web counters counter stats



Jump to content


First deposit bonus

ss Situs Judi Bola Situs Judi Bola Situs Judi Bola Situs Judi Bola Situs Judi Bola Situs Judi Bola Situs Judi Bola

ingin beriklan? hubungi kami: email : megalendir@gmail.com , big.lendir@yahoo.com atau Skype : big.lendir@yahoo.com

Live Dealers Double up bonus ss ss
ss ss ss
vert
vert
Photo
- - - - -

The Old Story


  • Please log in to reply
114 replies to this topic

#1 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 24 March 2017 - 01:42 PM

OLD STORY CHAPTER ONE

 

SENIN, 6 OKTOBER 1997, PUKUL 10:15

 

Sial banget. Dosen pelajaran berikutnya ga ada.  Aku merangkul Joko, teman sependeritaan di kuliah.

“Kita kabur yuk, bro.” ajakku.

Joko menggelengkan kepala.  Aku terus mendesaknya.

“Ayolah bro, kita ke tempat biliar yang kemaren itu,” aku menarik kupingnya memaksa.

Joko berteriak dan mendorong aku.  Aku mengelak darinya dan kemudian terdengar teriakan seorang perempuan.

“aduh!”  teriaknya.

Tanpa sengaja aku menabrak seorang cewe.  Buku-bukunya terjatuh.  Secara otomatis aku jongkok dengan niat ingin membantu.  Pandangan pertamaku jatuh pada pahanya, bukan buku-buku yang ingin aku bantu ambilkan.  Paha putih yang tertekan betisnya karena posisinya yang lagi jongkok. Dibalut dengan rok mini blue jeans. Mungkin kalo tidak lagi berjongkok tuh rok panjangnya 10 cm di atas lutut.

Tangan cewe itu menepiskan tanganku ketika dia hendak mengambil buku yang terhalang tanganku.  Aku masih diam hanya pandanganku yang kini beralih pelan-pelan ke atasnya.  Harusnya sih ke wajahnya tapi malahan aku tertahan di dada cewe itu yang terbalut kaos putih bergambar salah satu bintang film idola saat ini.  Dadanya cukup menonjol, memang tidak terlalu besar-besar amat.  Kami masih sama-sama jongkok.  Aku masih tidak membantu apapun.  Lalu cewe itu berdiri. Sebelum aku sempat melihat wajahnya. Dia langsung pergi berlari.  Sambil berjongkok aku menolehkan kepalaku ke arah dia berlari.  Rambut pendeknya sebahu bergoyang-goyang mengikut gerak larinya.

Joko menjitak kepalaku.

“Hoi bangun!!!!” teriaknya di kupingku.  Joko menjitakku sekali lagi.  Baru aku tersadar dan mengejar Joko yang berlari menjauhiku karena terlihat aku ingin membalas menjitaknya.

 

PUKUL 14:15

Aku lagi menggoyang-goyangkan pulpenku dalam kelas.  Iya hari ini aku masih terjebak di kampus.  Setelah tadi akhirnya Joko menyerah dan ikut bermain ke tempat bilyar.  Sekarang dia dan aku terjebak di kelas mengikut kuliah sore. Untungnya ini kuliah terakhir hari ini, hanya sayangnya masih lama kelas ini akan berakhir karena kelas baru mulai jam 2 tadi. 

Aku masih menggoyang-goyangkan dan memutar-mutar pulpenku. Ketika Joko menyikut lenganku dan pulpenku terjatuh.

“Apaan sih, ko?” aku sedikit ngomel.

“Itu tuh cewe yang tadi loe tabrak,” katanya sambil menunjuk ke arah jam 10 dari bangku kami.  Aku memalingkan muka ke arah yang Joko tunjuk di barisan kursi di depanku. 

“Masa sih?”  aku tidak yakin karena aku memang tidak sempat melihat wajahnya.

“Iya bener, bro. Kan aku sempat lihat wajahnya waktu loe tabrak dia tadi,” tambah Joko.

Aku memperhatikan cewe itu. Kalo dari belakang sih memang model rambutnya sama seperti yang kulihat tadi.  Kaosnya warna putih.  Rok blue jeansnya ga kelihatan, karena aku duduk di belakang.  Teringat lagi pahanya yang putih.  Kemudian bayangan dadanya pun tidak ketinggalan ikut terbayang olehku.  Sisa kuliah aku habiskan dengan sering melirik ke arah cewe itu tapi hanya bagian samping kanan yang terlihat dan itu pun tidak banyak karena dia sering menunduk, mencatat penjelasan dosen dan pandanganku terhalang sama orang di sebelahnya.  Ira teman kuliah yang memang badannya agak bomber.  Sial.  So sejauh ini, hidungnya mancung.  Mukanya agak sedikit lonjong.  Matanya tidak terlalu besar.  Kalo dari samping sih, cantik menurutku.

Tidak sabar aku menunggu kuliah selesai.  Ketika semua orang membereskan buku-buku mereka, aku tetap biarkan bukuku di meja. Aku tidak mau melewatkan kesempatan ini.  Kemudian cewe itu berdiri. Benar, rok nya mini blue jeans, kaos putihnya bergambar bintang idola yang tadi kulihat.  Kulihat wajahnya, aku terkesima.  Serasa melihat bintang film yang lagi tenar saat ini. Aku lupa siapa namanya. Cantik sekali.  Dia berjalan melewatiku tanpa menyadari bahwa aku menatapnya seakan-akan melihat bidadari yang baru saja selesai kuliah.  Pandanganku mengikuti sampai cewe itu keluar kelas dan tidak terlihat lagi olehku.  Aku terdiam, mataku masih menatap pintu kelas yang terbuka.  Tanpa sadar aku gigit pulpen keras-keras sehingga ada air liur yang menetes ke tanganku.  Sekali lagi, inilah gunanya bersahabat karib.  Joko sekali lagi menjitak kepalaku sehingga menyadarkan aku dari keterpakuanku. 

Malam itu di benakku seperti layar TV yang menayangkan adegan cewe itu berdiri dan berjalan keluar kelas.  Terus-terus berulang-ulang di kepalaku.  Tiba-tiba  ketika menonton RCTI, aku ingat mirip siapa wajahnya. Winona Ryder, hanya ini lebih cantik dengan rambut agak sedikit pirang bagian depan.  Sedikit sih pirangnya.  Nah bintang idola yang di kaosnya, aku blm ingat.  Tahun berikutnya aku baru ingat siapa namanya.  Setelah membayangkan wajahnya.  Sialnya aku ingat lagi bagian lain dari dirinya.  Pahanya yang terpampang mulus di depanku terbalut rok mininya yang terangkat karena posisi berjongkok.  Jujur ya, aku paling suka lihat cewek pake rok mini. Baik itu anak sekolah atau ibu-ibu. Yang paling membuat aku tergoda adalah karyawati kantor atau karyawati apapun yang seragamnya memakai rok.  Dengan kemeja ketat mereka.  Dan mungkin karena sudah dewasa, aku melihatnya kok rata-rata dada mereka membusung semua.  Mungkin juga ada yang diganjal sesuatu di bra mereka.  Tapi apapun itu, merekalah yang menduduki tingkat teratas dalam daftar khayalanku apabila aku bermasturbasi.  Namun hari ini, tampaknya posisinya akan berubah sedikit, karena aku sedang berangan-angan, cewe itu berlutut di sebelahku di ranjang.  Memakai pakaian yang sama seperti tadi siang.  Hanya kini rok mininya lebih terangkat sehingga pahanya lebih jelas terlihat sampai dalam, dan samar-samar terlihat siluet celana dalamnya.  Tanganku kuletakkan di  pahanya. Mengelus dari pangkal lutut sampai masuk ke dalam roknya.  Khayalanku semakin menjadi-jadi, Cewe itu mengelus selangkanganku.  Cewe itu bersandar di dadaku.  Jantungku berdegup lebih kencang.  Tanpa sadar celana pendekku sudah kulepaskan.  Aku mengocok batang kemaluanku.  Namun aku membayangkan cewe itu merogoh celana pendekku dan meremas penisku.  Aku membayangkan kenyalnya payudaranya yang tidak begitu besar menekan dadaku.  Aku mengocok penisku tambah cepat.  Birahiku tidak seperti biasanya, bergelora sangat tinggi. Membayangkan tangan cewe itu mengelus dan mengocok penisku. Dan crott…spermaku muncrat dan membasahi selangkanganku.  Nikmat.

 

SELASA, 7 OKTOBER 1997 PUKUL 07:10

Hari ini aku dijemput Joko, naik motor Astrea 800 nya.  Aku penasaran tentang cewe yang jadi bahan onani ku semalam.

“Ko, loe kenal ga sama cewe yang gua tabrak kemaren?” pancingku.

“Ga kenal, man.  Gua baru liat cewe itu,” jawabnya.

Selesai sudah investigasiku tentang cewe itu. Kecewa.

 

PUKUL 07:45

Aku melihat ira di kantin, cewe gendut yang kemaren duduknya di sebelah cewe itu.

“Halo Ira,” suaraku merayu.

Ira memperlihatkan tampang aneh karena selama ini aku belum pernah menyapanya seperti itu.

“Eh, loe kenal ga nama cewe yang duduk di sebelah loe kemaren?” tanyaku langsung.

“Michelle?” matanya menarik bola matanya.

“Bukan Michelle, tapi yang rambut sebahu pas kuliah Pak Marto.

Ira tampak berpikir.

“Gua ga tau, kayaknya anak baru tuh,” lanjutnya sambil menyuap sesendok nasi goreng ke mulutnya.

Sial. Investigasiku tidak menjadi lebih baik.

 

PUKUL 07:55

Aku masuk kelas.  Seperti biasa aku duduk sebelah Joko di deret bagian belakang.  Mataku mencari-cari sosok peneman masturbasiku semalam.  Ga ketemu.  Ketika dosen sudah masuk kelas.  Akhirnya cewe itu muncul, karena telat dia buru-buru menyusuri deretan belakang dan duduk di sebelah Joko.   Sial. Tau gitu aku duduk di kursi Joko.  Untuk minta pindah posisi ama Joko, jelas aku gengsi lah.  Dan sudah pasti sepanjang kuliah, konsentrasiku buyar.  Walaupun biasanya memang tidak pernah konsen dengan kuliah.  Sekarang ditambah cewe “yang membantuku” semalam duduk dua kursi dariku.  Mataku seringkali melirik ke arah kiri.  Hari ini dia memakai rok hitam mini.  Hmmm…paha putihnya terlihat sedikit. Lumayanlah.  Wangi-wangi sabun mandi merk terkenal tercium olehku.  Jelas itu bukan dari tubuhnya Joko.  Aku ada ide untuk berkenalan dengannya.

“Sori, bisa pinjam pulpennya ga?” tanyaku tiba-tiba pada cewe itu.  Dia melihatku dan pandangannya kelihatan menusuk. Mungkin dia ingat kejadian kemaren pas aku tabrak.  Buset cantik banget.  Sebelum dia sempat menjawab.

“Nih pake aja punya gua,” Joko memberikan pulpennya.

Brengsek si Joko. Mau ga mau aku ambil pulpennya Joko.  Cewe itu kembali memperhatikan ke arah dosen.

Lirikan ke kiriku tetap berlangsung.  Ketika badan Joko sedang tidak menghalangi pandanganku.  Kulihat dadanya yang membusung dibalik kaos putihnya. Seneng amat nih cewe pake kaos putih.  Padahal aku baru ketemu dua kali dengannya. Tapi uda ngejudge dia suka pake kaos putih.  Aku agak tercekat di tenggorokanku ketika dia menyilangkan kakinya sehingga roknya sedikit naik lagi ke atas.  Oooh, pahanya lebih jelas terlihat lagi.  Penisku menegang. Buru-buru kututupi dengan tasku.  Wangi sabunnya tercium lagi, menambah penisku semakin tegap berdiri.  Alih-alih mengalihkan libidoku, aku gigit pulpen Joko.  Aku melirik cewe itu lagi.  Pas ketika dia lagi mengoles bibirnya dengan lidahnya.  Sial. Sial.  Penisku tambah mengganggu celanaku.  Membuat aku merasa terjepit tidak nyaman.  Beberapa kali aku membenarkan posisi dudukku tapi tidak menyelesaikan masalah.  Pulpen Joko tetap kugigit, bahkan air liurku menetes sedikit membasahi pulpennya.  Peduli amat, biar tau rasa dia pulpennya kena air ludahku, karena mengganggu rencanaku tadi.  Kini aku membayangkan ujung pulpen Joko adalah puting susunya cewe itu.  Dasar freak.  Aku mulai mengenyot ujung pulpen Joko. Aku putar-putar ujung pulpennya seakan-akan aku sedang memilin dan memutar-mutar puting susu cewe itu dengan mulutku.  Tangan kiriku mulai menekan-nekan tas yang menutupi selangkanganku.  Uggh enak karena kontolku ikut tertekan.  Kakiku sedikit menegang, menikmati penisku yang tertekan tas.

Aku mencondongkan badanku mendekati Joko biar aku bisa lebih mencium wangi tubuh cewe itu.  Ujung pulpen makin kuhisap kuat.  Seakan-akan aku menghisap pentil cewe itu yang sudah tegang.  Aku semakin menekan tasku dengan tangan yang satu lagi, menekan-nekan penisku.  Gila, enak banget.

“Eh pulpen gua loe apain?” tiba-tiba Joko menarik pulpen dari mulutku.

“Jorok banget loe, bro,” Joko mengelap pulpen di lengan kaosku.

Aku melihat cewe itu lagi memandangku dan terlihat agak jijik mengetahui pulpen Joko berlumuran ludahku.  Aku menunduk.  Seketika nafsu birahiku menguap.  Bener-bener sialan si Joko.

 

PUKUL 17:07

Aku pergi ke supermarket. Aku pergi ke bagian sabun dan shampoo.  Hampir 30 menit aku berkutat di daerah situ.  Aku periksa tiap sabun dan aku baui wanginya.  Sampai akhirnya aku ketemu yang harumnya persis sama dengan cewe itu.

 

PUKUL 20:06

Ketika semua sudah tidur.  Mungkin aku lupa cerita ya. Sejak Mamahku meninggal, aku tinggal dengan kakak mamahku yang laki-laki dan keluarganya.  Setelah paman dan istrinya sudah tidur.  Aku mulai meletakkan sabun dekat ranjangku.  Aku lepas semua pakaianku.  Aku pejamkan mata.  Kenapa? Sehingga dengan wangi sabun yang tadi aku beli, aku bisa merasakan adanya cewe itu di dekatku seperti waktu kuliah tadi.  Dengan memejamkan mata, aku bisa berangan-angan lebih “hikmat”.  Aku mulai mengelus-elus kepala penisku. Aku bayangkan cewe itu berbaring di sampingku.  Harum tubuhnya membuat aku tambah bergairah (efek 3D dari sabun yang baru kubeli).  Aku menoleh ke samping, rok hitam yang tadi dipakainya, aku sentuh ujung bawahnya. Cewe itu kegelian ketika tanganku menarik roknya sampai atas karena ujung-ujung jariku menggesek kulit pahanya.  Kuelus-elus pahanya yang  putih.  Penisku semakin menegang karena kukocok terus dengan stimulasi membayangkan mengelus paha cewe itu.  Cewe itu pun tidak mau kalah, tangannya ikut mengelus pahaku. Berhenti di bulu-bulu jembutku. Mengelus-eluskan jarinya disana. 

“Aaahh” aku merintih pelan membayangkannya.  Kocokanku tambah cepat.  Aku mendekatkan diriku pada cewe itu.  Dia pun mendekatkan mulutnya pada telingaku.  Menggigit daun telingaku.

“hmmm…” erangku pelan ketika cairan pelumas penisku membuat tambah licin kocokanku.  Kakiku mengejang, menahan nikmatnya ketika daun telingaku dijilati lidahnya.  Sementara tangannya kini memegang dan meremas buah zakarku.

Ah gairahku membara.  Kurasakan badanku sedikit panas.  Keliatannya sebentar lagi aku pasti muncrat.  Ketika terdengar ketukan di pintu.

“Tok. Tok. Tok,”

Apa-apaan ini.  Aku kelabakan. Aku bugil.  Terdengar lagi bunyi ketukan.

“Sebentar,” teriakku. Tapi suara parau yang terdengar.

Akhirnya aku membuka pintu dengan mengeluarkan sedikit kepalaku dari celah pintu karena aku tidak keburu berpakaian.

“Ada apa, engkim (panggilan untuk bibiku)?” tanyaku dengan penis menempel pintu.

“Engkim lupa ngomong.  Tadi si Joko mampir, ada fotokopi tugas buat kamu. Engkim taroh di meja yah,” lalu bibiku pergi.

Aku menutup pintu.  Aku langsung berbaring di ranjang. Lemas seluruh tubuhku.  Penisku pun ikut lemas.  Dua kali si Joko menggagalkan kenikmatanku. Meskipun yang kedua ini secara tidak langsung.  Tapi aku menganggapnya tetap kesalahan dia.  Bayangan cewe itu entah kemana.  Akhirnya aku tertidur telanjang malam itu tanpa mencapai klimaks.

 

JUMAT, 10 OKTOBER 1997 PUKUL 16:12

Beberapa hari ini tidak ada yang menarik.  Hanya aku tau dari teman-teman, nama cewe itu Karen. Tadinya kuliah di Amerika.  Anaknya pintar jadi dia bisa mengambil jumlah pelajaran lebih banyak dari mahasiswa lain, buat mengejar ketinggalan.  Dan ternyata banyak temen-temen cowo aku yang ngincar dia.  Sialan.  Tapi aku tidak terlalu khawatir, karena tampangku sebenarnya tidak jelek. Termasuk di atas rata-rata. Hanya aku punya beberapa poin minus di mata Karen.  Pertama nabrak dia, kedua itu tuh insiden pulpen.

Baru beres kuliah nih, mau pulang tapi hujan cukup deras.  Joko ga masuk kuliah, lagi sakit meriang katanya.  Syukurin batinku.  Alkisah, aku jalan-jalan aja keliling kampus.  Memang rejeki tidak lari.  Eh pas di depan aula deket gerbang, aku liat Karen.  Sepertinya nungguin hujan.  Sendirian.

Kesempatan nih.  Tapi aku bimbang. Maju atau jangan.  Teringat onaniku semalam yang sukses besar.  Setelah tertahan beberapa kali tidak jadi klimaks.  Berkhayal Karen bersetubuh dengan posisi dia duduk mengangkang di atas penisku. Bugil.  Payudaranya yang tidak begitu besar terpampang di depanku. Bergoyang-goyang mengikuti irama genjotanku.  Akhirnya aku memutuskan untuk maju saja.

Dengan langkah pura-pura santai, menikmati pemandangan hujan yang begitu deras.  Karen lagi duduk di tangga depan aula utama.  Hari ini dia pakai baju terusan yang bawahnya rok yang ada belahannya sampai di atas lutut sedikit.  Tahan birahi, tahan birahi batinku.

Dia melihatku lewat. Aku berikan senyumku yang termanis.

“Nungguin hujan ya?” tanyaku membuka percakapan.

“Nungguin dijemput sama sopir gua,” katanya.

Dengan sok yakin dan percaya diri tinggi, aku duduk di sebelahnya.  Oh my, tercium lagi wangi sabun yang biasa dia pakai.  Tahan nafsumu, man.

“Macet kali,” sambungku.

Dia mengangguk, “Mungkin.”

“Eh sori yah, waktu itu gua nabrak loe. Si Joko sih dorong-dorong gua,” kataku.

Dia tersenyum, “Ga apa-apa kok.”  Gerak bibirnya begitu mempesona.  Tahan mental, tahan mental.  Tapi aku sudah menyimpan tasku di atas pahaku. Buat jaga-jaga.

“Emang rumah loe jauh?” aku mencari bahan percakapan.

“Ga juga, paling 25 menit dari sini,” tanyanya sambil memandang hujan.  Mungkin dia ingin aku cepat enyah dari sebelahnya.  Karen meletakkan tangannya di atas pahanya sehingga membuat tonjolan dadanya lebih membusung ke atas.  Tahan nafsu…ah peduli amat. Penisku mulai bereaksi.

“Katanya loe pindah kuliah dari Amerika. Kenapa pindah?” tanyaku kemudian.

“Eh…kenapa yah. Kangen aja pengen balik ke Indo,” jawabnya sambil tersenyum kecil.  Tangannya masih menekan dadanya.  Kenapa pandanganku fokus ke sana. Aku berusaha fokus bibirnya.  Ah salah pilihan.  Bibirnya begitu tipis dan sedikit basah karena dia baru saja mengoles bibir bawahnya dengan bibir atasnya.  Penisku tidak mau kompromi. 

Hening sejenak. 

“Loe sendiri kok ga pulang?” dia memulai percakapan lagi.

“Tadinya mau pulang ujan-ujanan, tapi lihat loe sendirian disini. Gua ga jadi pulang,” jawabku spontan. 

Kini dia memandangku.  Aku menatapnya dengan berusaha pakai tampang jail.

“Dasar gombal,” senyumnya melebar.  Kami tertawa.

“Seriusan, gua pengen menikmati hujan bersama cewe cakep. Jarang-jarang lho kejadian kayak gitu,” sambungku.

Karen tertawa kecil, terlihat sedikit malu.  Sedikit.

“Ah loe sering ngerayu cewe-cewe kampus ini yah,” dia kembali tertawa kecil.

“Ga lah, gila aja, gua bukan playboy,” penisku kembali normal.

Hampir 20 menit, kami mengobrol macam-macam.  Hujan sudah agak mulai reda. 

Karen melirik jam tangannya.  Mukanya terlihat agak cemberut.

“Kok sopir gua belum datang yah?” bibirnya mengerucut.

“Eh gua mau ke telepon umum dulu yah,” ujarnya kemudian.

“Gua temenin,” sambil aku berdiri mengikuti Karen yang sudah berdiri.

Aku menunggu agak jauh dari telepon umum deket kampus.  Karen terdengar suaranya agak keras.  Lalu dia meletakkan gagang telepon dan menuju ke arahku dengan muka yang lebih cemberut dari sebelumnya.

“Kenapa?” tanyaku.

“Sopir gua belum balik dari Jakarta, nganterin papi gua ke airport,” jawabnya sambil memonyongkan mulutnya.

“Wah masih lama dong?” dalam hati aku bergembira.

“Heeh,” Karen sedikit menghentakan kakinya.

Hujan sudah mulai mereda.  Langit sudah mau gelap.  Kulihat jam, wah sudah jam 5 lebih.

“Jadi gimana?” tanyaku.

“Ga tau. Gua pulang naik taksi atau angkot aja deh,” ujarnya.

“Wah jangan,” aku jawab spontan.

“Kenapa?” tanyanya heran.

“Uda malam. Entar kalo loe kenapa-kenapa gimana?” jawabku khawatir.  Ini bener-bener khawatir bukan khawatir gombal.

Karen tersenyum akhirnya.

“Emang kalo gua kenapa-kenapa , apa hubungannya ama loe?” dia bertanya sambil tertawa.

Aku garuk-garuk rambutku yang tidak gatal.  Bingung jawabnya.  Karen malah tertawa lebih keras.

“Gua antar aja yah pake motor,” aku memberanikan diri.

Karen terlihat ragu untuk menjawabnya.  Dia lihat langit yang tambah gelap.

“Entar loe nyulik gua lagi,” candanya.

Iya aku bakal nyulik kamu, disekap di kamarku. Aku bugilin kamu.

“Ya, ga bakalan lah.  Paling aku minta ongkos anter loe aja,” aku bercanda balik.

Kami tertawa bersama lagi.

“Gimana?” tanyaku lagi.

“Ya uda deh. Tapi awas ya kalo ngebut,” jawabnya sambil tersenyum.

“Dijamin selamat sampe ke rumah loe, bahkan gua anterin sampe ke kamar loe,” aku menjulurkan lidah.

“Enak aja,” Karen mengikutiku ke arah parkiran motor.

Emang enak Karen.  Biar aku bisa bercumbu denganmu. Batinku.

Tiga menit kemudian. Karen sudah dibonceng olehku. Duduknya menyamping karena dia pakai rok.  Hmm..dada kanannya begitu dekat dengan punggungku.  Penisku bereaksi lagi.  Aku merasakan hawa tiba-tiba dingin.   Mungkin karena penisku bereaksi . Aku berhenti ke tepi jalan.

“Kenapa?” tanya Karen.

Aku buka jaketku.

“Hawanya dingin, loe pake jaket gua deh,” aku menyodorkan jaketku.

“Ga usahlah, loe yang di depan, loe yang lebih butuh jaket,” tolaknya.

“Kalo loe ga pake, gua ga akan jalanin motor gua,” paksaku.

Karen dorong bahuku.

“Dasar!” Namun Karen akhirnya memakai jaket merahku.

Aku jalanin lagi motorku.  Pelan-pelan. Aku tidak mau momen ini segera berakhir.  Aku merasakan pegangan tangannya yang tidak terlalu kencang pada pinggang kananku.  Karen oh Karen.

Mungkin karena aku melamun, aku tidak terlalu waspada, tiba-tiba ada mobil yang berhenti mendadak di depanku.  Aku tekan rem tiba-tiba. Dan tubuh Karen terdorong ke depan mengenai punggungku.  Kalian tahu kan, tentu saja dada karen mengenai punggungku.  Kenyal, kenyal gitu. 

“Sori, sori Karen,” aku meminta maaf, aku menoleh ke belakang.

Karen terlihat malu. 

“Ga apa-apa,” jawabnya.  Aku melanjutkan perjalanan sambil aku pura-pura ngomel karena mobil tadi berhenti mendadak. Dalam hati sih aku berterima kasih.  Kami tidak banyak bicara di motor. Hanya kurasakan pegangan tangan Karen sedikit lebih erat daripada tadi. Mungkin buat menjaga siapa tahu aku berhenti mendadak, dia bisa menahan badannya agar tidak terdorong ke arah punggungku.  Tapi posisi duduknya kurasakan semakin lebih dekat karena kurasakan dada kanannya kok kayak lebih menempel di punggungku.  Sialan penisku berdiri lagi. 

“Loe ga dingin kan?” tanyaku mengalihkan perhatianku dari penisku.

“Ga kok, kan uda pake jaket loe. Loe sendiri kedinginan yah?” tanyanya agak sedikit berteriak supaya terdengar olehku.

“Ga kok, kan ada loe di deket gua,” jawabku bercanda.

Karen mukul bahuku lagi.  Ah aku tidak ingin ini berakhir.

Hanya sayang, akhirnya aku sampai di rumahnya.  Karen turun. Dia pencet bel rumahnya. Rumahnya besar banget.  Jelas dia orang kaya. Tiba-tiba aku merasa sedikit minder.

Karen membuka jaketku.

“Terima kasih yah buat jaket dan nebengannya. Gua harus bayar berapa nih?” godanya.

Aku memakai jaketku.  Badanku jadi hangat.  Entah karena faktor jaket atau kehangatan badan Karen masih menempel di jaketku.

“hmmm, bayar pake ciuman aja, boleh?” godaku balik.

Karen tertawa.

“boleh nanti gua suruh gogok gua nyium loe, mau?” Karen tertawa.

“Teganya,” aku pasang tampang cemberut.

Karen malah lebih tertawa.

Ada seseorang yang keluar dari rumah.

“Itu pembantuku uda mau bukain pintu. Mau masuk dulu?” tanyanya.

Mau sih, tapi ga deh. Aku  agak minder lihat rumahnya yang super gede.

“Ga deh, Karen. Kapan-kapan aja.” Kilahku.  Pembantunya sudah membuka gerbang.

“Gua pulang dulu yah, Karen,” pamitku.

“Makasih ya…eh nama loe siapa sih?” tanyanya baru sadar kalo dia belum tahu namaku.

Aku tertawa.

“Kenalan dulu dong,” aku menyodorkan tanganku.

Karen tertawa dan menyodorkan tangannya.  Aku merasakan telapak tangannya yang halus.  Yang kemaren-kemaren aku bayangkan mengelus dan mengocok penisku.

“Nama gua Albert KA,”  jawabku sambil menggenggam tangannya erat-erat.


  • ivdaeorvm likes this

#2 jolibee

jolibee

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 307 posts

Posted 24 March 2017 - 10:37 PM

Lanjut om boss
  • teddythejoy likes this

#3 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 25 March 2017 - 10:00 AM

OLD STORY CHAPTER TWO

 

JUMAT, 10 OKTOBER 1997, PUKUL 20:24

Setelah mengantar Karen pulang, hatiku berbunga-bunga.  Senyum dan tawanya terbayang-bayang selalu dan bikin aku juga sering tersenyum dan tertawa sendiri.  Masih terasa pukulan dan dorongannya di bahuku.  Dan yang jelas masih terasa adalah kenyalnya payudaranya yang menyentuh punggungku.  Tangan Karen yang halus mulai mengusap perutku. Lho!!! Kok larinya kesana.  Ya sudah deh lanjut aja.  Aku mulai buka lagi celanaku.  Kubaringkan Karen di ranjang.  Aku elus betisnya.  Lalu aku sobek belahan rok baju terusannya, sobekannya sampai atas lalu aku sibakkan roknya sehingga terlihat celana dalamnya, yang berenda-renda.  Terbayang lagi tatapan matanya yang ramah.  Aku sobek lagi pakaiannya sampai ke atas sampai terbelah dua sehingga memperlihatan gundukan payudaranya dibalik branya yang berwarna hitam. 

Tidak! Tidak! Aku tidak bisa melanjutkan khayalanku.  Penisku pun langsung lemas kembali. Entah kenapa aku tidak bisa bermasturbasi dengan membayangkan Karen dengan tubuh setengah bugilnya.  Malahan aku hanya membayangkan memegang tangannya lalu memeluknya tapi dengan dia masih mengenakan pakaiannya.  Aku peluk hangat tubuhnya sampai aku tertidur.

 

 

Semenjak aku mengantarnya pulang, aku dan Karen semakin dekat.  Memang ternyata Karen sangat suka pakai rok mini. Jadi pahanya yang mulus sudah menjadi tontonan biasaku.  Namun seperti yang kubilang waktu itu, banyak teman kuliahku yang naksir dia.  Kadang bikin aku jealous kalo ada cowo yang ngobrol dan menggoda Karen.  Satu kelebihanku di antara mereka semua, aku sudah pernah mengantarnya pulang, meskipun hanya naik motor.

Ada satu cowok namanya Michael, yang jelas-jelas ngejar Karen.  Orang ini memang patut dicemburui olehku.  Kalo soal tampang, ya memang dia ganteng, tapi aku tidak kalah ganteng.  Sialnya dia ini pintar dan anak orang kaya.  Itu yang aku sulit tandingi.  Kalo soal nilai mungkin aku bisa mengejarnya tapi kalo soal kekayaan, nah ini yang bikin aku minder.  Satu lagi bodinya Michael keren, atletis karena dia rajin fitness. Sedangkan aku karena bukan orang kaya, badanku memang tidak gendut tapi bisa dibilang tidak berotot.  Kalo soal penis, mungkin penisku lebih besar, tapi ya ga tau juga soal penisnya Michael. Jadi aku tidak bisa bersaing dengan hanya modal kontol.

Sejauh ini, untungnya yang lebih dekat dengan Karen itu aku.  Sebenarnya Joko juga jadi dekat dengan Karen, plus ditambah entah gimana prosesnya Ira juga jadi dekat dengan kami bertiga.  Kami berempat sering duduk berderet jika sedang kuliah atau sering ke kantin bersama.

 

JUMAT, 7 NOVEMBER 1997 PUKUL 17:05

Mungkin aku lupa cerita.  Untuk menambah uang jajanku, diluar jam kuliah, aku memberikan les privat untuk anak SMP dan SMA.  Ada satu muridku namanya Mary.  Dia kelas dua SMA.  Yang bikin aku seneng ngelesin dia itu karena dia kalo les sering pake baju yang seksi.  Mungkin memang untuk menggodaku.  Karena kalo aku sedang menerangkan tentang matematika, sering kuperhatikan dia bukannya memperhatikan tapi hanya memandangiku.  Mungkin kalian berpikir bakal ada sesuatu antara aku dan Mary. Well, tebakan kalian tidak sepenuhnya salah.

Hari ini jadwal aku memberi les privat pada Mary.  Mary tidak cantik tapi bisa dibilang imutlah.  Hari ini Mary pakai rok mini warna putih.  Mini banget. Kira-kira 20 cm di atas lutut. Sedangkan atasnya dia pake tanktop putih.  Biasanya dia pakai celana pendek, tapi hari ini dia pakai rok mini.  Seperti kalian tahu, rok mini adalah kelemahanku.

Hari itu tidak ada orang di rumah Mary karena orang tuanya lagi keluar kota. (alasan klise untuk terjadi sesuatu).  Biasanya dia duduk di meja di seberangku, kini dia sengaja duduk di sampingku.  Aku sih biasa aja hanya aku tergoda melihat pahanya yang terbalut rok mini.  Pahanya lebih kecil dari Karen.  Putih dan mulusnya sih sama menurutku.

Tiba-tiba dia bertanya

“Koko uda punya pacar belum?”

“Lho emang kenapa?” tanyaku.

Dia tertawa genit

“Aku mau jadi pacar koko,” katanya tidak terlihat maen-maen.

“Ah kamu becanda aja deh, isengin orang aja ah,” hindarku sambil membuka buku pelajarannya.

“Eh serius lah, koko kan ganteng,” Mary menggenggam tanganku.

Aku mulai blingsatan tidak enak hati.  Takut tiba-tiba ada yang muncul di ruang tamu tempat belajar kami.

“Eh aku tidak lihat papi dan mami kamu,” pancingku.

“Mereka lagi keluar kota. Mary sendirian di rumah sama pembantu,” tangan Mary beralih ke lenganku.

Sebagai laki-laki normal yang ganteng (apa hubungannya), penis aku sedikit bereaksi ketika jemari halus Mary mengelus-elus lenganku.

“Mar, kita belajar tentang ini yah,” lanjutku mengalihkan topik pembicaraan.

Mary menggeser kursinya ke dekatku.  Kakinya menempel pada kakiku.  Paha kami beradu. Untung aku pakai celana panjang, kalo aku pake celana pendek, jelas paha kami akan bersentuhan langsung.

“Aku mau belajar kalo dipangku ama koko,” langsung saja Mary duduk di pangkuanku.  Wajahnya menghadap aku.

“Mar, apa-apaan sih, entar si Bi Minah liat kita. Gimana?”  aku sulit mengusirnya dari pangkuanku karena tangannya sudah melingkar di leherku.

Mary tertawa kecil.  Wajahnya sangat dekat dengan wajahku.  Tubuhnya harum tapi wanginya beda dengan Karen.

Pinggul Mary bergoyang-goyang.  Membuat penisku berdiri.  Jelas aku kan pria normal.  Dada Mary berimpit dekat dengan dadaku.  Payudaranya yang kecil terlihat belahannya dari arahku.

“Mar, udahan deh becandanya. Ayo kita belajar,” aku berusaha mengangkat tubuhnya. Mary menekan tubuhku tetap duduk.  Mungkin dia merasakan penisku menegang, makanya Mary menjadi lebih berani.  Dia mulai menempelkan payudaranya di dadaku.

“Kontol koko uda berdiri ya?” lirihnya sambil tertawa kecil.

“Eh..eh..engga,” aku berkilah.

“Koko boong, ini buktinya,” Mary langsung menekan-nekan pantatnya di penisku.  Ugghh enak banget.

Aku tersipu malu karena ketahuan belangnya oleh Mary.  Tiba-tiba Mary mencium bibirku.  Lembut dan basah.  Sekian detik, aku menikmati cumbuan Mary.  Ini pertama kalinya aku mencium bibir cewe. Mary semakin berani, dia menurunkan tali tanktopnya sehingga payudara kanannya terbuka.  Penisku tambah menegang.

Mary menciumku lagi.  Aku memeluk tubuhnya yang ramping.  Aku balas menciumnya.  Mary menekan-nekan payudaranya di dadaku.  Kecil tapi tetap terasa kenyal. Aku teringat kenyalnya payudara Karen.

“Aahh enak banget Karen,” ucapku tanpa sengaja ditengah-tengah ciuman kami.

Mary berhenti menciumku.

“Siapa itu Karen, ko?” tanyanya curiga.

“Egh..bukan siapa-siapa,” jawabku.

“Bohong! Pacar koko yah,” tanya Mary lagi masih tetap duduk di pangkuanku.

“Pengennya sih,” ujarku dengan otomatis.

Mary terlihat merajuk. Dia langsung berdiri dan duduk lagi di kursinya.  Payudara kanannya masih terbuka.

Semenjak itu, Mary tidak pernah menggodaku lagi.  Dan bulan itu terakhir kalinya aku memberi les privat pada Mary.  Aku tidak menyesal tidak jadi melanjutkan ciuman kami.  Karena saat itu yang terbayang-bayang di pikiranku hanyalah Karen.  Dan akhirnya aku menyadari bahwa aku jatuh cinta dengan Karen.  Karena jika kuperhatikan, aku tidak pernah bermasturbasi lagi membayangkan Karen karena aku tidak tega melakukannya, seakan-akan jika aku beronani dengan membayangkan Karen, aku berarti menodainya.  Aku tidak mau hal itu terjadi.  Aku mencintainya dengan tulus.  Aku menghargainya.

 

SABTU, 15 NOVEMBER 1997 PUKUL 18:17

Hari ini aku excited banget.  Aku, Joko dan Ira diundang ke ulang tahun sweet seventeenya adik Karen.  Disebuah ballroom hotel mewah di kotaku.  Aku sengaja beli kemeja lengan panjang dan celana panjang baru dari hasil kerja sampinganku. Les privat.  Ngomong-ngomong belum ada hal aneh lagi yang terjadi dengan kegiatanku yang satu itu setelah insiden Mary.  Acara mulai jam 18:30.  Tapi aku sudah stand by di tempat parkir motor di basement.  Aku sudah mandi, aku iseng aja pakai sabun yang wanginya sama dengan Karen.  Entah kenapa hatiku agak sedikit deg-degan.  Mungkin karena aku ingin menyatakan cintaku pada Karen pada momen ini.

Sekitar jam setengah 7 kurang 3 menit, aku ketemu Joko dan Ira di lobby hotel.  Ira bawa sebuah bungkusan kado gede.  Iya kami patungan bertiga beli kado itu.  Sebuah boneka Teddy Bear yang besar.  Lumayan nih uang sakuku terkuras buat momen ini.  Tapi ga apa-apalah kan demi Karen. 

Ketika masuk ke ballroom hotel itu, aku takjub melihat mewah interior dan dekorasinya dalam rangka ultah sweet seventeen ini.  Aku meneguk ludah.  Aku bisa membayangkan berapa biaya yang dihabiskan untuk acara ini oleh orang tuanya Karen.  Ketika otakku sedang memperhitungkan layaknya seorang akuntan kira-kira berapa biayanya.

“Hai kalian sudah datang,” sebuah suara yang sering mengisi lamunanku muncul.

Aku menoleh.  Kulihat Karen memakai gaun hitam panjang sampai lantai dengan dua tali tipis yang menggantung di bahunya.  Belahan dadanya terlihat sedikit.  Rambutnya yang pendek diatur sedemkian rupa di atas kepalanya. Mungkin ditambah beberapa rambut palsu sebagai tambahan karena rambutnya terlihat tidak pendek.  Wajahnya didandan sedemikian rupa. Aku ga tau istilah alat-alat make up.  Tapi mataku menatapnya terpesona.  Cantik sekali.  Aku masih ternganga kecil ketika Karen mendekati kami, sambil tangannya mengangkat gaunnya di bagian paha biar lebih gampang berjalan.

Karen tersenyum manis padaku.

“Halo bert,” sapanya.

Aku tidak bisa mengeluarkan kata-kata melihat kecantikannya.  Mataku tidak berkedip.

“Loe kenapa, bert?” tanya Karen.

Perlu Joko untuk menyadarkanku dengan jitakannya.  Sekali lagi itulah gunanya sahabat karib.

“Eh ga kenapa-napa, Karen. Kamu kok cantik banget sih,” ceplosku tanpa aku sadari.  Yang membuatku malu seketika tapi sekilas aku melihat senyum malu juga di wajah Karen.

“Aku tinggal dulu yah, teman-teman. Kalian makan dulu aja,” Karen melambaikan tangannya pada kami.

Aku memperhatikan Karen meninggalkan kami.  Aku timbul perasaan ragu untuk nembak Karen.

Joko dan Ira sudah meninggalkanku entah kemana.  Mungkin mereka langsung menyerbu salah satu booth makanan.  Ira kan bomber. Hehehe

Aku berkeliling tanpa tujuan.  Banyak teman-temannya Keisya, adik Karen yang berseliweran dengan gaun-gaun seksi mereka.  Cantik-cantik sih. Tapi mataku hanya mencari-cari dimana Karen.  Sambil berusaha meredam keraguanku.  Akhirnya kulihat Karen lagi berdiri di salah satu meja diujung, sedang berbicara dengan seorang cowo. Cowo itu pake sepatu mengkilat, kelihatan baru dan mahal.  Kemeja Silver dengan rompi yang pas sekali dengan kemejanya.  Tunggu. Itu kan si Michael.  Ternyata si kunyuk itu diundang juga.  Aku ingin beralih ke tempat lain ketika Karen melihatku dan memanggilku.

“Bert, sini,” tangannya melambai padaku.

Mau tidak mau, aku mendekati mereka.  Michael tersenyum padaku.  Pengen kutabok dia.  Ketika sudah mendekat.

“Eh Michael loe disini juga,” aku berusaha tersenyum.

“Iya lah pasti gua disini. Masa cewe secantik Karen tidak ada yang menemani,” guraunya dengan mengedipkan satu mata ke Karen.

Karen menepuk bahu Michael.  Sialan, ternyata bukan bahu aku aja yang ditepuk Karen.

“Papinya Michael itu temen maen golfnya papi gua, bert,” jelas Karen.

Pengen aku lempar kursi ke Michael begitu mendengar hal itu.

“Oh gitu,” tapi itu kata yang keluar dari mulutku. 

Aku tidak ingat apa yang terjadi selanjutnya.  Hanya ketika acara mulai, Joko dan Ira sudah disampingku.  Karena adik Karen yang ultah, makanya Karen berdiri di depan dekat keluarga dan adiknya.  Tapi eh ngapain Michael juga berdiri di sebelah Karen.

Kudengar Ira memuji kegantengan Michael.  Aku ingin lempar kapak ke Michael mendengarnya.  Ketika acara suap kue.  Keisya menyuapkan kue ultah ke papi maminya. Dan pas giliran Karen yang disuap, entah tuh MC lagi ngaco atau apa. 

“Ini pacar cicinya yah?” sambil menarik tangan Michael mendekat ke Karen.

Karen tidak menjawab tapi Michael dengan semangat 45

“Iya betul, saya pacar cicinya Keisya,” jawabnya tanpa malu-malu.

Karen mendorong lagi bahu Michael.  Terlihat Karen sedikit malu.

“Suapin dong kuenya ke calon kakak ipar,” gurau MCnya.  Andai aku punya granat.

Sialnya. Keisya ngasi kue ke Karen buat disuapin ke Michael.  Sialnya lagi Karen nyuapin tuh kue ke keparat Michael.  Tiba-tiba panas banget nih ballroom.  Aku membuka satu kancing kemejaku.  Tidak membantu. Terasa lebih panas dadaku ketika melihat Michael menggandeng tangan Karen ke tempatnya semula. 

Penderitaanku belum berakhir ternyata.  Aku belum pernah menghadiri acara sweet seventeen.  Jadi aku tidak tahu ternyata kemudian ada acara dansa bersama.  Musik lembut mulai mengalun.  MC mengumumkan lagi agar tiap orang untuk mencari pasangan, tapi karena ultah Keisya. Keisya yang harus memulai dansanya.  Keisha menggandeng seorang cowo, yang kemudian aku tahu itu sepupunya.  Lalu MC mengumumkan dengan mic-nya agar cicinya yang menyusul kemudian dan papi maminya.  Jelas bukan aku pasangan dansa Karen.  Tapi si keparat itu.  Hatiku tambah menciut dan sangat membara.  Dan enak aja si Joko dan Ira ikut berdansa juga.  Dan tinggallah aku sendirian terbengong di kursiku, terhempas.  Buyar sudah rencanaku untuk nembak Karen.  Awalnya aku ragu, tapi sekarang jelas aku sudah kalah telak.  Momen itu yang membuat aku merasa betapa miskinnya aku dan tiba-tiba kenangan masa lalu terbersit di batinku, yang untungnya langsung kupendam dalam-dalam kenangan masa lalu itu.  Aku mengambil segelas coca-cola dan langsung menegak semuanya sampai habis ketika menuju pintu keluar ballroom dan aku meninggalkan pesta itu dalam kegalauan hebat.


  • ivdaeorvm likes this

#4 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 26 March 2017 - 12:07 AM

Lanjut om boss

makasih om sudah mampir :)



#5 jolibee

jolibee

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 307 posts

Posted 26 March 2017 - 03:47 PM

Ga lanjut lg critanya om?
  • teddythejoy likes this

#6 rangoros

rangoros

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 41 posts

Posted 26 March 2017 - 03:53 PM

Ceritanya bagus ngk main tembak saja
  • nophzz and teddythejoy like this

#7 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 26 March 2017 - 09:48 PM

OLD STORY CHAPTER THREE

 

PUKUL 19:43

Aku kebut motorku.  Jangan heran karena ini sudah ditakdirkan menjadi salah satu hari sialku.  Hujan deras banget.  Anginnya juga lumayan kencang.  Sekalian aja sama petir dan guntur yang keras.  Untung aku tidak sesial itu.  Hanya kena cipratan genangan air ke mukaku oleh sebuah mobil yang ngebutnya melebihi aku.

Efek minum coca cola sekali teguk mulai terasa membuat kepalaku pusing.  Brain freezenya telat karena efek kegalauanku yang lebih hebat.  Sampai rumah, aku buka semua baju basahku.  Aku hanya memakai celana pendekku.  Langsung berbaring di ranjang.  Dadaku masih terasa berat seakan-akan dilindas buldozer.

Dari kecil aku sudah pandai menyimpan perasaan hatiku.  Apalagi perasaan sedih.  Kali ini pun aku pasti bisa melakukannya.  Kuenyahkan bayangan wajah Karen dari pikiranku.  Entah kenapa muncul wajah Mary, mantan murid lesku.  Terbayang kembali payudara kanannya yang terbuka di depanku.  Kali ini aku tidak menghindarinya.  Aku remas payudara kanannya dengan tangan kiriku.  Kurasakan pentil Mary menegang dalam remasan tanganku.  Kaki Mary berjinjit dalam pangkuanku. Menikmati remasanku.  Aku menyuruh Mary berlutut di depanku.

“Buka ritsletingku, Mary,” perintahku.  Entah kenapa aku berkhayal seperti salah satu film porno yang pernah kutonton.  Dalam posisi berlutut di bawah meja tempat kami belajar.  Kepala Mary agak tidak bisa bergerak banyak karena terhalang tepi meja.  Kulihat mata Mary ketika dia membuka ritsleting celanaku dan mengeluarkan penisku yang sudah tegang. 

“Masukin ke mulut kamu, Mary,” perintahku lagi. “Jangan pake tangan kamu!” sambil aku menurunkan tangannya dari pahaku.  Ada apa denganku?  Mungkin inilah caraku menghilangkan Karen dari otakku. 

Mary membuka mulut kecilnya pelan-pelan.  Wajahnya terlihat lebih imut dengan kepala penisku dalam mulutnya.  Dijepit dengan bibirnya yang tipis.

“Gerakan kepalamu naik turun, jangan sampai lepas kontolku dari mulutmu!” ujarku.

Mary menuruti perintahku.  Dia menggerakkan mulutnya naik turun ke bagian batang penisku.

“Kurang dalam,” aku sedikit menggerutu.  Aku menekan kepalanya lebih dalam agar penisku masuk semua ke dalam mulutnya.  Mary terlihat berusaha memasukkan penisku tapi kesulitan bernapas.  Aku tekan lagi kepalanya lebih dalam ke selangkanganku.  Beberapa saat baru kulepas peganganku pada kepalanya. Mary terengah-engah melepaskan mulutnya dari penisku.  Air ludahnya menetes banyak dari mulutnya.  Membuat aku makin terangsang.  Kusapukan kepala penisku di bibirnya yang basah dan kupukul-pukul penisku di mulutnya.  What? Khayalanku semakin menggila.  Batang kemaluanku yang basah oleh air liurnya kuusapkan di kedua pipinya.

“Jilat buah zakarku,” perintahku lagi. “Jangan pake tangan!”

Aku pegang penisku berdiri sehingga Mary bisa mulai menjilati buah zakarku.  Kurasakan bibirnya yang hangat mencium dan Mary mulai mengeluarkan lidahnya untuk menjilati bijiku.  Rasanya enak banget.

Akhirnya aku tidak tahan. Kocokan tanganku semakin cepat dan akhirnya aku ejakulasi diwajah Mary.  Spermaku banyak banget. Nikmat sekali.

 

MINGGU, 16 NOVEMBER 1997, PUKUL 09:26

Aku terbangun ketika ada ketukan di pintu.

“Bert, ada telepon!” teriak pamanku.

Dengan badan agak pegal-pegal.  Gara-gara kehujanan kemaren atau karena coli-ku enak banget.  Aku buka pintu.  Pamanku ngasi telepon wireless padaku.

“Halo,” suaraku parau sambil aku berbaring di ranjang.

“Bert, baru bangun yah?” suara manja terdengar di seberang sana.

Karen.  Aku langsung duduk kaget.

“Eh Karen. Iya nih baru bangun,” pikiranku mulai berkecamuk lagi.

“Kemaren kemana, gua cari-cari loe ga ketemu. Nanya Joko dan Ira, mereka juga ga tau,” sambung suara manja Karen.

“Eh, gua tiba-tiba ga enak badan kemaren. Jadi gua langsung pulang, sori yah ga sempet pamit,” iya aku ga enak badan gara-gara liat kamu dan Michael.

“Oh, sekarang masih ga enak badan?” Karen terdengar agak khawatir.

“Udah ga apa-apa, uda tidur cepet kemaren,” bohongku lagi.

“Eh bert,…,” lanjut Karen. Hening sejenak.

“Kenapa Karen?” tanyaku.

“Eh ga apa-apa. Loe istirahat aja ya biar bener-bener pulih.  Bye,” pamitnya.

Aku menyimpan telepon di pinggir ranjang dan aku berbaring lagi.

Keesokan harinya, kami berempat bermain seperti biasa. Duduk kuliah bareng, ke kantin bareng.  Namun aku berusaha sedikit menjaga jarak.  Hanya aku agak heran, aku tidak pernah melihat Michael berduaan dengan Karen.  Apa mereka sering bertemu diluar jam kampus?  Bahkan kalo aku perhatikan, ketika kami bersama, aku tidak pernah berpas-pasan dengan Michael di kampus.  Aku mau nanya hal ini ke Karen, tapi aku takut jawabannya malah membuat sakit hati.  Jadi selalu aku urungkan niatku untuk menanyakannya. Dan minggu-minggu berikutnya, kami semua sibuk dengan tugas-tugas menjelang UAS.  Kemudian menyusul UAS.

 

JUMAT, 19 DESEMBER 1997 PUKUL 14:35

Wah akhirnya UAS selesai.  Gila, pusing kepalaku akhirnya berakhir.  Kami berempat lagi duduk di kantin.

“Eh besok kita nonton yuk. Tuh ada film Titanic lagi maen,” usul Ira.

“Yuk, gua pengen nonton banget. Kemaren UAS ga sempet nonton,” Karen menimpali.

“Film apaan tuh Titanic?” tanyaku.

“Film kapal tenggelam,” jawab Ira.

“Ngapain nonton kapal tenggelam?” gurauku.  “Kalo nonton loe tenggelam lebih seru kayaknya,” sambungku.

Ira melotot ke arahku.  Joko dan Karen tertawa.

“Nonton yuk,” Karen menarik-narik lengan bajuku.  “Yang maen idola gua lho, Leonardo DiCaprio.”

“Nonton bareng yuk,” Karen pasang tampang wajah memelas.

Joko ngasi kode.  Nontonlah bareng.

“Oke deh, gua ikut,” jawabku akhirnya.

Karen keliatan gembira banget.  Seneng liat dia berbahagia seperti itu.  Sedetik kemudian aku menghela napas.  Ingat lagi rasa penasaranku tentang dia dan Michael.

 

SABTU, 20 DESEMBER 1997 PUKUL 14:10

Kami semua sudah kumpul di bioskop. Sudah beli tiket di jejeran paling belakang.  Film maen jam setengah 3.  Aku jarang banget nonton.  Kayaknya film terakhir yang aku tonton itu tuh film tentang dinosaurus.  Uda lama banget.  Sebelum masuk kami beli dulu popcorn dan minuman di kantin bioskop.

Tiket kami serahkan di mbak karyawan 21. Yang aku sempat lirik sekilas karena dia pake rok panjang dengan belahan sampai di atas lutut.  Selain rok mini, itu pakaian cewe favoritku kedua.  Karen sendiri, tumben hari ini pakai kaos putih kutung yang dibalut dengan baju terusan rok blue jeans.  Tetap cantiklah.  Beberapa kali aku meliriknya. Dan beberapa kali juga pandangan kami bertemu.  Sebisa mungkin aku tekan perasaan di dadaku.  Mengingat kejadian di pesta.

Entah gimana cara ngaturnya. Jadi urutan kami duduk, Joko, Ira, Karen dan aku.  Mungkin karena kami cowo, kami jadi bodyguard yang melindungi mereka. Mengapit para cewe di tengah.  Betapa jantannya kami berdua.  Filmnya sih drama.  Beda jauh ama film terakhir yang kutonton. Penuh dengan jeritan dan ketegangan.  Yang bikin aku tetap betah adalah seringkali aku melirik Karen.  Namun Karen tetap fokus ke layar, memelototi idolanya.  Namun kadang lengannya yang terbuka sering bersentuhan dengan lenganku yang hanya memakai kaos pendek.  Terasa halus kulitnya dan gesekan-gesekan lengan kami, membuat aku sedikit bereaksi. Sedikit.

Sebenarnya filmnya di awal cukup boring, yang membuat aku betah selain bersentuhan dengan lengan Karen adalah ketika Rose pakai baju yang belahan dadanya keliatan.  Bikin segar juga.  Tapi kemudian film setelah adegan Leo pakai tuxedo.  Well, ada adegan yang cukup membuat keringatan, meskipun AC dalam bioskop cukup dingin.  Yup ada adegan melukis.  Melukis si Rose.  Only wearing this katanya dan kata-katanya membuat Jack menelan ludah.  Begitu juga aku.  Karen pun terlihat malu ketika adegan itu berlangsung.  Tapi lengannya semakin menempel di lenganku. Sekali lagi ternyata adegan berikutnya tidak membuat bosan. Setelah aku “terbangun” dengan adegan melukis itu, kini film penuh dengan teriakan juga, karena kapal mulai tenggelam.  Lumayan tegang.  Apalagi entah sejak kapan, jari jemari Karen menyentuh jari-jariku di lengan kursi.  Si burung berdiri nih entah kenapa.  Kadang jari-jemari Karen sedikit menekan jari jemariku ketika adegan di layar agak sedikit “seram” karena para penumpang yang kalang kabut ketika kapal berangsur-angsur tenggelam.

Usai film, Karen dan Ira sibuk memuji-muji Jack yang romantis lah, yang rela berkorban demi cinta lah.  Sedangkan aku dan Joko memuji betapa montoknya tubuh Rose.  Ketika kami ditanya adegan apa yang paling menarik.  Tentu saja kami jawab adegan melukis.  Ira dan Karen mencibirkan bibir mendengar jawaban kami. 

Ternyata Ira pulang dibonceng Joko.  Sedangkan Karen katanya nunggu dijemput supirnya.

“Kalian pulang dulu aja,” kataku.  “Gua yang tungguin Karen dijemput supirnya.”

Setelah ditinggal Joko dan Ira, kami duduk di depan gedung bioskop. Dimana kami bisa melihat Ira dibonceng Joko meninggalkan area parkir.  Kami terdiam beberapa saat setelah itu.

“Loe suka banget ya film tadi?” aku membuka pembicaraan.

“Iya suka banget, pengen nonton lagi kalo sempat.  Romantis banget filmnya,” jawab Karen bergairah.

“Loe suka ga?” tanyanya balik.

“Ehh…ya lumayanlah,” jawabku sambil teringat lagi montoknya tubuh Rose, belahannya dan toketnya yang bulet pas dilukis.  Disensor sih tapi khayalanku melambung jauh.

Aku melirik Karen, dia lagi bertopang dagu.  Aku memandangnya dengan penuh arti. Kuperhatikan gerak matanya, bibirnya.  Pikiranku berkecamuk lagi.  Tanpa aku sadari Karen pun sekarang lagi menatapku.  Kami saling berpandangan beberapa detik.  Saling beradu mata.  Tapi aku yang kalah. Aku kemudian menundukkan kepala.

“Bert, gua pulang bareng loe yah?” kata Karen kemudian.

“Lho emang supir loe ga jemput?” ujarku kaget.

“Emang ga jemput, gua uda rencana pengen pulang ama loe,” sambung Karen.

“Hah?” aku spontan mengeluarkan kata itu.

Perasaanku campur aduk.

“Mau kan loe anter gua pulang?” pintanya sambil pandangan kami bertatapan lagi.

“Eh, gua sih mau aja tapi entar kalo ketauan Michael, gimana?”  refleks aku menyebutkan nama si keparat itu.

“Apa hubungannya ama Michael?” tanya Karen heran.

“Lho bukannya loe jadian ama Michael?” aku akhirnya menanyakan pertanyaan yang kutakuti akan jawabannya selama ini.

“Hah! Kapan gua jadian ama Michael?” ujarnya sambil tertawa.

“Lho bukannya pas di pesta ultah itu, kalian jadian?” aku bertanya heran tapi ada secercah harapan dalam hatiku.

“Kok loe bisa berpikiran kayak gitu?” Karen tersenyum lagi.

“Kan si MC bilang dia calon kakak ipar dan kalian berdansa berdua,” kataku sambil memperhatikan mimik Karen.

“Ya ampun.  Kan gua uda bilang papinya Michael teman papi gua.  Jadi papi gua minta tolong Michael buat jadi teman dansa gua,” Karen tertawa renyah.

“Emang sih waktu itu Michael nembak gua,” sambungnya.

Aku terperanjat.  Karen melihat ekspresi wajahku.

“Eh jangan-jangan waktu pesta itu, loe pulang lebih cepat karena loe cemburu yah ama Michael?” Karen tersenyum sambil menunjuk ke wajahku. Mengolok-olokku.

“Idih, siapa yang cemburu?” kilahku.

“Ayo ngaku aja,” Karen dorong-dorong lenganku. “Gua ga akan marah kok kalo loe cemburu,” senyumnya penuh arti.

“Yeee, siapa yang cemburu?” kilahku lagi.

“Ya uda kalo gitu gua minta jemput Michael aja deh,” Karen berdiri, menepuk-nepuk pakaian di pantatnya.

“Eh jangan. Gua yang antar loe pulang kok,” jawabku cepat.

Karen senyum-senyum aja mendengar jawabanku.  Sambil ke tempat parkir. Lengan Karen menempel di lenganku.  Ingin aku pegang tangannya.  Tapi aku ga berani.

Sampai di pelataran parkir.  Kuserahkan jaketku ke Karen.

Karen tertawa.

“Ga usah bert, gua bawa sendiri,” sambil dia mengeluarkan jaket dari tasnya.

Wah. Berarti memang Karen berniat pulang denganku.  Aku bahagia sekali saat itu.  Dan aku merasa beruntung karena aku selalu bawa dua helm.

Di sepanjang jalan menuju rumah Karen.  Badan Karen lebih menempel pada punggungku dibandingkan saat terakhir kubonceng.  Kadang dagunya menempel di bahuku ketika kami sedang ngobrol. Dan hembusan nafasnya kadang menyentuh telingaku. Membuatku merinding beberapa kali dan tentu saja penisku ikut bereaksi.

Ketika sudah dekat rumahnya.

“Loe harus masuk ke rumah yah bert,” undangnya.  Aku mengangguk.  Dadaku berdebar-debar.

Melihat ruang tamunya aja. Gede banget.  Selain rasa minder, dalam hati aku bertekad harus punya rumah sebesar ini. Dan Karen menemaniku di rumah itu sebagai istriku.  Pengennya.

Aku duduk di sofa yang empuk.  Karen minta pembantunya, Bi Surti untuk siapin minuman untukku.

Aku masih mengagumi interior rumah Karen ketika Karen duduk di sampingku.

Aku sebenarnya gugup tapi aku tidak punya tenaga untuk beringsut dari dudukku.

“Orang tua loe kemana?” tanyaku.

“Lagi pergi ke Jakarta bareng Keisya,” jawab Karen.

Kalian pasti teringat akan kejadian dengan Mary.  Alasan klise untuk terjadi sesuatu kan.  Tapi kali ini kalian sepenuhnya salah.

Kami ngobrol tentang film Titanic sampai tentang UAS kemaren.  Sampai akhirnya aku memberanikan diri bertanya,”Loe terima waktu ditembak Michael?”

Karen menatapku,”Hmm, loe pengen gua terima atau ga?” dia balik bertanya.

“Ya gua ga tau, kan loe yang ditembak Michael,” sahutku.

“Ya gua serba susah sih, bert.  Papinya kan temen baik papi gua,” matanya berputar-putar.

“Lagian Michael kan ganteng sebenarnya,” sambungnya.

Perasaanku mulai tidak enak.

“Ya jadinya gua terima aja,” Karen tertawa.

Jantungku terasa ditusuk pisau. Pisau kurang tepat. Ditusuk ratusan tombak.  Wajahku langsung berubah.  Bahuku langsung lemas.

Karen memperhatikanku.  Lalu dia tertawa.

“Hahaha. Katanya ga cemburu,” tawanya renyah sekali.

“Eh gua nanya serius ini, Karen,” aku agak sedikit ngambek.

“Loe juga ganteng kok bert kalo lagi ngambek,” Karen mencolek pipiku.

Nih orang, ditanya serius malah colek-colek pipi.  Aku membelalakan mata.

“Nah kalo gitu, jadi jelek,” tawanya lagi.

Ekspresi wajahku sudah tidak karuan.

“Gua pulang aja deh,” aku berdiri.

“Gitu aja ngambek,” dia tertawa lagi sembari dia menarik tanganku supaya aku duduk.

“Abis loe becanda melulu padahal kan gua nanyanya serius,” aku masih cemberut.

“Okey deh.  Gua tolak lah,” jawabnya.

“Kenapa?” tanyaku balik.

Karen tersenyum dan menatapku.

“Karena gua sudah bersuami aslinya, bert,” tatapnya serius.

“Suamiku lagi di Amerika,” Karen melanjutkan dengan tampang serius.

“Hah!” suaraku mungkin terdengar sangat keras.  Kini aku tidak bisa merasakan kaki dan tanganku.  Terasa kesemutan semua.  Mending dia jadian ama Michael deh kalo gini.

“Ih gua seneng banget deh, liat ekspresi loe kayak gini,” tiba-tiba Karen mencium pipi kiriku.

Aku lebih kaget lagi sekarang.  Memegang pipiku yang tadi dicium Karen.

“Loe kan…,” kata-kataku terputus.

Karen nyengir lebar

“Gila lah masa gua uda punya suami.  Gua pengen aja liat ekspresi muka loe kayak gitu.  Gemesin,” katanya sambil tertawa.

Aku dikadalin dua kali oleh Karen. 

“Jadi…” aku ingin memastikan.

“Gua masih single lah bert.  Belum bersuami.  Gua lagi nunggu someone,” jawabnya berteka-teki lagi.

Aku meneguk ludah. Membulatkan tekad dan berusaha mengeluarkan suara agar tidak terdengar serak.

“Someone itu… gua?” tanyaku pelan-pelan.

“Boleh ga kalo someone-nya itu…loe?” dia bertanya balik.

Aku menghela napas lega.  Tanpa aku sadari aku menggenggam tangannya. Erat-erat.

Karen tersenyum.  Membalas genggaman tanganku.

Lega banget rasanya. Plong.  Hari terbahagia dalam hidupku.

Karen tertawa melihatku dan mendorong badanku dengan badannya.  Kami tertawa bersama. 

Setelah itu kami duduk semakin dekat.  Kami ngobrol dengan lebih bebas sekarang.  Sebelum aku pulang karena sudah malam, ga enak ama Bi Surti.  Karen mencium pipi kiriku lagi.


  • ivdaeorvm likes this

#8 jolibee

jolibee

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 307 posts

Posted 28 March 2017 - 04:30 AM

Lanjut lg bro
  • teddythejoy likes this

#9 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 28 March 2017 - 01:57 PM

OLD STORY CHAPTER FOUR

 

Malam itu, aku sengaja tidak cuci muka biar bekas kecupan Karen dipipiku tidak hilang. 

Sayangnya, aku tidak sempat bertemu Karen sesudah itu karena libur semester dan keluarga Karen berencana menghabiskan liburan akhir tahun di Singapura.  Paling aku maen dengan Joko beberapa kali ke tempat bilyar. Kangen banget ama Karen, berasa karyawan tempat bilyar mirip Karen semua, bedanya dibalut pakaian seksi yang memamerkan paha dan payudara mereka.  Aku belum bilang ama Joko tentang hubunganku dengan Karen. Karena aku pun tidak yakin sebenarnya kami pacaran atau ga.

 

SENIN, 5 JANUARI 1998 PUKUL 13:08

Aku ketemu Karen lagi setelah tahun baru.  Karen ngajak aku nonton Titanic lagi.  Aku jemput ke rumahnya.  Aku disuruh nunggu di ruang tamu oleh Bi Surti.  Ga lama Karen keluar pake rok mini blue jeans dan kaos bergambar seorang bintang idola.  Pakaian yang dulu dia pakai waktu aku tabrak.  Ya, sekarang aku tahu nama bintang idola dikaosnya bergambar Leonardo Dicaprio.

“Ingat baju ini, bert?” tanyanya nakal.

Aku mesem-mesem.

“Loe ini paling suka deh ngegodain orang,” jawabku malu-malu.

“Yuk kita pergi,” ajaknya sambil menggandeng tanganku.

Kini Karen tidak malu-malu untuk memeluk pingggangku.  Payudaranya menempel hangat pada punggungku.  Dan kepalanya menyandar pada bahuku.  Hangat rasanya.  Bikin jantung berdebar-debar.

Jadi dalam perjalanan ke bioskop ada dua hal yang aku fokuskan.  Mengendarai sampai selamat dan mengontrol posisi penisku.

Kami nonton seperti kemaren di deretan belakang.  Tapi hanya postur duduk Karen yang berubah, sering dia menyandarkan kepalanya di bahuku dan tangannya terus memegang lenganku dan kadang-kadang mengelusnya.  Semua hal itu berhenti ketika adegan melukis.  Posisi duduknya tegak. Hanya tangannya yang masih memegang tanganku.  Lalu ada adegan di sebuah mobil.  Lho kok aku ga ngerasa nonton ini waktu pertama kali.  Kok bisa kelewat yah?  Adegan Rose dan Jack ML di sebuah mobil sambil berpeluh keringat.  Aku kerangsang.  Kuperhatikan wajah Karen.  Dia menggigit bibir.  Genggaman tangannya terasa hangat di tanganku.  Aku duduk dengan salah tingkah.  Untung adegannya berakhir cepat.

Selesai nonton, kami langsung pulang.  Seperti biasa Bi Surti yang bukain pintu.  Aku duduk di ruang tamu.  Begitu Bi Surti masuk ke dalam.  Karen langsung menggandengku masuk ke dalam.

“Mau kemana, Karen?” tanyaku bingung.

“Loe dulu kan bilang mau antar gua sampe ke kamar?” jawabnya sambil tersenyum.

“Tapi gua kan waktu itu hanya becanda,” jawabku buru-buru.  Karen tidak menjawab.  Kembali lagi jantungku berdegup kencang.  Pikiranku sudah kemana-mana.

Kamar Karen bagus banget.  Mewah.  Luas.  Beberapa kali ukuran kamarku.  Minder merasuk diriku.  Karen menggandengku agar duduk di ranjangnya.  Empuk banget.  Karen buka jaketnya. 

Mungkin karena aku berada di kamarnya.  Postur tubuh Karen terlihat lebih menggoda.  Aku menelan ludah. Terbayang kembali adegan ML dalam mobil.  Karen duduk di sebelahku.  Roknya terangkat sehingga pahanya lebih sedikit terlihat lagi.  Aku sibuk menekan-nekan kasur seakan-akan sedang menginspeksi tebal dan nyaman kasur Karen, sambil aku menenangkan hati dan pikiran.  Tidak berhasil.

Aku menatap Karen dan Karen juga memandangku.  Aku teringat lagi adegan ML.  Mungkin Karen pun membayangkan hal yang sama.  Tiba-tiba Karen mengecup bibirku dan mendorong tubuhku berbaring di ranjang.  Bibirnya yang tipis terasa lembut menyentuh bibirku.  Tanganku otomatis memeluk tubuhnya.  Aku menggerakkan bibirku seakan-akan aku ingin merasakan seluruh bibirnya dengan bibirku.  Karen mengelus rambutku.  Aku tidak ingat apakah penisku berdiri atau tidak.  Aku hanya menikmati sapuan bibir Karen di bibirku.  Hangat tubuhnya dalam pelukanku.  Kami berciuman cukup lama.  Ciuman kami begitu lembut, kadang menimbulkan bunyi.  Selesai berciuman, Karen menatapku.  Kami saling berpandangan, lalu Karen menciumku lagi.  Kini bibirnya lebih menekan bibirku.  Sedikit bernafsu.  Aku pun mulai mengelus-elus punggungnya dari luar kaosnya.  Tangan Karen mengelus-elus pipi dan telingaku.  Ah nikmat banget.  Beda sekali waktu aku berciuman dengan Mary.  Hal yang membedakan mungkin karena aku sangat mencintai Karen.  Begitu selesai berciuman kedua kali.  Karen mengangkat wajahnya dan mengelus rambut yang menghalangi dahiku sambil dia mengelus pipiku.  Dia tersenyum hangat. 

“Yuk kita kembali ke ruang tamu, takut Papi mamiku tau kita berduaan di kamar,” katanya sambil menarikku.  Sebelum pulang, Karen sekali lagi mengecup bibirku.

Aku pulang dengan perasaan sangat-sangat bahagia.  Oh Karen, aku cinta banget sama kamu.

 

SENIN, 12 JANUARI 1998 PUKUL 07:45

Hari ini kami uda masuk kuliah.  Begitu ketemu aku, Karen langsung menggandeng tanganku di depan Joko dan Ira.  Mereka terlihat kaget lalu mereka tertawa.

“Wah kalian pacaran?” tanya Ira sambil jarinya bolak balik menunjuk kami berdua.

Aku senyum aja menanggapinya dan Karen pun sama hanya tersenyum. Tapi dia menggenggam tanganku lebih erat.  Joko ikut gembira dengan menjitak kepalaku. 

Kini aku tiap Sabtu ada kegiatan. Ngapelin Karen.  Wow akhirnya aku punya pacar.

Ciuman kemaren itu membuat aku tidak malu-malu lagi.  Kami sering berciuman setiap ada kesempatan.  Memang hanya sebatas ciuman bahkan kami tidak pernah memainkan lidah kami seperti di film-film porno yang aku tonton.  Seperti aku bilang, aku tidak ingin membuat Karen tidak nyaman.  Kecuali dia yang memulai duluan.  Apalagi meraba atau menyentuh payudara, paha dan pantatnya.  Beberapa kali aku menyenggol payudaranya tapi itu karena tidak sengaja.

Tanpa Karen tahu, aku sejak awal Januari semakin memperbanyak murid les privatku.  Tadinya aku tidak pernah mengambil murid SD karena ngajarnya agak ribet.  Tapi kini aku siap mengajar siapapun buat tambahan uang sakuku.  Aku ingin membeli sesuatu yang agak mahal pas hari Valentine nanti.Sebenarnya cape banget, Harus berbagi waktu antara memberi Les privat dan kuliah. Tapi untuk Karen kenapa tidak. Cinta membuat orang bisa melakukan hal-hal yang luar biasa kan.

 

SABTU, 14 FEBRUARI 1998 PUKUL 16:10

Kebetulan hari Valentine pas sabtu, jadi memang sekalian ngapel.  Kami sudah berjanji untuk pergi makan ke sebuah cafe cukup elit di kota kami.  Sebenarnya sih, yang aku dengar cafe ini suasananya romantis.  Pas lah untuk merayakan hari kasih sayang dengan suasana romantis.

Seperti biasa Bi Surti yang bukain pintu.  Tidak lama kemudian Karen keluar.  Langsung aku terpesona.  Karen pakai rok mini pink yang bagian bawahnya ada renda-renda kain.  Sepanjang aku kenal Karen, ini rok paling pendek yang pernah dia pakai. Hampir 20 senti di atas lutut.  Baju atasnya putih dengan kain katun halus yang bagian dadanya agak rendah.  Ga keliatan sih belahan dadanya.  Cuma kayaknya kalo dia menunduk mungkin akan terlihat karena bagian dadanya agak longgar.  Cantik banget.  Aku dekati dia, tanpa sadar aku mencium pipinya.  Karen tersenyum.

“Met Valentine, bert,” ucapnya.

“Met Valentine, Karen,” jawabku. Ingin sekali lagi aku mencium bibirnya.  Tapi aku takut papi atau maminya atau adiknya lewat.

“Bert, hari ini kita pake mobil yah.  Agak susah kalo naik motor karena bajuku seperti ini,” sambungnya sambil melihat ke arah roknya.  Aku setuju sekali.  Aku ga rela kalo ada laki-laki yang menggerayangi Karen dengan pandangan mereka.  Aku memang egois.  Tidak ingin berbagi.

Pak Mamat yang mengantar kami ke cafe tujuan kami.  Kami berdua duduk di kursi tengah.  Oh my, itu paha Karen terlihat lebih jelas dalam posisi duduk dan nempel terus dengan kakiku.  Tahan iman, tahan iman.

Yang bikin aku bangga tapi sekaligus cemburu sih. Entah kenapa.  Ketika kami masuk ke café.  Dari pelayan café dan laki-laki yang ada disitu sebagian besar melirik ke arah kami.  Tentu saja bukan memandangku tapi memandang Karen.  Siapa yang bisa terhindar dari daya tarik Karen yang hari ini terlihat sangat cantik dan seksi.  Sekali lagi aku bangga tapi juga ada rasa cemburu.  Aku tidak ingin membagi Karen dengan orang lain.

Kami duduk hampir berdempetan. Aku sih jelas senang, tidak ingin berjauhan dari Karen.  Sambil menunggu pesanan kami datang.

“Bert, kita ciuman disini , yuk,” ujar Karen.

“Ah gila loe, masa di depan banyak orang?” jawabku sambil melihat sekeliling.

“Masa loe ga berani, gua berani kok,” tantang Karen. Kulihat tampangnya serius banget.

“Berani ga bert?” sambungnya lagi. “Gua berani kok cium loe.”

“Buktiin kalo loe berani, kan ladies first,” aku ingin membuktikan kebenaran kata-katanya.

“Loe ga akan nyesel kan uda nantang gua duluan? Siap-siap yah,” Karen sambil liat sekeliling.

Aku siap-siap pejamkan mata, malu dilihat banyak orang.  Tau-tau telapak tanganku dicium Karen.

Ketika aku membuka mata, Karen tertawa.

“Geer loe, siapa lagi yang bilang gua mau cium bibir loe. Pasti loe berharap bibir loe yang dicium ya,” katanya sambil tertawa.

Iya juga sih. Tapi aku hanya mesem-mesem aja. Malu.

“Gua paling suka deh liat ekspresi wajah loe yang tersipu malu dan kebingungan,” Karen merangkul lenganku dan menyandarkan kepalanya pada lenganku.  Aku cium rambutnya dengan gerakan cepat takut dilihat orang.  Karen mencium lenganku sebagai balasannya.  Kemudian pesanan kami datang.

Kami saling menyuapi makanan kami. Sok romantis gitu.  Tapi emang romantis sih hehehe.

Kami pulang sekitar jam setengah delapan.  Rumah sepi.  Cuma ada Bi Surti.  Papi dan Mami Karen ngerayain Valentine juga kata Karen. Romantis juga pikirku.  Adik Karen, Keisya lagi pergi sama teman-temannya.  Tanpa tedeng aling-aling lagi, Karen mengajakku ke kamar.  Ada sesuatu buatku katanya.  Hatiku berdebar-debar lagi.  Ketika menutup pintu, Karen langsung mendorongku ke tembok dan mencium bibirku lagi.  Kali ini sedikit lebih liar.  Bahkan sangat liar.  Tangannya memeluk leherku.  Dan lidahnya kini yang mengusap bibirku. Ah, penisku berdiri. Aku yakin Karen merasakannya menekan perutnya.  Entah kenapa mulutku membuka dan lidah Karen menyusup masuk.  Oh ini namanya French Kiss, nikmat banget.  Lidah Karen menyapu lidahku.  Lidahku sedikit kaku, maklum belum pernah ciuman kayak gini dengannya.  Tapi lama kelamaan, aku bisa mengikuti permainan lidahnya.  Kadang-kadang terdengar desahan kecil Karen.  Atau itu desahanku, aku tidak peduli.  Tanganku mulai berani memegang pinggul Karen.  Aku mencoba menghisap lidah Karen.  Tubuh Karen menegang, menikmati isapanku.  Pinggulnya menekan selangkangannya, tepatnya penisku yang sudah tegang banget.  Sayang Karen menyudahi ciuman kami.  Nafasnya sedikit memburu.  Apalagi nafasku.

“Bert, gua ada sesuatu buat loe,” sambil menghampiri lacinya.

“Oh masih ada sesuatu lagi sesudah ciuman tadi,” jawabku spontan.  Karen terlihat malu sebelum akhirnya tertawa.

“Nih katanya sambil memberiku kotak kecil yang sudah dihias dengan indah. Buka disini yah,” ujarnya.  Lalu dia duduk di ranjang.

Pelan-pelan aku membuka hadiah dari Karen. Sayang sih karena bungkusnya sudah ditata sedemikian bagus.  Wow sebuah arloji merek Casio dengan tali dari kulit. Bagus banget dan pasti mahal. Aku menatap Karen.

“Suka?” tanyanya.

Aku menghampiri Karen.

“Suka banget, tapi ini kan mahal,” jawabku sambil sedikit merasa ga enak atau minder mungkin.

“Ga apa-apalah, kan untuk pacar tersayangku,” ujarnya sambil tersenyum. “Sini aku pakein.”

Aku menghampirinya. Sambil aku berdiri, Karen memakaikan jam itu di pergelangan tanganku.

“Biar loe inget terus ama gua. Dipake terus tiap hari yah.” Sambungnya.  Aku mengangguk.

“Mana hadiah loe buat guanya?” lanjut Karen sambil tersenyum nakal.

“Hadiahnya cium loe lagi kayak tadi, boleh ga?” aku juga tersenyum nakal.

Karen menendang lembut kakiku dengan kakinya sambil tertawa.

Aku mengeluarkan sesuatu dari kantong celana kananku.  Dibungkus tapi tidak sebagus hadiah Karen.

“Silahkan dibuka tuan putri,” aku memberinya sambil membungkukkan badan.

“Terima kasih pangeranku,” terimanya sambil tertawa.

Karen agak terperanjat melihat hadiahku.  Sebuah gelang kaki emas dengan liontin kecil berbentuk huruf K.

“Bert, ini kan mahal,” giliran dia yang berkata demikian.  Dia jelas tahu keadaan ekonomiku.  Sebenarnya iya sih mahal, menguras semua penghasilanku bulan kemaren.

“Ga apa-apa kan buat pacarku tersayang juga,” candaku.

“Pakein dong,” pintanya manja.

Aku berlutut di depannya. Aku pasang gelang kaki itu di pergelangan kaki kanannya.

“Biar loe inget terus ama gua,” membalikkan kata-katanya sambil tersenyum. Karen tersenyum.  Kakinya yang terpangku di pahaku, pelan-pelan naik ke arah selangkanganku. Meraba-raba penisku yang jelas berdiri lagi. 

“Hmm, berdiri sayang?” pancingnya.

“Ehmm,” aku tidak bisa menjawab.  Kunikmati rabaan kaki Karen di selangkanganku.  Secara alamiah, aku mengelus betisnya karena itu yang paling dekat dengan jangkauan tanganku.  Lalu elusanku naik ke lutut lalu pahanya yang tidak tertutup rok.  Karen menikmati elusanku.  Karena posisiku berlutut aku bisa melihat sedikit bayangan celana dalamnya karena roknya terangkat.  Kaki Karen kini menekan penisku yang sudah sangat tegang.  Karen tiba-tiba menarik kemejaku lalu menciumku lagi.  Lalu sambil berciuman, dia menarikku ke ranjang.  Tubuhku menindih tubuhnya.  Payudaranya terasa kenyal di didadaku. Rok Karen jelas tersingkap. Paha mulusnya terpampang di depanku.  Aku mengelus pahanya lembut.  LIdah Karen berpagut dengan lidahku.  Rabaanku di pahanya menyentuh celana dalamnya.  Karen merintih pelan menikmati elusanku.  Badannya menggelinjang.  Bagaimana caranya, aku mencium lehernya sekarang.  Kulitnya begitu lembut.  Pelan-pelan turun ke dada yang tidak tertutup baju.  Karen meremas rambutku.

“Bert, buka baju gua,” pintanya dengan tatapan penuh nafsu.

Dengan tangan gemetar, nafasku pun memburu.  Aku pelan-pelan mengangkat baju bawahnya ke atas melewati kepala Karen.  Terpampang payudara Karen yang ukuran sedang dibalik bra warna putihnya.  Pandangan kami menatap penuh nafsu.  Karen membuka kancing kemejaku dan aku segera membuka kemejaku juga.  Kini kami sama-sama tidak memakai baju bagian atas. 

Karen langsung membuka branya.  Terlihatlah puting susunya yang berwarna coklat.  Ukurannya tidak besar. Aku pernah melihat yang lingkaran puting yang lebih besar di film-film porno.

Karen menyentuh putingku dengan jarinya.  Uggghh gila seperti kesetrum. Aku meraba payudaranya.

Aku remas lembut.  Karen menggelinjang.  Aku merasakan penisku sedikit basah.  Mungkin cairan pelumasku sudah keluar karena meraba payudara Karen.  Kini rabaanku berangsur menjadi remasan.  Tubuh Karen semakin menegang.

“Ah bert, enak,” lirihnya.  Karen menarik kepalaku ke arah payudaranya.  Mungkin dia ingin aku mencium payudaranya.  Aku mulai mengecup payudaranya dengan bibirku.  Lembut sekali payudaranya.  Setelah beberapa kali aku mengecup payudaranya, Kecupanku beralih ke pentilnya yang terasa sudah tegang banget.  Bibirku mencium dan pelan-pelan aku menjilati putingnya.  Karen semakin bergerak tidak karuan dan desahannya semakin memburu.  Karen semakin menekan kepalaku ke payudaranya. Membuat aku berusaha mengatur nafasku.  Kini satu tangan kugunakan meremas payudaranya yang kiri. Sedangkan mulutku masih menjilati payudara dan puting kanannya.  Tidak lama kemudian, Karen memelukku keras dan mendekatkan wajahnya ke rambutku.  Menahan rintihannya dan tubuhnya menegang hebat.  Karen orgasme.  Karen terbaring lemas.  Nafasnya masih memburu.  Tangan kiriku masih di atas payudara kanannya.  Karen menatapku penuh cinta.  Mengelus pipiku.  Lalu Karen membalikkan badanku hingga aku telentang di ranjang. Tangannya meraih selangkanganku.  Meremas-remas penisku dari luar.  Karen tertawa kecil melihat reaksiku yang merem melek. Tiba-tiba ada ketukan di pintu.

“Neng, ada telpon dari bapak,” Bi Surti berteriak dari balik pintu.

Aku langsung kelabakan mencari kemejaku.  Begitu juga Karen langsung meraih kaos terdekat memakai kaosnya dan membuka pintu.  Kepalanya yang nongol sambil mengambil telepon wireless dari tangan Bi Surti.  Bicara sebentar dengan papinya.

“Sori bert. Terganggu tadi yah, padahal loe lagi enak,” katanya sambil duduk di sebelahku.

“Papiku nanya, mau dibeliin apa. Dia sudah mau ke arah pulang,” lanjutnya lirih.

Aku sedikit kecewa sih.  Kepalaku terasa sedikit pusing menahan birahi yang tidak tersalurkan.  Karen memelukku.

“Nanti yah kapan-kapan gua bikin loe yang kenikmatan,” bisiknya di telingaku.

Aku mencium bibirnya.

“Ga apa-apa sayang, yang penting kan tadi loe uda enak,” candaku.  Karen terlihat malu dan mencubit selangkanganku.

“Tunggu pembalasanku yah,” Karen melotot ke arah selangkanganku.


  • ivdaeorvm likes this

#10 jolibee

jolibee

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 307 posts

Posted 28 March 2017 - 02:15 PM

Lanjut lg om bro
  • teddythejoy likes this

#11 rangoros

rangoros

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 41 posts

Posted 29 March 2017 - 12:48 AM

ceritanya benar-benar berkelas. TOP nya lg bikin orang penasaran karena tidak langsung tamat.
  • teddythejoy likes this

#12 Stella Jogja

Stella Jogja

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 27 posts
  • LocationYogyakarta

Posted 29 March 2017 - 12:27 PM

keren ceritanya ^^ jadi ikut terangsang pas baca adegan foreplay 😁 lanjutkan mas ted 😊
  • teddythejoy likes this

#13 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 30 March 2017 - 08:55 AM

OLD STORY CHAPTER FIVE

 

RABU 18 FEBRUARI 1998, PUKUL 14:45

Hari ini aku antar Karen pulang dari kampus.  Karen sudah nelpon aku semalam kalo hari ini dia mau ikut aku pulang. 

“Duduk dulu ya bert, gua ganti baju dulu,” Karen ninggalin aku ke kamarnya.

Aku selalu terkagum-kagum dengan rumah Karen.  Aku harus punya rumah sebesar ini suatu saat.  Tidak lama terdengar teriakan Karen.

“Bert, sini,” teriaknya.

Aku mendatangi kamarnya. Kubuka pintunya yang tertutup.  Lalu ketika aku selesai menutup pintu.  Karen langsung mendorongku ke tembok.  Langsung meremas selangkanganku.

“It’s payback time,” ujarnya lirih.  Yang bikin aku terkesiap. Karen sudah topless dan hanya mengenakan celana dalam hitamnya.  Aku tidak sempat berpikir panjang karena aku menikmati remasan Karen di selangkanganku.  Dan mulutku pun segera diserang oleh Karen dengan pagutan lidahnya.  Jelas penisku langsung tegang.  Apalagi payudara Karen menekan dadaku.  Entah sejak kapan kemejaku sudah terbuka semua kancingnya.  Tangan Karen yang satu lagi mengelus putingku.  Putingku yang sensitif langsung keras, sekeras penisku. Entah Karen kok bisa tahu kelemahanku.  Mulutnya kini beralih ke putingku.  Dia menjilatinya, memainkannya dengan bibirnya.  Membuat aku tambah kelojotan.  Kini tangan Karen menyusup masuk ke dalam celana panjangku.  Meremas penisku, dan mengocoknya.  Mengetahui aku terangsang hebat. Karen mulai menghisap putingku.  Remasan di penisku dan kocokannya tambah kencang.  Buset. Tambah sempit celanaku.   Mungkin karena ini pengalaman pertama kali, penisku disentuh cewe atau mungkin karena birahiku yang tertahan sejak waktu itu.  Aku kerangsang banget.  Tiba-tiba aku merasa ada tekanan di penisku dan spermaku keluar.  Membasahi tangan Karen pastinya.

Karen tersenyum menang.  Aku malu.  Karen mengeluarkan tangannya yang terkena semprotan spermaku.  Dia tersenyum lebar.  Aku tambah malu.

“Eh Karen, aku pinjam kamar mandimu ya,” ijinku sambil mengambil beberapa lembar tissue.  Untungnya kamar Karen ada kamar mandinya.  Jadi aku tidak perlu takut ketemu Bi Surti diluar dengan celanaku yang basah karena rembesan spermaku.  Aku coba membersihkan spermaku di kamar mandi namun tetap saja celana panjangku yang berwarna abu-abu masih terlihat basah.  Yah mau gimana lagi.

Aku keluar kamar mandi.  Kulihat Karen kini lagi bersandar di sandaran ranjang hanya dengan masih mengenakan celana dalam hitamnya.  Tangannya bersilang di dada, tapi masih tidak bisa menutupi sebagian payudaranya.  Penisku bereaksi lagi.  Karen tersenyum melihat celanaku masih terlihat basah bekas sperma.  Dia tersenyum manja.  Betapa cantiknya Karen.

“Sini, duduk disebelah gua,” ajak Karen.  Aku duduk di sebelahnya sambil berusaha menutupi bagian celanaku yang basah.

“Enak sayang?” tanyanya sambil menatapku.  Aku bingung menjawabnya plus malu.

“Hmm gua paling suka liat ekspresi loe kayak gitu,” sambil dia memegang tanganku dan mengarahkan ke payudaranya.

“Remas lagi dong kayak kemaren, bert,” pintanya manja.

Birahiku yang sudah bangkit lagi, kini mulai meremas payudaranya lagi.

“Isap dong, sayang,” di sela-sela desahannya.  Aku mengikuti perintah tuan putri. Aku hisap seperti tadi dia menghisap putingku.  It’s payback time for me, pikirku.

Kemudian Karen mengarahkan satu lagi tanganku yang nganggur memegang selangkangannya diluar celana dalamnya.  Kurasakan basah selangkangannya.  Dia sudah terangsang.

“Gesek-gesek jari loe disana, bert,” pintanya lagi sambil mengerang agak keras.  Sambil menghisap putingnya, aku gesek-gesek jariku di selangkangan Karen.  Karen sering menggelinjang menikmati gesekanku yang semakin cepat,aku  ingin membuat Karen orgasme lagi.  Jilatan dan isapanku di pentil susunya semakin ganas.  Sampai kemudian paha Karen menjepit jari-jariku dan tubuhnya menegang dan Karen pun orgasme dengan menyebut namaku.

“Oh bert, gua keluar,” desahnya. 

Ya begitulah kami melakukan hal ini setiap ada kesempatan, tidak pernah lebih. Aku belum pernah melihat vaginanya seperti apa dan Karen pun belum pernah melihat langsung penisku seperti apa.  Untuk mencegah hal-hal yang berbahaya kata Karen waktu itu. Aku sih nurut aja.  Toh yang selama ini, aku hanya meraih kenikmatan dengan membayangkan saja. Kini aku sudah naik level dalam mencapai kenikmatan.  Aku pun tambah sayang Karen.  Selalu terbayang wajahnya setiap saat.  Kami pun tambah dekat.  Dan seperti layaknya orang yang berpacaran. Ya kami pergi nonton atau jalan-jalan di mall, selain melakukan petting (baru kemudian aku tahu istilah ini).

Tanpa terasa kami sudah pacaran beberapa bulan.

 

RABU 13 MEI 1998 PUKUL 13:10

Tiba-tiba kuliah kami dibatalkan.  Dengar-dengar ada kerusuhan di Jakarta.  Kota kami sih tidak terjadi apa-apa.  Supir Karen sudah menunggu, dia langsung pulang ke rumah.

 

PUKUL 14:25

Karen menelponku.

“Bert, loe nonton tivi ga?” tanyanya.

“Ga, Karen. Ada apa?” aku jarang nonton tivi.

“Nonton deh, entar gua telpon loe lagi yah,” Karen langsung menutup telponnya.

Bibiku lagi nonton tivi. Wajahnya tampak cemas.

“Bert, di Jakarta kerusuhannya hebat,” katanya. “Kamu jangan keluar rumah dulu ya beberapa hari ini.  Jangan kuliah dulu.”

 

PUKUL 15:10

Aku telpon Karen.

“Ngeri ya bert,” katanya dengan cemas.

“Iya, Karen. Untung disini ga terjadi apa-apa. Mudah-mudahan,” sambungku.  Kami menelpon selama beberapa menit.

“Gua uda kangen nih ama loe, Karen,” aku mengakhiri percakapan.

“Gua juga kangen, sayang,” balasnya dari sana.

Beberapa hari kedepan kami hanya berhubungan lewat telepon.  Kangenku semakin menjadi-jadi.

 

MINGGU, 17 MEI 1998 PUKUL 9:14

Tiba-tiba Karen menelponku.  Suaranya seperti sedang menangis.

“Bert…,” suaranya terhenti.

“Kenapa, Karen?” tanyaku khawatir.

Karen tidak melanjutkan omongannya hanya terdengar isak tangisnya.

“Karen, kenapa?” aku terdengar sangat khawatir.  Karen tidak menjawab, hanya isak tangisnya yang terdengar.  Tidak lama telepon ditutup.

Aku langsung ambil jaketku dan mengendarai motorku menuju rumahnya.  Mungkin inilah kecepatan tertinggi selama ini aku mengendarai sepeda motorku.  Rasa cemasku yang menstimulasinya.  Pikiranku sudah melantur kemana-mana.

Sesampai di rumah Karen.  Rumahnya terlihat adem ayem. Tidak terjadi apa-apa. Aku sedikit lega.  Kubunyikan bel. Bi Surti yang buka.

“Karen ada, bi?” tanyaku.

“Ada den. Di kamarnya,” jawab Bi Surti.

Ketika aku masuk. Jantungku sedikit berdegup.  Papi dan maminya Karen ada di ruang tamu.  Wajah mereka terlihat cemas.

“Bert, duduk,” kata maminya Karen.

“Iya tante,” jawabku sopan.

“Sebentar ya tante panggilin Karen,” sambil mami dan papinya meninggalkan ruang tamu.

Ga lama kemudian Karen muncul dengan tisu di wajahnya. Jalannya pelan.  Perasaanku kembali tidak enak.

Aku langsung berdiri

“Ada apa, Karen?” tanyaku mendekatinya.  Karen tidak menjawab, isak tangisnya terdengar lebih keras daripada di telepon tadi.

Kami duduk.  Aku tidak mengucapkan apapun, hanya ekspresi mukaku terlihat khawatir dan bingung. Sebenarnya apa yang terjadi.

Kami hening, hanya isak tangis Karen terdengar yang makin lama makin berkurang.

Setelah suasana agak memungkinkan. Aku memberanikan diri untuk bertanya.

“Ada apa sih, Karen? Kenapa loe nangis?” tanyaku cemas.

Karen seperti mau bicara tapi seperti ada yang menghalangi di tenggorokannya.

“Bert…,” dia belum bisa melanjutkan kalimatnya.

“Ada apa, Karen?” aku tidak sabar.

“Gua…gua… harus pindah ke Amerika,” jawaban Karen seperti suara guntur di telingaku.

“Apa? Kenapa?” tanyaku tidak percaya.

“Papi dan mami gua khawatir situasi di Indo tidak aman. Jadi mereka memutuskan bahwa gua dan Keisya pindah dulu ke Amerika,” sambungnya.

Wajahku mewakili pikiranku yang berperang hebat.  Dadaku sesak.

“Gua tadinya ga mau, karena gua ga mau ninggalin loe,” tangisnya terdengar lagi.

“Tapi papi gua maksa, karena gua harus jaga Keisya juga disana,” sambungnya sambil terisak-isak lagi.

Aku bingung harus gimana menjawabnya.  Aku terdiam.

Karen langsung menangis lagi di pundakku.

“Kapan loe pergi?” tanyaku akhirnya.

“Besok, bert,” jawabnya lirih hampir berbisik.

“Apa? Besok? Segitu cepatnya?” tampangku sudah tidak karuan.

“Iya semakin cepat semakin baik kata papi,” Karen menjelaskan.

“Berapa lama disana?” setelah aku berhasil menguasai emosiku sedikit.

“Ga tau bert.  Gua dan Keisya disuruh kuliah di  Amrik,” masih menangis di pundakku.

Kembali guntur seakan-akan berbunyi di telingaku, lebih keras dari sebelumnya.  Bayangan dari masa lalu mendadak muncul lagi di benakku.  Bayangan mami dan papiku kembali muncul ke permukaan.  Aku menutup mukaku dengan tangan kiri karena pundak kananku dipakai sandaran oleh Karen.

Bayangan masa lalu, tolong jangan muncul. Aku berusaha sekuatnya menekan masa laluku.  Dadaku bergerak naik turun.

“Bert, loe kenapa?” Karen merasakan dadaku yang bergerak naik turun dengan cepat.  Kini Karen tidak bersandar padaku lagi.  Matanya merah dan air mata masih membasahi pipinya.

“Bert,” Karen terdengar khawatir.

Aku menggelengkan kepala.  Aku masih menutup wajahku.  Berusaha menekan bayangan masa laluku dan emosiku saat ini.

Tangan Karen memegang bahuku.

“Bert….” panggilnya.

Aku melepaskan tanganku dari wajahku.  Karen melihat mataku sedikit berkaca-kaca, hampir menitikkan air mata.

Karen mengusapnya dengan jemarinya. Aku memeluknya erat-erat. Aku tidak peduli jika ada orang di rumah yang lihat.  Karen pun memelukku.

 

SENIN 18 MEI 1998 PUKUL 08:40

Aku sudah di rumah Karen.  Karen dan keluarganya sebentar lagi berangkat Ke Jakarta.  Kami banyak diam.  Aku membantu membawakan tas-tas Karen ke mobil.  Aku sempat melirik pergelangan kakinya yang tergantung gelang emas yang kuberikan. 

Karen memegang tanganku, memegang tali jam yang dia berikan padaku.  Ketika mereka hendak pergi.  Karen memelukku di depan orang tuanya.  Seperti mengerti situasi kami, papi, mami dan adik Karen sengaja menunggu di mobil.  Aku memeluk Karen erat-erat.

“Bert, I am gonna miss you so much,” bisik Karen.

“Gua juga, Karen.  Mudah-mudahan nanti kita cepat ketemu lagi ya,” jawabku hampir berbisik juga.

“jangan lupa, kita bisa chat lewat yahoo dan email-emailan,” lanjut Karen.  Karen menciumku di bibir. Aku pun tidak sungkan-sungkan lagi, aku tidak ingin melewatkan momen ini.  Selesai berciuman, Karen naik ke mobil. Begitu mobil berangkat, Karen membalikkan badan dan melambaikan tangannya padaku.  Aku membalasnya tanpa mengedipkan mata sedikitpun. Ingin kulihat wajahnya selama mungkin, sampai akhirnya mobilnya menjauh dan tidak terlihat.

Ketika aku mau pulang. Bi Surti memberikan aku sesuatu.

“Den Albert, ini ada titipan dari Neng Karen,” katanya sambil memberikan sesuatu yang dibungkus koran.

Aku membukanya.  Isinya kaos putih bergambar Leonardo DiCaprio dan rok mini blue jeans.  Aku tidak dapat menahan sedihku.  Aku menangis setelah sekian lama aku tidak pernah menangis.


  • ivdaeorvm likes this

#14 jolibee

jolibee

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 307 posts

Posted 30 March 2017 - 10:59 AM

Lanjut bro.. jgn crita itu kaos ama rok mini dipake buat jalan ke mall ya.. wkwkwkwkkwwkk
  • teddythejoy likes this

#15 rangoros

rangoros

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 41 posts

Posted 30 March 2017 - 11:12 AM

Senang baca ceritanya.
  • teddythejoy likes this

#16 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 31 March 2017 - 02:06 PM

THE OLD STORY CHAPTER SIX

 

Hariku terasa sepi.  Yang aku lakukan kebanyakan di kamar, hanya menciumi pakaian pemberian Karen.  Aku kangen sekali wangi tubuhnya.  Kehangatan ciumannya.  Kecantikan wajahnya.

 

RABU, 20 MEI 1998 PUKUL 21:01

Telepon rumah berbunyi, kebetulan aku yang angkat.

“Halo Albert sayang,” suara yang sangat aku rindukan.

“Halo sayang.  I miss you so much,” aku gembira sekali mendengar suaranya.

“Gua sudah sampai kemaren. Gua beres-beres dulu tempat gua dan Keisya tinggal. Jadi baru sekarang gua sempet telpon loe.  Gua kangen banget ama loe,” sambungnya gembira.

“Gua ga bisa telpon lama-lama, entar papi ngamuk lagi kalo biaya telepon mahal,” Karen tertawa.

“It’s good to hear your voice, bert. I love you so much.  Entar kita chat lewat yahoo yah. Bye sayang,” Karen mengakhiri percakapan.

Singkat tapi sudah membuat hariku lebih bersemangat.  Aku tidur sambil memeluk pakaian Karen malam itu.

 

Kini kami hanya bertiga duduk di deretan belakang.  Aku sengaja memilih kursi yang sebelahnya kosong.  Aku sering menatap kursi itu seakan-akan Karen yang duduk disitu.  Kami bertiga merasa kehilangan Karen, tapi jelas aku lah yang paling merasakan kehilangan.  Joko dan Ira sering menghiburku. 

Sampai suatu ketika setelah kira-kira hampir seminggu sesudah Karen ke Amerika.

“Eh loe perhatian ga, man.  Banyak teman-teman kita yang ga kelihatan lagi,” Joko berkata padaku.

“Siapa aja yang emang ga ada?” tanyaku.  Terus terang aku sudah tidak bersemangat lagi kalo ke kampus.

“Michelle ga ada. Itu sih yang gua tahu,” jawab Ira.

Kami mencoba mengecek siapa lagi yang kira-kira tidak ada di kampus.

“Michael juga ga pernah keliatan,” sambung Ira.

“Bagus sih kalo keparat itu ga ada,” begitu kataku sambil tertawa.

“Ah loe. Loe kan uda dapat si Karen. Loe uda menang dari Michael,” ujar Ira.

Mendengar nama Karen disebut, membuat aku termenung.

“Sorry bert, gua ga sengaja,” Ira minta maaf.

“Ga apa-apa,” kataku.  Karen jarang telpon. Kalo aku yang telpon kasian pamanku entar bayar tagihan teleponnya.  Kami biasanya memang chat di yahoo. Dan setelah beberapa lama, kami putuskan untuk setiap Minggu kami chat di yahoo.

 

MINGGU, 31 MEI 1998 PUKUL 9:15

Pagi-pagi aku sudah nongkrong di warnet.  Aku sudah janjian dengan Karen untuk chat.

Karen : bert.

Albert : Halo sayang, gua hadir hehehe.

Albert : Gimana kuliah loe?

Karen : ya lumayanlah. Gua kuliah lagi di tempat yang dulu, jadi banyak yang harus gua kejar nih. Jadi agak sibuk, plus gua harus bolak balik nganterin Keisya, dia kan belum hapal jalan-jalan di LA.

Albert : eh ada salam dari Joko dan Ira.

Karen : wah gua kangen banget ama kalian.

Albert : Jadi kangen ama gua dan kangen ama Joko dan Ira sama ya?

Karen : Yee, gitu aja ngambek. Ya ga lah, sudah pasti gua lebih kangen ama sayangku.

Karen : apalagi sama juniormu, sayang.

Albert : gua juga kangen ama gunung kembar loe. Yeee

Karen : *blushing

(detil lainnya aku lewat aja) 

Albert : Karen, banyak temen kita yang ke luar negeri juga loh kayak loe.

Karen : Oh ya. Siapa aja?

Albert : salah satunya si Michael.

Karen : oh.  Loe jangan marah ya. Sebenarnya gua mau kasi tau dari kemaren-kemaren, hanya takut loe marah.  Michael satu kampus sama gua disini.

(guntur menggelegar di telingaku dan tidak ada yang bisa kulempar pada Michael kali ini)

Aku lupa detil chat berikutnya.  Dadaku terasa sesak lagi.  Dasar si keparat memang.  Gampang buat si Michael cari info tentang Karen, kan papinya temen dekat papi Karen.  Tiba-tiba terbersit dalam benakku. Aku harus ngumpulin duit ah, aku mau maen ke Amerika, bikin surprise buat Karen.  Semangatku timbul lagi.  Aku bertekad mau kesana.  Wait for me, Karen.

 

MINGGU, 21 JUNI 1998 PUKUL 09:10

Waktu terasa cepat. Sekarang sudah waktunya kami chat lagi.  Rasa kangenku tetap sama, hanya kini aku lebih bersemangat karena aku punya tekad mau ke Amerika. 

Albert : Halo sayang.

Baru aku perhatikan, status Karen lagi tidak online.  Hampir satu jam, statusnya masih tidak online.  Satu jam kemudian lagi, Karen masih tidak online.  Aku kecewa hari itu.  Untuk mengobati rasa kecewaku, pulang dari warnet aku sengaja melewati rumah Karen.  Melihat rumah Karen dari luar, membuat aku mengenang masa-masa saat kami bersama.  Aku tersenyum.  Wait for me, Karen. Aku pasti ke Amerika.  Semangatku bangkit kembali.  Kenapa aku tidak telepon dia aja yah.  Aku mencari-cari Wartel yang dekat situ.  Kupencet nomor telepon yang diberikan Karen.  Bunyi nada sambung tapi tidak ada yang angkat.  Aku coba beberapa kali, hasilnya sama.  Besoknya aku ke warnet setiap hari dan status Karen masih tidak online dan aku coba telepon pun, sama tidak ada yang mengangkat disana.  Akhirnya aku memberanikan diri, untuk menelpon ke rumah Karen. Bi Surti yang angkat.  Ternyata orang tuanya lagi ke Amerika, Karen kena sakit tipes.  Kecapean katanya.

Aku jadi sangat khawatir.  Rutinitasku setiap hari ke warnet dan telepon ke Amerika.  Kira-kira hampir dua minggu kemudian, teleponku diangkat.

“Halo,” suara laki-laki yang mengangkat.

Aku seperti kenal suaranya.

“Ini papinya Karen?” tanyaku.

“Bukan ini temannya, Michael. Ini siapa yah?” tanyanya.

Langsung aku tutup teleponnya.

 

SELASA 23 JUNI 1998 PUKUL 21:02

Karen menelponku.

“Maaf sayang, kemaren gua sakit tipes. Gua harus istirahat total. Baru sekarang gua bisa telpon loe. Maaf yah,” katanya

“Seneng sekali bisa denger suara loe, Karen.  Gua khawatir banget,” Aku menceritakan semuanya bagaimana aku telpon ke rumahnya dan lain-lain.

“Waduh sori banget yah sudah bikin loe khawatir, sayang,” katanya sambil tertawa.

“Tapi denger loe ketawa, khawatir gua jadi hilang,” ujarku kemudian.

Lalu aku mendengar suara laki-laki disana.

“Karen, loe makan dulu nih. Harus jaga kesehatan,” terdengar laki-laki itu berkata.

“Papi loe masih di Amrik, Karen?” tanyaku.

“Eh ga, ortu gua uda pulang. Itu…itu..si Michael,” jawab Karen pelan.

“Heh!” aku kaget. Rasa cemburu langsung menyelimutiku.

“Ayo Karen. Makan dulu!” suara Michael terdengar lagi.

“Nanti gua sambung ya, Albert sayang. I love you,” Karen menutup telepon sebelum aku sempat mengucapkan I love you too.

Malam itu aku tidak bisa tidur.  Terpikir dan terbayang macam-macam di benakku. Sampai akhirnya aku tertidur pun, aku bermimpi aneh, tentang Karen dan Michael.

 

MINGGU, 28 JUNI 1998 PUKUL 09:10

Seperti biasa aku ke warnet.

Albert : halo sayang

Karen : halo bert.

(tumben ga pake kata sayang)

Albert : gimana uda baikan?

Karen : uda bert. Gua uda mulai kuliah lagi.  Sibuk banget nih, banyak ketinggalan. Untung Michael bantuin gua.

(aku meneguk ludah)

Albert : sering ketemu Michael yah sekarang?

Karen : iya, untung ada dia jadi gua terbantu banget.

(Dasar keparat)

Albert : oh gitu yah, berarti gua harus terima kasih ke Michael nih :)

Karen : maksud loe?

Albert : ga apa-apa. Ga ada maksud apa-apa.

(dasar brengsek)

(detilnya aku lewat)

Albert : ya uda sayang. I love you

(biasanya Karen yang bilang duluan)

Karen : I love you too, bert

(ga pake kata sayang lagi)

Abis pulang dari warnet, aku cari tour and travel terdekat. Aku tanya-tanya soal ke Amerika.  Aku tertegun ternyata tiketnya mahal banget dan aku harus ada visa.  Satu-satunya visa yang mungkin adalah visa turis.  Yang mana aku bisa dapatkan kalo aku ikut paket tur yang ada di sana.  Biayanya jatuhnya lebih mahal lagi.  Setelah aku hitung-hitung, dengan penghasilanku sekarang.  Minimal 5 bulan lagi, aku baru bisa kesana.  Eh 6 bulan karena bulan Juni anak sekolah libur jadi aku tidak dapat penghasilan.

 

MINGGU, 5 JULI 1998 PUKUL 09:10

Albert : halo sayang

Status Karen tidak online.  Hampir setengah jam kemudian, Karen baru online.

Karen : halo bert.

Albert : I miss you so much,sayang.

Karen : gua juga.

(tidak pake sayang lagi)

Albert : Loe ada rencana pulang ke Indo?

Karen : kayaknya tidak dalam waktu dekat, bert.  Papi bilang masih lebih aman di Amrik.

Albert : Oh gitu yah.

(aku semakin bertekad harus ke Amerika)

Kami ngobrol macam-macam. Kira-kira satu jam kemudian.

Karen : sorry bert, gua mau pergi dulu ya.

Albert : ok sayang. Hati-hati yah. I love you.

(status Karen langsung tidak online lagi)

 

MINGGU, 12 JULI 1998 PUKUL 09:10

Begitu aku buka yahoo messenger. Langsung ada chat dari Karen, tiga hari yang lalu tanggalnya.

Karen : baca email dari gua bert.

Status Karen tidak online.

Aku buka emailku.  Oh iya ada email dari Karen. Aku klik.

Dear Albert,

Kuliah gua sibuk banget nih.  Hampir tiap hari ada tugas, ditambah gua harus ambil mata kuliah di semester-semester sebelumnya.  Harus fokus nih biar kuliah gua cepet kelar. Mungkin ada baiknya juga kalo loe juga fokus kuliah biar cepat kelar, jangan jadi mahasiswa abadi hehehe.

Bagaimana biar kita sama-sama fokus, kita break dulu aja yah.  Biar kita masing-masing bisa bener-bener konsentrasi sama kuliah kita. 

Kalo memang jodoh, ke depannya kita pasti bisa ketemu lagi.  Bye bert.

Gua akan selalu mengingat loe.

 

Isi emailnya singkat tapi menyakitkan.  Dadaku kembali seperti dilindas bulldozer.  Aku ga terima.  Pulang dari warnet, aku mampir ke wartel.  Yang ngangkat Keisya.

“Oh ko, cici lagi pergi,” jawabnya.

“Pergi kemana? Sama siapa?” tanyaku.

Keisya diam sebentar sebelum menjawab

“Bikin tugas bareng Ko Michael,” jawabnya kemudian.

Sesudah itu beberapa kali, aku menelpon tapi Keisya yang selalu menerima teleponku. Dan jawabannya selalu sama.  Karen lagi pergi dengan Michael.  Hari Minggu, aku standby di warnet dan Karen tidak online.

Hatiku gundah. Keputusan sepihak. Not fair.  Sudah hampir dua minggu sejak kubaca email dari Karen.  Semangatku drop.  Joko dan Ira pun tidak bisa menghiburku.  Aku seperti hilang arah.  Kucoba telpon, tetap Keisya yang angkat dan jawabannya selalu sama.  Dua minggu ini pun, aku selalu ke warnet. Karen tidak pernah online lagi.  Bahkan tidak ada email dari dia.  Kembali hantu masa laluku muncul,  agak sulit kali ini aku menguburnya kembali karena kondisiku lagi benar-benar terpuruk.  Pakaian Karen pun tidak bisa membantuku, malah memperburuk.  Lewat depan rumahnya pun sama saja.  Malah menambah sesak di dada. 

Keterpurukanku kali ini lebih parah dari yang dulu.  Aku sangat mencintai Karen.  Dia lah sumber semangatku.  Tanpa dia, jelas aku kehilangan daya hidup.  Hal ini berlangsung berhari-hari.  Joko terus menyemangatiku. 

“Uda bro.  Lupakan saja.  Yang penting loe fokus ke depan.  Loe masih ada gua dan Ira yang selalu support loe. Kita kan tidak tahu apa yang bakal terjadi ke depan,” Joko begitu tulus menyemangatiku.

“Iya bert. Gua dan Joko selalu support loe. Kita ga mau loe kayak gini terus,” Ira menambahi.

Aku tidak menanggapi mereka.  Yang terbayang di kepalaku adalah Karen dengan senyum manjanya. Menari-nari di depanku. 

SENIN, 31 AGUSTUS 1998

Hari ini ulang tahunku yang ke-21.  Kata orang untuk seorang laki-laki, inilah umur sebuah kedewasaan.  Aku melihat foto orang tuaku yang tadinya kusimpan baik-baik karena aku tidak ingin mengingat masa laluku yang kelam.  Tadi Joko dan Ira sudah mampir, ngasi kado sepasang sepatu sport.  Aku sangat berterima kasih sama mereka karena mereka terus mendukungku. Menghiburku. Walaupun tidak sepenuhnya berhasil tapi aku berterima kasih pada mereka.

“Mami, aku janji akan jadi orang,” kupandangi wajah ibuku.

“Albert akan mulai melangkah maju lagi setelah selama ini terpuruk,” sambungku lagi dengan mata berkaca-kaca. Aku sentuh jariku di sekitar wajah ibuku.  Hatiku sudah siap untuk merangkak lagi naik ke atas.

Aku simpan foto orang tuaku di tempat sebelumnya.  Aku ambil kaos putih dan rok mini Karen dan aku bungkus dengan koran dan aku simpan ditempat yang sama dengan foto orang tuaku.

Sesuai emailmu Karen, aku akan menurutimu.  Aku akan fokus kuliah dan aku akan lulus secepatnya.  Tapi aku minta maaf, untuk melakukan semua itu, aku harus belajar melupakanmu.  Tidak gampang, tapi untungnya aku mempunyai sahabat karib Joko dan Ira yang selalu menemaniku.  Aku mulai menata hidupku lagi.  Aku kuliah dengan benar. Benar-benar fokus.  Ternyata nilaiku memang bisa menjadi lebih baik setelah aku benar-benar fokus.  Kesedihanku ternyata bisa menjadi motivasi yang sangat luar biasa.  Ironisnya aku sekarang berterima kasih pada email Karen. 

 

SEPTEMBER 1999

Setahun sudah berlalu. Aku, Joko dan Ira lulus pada waktunya. Nilaiku pun memuaskan.  Aku memang ahli dalam memendam perasaaanku karena sejak kecil aku sudah terlatih untuk itu. Jadi sekarang Karen sudah menjadi masa laluku.  Aku selalu bisa memendam perasaanku pada Karen apabila Karen muncul di pikiranku. Dan lama kelamaan, kurasakan perasaanku sudah hambar pada Karen.  Aku berhasil melakukannya.  Kukubur kenangan Karen bersama dengan kenangan orang tuaku.

 

JUMAT, 21 JANUARI 2000 PUKUL 16:17

Tidak terasa uda hampir 3 bulan aku kerja di perusahaan tekstil.  Namun selama 3 bulan ini, aku mempelajari banyak hal di pabrik.  Suatu saat aku harus punya pabrik tekstil.  Minimal targetku, bulan depan aku harus punya toko kain.  Ngontrak kios dulu juga ga apa-apa.  Tekadku masih sama yaitu ingin jadi orang kaya.  Hari ini aku janji ketemu Joko dan Ira di kampus.  Buat nostalgia.  Aku sudah duluan sampe di kampus.  Belum keliatan batang hidungnya Joko dan Ira.  Aku lihat jam Casioku.  Iya, ini jam dari Karen. Aku tidak tega untuk menggantikannya dengan yang baru.  Janjinya ketemu jam empat lebih lima belas tapi kok mereka belum datang.  Aku telpon pakai telepon genggamku. Iya, aku punya handphone sekarang. 

“Ko, loe dimana?” tanyaku.

“Gua lagi jemput Ira. Hujan deras bro disini,” jawabnya.

“Di sini ga ujan kok,” sahutku.  Namun tidak lama kemudian tiba-tiba hujan mengguyur kampus.

“Entar begitu reda, kita kesana, bro,” ujar Joko.

Aku lihat hujan sangat deras.  Ya mending aku jalan-jalan deh keliling kampus, sambil menikmati hujan.  Berbagai kenangan masa kuliah muncul lagi ketika aku melihat-lihat bangunan kampus yang belum banyak berubah.  Kini aku melewati aula tempat aku pertama kali ngobrol dengan Karen.  Wait, forget her.  Langsung kututup dalam-dalam memori itu.

Ternyata ada seorang cewe yang lagi duduk di depan aula.  Pakai kaos putih dan rok mini warna hitam.  Imut juga pikirku begitu terlihat wajahnya. Tunggu dulu, kok sepertinya aku kenal cewe ini.

“Mary?” sapaku.

“Eh ko,” dia kaget melihatku.

“Kamu kuliah di sini toh,” tanyaku sambil duduk di sampingnya.

“Koko masih ingat sama aku?” tanyanya sambil tersenyum.  Senyumnya juga memang imut.

“Ingatlah,” aku juga inget payudaranya yang imut.

Wajah Mary berseri-seri bertemu aku lagi.  Akhirnya Joko dan Ira ga jadi ke kampus.  Tapi ga masalah buatku. Aku ada teman ngobrol si Mary.

Sebelum Mary dijemput, aku minta nomor teleponnya, karena aku lupa nomornya aku catat dimana dulu.  Tapi Mary malah memberikan nomor handphonenya.  Kusimpan nomor Mary di handphoneku. Dan dia pun menyimpan nomor handphoneku di hp-nya.


  • ivdaeorvm likes this

#17 Bielski

Bielski

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 29 posts

Posted 31 March 2017 - 02:33 PM

Lanjut lg hu..seru baca cerita nya..out of the box..
  • teddythejoy likes this

#18 jolibee

jolibee

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 307 posts

Posted 31 March 2017 - 03:40 PM

Ajiib.. lanjut koko albert..
  • teddythejoy likes this

#19 bojongsetro

bojongsetro

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 76 posts

Posted 31 March 2017 - 03:54 PM

keren


  • teddythejoy likes this

#20 jolibee

jolibee

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 307 posts

Posted 31 March 2017 - 09:21 PM

Koko albert bole dicritain juga donk si joko ama ira tu ngapain aja ? Pernah ngajakin 3s ga tuh?
  • teddythejoy likes this