman gumamnya

Bersambung

#6 samri

samri

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 82 posts

Posted 24 January 2017 - 06:15 PM

Mantap banget ceritanya suhu, di tunggu kelanjutanya

#7 Cioe_pek_tong

Cioe_pek_tong

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 16 posts

Posted 24 January 2017 - 09:28 PM


Chapter 8: Antara Hukuman dan Timun


Ari bergerak cepat, menyerahkan secarik kertas dan pulpen kepada masing-masing perempuan.
Oke, tulis nama dan jawaban masing-masing, urutan para cowok jatah kalian no.1 4, ayo cepat-cepat jangan lama-lama! perintahnya
Para gadis yang masih kepayahan terlihat agak enggan.
Yah Ari, kasih waktu dong protes Dinda yang nafasnya masih sedikit memburu
Iiya nih, baru aja nyampe kita tambah Irma
Ari garuk-garuk kepala Iya iya, 5 menit ya. Reza, itung waktunya serunya ke Reza yang memegang stopwatch.
Jejen duduk sambil mengocok kontolnya pelan, menjaga agar tetap tegak. Sedangkan Asep termangu melihat pemandangan empat gadis berjilbab tapi telanjang bulat yang sedang sibuk berpikir dan menulis. Seperti di kantor saja, pikirnya.

Lima menit kemudian, Ari mengumpulkan kertas jawaban dari peserta kuis. Para gadis tampak cemas, sepertinya tak satu orang pun yakin dengan jawaban mereka.
Mudah-mudahan aku nggak kalah lagi Irma terpejam sambil komat-kamit berdoa
Elo sih malah enak-enakan nyari orgasme sendiri...
Nyinyir lo Dit...Jangan sampe kalah...Jangan sampe kalah Irma membalas ledekan Dita sambil terus berdoa
Ari dan Reza kebagian mencocokkan jawaban sedangkan Asep dan Jejen pergi ke kamar tempat para cowok menyimpan tas mereka. Reza menyuruh mereka mengambil sesuatu dalam tasnya.
Ini kali yah Sep? tanya Jejen mengasongkan kantung plastik hitam di tangannya
Iya, katanya sih kresek item
Asep membuka plastik itu untuk mengecek isinya
Anjrit! teriak Jejen dan Asep berbarengan begitu melihat isi plastik hitam itu
Hahay, gile euy si Reza! Jejen geleng-geleng kepala sambil tertawa.

Kembali ke ruang tengah. Para gadis tampak berjejer berdiri, ekspresi mereka terlihat harap-harap cemas. Ari memegang secarik kertas bersiap mengumumkan hasil penilaian. Begitu Jejen menyerahkan plastik ke tangan Reza, Ari memulai pengumuman.
Saudara-saudara, bagaimana kabarnya semua? Pasti pada tegang kaaan?
Ari udah ah cepetan protes Dinda
Iiya nih jangan basa-basi ah timpal Eci
Ari tampak kesal tapi dilanjut juga Iyee, udah kalo gitu langsung ajah yah...Ahem!
Jadi di antara kalian berempat, ada satu orang yang bisa nebak semua urutan dengan benar
Woooow!
Ada dua orang yang nebak setengahnya dengan benar...Dan! Ada satu yang nebak salah semua!
Para gadis semakin cemas Aduh mudah-mudah bukan aku plis... gumam mereka
Oke langsung aja yah...Yang berhasil menebak setengahnya adalah...Dinda!
Yess! Dinda bersorak sambil meloncat-loncat hingga payudara sekalnya memantul-memantul indah
Dan Mbak Dita! Kalian berdua aman!
Haaahhhh...Sukur deh Dita menarik nafas panjang, lalu menyambut Dinda yang memeluknya
Sementara Irma dan Eci semakin cemas. Pemenang dan pecundang dari permainan ini adalah mereka, tapi yang mana?
Hohoho saya umumin yang menang yah, berarti yang gak disebut itu yang kalah dan harus dihukum!
Yakin deh si Irma yang kalah Dita terus meledek sahabatnya yang terlihat semakin cemas
Ayo Ari cepetan! seru Dinda riang
Ari berdehem. Setelah memandang semua gadis bugil di depannya, Ari mengalihkan pandangan ke arah kertas di tangannya
Pemenang lomba tebak kontol malam ini, dengan jawaban 100% benar adalah...
...Irma

Yeyyyy! Irma langsung bersorak riang, sementara disebelahnya Eci langsung terduduk lemas
Yaaahh, aku dong yang kalah...
Kok bisa sih? Ah pasti lo asal tebak deh Ir? protes Dita
Ih, sirik aja lo Ta. Ya biarin kalo gua asal nebak, kalo bener semua berarti emang hoki gua dong! balas Irma dengan bangga
Yee berarti beneran yah lo asal nebak
Tapi kok bisa sih Mbak Eci kalah? tanya Dinda bingung
Yaa abis gimana lagi... jawab Eci lemas Punyaku kan kecil banget, itu kontol kalian kerasanya sama aja di dalem, penuh sesek gak bisa bedain...Pas yang blowjob aku gak konsen
Mendengarnya, Jejen geleng-geleng kepala dan berbisik pada Asep Anjrit, padahal sering dicoblos ku aing depan belakang, masa teu bisa ngeunalan tongkat sakti aing
Buat dia kayaknya kontol kita gak ada istimewanya kali, Jen
Heu-euh, bisa jadi
Udah cepetan ah Reza yang ganteng, apa hukumannya? tanya Irma tak sabar
Jiah, pas giliran menang aja lo nyebut gua ganteng Reza sewot sambil mengacungkan plastik hitam yang tadi diambil Jejen dan Asep Nih, liat aja
Reza membalik plastik sehingga isinya tumpah.
Dan semua mata terhenyak memandang isinya. Ada sebuah vibrator berukuran lumayan, vibrator lain lebih kecil yang bergelombang, dua vibrator kecil berbentuk telur, dan semacam borgol dari kulit.
Idiih, apaan tuh Reza? tanya Dinda
Wew, dapet dari mana tuh? timpal Dita
Ada deh...Dan ini semua buat ngehukum yang kalah! jelas Reza bangga
Tapi bukannya takut, mata Eci malah berbinar Wah pas banget, padahal aku pengen nyoba yang ginian
Sebagai pemenang, Irma tak terima Ish, malah seneng dia. Gak rela gue...Eh mpok siap-siap ya kita siksa sampe mohon-mohon
Ayo, emang bisa? tantang Eci

Dan hukuman, yang sekarang jadi tantangan buat Eci pun dimulai. Tangan Eci diborgol pada sebuah tiang sehingga dia tak bisa bergerak. Tangannya diposisikan di atas kepalanya, memperlihatkan ketiak mulusnya.
Awww aku kayak lagi disandera nihh...Tolong jangan perkosa akyu, hiks hiks ujar Eci genit
Irma sepertinya mengangkat dirinya sendiri jadi eksekutor hukuman Eci. Dengan berkacak pinggang Irma memasang tampang seram.
Heh kamu! Jangan berharap kamu bisa lepas dari sini! Mulai sekarang, kamu akan tinggal selamanya di neraka birahi ini!
Ampun mamih! Jangan perkosa akyu, akyu masih perawan ting-ting! balas Eci
Hmph, kamu harus dihukum! Heh anak buah!
Siap mamih jawab Reza dan Ari berbarengan
Sumpel semua lubang tuh anak pake ini semua Irma menunjuk ke arah vibrator yang bertebaran di sekitar mereka.
Segera Reza dan Ari menempelkan kedua vibrator telur di masing-masing puting Eci dengan bantuan selotip. Lalu vibrator yang tipis tapi bergelombang dimasukkan ke dalam anusnya.
Aduhh pelan pelan dong! protes Eci
Ups, maaf mbak lupa saya kasih pelumas hehe ujar Ari sambil nyengir
Dan saat itu Reza langsung memasukkan vibrator yang paling gemuk ke dalam memek sempit Eci dengan sekali hentak.
Ahh! Eci mengerang, tapi bukan karena sakit sebab memek Eci sudah basah dari tadi.

Nah, empat vibrator ini udah gua link secara wireless ke aplikasi di HP gua Ir, jadi pake HP kita bisa ngatur semuanya gak harus disetting satu-satu jelas Reza sambil menyodorkan HPnya ke Irma.
Wiiw, canggih juga ya. Jadi tinggal pencet aja nih? Yang nomor satu apa ya?
BZZZT! Eci menggelinjang ketika vibrator di puting kanannya bergetar memberi sensasi nikmat di bagian sensitifnya itu.
BZZT! BZZT! BZZT! Eci terus melenguh dan menggeliat ketika Irma mencoba menyalakan setiap vibrator satu demi satu.
Wah asik juga nih. Bisa kan dinyalain semuanya sekaligus? tanya Irma
Oh bisa lah, pencet tombol yang itu
Aduh jangan dong! Mampus aku kalo semuanya nyala! Eci memohon dengan panik
Tapi Irma malah tersenyum sinis Owh, tombol yang ini yaaa, coba kita tekan....
BZZZTTTTTTTTTTTTT
Ah mamiiiihhhhhhhh! tubuh Eci berkelojotan dengan liar saat keempat vibrator di tubuhnya aktif bersamaan. Setelah beberapa saat barulah Irma menghentikan penderitaan Eci.
Hosh hosh...Ampuuun dong... ratap Eci
Oh iya Ir, cek deh di bawahnya ada settingan buat ngatur intensitas ngegeternya saran Reza
Hah? Yang tadi itu belum full power!? Oh em geee! Eci kembali panik
Lagi-lagi Irma hanya tersenyum sinis...

Berkat mainan Reza, Irma mendapat kepuasan menyiksa Eci. Dengan tega dia menyetel semua vibrator di posisi max, kemudian ketika Eci sudah di ujung orgasme, kekuatannya langsung diturunkan atau malah dimatikan. Membuat Eci sengsara. Siksaan itu dilakukan Irma berkali-kali sampai Eci memohon-mohon agar dibiarkan bisa orgasme. Tapi Irma tak menanggapinya, malah terus menyiksa Eci.
Mbak Irma serem juga yah kalo kayak gitu bisik Asep ke Reza
Iya, gua juga kaget ngeliatnya
Emang dia gak pernah kayak gitu sebelumnya?
Kagak Reza menggelengkan kepalanya Lain kali kita jangan biarin si Irma menang lomba kalo kayak gini jadinya
Asep hanya mengangguk setuju.
Gimana Mpok? Enak kan disumpelin vibrator? tanya Irma
Ahh, Ir biarin aku nyampe, sekaliiii aja rengek Eci
Hmpph, malu-maluin ih si Mpok, orgasme sama mainan ledek Irma
Nah sekarang...Milih mainan apa kontol asli Mpok?
Yaa enakan kontol asli lah Ir...
Pengen?
Banget...
Irma tersenyum nakal Reza sini! panggilnya
Irma memposisikan Reza di belakang tubuhnya, lalu mengangkat salah satu kakinya. Sebelah tangan Reza memeluk pinggang Irma, sementara tangan satunya menahan paha Irma yang terangkat. Irma sengaja mengangkat salah satu kakinya agar Eci bisa melihat jelas kontol Reza keluar masuk memeknya dalam posisi berdiri.
Nih Mpok, ini kan kontol asli kesukaannya situ...Tapi maaf ya, yang ini buat aku, situ liatin kita aja dan puasin sendiri sama mainan hohohoho!
Ah Irmaaaaa tega banget sih dirimuuuu! ratap Eci putus asa
Ayo Reza, genjot memek gua sebrutal lo bisa, Ri lo yang mainin tuh vibratornya!

Jadilah Irma disetubuhi Reza di depan Eci, memanas-manasi Eci yang tersiksa oleh vibrator dan merindukan kontol asli tapi tak bisa berbuat apa-apa. Sepertinya semua mengambil kesempatan langka untuk mendominasi Eci.
Asep cukup terhibur tapi tidak tertarik untuk ambil bagian. Dilihatnya sekeliling, Ari yang memegang kendali vibrator berjongkok di dekat Eci. Dita dan Jejen berdiri berdampingan, asyik menonton adegan penyiksaan Eci. Tampak Dita tidak terganggu dengan tangan Jejen yang kelayapan meremas-remas bukit susunya. Malah Dita dengan santai menggenggam dan mengocok pelan kontol Jejen.
Lalu Dinda...Lho? Asep melihat sekeliling, tapi dia tidak melihat Dinda. Asep memutuskan untuk mencari Dinda. Ini kesempatan emas untuk berduaan dengan Dinda selagi yang lain sedang sibuk. Asep mencari di kamar mandi, nihil. Di dapur, tidak ada orang. Dicoba di setiap kamar juga tidak ada.
Hingga akhirnya Asep mendengar suara di teras belakang. Mendekati pintu belakang yang terbuka, Asep semakin mengenali suara Dinda. Langkahnya terhenti di pintu, agak dekat tapi tak terlihat dari posisi Dinda di kursi teras, mencoba mencuri dengar.
Ai kamu teh lagi di mana?
Asep melihat Dinda sedang duduk di kursi teras, menerima telepon. Dari nada suaranya yang manja dan mesra, Asep menebak lawan bicara Dinda adalah pacarnya, Anto.
Penuh atuh ngumpul semua keluarga di situ...Iiya aku lagi rame-ramean sama yang lain haha, biasalah cewek kalo ngumpul
Asep tertegun di pintu, tak tahu harus berbuat apa. Segan baginya untuk mengganggu, tapi tak ingin Asep beranjak dari situ. Ingin rasanya Asep terus memandangi wajah Dinda yang begitu ceria, begitu bahagia, begitu sumringah tersenyum lepas saat berbicara dengan kekasihnya, walau hanya lewat telepon. Sungguh cantik Dinda saat ini di mata Asep, bahkan sekarang Asep lebih memilih memandangi wajah Dinda dibanding tubuh mulus gadis itu yang terpampang jelas tanpa penutup.
Bahagia melihat orang yang disukainya bahagia walaupun dengan orang lain. Ironis memang posisi Asep saat ini.

Hingga beberapa lama akhirnya Ahahaha masa sih yang, kan eh? Halo? Haloooo? Dinda menatap layar HP-nya.
Yah, kok putus tiba-tiba sih? gumamnya kesal
Ahem - Oh lagi di sini toh, kirain ke mana kata Asep yang pura-pura baru melihat Dinda di situ
Hehe, iya nih lagi nerima telepon tadi
Pasti si Anto yah? tanya Asep yang mendekati Dinda dan duduk di sebelahnya
Iiya, dia lagi di Bandung ada acara keluarga. Pas kan, jadi aku bisa ikut ke sini hehe
Oooh...
Tapi teleponnya putus ngedadak gitu, kayaknya gak ada sinyal di sana...
Bisa jadi...
Kalo Asep? tanya Dinda tiba-tiba sambil menatap Asep dengan mata indahnya Gak ada yang minta ditelpon malem minggu gini Sep?
A-ah gak ada kali, gua mah belum punya... jawab Asep gugup mencoba menghindari tatapan Dinda
Ih masa, kalah tuh sama Mas Jejen
Emang dia punya cewek?
Iiya, anak pabrik garmen yang di perempatan itu lho...Ayo dong Sep, masa gak ada yang ditaksir sih, di kantor kan banyak
Asep hanya bisa nyengir, dia salah tingkah menghadapi Dinda yang tampak begitu penasaran. Tentu Asep tak bisa jujur mengungkapkan siapa yang ada dalam hatinya saat ini
Yaa kalo cuman naksir sih ada
Siapa? Siapa? Si Mbak Resepsionis ya? Ciee Asep... mata Dinda semakin berbinar
Wah, ketinggian itu mah. Beda level kali
Ooo...Si ibu kantin? Janda lho dia, hahaha
Enak aja, judes kayak gitu
Sungguh, dalam hati Asep ingin berucap yang aku suka ya dirimu, oh Dinda sayang.
Apa mau dikenalin temen-temennya Anto? Mau gak Sep? desak Dinda yang tentu tak tahu dilema hati Asep
Wah, jangan dulu deh, belum lama dapet kerja...Sekarang gua mah milih seneng-seneng dulu, yah kayak sekarang jawab Asep mencoba diplomatis
Owwhh, iiya deh kalo gitu...Mas Jejen aja susah nyari alasan ke sini sekarang, ceweknya rada posesif katanya ujar Dinda Iiya sih emang lebih enak jadi single di pesta ini, gak ada beban hehe
Mendengar kalimat terakhir Dinda barusan, Asep merasa inilah waktunya. Dia ingin mendengar dari mulut Dinda sendiri bagaimana ceritanya dia bisa terseret pesta gila ini. Dan apa yang Dinda pikirkan sehingga dia rela dijamah oleh pria lain seenaknya di belakang pacarnya. Asep sebenarnya tak ingin mengangkat tema berat ini, bisa jadi Dinda enggan menjawab dan suasana jadi tidak enak ditanya seperti itu. Tapi Asep benar-benar ingin tahu, dan dia harus mengambil resiko.
Oke, Asep mengambil keputusan. Dia menarik nafas dan...

TULULULULULUUUT
HP Dinda berdering, menandakan panggilan masuk
Oh, si Anto lagi gumam Dinda melihat layar HP-nya
Haahhhhh... Asep menghela nafas kecewa. Hilang sudah kesempatannya. Sudahlah, mungkin lain kali saja pikirnya. Asep berdiri, hendak meninggalkan Dinda dengan pacarnya di telepon.
Sep, jangan pergi pinta Dinda tiba-tiba, sambil memegang tangan Asep
Lho?
Temenin atuh, sepi di sini hehe
N..Ntar gangguin teleponnya...
Nggak, Asep tinggal duduk aja temenin aku
Bingung, Asep kembali duduk di samping Dinda. Barulah Dinda menerima panggilan pacarnya.
Halo yang, kenapa tadi teh? Gak ada sinyal? Haha, masa di Bandung gak ada sinyal sih
Asep tak bisa berbuat apa-apa selain memandangi wajah Dinda yang tampak begitu ceria mengobrol dengan pacarnya jauh di kota lain.
Segitunya di gunung sampe gak ada sinyal, di sini full lhooo...Apa? Sinyal cinta? Ah gombal!
Antara cemburu dan salah tingkah, Asep hanya bisa garuk-garuk kepala sambil bengong memandang halaman...Hingga dirasakannya sebuah tangan halus mulus menggenggam batangnya.
Eh!? Asep terhenyak ketika menyadari Dinda tiba-tiba mengocok kontolnya dengan pelan. Asep memandang Dinda tapi gadis itu masih terus mengoceh di telepon sambil memandang lurus ke depan, tak melirik ke Asep sedikit pun.

Dikocok tangan halus seorang gadis cantik yang sedang bugil di sebelahnya, kontan senjata Asep langsung mengeras. Dan Dinda terus mengocok kontol Asep dengan cueknya sambil menelepon.
Hm? Aku lagi ngapain? Mmmm...Aku lagi ngocok... sekilas Dinda melirik Asep dengan ekspresi nakal
Iih ngocok adonan atuh, kan kita lagi masak hahaha...Ai kamu jorok wae ih pikirannya Dinda tertawa sambil kembali menatap ke arah Asep sambil memeletkan lidah seolah mengatakan kena deh si Anto aku kibulin.
Asep hanya bisa nyengir, berpura-pura senang jadi bagian permainan Dinda menggoda pacarnya. Dan Asep semakin salah tingkah ketika Dinda dengan santainya bersandar di badan Asep, masih sambil mengocok kontol di satu tangan dan bertelepon ria di tangan lain.
Ya atuh kamu ngocok sendiri we di sana...Gak bisa karena banyak orang? Hahaha, nasib nasib....
Dinda menyandarkan kepalanya yang masih tertutup jilbab di dada Asep. Matanya memandang ke arah kontol Asep yang masih dia kocok , sambil bercengkrama dengan pacarnya di telepon tanpa rasa bersalah.
Ini sebenarnya momen yang Asep bisa nikmati. Duduk berdua jauh dari yang lain, dengan Dinda di dadanya...Tapi tentunya tanpa pacar Dinda di telepon. Kalo gini apa bedanya gua sama bantal buat Dinda, batin Asep.
Kesal hanya dijadikan mainan Dinda untuk menggoda pacarnya, Asep mengambil inisiatif. Tangannya yang dari tadi memeluk pinggang Dinda dengan kikuk sekarang mulai beraksi merayapi tubuh Dinda. Gadis itu perlahan mulai bereaksi, tubuhnya menggelinjang dan mendesah pelan walaupun tidak terlalu kentara buat yang di ujung telepon sana.
Tangan Asep akhirnya bermuara di salah satu payudara Dinda. Perlahan diremasnya bulatan empuk itu dan jari Asep menggesek tonjolan keras di puncak susu Dinda.
Ahhh...Shhhhh! tak ayal Dinda pun mendesah dan mendesis keras menikmati puting susunya yang sedang dirangsang Asep
Hmm? Oh aku kepedesan nih lagi nyobain masakan...Shhhh...Hahhh...Kebanyakan cabe....
Dinda terpejam menahan nikmat ketika Asep semakin giat mempermainkan puting imutnya
Mmmhh? Kayak lagi horny? Ih kamu teh jorok terus pikirannya.... Dinda yang keenakkan semakin meracau, Asep berharap Anto cukup bodoh tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
Suara aku bikin horny? Dasaaarrr...Udah ngocok sana sendiri hhahahahhhhh... bahkan tawa Dinda pun sudah bercampur desahan nikmat

Apa? Minta dibantuin? Ih dasar...Ya iya dehh... tiba-tiba Dinda menghentikan kocokannya di kontol Asep, lalu berdiri melepas tubuhnya dari pelukan Asep.
Ya udah aku ke kamar yaa, gak enak sama yang lain Dinda menoleh ke arah Asep sambil menaruh telunjuk di depan bibir, memberi tanda jangan berisik.
Asep hanya bisa mengangguk walaupun bingung. Sekarang Dinda berlutut di depan Asep, dengan wajah manisnya persis didepan selangkangan Asep.
Aku udah di kamar nih...Aku udah bawa, mmm, timun nih, pura-puranya titit kamu ayang hehehe Dinda menggoda pacarnya sambil kembali mengocok timun Asep di depannya.
Apa? Modal dikit pake dildo? Yee kamu dong yang beliin...Udah nih timunnya lagi aku kocokin...Kamu lagi ngocok di sana juga sayang?
Asep lagi-lagi tak bisa berbuat apa-apa selain hanya bisa memandang Dinda. Yang sekarang memasang ekspresi luar biasa binal.
Hmm? Mau dijilat? Mau dikenyot? Iiya, bentar atuh sayang...Mmmhhh Slurrppp seperti yang dikatakannya, Dinda mulai menjiati dan mengulum timun Asep. Awalnya hanya di ujung lalu perlahan semakin ke pangkal. Asep mulai terbiasa dengan pemandangan kepala berjilbab yang maju mundur di selangkangannya, tapi kali ini ditambah sambil menelepon. Ada-ada saja pengalaman baru Asep dalam dua hari ini.
Sementara suara seruputan dan decakan mulut Dinda sengaja dikeraskan gadis itu agar terdengar di telepon.
Slurrpppshhhtttt...Slurrpppppp..Cleppakk-cleppaakk liur Dinda terus mengalir deras membasahi timun enak di mulut mungilnya
Enwk nywpngnnn kwnttll kmmu ywwnggg Dinda semakin menggoda pacarnya dengan menggumam tak jelas dengan mulutnya yang dipenuhi kon ups, timun.

Setelah beberapa menit akhirnya Puahh! Dinda melepas timun sakti Asep dari mulutnya Gimana sayang? Enak ngebayangin aku nyepong timun? Hehe iyah aku juga ngebayangin nyepong kontol beneran
Situasi absurd tapi menggairahkan ini benar-benar baru buat Asep. Hati Asep merasa tidak enak pada Anto. Dia pikir, bagaimana rasanya kalau dia di posisi Anto sekarang. Tapi tak bisa dipungkiri, permainan ini begitu nikmat dan membangkitkan birahi. Kepala Asep sudah mumet dan tidak kuat berpikir lagi. Pikirnya, toh Dinda ini yang mulai; mending bantuin aja sebagai teman yang baik.
Mmm? Apaan sih? Masukin timunnya ke memek aku? Iih nakal ah kamu mah!
Gulp. Asep menelan ludah. Dia tahu yang akan terjadi. Dinda memandang Asep sambil tersenyum binal, seakan memberi kode. Asep hanya bisa mengangguk dan nyengir terpaksa.
Ya udaaah...Aku juga udah basah nih, banjir gini...Masukin yah... Dinda berdiri dan membelakangi Asep. Bersiap untuk menduduki pangkuan Asep.
Hmmhh? Segede apaahh? Gedean dikit dari punya kamu sayaaang...Cemburu yahh sama timun? ucapan Dinda semakin lama semakin binal dan manja. Asep membatin apa memang biasa seperti ini gaya pacaran Dinda-Anto atau karena Dinda sedang terbawa suasana pesta gila ini.
Udah digesek di bibir nih ujung timunnyaahhh...Masukin gak nih yang? Kamu juga kan suka godain aku digesek terus gak dimasuk-masukinnnhhhhh...
Mendengar langsung detil kebiasaan bercinta mereka sudah pasti Asep cemburu, tapi dia bersikap cool saja. Walaupun sekarang Anto yang digoda Dinda dan Asep hanyalah sebuah timun, faktanya kontol Asep lah yang sekarang menggesek bibir memek Dinda sekarang, bukan Anto.
Sori bro, tapi kontol gua yang di bibir memek cewek lo sekarang, pikir Asep. Biarlah saat ini dia hanya dianggap sekedar jadi timun buat mereka.

BLESH! kepala kontol Asep yang seperti jamur mulai masuk membelah memek Dinda. Membuat gadis berkerudung itu mendesah nikmat, seerotis mungkin untuk menggoda pacarnya nun jauh di sana.
Nnngggahhh...Udah masuk yangggg...Iiyah ujungnyaahhh...Masukin semua yahhh?
ZLEBB! kontol Asep semakin masuk ke dalam lubang senggama Dinda. Tidak seperti biasanya memek Dinda terasa lebih basah dan mencengkram, mungkin gadis itu sudah horny berat pikir Asep.
Ahh mentok nihh yanghhh...Mentok di memek akuu...Mau di gerakin? Yakiiinnn? Heheheee... goda Dinda setelah kontol Asep menerobos seluruhnya. Asep si pemilik timun sangat jelas mendengar godaan Dinda yang menggairahkan itu sambil disuguhi pemandangan punggung mulus dan pantat sekal Dinda di depannya.
Mau cepet apa lambat? Barengin yah tempo ngocoknyahhh... dengan nakal Dinda meliukkan pinggulnya sehingga tubuhnya terangkat. Setelah setengah kontol Asep tercabut, Dinda menurunkan tubuhnya lagi, dengan liukan pinggul yang sungguh binal. Asep merasakan persetubuhan ini begitu nikmat, rayuan nakal Dinda walapun bukan ditujukan untuk dirinya, desahan Dinda yang begitu erotis, dan cengkraman memek Dinda yang lain dari biasanya. Mungkin saat ini Asep adalah timun paling bahagia di dunia.

Goyangan tubuh Dinda di atas pangkuan Asep semakin lama semakin cepat.
Nih yang aku cepetin nihhh...Ahh mamah enak banget dientotin kamu yaaanggg
Dengan nakal Dinda mengarahkan HPnya ke arah selangkangannya tempat timun Asep menghujam kemaluannya. Suara gesekan kontol dengan cairan memek Dinda yang sudah membanjir tentu terdengar jelas lewat telepon sekalipun.
Kedengeran gak yanghh? Iiya itu suara memek aku dijebol kontol kamuhhh...Ahhh...Appaahh? Susu? Iiya yangh, aku pengen kamu ngremes susu aku, nyubitin pentil akuuu tangan Dinda mengarahkan tangan Asep ke dadanya. Dengan sigap Asep kembali meremas kedua payudara Dinda dan mempermainkan putingnya.
Ahhh enak banget tangan kamu di pentil aku yanghhh...Hmmhhh...Bisa nyampe akuhhh...Urgghhh
Gerakan tubuh Dinda semakin cepat, Asep bisa melihat punggung gadis itu berkilat oleh keringat walaupun mereka sedang di teras luar larut malam.
Apa yanghh? Kamu mau keluaaar? Barengin yaaa, aku juga bentar lagiihhh...Nih aku cepetiiinn! sesuai ucapannya Dinda memompa tubuhnya dengan ritme lebih cepat dan tusukan pendek seperti mesin jahit.
Appaahh? Keluarin di dalemm? Sok ajahh atuhh...Crot di memek akuhh...Ntar aku hamil lhoo...Gak papa? Iyahhh kalo aku hamil nanti aku jadi semok, jadi empuk dipegangnyah, susu aku tambah gede, bisa disedottt keluar susuuu...Ahh bentar lagi yanghhhh!
Racauan Dinda tadi untuk Anto, tapi Asep tak peduli. Lebih baik buatnya untuk menganggap rayuan Dinda tadi adalah untuk dirinya. Jadi Asep akan memberi Dinda hadiah di rahimnya. Servis tambahan dari sang timun.

Ahhh ahhh ahhhh yangh aku mau nyampeee...Ahhhhh...Oohhhh! Dinda memekik dan memekik lagi ketika orgasmenya dan semburan peju Asep di lubang kelaminnya datang susul menyusul. Membuat orgasme yang dinikmati gadis berjilbab itu berlipat ganda.
Asep yang juga merasa nikmat luar biasa mengerang tertahan agar tidak sampai terdengar dan dicurigai Anto saat ejakulasi.
Ghhhrghhhh..... Asep mencoba menahan suaranya
Hahhh...hahhh... Dinda terduduk lemas di pangkuan Asep, sesekali tubuh rampingnya tersentak-sentak saat sisa-sisa orgasme menderanya.
Dengan lemas Dinda menaruh kembali HP di telinganya.
Haloo Yang...Kamu teh maasih di situ? Iiya aku keluar tadiii...Enak banget sumpaahhhh...Apahh? Aku keras banget jeritnyaahhh? Mmmh abis enak banget yanghhh...
Dinda menghela nafas sebelum melanjutkan phone sex-nya
Hmm? Kamu juga keluar? Banyak banget gak yanghh? Uwhhh, bersihin ah, ntar bau peju kamarnya hehehe...Aku juga penuh banget nih sama yang kentel-kentel anget...
Apa? Yee nggak lah yang, aku ngebayangin pejuh kamu menuhin memek akuuhhh...Masa timun bisa ngecret sih, dasar Antohod! Dinda menoleh ke arah Asep dan kembali memberi tanda sssst dengan telunjuk di depan bibirnya sambil tersenyum. Asep hanya bisa membalas dengan senyum lemah.

PLOPP! Dinda berdiri sehingga kontol Asep yang sudah lemas keluar dari memeknya yang dipenuhi berbagai cairan.
Udah ah yangh bersihin itu pejuhnyaa...Aku juga mau bebersih nih memek...Iih udah ah aku mau bobo, besok sore kan pulang jadi besok biar full aku gak mau bangun terlalu siang. Ya udah yah...
Asep menyusul berdiri dan merenggangkan badannya yang walaupun dari tadi hanya duduk terasa lelah.
Iiya, tidur sana atuh, hehe love you...Mmuach! Dinda menutup telepon
Setelah itu tiba-tiba Dinda tertawa terpingkal-pingkal, membuat Asep bingung
Ahahahahahahhhhh...Ampun deh gak ngeh dia aku kibulin hahahahahaha! Dinda mengekspresikan tawanya dengan memukul-mukul tangan Asep yang hanya diam mematung. Jadi memang tadi Asep hanyalah alat dari permainan Dinda, tak ada bedanya dengan vibrator Reza yang sekarang sedang mengaduk-aduk lubang Eci. Tapi yah masih mending daripada jadi Anto yang jadi korbannya.
Euhhh tadi maaf ya crot di dalem gak bilang-bilang...
Hmm? Gak papa kali, malah enak banget jadinya tadi...Ah makasih yah Sep udah bantuin ngegombalin si Anto hehehe
Oooh, gak masalah. Kalo cuman jadi timun mah gampang atuh ujar Asep dengan senyum dipaksa
Hahah iiya makasih timunnya ya Sep, mending itu daripada vibratornya si Reza. Kapan-kapan aku pinjam lagi ya hihi..
Owh boleh boleh kapan aja, tinggal bilang tukas Asep dengan cool padahal dalam hati dia berkata ya jadi cewek gua aja atuh biar bisa make nih timun tiap hari.
Udah ah aku mau tidur, biar besok bangun pagi dan full seneng-senengnya! Daah Sep!
Dinda pun berjalan ke arah pintu dengan santai meninggalkan Asep sendirian. Cukup lama Asep termenung di sana, memikirkan kegilaan barusan. Tadi sore dia tidak bisa menjawab pertanyaan Dita, tentang apa pandangan Asep terhadap kebinalan Dinda. Sekarang, Asep masih belum bisa menemukan jawabannya. Malah semakin bingung.

Mumet, akhirnya Asep menyusul masuk ke dalam. Di sana, hukuman buat Eci masih berlanjut. Gadis mungil itu terus menggelinjang hebat dengan berbagai mesin menempel di tubuhnya. Sementara Irma sekarang sedang digarap Jejen, yang keduanya terus menggoda Eci yang birahinya sudah titik kritis tapi tak bisa mendapat kontol asli dan harus puas dengan mesin. Reza sudah tepar di karpet, sedangkan Ari masih memegang kendali dari alat-alat di tubuh Eci. Asep melihat wajah Eci belepotan air mani. Entah punya siapa saja, mungkin milik tiga orang tadi karena sewaktu lomba tebak kontol mereka memang belum sempat keluar. Dan sekarang dengan tega semuanya ditumpahkan di wajah Eci yang tak berdaya.
Dita menonton itu semua dari sofa agak jauh dari yang lain, dan begitu melihat Asep masuk, Dita langsung menghampirinya.
Mas Asep selamat yaa sambut Dita setengah berbisik
Maksudnya apa mbak?
Tadi dapet momen berdua sama Dinda akhirnya
Owh...Dinda cerita mbak?
Tadi dia lewat sini terus bilang ke aku, katanya pejuh Mas Asep banyak banget sampe ngalir keluar dari memek dia jelas Dita
Hehe, yah gitulah mbak, lumayan
Iih jangan cengengesan aja Mas Asep, ceritain gimana
Yaahhhh...Sebenernya sih bisa jadi momen indah mbak. Cuman sayangnya...
Kenapa?
Sayah cuman kebagian jadi timun
Hah? Timun?

Asep berlalu ke arah kamar meninggalkan Dita yang melongo.

Bersambung

#8 Cioe_pek_tong

Cioe_pek_tong

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 16 posts

Posted 24 January 2017 - 09:31 PM

Chapter 9: Minggu Pagi Di Kamar Mandi

Hoaahhhm...
Asep menguap, lalu mengucek mata melihat jam di layar HPnya. Berbeda dengan malam sabtu, tadi malam Asep tidak tidur terlalu larut. Dia juga tidak terkuras tenaganya, hanya ejakulasi satu kali di memek Dinda tadi malam. Dan dia tidur dengan nyaman di kasur empuk dengan selimut hangat. Sehingga pagi-pagi pun dia bisa bangun dengan badan segar.
Hanya mengenakan celana pendek Asep keluar dari kamar. Dilihatnya ruang tengah tampak kosong. Kemarin Asep bangun di tengah tubuh-tubuh telanjang yang bergelimpangan di sana. Bahkan Eci masih ada kontol Reza tertancap di lubang senggamanya. Sekarang, ruangan itu tampak kosong dan bersih. Selain Reza dan Ari yang masih mendengkur berselimut sarung di dua sofa ruang tengah.
Hmm, serasa acara nginep yang biasa kalo gini suasananya mah gumam Asep

Tentu suasana itu tak bertahan lama. Saat Asep berjalan ke arah dapur untuk mengambil minum, terdengar suara erangan dan desahan wanita. Dari suaranya, Asep bisa menebak siapa pemilik suara itu. Tebakan Asep benar. Tampak Eci bertumpu di meja makan (di sana dapur merangkap ruang makan), sementara Jejen menggenjot memek Eci dengan brutal dari belakang. Persis seperti waktu Dita disodomi Jejen kemarin pagi.
Ouhhh...Ahhh...Mas Jejeeeennn yang kenceeeng! Eci meracau dan mendesah-desah nikmat.
Jejen tidak menjawab, nafasnya tampak terengah-engah. Keringat mengucur deras di dahinya. Eci juga sama, tubuh mungil tapi semok gadis itu tampak mengkilat oleh keringat, dan jilbabnya pun tampak lepek dan basah. Gilanya lagi, wajah Eci dipenuhi sesuatu yang seperti kerak-kerak dari air mani yang mengering. Jadi tadi malam, Eci tertidur begitu saja dengan sperma membanjiri wajah dan jilbabnya. Dan sekarang dia lebih memilih langsung ngentot daripada cuci muka dulu. Asep hanya bisa geleng-geleng kepala.
Tak mau menarik perhatian mereka, Asep mencoba mengambil air secara diam-diam tapi Jejen keburu melihatnya.
Sep, urang geus nyieun jamu tuh jang maraneh! serunya sambil menunjuk ke meja dapur dengan dagunya. Asep melihat tiga gelas berisi cairan yang selalu disiapkan Jejen untuk mereka, dengan satu gelas jatah Jejen sendiri yang sudah kosong. Jadi Jejen yang bangun paling pagi untuk membuat jamu, sehingga bisa disergap oleh Eci, Asep mencoba merunut kejadian. Tanpa banyak bicara Asep meminumnya sampai habis, tapi dia merasa ada sesuatu yang aneh.
Perasaan pekat banget ini Jen?
Heu-euh, dobel dosis soalna, fiuuhhhh! jawab Jejen sambil mengelap keringat di dahinya dan terus menggenjot Eci.
Hah? Dobel dosis? Kan gak nyampe malem hari ini mah?
Perintah si Mbak Eci yeuh, ntar dijelasin cenah Jejen menunjuk gadis mungil bugil yang tersentak-sentak di depannya.
Asep tidak bertanya lagi, dia hendak pergi dari sana ketika didengarnya perintah aneh dari Eci.

Mas Jejennnn nyalainnnnhhh!
Okehhhh!
Jejen pun memencet layar HP yang dari tadi dipegang tangan kirinya. Dan suara BZZTTTT pun terdengar berbarengan dengan jeritan liar Eci.
Ahhhhh! Serassa di tusuk depan belakangggghhhh! racau Eci
Ternyata masih ada satu vibrator yang masih bersarang di anus Eci. Dan Jejen menyalakannya saat kontolnya sedang berada di dalam memek Eci. Jadi bukan hanya Eci saja yang merasakan sensasi DP, getaran dinding anus Eci pun menjalar ke memek, memberi efek getar ke kontol Jejen yang bercokol di dalamnya. Jejen nampak merem melek menikmati sensasi barunya.
Ahhh, anjrit! Sep, cobaan siah! Ngeunah pisan euy! ajaknya sambil cengengesan
Asep menolak secara halus Gua mau mandi dulu ah, badan serasa lengket nih
Melewati kamar mandi, terlihat olehnya kamar mandi itu masih kosong. Asep lalu mengambil handuknya di kamar tapi sial, ketika kembali pintu kamar mandi tertutup, menandakan ada orang di dalam.
TOK TOK
Siapa di dalem?
Gue, Ari jawab suara di dalam
Ngapain lu? Gua mau mandi juga ah
Lagi boker Sep, mules nih
Cepetan oy, nanggung nih udah bawa anduk
Yah, masih lama nih, baru aja mulai. Di kamar mandi yang lain aja!
Asep menggerutu, tapi tak ada gunanya berdebat. Asep pun meninggalkan tempat itu sambil berpikir hendak mengambil kamar mandi yang mana. Di lantai atas ada kamar mandi, tapi Asep malas naik tangga. Hingga Asep akhirnya ingat di kamar utama tempat para cewek biasanya tidur punya kamar mandi sendiri. Di sana aja ah, siapa tau ada Dinda di sana hehe pikir Asep

TOK TOK
Asep mengetuk pintu, disambut suara Yaa bentar! dari balik pintu
CKLEK
Asep tertegun. Di depannya, Dita membukakan pintu. Gadis itu mengenakan piyama yang sama dengan kemarin sore waktu mereka ngobrol. Tapi bedanya gadis itu tidak mengenakan jilbab sekarang. Asep bisa melihat rambut hitam sebahu Dita yang sedang dia sisir. Beda dengan Asep, Dita tampak cuek saja.
Ada apa Mas Asep?
Umm, anu, mau numpang mandi...S-si Ari lagi make yang deket dapur Asep yang masih terpana juga gugup karena hanya bercelana kolor. Dia merasa tidak enak hati di depan Dita yang tampak manis dan rapi.
Oh sok aja, jangan malu-malu
I-iya, makasih Mbak untungnya Dita tak bertanya kenapa Asep tak memakai yang di lantai atas
Gak usah sungkan-sungkan, cuman ada aku kok. Dinda sama Irma lagi belanja di pasar dulu jelas Dita yang membuat Asep sedikit kecewa. Tapi tak apalah, toh itu bukan tujuan utamanya.
Asep mengikuti Dita masuk ke dalam kamar sambil mencuri-curi pandang ke arah Dita. Dengan potongan rambut seperti itu Dita tampak begitu muda, begitu polos. Apalagi dengan piyama imut yang dia kenakan. Tinggal ditambah memeluk boneka beruang cocok deh imejnya.
Mas Asep bisa kan nyalain showernya? tanya Dita begitu mereka sampai di depan kamar mandi
Hmm? A-ah bisa dong Asep mencoba mengalihkan matanya dari leher Dita yang begitu putih dan mengundang untuk dicupang.
Yakin? Ya udah yaa...Panggil aku aja kalo ada apa-apa, aku gak akan ke mana-mana kok hehe...
Gak mau ikut Mbak Eci sama si Jejen di dapur?
Ogah ah, si Mpok suka rewel kalo lagi gila kontol kayak gitu
Mendengar kalimat vulgar dari wajah polos seperti itu, Asep hanya nyengir dan mengangguk ramah sambil menutup pintu, tapi tiba-tiba ditahan Dita
Oh iiya! Mas Asep belum cerita yang tadi malam! Soal timun itu lho! seru Dita dengan mata berbinar
Asep sebisa mungkin mencoba menolak antusiasme Dita dengan halus.
Aduh maaf ya Mbak, nanti aja deh, saya janji ceritain nanti ya, suwer! cengir Asep membuat tanda V dengan dua jari, himgga akhirnya dia berhasil menutup pintu meninggalkan Dita yang cemberut manyun.
Okee, tapi janji yaa! seru Dita dari balik pintu yang dibalas Iyaa! oleh Asep.

Terdengar langkah Dita menjauh dari pintu dan Asep bersyukur Dita tidak berdiam di sana karena...Asep tidak tahu caranya mengunci pintu kamar mandi dari dalam.
Ah sial Asep menggaruk-garuk kepalanya Ini gimana nguncinya?
Setelah beberapa lama, Asep pun menyerah. Dibiarkannya pintu tak terkunci. Biarlah, toh cuman ada Dita di luar. Asep pun mencopot celana pendeknya dan menggantungkannya bersama handuk.
Tapi masalah Asep tak berhenti sampai di situ. Seperti yang dia khawatirkan, kamar mandi di dalam kamar utama itu adalah tipe modern. Dengan bathtub, bilik shower, toilet duduk dan wastafel bercermin besar. Tak nampak bak atau ember berisi air dan gayung. Inilah kenapa Asep lebih memilih kamar mandi dekat dapur yang tradisional, yang lebih cocok buat orang kampung seperti dirinya.
Dan celakanya, sistem di kamar mandi itu adalah sistem canggih yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Pantas tadi Dita meragukan kemampuan Asep menyalakan shower.
Mana ini kerannya...Gimana nyalainnya Asep garuk-garuk kepala sambil menggumam frustrasi.
Tak terasa beberapa menit telah berlalu dan Asep masih frustrasi hingga akhirnya...

CKLEK!
Pintu kamar mandi terbuka. Tampak kepala Dita terjulur sambil tersenyum mengejek di pintu.
Mas Asep kok belum mulai? Gak bisa ya nyalain showernya?
A-ah bisa kok, cuman belum mulai aja...
Hmm? Emang lagi ngapain dulu? Luluran? Maskeran? Nyukur jembut? Ngunci pintu aja gak bisa kan hahaha
Asep mati kutu, tapi sebelum dia bisa merespon, Dita sudah melangkah masuk. Gadis itu hanya mengenakan handuk yang dililitkan di tubuhnya. Dan segera dilepas memperlihatkan tubuh telanjang putih mulus Dita yang sudah familiar buat Asep, kecuali dari leher ke atas.
Jangan marah Mas Asep, hehe...Sini aku tunjukkin, sekalian kita mandi bareng aja yuks ujar Dita sambil menggantungkan handuknya dengan cuek.
Mandi...Bareng...Sama...Mbak? Asep tertegun melihat pemandangan indah di depannya.
Hmm? Emang kenapa? Mas Asep kayak gak pernah ngeliat aku bugil aja tanya Dita, mata sipitnya memandang Asep dengan pandangan heran, sebelum gadis itu sadar.
Oh iiya! Mas Asep belom pernah liat aku gak pake kerudung ya? Biasa aja kalee... Dita tersenyum nakal sambil memainkan ujung rambutnya.
Kayak artis Korea Mbak... Asep memuji
Masa? Banyak yang bilang aku kayak artis bokep Jepang loh, apalagi kalo bugil gini haha...
Mendengar kata banyak, Asep langsung teringat cerita Dita kemarin mengenai masa lalu kelamnya, digilir sana-sini satu kampus. Tapi anehnya gadis itu tampak ringan mengatakan kalimat barusan.
Cape deh aku terus ditanyain situ warga keturunan ya, panlok ya padahal aku asli Jakarta lho Dita mencerocos, setengah curhat, dan Asep hanya bisa manggut-manggut.

Hingga akhirnya Dita diam dan memandang selangkangan Asep. Mengikuti Dita, Asep melihat ke bawah. Dia baru sadar kontolnya sudah mengacung tegak perkasa.
Ehh, udah ngaceng aja Mas Asep? sindir Dita
Ya wajarlah hehehe...
Udah minum jamunya Mas Jejen?
Udah
Dita mendekati Asep, memepetkan tubuhnya sehingga salah satu payudara empuknya menempel di dada berbulu Asep.
Mas Asep mau mandi dulu apa...ngentot dulu? tanya Dita nakal sambil mengocok kontol Asep pelan.
M-mandi dulu aja deh Mbak, kotor pastinya, keringetan... jawab Asep sambil menelan ludah
Tapi aku lebih suka kalo masih bau cowok...Kontol yang udah disabunin suka gak ada rasanya
Gila, nih cewek super binal, pikir Asep. Berbanding terbalik dengan tampangnya yang innocent.
Ya udah aku sepong dulu aja yaah Dita mengambil keputusan sepihak Mas Asep duduk di situ
Sesuai perintah Asep duduk di atas toilet. Tutup toilet duduk dari marmer itu terasa dingin di pantat Asep. Dita meminta Asep mengangkangkan kakinya, dan gadis itu lalu jongkok di depan selangkangan Asep.
SLURP! Dita mulai menjilati batang Asep sambil memandang binal ke atas.
Emmhh...Slurrrpp...Baunyah...Kuat bangethhh...Slurrpphhh...Bikin pusinghhh... desah Dita
Hap! Bibir tipis Dita lalu mencaplok kontol Asep sepenuhnya, menyesaki mulut mungil gadis bermata sipit itu. Sesekali matanya memandang binal ke arah Asep, membuat si pemilik kontol semakin panas-dingin.
Slllrrpp..Crroppp..Shhhhtrrpppp...Prrrtttttt! suara kuluman dan sedotan Dinda bergema di kamar mandi itu. Asep kelojotan menikmatinya dan tanpa sadar tangannya sudah berada di kepala Dita. Saking nikmatnya, Asep mengekspresikannya dengan mengacak-acak rambut Dita. Tapi Dita sendiri tidak merasakan. Dengan lahap disedotnya terus kontol Asep, semakin lama semakin cepat membuat suara khas blowjob semakin keras bergema di kamar mandi. Gerakan kepala Dita begitu cepat hingga payudara empuknya terayun-ayun indah.

Argghhhh...Mbak Dita! Asep menggeram nikmat, dirasakannya kepala kontolnya menyentuh dinding lunak tenggorokan Dita. Mungkin Asep tak tahu istilah deepthroat, tapi dia sedang merasakannya sekarang.
Aaahhh udah Mbakk! Saya mau muncrat...Nanti keselekk! Asep semakin gelagapan.
Tapi mengindahkan peringatan Asep, Dita tidak melepas sedotannya. Malah semakin agresif sehingga Asep tak punya pilihan lain.
CROTTT!
Tubuh Asep gemetar dan tersentak-sentak saat kontolnya menembakkan air mani dalam jumlah banyak.
Mmmmmpprrhhh Dita mengerang tertahan sambil melotot ketika Asep ejakulasi di mulutnya. Tapi kontol Asep masih dipertahankan di mulutnya, tak peduli dengan si pemilik kontol yang kelojotan ngilu-ngilu nikmat. Setelah pistol Asep kehabisan amunisi barulah, Dita melepas batang daging dari mulutnya.
Puahhh! Uhuk uhuk! Dita terengah-engah dan terbatuk-batuk kecil
Hahhh...Hahhhh tuh kan Mbak keselek kan! ujar Asep yang juga terengah-engah.
Tapi Dita mengangkat tangannya memberi isyarat tidak apa-apa, lalu gadis itu menengadah sambil terpejam, sebelah tangannya memegang lehernya lalu CEGLUK! Asep melihat Dita menelan sesuatu.
Dan apalagi kalo bukan pejunya Asep? Melihatnya Asep terpana dan menelan ludah.
Gila banyak banget ihh Mas Asep ujar Dita santai sambil mengelap bibirnya dengan tangan
Ampir aja gak ketelen semua sambungnya
Y-ya namanya juga yang pertama di hari ini Mbak, terus si Jejen ngasih jamu dosis dobel pula
Wah, pantesan itu masih ngaceng tunjuk Dita
Asep memandang ke bawah. Tak mungkin, pikirnya. Batangnya masih mengeras perkasa, padahal sudah muntah dalam jumlah banyak tadi.

Yuk, udah pulih lagi kan? Dita berdiri, diikuti Asep Mas Asep pasti belum pernah nyobain yang ini deh
Dita melangkah mendekati wastafel. Gadis itu berkumur sebentar lalu memeluk Asep dan mulai mencium bibirnya. Asep menyambutnya dengan hangat, dan sempat turun untuk menciumi leher Dita yang baru bisa dia akses sekarang. Dita mendesah manja, tapi sebelum percumbuan itu semakin panas, Dita melepas pelukannya.
Emang kita mau ngapain sih Mbak? tanya Asep yang bingung
Dita hanya tersenyum, lalu membalikkan tubuhnya menghadap ke cermin. Dia lalu memegang pinggiran wastafel, dan membungkukkan tubuhnya sehingga posisinya siap disodok dari belakang. Asep paham maksud Dita, bercinta di depan cermin!
Nah Mas Asep bisa ngeliat ekspresi aku pas lagi disodok dan...Ih kok rambut aku jadi kusut gini Dita baru sadar rambutnya acak-acakan ketika melihat cermin.
Aduh maaf Mbak, tadi gak sadar ngacakin rambutnya Mbak, abis enak banget hehe Asep cengar-cengir.
Yah gak papalah, ntar juga mau mandi...Ayo Mas Asep, mulai aja
Asep mengangguk, lalu memposisikan dirinya di belakang pantat Dita. Asep bisa melihat bayangan dirinya di cermin, juga Dita dengan bukit susunya yang tergantung bebas dengan indah. Melihat pantat putih Dita, Asep jadi iseng.
PLAK!
Awhh! Mas Asep iih! Asep bisa melihat ekspresi kaget Dita di cermin
Hehe, sori Mbak, buat pemanasan aja. Sekarang beneran yaa Asep cengar-cengir
Walaupun belum distimulasi, memek Dita sudah sangat banjir. Tanpa bisa kesulitan, kontol Asep sudah melesak ke dalam lubang nikmat Dita. Kedutan dan cengkraman khas memek Dita dirasakan Asep, menggelitik syaraf-syaraf super sensitif di kulit kontolnya.
Ahhhhh... Dita mendesah pelan, dan Asep bisa melihat ekspresi gadis itu dengan bibir setengah terbuka, mata setengah terpejam dan alis tipisnya terangkat menyiratkan kenikmatan.

Memulai genjotannya, Asep bisa melihat perubahan ekspresi Dita. Kadang dia menggigit bibir, kadang bibirnya membentuk huruf O, kadang bibirnya dikatupkan seperti menahan sesuatu. Tapi seringnya sih dibiarkan terbuka atau setengah terbuka untuk mengeluarkan desahan dan lenguhan nikmat. Sementara mata Dita kadang terpejam, kadang melotot, kadang sayu, kadang mendelik kanan-kiri atas-bawah. Dipadukan gerakan alis tipisnya, Asep bisa melihat lebih banyak ekspresi Dita saat ini daripada selama tiga bulan bekerja dengan Dita.
Di kantor, gadis itu pendiam dan jarang berinteraksi dengan bagian lain kalau tidak perlu. Di kantor, Dita biasanya baru bisa tertawa lepas bila bersama Irma sahabatnya. Siapa sangka, Dita ternyata lebih ekspresif saat merasakan nikmatnya disenggamai pria.
Mas Asephh gak dikerasin ngegenjotnyahhhh? tanya Dita sambil menengok ke belakang
Yakin Mbak?
Mas Asephh gak mau liat tampang aku kalo lagi digenjot kasaaarhhh? Atau ngeliat susu akuhh goyang-goyangh lebih kencenghh?
Wah iya yah, boleh juga tuh! Asep mengangguk setuju
Ouuwwhhh! Dita melenguh keras ketika Asep mulai menghujamkan kontolnya dengan keras.
Terlihat di cermin wajah Dita menegang dengan mulut menganga dan mata membelalak. Asep mulai menggenjot tubuh Dita dengan buas, sampai-sampai terdengar suara seperti tamparan saat pantat mulus Dita beradu dengan tubuh Asep di belakangnya. Asep bisa melihat ekspresi lain sekarang, dilihatnya gadis itu sesekali meringis atau matanya terpejam rapat. Ekspresi kenikmatan Dita semakin intens seiring lenguhan dan erangannya, yang bergema di kamar mandi itu.
Seperti yang dibilang Dita, payudara putih mulus nan menggemaskan miliknya terayun-ayun dengan liar seiring genjotan Asep. Tak tahan, Asep mengulurkan tangannnya untuk meremas pabrik susu Dita yang kenyal seperti jelly, membuat gadis itu semakin mengerang nikmat. Sebelum akhirnya memekik keras dan menggelinjang menikmati puncak kenikmatannya, walau Asep dengan tega terus meyodoknya tanpa ampun.

Entah berapa lama, Asep seperti terhipnotis memompa memek Dita sambil terus menatap pemandangan erotis di cermin. Empotan khas memek Dita seperti tidak dipedulikannya. Dita sendiri juga menikmati bayangan dirinya yang dimabuk birahi di cermin. Sudah dua kali tadi dia melihat dirinya orgasme di depan cermin. Rambutnya semakin acak-acakan karena lepek oleh keringat, tampangnya semakin kusut, dan bahkan dia tidak bisa menahan liurnya mengalir dari mulutnya yang selalu terbuka karena tak henti mengerang. Tapi anehnya Dita merasa dirinya sangat seksi saat ini.
Sementara Asep sudah di ujung pertahanannya. Sesaat lagi tanggulnya jebol.
Mbaakkkk...M-mau muncrattthhh!
Barenginhhh...Di dalem Mas Asephhh! Dita memberi perintah di antara lenguhan dan rintihannya
Ahhhhh....Keluarr! Asep menggeram
Aaaaahhhh! Dita memekik nyaring
CROT! CROT! CROT! Baik Dita dan Asep kelojotan menikmati orgasme berbarengan mereka. Kedua insan itu terdiam beberapa saat lamanya.
Setelah rasa itu reda, hanya terdengar nafas ngos-ngosan di ruangan itu. Asep hendak mencabut kontolnya ketika dia merasakan sesuatu yang aneh.
Hahh..Hahh..Mas Asep kok masih keras sih di dalem? tanya Dita
Wah, si Jejen kebangetan bikin dosisnya kalo kayak gini Asep garuk-garuk kepala
Padahal tadi banyak banget keluarnyaa...Mau lanjut lagi?
Asep menggeleng, lalu dicabutnya tombak saktinya dari memek Dita yang dipenuhi berbagai cairan.
Kita mandi aja deh Mbak, keringetan gini saran Asep
Lah itu gimana? Dita menunjuk kontol Asep yang masih mengacung
Biarin aja lah sahut Asep

Mereka lalu masuk ke bilik shower. Dita menjelaskan cara mengoperasikan shower ke Asep yang hanya bisa melongo.
Kakak iparnya si Irma distributor peralatan rumah tangga high-end kayak gini Mas Asep, makanya bisa dipasang di sini jelas Dita
Oooh gitu, tapi kalo saya mah lebih milih ember sama gayung ajah ujar Asep polos yang membuat Dita tertawa.
Aliran air shower hangat segera membasahi tubuh mereka. Tubuh Dita yang begitu putih tampak berkilau di bawah sinar lampu, ditambah tetesan-tetesan air di tubuh telanjangnya.
Nah Mas Asep, kita lanjutin obrolan yang kemaren yuk Dita membuka suara
Lah masa pas lagi mandi gini?
Justru katanya kalo orang lagi telanjang dia gak akan nyimpen rahasia jelas Dita
Walau tak masuk logika di Asep, dia hanya mengangguk saja.
Tapiiii Mas Asep cerita dulu dong soal timun kemarin, aku gak sempet nanya Dinda
Didesak seperti itu mau tak mau Asep menceritakan kejadian semalam. Dita tertawa-tawa mendengarnya hingga payudaranya pun bergerak riang.
Hahahahahhh...Parah banget ihh Dinda
Iyah, kasian sayah sama si Anto
Loh? Bukannya Anto saingannya Mas Asep?
Wah, sayah gak mungkin merebut hati Dinda dari Anto, Mbak
Lah, kalau Mas Asep udah nerima kenyataan gak bakal bisa dapetin Dinda, terus Mas Asep selama ini galaunya kenapa? tanya Dita sambil menatap tajam mata Asep.

Asep terdiam. Iya juga ya, pikirnya. Menunggu Asep memberi jawaban, Dita mematikan shower, mengambil sabun cair dan membuat busa di tangannya. Lalu dia mulai menyabuni tubuh Asep, membuat pria itu terhenyak.
Ayo, dipikir Mas Asep, fokus di inti masalahnya saran Dita sambil menyabuni Asep dengan santai
Asep melanjutkan berpikir, walaupun tangan Dita sesekali menyentuh bagian tubuh yang membuatnya geli, atau ketika kontolnya yang masih tegak perkasa iseng dikocok tangan bersabun Dita.
Saya.. Asep membuka suara Sayah gak tau nih perasaan saya sama dia itu wujudnya apa
Balik badan Mas Asep perintah Dita cuek, yang lalu menyabuni punggung Asep Truss?
Rasanya aneh deh Mbak, saya udah ngeliat sisi liarnya Dinda, yang tega maen gila sama banyak cowok di belakang pacarnya tapi kok saya gak jadi kecewa atau ilfil gitu Mbak
Jadi apa yang dirasain Mas Asep setelah ngeliat Dinda sekarang? Dita mengulangi pertanyaan kemarin sore.
Asep menggeleng Bingung saya Mbak, makanya saya gak bisa jawab kemarin. Mungkin saya butuh waktu
Asep berbalik ketika dirasakan tangan Dita tak lagi menyabuninya. Dita menunjuk ke arah sabun cair. Asep mengerti, segera disapukannya busa lembut itu ke tubuh Dita yang basah.
Ini adalah sesi curhat teraneh yang pernah dialami Asep. Curhat ke seorang cewek sambil mandi bareng, membicarakan cewek lain. Agak memecah konsentrasi juga sih, apalagi ketika tangan Asep sampai di payudara Dita. Dengan permukaan licin karena sabun, dua benda kenyal itu makin serasa jelly. Dita membiarkan Asep bermain-main dengan payudara dan putingnya sebelum buka suara.
Mas Asep gak butuh waktu. Kalo Mas Asep gak bisa jawab pertanyaan itu, mending Mas Asep menuhin apa yang diharepin Dinda dari Mas Asep
Emang Mbak Dita tau? tanya Asep ragu

Dita menarik nafas Kita masukin Mas Asep ke sini atas kesepakatan bersama, termasuk Dinda. Berarti Dinda percaya sama Mas Asep. Dinda percaya Mas Asep bisa menjaga rahasia dia dan kita semua. Dinda berani ngeliatin sisi rahasianya karena dia percaya sama Mas Asep
Jadi saya harus membayar kepercayaannya Dinda dengan menjadi member grup yang baik yah Mbak? tanya Asep sambil jongkok menyabuni kaki Dita
Iiya, dan aduh!
Segumpal cairan kental tampak terjatuh dari selangkangan Dita Waduh, pejunya Mas Asep yang tadi keluar juga hehe ujar Dita santai. Benar-benar sesi curhat paling aneh, batin Asep.
Ehem! Dan sayangnya, fakta bahwa Dinda setuju Mas Asep masuk sini berarti dia emang gak punya rasa sama Mas Asep
Asep langsung menghentikan kegiatannya dan memandang Dita
Mbak tahu dari mana?
Yaa logikanya kalo Dinda ada rasa sama Mas Asep, pasti dia gak akan mau Mas Asep ngeliat sisi liarnya kan? jawab Dita sambil tersenyum tipis.
Asep terpekur. Selama ini pikirannya tidak pernah sampai ke situ. Tapi logikanya memang masuk akal, mau tak mau Asep harus mengakui.
Mas Asep kenapa? Katanya udah nyerah ngejar Dinda? Dita berbalik dan menunjuk punggungnya
Yahhh, kan rasa ini masih ada Mbak, biarpun gak jelas wujudnya jawab Asep pelan sambil mulai menyabuni punggung Dita.
Mungkin memang sayah harus ngilangin nih rasa dan jadi anggota grup yang baik, daripada ngecewain yang lain yang udah ngasih sayah kesempatan
Dita tiba-tiba berbalik, senyuman tersungging di bibir tipisnya Inget gak yang aku bilang kemaren?
Eh?
Aku bilang Aku gak bilang itu gak baik Mas Asep
Errr...Mungkin bisa disederhanakan lagi Mbak? Agak njelimet soalnya heheh

Dita menghela nafas Maksud aku, kalo memang ada untungnya buat Mas Asep kenapa nggak, asal gak ngerugiin yang lain
Ah, gak ada baiknya Mbak. Saya jadi kepikiran terus dan cemburu kalo liat dia dipake sama yang lain
Yakin gak ada baiknya?
Iyah saya yakin, kalo menurut Mbak? Asep balik bertanya
Hmm, kalo cemburu sama yang lain itu emang gak baik, toh Mas Asep emang siapanya Dinda, hehe. Tapi itu sih gampang, Mas Asep tinggal terbiasa aja lama-lama juga gak bakal cemburu kok
Tapi ada kok baiknya, Mas Asep gak nyadar aja lanjut Dita
Kayak apa Mbak?
Inget waktu lomba gendong? Mas Asep semangat banget pingin menang biar Dinda hepi. Trus tadi malem Mas Asep mau aja dijadiin timun, padahal gak enaknya pasti setengah mati
Asep berpikir keras Jadi perasaan saya ini, biar gak jelas juntrungannya bisa bikin Dinda bahagia biarpun caranya gak biasa?
Iiya, tapi bukan Dinda ajja, Mas Asep juga kan ngerasa lain kalo kebagian sama Dinda? Mas Asep punya sesuatu buat diharepin...Walaupun gak bisa dimiliki sih. Yah, aku kan bilang asal gak ngerugiin yang lain atau ngerusak suasana
Ah tapi, saya gak enak kalo gitu. Gak adil sama yang lain. Sama Mbak Dita, atau Mbak Irma dan Mbak Eci juga kalo harus ngebedain Dinda sama mereka, biarpun mereka gak tau
Yaa jalanin aja lah, kan dengan event ini kita semakin akrab kan, daripada di kantor Asep mengangguk setuju walaupun dalam hatinya dia berujar Ini sih terlalu akrab.
Mungkin nanti seiring waktu Mas Asep bakal lebih mengenal kita, sekarang aja Mas Asep bisa curhat gini kan sama aku. Nanti kalo udah semakin akrab, perasaan Mas Asep sama Dinda bisa ke semua cewek juga, asal jangan rasa ingin memiliki aja hehe
Asep semakin berpikir keras, tapi dari wajahnya Dita bisa melihat Asep sudah mendapat pencerahan.
Jadi intinya sayah memang udah nyerah ngejar Dinda buat dijadiin pacar. Terus saya tau Dinda gak ada rasa sama saya, OK. Tapi Dinda juga naruh kepercayaan ke sayah buat jadi anggota grup, yang harus saya bayar. Dan soal perasaan sayah ini, tinggal dibuang jeleknya, diambil baiknya selama gak ngerugiin yang lain, gitu kan Mbak?
Mas Asep merasa plong gak dengan kesimpulan itu?

Asep tidak menjawab, tapi menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannnya dengan lega. Lalu mengangguk mantap Ternyata solusinya gampang ya, saya aja yang bego dan gampang kebawa perasaan
Dita mengangguk setuju
Gak apa apa Mas Asep, asal perasaannya gak bikin mumet dan galau terus
Asep menepuk dadanya Mulai sekarang, kalopun saya kebawa perasaan, saya usahakan buat kepentingan seluruh anggota grup ini Dita hanya tertawa mendengarnya
Dan saya jadi punya rasa nih sama Mbak Dita tambah Asep tiba-tiba dengan tampang serius
Ehh? Dita terhenyak, pipinya yang bersemu pink karena air hangat semakin memerah
Iyah, saya merasa hormat dan berterima kasih sama Mbak yang udah mau ngedengerin masalah saya dan ngasih solusi lanjut Asep masih dengan tampang serius.
Dita terdiam beberapa saat lamanya sebelum tertawa terbahak-bahak. Susunya yang dipenuhi busa sabun kembali bergoyang-goyang.
Yee Mbak, malah ketawa. Saya serius nih! seru Asep agak kesal
Ahahahhh...Mas Aseeppp...Kirain apaan sih ah! tawa Dita masih berderai. Asep yang tidak peka dengan perasaan wanita jadi bingung dengan reaksi Dita.
Haahhhh...Mas Asep biasa aja deh, aku cuman nolongin biar nih grup gak ada konflik
Yaa tapi kalo gak ada Mbak Dita konflik batin sayah pasti gak akan selesai Mbak
Dita menghela nafas OK deh, kalo Mas Asep mau berterima kasih, aku punya request nih
Apa Mbak?
Hmmm...Irma sama Dinda belum pulang, Mas Asep masih ngaceng, jadi... Dita memandang mata Asep dengan tatapan binal
Aku pengen Mas Asep ngentotin aku sepuasnya di sini, sampai yang lain pulang bersamaan dengan itu, Dita kembali menyalakan shower yang langsung membasuh busa dari tubuhnya.

Asep dan Dita berciuman dengan ganas di dalam bilik shower itu dengan air masih mengalir membasahi tubuh telanjang mereka. Lidah Dita dan Asep saling berbelit, seperti halnya tangan masing-masing yang sibuk meraba-raba pasangannya. Lidah Asep kemudian turun ke leher Dita, membuat gadis itu menggeliat nikmat. Asep menciumi leher Dita sebelum mengangkat sebelah tangannya, lalu menjilati tetesan air di ketiak mulus Dita, membuat gadis itu menggelinjang geli-geli nikmat. Tangan Asep yang satunya meremas payudara Nita dan menggesek-gesek putingnya. Dita mendesah-desah meluapkan kenikmatan dari rangsangan di seluruh tubuhnya. Tangan Dita memegang erat lengan kekar khas pekerja kasar milik Asep.
Keduanya kembali berciuman, sesekali melepas pagutan mereka untuk saling bertatapan sebelum kembali memagut bibir. Tapi kemudian tiba-tiba Asep mendorong Dita hingga punggungnya terhempas di dinding bilik shower.
Kyaa! pekik Dita kaget
Asep langsung memepet tubuh Dita, merapatkan tubuhnya sehingga puting susu Dita bergesekan dengan dada berbulu Asep. Kembali mereka berciuman dengan ganas di posisi itu. Asep lalu menggunakan satu tangannya untuk mengangkat salah satu kaki Dita, sehingga memek gadis itu siap diterobos oleh senjata Asep. Dita merasakan kepala kontol Asep sudah menggesek-gesek bibir belahan memeknya, hingga saat yang dinantinya tiba.
Ngaahhhh! Dita mengerang saat kontol Asep kembali menembus memeknya pagi ini. Dita memejamkan mata sambil mendongak, yang membuat lehernya menjadi sasaran cumbuan Asep.
Asep menggenjot memek Dita dengan kontolnya yang sudah di doping jamu Jejen dengan posisi berdiri. Langsung dengan tempo cepat tanpa pelan-pelan dulu. Gemericik air shower pun tak bisa menutupi lenguhan dan erangan erotis Dita yang semakin nyaring.
Dita menggeliat dan mengejang di pelukan Asep ketika gadis itu meraih orgasmenya. Tapi Asep terus menyodoknya tanpa kenal ampun membuat Dita semakin blingsatan oleh orgasme yang datang susul menyusul. Bahkan empotan memeknya yang dia gunakan untuk memperlambat genjotan Asep seolah tak berarti. Akhirnya Dita hanya bisa pasrah didera gelombang kenikmatan tiada henti.

Setelah beberapa waktu yang terasa sangat lama bagi Dita, akhirnya Asep menyemburkan cairan kental hangat dalam rahimnya, yang mau tidak mau membuatnya orgasme lagi. Tapi Dita belum bisa bernafas lega, karena kontol Asep masih terasa keras memenuhi rongga syahwatnya.
...Masih keras Mbak bisik Asep
Iiya...Lanjut?
Asep mengangguk. Setelah kontolnya lepas dari memek Dita, Asep memutar badan Dita sehingga membelakanginya. Lalu Asep menghimpit Dita sehingga tubuh bagian depan gadis itu menekan dinding kaca bilik shower. Termasuk payudara dan puting Dita yang menggesek dinding kaca yang halus tapi bermotif itu. Merasakan putingnya yang sensitif bersentuhan dengan kaca itu saja sudah membuat Dita terangsang. Dilihat dari luar bilik, payudara Dita yang menjeplak di kaca buram itu pasti terlihat sangat erotis, sayang tidak ada yang menonton mereka.
Dengan Asep menekan punggungnya, posisi ini kurang lebih mirip dengan yang tadi. Dita kembali merasakan kontol Asep di selangkangannya, siap menembus memeknya lagi. Dita pasrah, memejamkan mata bersiap menikmati sodokkan kontol Asep yang akan memberinya orgasme tak terhitung jumlahnya. Sementara gemericik air shower masih terus membasahi tempat mengadu birahi mereka.

***
Satu jam kemudian, Asep sedang berendam di bathtub di kamar mandi yang sama. Dita duduk di pangkuannya ikut berendam, seperti seorang bapak yang sedang memandikan anaknya.
Lama juga ya mereka ujar Dita merujuk ke Irma dan Dinda
Nyasar kali di pasar timpal Asep sekenanya
Hahah padahal kita ngentot lama banget deh tadi
Iyah, puas saya bisa nyoba segala gaya Asep cengengesan
Mas Asep keluar berapa kali?
Wah, gak ngitung sayah. Tapi yang penting sih udah gak ngaceng lagi. Kalo Mbak?
Iih, apalagi aku, gak keitung. Eh liat tuh Mas Asep! Dita menunjuk gumpalan cairan kental yang mengambang di permukaan air bathtub
Masih ada aja peju Mas Asep yang keluar dari memek aku! seru Dita riang, seolah air mani Asep yang memenuhi rahimnya barusan hanyalah mainan.
Asep melingkarkan tangannya di dada Dita, sehingga susu kenyal nan hangat Dita menempel di lengannya.
Tapi beneran lho Mbak, terima kasih banget. Rasanya kepala saya ini udah plong dari segala galau
Udah deh Mas Asep gak dibahas lagi. Yang penting Mas Asep gak galau lagi, sayang soalnya
Maksudnya?
Liat aja tadi Mas Asep bisa maen lepas banget sampe bikin aku klenger. Atau pas lawan kita bertiga, Mpok Eci aja bisa kelojotan gitu. Atau malam sebelumnya yang bikin si Irma takluk. Kalau Mas Asep gak terbebani pikiran, Mas Asep maennya gila lho
Oh...
Tapi masih ada satu orang yang belum ngerasain potensi Mas Asep sepenuhnya
Dinda? Karena dia sumber kegalauan sayah?
Yup, tapi sekarang galaunya Mas Asep udah hilang kan, dan ini hari terakhir jadiii...
Percakapan mereka terhenti ketika samar-samar terdengar suara klakson dari luar.
Ah, itu mobilnya si Irma. Udah pada balik mereka. Yuk ah
Dita berdiri meninggalkan bathtub diikuti oleh Asep.

Bersambung

#9 dhanibandung

dhanibandung

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 15 posts

Posted 26 January 2017 - 10:59 AM

Lanjuttttt.....

#10 Cioe_pek_tong

Cioe_pek_tong

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 16 posts

Posted 26 January 2017 - 05:49 PM


Chapter 10: Serangan Mendadak

Asep dan Dita keluar dari kamar mandi mendapati Eci yang sudah memegang handuk. Melihat mereka berdua, Eci langsung tersenyum mengejek.
"Mas Asep yaaa...Bilangnya mau mandi padahal aslinya enjot-enjotan sama Dita" ledeknya
"Eh, beneran kok Mbak niat awal saya cuman numpang mandi ajah, cuman saya harus diajarin Mbak Dita buat nyalain showernya hehe" Asep membela diri
"Owh, jadi sekalian lo ngambil kesempatan buat mandi bareng dan dientot Mas Asep kan Ta?" ledekan Eci beralih ke Dita, yang dibalas gadis bermata sipit itu dengan memeletkan lidahnya.
"Situ bangun-bangun langsung ngentot aja gak cuci muka dulu, berapa kali dicrot sama Mas Jejen?" sindir Dita sambil menunjuk ke arah cairan kental yang mengalir di paha Eci
"Lumayan lah, dapet banyak hehe, ada si Ari juga"
"Huu, si mpok maruk amat sih"
"Lah, elo monopoli Mas Asep gitu, siapa yang maruk coba?"
Tak ingin berlama-lama di antara keduanya, Asep segera pamit "Makasih yah Mbak udah dipinjemin kamar mandinya, permisi"
Asep masih mendengar ledekan Eci di belakangnya saat dia meninggalkan kamar
"Gak sekalian terima kasih sama Dita buat minjemin memeknya, Mas Asep?"
Asep hanya tersenyum simpul. Memang sih ada yang membuat Asep berterima kasih pada Dita, cuma bukan seperti yang dibayangkan Eci.

Setelah mengenakan kaos dan celana pendek baru, Asep bergabung yang lain di dapur. Para cowok berkumpul di meja makan sementara Dinda dan Irma mengeluarkan belanjaan mereka di meja dapur.
"Lama amat belanjanya, beli apa aja?" sapa Asep ke mereka
"Iye, lama banget perasaan, emang pasarnya jauh yah?" timpal Ari penasaran
"Nih si Dinda matanya jelalatan, semuanya mau dibeli" jawab Irma, yang membuat Dinda tertawa
"Hahaha, abis sayurnya keliatan seger-seger banget, jadi inget di kampung dulu ih"
"Wew, si Dinceu rindu kampung halaman euy" goda Reza
Dita yang sudah berpakaian menyusul. Ditambah Eci tak lama kemudian yang sudah selesai mandi dan berpakaian. Ya kalau memang hanya mandi tanpa diselingi sesi ngentot dan curhat tak akan selama Asep dan Dita tadi. Sementara para cewek memasak, Asep dan yang lain duduk-duduk di meja makan sambil ngobrol ngalor-ngidul. Lagi-lagi Asep merasa suasananya seperti kumpul-kumpul yang biasa, sesama rekan kerja tanpa aktivitas absurd. Tapi suasana damai itu dirusak oleh Reza, yang usil mengajukan usul kepada para gadis.
"Eh cuaca udah mulai anget nih, ya gak Ir?"
"Apaa sih Reza jeleeeek, gak jelas banget" jawab Irma yang sedang mencuci sayur dengan asal
"Mumpung udah gak dingin, gimana kalo kalian masaknya sambil bugil?"
Langsung semua menghentikan aktivitasnya dan memandang Reza yang hanya cengar-cengir
"Iih apaan sih Reza" tukas Dinda
"Hmm, kalo gak dingin sih..." Dita setuju tapi sedikit tak yakin
Sementara mata Eci malah berbinar "Oh iyaa, ini kan hari terakhir! Yuks ah kita semuanya telenji sampe waktunya pulang!" teriaknya ceria
"Serius Mbak? Ah, susah deh kalo si Mpok udah heboh gitu" gerutu Irma

Dengan tangkas Eci melucuti pakaiannya hingga telanjang bulat menyisakan jilbab dan kacamatanya saja
"Eh Mpok, kan tadi malam ketiduran belom pake baju sampe tadi mau mandi, jadi dari semalam cuman pake baju berapa lama?" tanya Dita sambil memelorotkan celana piyamanya
"Hmm, dari abis mandi tadi...kurang dari setengah jam kali yee, hehe" jawab Eci cuek
"Heh, cowoknya juga dong!" seru Irma
"Iya nih, biar adil" timpal Dinda
Reza yang dengan semangat melepas pakaiannya sendiri menengok ke belakang mendapati teman-temannya malah malas-malasan untuk membuka baju.
"Ya elah kok pada gak semangat gini, katanya lo bikin jamu dosis dobel Jen?"
"Lu sih baru bangun, kita mah udah dapet jatah tadi" jawab Ari
"Heu-euh, geus ngecrot aing jeung si Ari mah" timpal Jejen
"Wah parah lo pade, nyuri start gitu...Kalo lo Sep?"
Tapi belum sempat Asep menjawab, Eci sudah keburu menyahut "Udah tuh Mas Asep sama Dita mesra-mesraan berdua di kamar mandi, modusnya sih numpang mandi hahahaha"
Dita yang sedang melingkarkan ujung jilbabnya di leher hanya cemberut. Sementara Irma dan Dinda jadi heboh.
"Woow Mas Asep yaaa, ternyata..."
"Haha coba kalo kita gak ke pasar ya Mbak Ir, bisa jadi kita bertiga digarap sekaligus sama Asep hahaha..." Dinda berkata dengan ringannya yang membuat Asep teringat, hari ini kesempatannya yang terakhir buat menggarap Dinda, dengan mindset baru yang sudah ditanamkan Dita.

"Wah curang ah kalian, pada nyolong start" Reza yang masih tak terima terus menggerutu
"Yee salah sendiri lo kebluk baru bangun tadi" Asep membela diri
"Iya, padahal tidur paling duluan tadi malem" tambah Ari
Di-skakmat seperti itu Reza akhirnya diam juga. Tapi yang penting idenya terwujud, para gadis dengan rela memasak sambil berbugil ria dan teman-temannya mau ikut bugil juga.
Setelah menyimpan pakaian mereka, para gadis melanjutkan acara memasak mereka tanpa sehelai benang pun dari leher ke bawah. Tanpa canggung sedikit pun karena mereka memang sudah sering bertelanjang di depan para lelaki. Sementara bagi Asep dan yang lain, meskipun sudah terbiasa dengan tubuh telanjang Dinda, Dita, Irma, dan Eci tapi pemandangan indah di depan mereka tak urung membuat birahi mereka bangkit. Bahkan buat tiga orang yang sudah duluan 'dikuras' kelelakiannya.
"Mantep juga nih" ujar Asep dengan suara pelan
"Ide gua gito loch, kapan lagi ngeliat mereka masak sambil bugil" Reza sesumbar bangga
"Bayangin lo jadi raja minyak, terus mereka tuh istri-istri lo yang tiap hari hilir mudik di rumah gak pake apa-apa" tambah Reza yang membuat para cowok larut dalam lamunan masing-masing
"Hmm, gak kebayang ah" Ari membuka suara setelah beberapa lama
"Lha, kenapa?"
"Kalo gua raja minyak kaya raya ngapain gua harus telanjang juga sama 3 cowok lain?"
"Ah payah lo, ya jangan dibayangin lah...pake imajinasi napa"
Sementara para cowok sibuk berfantasi, para cewek lebih santai bertelanjang ria. Walaupun ada sensasi tersendiri yang membuat acara masak ini lebih seru. Tanpa disadari kelamin mereka yang tidak terhalang kain mulai basah, dan puting susu indah mereka mulai menegang walau udara sudah tidak dingin lagi.
"Yah aku mau ngegoreng nih, kalo minyaknya mercik gimana?" tanya Dita khawatir sambil menyalakan kompor
"Pake celemek aja Ta, perasaan ada deh di laci sana" saran Irma
"Ah iya, ada nih"

Para lelaki langsung melotot begitu melihat Dita memakai celemek di atas tubuh telanjangnya. Celemek berwarna biru tua itu begitu kontras dengan kulit Dita yang putih mulus. Dari samping terlihat sebagian buah dada Dita yang begitu menggoda seperti buah ranum di pohon yang tertutup daun.

Spoiler: Ilustrasi (celemeknya doang bukan ilustrasi bodinya Dita ya)

"Anjrit ini mah lebih seksi daripada bugil doang" gumam Ari
"Setuju" timpal Asep
"Idem" tambah Jejen nyaris tak berkedip
Sementara Reza hanya melotot sambil menelan ludah. Kontolnya yang sudah didoping jamu Jejen dosis dobel belum sempat beraksi hari ini, dan sekarang berteriak-teriak minta dijepit memek. Akhirnya Reza berdiri dan berjalan mendekati Dita. Belum sempat dia melaksanakan niatnya, Dita sudah menolaknya.
"Mas Reza mau ngapain?"
"Gak tahan Mbak, liat Mbak seksi banget pake celemek...satu ronde aja ya Mbak?" Reza memohon
"Aduh, aku mau ngegoreng Mas Reza, bahaya nanti" Dita menunjuk ke arah wajan yang minyaknya mulai mendidih.
Mengalah, Reza beralih ke yang lain.
"Din, lu aja deh ya?"
Permintannya dibalas acungan pisau oleh Dinda "Lagi motong-motong daging ini, bahaya tau!"
Reza mundur sambil refleks melindungi selangkangannya. Dia beralih ke Eci tapi langsung mundur begitu melihat gadis mungil itu sedang memotong-motong sosis besar seukuran kontolnya. Akhirnya Reza memilih Irma yang sedang mencuci sesuatu di wastafel, aktivitas paling tak berbahaya.
"Yah, sama si Irma lagi deh" keluhnya
"Maksud lo? Udah bosen sama memek gua? Ya udah coli aja sendiri sana" balas Irma ketus
"Yee sori Ir, jangan marah gitu dong...Pinjemin memek lo dong, ya? Ya?"
"Ya udah kalo mau pake aja sono" jawab Irma santai, tapi sikap cueknya tak bertahan lama saat Reza memeluknya dari belakang, membuatnya agak menungging sebelum Reza dengan paksa memasukkan kontolnya dalam memek Irma.
"Ahhh Rezaaa! Barbar banget sih lo, maen coblos aja!" protes Irma
"Hah, protes aja! Ini memek udah banjir gini, lo sebenernya juga pengen kan!" balas Reza yang mulai menyodok Irma dengan kasar. Dan hanya dengan begitu saja kedua manusia itu bersetubuh menuntaskan nafsu birahi masing-masing.

Asep tercengang melihat begitu mudahnya hal itu terjadi. Tapi dia tidak bingung atau kalut lagi sekarang mencerna pemandangan di depan matanya.
"Rek ngiluan si Reza moal tuh Ri?" tanya Jejen menunjuk adegan panas Reza-Irma
"Nggak ah, kasian ntar masaknya gak beres-beres, kita gak bisa makan" jawab Ari
"Maneh kumaha Sep?"
"Ntar aja abis makan, santai dulu isi perut biar ada tenaga" jawab Asep diplomatis
Jadilah ketiganya menonton pemandangan di depan mereka. Tiga orang perempuan asyik memasak dalam kondisi bugil, sementara di antara mereka ada satu orang lagi yang sedang digenjot memeknya dengan brutal. Suara desisan minyak dari penggorengan dan pisau yang bertemu talenan bercampur dengan pekikan dan lenguhan nikmat dari Irma yang kelojotan menghadapi gempuran kontol Reza.
Dan akhirnya setelah cukup lama, makanan mereka pun siap. Irma yang orgasme lima kali terduduk lemas di lantai, sementara Reza yang sudah ngecrot dua kali panik melihat kontolnya yang masih tegak perkasa.
"Anjrit Jen, parah lo dosisnya, ini masih ngaceng gini aja!"
"Udahlah Reza, biarin aja dulu, kita makan yuks" ujar Eci tenang sambil mengatur piring di meja.
Jadilah mereka semua makan bersama di meja makan yang untungnya cukup besar menampung delapan orang itu. Sudah agak siang jadi bukan sarapan, tapi juga belum waktunya makan siang (istilah kerennya 'brunch'). Dengan bertelanjang bulat mereka makan dengan tenang, walaupun kontol para cowok sudah menegang dan memek para cewek sudah merekah basah. Hanya Irma dan Reza yang tampak berkeringat dengan tampang awut-awutan sehabis pertempuran mereka tadi.

"Nah temen-temen, jadi nanti kita pulang jam –eh berapa sih Ir?" Eci membuka percakapan
"Jam 5 aja, tapi jam 4 udah mulai bersih-bersih villa ya" jawab Irma dengan mulut penuh nasi
"Yup, dan karenanya hari ini gak ada games ya, waktu bebas aja sampai pulang" lanjut Eci
Hmm kesempatan, pikir Asep.
"Nah makanya aku minta Mas Jejen bikin jamu dobel dosis tadi pagi, biar jadi tantangan buat kalian"
"Maksudnya?" tanya Ari
"Ya kalo sampe jam 4 kalian kurang banyak ngecrot ya bawa aja pulang tuh kontol, emang enak naek motor kontol masih ngaceng gitu?" jelas Eci yang membuat para lelaki saling berpandangan
"Wah Jen, lo mau-maunya aja disuruh gitu, enak di mereka rugi di kita" protes Reza
"Lah, nya disuruh sama si Mbak Eci, nurut we urang mah" bela Jejen
"Sekalinya ngaceng susah lagi lho buat turunnya, yang bertiga nyuri start pasti tau kan" lanjut Eci
"Ya udah lah Mbak, abis ini kita langsung mulai aja. Di ruang tengah? Apa mau di luar lagi?"
"Eits, sabar Reza. Sebelum meminta hak, lakukan dulu kewajiban"
"Maksudnya Mbak?"
Eci tidak menjawab, dia hanya memandang sekeliling
"Udah pada beres makannya gals? Nah para cowok bagian yang nyuci piring sama beresin meja ya" ujar Eci cuek sambil berdiri
"Iya, sekalian bersihin nih dapur, ama buang sampahnya sekalian" tambah Irma
Para gadis dengan kompak berdiri dan berjalan ke arah ruang tengah
"Lah kok kita ditinggalin gitu aja?" protes Ari
"Yee udah dimasakin juga, gantian atuh" ledek Dinda
"Yup, kalian udah nginep gratis, dikasih makan gratis, sekarang kerja sono" timpal Irma
"Lah emang ini biasanya kerjaan kalian kan di kantor" ujar Eci ketus, yang langsung membuat para cowok tersadar dengan status mereka.
"Kalian kan pelayan kita-kita, jadi gak usah protes deh" cerocos Eci yang membuat telinga para lelaki panas
"Tapi ini gimana Mbak, kita udah ngaceng" protes Reza menunjuk kontolnya sendiri
"Bodo amat. Jangan nyamperin kita sebelum semuanya beres...kalo gak kuat, coli aja sendiri yaa" Eci tersenyum mengejek sebelum berbalik "Daaagh yaaa, kita tunggu di ruang tengah"

Para cewek melambaikan tangan dan meninggalkan para cowok bengong di dapur
"Wah, tega euy..." gumam Jejen sambil terus memandangi pantat-pantat mulus yang semakin menjauh
"Curiga si Mbak Eci bales dendam abis dikerjain abis-abisan tadi malam" ujar Ari berspekulasi
"Anjrit, jahat bener mereka bikin ngaceng gini trus ninggalin kita. Tambah jamu lo bikin ini gak bisa turun Jen" Reza mengomel
"Lah, kan ide lo yang nyuruh mereka bugil" debat Ari
Asep hanya diam sambil mulai membersihkan meja "Udah kita mulai aja, biar cepet beresnya" sarannya
"Lo gak marah digituin Sep?"
"Ya gua juga kesel nih udah sama-sama saling ngasih enak, eh masih dianggap pelayan sama mereka"
"Yah emang kenyataanya gitu sih, tapi kayaknya cuman Mbak Eci doang deh yang kebangetan" tambah Ari
"Yaa kalo mereka minta kontol ya udah kita kasih kontol, gampang kan" ujar Asep santai
"Yee, enak di mereka, kita yang sengsara ngaceng terus"
"Nah itu dia, kita liatin ke mereka apa akibatnya bikin kita ngaceng terus kayak gini"
"Iye Za, kalo udah beres kita kasih pelajaran mereka, kita entotin sampe kelenger mumpung senjata kita lagi didoping" tambah Ari
"Hmmm, oke lah, kesel gua sama si Mbak Eci. Kita bikin dia teriak-teriak minta ampun nanti"
"Si Mbak Eci rek di-DP yeuh? Hayulah!" seru Jejen semangat
"Sama si Ari aja Jen, gua pengen ngentotin Mbak Dita yang pake celemek heheheh..." tukas Reza
"Lah lu yang kesel sama si Mbak Eci kok malah milih yang lain" protes Ari
"Biarin, lu berdua juga kesel sama si Mbak Eci kan? Nah jadi gini..."
Sementara teman-temannya berkonspirasi Asep hanya bersiul sambil menaruh piring kotor di wastafel
"Sep, lo bagian sisanya! Si Dinda sama Irma"
"Okeehh!" Asep hanya mengacungkan jempol walau dalam hati dia bersorak, pas banget!

Dengan rencana di kepala, para cowok menyelesaikan tugasnya dengan semangat. Tak lama, setelah dapur bersih keempat pria itu mengendap-endap tanpa suara ke arah ruang tengah.
"Lapor! Semua target operasi sedang berkumpul di depan TV, menonton acara gosip" bisik Ari pada Reza setelah mengintip dari sudut tembok
Yang lain kompak ikut mengintip melihat suasana
"Hmm, lagi pada fokus kayaknya, bisa kita sergap dari belakang" bisik Asep
"Ah, dasar awewe..." gumam Jejen
"Sep, kebetulan Dinda sama Irma duduknya deketan, lu bisa kan nanganin dua orang?"
"Siap komandan!" jawab Asep sambil memberi tanda hormat
"Saya serahkan mereka padamu, prajurit!" balas Reza dengan mimik serius
Dan operasi senyap pun dimulai, keempat pria bugil dengan kontol yang dari tadi sudah terhunus tegang mendekati target masing-masing.
"Baaaaaaaaa!"
"Kekok!"
Belum sempat menoleh, keempat gadis yang sedang menonton TV sambil bugil itu sudah diterkam oleh para predator seksual, hingga mereka pun menjerit kaget
"Kyaa! Aduh apaan nih!" jerit Dita yang dipeluk Reza dari belakang
"Ahh! Kalian ngapaiiinnnn!" pekik Eci yang diserang dari dua arah oleh Jejen dan Ari
Sementara Dinda dan Irma dirangkul dari belakang sekaligus oleh Asep. Mereka yang sepertinya sedang membaca sesuatu dari HP Dinda ikut memekik kaget. Tangan Asep masing-masing mencengkram salah satu dari payudara kedua gadis itu. Asep sebenarnya hanya ingin mengagetkan mereka berdua, karena tak mungkin dia menahan dua gadis sekaligus. Dengan lembut Asep meremas dan merangsang dua daging hangat empuk yang dia pegang, yang membuat para pemilik daging itu mendesah manja menggantikan pekikan kaget mereka.

Sementara yang lain sepertinya terobsesi mendominasi target operasi mereka. Dita meronta-ronta dalam cengkraman Reza, walaupun erangannya terdengar seperti menikmati. Eci lebih parah, gadis berkacamata itu diserang di semua lini pertahanannya oleh Ari dan Jejen. Memek mungilnya dikobel jari Ari dengan ganas hingga cairan cintanya memercik keluar. Mulut Ari sendiri sedang asyik menyedot-nyedot payudara Eci. Jejen meremas dan mencubit puting Eci yang satunya lagi sedangkan bibir dowernya memagut bibir Eci sehingga jeritan gadis itu terbungkam.
"Iih parah banget mereka" ujar Dinda melihat pemandangan brutal di sebelahnya
"Mas Asep jangan kasar-kasar ah" pinta Irma sedikit takut
"Tenang, kalian berdua mah aman di tangan sayah" jawab Asep dengan bangga
"Beuh emang bisa Asep muasin kita berdua?" tantang Dinda
"Wah, nantang nih anak, Mbak ir, ceritain yang kemarin sayah naklukin kalian bertiga"
"Ah iya, Mas Asep emang dahsyat kalo udah panas"
"Heeee, kalo sekarang Asep udah panas? Mana coba buktiin" Dinda memandang Asep dengan mata bulatnya yang indah, membuat jantung Asep bedetak lebih kencang. Tapi bedanya, sekarang tidak ada rasa grogi sama sekali.
"Oh udah dooong...Nihhh!" Asep tiba-tiba mencaplok bukit susu Dinda yang membuat gadis itu memekik sambil tertawa. Asep lalu beralih ke sisi lain, ke payudara Irma. Bergantian Asep mencaplok bukit kembar di kanan-kirinya, sementara tangannya turun dan terus turun hingga mencapai klitoris milik kedua gadis. Dirangsang seperti itu, Dinda dan Irma menggelinjang dalam rangkulan Asep.

Di sebelah mereka Dita sudah menungging pasrah dengan Reza masih merangkulnya dari belakang. Gadis berjilbab itu mendesah nikmat saat Reza menciumi punggungnya dan meremas-remas payudara kenyalnya yang menggelantung. Dari tadi kontol Reza terus menggesek-gesek bibir memek Dita, tapi belum dimasukkan juga. Lama-lama Dita tak tahan juga.
"Aaahh Mas Reza kok cuman digesek teruuss..." rajuknya manja
"Hmmm? Apa Mbak? Mau dimasukkin?"
"Iiyaaa, masukkin kontolnya ke memek akuuuu!" pinta Dita tanpa mempedulikan harga dirinya lagi
"Iyaa Mbak, saya masukin deh...Tapi ada syaratnya"
"Apaan?"
"Nih, pake dong Mbak"
"Eh!?" Dita terheran ketika Reza menyodorinya sesuatu, dan baru mengerti ketika menyadari bahwa yang berada di tangan Reza adalah celemek biru yang dipakainya tadi di dapur.
Beralih ke sebelah, Eci sekarang sudah pasrah di pangkuan Jejen yang terus meremas-remas kedua pabrik susunya. Sementara di bawah sana Ari asyik menjilati dan menyedot lubang nikmat Eci.
"Wew, untung bersih Jen, gak ada sisa peju kita yang tadi pagi"
"Pas mandi tadi dikeluarin yah Mbak?"
"Hmmhhh" Eci yang keenakkan tidak menjawab
"Ri, mending dikobel nepi ka muncrat, trus urang ewe bareng si Mbak Eci" saran Jejen
Ari yang setuju lalu kembali menggunakan dua jarinya untuk mengobrak-abrik memek Eci. Langsung diserang di titik sensitifnya, Eci mengerang dan menjerit nikmat. Tubuh mungilnya menggeliat liar tapi ditahan tangan kekar Jejen. Cairan bening semakin banyak memercik dari kobelan Ari di memek Eci, menandakan birahi gadis itu semakin naik dan naik menuju puncak.
"Ahhh...Kalian tegaaaaaa! Nghhhaaaaahhhhh!" Eci memekik semakin histeris, tubuhnya kelojotan hingga akhirnya cairan cintanya menyemprot dengan deras seperti keran diiringi lolongan panjang.

Asep tak mempedulikan kehebohan di dekatnya karena sedang asyik mengadu bibir dengan Irma, lalu segera beralih ke sisi lain untuk saling membelit lidah dengan Dinda. Kedua tangannya sibuk mengobel memek kedua gadis dan sebagai balasannya, kontolnya dikocok oleh dua tangan halus milik Dinda dan Irma.
"Aah Asep jarinya nakal iiiih" desah Dinda
"Ini mau pada nyobain yang lebih enak dari jari gak nih?" tantang Asep
"Mmmmhhh...Ayo Mas Asep, kita udah siap nihhh" jawab Irma yang merem melek keenakkan
Asep pun menyuruh mereka nungging berdampingan, hingga pemandangan indah dari dua pantat mulus dengan lubang basah merekah terpampang di depan mata Asep. Sesekali diremas dan ditepuk pelan membuat para pemilik pantat mendesah, dan semakin nikmat ketika Asep kembali menusukkan jarinya di masing-masing memek.
"Iiih Asep kok masukin jari lagi ah" protes Dinda
"Sabar, sabar...Oh iya ngomong-ngomong dari tadi malem belum dientot lagi yah?"
"Iiya cuman aku doang yang belum kemasukan kontoool, ayo dong Sep!"
"Ayo apa nih?"
"Ah Asep mah rewel iih" gerutu Dinda
"Owh ya udah, kalo gitu gua mah ngegenjot Mbak Irma dulu yah" ujar Asep santai yang diiringi pekikan Irma saat kontol Asep tiba-tiba menerobos memek basahnya
"Ahhh...aaaahhh...Mas Asep mantepppp!" erangnya ketika Asep mulai menggenjot memeknya dengan intens
"Yah Asep kok ke situ dulu siiih" Dinda yang kecewa mengomel.
Tapi inilah yang dinanti Asep. Saat Dinda lengah karena kecewa memeknya tidak terpilih, seketika Asep mencabut kontolnya dari lubang Irma dan dengan cepat ditusukkan ke miliknya Dinda hingga gadis berbulu mata lentik itu terbelalak dan menjerit kaget
"Aaah Asseeeeppppp! Kok gak bilang-bi – Ahhhh!"
"Emang harus bilang-bilang dulu yah?" tanya Asep nakal sambil mulai memompa memek Dinda
"Ahh dasaaarrr...Nghhh...Anjrit akhirnya dapet kontol lagiiiii!" racau Dinda dengan tubuh tersentak-sentak digenjot Asep dari belakang.

Kembali ke sebelah, Dita menggoyangkan pinggulnya seirama tusukan kontol Reza di memek legitnya. Gadis bermata sipit itu sekarang di posisi berpangkuan membelakangi Reza. Posisi ini memudahkan Reza untuk menyelipkan tangannya di balik celemek biru Dita dan meremas-remas kedua buntalan susu hangat di sana. Bercinta dengan kostum baru ini tidak hanya membuat Reza semakin bernafsu, tapi juga memberi sensasi baru buat Dita. Kadang Reza mengeluarkan tangannya dan mempermainkan dari luar puting susu Dita yang menonjol. Sensasi gesekan kain di putingnya yang sensitif menambah kenikmatan yang dialami gadis itu. Apalagi pompaan kontol Reza juga semakin menjadi-jadi. Tampaknya pria kurus itu begitu terangsang dengan pemandangan Dita yang memakai celemek. Hingga tak lama bagi Dita untuk mencapai puncak kenikmatan. Diiringi lenguhan panjang tubuh putih mulusnya mengejang, dan keringat mengalir deras membasahi celemek biru dan jilbab hitamnya.
Sementara Eci juga hampir mencapai orgasme keduanya, atau yang pertama dengan kontol siang itu. Tubuh telanjangnya berbaring telentang di karpet dan Ari menggempur memeknya dengan ganas, membuat payudara empuknya berguncang hebat. Gerakan tubuhnya yang tak terkendali membuat kontol Jejen yang dari tadi dikulumnya terlepas. Ketika Ari mengubah tusukannya menjadi tusukan-tusukan panjang dan dalam, Eci tak tahan lagi. Gadis mungil itu orgasme hebat, begitu hebat sampai mulutnya menganga lebar dan matanya hanya menampakkan bagian putihnya saja. Diurut dinding memek Eci, Ari pun menyemprotkan cairan kejantanannya dalam memek Eci yang masih orgasme. Setelah pistolnya kehabisan amunisi, Ari mencabut senjatanya dan dengan sigap Jejen mengganti posisinya. Tak peduli dengan Eci yang masih mengejang dilandai badai kenikmatan, Jejen menghujamkan kontol hitamnya ke memek Eci yang membuat gadis itu semakin histeris menjerit-jerit meminta ampun.
"Ngaahhhhkkkkhhhh! Amphuuuunnhhhh memhek akuuuuhhh!" Eci tak tahan dengan gelombang orgasme yang terus mendera tubuhnya tanpa henti.
Eci tak tahu bahwa sesi itu masih pemanasan, dari awal tujuan akhir keduanya adalah menaklukkan Eci dengan mengisi kedua lubang milik gadis itu bersamaan. Tapi karena waktu pulang masih lama dan efek jamu Jejen masih kuat, mereka pun bergantian dulu melampiaskan nafsu dan kekesalan mereka pada Eci.

Ari dan Jejen rela berbagi Eci, membiarkan Asep bebas menggarap Dinda dan Irma sekaligus. Secara bergantian Asep menggenjot memek keduanya dari belakang. Bosan dengan lubang yang satu, tinggal beralih ke yang satunya lagi dengan jarinya mengorek lubang yang sudah kosong. Dengan tubuh penuh energi sehabis makan dan pikiran bebas dari galau, Asep menggempur lubang kedua gadis itu dengan gagah perkasa. Irma mencapai puncak kenikmatannya saat bagiannya tiba. Asep bisa merasakannya langsung dari kedutan dan jepitan memek Irma. Saat tubuh Irma mengejang dan menggelinjang, Asep langsung mencabut kontolnya dan menghantam lubang Dinda yang disambut dengan lenguhan mesra gadis itu. Membiarkan Irma menikmati orgasmenya dulu, Asep menggenjot Dinda lebih lama. Berkat konseling dari Dita, sekarang Asep bisa lepas, bahkan saat dengan Dinda sekalipun. Dia bisa dengan tenang menggarap Dinda, dan juga Irma tanpa terbebani apapun. Dan Dinda pun akhirnya meraih orgasmenya berkat tusukan Asep.
"Ahhhnghhhhh!" pekiknya sambil terpejam, menikmati orgasme pertamanya hari ini hasil persetubuhan yang begitu liar

Meninggalkan tubuh Dinda yang kelojotan, Asep kembali mencoblos memek Irma yang disambut lenguhan serak-serak basahnya yang khas.
"Ahh Mas Asephhh..."
Lenguhannya berubah menjadi jeritan ketika Asep menarik tangannya seperti tali kekang dan memompa memeknya dengan brutal. Sebentar lagi Asep merasa akan ejakulasi, dan dia memilih Irma untuk menampung cairan kelelakiannya. Karena dia punya rencana sendiri untuk Dinda.
PLAK! PLAK! Tusukan panjang tapi dalam dari kontol Asep membuat suara yang keras saat perut bawah Asep menabrak pantat empuk Irma. Belum lama orgasme, Irma sudah tak tahan lagi. Rasa nikmat itu semakin membuncah hingga akhirnya meledak. Tepat di puncak kenikmatannya, Asep menyembur rahim Irma dengan cairan kental hangat. Seketika kenikmatan baru datang susul menyusul.
"Aaahhhh aku dap – Ehh!? Ahh...Ahhh...Ahhhh Mas Asephhhhh!" jeritnya histeris
Asep menggeram menikmati ejakulasinya dan juga dari jepitan liar memek Irma. Tapi bukannya dicabut, setelah semprotannya habis Asep malah mulai menggerakkan kontolnya kembali. Rasa ngilu yang dirasakannya tak dipedulikan. Kembali dipompanya memek Irma yang sudah dipenuhi berbagai jenis cairan termasuk pejunya sendiri. Irma yang sudah setengah sadar dimabuk orgasme beruntun hanya bisa pasrah diperlakukan seperti itu.
"Ngghh Mas Aseeeppp...Memhek akuu..Ahh! Memek aku masihhh...Ahhh!" erangnya histeris seperti menangis. Hingga tak lama kemudian Irma kembali menjerit sambil mengejang
"Aaaahhh kok ak-akhu laghiiiii!"

Beralih sebentar ke pasangan lain. Dita bergoyang di atas tubuh Reza dengan posisi WOT. Celemek birunya sudah acak-acakan. Salah satu payudaranya menyembul keluar, terlihat bergoyang naik turun seiring gerakan tubuhnya. Kondisi Dita yang semrawut ini justru membuat Reza semakin bernafsu. Sesekali tangannya kelayapan menggerayangi buntalan empuk hangat milik Dita. Sementara Dita sendiri sudah lupa diri, dia mengejar kenikmatannya dengan variasi gerakan pinggulnya. Tak sekedar naik turun, kadang memutar seperti ulekan sambal, dan tak lupa empotan memeknya yang khas menyiksa kontol Reza di dalamnya. Mata sipit Dita menatap mata Reza dengan tatapan penuh nafsu dan ekspresi yang sangat erotis. Bibir tipisnya terus mengeluarkan desahan di antara nafasnya yang memburu. Saking larutnya Dita dalam nafsu, bila tangan Reza sedang tak di sana, Dita meremas-remas payudaranya sendiri untuk merangsang dirinya lebih jauh. Usahanya berhasil karena Dita berkali-kali klimaks dalam posisi itu. Tapi Dita tak berhenti, dia ingin lebih dan lebih. Bahkan ketika dia merasa ada cairan kental hangat yang menyembur kewanitaannya. Dita masih ingin terus mendapat kenikmatan dari kontol Reza yang tetap keras setelah crot. Tapi setelah orgasmenya yang entah keberapa, Dita tumbang. Tubuhnya ambruk menindih tubuh Reza, dan membiarkan pria tonggos itu menciumi bibir tipisnya. Mereka berpelukan erat, susu Dita yang sebagian masih tertutup celemek menempel di dada Reza. Lalu Reza menggulingkan badannya sehingga sekarang Dita berada di bawah. Tanpa ba-bi-bu lagi Reza kembali menggenjot Dita yang sekarang pasrah di tangan pejantan yang menindih tubuhnya.

Sementara tak jauh dari situ Eci juga sedang ditindih oleh Jejen. Tubuh Eci yang kuning langsat kontras dengan kulit hitam Jejen. Didera klimaks tiada henti, Eci hanya bisa terbaring lemah setengah sadar. Dibiarkannya Jejen menggenjot memek mungilnya dengan brutal, menyodok hingga bagian terdalam kewanitaannya, Mulut Eci setengah terbuka mengeluarkan erangan lirih, terlalu lemas untuk merespon ciuman bibir tebal Jejen. Eci sekarang sudah seperti boneka seks di tangan Jejen, yang sepertinya begitu bernafsu memperlihatkan apa akibatnya kalau para lelaki diberi jamu dosis dobel.
"Nghhhhhhhhaaaahhh!" Eci memekik sambil membelalakkan matanya, lagi-lagi orgasmenya yang entah keberapa kali mendera tubuhnya.
"Yah Jen, belom juga kita DP udah lemes gini" ujar Ari sambil mengangkat tangan Eci yang sudah lunglai
"Hah baelah, hajar we terus" jawab Jejen cuek
"Hayoh Jen, crot atuh biar kita bisa mulai"
"Sabar, ieu rek crot....Ughhh!"
Eci hanya melenguh lirih merasakan memek sempitnya kembali dipenuhi air mani laki-laki. Ruangnya yang kecil terasa penuh oleh 'sumbangan' Ari dan Jejen. Untungnya Jejen segera mencabut kontolnya dari ruang sempit itu. Eci mencoba mengatur nafasnya yang terengah-engah. Tadi pagi dia sudah merasakan kontol Jejen dan Ari tapi entah kenapa kali ini situasinya berbeda. Eci takluk di tangan mereka berdua, dan gadis itu tak mengerti kenapa tadi keduanya begitu brutal menyetubuhinya tanpa ampun
"Ahh Ariii jangaaan aku masih lemes..." erang Eci lirih ketika Ari menarik tubuh Eci hingga berdiri. Dengan Eci di pelukannya, Ari mengangkat salah satu kaki Eci dan mulai memasukkan kontolnya dalam lubang gadis mungil berjilbab itu. Eci yang refleks menggantungkan tangannya di leher Ari hanya mendesah pasrah. Juga ketika tangan Ari mengangkat kakinya yang satu lagi sehingga posisi mereka seperti waktu lomba 'balap sambil ngentot' kemarin siang yang mereka tidak ikuti karena menjadi wasit. Tapi Eci kaget ketika dia merasakan ada Jejen di belakang tubuhnya, dengan ujung kontolnya sudah menggesek lubang pantat mungilnya.
"Aaah kalian mau ngapaiiiin? Jangan sekarang pliiiss..." pinta Eci yang tahu apa yang akan mereka lakukan
"Lho, situ bukannya seneng di tusuk depan belakang?" tanya Jejen sambil tersenyum mengejek, yang langsung memasukkan batangnya dalam anus Eci sekali tusuk, diiringi jeritan membahana gadis itu.

Kembali ke Asep dan Irma. Walaupun gadis yang dientotnya menjerit-jerit minta ampun, Asep tetap tidak mengurangi temponya. Dia tidak peduli walaupun Irma mengalami multi-orgasme susul menyusul. Memek Irma yang sudah banjir bandang terus Asep bombardir. Bahkan ketika Asep merasa dirinya hendak ejakulasi lagi. Tusukan Asep semakin dalam, seolah-olah hendak menggaruk-garuk semua bagian dinding memek Irma, yang membuat gadis itu semakin semaput. Irma yang berada di awang-awang karena klimaksnya yang tak kunjung reda akhirnya menjerit seperti binatang liar saat Asep kembali menyembur rahimnya. Semprotan cairan kental Asep memicu orgasmenya yang entah kesekian kalinya, yang terdahsyat, dan sepertinya yang terakhir. Karena setelah jeritannya yang tadi, Irma tiba-tiba terdiam. Tubuhnya yang dipegang Asep lunglai, dan saat Asep melepas tubuhnya, Irma ambruk begitu saja.
"Aduh itu Mbak Irma kenapa?" Dinda yang dari tadi menonton khawatir melihat Irma tak sadarkan diri
"Tenang, itu cuman kecapean aja" jawab Asep
"Beneran? Kok aku kasian ya ngeliatnya"
"Iya, abis istirahat bentar pasti pulih lagi kok" Asep menunjuk Irma yang nafasnya mulai teratur
Dinda menghela nafas lega, lalu ujarnya "Asep, aku kok rada serem ya ngeliat Asep tadi"
"Wah, serem kenapa?"
"Abis Asep brutal banget sih maennya, gak nyangka hehehe...Selama ini kirain Asep orangnya pasif gitu"
Mendengar komentar Dinda, otak Asep langsung flashback. Pertama dengan Dinda, dia masih canggung. Sabtu pagi dengan Dinda, dia melakukannya dengan lembut. Kemudian pas lomba. Dan terakhir pas jadi timun. Benar juga kata Dita, justru Dinda yang belum pernah merasakan 'kebuasan' Asep.
"Yee situ gak tau aja. Emangnya sayah ini cuman bisa jadi timun doang?"
"Hahaha sori Sep, gak usah marah gitu atuh hahaha" Dinda tertawa renyah.

Keduanya menoleh begitu Dita dan Eci menjerit nikmat di tangan para pejantan mereka.
"Tapi tadi kayaknya gua mah emang kebawa suasana..."
"Iiya kali yaa...Eh tapi Sep"
"Apa?"
"Jadi..Itu timun masih ngaceng...Mau diterusin kan?" Dinda melirik Asep dengan pandangan nakal
Asep menyeringai lebar. Dalam hati dia bersorak gembira, rencananya 'menyingkirkan' Irma terlebih dahulu berhasil.
Dan sekarang, sampai waktunya pulang nanti dia bisa menikmati tubuh Dinda sendiri tanpa gangguan.

"Pastinyaaaa, sini gua liatin nih timun bisa apa"

Bersambung

#11 jolibee

jolibee

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 287 posts

Posted 26 January 2017 - 07:27 PM

Next donkk omm

#12 Cioe_pek_tong

Cioe_pek_tong

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 16 posts

Posted 26 January 2017 - 07:27 PM

Chapter 11: Akhir Dari Akhir Pekan

Hayu atuh kalo mau diterusin...
Pindah aja yuk, jangan di sini saran Asep sambil berdiri
Lho, kenapa emangnya?
Yah, biar tenang aja hehe
Dinda akhirnya ikut berdiri menuruti saran Asep. Sebenarnya tujuan Asep biar yang lain tidak ada yang mengganggu mereka. Percuma dong sudah susah payah membuat Irma tepar dalam gelombang birahi kalau tiba-tiba ada yang lain ikut nimbrung.
Kita nyari kamar aja yuk Asep memegang tangan Dinda dan mulai berjalan menjauhi yang lain
Di kamar atas aja yuk, kasurnya gede sama pemandangannya bagus usul Dinda
Wah boleh juga tuh
Asep tentu senang bisa membawa Dinda ke tempat yang paling jauh dari yang lain. Kecil kemungkinan ada yang mengganggu, dan suara-suara berisik mereka juga tak akan terlalu terdengar.
Di bawah tangga, Asep melepas genggaman tangannya dan mempersilakan Dinda naik duluan.
Lho, kenapa gak bareng aja atuh Sep?
Oh, kan katanya ledis perss
Ladies first Asep, ah aneh-aneh aja biarpun bingung tapi Dinda mulai menaiki anak tangga.
Diikuti Asep yang sengaja menyusul dibelakang agar dia bisa menikmati pemandangan indah di depan matanya. Tubuh bugil Dinda Fitriani Anjani yang langsing tapi melekuk sempurna di pinggul. Kulitnya yang tak seputih Dita tapi memancarkan cahaya khas gadis tanah Pasundan. Dan pantatnya yang tidak terlalu besar tapi begitu padat, bulat dan menggiurkan bergoyang-goyang seiring langkah Dinda menaiki tangga. Asep menelan ludah, selama beberapa jam ke depan, tubuh itu miliknya seorang untuk dinikmati sepuas hati. Tapi bagaimana dengan hatinya?

Setibanya di kamar atas, Asep mendapati pintu dan jendela yang mengarah ke balkon sudah terbuka sehingga cahaya matahari bisa masuk menyinari kamar itu.
Liat, kasurnya gede khan? tunjuk Dinda ke arah ranjang
Wah iya, gede banget
Aku sampe bisa maen kejar-kejaran sama si Reza di atas kasur itu lho kemaren
Oh, kemaren maennya di sini?
Iiya, aku dikeroyok sama tiga orang barbar itu sampe lemes haha jawab Dinda dengan ringan
Owhhh... Asep sudah tidak terbebani cemburu lagi sekarang
Kalo Asep? Beneran sampe tiga orang dibikin lemes gitu? Aku denger dari Mbak Irma...
Iya dong, situ kagak percaya aja ah
Hahaha, iiya Sep iyaaa, abis ngeliat Mbak Irma tepar tadi aku jadi percaya deh
Dinda menghempaskan tubuhnya di atas kasur, dengan tersenyum nakal Dinda mengangkangkan kakinya, memperlihatkan belahan kewanitaanya yang sudah basah merekah.
Ayo Sep, pinjem timunnya lagi dong, hehee
Siaaaap! Asep melompat ke ranjang, langsung menindih Dinda dan tanpa ragu langsung mencumbui gadis itu. Inilah buah kesabarannya selama ini. Tak masalah Dinda hanya menganggapnya sebatas timun, ataupun hanya satu dari empat lelaki pemuas para gadis haus seks ini. Tak mengapa. Tak peduli Dinda pacarnya siapa, yang penting seluruh tubuh mulus gadis berjilbab itu adalah miliknya sekarang. Toh kenikmatan yang akan Asep rasakan tak akan berkurang. Mungkin lebih, bila mengingat pengalamannya dengan tiga gadis lain.

Mmmmhhh... Dinda melenguh pelan ketika Asep menyusu pada puting susunya. Terasa asin karena keringat buat Asep, tapi sensasi hangat dan lembut dari buah dada Dinda yang sekal dan padat terasa sangat nyaman di bibirnya. Buat Dinda, gesekan ujung syaraf di puting susunya dengan bibir Asep membuai dirinya, apalagi dengan tangan Asep yang kelayapan di tubuhnya. Tubuh gadis asli tanah Sunda itu menggeliat-geliat, erangan dan lenguhannya semakin erotis. Tapi yang sangat diinginkan Dinda sekarang bukan itu.
Aaah Aseeeppp...Mana timunnyaaaa!? racau Dinda masih sambil menggeliat-geliat
Hmmm? Kangen sama timun ini? goda Asep yang sengaja menggesekkan kontolnya ke bibir memek Dinda
Nnngghhhh Aseeepp...Masukiiinnnn... lenguh Dinda manja sambil menatap sayu ke mata Asep
Masukin apah ke manah?
Masukin kontolnya ke memek aku, Aseeepppp rengek Dinda
Kalo dimasukin, emang kenapa? Asep terus menggoda Dinda
Yah jadi enaaakk atuuhh...Ayo dong Sep iiih Dinda yang tak dipenuhi keinginannya merengut seperti anak kecil.
Iyaa, sabar atuh jawab Asep, yang kemudian pelan-pelan memasukkan kepala kontolnya menguakkan bibir memek Dinda
Mmmmhhh... Dinda melenguh nikmat sambil terpejam...Tapi sesaat kemudian dia membuka matanya
Lho Seeeep...Kok Cuma segitu? tanyanya yang hanya dibalas cengengesan Asep
Dengan nakal Asep hanya memasukkan seperempat kontolnya, lalu digoyang yang membuat Dinda frustrasi.
Aaaahhhh Asep sebel iiihh! teriaknya kesal

Asep yang kemarin belum tentu bisa seperti ini. Terlalu memikirkan perasaan Dinda membuatnya selalu takut membuat Dinda marah atau kecewa. Tapi sekarang, dengan cueknya Asep memainkan perasaan Dinda yang sudah blingsatan minta dikontoli.
Katanya pengen dimasukin, nih udah masuk goda Asep sambil menyundul-nyundul dangkal
Aah jangan cuman segitu atuhhh!
Segimana dong?
Semuanyaaah! Sampe mentok Aseeppp!
Siaappp!
Nghhhaaaaaaakkkhhh! Dinda mendongak ketika batang Asep menembus lubang nikmatnya dalam sekali sentak, sampai mentok ke pangkalnya.
Dinda lalu mengerang semakin keras ketika Asep mulai menusuk-nusuk dengan panjang dan dalam. Temponya semula lambat, tapi teratur. Dinda dan Asep saling menatap penuh nafsu. Saat Asep asyik menggenjotnya, Dinda dengan nakal mencubit puting Asep, yang membuat Asep balas menusuk sampai mentok. Dinda tertawa riang sambil mendesah menikmati perlakuan Asep. Tak lama kemudian Asep mengangkangkan kaki Dinda sehingga seperti membentuk huruf M, membuat memek gadis itu semakin merekah. Asep menegakkan punggungnya lalu memegangi kaki Dinda yang ia renggangkan. Persiapan selesai, Asep mulai menggenjot memek Dinda dengan kecepatan tinggi yang membuat gadis itu menjerit-jerit nikmat. Pinggul Asep tanpa lelah bergerak maju mundur bagai piston memompa lubang surgawi yang sudah semakin banjir itu. Tubuh Dinda tersentak-sentak dengan kuat, payudaranya yang tidak terlalu montok itu pun sampai bergoyang-goyang dengan nakal.
Setelah beberapa lama Dinda yang semakin kelabakan menggeliat liar, tangannya meremas seprai sampai kusut, jeritannya semakin kencang hingga akhirnya punggungnya melengkung diiringi pekikan nikmat. Asep menghentikan genjotannya, membiarkan tubuh gadis itu mengejang dan tersentak-sentak menikmati orgasmenya.
Enak? tanya Asep setelah Dinda berhenti bergerak
Banget... jawab Dinda lirih sambil perlahan membuka matanya Asep blom keluar?
Belum
Keluarin atuh, ntar gak bisa turun lho...
Iya, pastinya lah...Tapi nungguin Dinda keluar dulu, yah 3 atao 5 kali lagi...
Hah? Ap- Aaaahhhhh Aseepppp!

Dinda menjerit ketika Asep tanpa peringatan mulai menggenjotnya kembali. Tanpa pemanasan, langsung dengan TPM (tusukan per menit) tinggi. Tak tahan melihat dua benda kenyal milik Dinda memantul-mantul liar, Asep mengulurkan tangannya dan meremas sepasang pabrik susu Dinda itu. Perlakuan Asep itu membuat erangan nikmat Dinda semakin kencang. Cukup lama Asep menyetubuhi Dinda rekan kerjanya dengan posisi itu, dan selama itu pula keduanya dibuai kenikmatan birahi tanpa henti. Sesuai janjinya Asep memberi gadis itu tiga kali orgasme susul menyusul. Dinda memohon ampun tapi Asep yang sudah on tak peduli. Rengekan Dinda malah menambah birahinya yang membuat tusukannya semakin keras dan dalam, dan ujungnya membuat Dinda tambah mengerang nikmat merangsang telinga Asep. Tubuh Dinda terasa sangat nikmat bagi Asep, hingga akhirnya dia tak tahan lagi. Walaupun sudah berkali-kali tapi tetap, ejakulasinya terasa sangat nikmat. Seluruh otot di tubuhnya mengeras ketika cairan kental dan hangat menyemprot dengan kecepatan tinggi. Semburan itu menyiram rahim Dinda, membuat gadis itu yang sudah di ujung klimaks kembali ke puncak untuk keempat kalinya.
Aaahhhh! Asep nyem-aaahh-burr yaaaaggghhhhhh! pekiknya dengan mata terpejam erat
Guhhh! Asep hanya menggeram
Tangan Asep semakin keras mencengkram buah dada Dinda. Dirasakannya puting gadis itu seperti tambah memanjang dan mengeras saja, sementara bukit susu itu sendiri semakin hangat terasa.
Nghhh! erang Dinda lirih ketika Asep mencabut kontolnya
Tanpa disuruh Dinda mengulum kontol Asep untuk membersihkannya ketika Asep menyodorkan kontol yang masih keras itu ke mulutnya.

Mmmpffhhh...Puaahh! Ih masih keras ajjaa...
Iyalah, hayu lanjut Asep menarik tangan Dinda hingga mereka berdiri
Ahhh Aseeeppp...Aku masih lemeeesss...Mau ke mana sihhhh? rengek Dinda
Asep menuntun Dinda ke balkon Mumpung lagi cerah nih, katanya berjemur itu sehat hehe katanya
Iih dasar, bilang aja pengen ngentotin aku diluar
Dan kedua tubuh telanjang mereka pun sekarang bermandikan cahaya matahari pagi. Dinda berpegangan ke railing balkon yang tingginya hanya seperutnya. Karena terbuat dari besi yang tipis dan jarang, tubuh indah Dinda pun terekspos seluruhnya.
Pemandangannya indah yaaa ujar Dinda sambil memandang sekeliling
Iya, keliatan jalannya dari sini timpal Asep sambil memeluk Dinda dari belakang dan menggerayangi tubuh gadis itu
Hmmmhhh keliatan gak yahhh kittaaahh dari situuhhh racau Dinda merasakan puting sensitifnya dipilin-pilin jari Asep
Kalo ada yang lewat pasti keliatan kita nih, gimana dong? goda Asep
Ya udah kita dadahin ajjahh hehehe
Ih nakal banget nih cewek!
Aww! Dinda menjerit manja merasakan putingnya dicubit Asep Biarin...Biar nakal udah ada yang punya weeekk...Emangnya Asep? ledek Dinda sambil menoleh ke belakang dan menjulurkan lidahnya
Wah ngehina nih cewek! seru Asep pura-pura marah
Dinda hanya tertawa riang saat Asep menarik tubuhnya hingga sekarang posisi Dinda agak membungkuk dengan tangan berpegangan di railing. Dirasakannya ujung kontol Asep menggesek-gesek bibir memeknya.
Ehh tapi beneran Sep...Masa sih gak ada yang ditaksir?
Yah, nanya itu lagi
Jangan-jangan sama Mbak Dita ya? Kayaknya Asep akrab banget deh sama Mbak Dita...

DEG! Asep terpaku sesaat. Jangan sampai Dinda salah mengira dirinya menyukai Dita. Kan ribet jadinya, pikir Asep. Untungnya kegalauan Asep hanya berlangsung sebentar, karena Dinda langsung menoleh dan menertawakan ekspresi bengong Asep.
Haha serius amat Sep? Jangan ge-er ahh, aku cuma bercanda kaleee ejeknya
Mbak Dita emang baek ke semua orang...Tapi kebagusan ah dia mah buat Asep tambah Dinda
Idih, nih cewek ngehina terus yah dari tadi, nih rasain! Asep menghukum Dinda dengan langsung menjebloskan kontolnya ke dalam memek Dinda tanpa peringatan.
Awwhhh! Ahhh marahh nih yeee...Sampe maen coblos gituhhh...Ahhh! desah Dinda
Abis kepo banget ih kamu mah balas Asep menjulurkan tangannya meraih payudara Dinda yang menggelantung
Kalo sama akuhh? tanya Dinda yang mulai digenjot Asep
DEG! Pertanyaan itu terlalu tiba-tiba buat Asep. Masih sambil menggoyang pinggulnya dia berpikir, apa masih penting buat dia menyatakan perasaannya kalau sudah seintim ini? Bila kontolnya sudah berada dalam lubang nikmat gadis yang dia sukai? Mau sedekat apalagi? Toh pastinya bakal ditolak.
Tapi, Asep pikir, daripada disimpan terus, mending dikeluarkan.
Iya sih kalo situ belom punya cowok mah gua tembak juga dah ujar Asep setenang dan se-cool mungkin.
Tapi boro-boro terdiam dan tersipu sesaat seperti Dita, Dinda malah langsung tertawa dengan ringan seolah pernyataan Asep tadi itu tak ada artinya
Hahahaaaa Asep kayak yang lain aja
Hah!? Yang lain?
Iiyaahh...Ahhh...Tiga orang yang di bawah tuhh juga bilang gituhh ke akuhh..Aduhh genjot terus Seeep...
Sialan, batin Asep. Ternyata Jejen, Reza, dan Ari juga...
Ah tapi mereka mah cuman maen-maen, cuman ngincer badan aku doang...Pas aku kasih seneng dah mereka haha
Asep tak tahu harus berkata apa. Dia bingung, jadi sebenarnya yang sudah tidak bisa merasakan cinta itu Dinda apa Dita? Kok Dita lebih pengertian dengan perasaan Asep sementara Dinda tidak menganggap serius dengan perasaan laki-laki terhadapnya.

Wah, kalo gua mah gak pernah maen-maen soal gituan Asep menambahkan
Iiya Sep, keliatan kok Asep orangnya kayak gimana...Makanya Asep aku rekomendasiin masuk grup ini
Asep manggut-manggut, benar juga kata Dita. Dan benar juga, kalau Dinda mempercayai Asep untuk masuk grup ini dan membiarkan Asep melihat sisi liar Dinda berarti..
Tapi maaf ya Sep, Asep bukan tipe aku, jadi...Kalopun aku masih jomblo juga aku tolak...Hehe, maaf ya Sep, jangan berhentiin genjotannya yaaa
Ini adalah penolakan teraneh sepanjang kisah cinta Asep. Ditolak oleh seseorang yang sedang dia setubuhi. Ditolak tapi yang bersangkutan minta terus digenjot. Dan berkat situasi absurd dan konseling Dita tadi pagi, Asep tidak terlalu galau. Memang dia sudah yakin dia bakal ditolak.
Ah gak papa, santai aja...Biar ditolak kan masih bisa ngentotin situ heheh
Mmhhh...Hehe jangan sedih ya Sep...Biar Asep seneng kita anggap si Anto ada di sini yuk, lagi ngeliatin kita
Eh? Maksudnya?
Dinda tidak menjawab, gadis itu malah berteriak ke arah halaman di bawah
Ahh Antooo! Si Asep nakal nih nembak akuhh! Tapi...Ahh...Aku tolak kok...Cuma...Cuman kontolnya masih ngejeblos di memek akuuuu! teriak Dinda membuat Asep bingung
Ayo Sep, bikin si Anto cemburu ujar Dinda, hingga akhirnya Asep mengerti dengan ide aneh Dinda
Sori Broo! Gua pinjem memek cewek loo yaa, enak banget soalnya!
Dinda tertawa diantara desahannya, lalu melanjutkan godaannya pada pacarnya di bawah
Ahh maaf ya sayang...Kontolnya si Asep enakk bangetss! Ayo Sep yang kerashhh..Aku pengen keluar nihh!
Owh Broo! Memek cewek lo legit bangeeettt! seru Asep sambil mempercepat pompaannya
Ah sayaaang susu aku diremes-remes sama si Asep nihhh...Ahhh aku mau keluar nihh Yaaaankk!

Merasakan Dinda hendak orgasme, Asep semakin mempergencar genjontannya. Mereka berdua mengerang tanpa malu-malu di tempat terbuka itu. Sinar matahari membuat bulir-bulir keringat di tubuh mereka bercahaya. Hingga akhirnya Dinda memekik dengan tubuh tersentak-sentak.
Aaahhh! Keluar Yaaankk! Aku...Ahhh...Sama kontol si Aseeepppphhh!
Asep menikmati cengkraman dinding memek Dinda, dibiarkannya gadis itu menikmati klimaksnya sebelum dia mulai menggenjotnya kembali.
Ngghhh sayaang...Si Asep nakal niihhh...Aku baru aja keluar udah digenjot lagiii...Huuu
Bro, sori yaa...Cewek lo memeknya gua pinjem lagi, nanggung nih belom keluar balas Asep
Mereka bermain gila seperti itu untuk beberapa lama, sepertinya membayangkan Anto berada di situ dan melihat persetubuhan mereka membuat keduanya bergairah. Dinda berkali-kali orgasme di tangan Asep, sebelum Asep kembali siap berejakulasi untuk kesekian kalinya.
Aaahhh Brooo...Sori, gua mau muncratin memek cewek looo! teriak Asep pada Anto yang dia bayangkan ada di sana
Nnnnghhhh ahhhh Sayaaaang! Tolongin akuuu! Aku mau dicrot di dalem sama Aseeeppp! teriak Dinda tak kalah heboh
Gua hamilin cewek lo! Gua hamilin nihh!
Aaahhh aku mau dihamilin sayaaaang...Ahhhh keluar lagihhhh! pekik Dinda
CROT! CROT! CROT!
Tubuh keduanya gemetar seperti tersengat listrik. Rasa nikmat yang luar biasa membuat keduanya merinding seperti kedinginan, padahal sinar mentari yang semakin panas menyinari tubuh berpeluh mereka. Setelah rasa itu reda, keduanya terduduk lemas di balkon dengan nafas terengah-engah.
Ahh gila banget tadi... ujar Asep
Iya, ngebayangin si Anto ada di situ ngeliatin kita hahahaa...
Wew, pasti udah dibunuh dah gua
Aku juga pasti udah dipecat jadi pacar
Asep merasa plong. Rasanya lega sekali, dan itu bukan karena hanya berkat ejakulasi. Seperti peju, perasaan memang lebih enak dikeluarkan daripada disimpan. Apapun resikonya nanti, keluarin ajah! Itulah pelajaran yang Asep ambil hari ini.

Sekarang tinggal menghabiskan waktu tersisa sampai saatnya pulang nanti sore. Menenangkan burungnya Asep yang didoping jamunya Jejen. Dan Asep teringat sesuatu yang belum pernah dicobanya. Ini sudah hari terakhir, kesempatan berikutnya mungkin baru datang beberapa minggu lagi.
Eh Dinda...Pengen nyoba sesuatu nih, kalo boleh sih... ujar Asep hati-hati
Nyoba apaan Sep? Bilang ajja
Umm, itu...Pengen nyoba, aduh apa tuh namanya yang ke lobang pantat itu
Oh, anal? Mmm sok aja kalo mau nyoba mah jawab Dinda dengan tenang
Asep agak kaget juga melihat reaksi Dinda. Seolah-olah hal itu sudah biasa bagi gadis itu.
Beneran? Gak bakal sakit nih?
Yaa pastinya rada sakit sih awalnya, tapi nanti enak kok. Asep gak usah khawatir, kita mah selalu siap kok
Selalu siap?
Iiya kebiasaan Mas Jejen maen colok di pantat gak bilang-bilang hehe, jadi kita selalu mastiin di situ bersih
Sialan si Jejen, rutuk Asep dalam hati. Muka pantat hobinya nyolok pantat juga.
Ya udah atuh hayu, gini aja yah posisinya biar gampang ujar Dinda santai sambil menungging dengan tubuhnya bertumpu di siku dan lutut, tak peduli di atas lantai ubin balkon yang dingin.
Asep menelan ludah melihat lubang pantat Dinda yang terekspos jelas di depan matanya, tampak kembang kempis mengundang untuk dicoblos. Dengan gugup Asep memposisikan tubuhnya, tangannya mencengkram pantat bulat Dinda.
Ahhh ayo Sep, masukin...Tapi pelan-pelan yaahh desah Dinda lirih
Asep menarik nafas sebelum mulai mendorong kontolnya masuk ke lubang anus Dinda. Untungnya masih ada sisa cairan cinta Dinda dan pejunya sendiri melumuri kontol Asep yang berfungsi sebagai pelumas. Tapi Asep tetap berhati-hati dan menusuk dengan lebih pelan dari biasanya.

Aduduh! Dinda meringis
Sakit yah?
Ah, dikit sih. Terusin aja Sep, mumpung kontolnya masih licin gitu
Diiringi erangan dan desisan Dinda, Asep pun akhirnya berhasil memasukkan seluruh batangnya dalam lubang pantat Dinda. Rasanya nikmat sekali, tapi nikmatnya benar-benar beda. Anus Dinda begitu sempit dan peret.
Ngghhh Sayaaaang...Si Asep nakal lagi niiih...Aku disodomi coba sama diaa lenguh Dinda
Lah, pikir Asep, ternyata Dinda masih ingin melanjutkan skenario gila yang tadi. Ya sudah, Asep ikut saja.
Owwhhh...Gua pinjem pantat cewek lo sekarang ya!
Dinda pun tertawa-tawa diantara erangannya. Walaupun hanya berdiam saja sudah terasa dicengkram, Asep mulai menggerakkan kontolnya dengan hati-hati.
Kalo sakit bilang aja yaa...Ughhh perrreeet bangettt!
Gak papa Seepppph...Ntar juga aku biasa Ahhh!
Dan memang lama-lama anus Dinda pun terbiasa, rasa sakitnya hilang tergantikan rasa nikmat yang berbeda. Memeknya yang kosong merekah kembang kempis mengalirkan cairan cinta yang terus mengucur deras bersama dengan gumpalan sperma Asep yang tadi disemprot di sana. Tentu di posisi ini Asep tak bisa melihatnya dan karena penasaran, Asep mengulurkan tangannya melewati paha Dinda sebelum jarinya sampai di bibir memek Dinda.
Wiiiw, banjir banget lubang yang ini! serunya takjub
Dinda melenguh semakin kencang saat Asep merangsang memeknya Aaaahhh Sayaaang! Ini si Aseeppphh...Ahhh...Udah nyodomi akuhh...Mmmhhh..Masih maenin memek aku jugaahhh!

Jari-jari Asep terus mengocok memek Dinda dan menggesek-gesek kelentitnya sementara kontolnya terus memompa anus Dinda. Tak tahan dirangsang seperti itu Dinda pun mencapai puncak kenikmatannya tak lama kemudian.
Ahh a-aku...Ahh enakkk bangettt! Enakkk disodomi tuh Yaaannnggg...Maaf yaa aku blom pernah ngasihhh ke kamuhhh! pekiknya, masih membayangkan pacarnya ada di sana.
Asep merasakan memek Dinda menyemprotkan cairan bening dalam jumlah banyak. Tapi karena tanggung, Asep melanjutkan genjotannya membiarkan Dinda menggeliat-geliat keenakkan. Sensasinya benar-benar baru buat Asep, hingga tidak seperti sebelumnya Asep tidak yakin kapan dia akan ejakulasi lagi. Mendengar Dinda mengatakan dia tidak pernah memberi Anto kesempatan melakukan anal membuat Asep semakin bernafsu saja.
Sori yah bro, boolnya cewek lo gua cicipin duluan...Ughhh sempitnya!
CROT! Tanpa bisa ditahan Asep menyemburkan lendir kelelakiannya dalam anus Dinda. Dinda hanya tercekat sambil terpejam dengan mulut menengadah. Sementara lubangnya yang lain terus menyemprotkan cairan bening seperti selang bocor.
PLOP! Asep melepas kontolnya dan bersandar di railing balkon sambil mengatur nafas. Dinda masih saja menungging, dan Asep bisa melihat lubang pantatnya menganga lebar bekas dicolok Asep tadi.
Da..Oy Dinda panggil Asep
Kenapa Sep? jawab Dinda terengah-engah
Oh kirain pingsan
Hahahh...Dasarrrr...Bentar ya aku ngambil nafas dulu... balas Dinda dengan muka masih menempel di lantai
Gua ke WC dulu kalo gitu yah
Sok

Asep melangkahkan kakinya menembus kamar menuju kamar mandi atas persis di sebelah kamar mereka. Sayup-sayup suara jeritan wanita masih terdengar di bawah sana. Penasaran, Asep melongok ke bawah. Ternyata Irma sudah sadar dan sekarang sedang digarap oleh Jejen dengan gaya anjing. Entah di memek atau di anus Asep tak tahu. Dita sedang melayani kontol Ari dan Eci tampak sedang ditindih Reza. Mereka masih menjerit-jerit dengan liar seperti binatang, dan Asep merasa dirinya seperti pengunjung kebun binatang.
Meninggalkan mereka Asep masuk ke kamar mandi untuk mencuci kontolnya yang tadi mampir ke lubang pantat Dinda. Anal memang nikmat, tapi cukuplah sekali pikir Asep. Sampai waktunya pulang nanti dia ingin mengeksplorasi memek Dinda sepuasnya. Memikirkannya membuat Asep senyum-senyum sendiri hingga tiba-tiba ada yang membuka pintu.
Asep lagi ngapaiiin? tanya Dinda dengan tampang acak-acakan di pintu
Ohh...Nyuci si Timun kan abis masuk ke lobang yang itu, biar nanti gak kenapa-napa masuk ke lobang yang lain
Iiih Asep pengertian bangeettt Dinda melangkah dan memeluk Asep dari samping, membuat pria itu ge-er.
Sini aku ajja yang bersihin ujar Dinda sambil berlutut
Oh gak usah, tinggal disiram aja kok
iih, aku udah rela bantuin juga tukas Dinda sambil menyiram kontol Asep dengan segayung air sambil dikocok dengan tangan halusnya
Nah udah nih...
Itu apa maksudnya dikocok ya?

Dinda tidak menjawab, dia hanya memandang ke atas, menatap mata Asep sambil tersenyum nakal lalu HAP! Kontol Asep pun dilahap mulut mungil Dinda.
Ughhh... Asep melnguh nikmat merasakan lidah Dinda bergerak-gerak menyapu batangnya
Awspblmakwspwngnydrkmrwn guman Dinda tak jelas
Suara kecipak terdengar menggema di dalam kamar mandi. Kepala Dinda yang masih terbungkus jilbab hitam beregerak maju mundur dengan cepat. Pipinya yang biasanya agak tembem tampak kempot menghisap kontol Asep kuat-kuat. Asep hanya bisa menengadah dan terpejam menikmatinya.
Eh? Asep bingung ketika Dinda memegang kedua tangannya, lalu mengarahkan tangan Asep untuk memegang kepala Dinda.
Gwrknkplwakwpkwtangnwnyw gumam Dinda sambil menatap ke atas
Asep masih belum mengerti, jadi Dinda kembali memegang tangan Asep di kepalanya, dan mengajarkan Asep untuk menggunakan tangannya untuk menggerakkan kepala gadis itu. Asep akhirmya mengerti maunya Dinda, sesaat dia ragu tapi kemudian dia pikir toh memang ini maunya gadis itu. Asep pun mencengkram kepala Dinda, dan digerakkannya kepala berjilbab itu maju mundur seperti boneka. Tanpa sadar pinggulnya ikut bergerak ke arah berlawanan, membuat kontol Asep semakin terhujam dalam-dalam ke mulut mungil Dinda.
Hnggghhrkkk! Dinda memekik tertahan dirinya di-facefuck oleh Asep
Sensasi ini benar-benar luar biasa bagi Asep, dan dia tidak ingin berlama-lama takut Dinda kehabisan nafas. Hingga kontol Asep pun meledak lagi, memuntahkan cairan kental dalam mulut Dinda.

Ugh! Asep menggeram, tanpa sadar dirinya menahan kepala Dinda hingga tak bergerak.
Barulah setelah semprotannya habis, Asep melepas kepala Dinda
Puahhh! Dinda menarik mulutnya hingga kontol Asep lepas.
Dan dalam satu tarikan nafas, GULP! Dinda menelan semua cairan yang bersarang di mulut mungilnya.
Hahhh...Hah...Hah...Apaan tuh tadi Asep bersandar di tembok sambil mengatur nafas
Enak kan Sep merkosa mulut aku? tanya Dinda yang sedang mengelap bibirnya dengan punggung tangan
Gila, brutal banget...Situ gak apa-apa emang?
Yaa aku susah nafas sih...Tapi rasanya gimana gitu diperkosa di mulut hahaha ujar Dinda tenang
Wew...Udah yuk balik ke kamar Asep membimbing Dinda berdiri
Idih, masih mau lanjut?
Iyalah, sampai nih si Timun lemes, kenapa emang? Bosen? Asep menunjuk selangkangannya
Nggak lah Sep, lagian Asep belum...
Belum apa?
Belum bikin aku keenakkan sampe pingsan kayak Mbak Irma tadi goda Dinda sambil menatap Asep dengan nakal
Wah nantangin terus nih cewek, sini gua entotin sampe gak bisa jalan! balas Asep sambil menarik tangan Dinda yang tertawa riang keluar dari kamar mandi.

Keduanya kembali ke kamar dan menghempaskan tubuh mereka di atas kasur. Mereka berciuman dengan ganas, tangan keduanya kelayapan menggerayangi tubuh lawan mainnya. Keringat mereka semakin mengucur deras dan bercampur satu sama lain saat tubuh mereka bergesekan. Bibir indah Dinda habis Asep ciumi, buah dada Dinda terus Asep remasi, dan puting coklat muda milik Dinda tak hentinya dipilin, dicunit, digesek, dijilat, dan disedot-sedot Asep. Tanpa jeda Asep kembali memasukkan si Timun dalam lubang memek Dinda yang banjir total. Tubuh Dinda digenjotnya tanpa kenal lelah, membuat gadis itu mencapai puncak dengan mudahnya. Asep terus dan terus memompa kontolnya sambil merangsang semua titik sensitif Dinda yang dia bisa. Dinda membalas dengan suara dan ekspresi erotis yang menambah birahi Asep. Dinda orgasme tiga kali lagi sebelum kontolnya kembali menyiram rahim Dinda. Tanpa istirahat, tanpa dicabut Asep memiringkan tubuh Dinda kemudian kembali menggenjotnya dengan brutal. Dinda yang terhentak-hentak hanya pasrah, bersiap menyambut klimaks yang pasti akan datang susul menyusul.
Entah berapa jam keduanya bercinta dengan ganas seperti itu. Dinda seperti ikan asin yang dijemur, tubuhnya dibolak-balik Asep sesuka hati. Mencoba berbagai posisi dari yang biasa ke yang aneh-aneh. Kontol Asep nyaris tak pernah lepas dari memeknya, walaupun sudah muncrat berkali-kali. Dinda merasa memeknya terisi penuh oleh benih Asep, sampai-sampai sebagian meluber keluar saat kontol Asep menggempur lubang itu dengan brutal. Dinda sudah tak menghitung lagi berapa kali Asep crot, apalagi orgasmenya sendiri. Keduanya sudah setengah sadar, tubuh mereka seolah-olah hanya digerakkan murni oleh nafsu. Pinggul Asep seperti robot yang diprogram terpisah dari otaknya, terus mengobok-obok memek Dinda tanpa diperintah. Begitu juga pinggul Dinda bila gilirannya tiba untuk posisi di atas tubuh Asep.

Hingga akhirnya ketika matahari mulai condong ke barat, Asep merasakan timunnya melembek setelah ejakulasinya yang terakhir. Dengan lemas, Asep menarik senjatanya keluar dari lubang Dinda yang sudah tak berdaya. Asep menghempaskan tubuhnya di samping Dinda yang tadi ia tindih dan langsung terlelap. Sama dengan Dinda yang tergeletak begitu saja dengan kaki mengangkang, memperlihatkan cairan kental mengalir keluar dari memeknya yang menganga.

Mereka tak bisa beristirahat lama-lama sayangnya, tapi untung cukup untuk memulihkan sebagian tenaga mereka. Dita yang sudah rapi dan berpakaian membangunkan mereka.
Oh pada di sini toh...Dindaaa, Mas Aseeepp, ini udah ampir jam 4 lho, ayooo! serunya
Mmmhh...Ah Mbak Dita...Udah sore ya Mbak gumam Dinda sambil mengucek mata dan menutup kakinya yang masih mengangkang
Iiyaa Dinda ayo mandi terus kita siap-siap...Mas Asep juga
Dinda bangkit, sepertinya dia yakin tenaganya sudah pulih. Tapi ketika dia berdiri, kakinya terasa lemas. Dengan terhuyung Dinda mencoba berjalan walau sulit.
Aduh kenapa nih kaki aku... tanyanya bingung sambil terus mencoba melangkah keluar kamar
Dinda hati-hati, ntar jatuh di tangganya saran Dita khawatir melihat Dinda sempoyongan
Gak papa Mbak, udah baikan kok seru Dinda
Setelah Dinda keluar dari kamar dan menghilang dari pandangan, Dita menoleh menatap Asep yang hanya cengar-cengir
Itu anak orang diapain aja sampe gak bisa jalan gitu? tanya Dita
Ah cuman maen-maen sama timun doang kok dia mah
Ih serius Mas Asep! Jadi gimana tadi udah clear belom sama Dinda? tanya Dita dengan mata berbinar
Udah Mbak, lega banget deh rasanya
Hmmm, lega karena pejunya keluar semua atau karena unek-uneknya keluar semua?
Dua-duanya sih hehe
Dita tersenyum Bagus deh kalo gitu, ayo Mas Asep cepet bangun katanya sambil melangkah keluar kamar
Oh iya ujar Dita tiba-tiba saat sampai di dekat pintu
Kenapa Mbak?
Umm...Mas Asep kalo masih mau...Umm, curhat sama aku kapan aja boleh kok
Asep melihat pipi Dita sekilas memerah saat mengucapkan kalimatnya tadi
Kalo mencurahkan yang kentel-kentel sama Mbak juga boleh kan? godanya
Dita hanya tertawa mendengarnya Oh gini ya Mas Asep ternyata kalo gak galau, gombalnya ngalahin Mas Reza haha sebelum menghilang di balik pintu

Sebelum pulang mereka membersihkan villa itu terlebih dahulu. Irma hanya ingin villa milik keluarganya bebas dari sisa-sisa pesta seks mereka. Untung tak ada sampah mencurigakan seperti kondom bekas misalnya. Yang penting mainan seks Reza tak ketinggalan, lantai bersih dari ceceran sperma dan cairan cinta, dan seprai kamar atas hendak dibawa Irma ke laundry. Untuk karpet, mereka hanya bisa berharap tak ada yang curiga dengan bercak-bercak yang mereka tinggalkan. Para cowok tak protes harus bersih-bersih dan merapikan villa, karena para gadis ikut membantu. Kecuali Eci yang terduduk lemas di kursi dengan tatapan kosong.
Sep, lo ama si Dinda ngilang ke mana? tanya Reza
Ke kamar atas
Oh, tempat kita ngeroyok si Dinda bertiga kemarin ya timpal Ari
Ya kalo gitu emang pas jatah lo Sep
Ho-oh. Eh kalian gimana? Kayaknya si Mbak Eci sampe lemes gitu
Ari dan Reza tersenyum sombong Abis dia sama kita-kita
Betul, pasti gak akan berani lagi nyinyir sama kita Reza menepuk dada
Yah, bagus deh kalo gitu timpal Asep cuek

Tibalah waktunya pulang dan berpisah. Para gadis menumpang mobil Irma, yang mengeluh pantatnya pegal disodomi Jejen tadi. Dita tampak biasa-biasa saja. Dinda tetap ceria seperti biasa, walaupun kakinya masih terasa lemas. Sementara Eci tak seperti biasanya irit bicara. Para cowok mengendarai motor masing-masing. Semuanya sukses menjinakkan burung mereka yang didoping atas perintah sewenang-wenang Eci. Mereka pulang dengan wajah senang dan puas. Walaupun lemas.
Asep yang terjebak macet di perjalanan ke rumahnya mendapati HPnya di saku bergetar. Ternyata BBM dari Dinda.

D: Eh Sep, sori aku lupa bilang makasih buat timunnya haha
A: Ah tenang aja, kapan pun butuh gua pinjemin nih
D: Iiya iya, tapi gratis yaaa hehe
D: Oh iya
D: Makasih juga buat Asep yang udah ngeramein pesta kemaren, jauuuh lebih seru deh dari yang udah-udah
A: Masa?
A: Kan Dinda yang ngerekomendasiin gua, jadi makasih juga yah
D: Hehe. Sama2 ya, anggota baru
A: Okeeh, salam buat si Anto yah
Asep memasukkan HPnya kembali dalam saku sambil tersenyum. Inilah yang terbaik, pikir Asep. Entah kapan pesta berikutnya akan ada, tapi yang penting Asep sudah punya kenangan indah. Galau di hatinya pun hilang sudah. Pesta di akhir pekan yang benar-benar luar biasa!

TAMAT

#13 Cioe_pek_tong

Cioe_pek_tong

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 16 posts

Posted 26 January 2017 - 07:29 PM

EPILOG

Dinda

Hari senin setelah pesta itu. Di lorong kantor Dinda menyambut pacarnya Anto, yang membawa satu kantung plastik ukuran besar.
Tadi malem nyampe ke sini jam berapa? Kok gak ngabarin? tanyanya sambil tersenyum manis
Tengah malem Yang, takutnya ngebangunin kamu...Nih jawab Anto sambil memberikan kantung plastik yang dibawanya.
Asiiik oleh-oleh hehehehe
Bagiin sama yang lain ya, ama gengnya si Jejen juga
Hah, pasti abis sama mereka ini mah
Saat Dinda asyik memeriksa isi bawaan Anto, pria itu berbisik di telinga Dinda
Yang...Ntar malem aku ke kosan kamu yah
Hmm? Kenapa emang? Baru hari senin jawab Dinda cuek
Ih, ari kamu mah. Udah manasin aku pake timun masih aja gak ngerti
Oooohhh, gak tahan nih yeee ledek Dinda sambil tertawa
Sssttt jangan keras-keras ah...Boleh ya? mohon Anto
Iiya, dateng aja napa, kayak bakal diusir aja
Anto bersorak gembira, lalu setelahnya pacar Dinda itu pamit untuk kembali bekerja.

Dinda yang ditinggal sendiri menyandarkan tubuhnya ke dinding. Perlahan gadis berjilbab itu meraba selangkangannya. Membayangkan nanti malam dia akan bercinta dengan Anto membuat cairan cintanya mengalir. Tapi rasanya ada sesuatu yang kurang. Pesta gila kemarin telah mengubah Dinda. Memang bukan pesta yang pertama, tapi sejak Asep bergabung dan menyeimbangkan jumlah laki-laki dan perempuan di grup, pesta itu jadi jauh lebih seru. Banyak pengalaman seksual baru yang membuka matanya dan juga membangkitkan sisi binalnya. Dan Asep sendiri, ternyata bisa juga membuatnya takluk. Tak salah Dinda merekomendasikannya. Kenangan pesta kemarin begitu berkesan buat Dinda, dia jadi tidak yakin apa dia bisa menjalani hari-harinya seperti biasa.

Aahh...Kayaknya aku gak bakalan puas deh kalo sama si Anto aja gumam Dinda sambil menghela nafas.

Eci

Beberapa hari setelah pesta kemarin. Di kantor, tepatnya di gudang dokumen yang terpencil dari ruangan lain, tiga manusia sedang bermandi peluh. Bukan karena hanya ruangan itu gerah tanpa pendingin. Tapi karena mereka sedang berhimpitan. Eci dijepit Ari di depan dengan Jejen di belakang. Ketiganya telanjang bulat, dan bisa ditebak apa yang sedang mereka lakukan.
Aaahh udahh ahh kaliaaan...Ini di kantooor erang Eci lirih
Tenang Mbaaakk...Kuncinya kita yang pegang kok! jawab Ari sambil terus menggenjot memek Eci
Aahhh...Tapi-tapi khan...Ini jam ker- Ahhhh! Eci menjerit tertahan ketika Jejen menghentakkan kontolnya kuat-kuat dalam lubang anus Eci
Gak bakalan ada yang curiga lah, tenang weh atuh ujar Jejen cuek
Ya, keduanya sudah ketagihan men-DP Eci. Bukan hanya untuk melampiaskan birahi, mereka juga senang membuat Eci yang biasanya galak dan cerewet itu merengek minta ampun dalam jepitan mereka. Malah semakin bete dan galak Eci, semakin bernafsu mereka. Eci tak bisa melawan, karena perlawanannya hanya menambah bensin ke api.
Eh Mbak, peraturannya yang itu direvisi dong
Mmhh...Peraturan yang manahh?
Itu yang ngelarang kita maen sama cewek-cewek di luar pesta
Ahh, kalian udah ngelanggar jugaaa...Percum- Ahhhh! Eci menggelepar dalam jepitan mereka
Jadi gak apa apa ya kita giniin Mbak tiap hari?
H-hhaahh? Tiap hari? Eci membelalak mendengarnya
Iye, siapin badan aja ya Mbak jawab Ari dengan santainya
Urang nyieun jamu dosis dobel isukan! seru Jejen
Bener Jen! Sekalian minjem vibratornya si Reza juga yuk! timpal Ari

Eci langsung lemas mendengarnya. Dia hanya terkulai pasrah, bagai daging dalam sandwich di antara jepitan dua pria yang menggarap dua lubangnya tanpa ampun.
Ah mampus deh gua kalo kayak gini terus... batin Eci sebelum tubuh mungilnya gemetar karena orgasme untuk kesekian kalinya.
Tapi...Tapi enak juga sih...Ah bodo amat lah...

Irma

Hari sabtu sore, seminggu setelah pesta kemarin.
Irma menghempaskan tubuhnya ke kasur dengan kesal. Gadis bertubuh tinggi semampai itu mengumpat-umpat sendiri melampiaskan kekesalannya. Betapa tidak, rencananya menghabiskan malam minggu berdua dengan pacarnya gagal total. Ketika mereka bertemu, mereka malah bertengkar hebat karena masalah sepele. Hingga Irma meninggalkan pacarnya dan pulang begitu saja. Di rumah, dia kembali bertengkar dengan ibunya yang tidak menyetujui hubungan Irma dengan pacarnya yang sekarang. Jadilah Irma berguling-guling tak jelas di kasurnya sendiri. Setelah agak tenang Irma meraih HPnya, mencoba menghubungi sahabatnya Dita. Mungkin dia bisa diajak jalan.
Tuut...tuuut...tuut tapi Dita tak kunjung mengangkat teleponnya
Aaah si Dita lagi ngapain sih, jangan-jangan lagi ngentot tuh anak gerutunya kesal sambil menutup telepon.
Irma bengong beberapa saat hingga dia tersadar. Irma ingat, dia punya bentuk pelarian yang pasti bisa membuatnya melupakan bete-nya saat ini. Dan Irma yakin, pasti dia tidak akan ditolak.
Tuuut...
Halo Ir, ada apaan? tanya suara di seberang telepon
Hey Reza, lo lagi ngapain sekarang?
Errr, maen PS sama temen-temen sekampung
Ntar malem lo ada acara?
Kagak sih, paling jalan-jalan gak jelas...Kenapa sih lo?
Ya udah sini lo bantuin gue
Bantuin apaan?
Gua pengen... ada jeda sesaat Gua lagi pengen ngentot. Sini, pinjemin kontol lo
Sepertinya Reza terhenyak di ujung telepon sana karena tak ada suara untuk beberapa saat
Anjrit Ir, gak biasanya lo...Umm, lo yang minta kayak gitu
Terus? Lo kira gua gak pernah butuh gitu? Apa udah bosen sama memek gua? nada suara Irma mulai meninggi
Kalem Ir kalem, kenapa gak minta sama cowok lo aj-
Heh, gak usah nyebut-nyebut dia! Yang penting lo mau gak? Nih memek gratisan punyanya cewek cakep, gua tawarin buat lo pake seenak jidat lo! cerocos Irma
Iya iya, sabar Ir...Oke deh gua mau
Bagus! Diem di situ, ntar gua jemput!

Irma menutup telepon sambil tersenyum puas. Gadis bermata sayu itu meraba selangkangannya. Sejak pesta kemarin, dia memang semakin tergila-gila dengan seks. Kedatangan Asep yang menggenapkan jumlah laki-laki di pesta sepertinya membuat pesta kemarin sangat berkesan buat Irma dibandingkan sebelumnya. Sekarang, seks seperti pelarian baginya. Semacam candu. Dan ia rela menukarkan harga dirinya demi kenikmatan yang bisa membuatnya melupakan masalah hidup.

Dita

Hari sabtu sore, seminggu setelah pesta kemarin.
Dita terbangun mendengar HPnya berdering. Tapi dia malas menjawab hingga dibiarkannya deringan itu berhenti. Paling si Irma ngajak jalan, pikirnya. Dita menghela nafas, kemudian menggeliatkan tubuhnya yang telanjang bulat sebelum kembali memeluk pria yang tertidur di sebelahnya. Dita tersenyum memandang wajah pria itu yang begitu damai dalam tidurnya. Tangannya merabai bulu di dada pria yang juga telanjang bulat dengan mesra.
Pria itu adalah Asep. Dita mengundangnya ke kosannya untuk sesi curhat. Walapun yang terjadi sebenarnya adalah Asep mencurahkan benihnya ke tubuh Dita. Mereka bercinta tanpa henti dari pagi hingga siang, disela makan siang sebelum kembali memacu gairah hingga mereka tertidur lemas. Ternyata tanpa jamu Jejen pun Asep bisa melayani nafsu Dita yang menggebu-gebu. Dan Dita pun dengan senang melayani Asep sepenuh hati, dan mengajarkan Asep semua yang dia tahu.
Awalnya Dita tak mau mengakui. Tapi sekarang dia menyadari...Bukan, bukan rasa cinta yang dia rasakan untuk Asep. Dita tidak merasa ingin memiliki apalagi menguasai Asep, tak ada juga rasa cemburu. Tapi Dita merasa Asep unik. Pria itu berbeda dengan semua pria yang pernah mencicipi tubuhnya. Baik yang kasar maupun lembut. Dita tak mengerti, bagaimana Asep bisa bercinta dengan liar tapi masih menyimpan kepolosan dan kesederhanaannya. Asep juga tidak berubah walau diantara para peserta pesta yang sudah hancur secara moral.
Buat Dita, Asep adalah manusia langka. Menemukan Asep membuat hidup Dita berwarna. Mungkin sensasi seksual yang diberikan Asep bukanlah yang terhebat yang pernah dirasakan Dita. Tapi itu tak penting buatnya, yang Dita inginkan hanyalah mempelajari pria unik yang ia sedang peluk sekarang. Mungkin Dita memang sudah tak bisa lagi merasakan cinta, tapi Asep memberinya harapan. Setidaknya ada sesuatu yang bisa dia rasakan selain kenikmatan fisik, walaupun bukan cinta dan tak bisa dideskripsikan. Ah, ternyata bukan hanya Asep saja yang bisa punya perasaan tidak jelas, pikir Dita.

Asep terbangun ketika Dita mempermainkan putingnya.
Ah Mbak, jam berapa ya sekarang?
Udah rada gelap Mas Asep, lapar ya?
Lumayan sih
Yuk kita makan malam dulu, atau... perlahan Dita mengocok kontol Asep Satu ronde dulu?
Asep membalasnya dengan mencium bibir tipis Dita, dan keduanya pun kembali bercumbu mesra.

Asep, pria sederhana dan polos itu tak tahu kehadirannya dalam pesta kemarin mempengaruhi para peserta pesta lainnya walaupun buat mereka pesta yang kemarin bukan yang pertama. Baik langsung ataupun tak langsung, bergabungnya Asep mengubah hidup mereka. Sekarang, mereka terutama para gadis tak bisa lagi bersikap biasa di luar pesta. Entah baik atau buruk, waktu yang akan menentukan.

Epilog - Tamat

#14 Cioe_pek_tong

Cioe_pek_tong

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 16 posts

Posted 26 January 2017 - 07:34 PM

Cerita diatas dicopas dr tempat lain. Karena ceritanya keren, ane share disini. Semua kredit utk sang pengarang.

#15 jolibee

jolibee

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 287 posts

Posted 26 January 2017 - 10:32 PM

Masi ada lanjutannya ga om?

#16 Bangjoehan

Bangjoehan

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 205 posts

Posted 27 January 2017 - 05:18 PM

Ditunggu lanjutannya gun.....mantab



#17 Cioe_pek_tong

Cioe_pek_tong

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 16 posts

Posted 03 February 2017 - 06:32 AM

Udah tamat kok gan.

#18 Bangjoehan

Bangjoehan

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 205 posts

Posted 03 February 2017 - 04:51 PM

Wuahh sayangg tamat....dilanjut lagi heeee



#19 kutilangit

kutilangit

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 51 posts

Posted 05 February 2017 - 10:53 AM

top markotop nih hehehe



#20 rokit666

rokit666

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 4 posts

Posted 07 February 2017 - 05:52 AM

Kereeennn
  • Awan gunung and rokit666 like this