hit counter code



Jump to content


Situs Judi Bola

ss Situs Judi Bola Situs Judi Bola ss

ingin beriklan? hubungi kami: email : megalendir@gmail.com , big.lendir@yahoo.com atau Skype : big.lendir@yahoo.com

ss ss ss
ss ss ss
vert
vert
Photo
- - - - -

Escape


  • Please log in to reply
53 replies to this topic

#1 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 24 June 2017 - 04:38 PM

ESCAPE CHAPTER ONE

 

PROLOG

 

Mia seorang gadis cantik, berkulit putih dengan seragam putih abu-abunya. Dengan rambut panjangnya yang tergerai membuat kecantikannya terlihat lebih kentara.  Mia baru saja menginjak usia 18 tahun.  Tahun ini adalah tahun terakhirnya di sebuah SMA swasta di Bandung.  Sekolah Mia terletak di sebuah komplek perumahan yang cukup besar di Bandung.  Lokasinya bisa dibilang hampir diujung area perumahan tersebut.  Untuk menuju pulang ke rumah, sebenarnya Mia bisa meminta supir keluarganya untuk menjemputnya.  Tapi Mia lebih senang pulang berjalan kaki. Kadang Mia pulang bareng teman-temannya.  Lebih asik rasanya sambil ngobrol atau bercanda-bercanda.  Meskipun dengan berjalan kaki memerlukan waktu kurang lebih 25 menit untuk sampai di rumahnya.  Waktu segitu itu sambil jalan santai yah.

 

Biasanya Mia pulang bersama Maya dan Regina, tapi karena hari ini Mia mau menyelesaikan sesuatu di perpustakaan, makanya hari ini dia pulang sendirian.  Maya dan Regina sudah pulang dari tadi.  Sebenarnya keluarga Mia termasuk keluarga yang kaya.  Papanya, Budianto. Punya pabrik tekstil yang termasuk salah satu terbesar di Bandung.  Sebenarnya bukan papa kandungnya Mia sih.  Karena setelah ditinggal pergi oleh papa kandungnya, Mamanya Mia yang bernama Melina, menikah dengan Budianto.  Sementara Budianto yang duda pun karena cerai dari istrinya, mempunyai seorang anak laki-laki, Susanto yang usianya lebih tua dua tahun dari Mia.  Mamanya Mia dan Budianto baru menikah kira-kira dua tahun yang lalu.  Dalam hati Mia, walaupun Budianto kaya raya, tapi dia tidak mau terlalu bergantung pada kekayaan papa tirinya.  Makanya jarang sekali Mia naik mobil kepunyaan papanya.  Mia lebih senang jalan kaki atau naik kendaraan umum.  Mungkin karena asalnya bukan dari kota besar,  Mia dan mamanya tadinya tinggal di Garut.  Mia merasa agak sedikit tidak terbiasa dengan kehidupan di Bandung.  Ini menyebabkan sifat Mia lebih tertutup. Terutama pada teman-teman cowonya.  Wajah cantiknya sebenarnya banyak yang membuat teman-teman cowoknya yang mendekati tapi Mia nya yang tidak mau membuka diri.    Entah sudah berapa banyak cowok yang ditolaknya ketika mereka menyatakan ingin jadi pacar Mia.

 

Tapi selayaknya anak-anak remaja, tentu saja Mia mempunyai rasa suka pada lawan jenisnya.  Namanya Anto.  Sayangnya Anto seorang yang pendiam, cowo yang paling pintar di kelas. Sudah lama Mia mengagumi Anto.  Mia senang melihat kekikukan Anto ketika sedang diajak bicara oleh anak-anak cewek di kelasnya.  Begitu kaku dan pemalu, tapi hal ini yang membuat Mia tertarik pada Anto.  Beberapa kali ketika di kelas, Mia sering beradu mata dengan Anto dan diakhiri oleh keduanya saling memalingkan muka atau menundukkan kepala.  Di mata Mia, Anto terlihat berbeda dengan teman-teman cowo lainnya yang sebenarnya lebih supel, lebih modis dan lebih pandai bicara.  Tapi perbedaan Anto itu yang membuat Mia suka padanya.  Mengingatkan pada teman-temannya dulu waktu di Garut.  Yang sederhana, tidak terlalu mengikuti mode pakaian.  Tapi ya itu karena Anto pemalu, jadi sampai saat ini pun setelah kenal kira-kira dua tahun.  Mereka berdua hanya saling menyapa singkat atau saling berpandangan mata sesaat sebelum kedua-duanya memalingkan wajah atau menundukkan kepala.  Tapi walaupun hanya begitu, jantung Mia berdetak cepat ketika hal itu terjadi.  Membuat hatinya berbunga-bunga.

 

Dengan tas sekolahnya yang berwarna pink, tergantung di pundak kanannya.  Panas terik matahari siang ini, menyebabkan beberapa butir keringat membasahi keningnya. Ketika Mia berjalan keluar gerbang, Mia melihat Anto sedang berdiri di dekat pintu gerbang. Kepalanya seperti tidak bisa diam.  Kadang melihat ke arah lain, tapi kemudian melirik ke arah Mia, tapi sedetik kemudian menunduk. Intinya kepalanya bergerak-gerak gelisah.  Kedua tangannya pun berpindah-pindah dari saku celana, ke belakang pinggangnya atau mengusap-usap hidungnya.

Mia pun bingung, mau menatap Anto terus, dia malu, sebagai kamuflase, kadang matanya menoleh ke kiri dan ke kanan, padahal lingkungan sekolah sudah sepi.  Ketika Mia sudah mendekat

 

“Mia, kok ga pulang bareng Maya dan Regina?” tanya Anto kikuk.  Padahal dia sudah tahu kalo Maya dan Regina pulang duluan.  Anto pun tahu kalo Mia tadi ke perpustakaan.  Justru dia sengaja menunggu Mia di gerbang sekolah.  Maksud hatinya ingin pulang bareng Mia.

Anto sebenarnya juga tinggal di perumahan yang sama. Cuma beda blok aja.  Tapi walaupun hanya beda blok, tapi karena kompleks perumahan ini cukup besar.  Jarak rumah Mia dan  Anto pun cukup jauh hanya memang arahnya satu jurusan.

 

“Mereka sudah pulang duluan,” jawab Mia dengan kikuk juga.  Pandangan mata mereka beradu, kemudian masing-masing saling memalingkah wajah sebentar.  Detak jantung Mia mulai sedikit kencang.

“Eh...kita pulang bareng yuk?  Mau kan?” ujar Anto kemudian sambil ragu-ragu.

Mia tertunduk, tapi hatinya senang sekali.  Mia tersenyum mengiyakan ajakan Anto.  Sambil kedua tangannya memainkan tali tasnya.  Mia berjalan pelan di samping Anto.  Bukan benar-benar di samping, tepatnya terpisah sejauh 10 atau 15 centimeter.  Tapi meskipun begitu Mia khawatir kalo debaran jantungnya yang kencang terdengar oleh Anto.  Makanya dia sibuk memainkan tali tasnya untuk meredam perasaan gugupnya.

Anto pun tidak kalah gugupnya.  Hal ini adalah hal paling berani yang dia lakukan.  Mengajak seorang cewe pulang bareng.  Sejak pertama kali melihat Mia, ketika dia diperkenalkan wali kelas di depan kelas, Anto sudah jatuh hati. Hanya karena dia seorang yang pemalu, ditambah lagi hampir semua teman-teman cowonya ngejer-ngejer Mia, Anto tidak pernah melakukan sesuatu.  Makanya begitu kali ini, dia memberanikan diri mengajak Mia pulang bareng, hatinya benar-benar berdebar kencang.

 

Anto dan Mia banyak berdiam diri, masing-masing sibuk mengatasi debar jantung mereka.

“Kok tumben, kamu belum pulang jam segini, to?” tiba-tiba Mia berusaha mengajak bicara.

Anto gelagapan.  Aduh mati aku,  aku kan sengaja nunggu dia pulang.  Kalo aku bicara terus terang, ada kemungkinan Mia malah takut jadinya.  Anto sibuk memutar otak, memikirkan jawaban dari pertanyaan Mia.

“Eugh, tadi aku disuruh bantuin Pak Benny meriksa ulangan anak-anak,” tiba-tiba terpikir jawaban asal oleh Anto.

“Wah asiknya yah jadi anak pintar, disuruh bantu periksa ulangan,” ujar Mia sambil tersenyum.  Manis sekali.

“Aku dapat nilai berapa, to?” tanya Mia kemudian.

Mati aku.  Anto kembali bingung memikirkan jawabannya.  Anto mulai garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Hmm, aku dapet nilai jelek yah? Makanya kamu ga mau ngomong,” tampang Mia berubah jadi sedih.  Memang nilai pelajaran Mia tidak terlalu bagus, karena standar soal-soal di sekolah ini memang cukup sulit.

“Eh bukan begitu, Mia.  Aku meriksa ulangan yang kelas sebelah kok bukan kelas kita, jadi aku ga tau nilai kamu berapa,” jawab Anto asal-asalan lagi  karena melihat ekspresi wajah Mia yang cemberut.  Lagi cemberut pun kok bisa cantik gitu yah wajahnya.  Anto terpesona melihat wajah Mia, yang bisa dibilang inilah jarak yang paling dekat, Anto memandang wajah Mia.

 

Saking terpananya memandang wajah Mia yang lagi cemberut. Anto tidak melihat batu besar di depannya, entah siapa yang menyimpannya di trotoar.  Kaki Anto terkait batu itu dan tubuh Anto hampir tersungkur jatuh ke depan, apabila Mia tidak memegang lengannya cepat-cepat.

Wajah Anto merah padam.  Sial, pertama kali ngajak cewe jalan bareng, malah kesandung batu.

Dengan wajah masih merah padam dan gengsi turun ke tingkatan yang paling bawah.

“Makasih ya Mia.  Untung ada kamu,” ucapnya dengan wajah panas.

“Kamu ga apa-apa, to?,” Mia terlihat khawatir.  Tanpa dia sadari, tangannya masih memegang lengan Anto.  Sampai akhirnya Mia sadar, kini giliran wajahnya yang merah padam karena malu. 

“Ga apa-apa Mia. Untung kamu cekatan,” Anto berusaha tersenyum tapi yang tercetak diwajahnya malah ekspresi meringis ditambah memang baru terasa kakinya sakit terantuk batu tadi.  Dia tidak menyadari lengannya dipegang oleh Mia sesaat tadi.

 

Kini mereka berdua berjalan dengan wajah masing-masing merah karena malu tapi dengan alasan yang berbeda.  Untung aku tidak terbentur tiang listrik seperti iklan pasta gigi yang dulu waktu kecil, aku sering liat di tivi.  Dengan gengsi, Anto berusaha berjalan sewajarnya padahal meskipun pakai sepatu, akibat terbentur batu besar tadi, jari-jari kakinya nyut-nyutan.  Sedangkan Mia berusaha meredam debar jantungnya, dia merasakan tadi betapa dekat tubuhnya dengan Anto ketika Mia berusaha menahan jatuhnya Anto.  Terasa tadi payudaranya tanpa sengaja tersentuh oleh lengan Anto.  Mia merasakan perasaan yang aneh ketika payudaranya tersentuh tadi.  Belum pernah ada yang menyentuh payudaranya yang ukurannya memang tidak besar, tapi proporsial dengan bentuh tubuhnya yang bisa dibilang ramping dengan pinggul agak sedikit besar.  Mia memandang wajah Anto tapi Mia tidak menyadari bahwa Anto sedang menahan rasa sakit di kakinya.  Ga ganteng-ganteng amat sih wajah Anto.  Namun  membuat perasaannya nyaman, belum pernah aku merasakan senyaman ini dengan seorang cowo.  Dia ingat lagi rasanya tadi payudaranya tersenggol tangan Anto.  Muncul kembali perasaan aneh pada dirinya.  Perasaan yang sama ketika dia menonton adegan ciuman di film-film Hollywood atau foto penis pria yang sering muncul di internet.  Membayangkan hal itu, membuat Mia menunduk, tidak berani menatap Anto lagi.  Kok aku jadi membayangkan kemaluan laki-laki, pikir Mia dalam hati.  Tanpa terasa selangkangannya terasa gerah.

 

Itulah pengalaman pertama jalan berdua antara Mia dan Anto.  Sampai akhirnya Mia sampai di rumahnya, setelah mengucapkan kata perpisahan, Anto melanjutkan perjalanan pulang ke rumahnya.  Setelah agak jauh baru Anto mulai berjalan terpincang-pincang dan wajahnya dengan tanpa malu lagi terlihat meringis beberapa kali.

Melina menyambut anaknya pulang.

 

“Wah, anak mama sudah pulang,” sambil memeluk Mia.  Mia pun balas memeluk mamanya.  Di usianya yang hampir kepala empat, kecantikan Melina masih tetap terlihat. Mia memang mewarisi kecantikan dari mamanya.

“Mia mandi dulu ya, ma,” Mia pamit ke kamarnya di lantai atas.  Mengambil handuknya dan segera masuk ke kamar mandi yang berada di sebelah kamarnya.

 

Setelah membuka seluruh pakaian seragamnya, Mia menghidupkan shower.  Mulai menyapu seluruh tubuhnya dengan sabun cair.  Ketika sedang menyabuni bagian payudaranya.  Mungkin karena masih sensitif setelah tadi disenggol Anto.   Mia sejenak menghentikan gerakan menyabunnya.  Dia elus bongkahan payudaranya yang tertutup sabun.  Merasakan geli sendiri.  Lalu kedua telunjuknya memegang puting coklat mudanya, yang sejak kapan terasa mengeras.  Kenapa aku jadi sensitif begini, pikirnya.  Terasa geli yang berbeda ketika Mia menekan kedua putingnya dengan kedua telunjuknya.  Selanjutnya telunjuknya memutar-mutar di sekitar putingnya yang tegang.  Geli tapi enak.  Di usia remaja, Mia memang termasuk remaja yang belum mengekspolari tubuhnya secara mendalam.  Meskipun dari pelajaran biologi atau dulu pernah ada sex education, Mia menanggapinya biasa saja.  Berbeda dengan teman-temannya yang begitu bersemangat.  Bahkan Maya dan Regina pernah bilang dulu kalo mereka pernah nonton film porno.  Mia pun hanya manggut-manggut saja apabila mereka membicarakan tentang hal-hal yang berbau porno, tidak pernah ikut nimbrung.  Tapi sekarang, Mia memandang kedua payudaranya dengan cara yang berbeda, dan menyentuhnya dengan cara yang berbeda dari biasanya.  Perasaan aneh kembali mendatanginya.  Perasaan aneh yang entah kenapa membuat dirinya ingin merasakan lebih dalam.  Mia memegang bongkahan payudaranya dari bawah dan menekannya sehingga kedua payudaranya lebih membusung ke atas.  Terlihat lebih bulat dengan posisi seperti ini.  Tangannya mulai menekan-nekan payudaranya bagian bawah.  Perasaan hangat yang tidak familiar meskipun tubuhnya sedang dalam keadaan bugil.  Tanpa sadari, siku Mia menyenggol putaran tombol shower sehingga tiba-tiba air mengalir turun dari lubang shower.  Membuat Mia tiba-tiba merasa kedinginan dan hilang sudah perasaan aneh yang tadi menjalarinya.  Mia melanjutkan mandinya. 

 

Begitu Mia keluar dari kamar mandi.  Ada Susanto yang lagi berdiri depan kamarnya, sambil nelpon pake hp.  Rambut basah Mia yang tergerai, membasahi kaos hijau mudanya di bagian bahu.  Mia merasakan sambil menelpon tatapan Susanto menatap dadanya yang kebetulan tadi Mia lupa membawa bra ganti sehingga dia tidak memakai bra.  Apakah dia tahu aku tidak pakai bra? Batin Mia.  Mia langsung menutupi dadanya dengan handuknya.  Susanto bisa melihat bra Mia yang terlipat dengan handuk mandinya.  Lalu Susanto memalingkan wajah, sibuk kembali berbicara di handphonenya.

 

Memang Mia dan Susanto jarang ngobrol juga kalo di rumah.  Mereka belum begitu akrab.  Mereka baru satu rumah selama dua tahun.  Tapi memang Susanto seperti juga Anto, begitu melihat Mia pertama kali, langsung mengagumi kecantikan Mia.  Tidak jarang tanpa Mia ketahui, Susanto sering melirik ke arah Mia.  Melihat ke arah tubuh Mia yang kadang kalo di rumah memang sering memakai celana pendek meskipun tidak pendek-pendek amat.  Tapi tadi Susanto bisa melihat bayang-bayang samar puting Mia yang tercetak di kaosnya.  Pertama kali ketemu Mia ketika Susanto menjelang Ujian Akhir di SMA. Lagi masa-masanya seorang cowok aktif mencari tahu aktivitas seksualnya.

 

Selama ini memang Susanto sering berganti-ganti pacar, tidak sulit baginya untuk menggaet cewek karena dia anak orang kaya.  Tampangnya sih biasa-biasa aja, hanya dandanan dan pakaiannya yang necis membuat Susanto tidak sulit menggaet cewe.  Pacar-pacarnya pun sebenarnya tidak kalah cantik dengan Mia.  Tapi karena terlalu gampang menggandeng cewe cantik dengan kekayaannya membuat tidak ada rasa gregetnya buat Susanto.  Petting atau ML dengan pacar-pacarnya sudah biasa buatnya.  Tapi sosok Mia yang berbeda dengan gadis-gadis yang pernah dia kenal, memberikan rasa sensasi yang luar biasa ketika dia coli membayangkan Mia.  Sulit untuk mendapatkan Mia karena statusnya Mia adalah adik tirinya membuat Susanto harus menahan diri tapi disitulah yang membuat Susanto semakin merasakan sensasi yang luar biasa membayangkan bercinta dengan Mia.  Bahkan kadang ketika bercinta dengan pacar-pacarnya yang dulu dan yang sekarang, Susanto selalu membayangkan Mia ketika sedang orgasme.  Hari ini bisa melihat bayang-bayang puting susu Mia merupakan kemajuan yang luar biasa buat Susanto.  Karena sebelumnya Susanto hanya bisa mengamati sosok tubuh Mia dengan balutan celana pendek yang memperlihatkan mulus pahanya tapi itupun sebagian kecil pahanya.  Tanpa sadar Susanto mengelus selangkangannya tadi ketika Mia lewat di depannya.

 

Setelah makan malam bersama, memang mereka sekeluarga selalu berusaha sebisanya untuk makan malam bersama meskipun jarang terjadi.  Mia kembali ke kamarnya.  Mia merasa sedikit risih tadi.  Di meja makan, Susanto duduk di samping Mia. Dan Mia bisa merasakan Susanto melirik terus ke arah dadanya.  Atau mungkin memang biasanya begitu, hanya Mia baru memperhatikannya kali ini.  Karena sejak disenggol Anto tadi siang, entah kenapa payudara Mia terasa sangat sensitif. 

 

Mia membuka laptopnya sambil berbaring tengkurap di ranjangnya.  Mia membuka google dan search penis.  Lalu Mia klik image.  Banyak gambar bukan foto penis muncul.  Iseng-iseng Mia ngetik kontol di search.  Kini muncul foto-foto penis berbagai ukuran dengan pria bertelanjang ria.  Mia merasakan desiran cepat dalam tubuhnya. 

 

Karena sambil tengkurap, tanpa sadar Mia menggesekan dadanya pada ranjang.  Terasa enak.  Mia membuka branya dan melemparkannya ke dekat bantal.  Kini gesekan dadanya pada ranjang lebih menimbulkan sensasi enak.  Kenapa aku jadi begini yah?  Kini Mia search sex.  Muncullah foto-foto sepasang wanita dan pria sedang berciuman lalu ada seorang pria yang sedang berada di selangkangan wanita.  Mia merasakan gatal di selangkangannya melihat foto-foto itu.  Tangannya meraih selangkangannya dan mengelusnya dari luar celana pendeknya.  Mia merasakan vaginanya berdenyut nikmat.  Mia mencoba memutar video hasil searchnya itu.  Mia kaget ketika terdengar suara mendesah di laptopnya dengan suara yang cukup keras.  Mia lupa mengecilkan volume suara laptop.  Karena terkejut takut ketahuan, Mia cepat-cepat mengklik tombol close.  Mia sesaat merasakan jantungnya berhenti berdetak saking kagetnya.  Jantungnya masih dag dig dug ketika Mia berusaha tidur karena takut suara desahan dari laptopnya tadi terdengar keluar.  Sampai akhirnya Mia ketiduran.  Dalam mimpinya, tiba-tiba Mia berdiri telanjang bulat dikerumuni oleh teman-teman prianya yang juga bertelanjang bulat, mempertontonkan kemaluan mereka.  Wajah mereka beringas melihat tubuh bugil Mia.  Mia berusaha menutupi kedua payudaranya dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya menutupi vaginanya.  Lalu dari dalam kerumunan itu muncul Anto memakai seragam SMA, buru-buru membuka seragam putihnya dan memakaikannya pada Mia untuk menutupi bagian atasnya.  Sementara Anto berdiri di depan Mia, berusaha menutupi bagian bawah tubuh Mia yang terbuka.  Akhirnya tiba-tiba kerumunan orang itu menghilang.  Tinggal Mia dan Anto berdua.  Mia mengucapkan banyak terima kasih pada Anto dan langsung memeluknya.  Anto mencium bibir Mia seperti foto yang tadi Mia lihat di internet. Mia merasakan lembutnya bibir Anto pada bibirnya.  Lalu tangan kanan Anto tiba-tiba meremas payudara kanan Mia, sakit sekali.  Mata Anto berubah menjadi sangat merah.  Lalu remasan pada payudara kanan Mia semakin kuat sehingga Mia merasakan payudaranya sakit sekali.  Mia berteriak, Anto jangan!!!

Lalu Mia terbangun dan mendapati tangan kanannya sedang meremas payudara kanannya dari luar baju tidurnya.  Mia bernapas lega.  Ternyata hanya mimpi.  Mimpi yang aneh.

 

Hampir kesiangan ke sekolah.  Kalo pergi sekolah, Mia diantar sama sopir keluarga, namanya Pak Badu.  Baru setahun kerja di sini, tadinya uda beberapa kali sopir keluarga silih berganti.  Kata papa, suka dirolling ke pabrik.  Pak Badu orangnya ramah, agak sedikit gemuk, umurnya kira-kira 40 tahun.  Sepanjang jalan Mia memikirkan mimpinya yang aneh.  Kenapa aku jadi memikirkan hal-hal yang berbau porno yah?  Membayangkan dirinya telanjang di hadapan para cowok menimbulkan sensasi yang membuatnya berdesir cepat.  Tanpa sadar, Mia menyentuh selangkangannya dari balik rok dan menggigit bibir bawahnya.  Lamunan Mia dikejutkan oleh suara Pak Badu yang mengatakan

“Uda sampe neng,” ujarnya sambil menatap sedikit heran karena melihat Mia begitu terlarut dalam lamunannya.

“Oh ..oh iya pak. Terima kasih,” jawab Mia kaget.

Hari itu Mia tidak terlalu konsen di kelas.  Perhatiannya entah kenapa memperhatikan payudara dari teman-teman ceweknya.  Ada yang terlihat membusung sekali di balik kemeja putih mereka. Ada juga yang terlihat biasa saja tonjolannya. Mia memperhatikan dadanya sendiri.  Lumayan cukup besar walaupun masih kalah dibandingkan milik Regina tapi sedikit lebih membusung daripada punya Maya.  Teringat kemaren payudaranya tersenggol Anto dan mimpinya semalam.  Ketika Anto lewat didepannya. Perhatian Mia tertuju pada selangkangan Anto, membayangkan bentuk penis dan berapa panjang ukurannya.  Selangkangan Mia terasa sedikit lembab.  Sampai akhirnya Mia malah memperhatikan hampir sebagian selangkangan teman-teman cowoknya.  Ada yang sedikit menonjol di balik celana panjang abu-abu mereka, mungkin yang menonjol itu karena ukuran penisnya besar kali ya, begitu pikir Mia.  Teringat kembali tubuhnya yang lagi telanjang dikelilingi oleh teman-teman cowoknya yang telanjang juga dengan penis mereka yang menggantung.  Tanpa terasa wajah Mia menjadi merah dadu dan terasa panas.

 

Seperti kemaren, Mia sengaja ke perpustakaan biar Maya dan Regina pulang duluan.  Mia berharap Anto akan menunggu dia di gerbang sekolah lagi seperti kemaren.  Mia ingin pulang bersama Anto lagi.  Makanya Mia senang sekali ketika seperti kemaren, Anto sudah menunggunya di gerbang sekolah ketika Mia hendak pulang.  Masih terasa suasana kikuk ketika Anto mengajak Mia jalan pulang.  Kini mereka berjalan agak berdekatan.  Bahkan Mia kadang-kadang sengaja memperpendek jarak antara mereka berdua sehingga lengan mereka sering bersentuhan.  Aku kok jadi nakal begini yah, batin Mia.  Bahkan Mia berharap siku Anto menyenggol payudaranya.  Dan hal itu terjadi ketika setelah lengan mereka bersentuhan untuk yang keberapa kali.  Mia sengaja memundurkan lengan kirinya dan siku Anto kena menyenggol payudara kirinya.  Mia seperti tersetrum ketika siku Anto bersinggungan dengan payudara kirinya.   Teringat kembali mimpi dia telanjang bulat semalam.  Buku-buku jari Mia menekan selangkangannya. 

 

“Mia, besok pulang bareng lagi yuk?” tiba-tiba Anto membuka suara.

Mia menatap Anto.  Benarkah apa yang didengarnya?  Anto mengajak aku jalan pulang bareng lagi besok.

Melihat Mia tidak langsung menjawab, Anto buru-buru berkata

“Kalo kamu ga mau, ya ga apa-apa,” wajahnya terlihat malu.

Mia tersenyum.

“Aku senang kok pulang bareng ama kamu,” jawab Mia sambil menundukkan wajah.

“Yang benar?” tanya Anto berusaha meyakinkan apakah itu bener-bener jawaban Mia.

“Iya,” Mia sambil mengangguk dan tersenyum.

Senyumnya cantik sekali, batin Anto.  Anto merasa hari ini hari yang indah.  Meskipun bukan kencan atau pacaran tapi Mia mau pulang bareng aku lagi besok. 

“Tasnya berat ga, sini aku bawain,” ujar Anto kemudian. Tangannya meraih tas pink Mia di sebelah kanan.  Tanpa sengaja lengannya menyentuh dada Mia.

“Eh maaf, maaf. Aku ga sengaja,” Anto tidak berani lagi menatap wajah Mia.

Mia sendiri pun kembali terasa seperti tersengat listrik. Tersengat yang enak ketika tadi lengan Anto menyentuh dadanya.  Desiran darahnya bertambah cepat.  Wajahnya terasa panas.  Sentuh aku lagi, Anto, pintanya dalam hati.  Aku suka payudaraku tersentuh kamu.  Mia menyadari kata hatinya dan hal itu membuat wajahnya semakin terasa panas.  Kembali Mia menyentuh selangkangannya dengan buku-buku jarinya.

 

Mia tidak sabar menunggu besok.  Dan benar keesokan harinya, Anto sudah menunggunya di depan gerbang.  Kekikukan Anto sudah mulai berkurang, meskipun masih tampak kekurang percayaan diri Anto.  Semalam Mia pun kembali browsing tentang kemaluan pria.  Dan foto-foto adegan bercinta.  Mia merasakan vaginanya sedikit basah.  Jari-jarinya menyentuh vaginanya yang basah, tapi hal ini malah membuat Mia merasa nikmat ketika jari-jarinya menyentuh bulu halus kemaluannya dan menggesek-gesek vaginanya, namun akhirnya Mia menghentikan kegiatannya ketika dia merasa seperti mau pipis tapi ketika dia ke kamar mandi, ternyata air seninya tidak keluar.  Tapi ternyata rasanya geli-geli enak ketika Mia menggesek vagina dengan jarinya.

Kira-kira lima menit berjalan, tiba-tiba ada sebuah motor mendekati.

“To, ayo buruan pulang. Mama masuk rumah sakit,” ujar pria yang berada di kemudi motor.

“Kenapa tiba-tiba mama masuk rumah sakit, ko?” ternyata itu kakaknya Anto.

“Ga tau, tadi tiba-tiba mama pingsan,” ujar kakaknya Anto. “Ayo buruan!”

“Mia, sori banget yah, aku tinggal. Ga apa-apa yah,” mimik wajah Anto terlihat cemas bercampur tidak enak dengan Mia.

“Iya ga apa-apa.  Aku bisa pulang sendiri kok.  Semoga mama kamu tidak apa-apa yah,” wajah Mia ikut prihatin.  Kemudian Anto naik ke jok belakang. Memakai helmnya dan sebelum agak jauh, melirih Mia sambil melambaikan tangan.  Mia pun membalasnya sambil tersenyum.

 

Mudah-mudahan mamanya Anto tidak apa-apa, doa Mia dalam hati.  Ketika Mia sedang memperhatikan langit yang agak mendung.  Tiba-tiba ada sebuah mobil Avanza hitam menghampirinya.  Kaca mobilnya agak gelap.  Mia tidak bisa melihat siapa yang di dalam mobil.

“Non, mama minta kamu dijemput. Mau ujan katanya,” tiba-tiba kaca depan kiri terbuka.  Mia melihat wajah seorang pria yang sepertinya pernah dia lihat.

“Masih ingat saya kan, Non.  Saya Pak Rahmat,” ujarnya kemudian.

Oh iya, dulu Pak Rahmat pernah jadi supir keluarganya sebelum akhirnya dia dirolling di pabrik. Begitu kata papa dulu.  Dulu Mia ingat, wajahnya bersih klimis tapi sekarang kini agak berewokan.

“Mungkin non uda lupa yah.  Karena ga lama waktu Non uda di Bandung, Saya ga nyupirin Non lagi.  Saya dipindahin ke pabrik,” ujarnya kemudian.

“Aku ingat pak, cuma tadi pangling aja liat bapak berewokan,” jawab Mia sambil tersenyum.

“Ayo Non, naek aja ke belakang. Uda mau ujan nih,” ucap Pak Rahmat kemudian.

Terdengar bunyi petir tiba-tiba.  Mia langsung membuka pintu tengah mobil itu, dan langsung duduk.  Tercium aroma wangi-wangian yang aneh ketika Mia berada dalam mobil.  Hujan tiba-tiba turun.  Mudah-mudahan Anto bawa jas hujan biar tidak basah kuyup, batin Mia. 

Mia merasa sedikit pusing dengan wangi-wangian dalam mobil.  Hujan diluar begitu deras.  Mia merasa kepalanya tiba-tiba agak pusing karena wangi-wangian ini.  Lalu Mia merasakan kepalanya berat dan matanya ngantuk sekali.  Kemudian Mia pun tertidur.


  • damn.dig, ivdaeorvm and Julkonak like this

#2 putramatahari

putramatahari

    Pista

  • Members
  • PipPipPipPipPip
  • 603 posts

Posted 24 June 2017 - 06:39 PM

the best seller and story nih .. up up .. hayuuu .. jgn lupa buat romantisme dan cinta nya .. jgn hanya seks nanti nya .. thanx
  • teddythejoy and Ulekancabe like this

#3 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 24 June 2017 - 08:28 PM

the best seller and story nih .. up up .. hayuuu .. jgn lupa buat romantisme dan cinta nya .. jgn hanya seks nanti nya .. thanx

makasih om, mungkin cerita yang kali ini agak beda, mudah2an suka :)



#4 Miesamyang

Miesamyang

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 27 posts

Posted 26 June 2017 - 12:12 AM

Ditunggu cptannnnm
  • teddythejoy likes this

#5 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 26 June 2017 - 01:24 PM

Ditunggu cptannnnm

hehehe siap gan :)



#6 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 26 June 2017 - 09:53 PM

Kapan lanjutannya...cerita bang teddy selalu the best deh...
Bikin aq slalu raba" yg di bawah pusar

aduh, makasih pujiannya.  lagi digodok nih ceritanya. :D



#7 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 28 June 2017 - 11:43 AM

ESCAPE CHAPTER TWO

 

DAY 1

 

Mia tersadar dari tidurnya.  Ada cahaya samar-samar yang terlihat.  Mia mengerjapkan matanya berkali-kali.  Cahaya samar-sama itu masih terlihat.  Mia menyadari dia melihat cahaya samar-samar itu karena matanya tertutup oleh secarik kain hitam yang tidak terlalu padat alur benangnya.  Ketika Mia hendak memegang kain yang menutupi matanya dengan tangan kanannya.  Tangannya tidak bisa digerakkan.  Bunyi besi beradu.  Seperti rantai.  Begitupun ketika Mia hendak menggerakkan tangan kirinya.  Tidak bisa digerakkan.  Kedua tangannya dirantai terentang ke kiri dan ke kanan.  Mia mencoba berusaha menggerakkan kedua tangannya lagi.  Tetap tidak bisa.  Hanya bunyi gemericik rantai yang terdengar.  Punggung Mia merasakan dinginnya tembok tempat dia bersandar.  Dia dalam posisi duduk.  Ketika dia ingin menggerakkan kakinya.  Sama saja, kedua kakinya dirantai pada masing-masing pergelangan kakinya.  Mia mulai panik. 

 

“Tolong!!”  suaranya terdengar parau.  Tenggorokannya terasa kering.  Sekali lagi Mia berteriak minta tolong, tapi suaranya tetap terdengar parau.  Jangan panik, pikirnya.  Mia berusaha berdiri.  Tapi  tidak bisa karena rantainya seperti diatur sedemikian rupa sehingga dia hanya bisa bergerak dalam posisi duduk.  Beberapa kali Mia terjatuh ketika ingin mencoba berdiri karena keterbatasan gerak rantainya.  Mia berusaha minta tolong lagi, tapi tenggorokannya terasa panas sehingga kata tolongnya tetap terdengar lemah.  Mungkin dia kurang minum. 

 

Mia mencoba mengingat-ingat kejadian sebelum ini.  Pak Rahmat, dia orang terakhir yang bersamaku.  Mia mencoba memanggil-manggil Pak Rahmat namun percuma karena sepertinya tidak ada orang disitu dan suaranya pun hanya terdengar sangat lirih, bahkan oleh dirinya pun sendiri.  Tidak mungkin orang lain bisa mendengarnya.  Mia berusaha tegar menghadapi kejadian ini.  Aku harus berpikir jernih.  Mia mulai berdoa agar semua ini hanya mimpi.  Oh iya mungkin ini hanya mimpi.  Bangunlah Mia!  Hei Bangun.  Mia mencoba menggigit bibirnya sedikit biar terbangun dari mimpi.  Mia malah mengaduh kesakitan ketika menggigit bibirnya.  Bibirnya terasa nyeri.  Dan dia masih dalam keadaan mata tertutup dan tangan dan kakinya masih dirantai.  Jantungnya mulai berdetak cepat.  Panik mulai melandanya lagi.  Aku harus bagaimana ini? 

 

Lalu tiba-tiba Mia mencoba melihat dari balik kain penutup matanya.  Dia masih bisa melihat dan merasakan bahwa dia masih memakai kemeja putih dan rok abu-abunya.  Mia merasa sedikit lega.  Paling tidak aku masih belum ternoda begitu pikirnya.

Selang beberapa waktu, begitu banyak pikiran yang berkecamuk dalam otak Mia.  Apakah dia diculik? Pasti mama lagi khawatir sekarang, entahlah dengan papa atau Ko Susanto.  Siapa yang menculikku?  Perasaan aku tidak pernah menyakiti seseorang.  Apakah ini ada hubungannya dengan papa?  Mia sudah beberapa kali ganti posisi duduk, kakinya sering kesemutan karena Mia tidak leluasa bergerak.  Beberapa kali Mia berusaha menarik rantai yang mengikatnya, sia-sia.  Rantai-rantai itu terpasang dengan kuat.  Setiap saat Mia berdoa agar dia berhasil selamat dan kembali ke rumah.  Tiba-tiba Mia mendengar suara langkah kaki.  Mia bisa melihat dari sela-sela kain hitam yang menutup matanya.  Sepasang sepatu hitam dari kulit yang terlihat sudah agak lama.  Terlihat beberapa kerutan.

“Kamu siapa?” suara Mia masih terdengar lirih.  Entah terdengar tidak oleh orang yang baru datang.

“Tolong lepasin aku,” mohon Mia lirih.  Sambil matanya mengikuti langkah kaki orang itu yang bolak balik di depannya.  Mia berusaha melihat bagaimana rupa orang itu.  Tidak terlihat karena orang itu lagi membelakanginya.

“Tolong lepasin aku,” pinta Mia lagi.  Mia berusaha mengeluarkan suara yang lebih keras, tapi tidak bisa tenggorokannya terasa perih ketika Mia melakukan itu.  Orang itu mendekati Mia, Mia hampir bisa melihat bagaimana raut wajahnya.  Sepertinya Pak Rahmat.

“Pak Rahmat, tolong lepasin aku,” pintanya lirih.  Orang itu tidak mengeluarkan suara.  Dia mendekatkan sebotol air mineral dengan sedotan ke arah mulut Mia.  Mia dengan cepat meminum hampir separuhnya.  Begitu Mia hendak bersuara lagi.  Orang itu pergi meninggalkan Mia dengan botol air mineralnya.

“Jangan pergi Pak Rahmat. Lepasin aku Pak Rahmat,” suara Mia belum terlalu pulih.  Mia kembali meronta-ronta berusaha melepaskan rantai yang mengikatnya.  Tetap sia-sia saja.  Akhirnya untuk sementara waktu Mia berhenti dan duduk terdiam dengan kedua tangan masih terangkat dan kakinya terborgol.  Malah kini Mia merasakan sedikit perih di pergelangan tangan dan kakinya akibat tadi berusaha menarik-narik rantai biar lepas.

 

Mia merasakan seluruh bulu kuduknya merinding membayangkan apa yang terjadi pada dirinya.  Kenapa Pak Rahmat melakukan ini?  Apa yang dia inginkan?  Uang? Atau jangan-jangan dia ingin sesuatu dari dirinya?  Memikirkan hal ini, membuat Mia semakin merinding membayangkannya.  Membayangkan hal yang terburuk yang akan terjadi padanya, membuat Mia mencoba lagi berusaha melepaskan diri dari ikatan rantainya.  Bunyi gemericik rantai semakin terdengar karena kini Mia berusaha mengeluarkan sekuat tenaganya untuk mencoba melepaskan diri.

 

Mendengar bunyi rantai yang begitu keras, membuat Pak Rahmat kembali ke ruangan dimana Mia disekap.  

“Percuma non mencoba melarikan diri, rantainya sudah saya bikin sedemikian rupa sehingga nona tidak bisa melarikan diri,” akhirnya Pak Rahmat mengeluarkan suaranya.

“Apa maksud semua ini, Pak? Bapak ga takut dipecat oleh papa?” suara Mia mulai terdengar tidak serak lagi.

“Dipecat?  Saya sudah dipecat kok oleh papa Non, setelah kira-kira tiga bulan Non menetap di Bandung,” jelas Pak Rahmat.

“Dipecat? Kata papa, bapak dioper ke pabrik. Papa ga pernah bilang Pak Rahmat dipecat,” Mia mencoba menjelaskan.

“Non diboongi papamu.  Saya sudah dipecat dengan seenaknya oleh papa Non,” suara Pak Rahmat terdengar dingin.

“Jadi bapak melakukan ini untuk memeras papa aku?” tanya Mia sedikit merinding.

“Memeras?  Hmmm saya tidak ingin uang.  Saya ingin balas dendam sama papamu. Papa Non memecat saya karena takut saya bicara tentang rahasia papa Non,” Pak Rahmat mendekatkan langkahnya mendekat ke Mia.

Bau nafasnya yang mengandung alkohol begitu menyengat di hidung Mia.  Tangan Pak Rahmat menyentuh poni Mia. 

“Nona begitu cantik seperti mama Non,” aroma alkoholnya semakin menyengat.

“Apa mau bapak?” Mia sedikit berteriak.  “Bapak bisa minta uang dari papa!”

“Kan saya sudah bilang, saya tidak mau uang.  Saya mau balas dendam sama Pak Budianto.  Karen saya dipecat seenaknya.  Menyebabkan istri saya minta cerai karena saya tidak bisa menghidupi keluarga.  Saya tidak bisa menemui lagi anak saya,” Pak Rahmat tertawa getir.

Mia menggoyang-goyangkan kepalanya ketika Pak Rahmat menyentuh pipinya.

Pak Rahmat tertawa keras.

“Nyantai aja Non, waktu kita masih panjang,” tertawa Pak Rahmat membuat sekujur tubuh Mia merinding membayangkan arti kalimatnya.



#8 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 29 June 2017 - 11:46 AM

Gni aj udh ngaceng...aduh penasaran dgn lnjutannya...di lnjut kpan lgi gan?
Klo bisa di tambah pic yg nyambung ama crita gan...biar fantasy para pembaca semakin liar... Hehe
Sdikit msukan g..kali aj msuk heheh
Di tunggu lanjutanny secepatny gan

maaf gan, pic nya mah ga ada. khayalan agan pasti lebih maknyos kok :D



#9 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 29 June 2017 - 10:42 PM

Mksdnya ksih pic sembarang gan...yg pnting msuk dgn yg d ceritain...biar lbih maknyus..aplg pic modelny istimewa..

hehehe ga kepikir gan ama ane.  ga jago milih2 pic anenya hehehe



#10 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 30 June 2017 - 02:50 AM

Hihihi . boleh di coba gan : SMILE :

hehehe coba liat nanti gan, ane lebih fokus ke cerita aja sih drpada gambar (foto) :D



#11 Bielski

Bielski

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 28 posts

Posted 30 June 2017 - 09:34 AM

Mana ne gan lanjutan nya..
  • teddythejoy likes this

#12 Kakaksenang

Kakaksenang

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 100 posts

Posted 30 June 2017 - 10:05 AM

gelar tikerrr


  • teddythejoy likes this

#13 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 01 July 2017 - 08:45 PM

Mana ne gan lanjutan nya..

agak telat gan, lagi liburan dulu hehehe



#14 Julkonak

Julkonak

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 11 posts

Posted 02 July 2017 - 12:57 AM

Mantabs gan... Izin gelar seperingbet
  • teddythejoy likes this

#15 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 02 July 2017 - 10:13 PM

ESCAPE CHAPTER THREE

 

DAY 2

 

Mia terbangun dengan badannya terasa pegal-pegal karena posisi tidurnya sambil duduk dengan tangan terangkat terentang ke kiri dan ke kanan.  Mia merasa kesemutan di kaki dan tangannya.  Setelah percakapannya dengan Pak Rahmat kemaren, Mia kembali lagi berusaha melepaskan diri namun seperti perkataan Pak Rahmat, dia tidak berhasil melakukannya.

Mama, tolong cari aku, doa Mia. 

 

Terkantuk-kantuk karena tidurnya tidak nyaman.  Mia dibangunkan oleh gerakan Pak Rahmat yang membuka tutup kain dimatanya.  Mia mengerjapkan matanya beberapa kali menyesuaikan cahaya yang sekarang tidak terhalang oleh kain.  Terasa silau awalnya.

Sementara itu Pak Rahmat melakukan sesuatu pada gelang rantai yang tertempel di tembok.  Mia merasakan tangannya bisa bergerak lebih bebas, tidak terpaksa harus direntangkan.  Dengan jarak yang aman, Pak Rahmat memberikan Mia sebungkus nasi kuning.

“Makan dulu, Non,” tawarnya sambil tersenyum.

“Ga mau.  Lepaskan aku, pak.  Aku mau pulang!” Mia sedikit berteriak menumpahkan kebenciannya.

“Non makan dulu, nanti saya antar pulang,” begitu kata Pak Rahmat.

“Beneran?” Mia tidak percaya.

 

“Iya, kalo Non makan semua yang saya kasih ke Non. Nanti saya akan antar Non pulang,” jawab Pak Rahmat tersenyum misterius.

Mendengar perkataan Pak Rahmat, dengan tangan yang sedikit lebih bebas bergerak. Mia cepat-cepat membuka bungkusan nasi kusing dan makan dengan sendok plastik yang dijepit di karet pembungkus nasi kuning.  Perutnya baru terasa lapar karena Mia senang sebentar lagi dia akan pulang.  Sambil melihat Mia makan, Pak Rahmat menyodorkan satu botol mineral untuk Mia.  Pak Rahmat kemudian melihat keluar dari jendela.  Rumah ini jauh dari mana-mana, terletak di dekat bukit. Di sekeliling rumah terdapat pohon-pohon bambu yang tinggi.  Di belakang ada kumpulan pohon sehingga menyerupai seperti hutan kecil.  Rumah terdekat kira-kira 15 menit dengan berjalan kaki.

Mia makan dengan cepat dan lahap.  Setelah selesai dia menyimpan bungkus nasi dan sendok plastiknya ke dalam kantong kresek hitam dan Mia minum beberapa teguk dari botol mineral yang disodorkan Pak Rahmat.

“Uda selesai pak. Ayo antar aku pulang,” ujar Mia pada Pak Rahmat dengan wajah yang ceria.

 

Pak Rahmat menatap Mia sambil tersenyum.

“Non biasanya kan makan makanan penutup kalo di rumah.  Non suka pisang ga?” tanya Pak Rahmat dengan senyum terkulum.

“Ga usah pak.  Aku ga sabar uda mau pulang,” jawab Mia cepat.

 

Tiba-tiba Pak Rahmat menurunkan celana panjangnya dan mengeluarkan penisnya dari balik celana dalamnya.  Mia berteriak dan langsung menutup mata dengan kedua tangannya.

“Apa-apaan sih, Pak!” ucapnya histeris.

Pak Rahmat mendekati Mia dengan penis yang tergantung lemas dan agak tertekan ke atas oleh karet celana dalamnya.

“Ini pisang Non, sebagai makanan penutup Non,” Pak Rahmat terkekeh kecil.

 

Mendengar langkah Pak Rahmat yang mendekat, Mia menggeser tubuhnya menempel ke tembok.  Dengan kedua tangannya masih menutup matanya.

“Uda pak, jangan becanda! Antar aku pulang sekarang. Kan bapak uda janji sama aku!” teriak Mia lagi.

“Iya bapak ga boong.  Bapak janji akan mengantar Non pulang kalo Non makan semua yang saya sajikan ke Non,” Pak Rahmat kini tertawa kecil sambil menggoyang-goyangkan penis hitamnya yang kini sedikit mengeras karena kerangsang melihat reaksi Mia yang ketakutan.

“Ayo Non, ini pisangnya coba diliat dulu, siapa tau suka?” jelas Pak Rahmat mencoba menggoda Mia.

“Ga mau. Aku mau pulang!” teriak Mia lagi.

“Ya kalo Non ga mau mencicipi pisang saya, berarti perjanjian kita batal.  Saya ga akan antar Non pulang,” Pak Rahmat menyimpan lagi pisang-nya ke dalam celana dalam dan memakai lagi celana panjangnya.

Pak Rahmat kemudian keluar ruangan dengan membawa kresek hitam yang berisi bungkus nasi dan sendok.

“Sampai ketemu lagi Non,” ujarnya sambil tertawa menang.

 

Mia menurunkan kedua tangan dari wajahnya.  Melihat Pak Rahmat menjauh, Mia melempar botol mineral ke arah Pak Rahmat tapi tidak mengenai Pak Rahmat.

“Pak Rahmat brengsek!!!” teriaknya sambil kemudian menangis tersedu-sedu.

Setelah selesai menangis, Mia yang merasa gerakan tangannya lebih bebas, mencoba lagi menarik-narik rantai agar bisa terlepas namun kembali hasilnya percuma saja.

Tuhan tolong aku, doanya dalam hati. 

 

Siang itu Pak Rahmat datang dengan membawa satu kantong makanan lagi dan selembar kasur yang terlihat cukup tua.  Setelah menyandarkan kasurnya di tembok.  Pak Rahmat menyodorkan kantong makanan di dekat Mia.

“Non waktunya makan siang,” ujar Pak Rahmat sambil tersenyum.

Mia menatap tajam pada Pak Rahmat.  Menendang sekuat-kuatnya kantong makanan yang disodorkan Pak Rahmat.

“Pak tolong anterin aku pulang.  Aku janji ga akan bilang macem-macem ama keluarga aku,” Mia memohon tanpa sadar Mia mulai menangis.  Telapak tangannya dikatupkan.

“Lho kan emang saya uda janji ama Non untuk nganterin Non pulang kalo Non makan semua yang saya kasi.  Tapi tadi Non ga mau pisang kan? Ya perjanjian kita batal dong,” Pak Rahmat menjawab dengan bibir yang penuh seringai.

Cuih, Mia meludah di dekat kaki Pak Rahmat.

 

“Bagaimana Non?  Mau pisang?” Pak Rahmat kembali lagi menurunkan celana panjangnya dan menurunkan celana dalamnya lebih bawah dari tadi pagi sehingga penisnya yang hitam terlihat menggantung lemas di selangkangannya.

Mia cepat-cepat menutup mata dengan kedua tangannya.

“Pak Rahmat, antar aku pulang. Jangan maen-maen lagi deh,” Mia kembali berteriak kini dengan air matanya mengalir ke pipi.

“Ya jangan nyalahin saya dong. Non ga mau menikmati pisang saya.  Berarti Non yang memang ga mau pulang,” Pak Rahmat menggoda Mia dengan cara yang menjijikkan.

“Bener nih Non ga mau nyobain pisangnya?” Pak Rahmat tertawa menjijikkan.

“Dasar bajingan!!!” teriak Mia.

“Ya sudah kalo ga mau.  Saya simpen lagi pisangnya dan dengan sangat amat menyesal, saya ga bisa antar Non pulang,” terdengar oleh Mia suara ritsleting celana yang ditutup.  Setelah itu baru Mia berani membuka mata lagi.  Tatapannya tajam dibalik matanya yang berkaca-kaca.  Mia mencoba berdiri namun rantai kakinya masih membuat Mia tidak bisa berdiri.  Mia terjatuh dengan kaki yang terbuka.  Pak Rahmat bisa melihat paha Mia yang tersingkap sedikit di balik rok abu-abunya. 

 

“Saya tinggal lagi ya Non, sampe Non mau mencoba pisang bapak,” seringainya benar-benar membuat Mia muak.

“Brengsek! Lepasin aku atau ga aku akan teriak terus!” ancam Mia.

“Silakan Non.  Lagian ga akan orang yang denger teriakan Non. Tempat ini jauh dari mana-mana,” Pak Rahmat meninggalkan Mia yang mulai berteriak minta tolong.  Mia berteriak sekuat-kuatnya.  Tapi seperti yang Pak Rahmat bilang tadi, setelah kira-kira 20 menit berteriak sampai suara Mia terdengar serak, tidak ada seorangpun yang datang.  Akhirnya Mia kelelahan dan merasa putus asa.  Tenggorakannya terasa kering dan panas.  Mia menyesal kenapa tadi melempari Pak Rahmat dengan botol mineralnya.

 

Karena rantai di kedua tangannya sudah dikendorkan, kedua tangan Mia bisa bebas bergerak sehingga tidak terlalu letih dibandingkan waktu kedua tangannya terentang ke atas.  Mia pun bisa duduk dan kadang bisa berbaring di lantai dengan kondisi rantai seperti sekarang, hanya untuk berdiri memang belum bisa karena rantai dikakinya masih terbatas keleluasaannya.  Setelah Pak Rahmat pergi, Mia berpikir keras.  Bagaimana caranya dia bisa kabur dari Pak Rahmat?  Jelas Pak Rahmat sedang mempermainkan dirinya.  Mia tidak sudi melihat penis Pak Rahmat.  Si Tua Bangka.  Pasti penisnya peot tidak seperti kemaluan laki-laki yang Mia lihat di internet.  Begitu perkasa dan panjang.  Pasti punya Pak Rahmat tidak indah dipandang.  Mia merasa malu sesaat ketika dia memikirkan tentang alat kemaluan pria termasuk membayangkan kepunyaan Pak Rahmat.  Mia menggesek selangkangannya sesaat.  Mia merasa ingin pipis.  Baru sadar, selama ini karena situasinya yang menegangkan, Mia tidak terpikir untuk pipis.  Mia menyusun rencana.  Dia akan minta rantainya sedikit dilonggarkan karena dia ingin ke kamar mandi, yang Mia tahu terletak disamping tempat dia dirantai.  Mia pernah mendengar suara Pak Rahmat kencing di situ.  Dengan rantai yang lebih panjang, Mia bisa saja melilit leher Pak Rahmat menggunakan rantai ini seperti yang Mia pernah lihat di film-film.  Mia akan melilit leher Pak Rahmat sampai Pak Rahmat tidak berkutik atau mungkin mati, itu malah lebih bagus.   Dan Mia akan cari kunci rantainya, siapa tahu Pak Rahmat menyimpan di kantong pakaiannya.  Dalam benak Mia, terbayanglah beberapa skenario cara menaklukan Pak Rahmat.  Jantung Mia berdetak cepat dan Mia merasa gugup, tapi keinginannya untuk melarikan diri lebih kuat, mengalahkan semua perasaan takut dan gugupnya.  Mia membulatkan tekadnya.

 

Langit hampir gelap ketika Pak Rahmat muncul lagi.  Mia melihat Pak Rahmat kini memakai kemeja tangan pendek dengan kantong saku di dada kanan, tapi bawahnya Pak Rahmat hanya memakai sarung.  Mia sedikit kecewa tapi mudah-mudahan kuncinya dia simpan di saku kemejanya.

Pak Rahmat tersenyum melihat Mia yang sedang memperhatikan dirinya. Meskipun dalam keadaan lelah, Mia tetap kelihatan cantik dalam seragam sekolahnya.

“Lapar Non?  Pasti haus ya?” Pak Rahmat jelas sedang menggodanya karena dia tahu tadi Mia melempar botol mineralnya ke arahnya.

Pak Rahmat meletakkan kresek makanan dan sebotol mineral di dekat Mia.

Mia mulai menjalankan rencananya.

“Makasih pak, maaf ya  tadi aku sudah ngelempar botol ke bapak,” ujar Mia lembut.

Pak Rahmat terlihat senang melihat sikap Mia yang berubah.

“Pak, sebelum makan, aku mau pipis dulu boleh ga? Uda ga tahan nih, dari kemaren belum pipis,” kembali Mia berkata dengan sangat manis ditambah senyum menghias wajahnya.

 

Pak Rahmat tambah senang melihat Mia tersenyum manis padanya. 

“Oh bentar Non,” Pak Rahmat mulai mengatur rantainya sehingga Mia bisa berdiri dan bergerak ke kamar mandi.

“Silakan Non, kamar mandinya di samping, Non,” ujarnya sambil tersenyum. 

“Makasih Pak Rahmat,” Mia berusaha berdiri, awalnya gagal karena dari kemaren, kakinya tidak digunakan untuk berdiri. 

“Mau dibantu berdiri, Non,” ucap Pak Rahmat buru-buru mendekat.

“Ga usah Pak,” jawab Mia cepat-cepat. Akhirnya Mia bisa berdiri dan berjalan pelan-pelan ke WC, bunyi rantai bergemericik.  Mia melihat kondisi kamar mandi, mencari-cari sesuatu. Apapun yang bisa dia pakai untuk menaklukan Pak Rahmat.  Sialan, tidak ada apapun yang bisa dipakai.

“Pak, kok pintunya ga ada?” Mia baru menyadari bahwa pintu kamar mandinya seperti sudah sengaja dicabut.

“Iya Non, memang sengaja ga ada pintunya,” Pak Rahmat terkekeh pelan.

Masa aku harus pipis di dengar oleh Pak Rahmat, Mia merasa malu tapi Mia membulatkan tekad. Tidak apa-apa aku mengalah sebentar, asal rencanaku bisa berjalan lancar.

 

“Bapak jangan ngintip yah,” teriak Mia, berharap Pak Rahmat tidak akan mengintipnya.  Sambil melihat keluar kamar mandi, berjaga-jaga kalo tiba-tiba Pak Rahmat nongol.  Sambil mengangkat rok abu-abunya dan menurunkan celana dalamnya, mata Mia tidak lepas pandangannya ke arah luar kamar mandi, takut Pak Rahmat tiba-tiba nongol.  Agak sulit Mia mengeluarkan air seninya karena belum pernah dia merasa terekspos begini saat dia ingin pipis ditambah Mia takut tiba-tiba Pak Rahmat datang mendekat.  Sambil berusaha menekan agar air seninya keluar, pandangan Mia tetap ke arah luar kamar mandi.  Dan Mia akhirnya lega, pipisnya keluar juga.  Banyak sekali.  Cepat-cepat Mia menaikkan lagi celana dalam dan menurunkan rok abu-abunya. Dan dengan perlahan, Mia menekan tombol flush di closet, Jantung Mia mulai berdetak kencang.  Tegang dan gugup bersamaan.  Rencana pertama berhasil, gerak Mia sekarang lebih leluasa.  Ketika Mia keluar dari kamar mandi, Mia melihat di tempat Mia duduk sebelumnya sudah tergelar kasur yang tadi siang Pak Rahmat bawa.

 

“Non, uda lega?” kembali Pak Rahmat menggodanya.  Mia tertunduk malu.

“Makan dulu, Non.  Pasti lapar kan,”  Pak Rahmat duduk di tembok yang berseberangan dengan Mia duduk, dimana Mia segera makan makanan pemberian Pak Rahmat.  Sambil mengatur jantungnya yang terasa berdegup semakin kencang, sambil makan Mia membayangkan lagi langkah-langkah yang akan dia lakukan nanti.

Setelah Mia makan dan minum hampir setengah botol, Pak Rahmat bertanya lagi pertanyaan yang sama

“Mau makanan penutupnya, Non?” seringainya terlihat lebar.

Sudah saatnya, pikir Mia. Sambil menahan malu dengan suara gemetar

“Makanan penutupnya, pisang Pak?” tanya Mia dengan suara gemetar. 

 

Pak Rahmat terlihat bersemangat mendengar pertanyaan Mia.

“Iya dong Non, Non mau menyicipi pisangnya?” Penis Pak Rahmat mulai menegang.

“Aku mau, Pak,” jawab Mia sambil menundukkan kepalanya. 

“Ah yang bener, Non,” Pak Rahmat tidak percaya dengan jawaban Mia.

“Iya pak, aku mau pisangnya,” Mia menguatkan hati, menegakkan kepalanya sambil menatap Pak Rahmat.

 

Melihat tatapan Mia yang berani, membuat penis Pak Rahmat semakin bereaksi, berdiri lebih kencang lagi.

Segera Pak Rahmat mengangkat sarungnya dan Mia bisa melihat penis Pak Rahmat yang setengah berdiri.  Tidak terlihat peot, berwarna coklat tua, bergerak-gerak naik turun karena Pak Rahmat merasa kerangsang sedikit.

Mia berusaha mempertahankan dirinya menatap terus penis Pak Rahmat.  Berusaha melawan rasa jijiknya.

“Ga keliatan pak , pisangnya.  Maju kesini dong, biar aku bisa lihat lebih jelas,” Mia berusaha membentuk senyuman di bibirnya.

Mendengar perkataan Mia, tak kepalang senangnya Pak Rahmat, penisnya semakin ngaceng.  Dengan pelan-pelan, Pak Rahmat mendekati Mia.

Dalam batin Mia, ingin sekali dia tidak melihat penis Pak Rahmat, tapi Mia berusaha sekuat-kuatnya menatap penis Pak Rahmat yang terlihat bergoyang naik turun dengan urat-uratnya yang terlihat menonjol.  Ukuran penis Pak Rahmat tidak kalah ternyata dengan yang Mia lihat di internet.

 

Pandangan Pak Rahmat terlihat sedikit liar.  Pak Rahmat memperhatikan tubuh Mia yang berdiri ketika dia semakin mendekati Mia.  Tubuh Mia yang terbalut seragam sekolahnya terlihat menggiurkan di mata Pak Rahmat, ditambah Pak Rahmat melihat pandangan Mia tidak lepas dari penisnya, membuat penisnya semakin ngaceng.

 

Begitu Pak Rahmat sudah mendekat,  Mia yang sudah dalam posisi berdiri, segera melayangkan tendangannya ke arah selangkangan Pak Rahmat, namun sayang tendangannya tidak tepat mengenai alat kemaluan Pak Rahmat tapi cukup membuat Pak Rahmat kaget dan merasa kesakitan.  Lalu dengan gerakan cepat, Mia mengalungkan rantai yang berada di tangan kanannya ke leher Pak Rahmat, dan menarik rantai sekuat-kuatnya dengan kedua tangannya.  Pak Rahmat gelagapan ketika lehernya dicekik oleh rantai Mia.  Karena terdorong tubuh Pak Rahmat yang bergerak, berusaha membebaskan diri, membuat Mia terjatuh ke kasur tertimpa tubuh Pak Rahmat.  Mia merasa badannya sangat berat tertindih tubuh Pak Rahmat.  Tapi Mia tetap menarik sekuat-kuatnya rantai yang melilit leher Pak Rahmat.  Tangan Pak Rahmat bergerak-gerak ke belakang ke arah kepala Mia.  Dan terpeganglah rambut Mia yang panjang oleh tangan kanan Pak Rahmat.  Dalam keadaan lehernya masih tercekik rantai, Pak Rahmat menjambak rambut Mia dan menarik dengan keras.  Mia menjerit kesakitan.  Pegangannya di rantai sedikit mengendor.  Ternyata Pak Rahmat lebih pintar, tetap menjambak keras rambut Mia, kepala Pak Rahmat yang berada di atas payudara Mia, mulai dihentak-hentakannya bagian belakang kepala Pak Rahmat ke arah payudara Mia.  Pak Rahmat menghentakkan kepalanya dengan sangat keras dan berkali-kali ke arah payudara Mia.  Membuat Mia merasakan kesakitan yang amat sangat.  Payudaranya terasa sakit sekali, apalagi kulit kepalanya terasa perih karena jambakan Pak Rahmat, membuat kepala Mia terasa pusing, dan akhirnya pegangan Mia di rantai melemah dan Pak Rahmat berhasil lolos dan segera berbalik dan menekan perut Mia dengan lutut kanannya.  Dengan wajah merah, Pak Rahmat langsung menjambak rambut Mia dan menampar pipi kiri Mia keras-keras. PLAAAKK!  Mia yang sedang telentang di kasur, merasakan pipinya panas sekali dan pandangannya nanar.  Lalu sekali lagi Mia merasakan pipi kirinya tertampar dengan keras sekali lagi, Mia menjerit kesakitan sebelum akhirnya Mia pingsan.



#16 Julkonak

Julkonak

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 11 posts

Posted 03 July 2017 - 12:12 AM

Makin mantabs suhu......
Ditunggu segera lanjutannya
  • Julkonak likes this

#17 YondaimeSenju

YondaimeSenju

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 34 posts

Posted 05 July 2017 - 04:17 PM

Mantep gan..di tunggu lanjuta nnya secepatnya

#18 botaks86

botaks86

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 409 posts

Posted 07 July 2017 - 05:08 PM

Mantap gan di tunggu kelanjutannya segera =D hehehe..



#19 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 08 July 2017 - 09:58 AM

ESCAPE CHAPTER FOUR

 

DAY 3

 

Kepala Mia tersentak kaget.  Kesadarannya masih di awang-awang.  Mia mendengar seperti suara tangisan dan orang yang sedang berbicara.  Dadanya terasa sakit.  Teringat kejadian sebelumnya ketika kesadaran Mia sedikit demi sedikit pulih.  Ketika Mia berusaha menggerakkan tangannya, ternyata kedua tangannya kembali direntangkan seperti sebelumnya.  Dan Mia dalam posisi duduk dengan kedua kakinya tetap dirantai.  Mia berusaha tidak membuat banyak gerakan, Mia memicingkan mata mencari-cari arah suara tangisan dan orang yang berbicara tadi.  Disudut ruangan di atas sebuah kasur, terlihat Pak Rahmat sedang menatap sebuah kertas, sepertinya itu sebuah foto.  Air mata menetes di pipinya, sementara mulutnya seperti orang meratap

 

“Ayah kangen sama Bentang.  Kangen banget.”  Terdengar seperti itu di telinga Mia.

Lalu terdengar lagi seperti suara marah

“Kenapa kau tega meninggalkan aku, Mirna? Kenapa?” begitu racau Pak Rahmat.  Mia teringat betapa kerasnya  tadi tamparan Pak Rahmat di pipi kirinya.  Begitu juga tumbukan kepalanya pada payudara Mia.  Rencanaku gagal, begitu pikir Mia.  Aku harus mencari cara lain.  Mia berpikir keras.  Mia melihat sekeliling.  Gerakan kepala Mia terlihat oleh Pak Rahmat.

Pak Rahmat langsung berdiri, terlihat oleh Mia di tangan kanannya ada sebilah pisau dapur.  Mati aku, pikir Mia.

Wajah Pak Rahmat terlihat marah meskipun pipinya basah oleh air mata.  Tatapannya sangat tajam.  Mia berpikir keras, namun gerakan Pak Rahmat begitu cepat.  Tangan kirinya yang sudah menyimpan foto di saku kemejanya, mencengkeram leher Mia.  Sedikit mencekiknya.  Mia panik.

 

“eeughh jaa..ngan..Pak!” dengan suara yang tertahan cekikan Pak Rahmat.  Ujung pisau dapurnya diarahkan ke dekat wajah cantik Mia yang sedang ketakutan.

“Sekali lagi Non melakukan hal tadi malam, Saya ga akan segan-segan menyayat wajah cantik Non, biar wajah Non jelek seumur hidup.  Mengerti ga?!!” suara Pak Rahmat begitu beringas.  Ujung pisau didekatkan lagi ke wajah Mia.  Mia menatap ujung pisau itu dengan ekspresi ngeri.

“Ngerti ga?!!!” Pak Rahmat mencekik leher Mia lebih kencang.

“I...i..ya, Pak,” Mia menjawab dengan suara yang kehabisan nafas.

Pak Rahmat kemudian melepaskan cekikannya.  Mia terbatuk-batuk setelah lehernya terlepas dari cengkeraman tangan Pak Rahmat yang begitu kuat tadi.

 

Pak Rahmat mengusap air mata di pipinya.  Menatap Mia yang perlahan-lahan sudah mulai pulih dari batuk-batuknya.

Pak Rahmat berdiri dengan pisau masih di tangan kanannya seakan-akan mengancam Mia untuk tidak bertindak macam-macam.  Pak Rahmat mengatur lagi rantai yang mengikat kedua tangan Mia sehingga tangan Mia bisa bergerak sedikit bebas.  Lalu Pak Rahmat berdiri di hadapan Mia lagi.  Melepas sarungnya sehingga melorot di kakinya.  Penisnya yang berwarna coklat tua terpampang menggantung di depan Mia.  Mia memejamkan matanya.

“Buka matanya Non!” perintah Pak Rahmat.

Mia masih memejamkan matanya tidak mau melihat penis Pak Rahmat.  Pak Rahmat menjambak rambut Mia dan menyapukan permukaan pisau yang tidak tajam ke pipi Mia. Menggesek-gesek pisau itu di pipi Mia dengan hati-hati.

“Non pengen pisau ini menyayat pipi Non?” ujar Pak Rahmat penuh ancaman.

Mia yang merasakan dinginnya pisau di pipi kirinya, mulai membuka mata.  Mia menatap penis Pak Rahmat yang begitu dekat.  Tercium bau selangkangan Pak Rahmat.

 

Melihat Mia sudah membuka mata, Pak Rahmat melepaskan jambakannya dan berdiri tegak lagi di hadapan Mia.  Penisnya begitu dekat dengan wajah Mia.  Melihat wajah Mia yang begitu cantik, penis itu bergerak naik turun.

“Pegang kontol saya, Non!” Pak Rahmat berkata sambil memainkan pisau di tangan kanannya.

Mia melirik bergantian pisau di tangan Pak Rahmat dan penis Pak Rahmat.

“Cepetan Non!” hardik Pak Rahmat.

Dengan sangat perlahan, Mia menggerakkan tangan kanannya.  Awalnya jari-jarinya menyentuh kulit batang kemaluan Pak Rahmat.  Pak Rahmat merasakan rangsangan yang luar biasa ketika jari-jari lentik Mia bersentuhan dengan batang kemaluannya.  Membuat urat-urat di penisnya berkontraksi sehingga penisnya menegang sedikit.  Gerakan jari-jari Mia yang kagok, malah seakan-akan seperti mengelus-elus kecil malah membuat Pak Rahmat merasa geli kenikmatan.  Apalagi melihat ekspresi wajah Mia yang setengah ketakutan menambah sensasi yang lain pada Pak Rahmat.

 

Mia yang baru kali ini melihat alat vital laki-laki begitu dekat bahkan jari-jarinya bersentuhan langsung.  Mia merasa jijik tapi sekaligus merasa darahnya sedikit berdesir.  Entah itu karena ancaman pisau Pak Rahmat atau ini pengalaman baru baginya.

“Jangan dielus-elus aja, pegang seperti ini!” Pak Rahmat menggunakan tangan kirinya menyentuh tangan Mia yang halus dan mengarahkan Mia untuk menggenggam batang kemaluannya.

 

Mia merasakan tangannya yang lagi digenggam Pak Rahmat, menyentuh batang kemaluan Pak Rahmat yang cukup besar karena penis Pak Rahmat memang semakin menegang ketika digenggam sedemikian rupa oleh tangan Mia yang halus.  Mia merasakan kedutan demi kedutan dari penis Pak Rahmat ketika dia menggenggam batang kemaluan itu.  Pak Rahmat memejamkan mata sesaat menikmati penisnya digenggam gadis muda cantik seperti Mia.  Benar-benar rejeki nomplok.

 

Mia menatap penis Pak Rahmat yang semakin kencang menegang.  Dari posisi menggantung lemas, kini penis Pak Rahmat terlihat semakin besar dan keras, menggantung setengah tegak di genggaman tangannya yang mungil.  Mia bisa melihat belahan lubang pipis Pak Rahmat. Apakah milik Anto seperti ini juga bentuknya?  Berpikir demikian membuat wajah Mia sedikit bersemu merah.  Hanya sesaat karena Mia kembali sadar dengan pisau di tangan Pak Rahmat.  Perasaan jijiknya muncul lagi sehingga dia hampir melepas pegangan tangannya ketika Pak Rahmat kembali mengarahkan tangannya untuk mulai bergerak maju mundur melakukan gerakan kocokan pada penisnya.

“Kocok kontol saya seperti itu, Non!” Pak Rahmat memberikan perintahnya lagi.  Pak Rahmat masih mengarahkan tangan Mia untuk mengocok penisnya.  Mia merasakan penis Pak Rahmat semakin amat keras.  Mia tidak menatap ke bawah, enggan melihat kemaluan Pak Rahmat.  Tanpa sadar, Mia tetap mengocok penis Pak Rahmat tanpa dibimbing oleh Pak Rahmat lagi.

 

“Liat saya Non!”  tangan kirinya memegang dagu Mia dan mengangkat dagu Mia sehingga mata Mia menatapnya.

“Liat saya terus sambil tetep ngocok kontol Saya!” Ketika sesaat kocokan Mia berhenti ketika Mia berusaha menatap Pak Rahmat.

Mia menatap marah pada Pak Rahmat tapi dengan enggan kembali mengocok penis Pak Rahmat.

 

Pak Rahmat merasakan nikmat yang luar biasa dikocok oleh seorang gadis cantik seperti Mia.  Beberapa kali pantatnya menegang dan selangkangannya maju ke depan , menikmati kocokan Mia.  Benar-benar gadis cantik, batinnya sambil menatap wajah Mia yang walaupun terlihat marah tapi tidak mengurangi kecantikannya.  Dengan dilihat oleh Mia, membuat Pak Rahmat semakin terangsang.  Meskipun genggaman Mia sedikit kencang pada penisnya dan ritme kocokannya tidak menentu, tapi hal ini tidak mengurangi kenikmatan yang dirasakan Pak Rahmat.

Mia merasakan pinggul Pak Rahmat yang bergerak maju mundur lebih cepat dari kocokannya.  Mia merasakan urat-urat di penis Pak Rahmat semakin tegang dan terasa berkedut-kedut dalam genggamannya.  Tiba-tiba cairan putih muncrat mengenai mukanya yang berjarak begitu dekat dengan penis Pak Rahmat, cairan itu mengenai pipinya.  Mia kaget, berteriak dan otomatis menutup matanya. Cairan hangat kembali mengenai matanya.  Kocokannya berhenti namun tangannya masih menggenggam penis Pak Rahmat yang kembali memuncratkan spermanya yang mengenai bibir Mia.  Ketika tangan kiri Mia yang bebas hendak membersihkan wajahnya, tangan kiri Pak Rahmat menahannya.  Kembali lagi sperma Pak Rahmat mengenai bibirnya.  Pak Rahmat melenguh nikmat ketika semprotan spermanya yang terakhir keluar mengenai dagu Mia.

 

Mia pasrah ketika wajahnya tersemprot peju hangat dan kental milik Pak Rahmat.  Mia masih menutup mata, ekspresi jijiknya terlihat sekali.  Pak Rahmat merasakan nikmat yang tiada tara, berhasil menyalurkan birahinya.  Wajah Mia yang belepotan sperma menambah kenikmatan ejakulasinya.

“Non jangan bergerak! Awas kalo berani bergerak!” perintah Pak Rahmat.  Lalu tangan kiri Pak Rahmat menyapu pejuhnya yang belepotan di wajah Mia.  Menyapu pejunya di seluruh wajah Mia, sehingga pejunya kini tersebar di seluruh permukaan wajah Mia yang cantik.

Mia yang takut ancaman Pak Rahmat tidak berani menggerakkan wajahnya, hanya bisa menggumam tidak jelas, karena Mia berusaha menutup mulutnya ketika sperma Pak Rahmat mengelap tangannya pada wajahnya. Mia takut sperma Pak Rahmat masuk ke dalam mulutnya.  Bau sperma Pak Rahmat sangat menyengat, membuat Mia sangat jijik.  Tapi Mia berusaha keras agar tidak muntah oleh baunya, takut nantinya malah membuat Pak Rahmat menjadi nekat.  Lengketnya sperma Pak Rahmat terasa di seluruh wajahnya. 

 

“Buka mata Non!” perintahnya lagi.  Mia membuka matanya dengan pandangan sangat marah tapi tidak berdaya.  Pak Rahmat sangat puas menikmati pemandangan seluruh pejuhnya bertebaran di wajah Mia.  Di mata Pak Rahmat membuat wajah Mia terlihat lebih cantik dan sangat menggoda.

“Itu hukuman buat Non karena berani berbuat yang macam-macam kemaren.  Kalo Non berani lagi melakukan itu, liat aja hukuman Non akan semakin berat,” Pak Rahmat mengeluarkan kata-kata ancaman dengan senyum puas.

Begitu Pak Rahmat meninggalkannya, Mia buru-buru dengan tangannya membersihkan sperma di wajahnya tapi tetap saja lengket dan bau pejuh Pak Rahmat masih terasa di wajahnya.  Bahkan dilap dengan lengan kemejanya pun, lengket dan baunya masih tidak mau hilang. Untung Mia masih bisa menahan rasa mualnya.  Tangannya yang dipakai mengelap sperma digesek di roknya biar spermanya tidak menempel lagi di tangan.  Beberapa kali Mia membuang ludah karena merasa sedikit pejuh Pak Rahmat menempel di mulutnya. Mia mulai menangis, meratapi nasibnya.



#20 jolibee

jolibee

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 287 posts

Posted 08 July 2017 - 12:06 PM

Lanjut lg koko