hit counter code



Jump to content


Situs Judi Bola

ss Situs Judi Bola Situs Judi Bola ss

ingin beriklan? hubungi kami: email : megalendir@gmail.com , big.lendir@yahoo.com atau Skype : big.lendir@yahoo.com

ss ss ss
ss ss ss
vert
vert
Photo
- - - - -

The Old Story


  • Please log in to reply
115 replies to this topic

#21 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 01 April 2017 - 02:47 PM

OLD STORY CHAPTER SEVEN

 

SABTU, 22 JANUARI 2000 PUKUL 09:13

Tidak perlu menunggu lama. Mary langsung saja menelpon hpku dari telepon rumahnya.

“Ko lagi ngapain?  Ga kerja ya hari ini?” tanyanya manja.

“Ga Mary.  Hari Sabtu mah libur,” jawabku senang mendengar suara manjanya. Terbayang kembali ketika dia duduk di pangkuanku dan memainkan penisku dengan pantatnya.

“Jalan-jalan yuk ko. Temenin Mary,” ajaknya dengan nada merayu.

Boleh juga pikirku.  Tidak lama kemudian aku sudah sampai di rumah Mary.  Berhubung aku memang lagi pengen nyantai. Ditemani oleh seorang cewe imut, kenapa tidak.

Mary yang membuka pintu.  Mary pakai tanktop biru tua dan celana pendek jeans.  Seksi sih cuma badannya terlalu mungil.  Tapi memang imut bodinya sesuai dengan mukanya yang imut banget.

“Kita langsung pergi aja ya ko.”

Aku mengangguk dan menyerahkan helm padanya.  Setelah pake helm, Mary memakai jaketnya yang warna pink.  Jaket gaya sebenarnya jadi tidak terlalu tebal.

Setelah di jalan.

“Mau kemana Mary?” tanyaku.  Mary sih sudah tidak malu-malu lagi.  Dia duduk sambil memelukku dari belakang.  Payudaranya yang kecil menekan punggungku.  Aku hanya merasakan hangat, penisku tidak terlalu bereaksi.  Aku tidak sepolos dulu lagi.

“Kita ke Lembang yuk, ko,” jawabnya hampir dekat di telingaku yang tertutup helm.

“Ke Lembang, dikit dong. Kamu cuma pake tanktop ama celana pendek,” sahutku.

“Ah kalo dingin, kan ada koko yang bisa ngangetin,” jawabnya nakal.

Aku hanya tertawa tapi aku mengarahkan kendaraanku ke arah atas. Sepanjang perjalanan, Mary mendekapku erat sambil menyandarkan kepalanya di punggungku.

Sesampai kami di Lembang.

“Ko, terus ke atas, kita istirahat di tempat yang ada jual jagung bakar,” kata Mary.

Aku menuruti permintaan Mary.  Sesampai disana, kami pilih salah satu tempat yang ada tingkat duanya.  Setelah pesan, kami naik ke tingkat atas.

“Kamu ga dingin, Mary?” sambil aku membuka jaket dan memberikan padanya.

Mary menggunakan jaketku untuk menutupi pahanya yang ketika duduk memang celananya menjadi semakin ke atas.  Tidak lama pesanan kami datang, aku sih pesan Indomie telor, Mary pesan jagung bakar dan teh manis hangat.

“Aku ga tau  kalo kamu kuliah di situ,” aku membuka percakapan.

“Kamu ambil jurusan apa?” tanyaku lagi.

“Aku ambil Sastra Inggris, ko,” jawabnya sambil mengunyah jagung.

“Oh pantes, gedungmu beda ama gedung fakultasku.  Kamu baru semester dua berarti kan, waktu kamu masuk, aku sudah mulai jarang ke kampus karena ngerjain skripsi,” lanjutku.

“Koko mau jagung?” Mary menyodorkan jagungnya untuk aku gigit.  Aku menggigit sedikit, aku ga terlalu suka jagung bakar.

“Kamu mau Indomie?”

“Mau, asal disuapin,” jawabnya manja.  Aku menyuapi satu sendok ke arah mulutnya yang mungil.  Ada kuahnya yang menetes di dagunya.  Otomatis aku usap pakai tanganku.  Mary terlihat senang dengan perlakuanku itu.  Kedua kakinya kemudian ditumpangkan di atas kakiku yang bersila.  Jaketku menutupi kaki kami berdua.  Pahanya menekan selangkanganku.  Penisku jelas bereaksi.  Mungkin karena udara dingin, pikirku.  Jelas pikiran yang ngaco.

“Kamu emang jago ngomong Inggris?” selorohku.

“Of course,” jawabnya sambil memukul lenganku dan semakin menekankan pahanya di selangkanganku.  Kulihat ekspresi wajah Mary biasa-biasa saja.  Apakah dia tidak merasakan penisku yang lagi berdiri?

Makan Indomieku mulai ga fokus.  Sudah lama aku tidak masturbasi sejak kepergian…Ah lupakan saja tentang dia.  Dalam udara dingin begini, himpitan paha Mary membuat bagian bawahku terasa hangat.  Hal yang sudah lama tidak kurasakan sejak kepergian…What? Lupakan dia.

Aku makan mie dengan perlahan. Mary pun sudah hampir menghabiskan jagung bakarnya.  Terus terang aku jadi menikmati gesekan-gesekan paha Mary di selangkanganku.

Setelah jagungnya habis. Aku berkata lagi

“Mau mienya lagi, Mary?”

“Ga ko. Aku cuma pengen liat koko makan,” jawabnya manja sambil kepalanya disandarkan ke tangannya yang bertumpu di meja sambil melihat ke arahku.  Membuat posisi pahanya bergeser tapi masih tetap di atas selangkanganku.  Situasi ini membuatku harus cepat-cepat menghabiskan makananku, meskipun aku jadi salting diliatin oleh Mary dengan pandangan imutnya.  Akhirnya habis juga walaupun masih tersisa kuahnya.

“Nih ko, minumnya,” Mary menyodorkan teh manisnya padaku.  Aku meminumnya, mungkin karena masih salting.  Beberapa tetes keluar dari mulutku mengalir di daguku.

“Aih koko, minum aja masih kayak anak kecil, belepotan,” sambil Mary menyapu air teh yang membasahi daguku.  Lalu dengan entengnya, dia menjilati jarinya yang habis mengelap daguku.

Jantungku berdegup kencang.  Kurasakan Mary begitu seksinya melakukan hal itu.  Penisku berdiri lebih kencang.  Kali ini Mary tersenyum padaku.

“Uda berdiri yah ko, kontolnya?” ujarnya tanpa malu-malu.

“Kamu sih pake acara numpangin kaki kamu di atasnya,” jawabku langsung.  Mary terkikik pelan.

Kini Mary mendekatiku.  Bersandar di pundak kananku.  Kakinya kini tidak di atas selangkanganku tapi dia lipat ke samping.  Jaketku kini menutupi selangkanganku dan tangan Mary menyusup ke dalamnya.  Mengelus-elus penisku dari luar celana.

“Enak ko?” tanyanya lirih di telingaku.

Entah setan darimana, aku membuka ristletingku.

“Mary, kocok pake tanganmu,” aku menatapnya tanpa malu-malu.

Jari-jari Mary kemudian mengikuti perintahku.  Mengocok Penisku yang sudah ngaceng keras.  Dielusnya kepala penisku oleh jarinya yang mungil dan digerakkannya naik turun.  Semuanya terjadi di bawah lindungan jaketku.

Mungkin karena aku sudah lama tidak “sibuk” dengan penisku.  Kocokan Mary terasa nikmat sekali.  Mary dengan sabar mengocok penisku sambil menatap mataku.  Aku menatapnya tanpa malu.  Menikmati setiap kocokannya dan wajah imut Mary yang tersenyum ikut menambah nikmat kocokannya.

“Agak cepat Mary, aku mau keluar nih,” sambungku setelah beberapa lama.  Mary mengikuti ucapanku.  Kocokannya semakin cepat.  Dan akhirnya keluarlah spermaku.  Membasahi jaket  dan tangan Mary.  Aku berusaha menahan eranganku karena kami lagi di tempat umum.  Mary terlihat senang.  Dia mengeluarkan tangannya yang berlepotan sperma.  Lalu terlihat sangat indah di mataku ketika pelan-pelan dia menyedot sperma itu dengan mulutnya.  Menjilati ceceran sperma sampai bersih di tangannya.  Selama ini aku hanya menyaksikan itu di film-film bokep kini aku bisa menyaksikan siaran langsungnya.  Setelah beberapa kali menjilati sisa-sisa spermaku ditangannya, baru Mary membersihkan sisanya dengan tisu.  Lalu Mary mengambil tisu lagi dan membersihkan sperma yang menempel di penisku dan jaketku.  Hati-hati takut ada orang yang naik ke atas.

Nikmat sekali rasanya setelah sekian lama dalam kesendirian. Dan masih ada sisa-sisa kenikmatan ketika penisku disentuh lagi Mary.

Ketika kami ingin pulang, hujan gerimis. 

“Gimana Mary, tetep mau pulang aja?” tanyaku.

“Pulang aja ko, asik kan kalo ujan-ujanan,” tawanya riang.

“Boleh tapi kamu pake jaket aku ya, jaket kamu kan tipis,” jawabku.

“Koko sendiri gimana, nanti basah dong,” ujarnya ragu-ragu.

“Kan asik sekali-kali ujan-ujanan dan tadi kan uda sempet basah sekali,” candaku.

“Ih koko,” Mary mencubit pinggangku.  Sakit-sakit enak karena cubitannya juga imut. Emang ada cubitan imut ya?

Hujan semakin deras. Ya, kami pulang kembali ke Bandung sambil hujan-hujanan.  Basah kuyup.  Mary mendekapku erat dan merapatkan tubuhnya padaku.

Hari-hari berikutnya kami sering telpon-telponan.  Bahkan kalo Mary pulang kuliah sore, aku sering mengantarnya pulang.

 

SABTU, 5 FEBRUARI 2000

Sebuah ide muncul dalam benakku. Ide nakal lebih tepatnya.  Paman dan bibiku lagi pergi keluar kota.  Rencananya minggu malam baru pulang.  Aku telpon Mary

“Mary mau ga ke rumah koko hari ini?” tanyaku.

“Aku mau pergi kemana pun koko ngajak aku,” jawabnya.  Aku terharu sesaat.

Akhirnya aku jemput Mary dan aku bawa ke rumahku.  Hari Mary pakai tanktop pink dan rok mini jeans.  Mary ini demen banget pake baju seksi.  Bikin pikiran melayang ke hal-hal yang nikmat.

Begitu masuk, Mary langsung nanya

“Aku pengen liat kamar koko,” ajaknya manja.

Sambil memeluk lenganku, aku ajak Mary ke kamarku.

Kamarku tidak besar. Hanya ada ranjang, meja belajar dan lemari untuk baju-bajuku. 

Begitu sampai di kamar, Mary langsung rebahan di kamarku sambil menatap sekeliling kamar.  Sambil menarik nafas panjang seakan-akan ingin menghisap aromaku yang berada di dalam kamar.

Payudara Mary membusung karena sedang rebahan.  Rok mininya begitu menggoda.  Bukan roknya sebenarnya yang menggoda tapi paha mulusnya.  Kecil sih ga gede.  Tapi tetap saja bikin penisku menggeliat.

“Koko lagi sendirian kan di rumah?” tanyanya memastikan.

Aku mengangguk.

“Memangnya kenapa kalo lagi sendirian?” tanyaku. Ikut rebahan di ranjang disamping Mary.

Wangi tubuh Mary memasuki rongga hidungku.  Berbeda wanginya dengan...Lupakan.

Dari dekat bisa kulihat bibir Mary yang merah tipis.  Aku menyentuh bibirnya dengan jariku. Kutelusuri dari bibir bawah dan bibir bagian atasnya.  Lalu tiba-tiba Mary memasukkan jariku ke mulutnya.  Menghisap jari telunjukku dan lidahnya menyapu jari telunjukku.  Aku merinding dibuatnya.  Sambil menatapku, Mary kini menjilati jari-jariku yang lain.  Membasahinya dengan air liurnya. 

“Kontol koko mau diginiin ama aku?” sahutnya tanpa malu-malu.  Nih anak bener-bener blak-blakan kalo ngomong.

“Boleh tapi aku ingin ngemut puting kamu dulu, Mary,”lanjutku, entah darimana tiba-tiba muncul perkataan itu.

Tanpa basa basi, Mary langsung membuka tanktopnya.  Hmm no bra. Aku daritadi tidak memperhatikan kalo dia tidak pakai bra. Baru kini aku perhatikan putingnya berwarna agak pink, dulu aku tidak sempat perhatikan.  Payudaranya kecil tapi mancung.

“Katanya mau ngemut, tapi kok cuma diliatin doang?” pancing Mary.

“Aku mau ngemut tapi aku pengen kamu mohon ama koko kalo kamu pengen koko ngemut puting kamu,” aku jual mahal.

“Ih koko gitu deh,” mukanya sedikit merengut.

“Ayo mohon ama koko,” aku tersenyum nakal.

Mary geleng-geleng kepala.

“Ayo mohon ama koko,” tanganku menyusup ke dalam roknya.  Kusentuh selangkangannya dan kutekan jariku disana.

“Ih koko, geli tau,” teriaknya manja.

Jariku terus kumainkan di selangkangannya sampe terasa sedikit basah.

“Hmm koko,” rintihnya.

“Ayo koko belum denger permohonan kamu,” sambil aku tekan-tekan lagi belahan klitorisnya lebih terasa dari luar celana dalamnya karena sudah basah.

Mary terlihat sudah terangsang dengan permainan jariku di selangkangannya.  Tapi dia masih tidak mau memohon putingnya untuk diemut olehku.  Hanya terdengar rintihannya yang tambah liar.

“Ayo dong ko, aku sudah….,” rintihnya.

“Sudah apa?” tanyaku nakal.  Entah apa yang merasuki pikiranku. Aku ingin mendengar dia mengiba-iba padaku.

“Aih koko nakal,”  matanya merem menikmati jariku yang kini menjepit-jepit klitorisnya dari luar celana dalamnya.

“Aaahah please ko, eegghh emutin dong puting aku,” akhirnya dia menyerah.

Lalu dengan terus menatap wajahnya, ekspresi mukanya yang lagi horny membuat aku ingin mempermainkannya lebih lanjut. Aku dekatkan mulutku ke arah putingnya tapi aku sengaja tidak menempelkan mulutku disana.  Pandangan mata Mary terlihat memohon-mohon agar aku segera mengemut pentilnya.

Aku lebih menekan vaginanya dengan jariku.  Pandangan mata Mary berusaha menahan birahi yang semakin memuncak.

“Ayo ko, please… Mary uda ga tahan,” kata Mary dengan nafas yang memburu.

Tiba-tiba saja aku menyedot puting Mary kuat-kuat.  Mary langsung menggelinjang ketika kusedot putingnya yang sudah tegang dengan mulutku.  Bunyi sedotanku terdengar.  Mary menggoyangkan pinggulnya menikmati gesekan di vaginanya dan isapan mulutku pada putingnya.  Tubuh Mary beberapa kali menegang ketika aku memainkan putingnya dengan lidahku.

“Aah ko, Mary uda ga tahan,”  Mary memegang tanganku yang sedang menggesek vaginanya dan mendorong tanganku agar lebih menekan ke arah selangkangannya.

“aaaagghh, koko,” jeritnya ketika mencapai orgasme.  Mary menciumku.  Seakan-akan mengucapkan terima kasih karena sudah membuat dia klimaks.  Aku balas menciumnya.  Lalu kami rebahan telentang.  Payudara Mary masih terbuka.  Kami saling menatap langit-langit kamarku.

“Koko mau jadi pacar aku?” tanya Mary tiba-tiba di tengah keheningan kami.

Aku menoleh ke kanan, menatap wajah Mary.  Mary pun menatap wajahku.

“Kenapa nanya gitu?” tanyaku.

“Aku memang uda naksir koko sejak koko ngelesin aku dulu,” jawabnya.  Wajah imutnya tersenyum.

Melihat aku tidak menjawab pertanyaannya, dia melanjutkan

“Karena ada Karen ya ko?” tanyanya lagi.

Mendengar nama Karen disebut, tubuhku seperti tersengat sesuatu.

Aku langsung menindih tubuh Mary.  Menikung tangannya dibelakang badannya sehingga dia sulit bergerak.  Dan langsung kuciumi payudaranya yang terbuka dengan penuh nafsu.  Mary hanya menggerakan badannya, menikmati ciuman dan jilatanku di payudaranya.

“Tanganmu tetap di belakang,” perintahku padanya.  Aku mulai memeloroti roknya sehingga tersisa celana dalamnya.  Tubuh putihnya yang mulus terpampang di depanku.  Membuat birahiku muncul lagi.  Mary ingin menggerakkan tangannya.

“Ssshh, jangan,” perintahku.  Mary menurutiku.  Aku mulai menciumi perut Mary yang kecil padat.  Sambil pelan-pelan aku menurunkan celana dalamnya. Kuciumi bulu-bulu halus selangkangannya.  Mary menggelinjang dengan tetap kedua tangannya tertikung di bawah tubuhnya.

Kuturunkan lagi celana dalamnya hingga terlihat belahan klitorisnya yang berwarna pink.  Berbagai flashback film porno meliputi pikiranku.  Kuciumi belahan klitoris Mary yang sudah tidak tertutup celana dalamnya.  Mary mulai mendesah lagi.  Kuturunkan lagi celana dalamnya sehingga kini vagina Mary terlihat jelas.  Kuturunkan celana dalamnya sampai setengah paha.  Mata Mary terpejam menikmati ciumanku di area vaginanya.  Wangi khas vaginanya tercium membangkitkan libidoku.

Dengan tanganku meremas payudaranya yang kanan, aku mulai menjilati bibir klitorisnya.

“aaggg, ko,” rintihan Mary terdengar cukup keras.  Aku semakin bernapsu menjilati bibir klitorisnya yang sudah basah oleh air liurku.  Tangan Mary sekarang sudah menjambak rambutku.  Kubenamkan dalam-dalam kepalaku di selangkangannya.  Remasanku di payudaranya semakin keras tapi malah membuat nafas Mary semakin memburu dan tubuhnya mulai bergerak-gerak liar.  Lidahku semakin liar menggerayangi klitorisnya sampai akhirnya kembali Mary orgasme sambil meremas keras rambutku.

Semenjak hari itu, aku dan Mary semakin sering ketemu.  Banyak detil yang aku lewatkan.  Tapi ada satu yang aku ingat jelas.  Keisenganku muncul.

 

SENIN, 14 FEBRUARI 2000

Hari ini aku merayaan hari Valentine. Setelah dulu aku…lupakan saja.  Pulang kerja aku jemput Mary di rumahnya.  Mary pakai kaos warna pink dan hotpants wara pink.  Imut dan seksi tentu saja.  Waktu itu kami rencananya mau makan di pizza h**.  Beberapa pasang mata menatap kami begitu kami masuk ke tempat makan.  Aku bangga lah jalan ama cewe seimut dan seseksi Mary.  Tapi anehnya aku tidak cemburu kalo ada beberapa laki-laki yang mencuri pandang dengan Mary.  Berbeda waktu aku jalan sama…kalian tahu siapa yang kumaksud. 

Setelah kami pesan makanan dengan karyawan pizza, seorang cowok kebetulan.  Yang beberapa kali kutangkap sering melirik ke arah paha Mary.  Keisenganku muncul.  Aku berbisik pada Mary.

“Mar, kamu lepasin dong bra kamu di kamar mandi. Terus branya simpen di dalam tas kamu,” bisikku.

“Ih koko apaan sih?” Mary tersipu malu.

“Ayolah. Aku pengen kamu terlihat seksi luar dan dalam,” rayuku lagi.  Aku belai paha mulusnya.  Tanganku mengelusnya hampir ke pangkal selangkangannya.

“Ih koko,” katanya manja.  Tapi kemudian Mary pergi menuju toilet. Ga lama kemudian dia kembali.  Ketika sudah hampir mendekat, aku lihat sedikit tonjolan putingnya menembus kaosnya yang pink.  Untung tidak selalu terlihat karena Mary memakai rompi.

“Kok putingnya menonjol, Mary?” tanyaku nakal.

“Ih koko gitu deh,” Mary mencubit pinggangku.  Pesanan kami datang. Waiternya entah tahu atau tidak, dia melirik ke dada Mary.  Mary terlihat malu dan berusaha menutup dadanya.  Tapi aku tahan tangannya.  Aku pun ikut kerangsang dengan situasi ini.

Kebetulan tempat makannya di mall jadi abis makan, aku sengaja ngajak Mary jalan-jalan di mall. Pengen memamerkan putting susu Mary ke pria-pria yang beruntung yang kebetulan melihatnya. Hehehe.

“Kamu kerangsang ya?” bisikku lagi jail. “Itu putingnya tambah keliatan menonjol.”
Mary salah tingkah. 

Melihat Mary tidak menjawab pertanyaanku.  Aku yakin dia kerangsang.  Aku menggandengnya ke toilet mall.

“Mary, sekarang kamu buka celana dalam kamu di dalam,”  keisenganku bertambah nakal.

“Ga mau ah, ko,” tolaknya sambil menunduk.

“Ayolah. Aku yakin kamu pasti tambah kerangsang, sayang,” tambahku.  Karena toiletnya ada di pojok mall.  Begitu tidak ada orang, aku meremas payudaranya.  Mary merintih pelan.  Meskipun masih ragu-ragu, Mary akhirnya masuk ke dalam toilet.  Kutahan birahiku selama menunggu Mary diluar.

Begitu keluar.

“Mana aku lihat celana dalamnya?” tanyaku.

Mary dengan takut-takut membuka tasnya dan memperlihatkan celana dalamnya yang berwarna pink dalam tasnya.

Aku mengangguk sambil tersenyum.

“Bagaimana rasanya, Mar?” tanyaku.

“Kayak lagi telanjang, ko. Aku belum pernah melakukan hal ini,” jawabnya.

“Tapi kamu suka kan?” senyum jailku muncul lagi.

Mary tidak menjawab tapi hanya menunduk malu.  Ternyata tidak banyak orang yang melihat ke arah kami.  Beberapa laki-laki hanya melihat wajah Mary yang imut dan bajunya yang seksi tanpa menyadari bahwa Mary tidak memakai bra dan celana dalam.  Tapi dengan begitupun, aku tetap kerangsang.  Dan aku yakin Mary pun demikian.  Kadang ketika dia menggandeng lenganku, sering aku dengan sengaja menyenggol payudaranya dengan sikuku.  Suatu sensasi baru yang menyenangkan untukku.

 

SABTU, 19 FEBRUARI 2000

Keberuntunganku semakin membaik tampaknya.  Lagi musim nikah, jadi paman dan bibiku keluar kota lagi. Ada saudara yang nikah di Jakarta.  Tentu saja, aku langsung jemput Mary kerumah dan kubawa ke rumahku.  Dan keisenganku semakin menghebat juga.  Begitu sampai masuk ke dalam rumah.  Aku menyuruh Mary membuka semua pakaiannya.  Aku tahu dia sudah menahan birahi sejak valentine kemaren dan aku sudah menyuruhnya untuk tidak masturbasi sejak hari itu.  Mary belum pernah bugil di depanku.  Jadi begitu tinggal celana dalamnya, dia agak ragu-ragu. 

Aku menghampirinya.  Kutekan tubuh dia ke pintu.  Kuselipkan jariku di selangkangannya.

“Kok uda basah, Mary?” godaku.

“Koko gitu deh,” Mary pun meremas penisku.  Kuambil kedua tangannya dan kugiring ke atas kepalanya.  Mary tidak menolak.  Kutekan selangkangannya dengan pahaku.

“Buka lebar-lebar kaki kamu, Mary,” perintahku. Mary dengan patuh melakukannya.  Kuselipkan jariku ke dalam celana dalamnya.

“Uggh..geli ko,” Mary menikmati gesekan jariku di vaginanya yang sudah basah.  Aku lumat bibirnya sambil aku menekan-nekan vaginanya.  Lidah kamu saling menyapu dan kali ini kuhisap lidahnya.  Membuat Mary menggelinjang enak ditambah gesekan jariku di vaginanya.  Satu tanganku masih menahan kedua tangan Mary di atas kepalanya.  Kupercepat elusanku di kemaluannya.  Mary menggelinjang kenikmatan.  Ketika kurasakan Mary ingin klimaks.  Aku menghentikan rangsanganku.

“Kenapa berhenti, ko?” tanyanya menahan birahi.  Aku hanya tersenyum.  Wajah imut Mary begitu menggoda karena dia berusaha menahan libidonya yang tidak jadi klimaks.  Aku gandeng Mary. Aku duduk di sofa dan aku suruh Mary duduk dipangkuanku membelakangiku.  Kenapa aku jadi ahli begini yah? Kebanyakan nonton bokep kayaknya.  Aku suruh Mary mengangkang.  Tubuh Mary menyandar pada dadaku.  Kuremas payudara kirinya, lalu jari kananku kembali lagi masuk ke dalam celana dalamnya.  Pantat Mary menekan penisku yang sudah tegang dari tadi.  Kugunakan dua jari di vagina Mary.  Kadang kujepit jariku di bibir klitorisnya.  Vaginanya lebih basah dari yang tadi.  Mary mendesah tak henti dan menggoyangkan pinggulnya.  Aku menikmati goyangannya di penisku.  Ketika kupilin putingnya.  Kurasakan Mary menggelinjang lebih tidak karuan. Dan kuhentikan rangsanganku.

“aah koko, kenapa berhenti lagi?” tanyanya cemberut sambil berusaha menahan nafsunya.

“Buka dulu celana dalamnya,” perintahku lagi.  Langsung saja tanpa membantah, Mary menurunkan celana dalamnya.

Aku berdiri.

“Sekarang ngangkang di sofa, Mary,” perintahku lagi.

“Buat apa, ko?” tanyanya.

Aku dorong tubuhnya ke sofa dan aku buka lebar-lebar kakinya.  Aku berlutut di depannya.  Bulu-bulu kemaluannya tertata rapi.  Bibir vaginanya sudah basah.  Sedikit terbuka.  Pemandangan yang menaikkan birahiku lagi.  Langsung saja aku jilati vaginanya.  Aku tidak peduli wajahku basah oleh cairan kemaluan Mary.  Mary kembali mengerang, merintih kenikmatan dengan jilatanku.  Kucari-cari itilnya. Dan kutekan-tekan lidahku disana.  Kadang kusedot keras.  Tubuh Mary semakin bergerak tidak terkendali.  Sampai akhirnya, pahanya dengan takut-takut menjepit kepalaku.  Tangan Mary memegang kepalaku.  Dan akhirnya Mary mengeluarkan orgasmenya yang sudah tertahan dari Valetine lalu. 

“aarrggg koko, enak banget,” Beberapa kali selangkangannya ditekankan ke wajahku.  Aku tersenyum melihat Mary.  Mary dengan malu-malu menyapu tangannya di sekitar mulutku, membersihkan sisa-saia cairan vaginanya di mulutku.  Aku tersenyum hangat. Dan kupeluk tubuh telanjang Mary yang berkeringat.

 

MINGGU, 7 MEI 2000 PUKUL 09:16

Tidak terasa kami sudah pacaran beberapa bulan. Bulan kemaren aku pun sudah mulai buka kios kain kecil-kecilan di salah satu mall baru.  Aku pun masih tetap kerja dulu meskipun pendapatan kiosku lumayan bagus.

Dan hari ini aku mendapat kunjungan dari Joko dan Ira.

“Bro, gua mau married nih,” kata Joko begitu aku membuka pintu.

“Hah! Kapan tunangannya,” kataku.

“Langsung married aja lah, ngapain pake tunangan,” jawab Joko nyengir.

“Uda ga tahan, ya?” godaku.  Ira mesem-mesem di belakang Joko.

“Ah, jangan-jangan loe MBA (married by Accident) ya?” gurauku lagi.

Ira tambah mesem-mesem.

“Apaan sih loe?” tangkis Joko. Dan ternyata gurauanku benar.  Akhir tahun itu, Ira melahirkan seorang bayi perempuan.

Mereka ga lama di rumahku karena mau nganter undangan lagi.  Karena pernikahannya uda mepet, tinggal seminggu lagi.

 

MINGGU, 14 MEI 2000 PUKUL 18:35

Mary hari ini pake gaun rok hitam.  Bisa terlihat anggun juga si Mary. Anggun dan imut.  Gedung resepsinya lumayan gede.  Kata Joko ini hasil tabungan ortunya, emang dipersiapkan buat pernikahan Joko.  Enaknya kataku pada Joko.

Sekali lagi aku bangga banget banyak mata yang melirik Mary.  Kugandeng Mary erat-erat.  Ketika acara basa basi pernikahan selesai.  Aku dan Mary sedang makan di dekat stand sate.  Mary sedang menyuapkan sate ke mulutku ketika seseorang memanggilku.

“Albert,”

Aku melirik ke arah suara itu dan jantungku langsung berhenti berdetak.  Seorang wanita berambut panjang di bawah bahu, berdiri di dekat situ dengan gaun merah sampe lutut.  Pakai sepatu hak tinggi.  Dengan tasnya di bahu.  Cantik sekali.

Entah berapa lama, jantungku berhenti bekerja. Sampai kemudian aku bisa mengeluarkan suara.

“Karen?” dengan masih ada daging sate di mulutku.


  • rangoros, ivdaeorvm and Srianto like this

#22 Bielski

Bielski

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 28 posts

Posted 01 April 2017 - 04:15 PM

Next chapter gan..seru ne..
  • teddythejoy likes this

#23 bojongsetro

bojongsetro

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 76 posts

Posted 01 April 2017 - 05:13 PM

selalu dinanti


  • teddythejoy likes this

#24 jolibee

jolibee

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 287 posts

Posted 01 April 2017 - 08:28 PM

Lanjut koko albert
  • teddythejoy likes this

#25 Adikkecil

Adikkecil

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 92 posts

Posted 01 April 2017 - 10:03 PM

anjrit nanggung, kalo jadi lo si karen gua culik balik dari kondangan gmn pun caranya wkwkwkwkwk
  • teddythejoy likes this

#26 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 02 April 2017 - 10:43 AM

OLD STORY CHAPTER EIGHT

 

Aku cepat-cepat mengunyah daging sate dalam mulutku.  Karen menghampiriku.  Kulihat di pergelangan kakinya masih tergantung gelang pemberianku.

“Apa kabar?” sapanya sambil memberikan tangan.

Kujabat tangannya.  Belum ada lagi kata-kata yang muncul dari mulutku. Kembali lagi alam bawah sadarku, muncul sesuatu yang tidak enak dari peristiwa waktu aku kecil, lalu ketika keterpurukan karena Karen.  Kemudian kudengar Karen memperkenalkan diri pada Mary.  Aku masih sibuk dengan pikiranku meskipun mataku menatap Karen.

“Akhirnya mereka nikah juga ya,” terdengar Karen bicara sambil tertawa.  Aku berusaha menekan masa laluku.  Kulihat Mary menatap Karen.  Lalu kembali aku menatap Karen.  Cantik sekali dia. Aku hanya bisa mengangguk, menanggapi kata-kata Karen.  Aku sudah mulai bisa menekan dalam-dalam masa laluku. 

Ketika Karen sedang melihat ke arah panggung tempat duduk pengantin. Baru aku bisa mengeluarkan kata-kata.

“Kapan kembali ke Bandung?” tanyaku pelan.

Karen menatapku.

“Kemaren.  Aku dapat undangan pernikahan Ira dan Joko lewat email, jadi aku memutuskan pulang ke Indo,” jawabnya sambil tersenyum.

“Uda beres kuliah?” tanyaku lagi, masih dengan suara tersekat di tenggorokan.

“Kuliah uda beres, tiga bulan lagi wisuda,” sahut Karen.  Aku merasakan rangkulan Mary di lenganku.

“Oh,” hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.

Kami terdiam beberapa saat.  Aku bingung mau ngomong apa lagi.

“Ko, kita pulang yuk. Aku merasa kurang enak badan,” tiba-tiba Mary bicara padaku.  Aku menatap Mary lalu kembali menatap Karen yang sedang melihat ke arah panggung lagi.  Terasa tarikan tangan Karen di lenganku.

“Sori Karen, gua pulang dulu ya. Euh..Mary ga enak badan,” ujarku padanya.  Karen tersenyum.

“Oke, bye. Hati-hati ya di jalan,” sambil dengan tersenyum, dia melambai padaku dan Mary.

Setelah salaman dengan mempelai (aku peluk Joko) dan keluarganya, aku pulang. Menuju pintu keluar, aku mencari-cari sosok Karen tapi tidak ketemu.

Sepanjang jalan, kami diam.  Aku merasa bersyukur karena mulutku memang terasa terkunci, sulit untuk mengungkapkan kata-kata.  Sesampai di rumah Mary.

“Tadi itu pacar koko yah, yang namanya Karen?” tanya Mary tiba-tiba.

“Euh…,” aku tidak bisa menjawab.

“Ya udah. Hati-hati di jalan ya ko,” lalu Mary langsung masuk ke dalam.  Meninggalkanku di luar rumahnya.  Aku sampai lupa bahwa biasanya Mary menciumku ketika kami akan berpisah.  Entah itu ciuman bibir atau pipi.  Tapi kali ini dia tidak melakukannya.

Dijalan, mataku memperhatikan jalan, tapi pikiranku kusut.  Entah bagaimana caranya aku akhirnya malah ke warnet.  Kubuka yahoo messenger dengan email lamaku.  Yang selama ini tidak pernah kubuka.  Tidak ada chat baru tapi ada notifikasi email baru.  Aku buka email. Dari Karen. Tertanggal 31 Agustus 1998. Ternyata email card. Kartu ultah.  Kubuka email berikutnya tertanggal 31 Agustus 1999.  Birthday card juga.  Karen tidak pernah lupa ulang tahunku.  Aku malah yang tidak pernah ngasi buat dia.  Buat apa, toh dia meninggalkanku. Aku yakin karena si keparat Michael.  Luka lama muncul lagi.  Dadaku terasa terhimpit bulldozer.  Pikirkan hal yang gembira.  Keparat Michael.  Bukan itu. Ah Mary.  Wajahnya yang imut.  Bayangan Karen muncul.  Happy Thoughts. Come on Happy Thoughts.  Payudara Mary yang imut.  Sedikit membantu.  Teringat ekspresi wajah Mary dan dia tidak menciumku tadi. Muncul lagi bayangan Karen, Michael lalu orang tuaku. Argggghhh…….

 

SENIN, 15 MEI 2000 PUKUL 08:12

Hari ini aku ijin tidak kerja.  Tapi karena di rumah juga ga ngapa-ngapain. Akhirnya aku putuskan aku ke kios aja.  Aku punya seorang karyawan.  Memang baru sebulan sih, tapi aku mempercayainya.  Kiosku sudah buka dari jam 8.

“Lho pak, ga ngantor hari ini?” tanya Ikbal, dia karyawanku. 

“Iya ijin dulu, bal. Lagi sumpek,” aku senyum terpaksa.   Untung juga aku ke kios.  Lumayan rame dari tadi banyak yang datang walaupun ga semuanya beli.  Tapi paling tidak aku bisa mengalihkan perhatian dari kekacauan pikiranku.  Ingin aku menelpon Mary tapi aku tidak melakukannya.  Nanti aja deh paling aku ke rumahnya aja nanti malam.

 

PUKUL 11:16

Aku lagi menghitung pemasukan hari ini, ketika kudengar Ikbal berkata

“Cari kain jenis apa, ci?” tanyanya.

“Saya cari bos kamu,” suara wanita terdengar.

Aku mendongakkan kepala.  Kulihat Karen lagi tersenyum padaku.  Aku melangkah dengan kikuk ke arahnya.  Aku tersenyum getir.

“kok bisa kesini, Karen?” tanyaku sambil tanganku ke belakang leher.

“Kebetulan lagi jalan-jalan,” jawabnya.  Aku hanya mengangguk-angguk.

“Uda makan siang belum, bert?” tanya Karen kemudian.  Aku menggelengkan kepala.

“Temenin gua makan siang yah,” ajaknya.

Sesampai di foodcourt tingkat atas, Karen pesen lotek dan es teh manis. Aku pesen jus alpukat.  Aku tidak ada selera makan.

“Aduh, gua kangen banget ama lotek,” Karen berkata ketika kami sudah duduk.

Aku duduk di seberang kursi Karen.

“Eh kenapa loe ga kerja hari ini? Kata Ira loe kerja sambil buka kios,” sambung Karen.

“Gua lagi ga enak badan,” aku berbohong.

Karen terlihat khawatir.

“Kenapa? Demam,” dia langsung berdiri memegang dahiku.

“Bukan.  Lagi ga enak perut dan kepala pusing,” aku setengah berbohong.  Pusing karena kehadiranmu yang tiba-tiba.

“Uda makan obat?” tanyanya masih dengan nada khawatir.

“Udah,” jawabku sambil tersenyum getir lagi.

Untung tidak lama pesanan kami datang, karena aku jelas bingung mau ngobrol apa. Sambil Karen makan, aku mengisap jus alpukatku pelan-pelan.  Pusingku bertambah, dan perasaanku bergejolak sehingga perutku merasa tidak enak.  Aku menatap Karen ketika dia makan.  Rambutnya kini panjang melewati bahu, membuat dia menjadi lebih anggun dan tentu saja tetap cantik di mataku.  Hari ini dia pakai kaos putih lagi.  Tentu saja bukan kaos Leo karena kaos itu ada dirumahku tersimpan dengan baik dan tidak pernah kulihat-lihat lagi.

Setelah selesai makan, terlihat kangennya akan lotek terbayarkan dari ekspresi wajah Karen.  Sambil minum teh manisnya.

“Tadinya gua pikir ga akan ketemu loe karena loe kerja.  Gua cuma pengen liat-liat aja gimana sih kios kain loe. Penasaran,” ujarnya tersenyum.

Yeah, I chose the wrong time to come here.

“Kapan loe balik lagi ke amrik?” tiba-tiba aku bertanya seperti itu.

Karen agak tertegun mendengar pertanyaanku.  Mungkin dia merasa aku mengusirnya untuk cepat-cepat pergi dari Indo.  Mungkin dia benar.

“Mungkin sebulan bulan  sebelum wisuda, gua harus balik dulu ke Amrik,” jawabnya kemudian.

Balik dulu.  Jadi maksudnya…

“Jadi rencananya loe mau kerja di Amrik abis wisuda?” sekali lagi tiba-tiba meluncur pertanyaan yang seperti mengusir kehadirannya di Indo.

“Loe maunya gua gimana?” tanyanya balik.

Come on! You are not my girlfriend anymore.  Kenapa kamu nanya balik seperti itu.

“Becanda, bert. Muka loe serius amat,” sambungnya sambil tertawa renyah.

“Gua seneng liat ekspresi muka loe yang bingung,” lanjutnya.

What!!! Kami saling berpandang-pandangan.  Oh My, Cantik banget.  Tiba-tiba pandanganku penuh cinta, hatiku sedikit meleleh. Kehangatan yang dulu kurasakan menyusup masuk. Stop, right there!

“Loe masih pake jam dari gua,” Karen memegang tali jamku dengan jari telunjuknya.  Otomatis jari-jari lainnya menyentuh kulit pergelangan tanganku.  Semakin banyak kehangatan yang masuk ke dalam dadaku.

“Jamnya bagus, jadi sayang kalo gua ganti,” aku menjawabnya untuk mempertahankan gengsiku.

“Loe sendiri masih pake gelang dari gua.  Apa Michael ga marah?” aku melirik pergelangan kakinya.

 “By the way, si Mary imut banget yah.  Kok loe bisa nyari pacar seimut itu?” tanyanya sambil bertopang dagu mengalihkan pembicaraan.

“Kalo loe happy, gua juga ikut happy, bert,” sambungnya lagi.

Iya sampe gua ketemu loe lagi kemaren, batinku.

“Loe tau ga Karen. Melupakan loe itu termasuk hal yang paling sulit gua lakukan,” tiba-tiba aku berkata demikian dan dadaku sedikit plong.

Karen menatapku lalu menatap jarinya yang beradu di meja, lalu menatapku lagi, seakan-akan sedang mencari jawaban yang tepat.

“Tapi…tapi loe berhasil kan lulus kuliah dengan cepat dan sekarang loe uda kerja dan punya usaha sendiri,” aku merasa aneh, kok tanggapannya begitu yah.

“Apa maksud perkataan loe?” tanyaku bingung.

“Ga apa-apa, yang penting kan loe sekarang uda punya pacar,” jawabnya sambil tersenyum paksa.

“Iya adil kan. Loe juga uda punya pacar, si Michael,” aku agak sedikit sewot.

Karen membuka mulut hendak mengatakan sesuatu tapi dia urungkan niatnya.  Dia menatap jari-jarinya lagi.  Hening sesaat.

“Kapan loe mau nyusul si Joko dan Ira?” tanyaku membuka pertanyaan yang mungkin jawabannya bisa mengiris hatiku.  Tapi aku melakukannya dengan tersenyum.

“Gua sama Michael sebenarnya…,” Karen menatapku. Yang kubalas dengan pandangan kuat.

“Loe happy kan ama Mary?” malah Karen nanya begitu.

Kami sama-sama diam, saling membaca pikiran masing-masing.  Saling menatap seakan-akan dengan menatap, kami bisa mengetahui jawaban dari pertanyaan kami.  Akhirnya sebuah keputusan muncul di kepalaku.  Mudah-mudahan keputusanku tidak salah.

“Iya gua uda happy ama Mary.  Karena gua sudah berhasil melupakan loe, Karen,” jawabku mantap.

Mary tersenyum mendengar jawabanku. Tapi sorot matanya, aku menangkap hal yang lain.  Mungkin itu hanya bayanganku saja.

 

PUKUL 16:31

Aku sengaja menjemput Mary di kampus.  Begitu ketemu dia, langsung kugandeng tangannya.

“Mary, kamu jangan marah lagi.  Karen itu masa laluku. Aku sudah melupakannya.  Sekarang yang jadi pacar aku itu kamu,” aku memegang kedua tangannya.

“Koko…aku sayang kamu,” Mary tersenyum manis dan membalas menggenggam erat tanganku.

 

SABTU, 10 JUNI 2000 PUKUL 11:36

“Bro, lagi sibuk?” tiba-tiba Joko muncul di depan kiosku.

“Wah pengantin baru. Tumben loe kesini, ko,” aku menyambutnya sambil salaman tangan.

“Temenin gua makan siang, man. Uda lama kita ga ngobrol berdua,” kata Joko.

Langsung aja kami ke foodcourt tingkat atas.  Nunggu pesanan datang.

“Gimana uda dapet enaknya, bro?” aku mengolok-olok Joko

“Enak banget bro.  Makanya cepetan married,” sambung Joko sambil tertawa.

“Gua mau gedein dulu lah kios gua.  Buat modal married.  Gua ga kayak loe ada ortu yang nabungin modal kawin,” sambungku.

“Gimana loe ama Mary?” tanya Joko setelah pesanan makanan kami datang.

“Ya lancar-lancar aja,” sambil aku menyuapkan nasi goreng ke mulutku.

Joko terlihat sedang menimbang-nimbang sesuatu.

“Loe ketemu Karen waktu married gua kemaren?” tanya Joko hati-hati.

“Kenapa tiba-tiba loe nanya gitu?” aku tanya balik.

“Iya mungkin gua harus minta maaf ama loe karena kita ga bilang ngundang Karen,” lanjut Joko.

“Karena kita ga yakin juga dia bisa datang dari Amrik demi kawinan kita,” Joko menyedot es teh manisnya.

“Ketemu sebentar,” jawabku. “Besoknya juga ketemu lagi karena dia datang kesini.”

“Iya itu juga gua minta maaf tanpa seijin loe, gua kasi tau tempat kios loe karena pas nikah kemaren dia tanya kios loe dimana,” muka Joko terlihat tidak enak.

“Tau darimana dia kalo gua punya kios?” selidikku.

“Euh, loe jangan marah man. Sebenarnya Ira sering chat ama Karen sewaktu dia di Amrik,” jawab Joko dengan muka memohon maaf.

“Banyak amat dosa kalian ama gua,” aku tertawa melihat ekspresi wajahnya.  Aku dan Joko jadi sahabat sudah lama. Aku yakin Joko dan Ira tidak mungkin punya niat untuk menyakitiku. 

“Berarti loe tau dong cerita tentang Karen dan Michael?” sambungku masih dalam penyelidikan.

“Emang Karen ga cerita ama loe kemaren?” Joko terlihat bingung.

“Ga.  Dia tidak menceritakan apapun tentang dia dan Michael,” jawabku tersenyum getir.

“Loe jangan marah lagi ya, man.  Tadinya aku juga tidak tahu tentang ini.  Awalnya Ira cerita kalo semenjak kepergian Karen, loe jadi ga ada gairah hidup.  Kuliah loe juga asal-asalan.  Dia cerita gitu ke Karen lewat chat.  Apalagi pas Karen kena sakit tipes.  Loe bener-bener khawatir ama dia.  Karen prihatin ama loe.  Karen ngerasa selama loe mikirin dia terus, pasti hidup loe ga akan bener,” Joko menyedot lagi minumannya.  Aku mendengarkan dengan seksama, sampai aku lupa menghabiskan makananku.

“Terus?” aku penasaran.

“Jadi kebetulan waktu itu Michael emang kuliah di amrik juga.  Loe kan selalu curiga tuh ama si Michael.  Jadi ini kesempatan buat Karen mutusin loe.  Biar loe bisa lupa ama dia dan loe bisa lanjutin kuliah loe dengan bener.  Gambling juga sih sebenarnya.  Disitulah gua dan Ira masuk buat support loe terus, biar loe tidak terpuruk terus-terusan.”  Kami saling bertatapan.

Aku shock mendenger cerita Joko.

“Jadi sebenarnya Michael dan Karen tidak pernah jadian.  Walaupun kalo denger cerita Karen, memang Michael terus ngedeketin dia di Amrik,” wajah Joko terasa lega karena sudah mengeluarkan bebannya selama ini.

“Kenapa loe baru cerita sekarang?” tanyaku agak sedikit emosi sebenarnya.

“Gua sebenarnya mau cerita, man. Loe tahu kita sahabatan uda lama.  Tapi Ira dipesan banget ama Karen, jangan pernah cerita ke loe. Karena demi kebaikan loe.  Gua sih nurut aja lah karena gua pikir juga ini demi kebaikan loe.  Lagian loe kan uda pacaran ama Mary sekarang,” Joko menjelaskan.

“Gua lega sekarang, man. Uda cerita ke loe semuanya,” sambungnya.

Aku masih merasa shock.  Pikiranku berkelana kemana-mana.  Aku mengingat-ingat email Karen yang terakhir.  Memang dia tidak pernah menyebutkan apapun tentang Michael.  Itu hanya ada dalam pikiranku saja kalo Karen jadian dengan Michael.  Bahkan di akhir email, Karen nulis “Gua akan selalu mengingat loe”  Kalo uda jadian dengan Michael, ngapain dia mau inget ama gua.  Terus lagipula dia masih pakai gelang pemberianku di kakinya.  Gua menutup wajah dengan kedua tanganku.

“Uda ga pengaruh kan ama loe tentang cerita gua, man?” Joko agak was-was melihat responsku.

“Makanya sebelum cerita, gua tanya dulu gimana loe dan Mary,” lanjut Joko tambah was-was. “Loe bilang lancar-lancar aja tadi, makanya gua putusin gua cerita.  Loe masih belum bisa melupakan Karen?” giliran Joko yang menutup wajah dengan kedua tangannya.

“Ko, thanks banget loe uda cerita.  Gua tinggal dulu yah. Gua mau ke rumah Karen,” aku langsung meninggalkannya sebelum Joko sempet mencegah gua.

Jarang-jarang aku ngebut.  Sesampai di rumah Karen, Keisya yang bukain pintu ternyata.

“Bi Surti mana?” tanyaku.

“Lagi kagok ko, dia lagi di belakang,” jawab Keisya.

“Kamu lagi libur?” tanyaku padanya.

“Iya ko, nanti dua bulan lagi balik lagi bareng cici ke Amrik, sekalian dia wisuda. Masuk dulu ko. Cici lagi pergi sebentar,” Keisya mempersilahkan aku duduk.

“Keisya, ada yang mau aku tanyain,” ujarku.

“Tapi tolong jawab yang jujur yah,” sambungku.

Keisya duduk dengan wajah sedikit gelisah.

“Apa Karen dan Michael pernah jadian di Amrik?” tanyaku kemudian.

“Euh…,” Keisya terdiam.

“Tolong Keisya, jawab yang sebenarnya,” aku memohon.

“Tapi jangan kasi tau cici, aku yang bilang ya, ko,”  masih dengan muka takut-takut.

Aku mengangguk.

“Ga pernah jadian ko.  Waktu cici sakit tipes emang ko Michael sering datang ke tempat kita.  Tapi cici bilang sama dia kalo dia ga mau jadian ama ko Michael,” Keisya sudah tidak terlalu takut lagi.

“Tapi kan dulu waktu aku telpon, pas kamu yang ngangkat. Katanya cici lagi pergi ama Michael. Tiap aku telpon jawaban kamu selalu gitu,” lanjutku.

“Euh soal itu, aku minta maaf ko. Cici yang maksa aku untuk bohong.  Dia ga pergi kemana-mana. Tiap koko telpon, dia ada di samping aku kok,” jawabnya, ekspresi wajahnya terlihat kalo takut aku marah.

“Oh,” aku kembali menutup wajahku,

“Ko, sebenarnya cici itu sayang banget ama koko.  Sering kali dia nangis kalo lagi inget koko.  Cuma dia bilang ke aku, koko harus melupakan cici, biar kuliah koko bisa lanjut dan koko ga mikirin dia terus,” sambung Keisya.  “Sengaja dia beli boneka Teddy Bear yang gede, sebagai pengganti koko katanya.  Tiap dirumah kadang dia tertidur di pangkuan boneka itu atau sambil meluk boneka itu.”

Karen. Karen. Kenapa kamu berbuat begitu.  Mataku berkaca-kaca.  Kembali teringat email Karen yang bilang aku harus fokus kuliah.  Setitik air mata mengalir turun.

Bi Surti lewat di depan kami menuju pintu depan. Aku mengusap air mataku.  Ternyata sebegitu besar cintanya padaku.  Ketika pikiranku melambung kemana-mana.

“Bert, ngapain loe disini?” Karen muncul di pintu depan. Ternyata bunyi bel tadi tidak terdengar olehku karena pikiranku tidak disitu.

Langsung aku menghampirinya dan memeluknya erat-erat.  Air mataku menetes lebih banyak sekarang.


  • nicesekali and ivdaeorvm like this

#27 Bielski

Bielski

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 28 posts

Posted 02 April 2017 - 12:59 PM

Wah sudah mendekati akhir cerita ne hu..lanjut hu
  • teddythejoy likes this

#28 jolibee

jolibee

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 287 posts

Posted 02 April 2017 - 06:55 PM

Lanjut lg koko albert.. tambahin donk foto cici karen nya biar makin masuk ke dlm critanya
  • teddythejoy likes this

#29 muka melas

muka melas

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 28 posts

Posted 02 April 2017 - 11:22 PM

Lanjut suhu
  • teddythejoy likes this

#30 antok_gemblung

antok_gemblung

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 44 posts

Posted 03 April 2017 - 11:50 AM

lanjut..bro..
  • teddythejoy likes this

#31 nicesekali

nicesekali

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 148 posts

Posted 03 April 2017 - 04:21 PM

Lanjut bro...

Bagus kok... nggak vug*r dan cerita nyambung.. 

Thanks


  • teddythejoy likes this

#32 anto145

anto145

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 66 posts

Posted 04 April 2017 - 03:20 AM

Cerita nya sadis.... nice story gan... loe luar biasa, alurnya dapet, jadiin cerpen or novel bagus gan...lanjut gan, ane dah 2 hari ini baca cerita loe sampe keteter kerjaan, tpi sebanding dengan jalan cerita yg eksotis ini.mantap jaya
  • teddythejoy likes this

#33 nicesekali

nicesekali

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 148 posts

Posted 04 April 2017 - 12:30 PM

Belom the end kan Gan..

Ane nunggu cerita selanjutnya..


  • teddythejoy likes this

#34 bayuliar

bayuliar

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 43 posts

Posted 04 April 2017 - 08:57 PM

Lanjut gab
  • teddythejoy likes this

#35 poobrain

poobrain

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 29 posts

Posted 04 April 2017 - 11:21 PM

Sumpah KEREN BANGET ini story !!

#speachless

Ngarep banget lanjutannya cepet nongol
  • teddythejoy likes this

#36 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 05 April 2017 - 08:43 AM

Lanjut om boss

makasih om, uda mampir di mari :)



#37 batavias34man

batavias34man

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 3 posts

Posted 05 April 2017 - 02:10 PM

mantap gan... ditunggu kelanjutannya ya...


  • teddythejoy likes this

#38 matabuta1011

matabuta1011

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 7 posts
  • Locationsurabaya

Posted 05 April 2017 - 04:14 PM

tambah penasaran


  • teddythejoy likes this

#39 penikmatayam

penikmatayam

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 32 posts

Posted 05 April 2017 - 05:30 PM

Lanjut gan ceritanya.. kalau niat dibikin novel serus juga ini
  • teddythejoy likes this

#40 sariponk

sariponk

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 8 posts

Posted 05 April 2017 - 07:07 PM

asli.... asik gan cerita nya. seduh kopi dulu ah... sambil nungguin karen......
  • sariponk and teddythejoy like this