hit counter code



Jump to content


Situs Judi Bola

ss Situs Judi Bola Situs Judi Bola ss

ingin beriklan? hubungi kami: email : megalendir@gmail.com , big.lendir@yahoo.com atau Skype : big.lendir@yahoo.com

ss ss ss
ss ss ss
vert
vert
Photo
- - - - -

The Black River


  • Please log in to reply
103 replies to this topic

#41 rangoros

rangoros

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 35 posts

Posted 24 April 2017 - 06:13 AM

Semakin banyak orang penasaran berarti cerita agan emang berkualitas bukan sekedar cerita biasa. Jangan terlalu cepat ngeluarin lanjutannya buat mereka semakin penasaran. TOP dah

#42 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 24 April 2017 - 08:02 AM

Lanjut gannn.... Bagus banget ceritanya...

makasih gan, lagi digarap nih hehehe :)



#43 Easus

Easus

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 11 posts

Posted 24 April 2017 - 12:38 PM

Setia menunggu kelanjutannya hu...

#44 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 24 April 2017 - 04:17 PM

Lanjutkan gan. Lebih cepat lebih Baik

siap om, lagi digodok nih :)



#45 Easus

Easus

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 11 posts

Posted 27 April 2017 - 09:39 PM

Masih setia menunggu diupdate

#46 anto145

anto145

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 66 posts

Posted 04 May 2017 - 10:04 PM

Menunggu dibulan mei semoga ada kejutan dri albert....

#47 Thom.yorke19

Thom.yorke19

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 4 posts

Posted 19 May 2017 - 04:03 PM

Ko blm ada klanjutannya?? 😁😁😁

#48 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 23 May 2017 - 11:36 PM

THE BLACK RIVER CHAPTER FOUR

 

Ada gunanya juga merokok.  Pas aku merokok, beberapa sanak saudara datang ke rumah duka.  Karen sibuk berbincang-bincang dengan mereka, sehingga aku tidak perlu merasa canggung untuk berdua dengan Karen.  Seperti sudah ada ultimatum, bahwa saudara-saudara Karen tidak ada yang menanyakan tentang keadaan pernikahan kami.  Mereka bersikap seakan-akan bahwa situasi kami baik-baik saja. 

Seharian aku di rumah duka, beberapa kali Aisya menelponku.  Aku tidak bisa bicara banyak.  Aku hanya benar-benar minta maaf padanya, tidak bisa menjelaskan situasinya di telepon.  Aku sedikit tenang karena nada suara Aisya tetap lembut, tidak terdengar marah.

 

Malamnya, meskipun terlihat sangat lelah, Karen tidak tidur.  Sibuk dikerumuni oleh saudaranya.  Mungkn dia juga menghindar untuk berduaan denganku.  Aku pun sama.  Aku tidak suka kecanggungan yang terjadi antara kami.  Meskipun bisa dibilang ini semuanya terjadi bukan karena kesalahanku.  Tapi tetap saja, aku bingung harus mengeluarkan kata-kata apa kalo berada dekat Karen.  Tapi sekitar jam 10 malam, aku melihat badan Karen sangat terlihat lelah.  Dia belum makan seharian.  Aku tidak tega, takut kenapa-kenapa sama dia.

“Karen, ayo kita pergi makan dulu,” ucapku lirih dekat telinganya.  Harum tubuhnya yang masih sama seperti dulu terendus hidungku.

“Ga Bert, gua ga lapar,” tolaknya dengan suara pelan.

“Loe harus makan, Keisya dan Mami uda makan, hanya loe yang belum makan,” desakku.

“Aku antar cari makanan,” aku sedikit menarik tangannya.  Aku sebenarnya juga belum makan, tapi Karen yang lebih aku khawatirkan.  Dia lagi dalam keadaan terguncang dan sedih, perlu mengisi tenaga untuk tubuhnya.

Melihat desakanku dan tatapanku yang mengatakan bahwa dia harus makan, Karen mengalah.  Dengan tanganku memegang lengannya, aku ajak dia ke mobilku.

“Mau makan dimana?” tanyaku ketika mobil sudah keluar dari rumah duka.

“Loe belum pernah begitu ke gua, bert.  Pandanganmu seakan-akan tidak bisa ditentang,” malah Karen berkata demikian.

“hahaha...” aku tertawa. “Masa sih?”

“Iya,” dia tersenyum.  Kecanggungan kami ternyata tidak begitu kentara.

“Mau makan apa?” tanyaku lagi.

“Makan bubur aja di Kasmin, bert.  Masih ada ada kan?” jawabnya.

“Masih ada kok.” Jawabku.  Aku mengarahkan mobilku ke sana.  Jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah duka.  Hanya memutar jalannya karena jalannya satu jalur menuju kesana.

Ternyata Karen makan cukup lahap, buburnya cepat sekali dihabiskannya.  Baguslah pikirku.

“Uda kenyang?” tanyaku.

Karen mengangguk sambil tersenyum.  Kami kembali lagi ke rumah duka.  Begitu aku selesai memencet remote mobil.  Menguncinya.  Karen memelukku erat.  Dia menangis di dadaku.

“Bert, gua kehilangan papi banget,” isaknya keras.  Refleks, aku merangkul punggungnya. Membiarkan dia menangis di dadaku.  Sambil aku mengelus-elus punggungnya.  Gua juga kehilangan papi banget, batinku.

 

Hari berikutnya, kami semakin sibuk dengan banyaknya tamu yang melayat.  Joko dan Ira datang.  Tapi kami tidak bisa ngobrol banyak.  Setelah Ira melepas kangen karena setelah sekian lama tidak ketemu Karen.  Aku dan Karen sibuk kembali dengan tamu lain yang datang.  Engku dan Engkim ku pun datang.  Begitu juga dengan teman-teman kuliah kami.  Nah saat beberapa teman kampus kami datang, ada beberapa insiden tidak enak karena sebagian besar mereka tidak tahu aku dan Karen sudah berpisah lama.  Kecanggungan beberapa kali terjadi.  Namun karena kesibukan kami dengan tamu yang datang membludak.  Kecanggungan-kecanggungan itu terlupakan.

Keesokan harinya, Rabu pagi, kami merencanakan memakamkan papi di kuburan keluarga.  Inilah puncak tangis yang terjadi.  Karen, mami dan Keisya menangis terisak-isak ketika peti mati papi diturunkan ke dalam tanah yang sudah digali.  Bayangan kematian mamiku terbayang.  Namun tidak lama karena aku segera merangkul pundak Karen, takut dia pingsan. Untung tidak terjadi. Sedangkan aku masih bisa menahan air mataku saat mengenang semua kejadian aku bersama papi.  Selamat jalan papi, jasamu akan selalu kuingat.

 

Malam itu aku sudah kembali ke rumah.  Aku kangen Aisya tapi aku berutang sebuah penjelasan padanya. Sambil berbaring di ranjang, Aisya mengenakan daster tipis yang menonjolkan kemontokan payudaranya.  Aku menjelaskan segalanya pada Aisya.  Awalnya Aisya tampak kaget karena ternyata aku sudah beristri dan statusku pun sekarang masih menjadi suami orang.  Tapi kemudian dia prihatin mendengar penjelasanku.  Kesedihanku.  Aisya mendekatkan badannya padaku.  Mencium pipiku lalu leherku.  Karena kangen beberapa hari tidak menyentuh Aisya, aku pun langsung memeluknya erat, melepaskan dasternya.  Kucium payudaranya yang kenyal, Aisya menggelinjang.  Birahi kami terbakar cepat karena sudah beberapa hari ini kami tidak saling bertemu.  Langsung saja penisku, kutancapkan ke dalam vaginanya.  Aku memompa vagina Aisya, Aisya mengikuti irama naik turunku.  Kami berciuman liar, saling berpagutan lidah.  Ketika klimaks,  spermaku yang banyak tertumpah dalam lubang kemaluannya.  Sebelum tidur, seperti biasa Aisya minum pil pencegah kehamilan.  Dengan tubuh telanjang bulat, Aisya tidur di sampingku.  Kuamati wajahnya yang manis, sensual sekali. Aku mengelus pipinya yang halus.  Aku sama sekali tidak ingat dengan Karen. 

 

Hampir seminggu, aku dan Aisya menjalani kehidupan kami yang selalu bergairah.  Ketika aku di kantor, aku mendapat telepon dari Keisya di hpku.

“Ko, cici masuk rumah sakit,” suara cemas Keisya terdengar.



#49 jolibee

jolibee

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 287 posts

Posted 24 May 2017 - 04:26 AM

Lanjut donk koko albert..
  • teddythejoy likes this

#50 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 03 June 2017 - 01:34 PM

THE BLACK RIVER CHAPTER FIVE

 

Aku segera mengebutkan mobilku ke rumah sakit.  Begitu mobilku terparkir, aku langsung berlari menuju kamar dimana Karen diopname.  Ada Keisya dan mami disana.  Wajahku terlihat tegang dengan nafas ngos-ngosan.  Untung aku rajin berolahraga.  Aku dengan cepat berhasil mengatur nafasku.

“Kenapa tiba-tiba Karen masuk rumah sakit?” tanyaku pada Keisya.

“Ya, cici semenjak papi dikubur, males makan.  Paling sehari sekali.  Hampir nangis terus tiap hari,” jelas Keisya.  “Makanya badannya lemes banget, sampe akhirnya waktu cici menjerit, bilang perutnya sakit.  Lalu pingsan.  Buru-buru aja Keisya ama mami bawa ke rumah sakit.”

Keisya dan mami lagi nunggu berita dari dokter dan hasil cek laboratorium.  Wajah Karen terlihat lebih kurus dari minggu kemaren.  Matanya terpejam.  Ada alat bantu pernafasan terpasang di lubang hidungnya.

Menunggu hasil laboratorium sangat tidak mengenakkan. Waktu terasa lambat berjalan.  Aku duduk di kursi di samping ranjang Karen.  Isak tangis mami dan Keisya kadang terdengar olehku.  Tanpa aku sadari aku menggenggam tangan Karen.  Sambil berdoa agar tidak terjadi hal-hal yang buruk.

 

Waktu yang menentukan tiba, seorang dokter pria, sudah berumur masuk. Membawa hasil laboratorium di tangannya.  Menanyakan siapa aku, Keisya dan mami. 

“Gimana dok?” tanyaku tidak sabar.  Setelah menjelaskan bahwa aku adalah suaminya Karen.

“Silakan duduk dulu, pak,” katanya tenang.  Hatiku langsung dingin.  Tapi melihat tatapan dokter yang ramah.  Aku merasa sedikit tenang.  Sedikit.

Setelah aku duduk.  Dokter mulai menjelaskan hasil laboratorium.  Seperti ada halilintar di langit terang ketika aku mendengar penjelasannya.  Ada tumor di ususnya Karen.  Sudah lama ada.  Mungkin kira-kira 10 tahun.  Sekarang sudah mencapai stadium yang parah.  Isak tangis mami dan Keisya semakin keras.  Aku merasakan seluruh tubuhku dingin. Dingin sekali.  Tumor.  Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku.  Sudah 10 tahun.   Langsung terbersit dalam pikiranku ketika Karen tiba-tiba meninggalkan aku sepuluh tahun yang lalu.  Hilang sudah kebencianku pada Karen seketika.  Yang ada hanyalah, rasa khawatir yang berkecamuk dalam hatiku.  Sekujur tubuhku masih terasa dingin.

“Dok, apakah benar hasil lab-nya seperti itu. Apa mungkin ada kesalahan?” itulah kalimat pertamaku kemudian.

Dokter memegang bahuku, memberi kata-kata semangat.  Tidak ada efek bagiku.

“Apa dia bisa sembuh, dok?” tanyaku lagi. 

“Sebaiknya bapak mulai sekarang sebanyak mungkin menghabiskan waktu dengan ibu,” jelasnya sabar.

“Sampai kapan, dok?” air mataku mulai mengalir.

“Semua tergantung dari ketahanan tubuh istri anda,” jawabnya.

Kata-kata sang dokter tidak kuperhatikan lagi.  Aku mendekati Karen.  Kuusap rambutnya dengan penuh kasih sayang.  Air mataku mengalir semakin banyak.  Mami pun mengusap pipi Karen.

 

Menunggu Karen siuman, waktu terasa lebih lambat lagi.  Mami dan Keisya pun tidak tahu bagaimana caranya menghiburku.  Mereka hanya sering memegang bahuku.  Mami beberapa kali memelukku dan mencium pipiku.  Terasa basah pipi mami di pipiku.

Aku tertidur.  Aku terbangun ketika tanganku yang menggenggam tangan Karen terasa bergerak.  Karen siuman.  Aku langsung bangkit berdiri.  Aku sendirian di kamar.  Mami dan Keisya aku paksa untuk cari makan dulu.

“Hai sayang,” ucapku lirih sambil tersenyum.  Karen sedikit merasa aneh sebelum dia menyadari dia ada di rumah sakit.  Aku mengelus rambutnya lembut.  Tangan Karen yang tidak dipasang infus, memegang perutnya.  Aku melihat Karen sedikit mengeryit menahan sakit.

“Bert, apa kata dokter?” tanyanya lirih.

“Ga ada apa-apa.  Sebentar lagi juga loe sembuh dan boleh pulang,” jawabku sambil tersenyum.

“Ga usah bohong,” tandas Karen masih dengan suara lirih.

“Gua ga bohong,” aku tertawa kecil. Padahal hatiku perih.

Karen memejamkan mata.  Lalu ketika matanya membuka kembali.

“Berapa lama waktu yang gua punya?” tanyanya dengan suara yang sedikit keras.

“Loe ngomong apaan sih, dokter bilang bukan penyakit parah. Bentar lagi juga loe sembuh,” jelasku dengan menguatkan hati.

“Bert, gua tau gua ada tumor di usus gua,” Karen tersenyum lemah padaku.

Aku menggelengkan kepala.

“Jadi ini sebabnya loe ninggalin gua untuk yang kedua kalinya.  Karena loe tau loe ada tumor?” aku menatapnya tajam.

Karen seperti berpikir sebelum menganggukan kepalanya.

“Kenapa loe ga bilang ke gua,” ujarku dengan suara tertekan.

Karen diam.

“Kapan loe tau loe ada tumor?” tanyaku.

“Waktu gua ke Singapore dulu,” jawabnya.  Karen memintaku untuk meninggikan sandaran ranjang.  Lalu Karen bercerita setelah tahu ada tumor di ususnya.  Dia memutuskan untuk meninggalkanku dengan tujuan agar aku bisa belajar hidup tanpa dia dan mencari pengganti dirinya.  Gadis bodoh, batinku.  Kedua kalinya kau meninggalkan aku dengan alasan untuk kebaikanku. 

“Gua kan suami loe. Loe bisa cerita ke gua dan kita cari solusinya sama-sama,” aku sedikit marah.

“Gua ga mau loe ga fokus sama pabrik loe, bert.  Itu kan cita-cita loe.  Lagian gua tau loe pengen punya anak.  Sedangkan dengan kondisi gua, gua takut tidak bisa melahirkan buat loe.  Gua pikir mending loe cari istri yang lain. Makanya gua menghilang,” jelasnya dengan mata berkaca-kaca.

“Loe yang lebih penting dari segalanya, Karen.  Dibandingkan pabrik atau punya anak.  Gua itu sangat mencintai loe,”  aku sedikit berteriak.  Mencintainya? Apakah sekarang pun masih?  Terbayang wajah Aisya.

 Karen terdiam.

“Bert, gua mau pulang, ga mau dirumah sakit,” ucapnya.

“Kondisi loe lagi kayak gini, masa mau pulang?” aku menatapnya heran.

“Gua sudah hidup dengan tumor ini selama 10 tahun.  Gua terapi kemana-mana di Amrik.  Jaga pola makan gua.  Sekarang begitu keadaan gua lagi depresi karena kematian papi.  Gua langsung drop. Jadi percuma gua di rumah sakit juga.  Mending gua pulang aja,” jelasnya sambil meringis memegang perutnya.

“Gua tidak ingin menghabiskan sisa hidup gua di rumah sakit,” lanjutnya.

Aku menggenggam tangannya erat. 

“Kalo emang ini keputusan loe, gua urus dulu administrasinya,” aku meninggalkan Karen untuk mengurus segalanya dengan pihak rumah sakit.  Semua beres setelah dokter pun mengijinkan Karen pulang.

 

Begitu  Karen sudah duduk di dalam mobil.  Aku menstarter mobilku.

“Mari kita pulang,” aku berucap sambil tersenyum.  Karen pun ikut tersenyum.  Terlihat bahagia mengetahui dia akan meninggalkan rumah sakit.

“Ayo kita pulang.  Gua pengen pulang ke rumah kita, bert,” ujarnya.

Aku terhenyak.  Aku tidak menyadari maksud Karen pulang adalah pulang ke rumah kami.  Bagaimana dengan Aisya?



#51 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 04 June 2017 - 12:13 AM

THE BLACK RIVER CHAPTER SIX

 

Aku mengemudikan mobil dengan kecepatan lambat.  Dengan tujuan aku lebih punya banyak waktu untuk memikirkan tindakan apa yang akan aku ambil apabila kami sudah sampai di rumah.  Untungnya aku bisa menyembunyikan kecemasanku, sehingga Karen tidak bertanya yang aneh-aneh.  Aku harus bagaimana?  Jelas statusku dengan Karen masih suami istri, tapi Aisya sudah cukup lama tinggal di rumahku.  Dan kami sudah berhubungan suami istri, meskipun memang kami belum menikah.  Sejujurnya baik aku dan Aisya belum pernah membicarakan tentang nikah atau bahkan apakah kami itu berpacaran atau hubungan apapun.  Terbayang wajah Aisya yang manis, sensual.  Bagaimana reaksinya bila aku membawa Karen, istriku ke rumah.  Untunglah aku dan Karen tidak berbicara apapun dalam mobil.  Menolong otakku fokus untuk memikirkan solusi dari kejadian ini.  Tapi apapun yang kupikirkan tampaknya tidak memberikan jalan yang terbaik.  Teringat ketika aku waktu itu memutuskan Mary, berat rasanya tapi kok tampaknya hal itu tidak seberat sekarang. 

 

Lalu aku memandang Karen, wajahnya terlihat letih meskipun ada gurat-gurat senang terlihat.  Mungkin dia senang karena akan kembali ke rumah yang sudah dia tinggalkan sepuluh tahun lalu.  Ya, aku tidak tahu apakah Karen akan berhasil mengobati penyakitnya.  Bayangan Karen tidak sembuh dari penyakitnya kembali menghantuiku.  Membuat sekujur tubuhku dingin.  Harus kuakui dia adalah cinta pertamaku yang membuat hidupku naik turun selama ini.  Jelas melihat kondisinya sekarang membuat cinta yang sudah kupendam dalam-dalam, menguak kembali ke permukaan.  Tapi kini ada Aisya dalam hidupku.  Apakah aku mencintai Aisya sedalam aku mencintai Karen?

Ketika mobil sudah mendekati rumahku.

“Bert, rumah kita masih seperti dulu kan?” tanya Karen.

“Eh...,” aku terdiam sebentar. “Masih, Karen.”

 

Jantungku berdebar-debar cepat begitu mobil masuk pekarangan rumahku.  Aku membuka pintu mobil dan berlari ke arah pintu Karen berada.  Kubuka pintunya dan kupapah tangannya untuk berjalan pelan.  Untung mami dan Keisya tidak ikut, kalo ikut aku tambah bingung harus bagaimana.  Pintu rumah semakin dekat dan semakin dekat.  Tiba-tiba Aisya membuka pintu dan nongol di depan.  Mungkin dia mendengar suara mesin mobilku.  Matanya terhenti memandang Karen dan Karen pun memandang Aisya dengan bingung.

“Aisya, ini istriku Karen,” campur aduk perasaanku berkata demikian.

Karen mengulurkan tangan.  Aisya otomatis mengulurkan tangan.  Entah apa yang ada di pikiran Aisya dan Karen.

“Karen, Aisya ini ...,” aku sulit meneruskan kalimatku.

Tiba-tiba Aisya berkata,

“Aku Aisya, aku yang bantu-bantu Mas Albert di rumah,” sambil tersenyum manis kepada Karen.  Karen pun terlihat tersenyum.  Mereka berjabat tangan.

Aku merasa lega dan aku berterima kasih sekali pada Aisya.  Aisya membantu memapah Karen masuk ke dalam rumah.  Aku menatap Aisya dari belakang Karen.  Aisya menatapku, menenangkan aku.

Sebenarnya aku bingung mau membawa Karen ke kamar yang mana.  Dan sekali lagi Aisya menolongku, dia yang memimpin langkah kami menuju kamar aku dan Karen waktu dulu kami masih bersama.

Karen terlihat sangat lemah.  Tak lama kemudian Karen tertidur.

Ini kesempatanku untuk berterima kasih pada Aisya.  Ketika kami di ruang tamu.  Aku memeluk Aisya  erat-erat

“Terima kasih sayang.  Aku bingung harus bagaimana ketika Karen ingin pulang ke sini,” aku merasakan pelukan Aisya tidak kalah eratnya.

“Kasian Mbak Karen, Mas. Kalo perlu apa-apa kamu bilang aja sama aku. Aku akan berusaha membantu semampu aku,” tatapnya padaku ketika kami selesai berpelukan.

Aku baru tahu ada wanita seperti ini, begitu baik hatinya.  Aku hampir meneteskan air mata.  Aku sangat terharu dengan Aisya.

“Kamu tidak cemburu, Aisya?” tanyaku.

Aisya tidak langsung menjawab

“Yang penting Mbak Karen nyaman dulu mas. Jangan sampai dia berpikiran yang negatif sehingga penyakitnya jadi memburuk,” itulah jawaban Aisya.  Aku pun tidak memaksakan lagi pertanyaanku.

 

Hari itu aku sibuk telepon sana sini mencari seseorang yang biasa bekerja merawat orang sakit.  Akhirnya ketemu seorang mantan suster yang memang kerjaannya sekarang mengurusi orang sakit.  Dan beliau besok sudah bisa langsung bekerja.

Pertama kali aku memberitahukan hal ini pada Aisya.  Sebenarnya Aisya bilang tidak perlu karena dia bisa membantu menjaga Karen.  Tapi aku bilang, ga apa-apalah. Aku yang merasa tidak enak apabila Aisya yang merawat Karen.  Tapi mungkin Aisya bisa bantu memantau aja, siapa tau si suster itu perlu bantuan.

Nah sekarang aku bingung, dimana Aisya tidur malam ini, karena biasanya dia tidur di kamar yang ditempati Karen sekarang.  Tapi ketika kutanya

“Kamu tidur dimana jadinya, sayang?”

“Gampang mas.  Aku uda beresin ranjang di kamar tamu,” jawabnya sambil tersenyum.

Ternyata bukan itu yang jadi pertanyaan penting.  Dimana aku tidur? Itulah sebenarnya pertanyaan yang tepat.  Yang pasti aku tidak bisa tidur bersama Aisya karena dia mengaku dia bukan siapa-siapa aku.  Tapi kalo aku tidur bersama Karen, bagaimana perasaan Aisya?

Sekali lagi ternyata bukan aku yang memegang kendali ketika aku sedang galau. Aisya yang memegang kendali.  Seakan-akan dia bisa membaca isi kepalaku.

“Mas tidur aja bareng Mbak Karen.  Aku ga apa-apa kok,” senyum manis kembali menghiasi wajahnya.  Aku tidak bisa berkata apa-apa.  Aku hanya bisa mencium kening Aisya.  Aisya melingkarkan kedua tangannya di pinggangku dan menyandarkan kepalanya pada dadaku.

 

Cukup lama Karen tertidur.  Dia terbangun dan mendapati aku sedang duduk di pinggiran ranjang.  Karen tersenyum.

“Bert, uda lama gua ga terbangun dengan loe ada di sisi gua,” dia memegang tanganku. 

Terus terang, aku juga sudah lama tidak mengalami hal seperti ini.  Terkenang kembali masa-masa saat kami masih bersama.  Begitu bahagia.  Teringat kembali wajah cantik Karen dan senyumnya yang indah.  Tubuhnya yang begitu lincah tapi kini begitu lemah.  Aku masih berharap Karen bisa sembuh seperti dulu.  Tanpa aku sadari aku mendekat dan mencium dahinya.  Dahi yang sudah lama tidak kucium.  Karen memelukku erat begitu aku habis mencium keningnya.  Karen mencium bibirku.  Bibir yang sudah lama tidak kurasakan.  Aku begitu rindu pada bibir ini.  Aku membalasnya.  Kurasakan kehangatan yang sudah lama tidak muncul.

 

Selesai kami berciuman, aku menceritakan bahwa besok akan ada yang membantu merawat Karen.  Karen malah bilang maaf ya sudah merepotkan aku.  Harusnya dari dulu kamu ga usa takut untuk merepotkan aku, batinku.  Jadi kamu tidak perlu meninggalkan aku selama sepuluh tahun.  Bayangkan berapa banyak yang bisa kita lakukan bersama-sama selama 10 tahun.  Kamu selalu memutuskan apapun sendiri tanpa membagi denganku, meskipun memang tujuan kamu mulia. Batinku berontak tapi aku cepat-cepat menguburnya.  Aku tidak boleh emosi dalam keadaan seperti ini.  Demi Karen.

 

Malam itu aku tidak bisa tidur nyenyak.  Nyamannya ranjang tidak bisa membantu.  Aku kepikiran penyakit Karen dan karena aku berada di rumah, aku memikirkan bagaimana perasaan Aisya yang lagi tidur sendirian di kamar.  Aku ingin memeriksanya, aku beranjak bangun ketika terdengar Karen mengigau.

“Bert, maafin gua bert.  Gua ga berniat ninggalin loe, semata-mata gua lakukan ini karena demi kebaikan loe,” racaunya dalam tidur.

Aku tidak jadi berdiri dan kembali berbaring di samping Karen dan memeluknya untuk menenangkannya.  Dan memang tidak terdengar lagi Karen mengigau setelah aku peluk sampai akhirnya aku pun tertidur.

 

Aku terbangun keesokan harinya ketika Aisya membangunkan aku dengan tanganku masih memeluk Karen.  Aku langsung melepaskan pelukanku.  Entah apa yang ada di pikiran Aisya.

“Mas, susternya uda datang,” katanya.

Aku berdiri dan berjalan ke ruang tamu bersama Aisya.

“Kamu bisa tidur nyenyak semalam, Aisya?” tanyaku ketika sudah berada di luar kamar.

“Nyenyak, mas,” jawab Aisya riang.

Aku menganggukkan kepala mendengarnya.  Lega. 

 

Bu Ida, sang suster sudah menunggu di ruang tamu.  Terlihat dari perawakannya dan tutur katanya, beliau sudah berpengalaman, aku sedikit lega.  Apalagi ketika dokter Karen yang sudah berjanji akan sering mengontrol ke rumah datang.  Ternyata Bu Ida sangat mengerti tentang medis.  Dia mengerti segala perkataan dokter.  Aisya pun ikut masuk ke dalam kamar ketika kami berbincang-bincang. Aisya ikut mendengarkan. 

Karen terlihat sedikit lebih segar.  Dia terlihat senang kembali ke rumah.  Siangnya mami dan Keisya datang berkunjung.  Mereka pun bingung ketika melihat Aisya dan kembali Aisya menerangkan pada mereka siapa dirinya.

 

Hari ketiga di rumah, Karen terlihat semakin segar.  Dan selama ini aku menemaninya tidur.  Malah Aisya yang terlihat agak pucat.  Untung Bu Ida sebelum dia pulang, dia memberi obat buat Aisya biar tidak pucat lagi.  Tidak lama kemudian Aisya pun kembali ke kamarnya setelah makan obat pemberian Bu Ida.

Aku mengetuk pintu kamarnya.  Aneh kenapa aku pake mengetuk segala bukannya langsung masuk.

Aisya terlihat senang aku mendatanginya.

“Kamu ga apa-apa Aisya?” tanyaku khawatir.

“Ga apa-apa mas. Aku agak capek aja, mungkin aku khawatir dan merasa kasian dengan Mbak Karen,” jawabnya.  Aku memegang tangannya.  Aku pegang erat-erat.  Kuelus pipinya.  Aku mengecup bibirnya. Aisya pun membalas ciumanku dengan mesra.  Tidak terlihat seperti hubungan Master dan Slave.  Kami berciuman seakan-akan melepas rindu kami.  Ketika aku hendak membuka daster Aisya.  Aisya mencegahku.

“Jangan Mas, nanti Mbak Karen tau,” ujarnya terlihat dia berusaha menahan nafsunya.

“Mending Mas temenin Mbak Karen aja,” lanjutnya.  Aku pun tidak memaksanya.  Aku berterima kasih sekali dia sudah sangat pengertian padaku sejauh ini.

Ketika kembali ke kamar, Karen lagi nonton tivi.

“Bert, loe punya film Titanic kan? Kita nonton bareng yuk,” ajaknya.

Ya, film yang aku punya selama ini cuma satu judul. Titanic. Dari format VCD dan ketika ada DVD aku membelinya dan ketika jamannya Bluray, aku pun membelinya.  Satu-satunya film yang akan selalu jadi kenangan aku akan Karen.  Tapi versi bluray nya aku belum nonton karena semenjak Karen meninggalkanku, aku tidak berniat mengingatnya dengan menonton film Titanic.

Setelah aku memasukkan kepingan bluray, aku duduk bersandar di ranjang di samping Karen.  Karen bersandar di bahuku. 

Adegan demi adegan berlangsung, dulu adegan melukis dan di dalam mobil membuat aku kegerahan, kini terasa biasa saja.  Karena mungkin pikiranku sedang tidak disini.  Film berakhir pun aku tidak menyadarinya sampai Karen memencet remote player dan mengklik lagu My Heart will go on yang dinyanyikan Celine Dion.

Karen menatapku. Mengelus pipiku.

“Bert, loe inget ketika kita pertama kali  ketemu?” tatapannya sangat mesra.

“Gimana gua lupa,” aku tertawa mengingatnya.  Karen pun tertawa.

Lalu kami ngobrol bernostalgia.  Dan aku ngaku ketika duduk berdekatan waktu kuliah, aku sempat mau coli liat bodinya dia pake rok mini.  Karen tertawa sambil memukul lenganku.  Kami banyak tertawa mengenang masa dulu.  Tapi seperti terikrar dalam benak kami, kami tidak menyinggung-nyinggung masalah Karen meninggalkan aku selama sepuluh tahun.

 

Akhirnya setelah bernostalgia, Karen tertidur.  Aku memandang wajahnya.  Tetap cantik seperti dulu.  Aku mengelus pipinya dan rambutnya.  Badannya memang lebih kurus, tapi dia tetap Karen yang sangat kucintai.  Kini aku mengenang sendirian tentang masa lalu. Saat kami bersama-sama.  Hatiku terasa hangat.  Aku memutar lagi fim Titanic dan kini aku lebih fokus.  Setiap adegan mengingatkan aku ketika waktu itu kami nonton bersama di bioskop.  Kenangan yang begitu indah.  Ketika film selesai, aku mencium kening Karen sambil mengucap lirih.

“I love you, Karen.”

 

Hampir seminggu ini, aku hanya menemani Karen.  Pekerjaan pabrikku, aku tumpahkan pada Ikbal.  Jelas Ikbal sudah sangat mahir, aku jadinya tidak khawatir.  Aisya pun sudah membaik, wajahnya tidak terlihat pucat.  Kemaren ada kejadian yang mengkhawatirkan, Karen merintih kesakitan pada perutnya. Untung masih ada Bu Ida di rumah, dokter pun langsung dipanggil. Setelah diberi obat, Karen pun sedikit tenang.  Malam itu aku menemaninya terus menerus tanpa keluar kamar.

Suatu malam, setelah Karen tidur.  Aku menghampiri kamar Aisya.  Sekali lagi kuketuk pintunya walaupun sebenarnya aku tidak perlu melakukannya.

Aisya belum tidur ternyata.  Kulihat matanya sedikit merah. Aku langsung khawatir.

“Kenapa Aisya?” tanyaku sambil duduk dipinggir ranjangnya.

“Ga apa-apa Mas. Aku cemas dengan Mbak Karen,” begitu jawabnya.

Aku memeluknya.  Aisya bersandar pada bahuku.  Jari-jarinya mengelus dadaku.  Lalu Aisya mulai mencium leherku.  Hangatnya bibir Aisya menelusuri leherku.  Kemudian tangan Aisya menyusup ke dalam kaosku.  Memainkan putingku.  Aisya tahu kelemahanku. 

“Mas, mau ga temenin aku malam ini?” ucapnya lirih.

Aku merebahkan dirinya di ranjang yang cukup lebar di kamar tamu itu.  Kini tangan Aisya masuk ke dalam celana pendekku.  Mengelus batang penisku.  Wajah Aisya terlihat begitu sensual dalam keremangan kamar.  Aku memagut bibirnya, Aisya pun memainkan lidahnya berpadu dengan lidahku.  Libidoku naik.  Kubuka baju tidur Aisya, kali ini Aisya tidak menolaknya.  Tubuhnya yang sintal dengan payudaranya yang menantang, menantang untuk aku remas.  Kini kami sudah saling telanjang bulat.  Aisya mendesah pelan ketika aku menyedot putingnya yang sudah tegang.  Aisya memegang rambutku menahan rangsanganku pada payudara dan putingnya. 

 

“Mas, bercinta denganku malam ini yah,” bisik Aisya pada telingaku.  Aku mengiyakan pelan.  Kuelus pahanya yang mulus dan tangan Aisya pun tidak kalah sengitnya, meremas dan mengocok penisku sehingga penisku benar-benar tegang.   Walaupun tanpa memakai alat seperti yang biasa kami gunakan, kami bercinta seakan-akan sudah lama sekali kami tidak berhubungan.  Tubuh kami berpadu saling merangsang dalam keremangan kamar.  Keringat kami sudah membasahi tubuh telanjang kami.  Aku belum pernah melihat Aisya seperti ini.  Wajah sensualnya benar-benar terpancar dan gerak tubuhnya terasa sangat menginginkan bercinta denganku.  Mulut Aisya tidak berhenti mengecup bagian mukaku ketika aku memasukkan penisku ke dalam vaginanya.  Kedua kaki Aisya mengapit pinggangku. Seakan-akan tidak ingin melepaskankku.  Jelas aku terbakar birahi karena sudah sekian lama aku tidak bersetubuh dengan Aisya.  Pompaan penisku pada vaginanya naik turun secara teratur.  Sekali-kali aku menatap matanya ketika menghujamkan penisku dalam-dalam pada selangkangannya.  Aisya pun menatapku mesra dengan pandangan sayu, menikmati setiap genjotan penisku.

“Mas keluarin spermamu dalam vaginaku, Mas...aah..aahh,” Aisya merintih pelan meskipun nafasnya memburu cepat.

“Aisya, aku mau keluar...,” nafasku pun memburu cepat, begitu juga dengan genjotanku.

“Iya Mas, aku juga mau keluar,” Aisya mencium bibirku dalam-dalam.  Ketika kami akhirnya sama-sama memuncratkan cairan kami.  Aku terbaring lemas menindih tubuh Aisya yang berkeringat.

“Mas, makasih,” Aisya mencium bibirku dengan mesra lagi.  Aku pun balas menciumnya.

Aisya menatapku dalam-dalam cukup lama, sampai akhirnya dia berkata

“Mas, kembali lagi deh ke kamar , nemenin Mbak Karen, nanti dia curiga lagi kalo kamu lama-lama di sini,” katanya sambil menciumku lagi sebelum aku memakai bajuku dan kembali ke kamar dan tertidur di samping Karen.

 

Aku tidak pernah menyadari bahwa hari itu terakhir aku ketemu Aisya.  Karena keesokan harinya, aku tidak menemukan Aisya, hanya ada surat yang dia tinggalkan di ranjang di kamarnya.



#52 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 04 June 2017 - 01:10 AM

Lanjut gan..sumpah perasaan campur aduk.. Terharu, birahi naik...klo dngr lnjutanny mngkin q bs mneteskn air mata
Bgus bngt gan. .jgn lma" lnjutanny gan : SMILE :

makasih gan komennya, bikin tambah semangat untuk bikin lanjutannya :)



#53 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 04 June 2017 - 01:11 AM

Lanjut donk koko albert..

sudah diupdate ya om, enjoy :)



#54 jolibee

jolibee

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 287 posts

Posted 04 June 2017 - 01:33 AM

Aduh nanggung amaaaat.... lanjut lg donk..

#55 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 05 June 2017 - 12:15 AM

THE BLACK RIVER CHAPTER SEVEN

 

Aku membuka surat Aisya yang terlipat.

 

Mas, maafin aku karena aku pergi tanpa pamit.  Tolong jangan salah paham, aku setulusnya prihatin dengan keadaan Mbak Karen. Dan aku ingin membantu sebisa aku.  Dan aku khawatir denganmu mas. Aku ingin selalu berada di dekatmu melewati semua ini.  Tapi ternyata aku terlalu meremehkan perasaanku.  Aku pikir tidak akan jadi masalah buat aku, melihat kalian berdua bersama-sama.  Tapi ternyata aku tidak bisa, hatiku merasa panas mas melihat kamu dan Mbak Karen tidur bersama, menghabiskan banyak waktu berdua.  Mungkin aku egois, mas.  Aku minta maaf. 

 

Memang diantara kita tidak pernah terucap kata cinta.  Tapi akhirnya aku menyadari setelah kejadian ini semua bahwa ternyata aku mencintaimu mas.  Tapi aku pun tidak boleh egois terus menerus.  Mbak Karen sedang membutuhkan mas.  Aku tidak ingin mas merasa serba salah antara aku dan Mbak Karen.  Aku ingin mas fokus dalam merawat Mbak Karen tanpa perlu memperhatikan aku.  Aku tidak ingin menjadi penghalang di antara kalian berdua.  Jadi aku memutuskan untuk pergi. Tolong jangan cari aku mas.  Aku berdoa dari dalam hati dengan tulus agar Mbak Karen bisa sehat kembali dan bisa membahagiakan mas seperti dulu.

 

Salam,

Aisya.

 

Aisya, berbagai momen yang aku lewati bersama Aisya seakan-akan terputar ulang dalam benakku.  Wajahnya yang sensual, sikap malu-malunya.  Hatiku terasa terhimpit buldozer lagi.  Sesak.

Kusimpan surat itu di ranjang Aisya.  Berangan bahwa Aisya masih tertidur, terbaring di ranjang.  Aku elus pipi dan rambutnya dengan lembut.  Aaargghhh, kini dia sudah pergi.

 

Bel rumah berbunyi. Bu Ida sudah datang.  Aku membukakan pintu. Mengantar Bu Ida ke kamar.

Aku agak terkejut melihat Karen sedang bercermin.  Wajahnya terlihat ceria.  Terlihat sangat sehat.  Secara refleks aku gembira melihatnya.

“Bert, bosen gua hampir baring terus di ranjang,” ujarnya dengan senyum cerah.

“Ya jalan-jalan aja di sekitar rumah,” jawabku tak kalah senang.

Karen mengangguk.

“Karen, gua minta ijin dulu ninggalin loe ya,” ucapku tiba-tiba.

“Kenapa?” tanya Karen heran.

“Aisya tiba-tiba pergi.  Gua mau cari dulu, dia kabur kemana,” aku berusaha menyembunyikan kecemasanku.

“Hah? Tiba-tiba pergi. Aneh,” timpal Karen.

“Iya aneh.  Tapi gua mau cari dulu dia. Ga apa-apa kan loe ditemenin ama Bu Ida.  Loe jalan-jalan aja sekeliling rumah atau jalan-jalan di taman,” ujarku kemudian.

“Iya hati-hati bert. Mudah-mudahan Aisya nya ketemu,” Karen berdiri memeluk dan mencium bibirku.

Aku balas mencium bibirnya, aku lega melihat Karen sudah terlihat sehat.

 

Tempat pertama yang aku datangi tentu saja bar Rio, siapa tau teman-teman kerjanya yang dulu tau dimana Aisya.  Ternyata tidak ada yang tahu.  Ketika aku tanya Budi.  Dia minta maaf banget karena berkas lamaran Aisya sudah dibuang.  Jalan buntu.

Tempat kedua yang aku datangi adalah tempat kos Aisya yang dulu.  Pemilik kos pun tidak tahu tentang Aisya.  Yang kemudian membuat aku berpikir, ternyata aku pun tidak tahu banyak tentang Aisya.  Aku tidak pernah menanyakan asal usulnya.  Bodohnya aku.  Aku menyesali hal itu.  Seharian aku membawa mobilku ke tempat dimana aku dan Aisya biasanya pergi.  Tempat makan favoritnya, taman favoritnya.  Tidak terlihat tampang Aisya.  Aku putar sekali lagi tempat-tempat yang biasa kami pergi.  Berharap tiba-tiba Aisya muncul.  Sia-sia saja.  Teringat isi surat Aisya yang mengatakan untuk tidak mencari dia.  Membuat aku berkeliling sekali lagi mencari Aisya.  Tetap tidak ketemu.  Akhirnya aku kembali ke bar Rio.

 

Aku duduk di meja biasaku.  Melihat para waitress yang berlalu lalang.  Terbayang kembali kenangan aku pertama kali bertemu dia.  Bagaimana tampang malu-malunya curi-curi pandang memandangku.  Tubuhnya yang montok dengan payudara nya yang membusung.  I really miss her.  Setelah minum beberapa gelas, aku memutuskan untuk kembali ke rumah saja.

 

“Ketemu ga?” tanya Karen yang lagi duduk di sofa.  Hari sudah hampir sore ketika aku kembali ke rumah.

Aku menggelengkan kepala.  Aku menghempaskan diriku di sofa.  Lelah.  Lebih tepatnya lelah pikiran dan perasaanku.

“Loe uda cari kemana?” tanya Karen lagi.

“Gua uda cari kemana-mana, tetep ga ketemu,” jawabku.

Karen mendekatiku. Memelukku.  Kehangatan tubuhnya dan senyumnya membuat aku sedikit lebih tenang.  Kami tidak saling berucap, kami hanya saling mengelus lengan.  Tidak lama kemudian Bu Ida pamit pulang.

“Udahlah bert.  Mungkin Aisya tiba-tiba ada suatu keperluan dan dia memang harus pergi,” hibur Karen.

“Kita jalan-jalan di taman yuk. Gua pengen ditemenin loe jalan-jalan. Mumpung uda ga panas lagi,” ajak Karen menarik tanganku.

Aku mengikutinya.  Karen mencoba mengajak aku ngobrol.  Ceria sekali gaya bicaranya.  Membuat aku sedikit lega.  Mudah-mudahan penyakit Karen bisa sembuh, begitu pikirku.  Ketika kami sedang di tepi sungai hitam, Karen memelukku.  Menciumku sambil kedua tangannya memegang pipiku.

“Bert, gua punya satu permintaan,” ujarnya sambil tertawa kecil.

“Permintaan apa?” tanyaku heran.

“Tapi janji dulu, loe harus kabulin permintaan gua,” senyumnya nakal.  Sudah lama aku tidak melihat senyum nakalnya Karen.

Melihat aku tidak langsung mengiyakan.

“Jangan khawatir, gua ga akan minta loe nari striptis,” dia tertawa terbahak-bahak.

Teringat tingkah konyolku menari striptease di ulang tahun Karen dulu. Aku tertawa keras.

“jadi loe mau minta apa?” aku masih tertawa.

Karen mendekati telingaku.

“Gua kangen, pengen bercinta ama loe,” bisiknya.

Aku langsung menatapnya.

“Yakin? Loe kuat ga ML ama gua?” aku memegang kedua bahunya.

“Yakinlah.  Gua uda ngerasa sehat.  Dan loe jangan khawatir, gua masih bisa kok bikin loe orgasme hebat,” tangan Karen meraba selangkanganku.  Senyumnya tambah nakal.

“Ayo, siapa takut,” tantang aku.

“Gendong gua dong sampe kamar pengantin kita,” ucapnya manja.

 

Aku langsung menggendong Karen menuju kamar kami.

Meletakkannya pelan-pelan di ranjang.  Karen menatapku mesra.  Langsung dia meraih leherku dan mencium bibirku.  Karen melumat bibirku.  Aku pun balas menciumnya.  Mungkin Karen memang sudah merasa sehat.  Lidahnya pun diselipkan dalam mulutku.  Aku pun tidak kalah, membalas permainan lidahnya dengan lidahku.  Hmm...sudah lama aku tidak bercinta dengan Karen. Tentu saja tidak akan kusia-siakan kesempatan ini.  Langsung aku buka kancing piyama Karen.  Terlihatlah bra nya yang menutupi payudara Karen.  Pandangan Karen penuh cinta.  Langsung saja aku buka kaitan branya.  Terpampanglah payudaranya yang indah. 

“Kok diem aja bert.  Mainin dong payudara gua,” pancingnya nakal.

Kuremas kedua payudara Karen.  Kuremas lembut.  Membuat Karen mendesah.  Desahannya membuat penisku menegang.  Teringat ketika dulu aku sering bermesraan dengan Karen.  Memang badan Karen terlihat lebih kurus dibandingkan dulu. Tapi payudaranya tetap sama seperti dulu.  Tetap membuat aku kerangsang.  Kucium putingnya.  Lalu aku mulai memilin-milin putingnya dengan bibirku.  Karen menjambak rambutku.  Mendesah, menikmati permainan bibirku.  Karen pun mulai melucuti pakaianku.  Kini aku sudah telanjang bulat.  Penisku berdiri tegang.

“Hmmm, gua kangen nih ama burung loe, bert,” langsung tangan Karen mulai mengelus batang penisku.  Ah memang penisku sudah lama tidak disentuh tangan halus Karen.

 

Aku pun tidak mau kalah, aku memeloroti celana piyama Karen dan langsung aku buka juga celana dalamnya.  Aku menindih tubuh telanjang Karen.  Membiarkan penisku yang sudah keras bergesekan dengan selangkangannya.  Kami saling berpagutan lidah.  Aku menatap Karen penuh cinta.  Kepergian Aisya hilang dari kepalaku. 

“Bert, jilatin dong vagina gua. Loe mau kan?” matanya meledek aku.

Aku tertawa.  Langsung saja kulebarkan kedua kakinya.  Lidahku langsung menyerang selangkangannya.  Sapuan demi sapuan lidahku membuat Karen menggelinjang beberapa kali sambil menyebut-nyebut namaku.  Sambil menjilati bibir klitorisnya, kedua tanganku mengelus paha putih mulus Karen.  Vaginanya sudah basah oleh air liurku.

“Bert, sini dong penis loe.  Bolehkan gua emut?” godanya.

“Ah loe seneng banget yah ngeledek gua,” aku tidak menyodorkan penisku tapi aku mulai lagi menjilati vaginanya dan kini aku menambahkan beberapa hisapan di bibir klitorisnya.

“Ah loe nakal, bert,” rintih Karen, yang membuat aku tambah bersemangat, membombardir selangkangan Karen.

Tiba-tiba Karen membalikkan tubuhku sehingga Karen berada di atasku.  Jari-jarinya menyentuh putingku dan langsung memilinnya dengan keras.  Membuat aku melenguh keenakan.  Karen memang selalu tau titik lemahku.

Sambil menatapku, lidah Karen mulai menjilati dadaku, turun ke perut, lalu berhenti di bulu-bulu kemaluanku.  Disentuhnya bulu-buluku yang sedikit lebat disana, sambil matanya tetap menatapku manja.  Tepatnya menggodaku.

“Mau ga nih?” tanyanya nyengir.

“Mau apa?” timpalku.

“Hmmm kalo loe ga tau mau apa ya udah deh,” sambil Karen pura-pura menjauh dari selangkanganku.  Namun tiba-tiba mulut Karen langsung mencaplok kepala penisku dan dihisapnya kuat-kuat. 

“Aaaah,” rintihanku terdengar sangat keras.

Mendengar rintihanku bukannya membuat Karen berhenti tapi malah mulutnya semakin kuat mengisap kepala penisku dan lidahnya menyusuri lubang kencingku, membuat aku kelojotan enak.

 

Pandangan kami masih saling beradu.  Kini sambil menjilati batang penisku, Karen meremas-remas buah pelerku.  Kini kepala Karen menyamping sehingga dia bisa menjilati batang penisku dari pangkal sampai kepala penisku.  Ah nikmat banget permainan Karen.  Membuat nafsu birahiku sudah di ubun-ubun. Jelas membuat aku tidak ingat akan kepergian Aisya.

“Bert, mau masukin ga penis loe ke vagina gua?” kembali dia menggoda aku.

Tanpa menjawab pertanyaannya, giliran aku yang membalikan badannya sehingga kini dia yang berada di bawahku.  Tanpa basa basi, karena aku tahu vagina Karen pun sudah basah.  Langsung kumasukkak penisku ke dalam lubang kemaluannya.  Kini giliran Karen yang mendesah.  Rasakan pembalasanku, Karen.

 

Ketika seluruh penisku sudah masuk ke dalam vaginanya.  Jelas Karen sudah bertekuk lutut.  Karen kini hanya bisa merem, atau menggigit bibirnya menahan rangsangan dari genjotan penisku dalam vaginanya.  Tidak ada tatapan ngeledek dan menggoda aku lagi, yang ada tatapan mesra dari Karen menikmati persetubuhan kami yang sudah lama tidak kami lakukan.

Pinggul Karen bergerak mengikuti irama genjotanku.  Kedua tangan kami saling berpegangan.

“I love you, bert,” ucap Karen tiba-tiba.

“I love you too Karen,” balasku tanpa mengurangi ritme genjotanku.

Tidak lama kemudian, aku merasakan tanda-tanda spermaku sudah ingin muncrat.

“Sayang, gua uda mau keluar nih,” kataku.

“Gua juga bert,” jawab Karen.  Tidak lama kemudian kami pun saling memuncratkan cairan kami.  Terasa penisku hangat terkena cairan Karen.  Karen orgasme dengan menyebut namaku.

“Bert, gua benar-bener cinta loe.”

“Gua juga cinta banget ama loe, Karen,” aku mencium bibirnya.  Dan kami saling terkapar di ranjang masih menikmati sisa-sisa permainan kami.

Kepala Karen menyamping menatapku.  Mengelus pipiku.  Menatapku penuh cinta.

“Selama ini, loe selalu inget sama gua ya?” tanyanya tiba-tiba.

“Iyalah, gua ga pernah sekalipun melupakan loe.  Paling gua simpen dalam-dalam kenangan akan loe waktu loe ninggalin gua, karena loe tau, gua paling pinter mengubur dalam-dalam perasaanku,” jawabku.

Karen mencium pipiku.

“Maafin gua ya bert.  Walaupun gua jauh dari loe, tapi loe tetep adalah cinta gua dari dulu, tidak ada yang bisa menggantikan loe di hati gua,” Lanjut Karen sambil mencium bibirku.

“Loe juga adalah cinta gua, Karen. Sejak dari pertama kali gua nabrak loe,” aku menjawabnya sambil tersenyum.  Karen dan aku kemudian saling berciuman lama sampai akhirnya kami kembali memakai pakaian kami kembali.

 

Karen menatapku penuh cinta disampingku dan dia merebahkan kepalanya di dadaku sambil tersenyum bahagia.  Aku pun mengelus-elus punggungnya kadang-kadang juga rambutnya.  Kehangatan tubuh Karen terasa menjalar ke seluruh tubuhku.  Akhirnya karena kelelahan, kami pun tertidur.

 

Aku tertidur pulas.  Sampai aku pun bermimpi macam-macam.  Dalam mimpiku, aku bertemu Aisya.  Aku langsung memeluknya dan Aisya pun memelukku.  Tapi kemudian muncul Karen, anehnya dia tidak terlihat cemburu tapi malah tersenyum dan berkata “Bert, akhirnya loe menemukan Aisya.” Lalu tiba-tiba Karen menghilang.  Dan Aisya pun menghilang.  Aku sendirian dalam kegelapan.

 

Aku terbangun.  Kulihat jam pemberian Karen, sudah pukul 7 pagi.  Kepala Karen masih terbaring di dadaku.  Kuelus pipinya.  Kok dingin.  Apakah karena udara pagi yang dingin?

Aku meletakkan kepala Karen di bantal.  Mata Karen masih terpejam.  Bibirnya tersungging senyum bahagia.  Aku mengecup pipinya lama.  Aku memegang hidungnya.  Terasa dingin.  Kuselipkan telunjukku di depan hidungnya.  Tidak ada hembusan nafas.  Kupegang tangan Karen.  Terasa dingin juga.  Aku mulai panik. Kupanggil namanya.  Mata Karen masih terpejam. Senyumnya masih terbentuk di wajahnya.  Aku mulai menggoncang-goncangkan badannya agar dia terbangun.  Karen tetap terdiam.

Kini giliran dingin yang merasuki seluruh tubuhku.  Aku mengambil handphoneku di pinggir ranjang.  Aku telepon dokter.  Menceritakan padanya keadaan Karen dan akhirnya dokter bilang akan segera datang.

Sekali lagi kugoncang-goncangkan badan Karen dan memanggil-manggil namanya.  Karen tetap tidak bergeming.  Perasaanku tidak karuan.  Air mataku mengalir.  Aku berharap dugaanku salah.  Tidak lama kemudian terdengar bunyi bel.  Aku segera bergegas membuka pintu ternyata Bu Ida yang datang.  Segera aku menariknya ke kamar.

“Bu, coba liat keadaan istri saya,” suaraku sangat gemetar.

Bu Ida memeriksa Karen dan melihatku dengan pandangan aneh.  Dia memeriksa sekali lagi.

“Maaf pak. Ibu sudah ga ada,” ujarnya pelan.

“Ah tidak mungkin bu. Ibu pasti salah. Kemaren dia sehat-sehat aja kok, malamnya kami masih bermesraan dan Karen terlihat baik-baik saja.  Ibu pasti salah,” aku berulang-ulang kali bilang kalo ibu salah.

Tidak lama kemudian dokter datang.  Dan ternyata ucapannya tidak berbeda dengan ucapan Bu Ida.  Membuat kepalaku berputar-putar.  Aku duduk lemas di pinggir ranjang.  Aku masih menggoyang-goyangkan tubuh Karen dan berteriak memanggil namanya.  Berharap Karen akan segera bangun dan dia hanya bercanda denganku.  Tapi apa daya, mau segimana keras aku menggoyangkan tubuh Karen dan memanggil namanya, mata Karen tetap tertutup

.

“KARREEENNNNNN!!!!!!!” teriakku.



#56 erwin1504

erwin1504

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 25 posts

Posted 05 June 2017 - 04:00 AM

Mantap...

#57 jolibee

jolibee

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 287 posts

Posted 05 June 2017 - 10:21 AM

Lanjut lg koko a.k.a

#58 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 05 June 2017 - 02:06 PM

THE BLACK RIVER CHAPTER EIGHT

 

Aku berdiri seorang diri di depan nisan Karen.  Semua orang sudah pulang,  Joko dan Ira yang berniat tetap menemaniku, aku suruh pulang. Aku ingin sendiri kataku.

Kupandangi nisan Karen.  Dua hari ini bagaikan sebuah mimpi.  Mimpi buruk tentunya.  Karen dimakamkan di sebelah makam papi.  Sengaja aku memesan peti mati yang ukurannya lebih besar dari biasanya.  Karena boneka Teddy Bear Karen yang dulu menemaninya di Amerika, aku simpan dalam peti matinya.  Biar Karen tidak merasa kesepian, pikirku.  Pikiran yang konyol, tapi paling tidak bisa membuat aku lebih tenang.  Dalam tidur panjangnya, aku memakaikan Karen kaos bergambar Leonardo dan rok mini blue jeans.  Pakaian yang dia kenakan waktu kutabrak dulu.

 

Kenapa wanita yang kucintai selalu meninggalkanku.  Mami kandungku dan kini wanita yang paling kucintai meninggalkan aku juga.  Aisya pun meninggalkanku meskipun aku belum yakin dengan perasaanku terhadap Aisya.

Angin dingin menghantam kulitku.  Hujan gerimis mulai turun.  Aku masih tetap berdiri terpaku di depan nisan Karen.  Aku tidak ingin cepat-cepat kembali ke rumah.  Rumah besar yang pasti sangat sepi tanpa kehadiran siapapun disana kecuali aku.  Seminggu terakhir bersama Karen, benar-benar terasa mengembalikan cintaku yang telah kupendam pada Karen.  Namun akhirnya tidak berakhir happy ending untuk selamanya buatku.  Aku menatap langit, tidak peduli terpaan rintik hujan mengenai mukaku.  Apakah kau sedang melihatku dari atas sana, sayangku?  Tentu saja tidak ada jawaban.  Hanya guntur yang sahut menyahut di langit jauh sebelah barat sana.  Seakan-akan menyanyikan irama kesedihan mengiringi aku.

Memutar kenangan-kenanganku bersama Karen dalam benakku hanya membuat kehangatan sesaat dalam hatiku. Senyum kecil yang langsung sirna ketika aku menyadari Karen sudah tiada.

 

Hujan sudah mulai deras menerpa tubuhku. Bukan pakaian basahlah yang membuat aku ingin pulang, tapi karena langit sudah gelap.  Sesampai dirumah, aku hanya sempat mengganti bajuku dengan celana pendek tanpa memakai baju atas.  Aku langsung berbaring di ranjang dimana Karen terbaring disana selama seminggu.  Masih tercium wangi khas Karen, seakan-akan orangnya masih ada disitu.  Aku buka lemari baju dimana pakaian-pakaian Karen tersimpan.  Kudekap baju-baju Karen, mencium aromanya.  Aku kemudian meneteskan air mataku. 

Sudah dua hari berlalu, dering telepon genggamku tidak pernah kuangkat.  Aku masih bersimpuh di atas ranjang.  Aku hanya makan sisa-sisa makanan yang ada di kulkas tanpa niat untuk membeli makanan.  Televisi kubiarkan menyala tanpa kutonton.  Hanya sekedar membuat suasana kamarku tidak terlalu sunyi dan senyap.  Pakaian Karen berantakan tumpang tindih di ranjang kami.  Ranjangku sekarang statusnya.

Dengan langkah gontai, aku memutar bluray playerku.  Tentu saja satu-satunya film yang ada, Titanic yang kuputar.  Box film aku simpan di sebelah bantalku.  Bukannya terhibur, malah  membuat aku mengingat kembali saat aku dan Karen menonton film ini, bersama Joko dan Ira, lalu ketika waktu kami nonton berdua saja.  Aku tekan tombol menu setelah film berjalan 30 menit.  Aku pilih menu video klip My Heart Will Go On-nya Celine Dion. Aku setting dengan replay.

 

Aku meraba box film.  Melihat foto Leonardo langsung terbayang betapa Karen sangat mengidolakan Leo.  Disini Leo yang meninggal meninggalkan Rose tapi kenyataan dalam hidupku aku yang ditinggalkan gadisku.  Aku menyentuh foto Leo di cover Box Bluray.  Kutelusuri wajahnya sambil mengingat-ingat Karen.  Kok terasa tidak rata permukaannya.  Aku telusuri balik, seperti ada yang mengganjal di dalam.  Aku mengeluarkan covernya dan terselip keluarlah secarik kertas.

 

Every night in my dreams, I see you, I feel you, This is how I know you go on (suara Celine Dion di tivi)

 

Kubuka lipatan surat.  Aku mengenal bentuk tulisannya, tulisan Karen.

 

Halo bert, mungkin waktu loe baca surat ini, gua uda ga ada. (aku memejamkan mata sesaat)

 

Celine Dion :Far across the distance.. And spaces between us..You have come to show you go on

 

Loe pengen tau kenapa gua tulis surat ini?  Karena  waktu loe pergi cari Aisya. Gua sengaja ke kamar Aisya. Gua pengen tau siapa tau dia ninggalin pesan buat loe dan gua menemukan surat Aisya di ranjang dan gua baca.

Waktu gua baca surat itu gua merasa sedih dan bahagia sekaligus.  Gua sedih karena gua merasa gua bakal meninggalkan loe untuk selama-lamanya.  Dan gua bahagia karena ternyata bakal ada seseorang yang menggantikan gua untuk menjaga loe.  Dari isi suratnya, sebagai seorang wanita, gua bisa merasakan Aisya mencintai loe dengan tulus.  Ingatlah gua sebagai wanita yang pernah mencintai loe dan gua akan mengingat terus bahwa loe adalah pria yang pernah membuat gua sangat bahagia.  Tapi kini gua tidak bisa menemani loe lagi dan loe perlu seseorang yang bisa membahagiakan loe setelah gua ga ada.

 

Celine Dion : Love can touch us one time..And last for a lifetime..And never let go 'til we're gone
Love was when I loved you..One true time I hold to..In my life we'll always go on

 

Tolong carilah Aisya bert.  Dia wanita yang tepat sebagai pengganti gua.  Gua yakin Aisya bisa membahagiakan loe.  Gua sekarang mengerti arti tatapan dia selama ini yang gua lihat ketika dia lagi bersama loe.  Janji sama gua yah.  Carilah dia sampai ketemu.  Loe inget kata-kata Jack pada Rose pada saat Rose berbaring di atas papan dan Jack berada di dalam air disampingnya.  Anggap aja apa yang dikatakan Jack itulah yang ingin gua sampaikan pada loe. Jack bilang : Promise me you'll survive. That you won't give up, no matter what happens, no matter how hopeless. Promise me now, Rose, and never let go of that promise. Dan Rose bilang : I promise.  Jadi janjilah ama gua, bert.  Loe bakal survive dan carilah Aisya.  Please promise me.

 

Celine Dion : You're here, there's nothing I fear...And I know that my heart will go on...We'll stay forever this way...You are safe in my heart...And my heart will go on and on

 

I love you bert and I will always love you.  Terima kasih buat semua kenangan indah yang sudah loe berikan buat gua

 

Penuh cinta,

 

Karen yang selalu mengingat loe dan mencintai loe sampai kapanpun

 

Air mataku menetes membasahi surat Karen.


  • Cupuman and ivdaeorvm like this

#59 Bielski

Bielski

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 28 posts

Posted 05 June 2017 - 03:19 PM

Lanjut lg dnk. Menyentuh sekali..
  • teddythejoy and Alfarizi150v like this

#60 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 05 June 2017 - 10:26 PM

Lanjut lg dnk. Menyentuh sekali..

makasih om buat komennya :)