web counters counter stats



Jump to content


First deposit bonus

Texas Poker Situs Judi Bola Situs Judi Bola Wigo Bet Situs Judi Bola Situs Judi Bola

ingin beriklan? hubungi kami: email : megalendir@gmail.com , big.lendir@yahoo.com atau Skype : big.lendir@yahoo.com

Live Dealers Double up bonus ss ss
ss ss ss
vert
vert
Photo
- - - - -

Escape


  • Please log in to reply
53 replies to this topic

#21 YondaimeSenju

YondaimeSenju

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 34 posts

Posted 08 July 2017 - 12:36 PM

Mantep bang. Di tunggu lanjutannya...keknya lnjutannya lebih memanas nih bang :)

bokep jav bokep jav

#22 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 08 July 2017 - 10:26 PM

gelar tikerrr

makasih kak uda mampir :)



#23 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 09 July 2017 - 11:19 AM

Mantabs gan... Izin gelar seperingbet

monggo gan, makasih uda mampir :D



#24 jolibee

jolibee

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 307 posts

Posted 09 July 2017 - 03:57 PM

Ayo lanjut koko aka..
  • teddythejoy likes this

#25 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 15 July 2017 - 03:18 PM

Ayo lanjut koko aka..

lagi digodok gan hehehe



#26 mandekuhot

mandekuhot

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 6 posts

Posted 26 July 2017 - 10:00 PM

Lanjut gan....

#27 handguns25

handguns25

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 8 posts

Posted 28 July 2017 - 11:10 AM

Lanjut suhuu... gantung nih hehe

#28 rangoros

rangoros

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 47 posts

Posted 31 July 2017 - 08:42 AM

Semakin enak dibaca. Ngk bosen bacanya Gan.

#29 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 09 August 2017 - 11:25 PM

ESCAPE CHAPTER FIVE

 

DAY 3

 

Dalam isak tangisnya, Mia teringat pada Anto.  Senyum kikuk Anto yang terbayang Mia, membuat hati Mia sedikit hangat.  Mia mengusap air mata di pipinya.  Mia merasakan wajahnya sedikit kaku karena sisa-sisa sperma pak Rahmat mulai mengering di wajah cantik Mia.  Mia meraba pipinya yang kulitnya terasa kaku.  Tersentuh oleh jari lentiknya, sisa sperma Pak Rahmat yang mengering.  Entah apa lagi yang akan dilakukan Pak Rahmat padanya. Aku harus berusaha melarikan diri.  Mia memikirkan berbagai cara melarikan diri dengan melihat sekeliling ruangan tempat dia berada.  Meskipun Mia teringat ketika dia ditampar dengan keras oleh Pak Rahmat dan bagaimana usaha dia melarikan diri waktu itu yang gagal, sedikit membuat Mia gentar.  Tapi bayangan wajah Anto dan mamanya membuat semangat Mia kembali berkobar.  Aku pasti bisa melarikan diri dari tempat ini.  Begitu tekad Mia.  Apapun resikonya.

 

Siang itu Pak Rahmat kembali datang dengan membawa makan siang untuk Mia. 

Sambil makan Mia ingin mencoba keberuntungannya

“Pak Rahmat, boleh ga rantai Mia dikendorin supaya Mia bisa berdiri, capek duduk terus, Pak,” Mia memohon dengan menambahkan senyum manisnya.

Pak Rahmat sempat terkesima mengagumi kecantikan Mia.

“Ga, entar Non cekik leher saya lagi pake rantai,” suara Pak Rahmat agak keras.

“Ga Pak. Aku janji ga akan begitu lagi,” kembali Mia memohon.  Dan tetap ditolak oleh Pak Rahmat. Gagal.   Mia kembali melanjutkan makan siangnya dengan ide-ide lain dalam benaknya.

Ketika makanan Mia hampir habis, tiba-tiba terdengar bunyi lagu dangdut.  Mia melihat Pak Rahmat merogoh sakunya dan mengeluarkan handphone dari sana.  Pak Rahmat segera bergegas keluar rumah dengan tujuan agar percakapannya tidak didengar Mia.  Seperti mendapat angin segar,  jantung Mia berdegup kencang karena tegang.  Aku harus bisa berusaha mendapatkan handphonenya.

 

Setelah Pak Rahmat selesai menelpon, Mia sudah selesai makan.  Pak Rahmat melihat ada butiran nasi dekat bibir Mia.  Dengan tangannya, Pak Rahmat mengambil butiran nasi di wajah Mia, dan memasukkannya ke dalam mulutnya.  Mia agak kaget ketika Pak Rahmat mendekatinya.

Dengan senyum mesum, Pak Rahmat menelan butiran nasi yang baru saja diambilnya.  Mia kembali mencoba

“Pak, tolong longgarin rantai aku,” Mia memohon dengan wajah memelas.  Pak Rahmat memandang wajah memelas Mia, penisnya bereaksi melihat ekspresi wajah Mia.

“Tapi awas kalo macam-macam ya Non,” ancam Pak Rahmat.  Mia tersenyum manis dan mengangguk.

Pak Rahmat melonggarkan rantai di tangan dan kaki Mia.  Mia meregangkan kedua tangan dan kakinya.  Seperti tidak disengaja, Mia mengangkangkan kakinya sehingga roknya sedikit tersingkap, memperlihatkan pahanya yang putih mulus.  Pak Rahmat menelan ludah melihat paha Mia.  Lalu Mia segera merapatkan kedua kakinya lagi.  Mia tersenyum lagi dengan manis lagi, membuat Pak Rahmat terpesona dengan kecantikan Mia.

“Pak, boleh ga aku buka sepatu dan kaos kaki?” mohonnya dengan suara yang sedikit dimanjakan.

Pak Rahmat berusaha membenarkan posisi penisnya yang membesar dari balik celananya.

“Silakan aja, Non,” jawabnya sedikit bergetar dan kini matanya memperhatikan ketika Mia membuka sepatunya perlahan.  Pak Rahmat menahan napas ketika Mia menekuk kakinya ke atas agar dapat dengan gampang membuka tali sepatunya.  Pak Rahmat kembali meneguk ludah melihat paha kiri Mia yang putih terbuka setengahnya. 

 

Mia melakukan itu seakan-akan tidak menyadari tatapan Pak Rahmat.  Apapun akan aku lakukan untuk merebut handphonenya.  Mia pernah membaca bahwa seorang pria apabila sudah terbawa birahi, kadang menjadi lengah.  Dan Mia pun pernah membaca seorang pria apabila sudah orgasme biasanya badannya akan menjadi lemas.  Kini giliran sepatu yang satu lagi Mia, Mia kembali menekuk kakinya sehingga pahanya kembali terlihat oleh Pak Rahmat.  Mia seakan-akan tidak memperhatikan apa yang dilakukan oleh Pak Rahmat.  Setelah selesai melepaskan kedua sepatu dan kaos kakinya.  Mia sengaja pura-pura memijit betisnya, memperlihatkan ekspresi pegal.  Pak Rahmat tetap memperhatikan ketika jari-jari Mia yang lentik memijat betisnya yang putih mulus.

 

“Pegal, Non?” tanya Pak Rahmat berusaha menahan birahinya.

“Iya pak,” jawab Mia sambil menyapu bibir bawahnya dengan lidahnya.  Mia berusaha mengingat adegan dari beberapa film yang pernah dia tonton ketika seorang wanita ingin menggoda seorang pria. 

Pak Rahmat semakin blingsatan melihat bibir bawah Mia yang basah oleh air liur Mia.  Penisnya sudah mulai sulit diajak kompromi.

“Boleh saya bantu pijit, Non?” dengan muka mupeng.

Mia memperlihatkan wajah seperti berpikir sebelum menjawab.

“Bapak mau mijit aku?” pancing Mia.

“Siapa sih yang ga mau mijit perempuan cantik seperti Non,” ucapan Pak Rahmat mulai merayu.

“Ah bapak bisa aja,” Mia memperlihatkan wajah bersemu malu.  Pak Rahmat makin gelisah.

“Kalo bapak mau, aku senang-senang aja,” Mia tertawa kecil memperlihatkan barisan giginya yang putih.

 

Tidak perlu dikomando lagi, Pak Rahmat langsung berjongkok dengan kaki terbuka di dekat pergelangan kaki Mia.

Mia merasakan jijik ketika jari-jari kasar Pak Rahmat mulai menyentuh kulit betisnya.  Tapi Mia berusaha tersenyum di luarnya.  Tangan hitam Pak Rahmat begitu kontras dengan kulit Mia yang putih.  Mia bisa merasakan jari-jari Pak Rahmat mulai memijat betisnya.  Mia memejamkan mata sebentar berusaha membayangkan itu jari-jari Anto yang sedang memijatnya.

Pak Rahmat menangkap lain arti pejaman mata Mia, Pak Rahmat menyangka Mia menikmati pijatannya.  Jari-jarinya semakin berani naik ke kaki Mia bagian atas ke arah lutut Mia, mendekati pahanya yang tertutup rok abu-abu.  Membayangkan jari-jari Anto yang sedang memijatnya, membuat kejijikan Mia berkurang.  Detak jantung Mia berdenyut cepat karena tegang.  Sedangkan detak jantung Pak Rahmat berdenyut cepat karena tegang bagian selangkangannya.

 

Pak Rahmat merasa beruntung bisa menyentuh kaki Nona mantan majikannya ini.  Begitu mulus dan putih.  Penisnya sudah ngaceng keras dari balik celananya.  Mia bisa melihat tonjolan penisnya.  Mia teringat ketika dia memegang penis Pak Rahmat pertama kali.  Kemaluannya yang berwarna coklat begitu besar dalam genggaman tangannya.  Dan ketika cairan kental berwarna putih yang keluar dari ujung penisnya menyemprot wajahnya.  Timbul perasaan mual tiba-tiba pada diri Mia.

 

Sambil masih memijit lutut Mia, sambil sekali-kali jari-jarinya yang kasar diselipkan ke balik rok abu-abu Mia berusaha menyentuh paha Mia bagian bawah.  Tanpa Pak Rahmat sadari, dia menggesek-gesekkan selangkangannya di telapak kaki Mia.  Mia bisa merasakan telapak kakinya bersentuhan dengan kerasnya penis Pak Rahmat.  Sebenarnya Mia ingin menggeser telapak kakinya tapi sulit untuk melakukannya dengan tidak kentara. Jadi Mia berusaha menahan rasa jijik ketika Pak Rahmat menggesekkan penisnya.  Mia berusaha memikirkan tujuan mengapa Mia melakukan ini, agar bisa mengambil hp Pak Rahmat, makanya Mia berusaha tetap kuat.

Mia ingat hp Pak Rahmat ada di saku kanan celananya. 

“Pak Rahmat dibuka dong celananya,” Mia berusaha berkata dengan suara manja.

Pak Rahmat terlihat kaget kemudian cengirannya muncul.

“Kenapa Non?” jawabnya dengan wajah mesum.

“Aku pengen liat pisangnya,” Mia berusaha mengucapkannya dengan suara sensual meskipun sangat sulit.

“Pisang?  Hmm...coba sebut namanya yang benar, baru saya buka celananya,” leceh Pak Rahmat.

Sialan, batin Mia.  Dasar tua bangka, kalo tidak demi handphone, tidak sudi aku melihatnya.

“Hmm..aku pengen liat penis bapak,” Mia merajut senyum manis di bibirnya.

“Bukan itu Non namanya,” kembali Pak Rahmat memancing-mancing.

“Lho kalo bukan penis, namanya apa dong pak?” Mia kini bingung menjawabnya.

“Namanya kontol, Non,” Pak Rahmat terkekeh-kekeh.

Dasar keparat.

“Boleh ga Mia liat kontol bapak?” Wajah Mia bersemu merah tanpa dibuat-buat.

Pak Rahmat tambah bergairah mendengar Mia mengucapkan kata kontol.

“Nah itu baru bener Non,” Pak Rahmat langsung berdiri melepaskan pijitannya.

 

Ketika dia sudah membuka kaitan ikat pinggangnya, tiba-tiba dia berhenti.

“Non bukain dong ritsleting celananya,” pintanya sambil berkacak pinggang.

Apa!!! Teriak Mia dalam hati.  Emang aku apanya dia.  Melihat cetakan handphone di saku celana Pak Rahmat membuat Mia akhirnya beringsut di atas kasur menuju ke arah Pak Rahmat.  Dengan posisi bersimpuh dan gerakan yang sangat perlahan.  Wajah Mia berada di depan selangkangan Pak Rahmat.  Baunya yang menyengat terasa di hidung Mia.  Pelan-pelan Mia membuka kaitan celana Pak Rahmat dan menurunkan ritsletingnya.  Langsung celananya melorot cepat ke bawah.  Handphonenya terjatuh di kasur.  Sekilas pandangan Mia tertuju ke benda itu.  Lalu ketika melihat lagi ke arah selangkangan Pak Rahmat.  Penisnya menyembul besar dari balik celana dalam abu-abunya.

“Elus-elus kontol bapak, Non,” Napas Pak Rahmat terdengar memburu. “Jangan dilepas dulu celana dalam-nya.”

 

Dengan sangat enggan tapi berusaha senyum, Mia mengelus kemaluan Pak Rahmat yang menyembul dari luar celana dalamnya dengan tangan kanannya.  Sentuhan jari-jari lentik Mia di batang kemaluannya membuat Pak Rahmat mendesis keenakan.  Tanpa dia sadari, tangan kiri Mia meraba-raba mencari handphone yang terjatuh di kasur.  Ketika menemukannya, Mia menyimpannya dilantai di samping kasur.

Jari-jari lentik Mia merasakan kedutan-kedutan di batang penis Pak Rahmat dan Mia bisa merasakan gerakan kenikmatan dari pinggul Pak Rahmat.  Mengingat-ingat bahwa pria setelah orgasme biasanya lemas, membuat Mia mengabaikan rasa jijiknya.  Tujuannya satu, membuat Pak Rahmat orgasme secepatnya.

 

Tiba-tiba Pak Rahmat yang tadinya sedang berkacak pinggang dan sedang menikmati elusan jari-jari kecil Mia, menarik kepala Mia, mendorongnya sehingga wajahnya menempel di selangkangannya. Menekan penisnya yang tegang dari luar celana dalamnya.

Mia gelagapan, berusaha menarik kepalanya menjauh, tapi tenaga Pak Rahmat begitu kuat. 

“Jangan melawan Non, inget saya bisa menyayat wajah cantik Non,” Pak Rahmat tertawa.

“Turutin aja kata saya, Non,” lalu dengan kedua tangannya memegang kedua sisi wajah Mia.  Menghadapkan wajah Mia tepat dengan penisnya yang menyembul.  Mia memejamkan matanya rapat-rapat.

“Cium penis saya, Non,” perintah Pak Rahmat.  Lalu menempelkan wajah Mia ke selangkangannya.

 

Mia berusaha menutup mulutnya rapat-rapat. Namun tetap saja hidung dan bibirnya yang terkatup menempel erat di celana dalam Pak Rahmat. Pak Rahmat menggoyang-goyangkan kepala Mia ke kiri dan kanan sehingga hidung dan mulutnya berulang-ulang bersentuhan dengan penis Pak Rahmat yang keras.  Pak Rahmat semakin menekan wajah Mia ke selangkangannya.  Pinggul Pak Rahmat pun ditekan ke depan menekan wajah Mia.

 

Mia gelagapan, kehabisan napas. Kedua tangannya yang terborgol memukul-mukul paha Pak Rahmat.  Ketika Pak Rahmat menarik kepala Mia menjauh dari selangkangannya.  Mia terbatuk-batuk.  Berusaha mencari napas.  Air ludahnya menetes dari mulutnya.

“Suka kontol bapak?” tanya Pak Rahmat nyengir senang melihat Mia gelagapan.

Otomatis Mia menggelengkan kepalanya.  Masih berusaha menghirup udara dalam-dalam, ketika kepalanya ditarik lagi oleh Pak Rahmat, ditekan ke arah selangkangannya lagi.

 

“Ga suka kontol bapak? Nih bapak dekatin lagi kontol bapak, biar akrab ama Non,” Pak Rahmat tertawa menyebalkan.

Kali ini Mia berusaha tidak panik agar napasnya tidak terbuang percuma.  Mia berusaha menahan napas, berusaha menutup indra penciumannya karena bau selangkangan Pak Rahmat, namun tidak berhasil.  Bau khas Pak Rahmat tetap tercium.  Mia berusaha menahan rasa mualnya.  Hidungnya terasa sekali menekan penis keras Pak Rahmat.  Ingat tujuanmu, Mia.  Ingat Anto.  Terbayang wajah Anto membuat Mia sedikit lebih tenang.  Anggap saja ini selangkangan Anto.  Mia menjadi semakin lebih tenang.

 

Ketika Pak Rahmat menjauhkan kepala Mia dari selangkangannya.  Mia hanya terbatuk-batuk dan mengusap air liurnya yang merembes keluar dari mulutnya.

“Sekarang uda suka kontol bapak?” tanya Pak Rahmat lagi dengan senyum menjijikkan.

Mia menatap Pak Rahmat, menguatkan tekad.

“Iya pak, aku suka kontol bapak,” jawabnya sambil berusaha tersenyum manis.  Menahan jijik.

“Kalo Non sudah suka. Non sekarang boleh buka celana dalam bapak,” senyum kemenangan tersungging di bibir Pak Rahmat yang hitam karena sering merokok.

 

Dengan mengingat tujuannya, Mia menyelipkan jarinya di pinggiran celana dalam Pak Rahmat dan menurunkan celana dalam abu-abu itu.  Ketika penis Pak Rahmat terbebas dari kukungan celana dalamnya, penis itu bergerak ke atas dengan cepat mengenai hidung dan dahi Mia.  Mia kaget.  Ini penis Anto. Aku lagi menurunkan celana dalam Anto, batin Mia.

Sekarang penis Pak Rahmat berdiri tegak di hadapan Mia.  Mia bisa melihat besar dan panjang penis coklat tua Pak Rahmat.  Lubang kencingnya terlihat jelas di kepala penisnya yang besar.

“Liat saya Non,” perintah Pak Rahmat.

Mia menatap Pak Rahmat dengan wajahnya yang cantik.

“Non suka kontol bapak yang besar dan panjang kan?” tanya Pak Rahmat.

“Iya pak,” jawab Mia sambil tetap menatap Pak Rahmat.

“Iya apa?” tanya Pak Rahmat lagi.

“Iya aku suka kontol bapak yang besar dan panjang,” jawab Mia karena tahu itu jawaban yang diinginkan oleh bandot tua ini.

“Kalo suka dicium dong,” Pak Rahmat terkekeh.

 

Gila!!!  Mia menundukkan kepalanya. Mia melihat handphone Pak Rahmat di pinggir kasur.  Menguatkan hatinya.  Ga apa-apa aku kalah kali ini, yang penting aku bisa kabur dari sini, pikirnya dalam hati.  Ini penis Anto. Ini penis Anto.

Dengan cepat Mia menempelkan bibirnya di batang penis Pak Rahmat sambil menutup mata.

“Kok nyiumnya ga romantis amat.  Nyium itu yang lama. Terus matanya jangan ditutup.  Cium lubang kencing bapak, jangan batang kontolnya,” Pak Rahmat memberikan wejangannya.

Keparat!!!  Ini penis Anto. Ini penis Anto.  Mia dengan keras membayangkan penis Anto yang belum pernah dia lihat, tapi yakin pasti lebih indah bentuknya dari punya bandot tua ini.

Dengan mata terbuka, Mia mengarahkan bibirnya yang merah tipis ke arah lubang kencing Pak Rahmat dan menempelkan bibirnya di belahan lubang kencing itu.  Mia berusaha kuat membuka matanya dan menatap Pak Rahmat dengan galak.  Bau selangkangan Pak Rahmat menyengat sekali.

Pak Rahmat bergelinjang nikmat, merasakan lubang kencingnya dicium gadis cantik seperti Mia.  Terasa precumnya keluar dari lubang kencing itu.  Nikmat sekali.

 

Merasa sudah cukup lama, apalagi Mia melihat Pak Rahmat merem melek ketika dia mencium lubang kencingnya dan bibirnya terasa asin karena cairan precum Pak Rahmat, Mia menjauhkan wajahnya dari penis Pak Rahmat.

“Sekarang kocok kontol bapak, Non. Kayak yang tadi pagi,” perintah Pak Rahmat lagi.

Dengan jari-jari kecilnya melingkar di batang penis Pak Rahmat, Mia mulai mengocok penis Pak Rahmat dengan gerakan pelan.  Mia tidak merasa sejijik ketika dia mencium lubang kencingnya Pak Rahmat, lagipula ini sudah yang kedua kalinya.  Mia berpikir gimana caranya Pak Rahmat bisa lengah ketika dia sudah orgasme sehingga Mia bisa mengambil handphonenya dan menelpon mama.

“Pak, gimana kalo bapak tiduran aja di kasur, biar lebih rileks dan nyaman,” ucap Mia.

“Bener sekali Non. Tapi ingat jangan macam-macam yah atau bapak sayat muka Non yang cantik ini,” sambil Pak Rahmat mengusap jarinya di bibir Mia yang ranum.

 

Pak Rahmat berbaring di ranjang dengan punggungnya bersandar pada tembok. Penisnya malah terlihat mengacung tambah keras.  Mia duduk di samping paha Pak Rahmat, mulai mengocok penis Pak Rahmat lagi.  Mata Pak Rahmat lebih sering merem melek menikmati kocokan tangan mungil Mia.  

“Kocok yang cepet Non!” perintah Pak Rahmat dengan napas yang memburu.

Mia mengikuti perintahnya, yang penting Pak Rahmat cepat orgasme dan mudah-mudahan bajingan ini tertidur lemas, kalo bisa mati tiba-tiba.

Tidak lama Mia merasakan penis Pak Rahmat berkedut-kedut, lalu muncratlah cairan putih dari kepala penisnya.  Membasahi tangan Mia, paha Pak Rahmat.  Sperma kental itu muncrat beberapa kali diiringin dengan erangan nikmat Pak Rahmat.

“Aah Non, enak banget,” erangnya.

Mia mengelap tangannya yang terkena peju Pak Rahmat di kasur.

“Bersihin dong Non, peju bapak yang ada di paha,” Pak Rahmat tersenyum lemas.

Menggerutu dalam hati.  Dengan enggan, Mia menyapu sperma Pak Rahmat yang kental di sekitar pahanya yang berbulu.  Terasa lengket dan hangat di tangan Mia.  Cepat-cepat Mia mengelapnya di kasur.  Tapi masih terasa lengket di tangannya yang putih.

 

Pak Rahma terlihat lelah.  Memang benar berarti pria yang sudah ejakulasi pasti lemas.  Pak Rahmat memejamkan matanya.  Dengan berdebar-debar, Mia memperhatikan Pak Rahmat.  Setelah merasa yakin Pak Rahmat tertidur.  Mia melihat penisnya tergeletak lemas.  Pelan-pelan Mia bergerak ke arah handphone Pak Rahmat.  Ketika rantainya terdengar bergemiricik pelan, Mia menatap Pak Rahmat.  Masih tertidur.  Mudah-mudahan keylocknya tidak pakai sandi dan keypadnya tidak berbunyi.  Doa Mia terkabul.  Keylocknya Cuma tinggal digeser dan ketika Mia menekan nomor handphone mamanya, tidak terdengar bunyi apapun.  Sambil tetap memperhatikan Pak Rahmat, ketika tersambung terlihat ada tulisan Bu Mel.  Mia heran kenapa nomor handphone mamanya tercatat di hp Pak Rahmat.  Tapi Mia tidak berpikir lanjut tentang hal itu.  Terdengar bunyi nada sambung.  Sambil matanya menatap Pak Rahmat.  Tidak ada jawaban.  Mia mencoba sekali lagi.  Tetap tidak ada jawaban.  Ketika hendak mencoba yang ketiga kali, kepala Pak Rahmat bergerak.  Mia cepat-cepat melempar handphonenya ke kasur dan pura-pura tertidur. Tapi ternyata Pak Rahmat tidak terbangun.  Mia berusaha meredam debar jantungnya yang cepat.  Ketika Mia hendak mengambil hp Pak Rahmat lagi.  Tiba-tiba handphonenya berdering.  Lagu Dangdut berkumandang dengan keras.



#30 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 11 August 2017 - 02:10 PM

ESCAPE CHAPTER SIX

 

DAY 3

 

Ketika Mia hendak mengambil handphone. Tiba-tiba Pak Rahmat terbangun dan mendorong Mia dengan kuat sehingga Mia tersungkur dan Pak Rahmat langsung mengambil handphone dan menerima panggilan.

“Ya Bu,” jawabnya sambil menatap tajam Mia yang terjatuh di kasur.

Dengan penis yang tergantung lemas tanpa memakai celana, Pak Rahmat segera bergegas keluar rumah agar percakapannya tidak terdengar oleh Mia.  Mia yang jatuh telentang di kasur merasakan jantungnya berdegup kencang.  Mia sempat melihat panggilan telepon itu dari mamanya.  Ma, tolong aku, mohonnya.  Menanti apa yang akan terjadi selanjutnya membuat Mia sangat gelisah.  Mia menekukkan kedua lututnya keatas, dan kedua tangannya merangkul kedua lututnya dengan dagunya ditopangkan ke lutut.  Tidak berapa lama Pak Rahmat muncul.  Wajahnya terlihat sangat marah.  Dengan penisnya yang tergantung di selangkangannya.  Pak Rahmat mengambil pisau di ujung ruangan.  Wajah Mia mulai terlihat ketakutan, yang tadinya sangat berharap dia bisa selamat tapi kini tampaknya hal itu tidak mungkin terjadi. 

“Dasar cewek sialan!” teriak Pak Rahmat dengan marah.  Dia menghampiri Mia dengan pisau di tangan kanannya.  Mia merapatkan dirinya di dinding.

“Pak, jangan macam-macam!” Mia pun memohon.  Wajahnya tambah ketakutan.

“Saya kan sudah bilang jangan berbuat yang aneh-aneh,” Pak Rahmat terlihat sangat emosi.

“Pak, aku ga aneh-aneh kok,” wajah Mia sangat memelas.

“Non tadi nelpon ibu Non kan?  Untung saya bisa mencari alasan,”  Pak Rahmat semakin dekat. 

Mia semakin meringkuk ketakutan.

 

Begitu sudah dekat, Pak Rahmat menjambak rambut Mia sehingga kepala Mia menengadah ke atas menatap Pak Rahmat dengan pandangan ngeri.  Mia meringis kesakitan ketika Pak Rahmat menjambak rambut Mia lebih kencang.  Kedua tangan Mia yang terborgol memegang tangan Pak Rahmat yang sedang menjambak rambutnya.

“Ampun, pak,” mohon Mia.  Mia semakin ngeri ketika Pak Rahmat mengarahkan pisaunya dan menempelkan bagian yang tidak tajam ke pipi Mia.  Terasa sangat dingin.  Dipukulnya pipi Mia berkali-kali dengan pisau itu.  Mia menatap dengan ngeri ke arah pisau.

“Ampun, Pak,” rintih Mia lagi.

“Saya harus bagaimana menghadapi Non, padahal saya sudah baik selama ini sama Non,” suara Pak Rahmat terdengar sangat mengancam.

“Janji tidak akan berbuat yang macam-macam lagi, Non?” mata Pak Rahmat melotot ke arah Mia.

“Iya pak, aku janji,” apapun akan Mia katakan agar Pak Rahmat tidak lebih berang lagi.

“Hmm, tapi saya harus tetap beri hukuman buat Non,” tandas Pak Rahmat lagi.

“Jangan pak.  Aku janji ga akan macam-macam lagi,” Mia memohon dengan pandangan sayu.

 

Pak Rahmat melepaskan jambakannya.  Mia merasa sedikit lega, tapi pisau masih ada di tangan Pak Rahmat.  Mia masih berada dalam tekanan.

Tiba-tiba tangan kiri Pak Rahmat menarik kemeja putih Mia, menariknya sedemikian kuat sehingga kedua kancing atasnya terlepas.

“Jangan, Pak!” jerit Mia sambil menutupi dada dengan kedua tangannya yang terborgol.

Mia mulai menangis.  Pak Rahmat mengancam lagi dengan pisaunya.

“Turunin tangan Non dari dada Non, atau saya potong jari-jari Non,” tidak ada senyum dari Pak Rahmat ketika mengatakan itu.

Mia masih tidak mau menurunkan kedua tangannya dari dadanya.  Pak Rahmat mendekati Mia lagi.  Ujung pisaunya diarahkan ke jari-jari Mia.  Mia tidak berani bergerak sedikitpun, takut pisau Pak Rahmat melukainya.

“Saya tidak main-main, Non!” ujung pisau Pak Rahmat semakin mendekat.

“Oke-oke Pak,” Mia akhirnya menyerah. Dengan sangat enggan Mia menurunkan kedua tangan dari dadanya.  Kini Pak Rahmat bisa melihat sebagian bra Mia yang pink yang berenda.  Dengan sedikit belahan payudaranya terlihat.

Dengan sekali gerak, Pak Rahmat menarik lagi seragam putih Mia sehingga kini seluruh kancingnya terlepas.  Mia menjerit dan refleks menutup lagi dadanya dengan kedua tangannya.

“Ckckck,” dengan pisaunya Pak Rahmat memberi tanda agar Mia menurunkan lagi tangannya.

 

Dengan air mata yang lebih banyak mengaliri pipinya, Mia terpaksa menurunkan lagi kedua tangannya, takut akan ancaman pisau Pak Rahmat.

Pak Rahmat hanya bisa tertegun melihat belahan dada Mia yang dibalut dengan bra pinknya.  Pak Rahmat meneguk ludah.  Penisnya yang tadinya lemas, perlahan-lahan mulai bereaksi lagi.  Mia merasa sangat malu karena baru kali ini dia begitu terekspos di depan orang lain.  Sekilas Mia teringat dengan mimpinya waktu itu.

Mia bisa melihat mata Pak Rahmat yang memelototi dadanya.  Ingin sekali dia menutupi kemejanya sehingga bra nya tidak dapat dilihat oleh Pak Rahmat, tapi Mia harus pasrah karena pisau di tangan Pak Rahmat terlihat begitu mengancam.

“Non harus saya kasi pelajaran biar Non kapok,” selesai Pak Rahmat berkata demikian.  Sekali tarik, lepaslah bra Mia yang diikuti oleh teriakan Mia dan refleks tangannya kembali menutupi dadanya.  Air matanya semakin banyak menetes turun dari dagu Mia.

“Ampun Pak. Jangan apa-apain aku,” Mia semakin erat menutup dadanya yang kini tanpa bra.

 

Pak Rahmat mencium bra Mia, menghirup dalam-dalam dari cup beha Mia. 

“Wangi sekali Non,” lalu kemudian dia melempar bra Mia ke lantai dekat lemari sehingga Mia tidak bisa menggapainya.

Melihat Mia yang menangis dan memohon ampun, tidak bisa membuat Pak Rahmat iba.  Sekali lagi dia memberi kode dengan pisaunya agar Mia menurunkan tangannya dari dadanya.  Mia tidak langsung melakukannya.  Membuat Pak Rahmat naik pitam lagi.  Sekali renggut, dijambaknya rambut Mia lebih keras dari sebelumnya.

 

Mia menjerit, tangannya otomatis memegang tangan Pak Rahmat yang sedang menjambak rambutnya.

“Non mau pisau ini melukai leher Non?” pisau itu kini ditempelkan ke leher putih Mia.  Mia berusaha tidak bergerak dan tidak bernapas ketika dia merasakan dinginnya pisau yang menempel dilehernya.

“Ayo jawab!” Pak Rahmat menarik rambut Mia lebih keras, membuat Mia meringis kesakitan.

“Ampun Pak. Aku janji akan nurut sama bapak mulai sekarang,” Mia mengatakan itu asal Pak Rahmat tidak jadi menggunakan pisau itu.

“Bagus. Kalo Non sekali lagi berani melakukan macam-macam. Saya akan potong jari-jari Non dan saya kirim ke keluarga Non,” setelah itu Pak Rahmat melepaskan jambakannya dan menjauhkan pisau dari leher Mia.  Mia bisa bernapas lega.  Dadanya naik turun karena faktor menangis dan ketakutan yang amat sangat.

 

Pak Rahmat kini memperhatikan belahan dada Mia yang terekspos dengan bulatan payudaranya yang terlihat sebagian.  Begitu putih dan menggoda.  Membuat penis Pak Rahmat lebih mengeras lagi.

“Naikkan tangan Non ke atas, dua-duanya!” perintah Pak Rahmat.

Sambil tetap menangis Mia melakukan apa yang diperintah Pak Rahmat.  Dengan tangannya ke atas, membuat kedua payudaranya lebih tersingkap meskipun putingnya tetap tertutup kemeja putihnya. Payudaranya terlihat lebih membusung.  Napas Mia tetap memburu sehingga membuat dadanya naik turun, menambah rangsangan hebat pada penis Pak Rahmat.

“Pak, tolong jangan apa-apain aku,” mohon Mia ketika melihat Pak Rahmat maju dan tangannya mendekati dada Mia.

“Jangan, Pak!” rengek Mia.

“Non, tetap harus saya kasih hukuman,” dengan kasar Pak Rahmat meremas payudara kanan Mia dari luar seragamnya.  Remasannya begitu kuat mencengkeram buah dada Mia.  Membuat Mia menjerit.  Baru pertama kali ini payudara Mia diremas pria.  Tua Bangka lagi. Dan remasannya begitu kuat. 

 

Pak Rahmat merasakan kenyalnya payudara Mia dan ukurannya begitu pas di tangannya yang hitam.  Pak Rahmat meremas sekali lagi payudara Mia dan agak menekannya ke dalam.

Mia hanya bisa terisak menangis menerima perlakuan Pak Rahmat.

“Jangan Pak. Ampun...ampun,” Mia hanya bisa merengek iba.

Sudah cukup bagi Pak Rahmat merasakan kenyalnya payudara seorang gadis cantik yang memiliki kulit putih mulus ini.  Penisnya tegang maksimal.

“Ingat kalo mau macam-macam lagi. Saya akan kasih hukuman yang lebih berat dari ini!” ancam Pak Rahmat.

“Mengerti ga, Non?” tanyanya.

Mia menganggukan kepalanya.  Masih terasa bekas remasan tangan Pak Rahmat pada payudara kanannya, terasa sedikit sakit setelah diremas begitu kuat.

“Kalo mengerti, sebagai tanda permintaan maaf Non.  Cium kepala kontol bapak,” Pak Rahmat mendekatkan penisnya ke wajah Mia.

Apa!! Mia melihat penis coklat tua dengan kepalanya yang besar mendekat mulutnya.  Belahan kecil di kepala penis Pak Rahmat begitu jelas terlihat.  Mau tidak mau, Mia harus mengikuti perintah Pak Rahmat.  Begitu penis itu mendekat.  Mia memonyongkan bibirnya dan mencium kepala penis Pak Rahmat tepat di lubang kencingnya.

 

Bibir Mia yang menempel di lubang kencingnya terasa begitu hangat.  Sebenarnya Pak Rahmat ingin melakukan lebih tapi dia sudah ada janji dengan seseorang.  Mungkin malam ini, dia akan melakukan yang lebih dengan Mia.

“Bagus. Saya terima permintaan maaf dari Non,” ujar Pak Rahmat sambil terkekeh senang.[media]

Attached Files



#31 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 14 August 2017 - 04:56 PM

ESCAPE CHAPTER SEVEN

 

DAY 3

 

Apa lagi yang harus kulakukan? Pikir Mia.  Setelah semua yang dia lakukan gagal membuat dia dapat melarikan diri.  Apakah lebih baik aku bunuh diri saja?  Gampang sih, tinggal membenturkan kepalaku sekuat-kuatnya ke tembok.  Selesai sudah.  Tapi bayangan mama dan Anto memenuhi otaknya.  Mia ingin bertemu lagi dengan mereka, apalagi dengan Anto.  Seperti tekad Mia sebelumnya, apabila dia berhasil lolos dari semua ini, dia akan mengatakan cintanya pada Anto.  Bisa dibilang berkat Antolah, Mia berhasil bertahan selama ini, menerima perlakuan Pak Rahmat pada dirinya yang sangat menjijikkan.  Tapi Mia berpikir positifnya, paling tidak kehormatannya masih terjaga.  Dia masih perawan.  Mia bertekad apabila Pak Rahmat akan mengambil keperawanannya, dia akan melawan mati-matian meskipun nyawanya akan melayang.  Keperawananku milik Anto seutuhnya, begitu tekad Mia.

 

Mia siap menghadapi perlakuan apapun yang dia terima dari Pak Rahmat, asalkan kehormatannya tetap terjaga.  Mia harus bertahan hidup.  Namun malam itu ketika Pak Rahmat kembali, terlihat jalannya sempoyongan.  Bau alkoholnya sangat menyengat.  Tiba-tiba Mia merasa kedinginan, merinding.  Memang dikarenakan karena kemejanya sulit untuk menutupi dadanya sekarang karena sudah tidak ada kancingnya.  Mia sangat berharap mudah-mudahan Pak Rahmat tidak menyentuhnya malam ini.  Namun harapan Mia tidak terjadi.  Bau alkoholnya tercium sangat menyengat ketika Pak Rahmat berjongkok di kasur di dekat Mia.  Pak Rahmat mengelus pipi Mia yang halus. Jari telunjuknya bergeser pelan ke dagu.

“Non cantik sekali,” senyum mabuknya terlihat jelas.

 

Jari telunjuknya bergerak turun leher Mia yang jenjang.  Mia tidak bergerak.  Jantungnya berdegup kencang, bersiap-siap menanti apa yang akan dilakukan Pak Rahmat.  Aku harus hati-hati, pikir Mia.  Pak Rahmat sedang mabuk.  Kini jari telunjuk Pak Rahmat bergerak semakin ke bawah.  Menyusuri bulatan payudara kanan Mia yang tidak tertutup kemeja.  Mia merasakan jari Pak Rahmat menekan-nekan payudaranya.  Mia menutup mata.  Berusaha menekan perasaan was-wasnya.  Kemeja Mia yang sebelah kanan disingkapkan oleh Pak Rahmat ke bahu kanan Mia, sehingga terpampang jelas payudara Mia sebelah kanan.  Ukurannya tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil dengan puting warna merah mudanya.  Mia berusaha semakin kuat menahan gejolak hatinya yang ingin berontak, ingin melawan bandot tua itu.  Pokoknya kalo dia ingin mengambil keperawananku, aku akan bertindak, janji Mia dalam hati.

 

Mia merasakan beberapa kali Pak Rahmat memutari jari telunjuknya di lingkaran payudara kanannya, lingkaran yang dibentuknya semakin mendekati putingnya.  Mia merasakan bulu kuduknya merinding. Entah kenapa Mia merasakan puting kanannya sedikit mengeras.  Lalu beberapa detik kemudian, jari Pak Rahmat menyentuh putingnya yang terasa tegang.  Puting Mia yang sensitif ditekan-tekan oleh jari Pak Rahmat.

“Putingnya indah banget, Non,” Pak Rahmat terkekeh.  Dengan gerakan tiba-tiba, Pak Rahmat menyibakkan juga setengah kemeja kiri Mia sehingga kini terlihat kedua payudara Mia.  Mia kaget tapi Mia tidak mau membuka matanya.  Detak jantungnya semakin cepat.  Kalo dia ingin mengambil keperawananku, aku akan melawannya, Mia mengulang-ulang kalimat itu dalam hati.  Kedua kaki Mia rapatkan erat-erat.  Kini Mia merasakan kedua payudaranya diremas oleh tangan kasar Pak Rahmat.   Tidak sekeras tadi siang.  Timbul perasaan aneh ketika payudaranya diremas oleh tangan kasar Pak Rahmat.  Pak Rahmat tertawa-tawa menikmati kenyalnya payudara Mia.  Payudara gadis muda yang masih sedang ranum-ranumnya.  Kedua tangannya meremas payudara Mia dari berbagai sisi dan sudut.  Terasa di permukaan kulit tangannya kalo puting Mia mengeras karena bergesekan dengan telapak tangannya.

“Enak, Non, saya remas begini?” tanyanya.

Mia tidak menjawab, tetap menutup matanya.

“Saya tanya enak ga, Non?” suara Pak Rahmat sedikit lebih keras.

Mia tidak ingin amarah Pak Rahmat yang lagi mabuk muncul.  Sambil tetap menutup matanya, Mia mengangguk.  Anggap saja Anto yang lagi meremas buah dadanya, begitu pikir Mia.

Remasan tangan Pak Rahmat semakin kuat dan liar.  Membuat Mia sedikit meringis kesakitan.

 

Setelah puas dengan meremas kedua buah dada Mia, Pak Rahmat membuka ritsleting celananya dan melorotkan celana panjangnya ke bawah dan tidak lupa juga sekalian celana dalamnya dan melempar keduanya ke pinggir kasur. 

“Buka matanya, Non!” perintah Pak Rahmat kemudian.

Sebenarnya Mia enggan membuka matanya, karena terdengar dari suaranya sepertinya selangkangan Pak Rahmat sudah bugil sekarang.  Tapi Mia harus mengalah dulu, sampai dia menemukan cara lain untuk menghadapi Pak Rahmat.  Seperti yang diduga Mia, ketika dia membuka mata, terpampanglah di depannya batang kemaluan Pak Rahmat yang sudah menegang keras.  Berdiri kokok di selangkangan tua nya.  Meskipun sudah beberapa kali melihatnya dan sudah beberapa kali juga, penis itu bersentuhan dengan bibirnya.  Mia masih belum terbiasa melihatnya. 

 

Penis coklat kehitam-hitaman itu apakah termasuk besar ukurannya, Mia tidak tahu karena selama ini yang dia lihat hanya di internet saja. 

“Cium lubang kencingnya lagi, Non!” Pak Rahmat memegang penisnya dan mengarahkan ujungnya ke mulut Mia yang mungil.

Aku harus bertahan, lagipula ini sudah pernah aku lakukan, batin Mia.  Dengan perlahan, Mia mengecup ujung penis Pak Rahmat, ciumannya membuat Pak Rahmat mengejang sesaaat.

“Cium yang dalam dan lama!” Pak Rahmat menekan penisnya ke bibir Mia yang merah.

Pak Rahmat merasakan kenikmatan yang tiada tara ketika ujung penisnya menempel erat dengan bibir Mia yang merah lembut.  Sedangkan Mia merasakan penis Pak Rahmat yang menekan bibirnya dan terasa ada cairan dari penis Pak Rahmat yang terasa asin di bibirnya.  Aku harus bertahan, Anto, aku sedang mencium penismu.  Itulah yang Mia bayangkan.

 

Setelah waktu yang sebenarnya cukup sebentar hanya setengah menit, tapi waktu yang terasa cukup lama bagi Mia, akhirnya Pak Rahmat menjauhkan penisnya dari Mia.  Mia menarik napas lega.  Tapi kemudian dia mendengar Pak Rahmat berkata

“Sekarang julurin lidah Non keluar!”

Mau apa lagi bandot tua ini, batin Mia.  Mia belum mengeluarkan lidahnya ketika Pak Rahmat mengulangi perkataannya dengan nada suara lebih tinggi.

Mia membuka mulutnya dan mengeluarkan lidahnya yang basah.  Mia tidak tahu apa yang akan dilakukan Pak Rahmat dengan lidahnya yang terjulur.  Lalu Mia melihat Pak Rahmat mendekatkan lagi penisnya dan ditepuk-tepuk oleh Pak Rahmat penisnya di lidah Mia yang basah.  Mia kaget dan langsung memasukkan kembali lidahnya.

Tiba-tiba Pak Rahmat menamparnya di pipi kiri. Plaakk!

“Ouggh!” Mia merasakan pipi kirinya panas terkena tamparan Pak Rahmat.

“Tatap saya, Non!” hardik Pak Rahmat.

Mia menatap Pak Rahmat dengan tajam, sambil tangan kirinya mengelus pipinya yang sakit.

“Apa saya bilang Non boleh memasukkan lidahnya kembali?” Pak Rahmat menatapnya dengan galak.

Mia menggelengkan kepala.

“Sekali lagi Non melakukan apa yang tidak saya perintahkan. Saya akan menghukum Non lagi.  Sekarang keluarin lidahnya lagi!”

Dengan pipi yang masih terasa sakit, Mia menjulurkan lidahnya seperti tadi.

 

Sekali lagi Pak Rahmat menepuk lidah Mia dengan kepala  penisnya.  Lalu kemudian Pak Rahmat menggesek-gesekkan penisnya pada permukaan lidah Mia yang basah.  Demi menahan rasa jijik dan berusaha agar lidahnya terus terjulur, beberapa tetes air liur Mia menetes di dagunya.

“Tatap saya, Non!” Pak Rahmat mengangkat dagu Mia agar kepala Mia menengadah padanya.

Mia menatap Pak Rahmat yang terlihat sangat menikmati penisnya digesek-gesekkan di lidahnya.  Mia berusaha keras mengatur napas agar tetap berpose dengan lidah terjulur.  Semakin banyak air liurnya yang menetes, membasahi dada dan kemeja putihnya.

Mia berusaha membuka mulutnya selebar mungkin dan menahan lidahnya terjulur, lalu Mia terkesiap ketika Pak Rahmat mendorong penisnya lebih dalam sehingga ujung penis Pak Rahmat mengenai langit-langit mulut Mia.  Mia menghindar mundur ke samping dan terbatuk-batuk, langit-langit mulutnya terasa gatal ketika ujung penis Pak Rahmat yang tegang mengenai rongga mulutnya.  Mia terbatuk-batuk lagi ketika Pak Rahmat membentaknya dan menampar pipi kanan Mia.

“Masih tidak tidak mau menurut, Non!!!” Pak Rahmat berlari ke pojok ruangan dan seperti mencari-cari sesuatu.  Dan ketika Mia terbatuk-batuk lagi, Mia sempat melihat di tangan Pak Rahmat kini ada sebuah gunting besar.

Attached Files


  • Partagas likes this

#32 mandekuhot

mandekuhot

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 6 posts

Posted 15 August 2017 - 02:47 PM

Lanjut terus masbro

#33 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 15 August 2017 - 10:58 PM

ESCAPE CHAPTER EIGHT

 

DAY 3

 

Mia makin merinding ketika Pak Rahmat menggenggam sebagian rambut panjangnya dan menariknya.  Ujung gunting diarahkan ke pangkal rambut Mia.

“Bagaimana kalo rambut Non saya potong biar botak sebagian?” ancamnya, kali ini suaranya lembut.

“Jangan Pak.  Aku kan uda nurut perintah bapak. Tadi aku kaget aja ketika ujung penis bapak menyentuh rongga mulut aku,” ujar Mia dengan mata ketakutan.

“Kontol, Non, bukan penis,” sekali lagi Pak Rahmat menggeser gunting di sepanjang rambut Mia yang digenggamnya.

“Iya pak, maaf. Kontol bapak maksud aku,” ketakutan Mia tetap tidak berkurang. “Jangan potong rambut aku, pak.”

“Hmmm,” Pak Rahmat seperti memikirkan sesuatu.  Lalu Pak Rahmat melepaskan genggamannya pada rambut Mia.  Pak Rahmat berjongkok dekat paha Mia. Nafasnya alkoholnya masih tercium.  Pak Rahmat memberi tanda agar Mia menyibakkan seragam putihnya ke kiri dan ke kanan.  Melihat Mia seperti enggan.  Pak Rahmat melebarkan matanya melotot pada Mia.  Mia menggerakkan kedua tangannya menyibakkan seragam putihnya ke kiri dan ke kanan.  Terlihatlah dengan jelas kedua payudaranya.

 

Pak Rahmat mengarahkan gunting ke puting kanannya.  Mia bergidik.  Mia tidak berani bernapas, bahkan memohon pun tidak berani karena takut putingnya tergores oleh gunting.  Pak Rahmat menekan puting Mia dengan ujung gunting yang terkatup.  Terasa dingin oleh Mia putingnya tersentuh gunting.  Membuat sekujur tubuhnya ikut merinding.  Karena rasa dingin dan juga karena merasa ngeri takut putingnya dilukai oleh Pak Rahmat.  Mia berusaha menahan nafas sebisa mungkin.  Akhirnya Pak Rahmat menjauhkan gunting dari puting kanan Mia.

Lalu Pak Rahmat berjongkok di tengah-tengah kaki Mia.  Sehingga mau tidak mau, kaki Mia terbuka lebar.  Kedua kaki Pak Rahmat menahan agar kedua kaki Mia tidak bisa merapat.  Mia bingung bercampur cemas, apa yang akan dilakukan Pak Rahmat kali ini.  Mia mendapatkan jawabannya ketika, ujung gunting Pak Rahmat diarahkan ke rok Mia bagian bawah.  Pelan-pelan didorongnya gunting itu sehingga sedikit demi sedikit rok Mia terdorong ke atas, memperlihatkan paha bawahnya yang putih mulus.

 

Mia mulai meneteskan air mata.

“Pak, tolong jangan Pak, aku mohon,” rengeknya.  Pak Rahmat dengan tangan satunya lagi mengangkat telunjuk ke arah mulut Pak Rahmat.

“Ssstt Non, jangan bergerak kalo tidak ingin kulit paha Non tergores,” tampang Pak Rahmat sudah tidak kelihatan mabuk lagi.

Mia berusaha merapatkan kakinya tapi tidak bisa karena tertahan oleh tubuh Pak Rahmat yang sedang berjongkok.  Otot-otot paha Mia menegang ketika gunting Pak Rahmat semakin mendorong roknya ke atas sehingga kini setengah kedua paha Mia semakin terlihat.  Begitu halus dan putih.

 

Mia masih berusaha memohon pada Pak Rahmat ketika gunting Pak Rahmat mendorong terus dengan pelan rok Mia sehingga celana dalam merah Mia terlihat sebagian.  Pipi Mia sudah basah oleh air matanya.  Tolong jangan ambil perawanku, doa Mia dalam hati.

Mia akhirnya bernapas lega ketika Pak Rahmat mengembalikan posisi roknya meskipun jari-jari Pak Rahmat bersentuhan dengan kulit pahanya ketika melakukan itu.  Ketika Mia kembali menarik napas lega, tiba-tiba Pak Rahmat menghujamkan ujung gunting ke arah pahanya.  Mia tersentak kaget.  Ujung gunting itu ternyata menusuk ruang di antara kedua pahanya yang terentang lebar dan menembus roknya.  Lalu Pak Rahmat menarik keras gunting itu kebawah sehingga rok Mia bagian depan terbelah dua.

“Pak, aku mohon jangan terusin pak. Aku janji aku akan melakukan apapun yang bapak inginkan,” Mia mengatakan apa saja asal Pak Rahmat tidak memperkosanya.

 

Pak Rahmat tidak mempedulikannya.  Dengan rok bagian depan yang sudah terbuka, kini Pak Rahmat menggunting rok bagian belakang Mia sehingga terbelah juga seperti rok bagian depannya.  Pak Rahmat terus menggunting bagian lain rok Mia sehingga hampir sekeliling rok Mia kini banyak belahannya.

 

Setelah puas dengan hasil karyanya, Pak Rahmat berdiri.  Mia buru-buru merapatkan kakinya, tapi apa daya dengan kondisi rok abu-abunya sekarang, bagaimana pun posisi kaki Mia, tetap saja pahanya yang putih, terekspos hingga celana dalam merahnya tetap tampak sekelebat.

“Ini hukuman buat Non,” tawa Pak Rahmat keras.

 

Meskipun Mia sekarang bisa dibilang setengah bugil, tapi Mia tetap bersyukur bahwa Pak Rahmat tidak berniat menodainya dan Mi tetap berdoa agar hal itu tidak terjadi.  Dengan kondisi setengah telanjang ini, Mia merasa terhina tapi dia yakin dia masih sanggup menghadapinya. Mia harus berpikir cara lain agar dia bisa selamat dari cengkeraman Pak Rahmat.  Wajah Anto dan mamanya kembali menghiasi benaknya. Aku harus kuat, sekali lagi Mia bertekad.

 

Tampaknya Pak Rahmat tidak berniat melakukan sesuatu lagi pada Mia, karena dia kembali ke kasurnya di ujung berseberangan dengan Mia. Menyimpan guntingnya dan berbaring di sana.  Meninggalkan Mia sendirian yang kini mulai merasa kedinginan dengan kondisi pakaiannya sekarang.  Mia menutup kemejanya sebisa mungkin.  Tak lama kemudian dengkuran Pak Rahmat terdengar.  Mia pun kembali menguatkan tekadnya untuk tetap bertahan. Aku harus dapat mencari jalan lain untuk bisa bebas.  Mungkin karena beban yang tadi terlalu berat, tak lama kemudian Mia pun tertidur.  Hawa dingin tidak bisa menahan kantuknya Mia.  Dalam tidurnya, Mia bermimpi lagi dia telanjang bulat di hadapan teman-teman prianya yang juga telanjang bulat dan Anto segera menghampirinya.  Memeluknya dan membawanya pergi dari teman-teman pria yang mengerubutinya.  Hati Mia terasa damai, nyaman dan terlindungi.

 

DAY 4

 

Mia terbangun ketika terdengar suara orang menangis.  Mia merasakan hawa yang dingin tapi tanpa membuka mata, Mia mendengar suara Pak Rahmat yang ternyata lagi menatap lagi.

Menangisi anaknya, Bentang.  Dan mengutuk istrinya, Mirna.  Mia membuka mata dan melihat Pak Rahmat lagi melihat sebuah foto, sepertinya itu foto yang sama dengan yang Mia lihat dulu.

“Bapak kangen ama Bentang,” begitu ratap Pak Rahmat.  “Mirna, kenapa kau tega menjauhkan aku dengan anakku.”

Sesaat Mia merasa iba juga melihat kondisi Pak Rahmat seperti itu.  Hanya sesaat, sedetik kemudian rasa marah dan benci Mia pada Pak Rahmat pun timbul lagi.  Rasain kau, ditinggal oleh keluargamu.  Memang kau pantas ditinggalkan keluargamu, dasar brengsek. Tak lama kemudian, Mia pun tertidur lagi.

 

Mia terbangun ketika dia merasa ada seseorang yang menindih tubuhnya yang sedang tidur menyamping.  Ketika Mia hendak bersuara, mulutnya dibekap dengan tangan kasar Pak Rahmat.

“Sstttt,” bisiknya pelan.  Mata Mia terbelalak lebar.  Apa lagi yang akan terjadi? Ucapnya dalam hati dengan lemas.

Attached Files



#34 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 16 August 2017 - 02:27 PM

ESCAPE CHAPTER NINE

 

DAY 4

 

“Jangan berisik, Mirna. Nanti Bentang terbangun,” bisik Pak Rahmat pada Mia.  Mia bingung, kenapa dirinya dipanggil Mirna dan ngomongin Bentang segala.  Gila nih orang, pikirnya.

“Aa uda kangen ama Mirna, sudah lama tidak bercumbu dengan Mirna,” bisik Pak Rahmat lagi kini tangannya sudah tidak membekap mulut Mia.

 

Ketika Mia hendak bersuara, bibirnya langsung diterkam oleh bibir Pak Rahmat yang kehitam-hitaman.  Mia hendak berontak tapi tubuhnya ditindih oleh Pak Rahmat sehingga sulit untuk menghindar.  Menggerak-gerakkan kepalanya pun sulit, tetap saja bibir Pak Rahman menyosor bibir Mia yang merah.  Air liur Pak Rahmat sudah membasahi area sekitar mulut Mia.  Ini pertama kali bibir Mia dicium seorang laki-laki.  Sayangnya bukan bibir Anto tapi bibir seorang pria tua.  Penis Pak Rahmat di balik sarungnya mengeras, terasa oleh Mia di pahanya yan terlihat jelas sekarang karena kondisi roknya yang sobek-sobek.  Kini Mia lebih sulit lagi bergerak karena kepalanya dipegang kedua pipinya oleh Pak Rahmat.  Mia pasrah.  Berusaha sedapat mungkin menutup bibirnya rapat-rapat.  Makanya hanya gumaman yang terdengar oleh Pak Rahmat.

Mungkin gumaman Mia yang terdengar oleh Pak Rahmat yang tampaknya sedang linglung itu seperti suara desahan.  Lidahnya mulai mencari-cari celah untuk masuk ke dalam mulut Mia.  Namun usaha Mia untuk menutup bibirnya rapat-rapat cukup berhasil.  Lidah Pak Rahmat semakin gencar mencari celah untuk masuk.

 

“Ayo Mirna sayang, Aa ingin bercumbu denganmu,” sekali lagi Pak Rahmat bicara melantur.  Sekali lagi dia mencoba menyelipkan lidahnya ke dalam mulut Mia.  Alhasil tidak berhasil, malahan air ludahnya semakin membasahi sekitar mulut Mia.  Mia merasa dagu dan mulutnya begitu basah oleh air liur Pak Rahmat.

 

Namun Pak Rahmat tidak menyerah.  Kini tangannya pun ikut bergerilya meremas payudara kiri Mia.  Karena Mia berontak dengan menggerak-gerakkan badannya, sarung Pak Rahmat pun sudah bergeser dari tempatnya, terasa penisnya yang keras bersentuhan langsung dengan paha Mia.  Terasa kenyal bergeser-geser di paha mulus Mia.

 

Ketika merasakan remasan di payudara kirinya Mia kaget tapi untung saja tidak berteriak sehingga lidah Pak Rahmat belum berhasil menyusupi mulutnya.  Pak Rahmat seakan-akan tidak peduli dengan hal itu, dia tetap menciumi bibir Mia sebisa mungkin.  Tapi ketika puting susu Mia dipilin oleh Pak Rahmat, Mia mendesah sesaat. Merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakannya, rasa geli yang enak.  Meskipun hanya sesaat, kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Pak Rahmat, lidah Pak Rahmat langsung menyusup masuk laksana ular.  Menjelajahi setiap tempat yang bisa disentuh oleh lidahnya.  Mia gelagapan.  Tangannya mulai menjambak rambut Pak Rahmat, ingin menarik kepala Pak Rahmat agar menjauh dari wajahnya.  Apa daya Pak Rahmat seperti sedang kesurupan, dengan nafasnya yang memburu, beberapa kali lidahnya bersentuhan dengan lidah Mia.  Juga entah sudah berapa banyak air liurnya yang bercampur dengan air liur Mia.  Mendengar desahan Mia dan rambutnya dijambak, membuat Pak Rahmat salah sangka, dia menyangka Mia pun terangsang.  Lagipula dalam benaknya, dia sedang bercinta dengan istrinya.  Sarungnya sudah terlepas dari badan Pak Rahmat karena ketika dia sedang menekan-nekan penisnya di paha Mia, sarungnya lama-kelamaan melorot.  Kini Pak Rahmat berusaha mengarahkan badan Mia dengan pakaian compang campingnya agar berbaring telentang, sehingga dia bisa lebih leluasa bergumul dengan Mia.  Mia masih tidak bisa berteriak, hanya terdengar seperti gumamam keras karena mulutnya masih dilumat dengan liar oleh Pak Rahmat. Tangan Mia hanya bisa memukul-mukul punggung Pak Rahmat.  Bahkan sedikit mencakar, namun hal ini malah membuat Pak Rahmat semakin terangsang. 

 

Dengan posisi Mia yang telentang, dengan dihimpit oleh tubuh setengah telanjang Pak Rahmat, membuat posisi penis ngaceng Pak Rahmat tepat di selangkangan Mia.  Bergesekan dengan vagina Mia yang untungnya masih tertutup celana dalam. 

“Mirna, Aa cinta kamu,” disela-sela ciumannya.  Kemudian Pak Rahmat menarik kedua tangan Mia disatukan lalu ditekan di atas kasur sehingga kini kedua lengan Mia menghimpit telinga kiri dan kanan Mia, lebih tidak leluasa karena ditahan oleh tangan kanan Pak Rahmat.

Ciuman Pak Rahmat beralih ke payudara kanan Mia.

“Pak, jangan...aaahh,” Mia merintih agak keras ketika puting kanannya dihisap oleh Pak Rahmat.  Tubuh Mia sesaat menggelinjang ketika dirasakan putingnya tersentuh lidah Pak Rahmat yang basah.  Dan tubuh Mia menggelinjang lagi ketika putingnya disedot dalam-dalam oleh Pak Rahmat.

“Ooh, Pak aku mohon...” nafas Mia memburu karena merasakan geli yang anehnya sedikit terasa nikmat.  Teringat ketika apa yang dia lakukan waktu menggesek-gesek payudaranya di ranjang waktu itu.  Ditambah barusan dia sulit bernafas karena bibirnya dilumat oleh Pak Rahmat.  Lidah Pak Rahmat dengan lihainya, memainkan puting Mia yang sedikit mengeras.  Disentuh dengan ujung lidah Pak Rahmat.  Putingnya digerakkan ke atas dan bawah oleh gerakan lidah Pak Rahmat.

 

Kembali Mia menggelinjang, ketika puting kanannya dihisap sampai terdengar bunyi suara sedotan Pak Rahmat.  Tanpa Mia sadari, kedua kakinya yang sudah terentang dipisahkan oleh bagian bawah tubuh Pak Rahmat.  Kedua lutut Mia ditekuk keatas karena efek beberapa kali menggelinjang tadi.  Nafas Mia mulai sedikit memburu karena baru kali ini salah satu bagian tubuh sensitifnya mendapat perlakuan dari lawan jenisnya.  Putingnya dijilat dan dihisap, meskipun oleh seorang bandot tua seperti Pak Rahmat tapi Mia sedikit terbawa nafsu, terangsang oleh seorang pria untuk pertama kali.  Kesadaran Mia kembali pulih ketika Pak Rahmat berkata

“Aa mau entot Mirna yah sayang,” lalu Pak Rahmat mengangkat badannya, kakinya berlutut sehingga paha Mia terangkat oleh paha Pak Rahmat.  Lalu Pak Rahmat mulai menarik celana dalam Mia ke bawah.

Disini Mia mulai benar-benar sadar.  Mia berteriak

“Pak tolong jangan...jangan!” teriaknya. 

Celana dalam Mia sudah tertarik sampai ke paha.  Pak Rahmat bisa melihat bulu-bulu halus di selangkangan Mia.  Belahan vagina Mia yang berwarna pink masih tertutup rapat.

Sekali lagi Mia teriak karena merasa kehormatannya mulai terancam.

“Pak Rahmat jangan perkosa Mia!” dengan suara tambah keras.

 

Seperti baru tersadar dari kelinglungannya, Pak Rahmat berhenti menarik celana dalam Mia.  Wajahnya seperti terbersit perasaan bersalah.  Lalu Pak Rahmat berdiri, memakai sarungnya kembali dan pergi keluar ruangan.  Meninggalkan Mia yang masih berbaring telentang di ranjang dengan kemejanya yang sudah tersibak, memperlihatkan kedua payudara dan perutnya yang rata.  Celana dalamnya tersangkut di paha Mia.  Merasa baru saja terlepas dari bahaya dinodai Pak Rahmat, Mia akhirnya menangis.  Menumpahkan rasa shocknya yang tertunda.



#35 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 17 August 2017 - 09:20 AM

ESCAPE CHAPTER TEN

 

DAY 4

 

Mia menangis meringkuk.  Shock karena kejadian barusan dan merasa lega juga karena Pak Rahmat tidak jadi memperkosanya.  Mia bersyukur sekali. Entah apa yang membuat Pak Rahmat batal melanjutkan aksinya.  Tapi apapun itu, Mia merasa sangat lega.  Setelah mengusap air matanya, Mia baru sadar kalo celana dalamnya masih melorot di pahanya.  Pelan-pelan Mia menaikkan lagi celana dalamnya pada tempatnya.  Mia memperhatikan baju yang dipakainya.  Bisa dibilang sangat terbuka.  Mungkin ini yang menyebabkan nafsu birahi Pak Rahmat bangkit, melihatnya dalam keadaan nyaris telanjang bulat.  Tapi kenapa Pak Rahmat menganggap dirinya Mirna.  Mungkin karena dia begitu rindu pada keluarganya.  Karena sudah dua kali, Mia mendapati Pak Rahmat sedang meratapi nasib karena ditinggal keluarganya.  Dia terlihat begitu rapuh.  Rapuh. Hmmm, mungkin kerapuhannya bisa kumanfaatkan, begitu pikir Mia. 

 

Mia mengingat kembali ketika dia berusaha melarikan diri sebelumnya.  Semuanya tidak berhasil karena jelas dari segi fisik dia kalah dengan Pak Rahmat.  Kedua ketika mengambil hp Pak Rahmat.  Mia teringat kembali, kenapa nama mamanya muncul di hp Pak Rahmat.  Oh, iya. Dulu kan Pak Rahmat adalah supir keluarga, tentu saja dia punya nomor hp mama dan masih menyimpannya.  Mengingat betapa rapuhnya Pak Rahmat setiap mengingat tentang keluarganya.  Mungkin ini bisa jadi cara aku bisa membujuknya.  Coba nanti aku korek-korek tentang keluarganya.  Teringat kejadian Mia hampir diperkosa, sedikit membuat Mia malu.  Hampir saja tadi dia sedikit menikmati permainan Pak Rahmat pada payudaranya.  Ketika dia sedikit mendesah tadi malah tampaknya membuat Pak Rahmat semakin bersemangat.  Mia dulu pernah baca di internet, desahan dan rintihan itu salah satu bagian yang menstimulasi rangsangan.  Mungkin mendengar dirinya mendesah dan menggelinjang, semakin membuat nafsu Pak Rahmat bangkit.  Mungkin aku bisa memanfaatkan sedikit “kekotoran” diriku untuk membujuknya.  Apalah artinya sedikit nakal dan binal, meskipun aku tidak mau, tapi asal aku kabur dari sini.  Bisa ketemu lagi dengan mama dan Anto.  Bayangan Anto kembali mengisi relung hatinya. Membuat Mia lebih merelakan “menjual” tubuhnya atau harga dirinya asal bukan kehormatannya demi bisa lolos dari sini.  Mungkin cara ini lebih bisa berhasil.

 

Semakin memikirkan hal ini, membuat Mia semakin yakin kalo cara ini akan berhasil.  Tapi dia harus memanfaatkan tubuhnya dan mungkin menuruti keinginan Pak Rahmat yang akan membuat dia senang.  Aku harus mengalah dulu baru kemudian aku akan “menang”.  Ya, semangat Mia kembali berkobar.  Aku pasti bisa. Senyum kemenangan terpancar dari bibirnya yang tipis.  Saatnya aku menggunakan kecantikan wajahku.  Lalu Mia memandang lagi seluruh tubuhnya.  Memang terlihat sangat menggiurkan dengan pakaian seperti ini.  Kulit tubuhnya yang putih, mulus dan terawat.  Aku yakin Pak Rahmat tidak akan kuat melihat tubuhku ini.  Bahkan Mia sering melihat kakak tirinya, Susanto memandang diam-diam tubuh dan wajahnya.  Dasar semua laki-laki memang mata keranjang tidak bisa melihat wanita cantik dan seksi.  Mungkin Anto yang berbeda.  Mia kangen dengan Anto dengan segala kekikukannya.  Pokoknya kalo aku bisa bebas dari sini, aku akan menyatakan pada Anto kalo aku suka dia.  Sekali lagi seberkah senyum menghiasi bibir Mia.

 

Sementara menunggu Pak Rahmat kembali yang sejak tadi meninggalkannya, Mia mencoba mengingat-ingat film-film atau bacaan=bacaan di internet yang mengisahkan tentang cara-cara seorang wanita merayu atau menggoda pria.  Yang jelas Mia akan melakukannya, asalkan kehormatannya tetap terjaga.  Walaupun harus melayani penisnya, Mia sedikit ragu sesaat.  Tapi tekadnya untuk kabur dan bertemu Anto lagi, membuat Mia meyakinkan diri sendiri kalo memang itu yang harus dilakukan, dia akan melakukannya. Anggap saja itu penis Anto.  Membayangkan penis Anto yang belum pernah dia lihat, membuat Mia sedikit bersemu merah dan entah kenapa hatinya merasa berbunga-bunga. Dan Mia merasakan desiran-desiran halus di selangkangannya membayangkan penis Anto.  Membayangkan Mia mengelus penis Anto, meremasnya sambil menatap manja pada Anto semakin membuat Mia merasakan desiran-desiran di selangkangannya semakin membuat enak.  Maafkan aku Anto, aku mungkin harus merelakan tubuhku dijamah bajingan tua itu, tapi keperawanku hanya untuk kamu.  Memikirkan hal ini membuat Mia merasa jengah kembali.  Hatinya berbunga-bunga membayangkan Anto mencumbunya.  Mengambil keperawanannya.  Aku cinta kamu, Anto.

 

Hampir beberapa jam kemudian, Pak Rahmat baru kembali lagi.  Wajahnya terlihat malu-malu dan diam-diam menatap Mia.  Ingin mengetahui ekspresi wajah Mia.  Apakah Mia marah setelah kejadian tadi?  Tapi Pak Rahmat kaget, melihat Mia malah sedang memandang dirinya dengan tersenyum manis.  Kakinya yang putih mulus disilangkan satu sama lain.  Pahanya yang putih mulus terlihat jelas bahkan celana dalam merahnya terlihat sedikit.  Alhasil penis Pak Rahmat bereaksi sedikit melihat pemandangan indah ini.  Ditambah senyum di wajah Mia, membuat dirinya terlihat semakin menawan.

 

“Non, bapak beli kupat tahu dan susu murni. Non makan dulu ya,” masih sedikit merasa malu atas kejadian tadi. Pak Rahmat tidak berani menatap mata Mia ketika memberikan makanan itu.

“Terima kasih, Pak,” jawab Mia dengan suara manja sambil memberikan senyum manis pada Pak Rahmat.

“Sama-sama, Non,” jawab Pak Rahmat sedikit gugup dan aneh melihat Mia dan mendengar suara manjanya.  Kok dia tidak terlihat marah ya, batin Pak Rahmat.

Mia makan dengan lahap.

“Pak Rahmat uda makan?” tanyanya dengan suara manja lagi.

“Uda, Non,” Pak Rahmat heran, kok tumben Mia jadi baik padanya.  Tapi keheranannya terhapuskan melihat Mia yang sedang membungkuk makan, dan belahan payudaranya yang indah terlihat dari balik kemejanya yang tanpa kancing.  Terlihat sedikit puting merah susunya.  Pak Rahmat membenarkan posisi penis di balik sarungnya.  Apa daya, penis Pak Rahmat semakin ngaceng ketika melihat Mia mengambil kerupuk dan dimasukkan ke mulut mungilnya. Dan menjilati jari telunjuknya agar bersih dari remah kerupuk.  Cantik sekali perempuan ini, tidak kalah dengan mamanya.  Apalagi pakaiannya sekarang begitu terbuka memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnya terlihat jelas.  Pakaian hasil karyaku, Pak Rahmat tertawa dalam hati.

 

Setelah makan, Mia memasukkan sedotan ke dalam susu murni dan meminumnya.  Bibir tipisnya basah oleh cairan putih susu.  Pak Rahmat yang melihatnya, membayangkan kalo itu spermanya yang menempel di bibir Mia.  Membuat penisnya semakin keras.

“Bapak mau minum susu?” Mia menatap Pak Rahmat dengan pandangan sayu.

Pak Rahmat meneguk ludah. 

“Susu yang mana, Non?” Pak Rahmat kelepasan bicara.

Anehnya Mia tidak marah.

“Susu yang inilah, Pak,” ujarnya sambil tersenyum manis ditambah lidahnya menjilati bekas susu di pinggir bibirnya.  Membuat tenggorokan Pak Rahmat naik turun dengan cepat.

“Eh iya Non. Ga, Non. Saya sudah makan dan minum susu tadi,” jawab Pak Rahmat cepat-cepat.  Sedangkan tangannya menutupi selangkangannya agar tidak terlihat tonjolan penisnya yang membesar.

 

Setelah habis meminum susunya.

“Makasih ya, Pak untuk makan paginya. Aku sudah kenyang,” sambil tangan mungil Mia mengusap-usap pusarnya.  Tentu saja Pak Rahmat semakin blingsatan, pandangannya mengikuti tangan Mia yang sedang mengusap pusar pada perutnya yang ramping. Gerakan tangan Mia membuat kemeja kirinya sedikit tersingkap memperlihatkan payudara kirinya yang bulat menggiurkan.

Pak Rahmat tidak berkedip menatapnya.

 

Mia tertawa dalam hati melihat reaksi Pak Rahmat yang melongo menatapnya.  Bangsat tua ini sudah  masuk perangkapku.  Aku akan segera bertemu denganmu, Anto.



#36 mandekuhot

mandekuhot

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 6 posts

Posted 17 August 2017 - 10:03 PM

Lanjut masbro nanggung

#37 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 18 August 2017 - 02:06 PM

ESCAPE CHAPTER ELEVEN

 

DAY 4

 

Melihat Pak Rahmat terpana, Mia merasa harus segera memulai aksinya.

“Pak Rahmat, bisa pijitin betis Mia ga yang kayak kemaren. Pegel nih duduk terus,” Mia membungkuk sambil mengelus-elus betisnya.

Seperti mendapat durian runtuh, Pak Rahmat tidak mau melepaskan kesempatan ini.

“Oh boleh Non, dengan senang hati,”  sambil membenarkan sarungnya, Pak Rahmat menghampiri Mia.

Dengan berjongkok berhadapan di dekat kaki Mia, Pak Rahmat awalnya mengelus betis mulus Mia.  Seakan-akan tidak sengaja, Mia memposisikan belahan-belahan di roknya, sehingga terpampang paha kanan Mia yang putih.  Pak Rahmat menelan ludah melihatnya, terpana tanpa malu-malu lagi.  Pijatannya menjadi tidak karuan.  Mia tidak peduli dengan pijatan Pak Rahmat.

“Hmm..enak banget pijatan bapak,” ujar Mia dengan sedikit mendesah.  Mendengar desahan Mia, kontan Penis Pak Rahmat semakin terlihat menggembung di balik sarungnya.  Tidak sampai situ saja, Mia sengaja menggerakkan ujung-ujung jari kakinya berusaha menyenggol penis Pak Rahmat yang menggembung itu.  Beberapa kali jempol kaki kanan Mia menyentuh barang pusaka Pak Rahmat itu.  Membuat Pak Rahmat semakin tidak konsentrasi memijat Mia.

 

Mia tersenyum dalam hati, melihat Pak Rahmat mulai blingsatan.  Pandangannya tertuju pada paha putihnya, seakan-akan ingin langsung menyergapnya.

Ketika sudah mendapati lokasi tepatnya dimana penis Pak Rahmat berlindung di balik sarungnya, Mia mulai menggerakkan kedua jempol kakinya seakan-akan mencubit penis Pak Rahmat.  Hal ini membuat Pak Rahmat menahan-nahan rintihan kenikmatan ketika penisnya dijepit oleh jempol kaki Mia.  Posisi jongkok Pak Rahmat semakin turun, ingin merasakan pijatan lebih dari Mia.  Pak Rahmat sudah bukan memijit lagi tapi lebih tepatnya mengelus-elus betis jenjang Mia.

“sakit ya, pak?” Mia bertanya dengan nada manja karena melihat ekspresi wajah Pak Rahmat yang tidak jelas, mau nyengi ga, terlihat nikmat seperti ditahan-tahan.

“Apanya, Non?” jawab Pak Rahmat tidak fokus.

“Penis...eh salah kontol bapak sakit karena aku jepit-jepit pake jempol kaki?” Mia mengulum bibir bawah dengan bibir atasnya.

“Eh iya. Ga Non,” jawab Pak Rahmat kikuk.

“Kalo ga  sakit kok wajahnya kayak kesakitan?”  Mudah-mudahan sakit beneran tuh penis, batin Mia.

“Eh...enak kok, Non,” ucap Pak Rahmat jujur sambil tertawa nyengir.

 

Mia tersenyum manis.  Kini tangan kiri Mia dipasang di dada di bawah kedua payudaranya, membuat kemeja bajunya tertekuk dan memperlihatkan lebih jelas belahan buah dadanya.  Tentu saja Pak Rahmat tidak melewatkan pemandangan indah ini.  Lalu tangan kanan Mia ditopangkan di tangan kirinya dan telunjuk Mia diusap-usapkan di bibir bawahnya yang basah.

“Hmmm...Mia boleh liat penis..ehmm kontol bapak?” Mia bertanya dengan ekspresi pura-pura malu.  Mana tahan Pak Rahmat mendengar perkataan Mia ditambah pose Mia mengusap-usap bibir bawahnya membuat penis Pak Rahmat menjulang naik.

“Boleh dong, Non,” langsung Pak Rahmat berdiri, meloloskan sarung dari tempatnya bertengger. Sama sekali Pak Rahmat tidak mempertanyakan pada dirinya perubahan sikap dan tingkah laku Mia.

Mia melihat penis Pak Rahmat sudah mengeras dengan kokohnya.  Mia menggigit bibir bawahnya karena sempat ada setitik ragu untuk melanjutkan aksinya.  Pak Rahmat melihat Mia menggigit bibir bawahnya, malah menganggap Mia terangsang melihat penisnya yang besar dan panjang.

 

Mia beringsut mendekati Pak Rahmat yang berdiri tegak di pinggir kasur.  Pandangan matanya tidak lepas dari penis Pak Rahmat.  Itu penis Anto, itu penis Anto.

“Boleh Mia pegang kontol bapak?” Mia sengaja berkali-kali menggunakan kata kontol, karena dia tahu itu akan merangsang Pak Rahmat.

Pak Rahmat mengangguk senang.  Pak Rahmat menatap ke bawah. Pak Rahmat melihat tangan kanan Mia yang mungil menyentuh batang kemaluannya.  Terasa lembut.  Membuat penis Pak Rahmat terangkat  naik namun sebelum akhirnya kembali ke tempat semula.  Jari telunjuk Mia mengelus batang coklat hitam itu dari bawah kepalanya sampai ke pangkal.  Jari Mia menyentuh bulu-bulu kemaluan Pak Rahmat yang lebat.  Ini penis Anto, ini penis Anto, berulang kali Mia meyakinkan dirinya sendiri.

Paha Pak Rahmat menegang hebat , merasakan elusan jari lentik Mia pada batang kemaluannya.  Pak Rahmat kemudian menggelinjang hebat ketika Mia mengecup lubang kencingnya dengan dalam.  Pak Rahmat mendesah....

 

Mia memaksakan dirinya mengecup belahan lubang kencing Pak Rahmat.  Mia pernah membaca tentang cara wanita merangsang penis pria. Lalu Mia mengeluarkan sedikit lidahnya, menyentuh lubang kencing Pak Rahmat.  Pak Rahmat yang melihat itu tentu saja, tambah merintih keenakan.  Tumitnya naik dan pahanya menegang ketika lidah basah Mia bergerak di sepanjang belahan lubang kencingnya.  Penis Pak Rahmat berkedut, mengeluarkan pre cum nya.

 

Mia merasakan paha Pak Rahmat menegang.  Kedua tangan Mia sengaja memegang kedua paha Pak Rahmat yang hitam dan berbulu lebat.  Dengan tangannya yang halus, Mia menggerakkan tangannya mengelus paha Pak Rahmat sambil sekali lagi dia mencium kepala penis Pak Rahmat.  Tapi kemudian sangat sulit karena kini penis Pak Rahmat bergerak naik turun menikmati rangsangan dari Mia. 

Mau tidak mau, Mia menggunakan tangan kanannya memegang batang Pak Rahmat.  Memegangnya dengan erat, dalam hati Mia ingin meremasnya sampai hancur.  Tapi pegangan kuat Mia malah membuat nafas Pak Rahmat semakin memburu.  Birahinya sudah di ubun-ubun.  Segala gerak gerik Mia sudah membuat nafsunya meningkat pada puncaknya.  Belum pernah Pak Rahmat merasakan seorang gadis cantik yang menikmati penisnya.  Sebelum ini kan Mia terlihat terpaksa melakukannya.  Tapi  kini Mia terlihat sangat pasrah sehingga hal ini malah membuat

Pak Rahmat semakin cepat terangsang.  Kedutan demi kedutan di penisnya semakin cepat.  Apalagi kini tenyata Mia menggesekkan penisnya pada pipi kanannya dengan menatap Pak Rahmat dengan mata sayu.  Begitu terlihat innocent tapi sekaligus binal.  Sebuah kombinasi yang luar biasa menggoda.  Pak Rahmat merasakan gesekan kepala penisnya yang sudah basah oleh cairan pelumas, menggesek pipi Mia yang mulus.  Terlihat pelumasnya menempel pada pipi Mia.  Sebuah pemandangan yang luar biasa menggairahkan.

“Aaaaahahhh, Non,” tiba-tiba Pak Rahmat tidak bisa menahan lagi dorongan spermanya yang sudah berada di ujung penisnya.  Peju Pak

Rahmat muncrat melompati kepala Mia, namun ada sebagian yang mengenai rambut Mia, dahi Mia, pipi Mia. 

Mia menggumam, kaget sebenarnya tapi mudah-mudahan terdengar seperti rintihan oleh Pak Rahmat.  Dan memang benar, gumaman Mia membuat muncratan sperma terakhir Pak Rahmat terasa sangat-sangat nikmat.  Peju hangat dan kental itu membuat wajah Mia semakin terlihat sensual di mata Pak Rahmat.  Wajah cantik yang belepotan pejuh.  Beruntungnya diriku, bisa memuncatkan pejuhku pada wajah cantiknya.  Aku memang sangat beruntung, pikir Pak Rahmat.



#38 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 19 August 2017 - 09:33 AM

ESCAPE CHAPTER TWELVE

 

DAY 4

 

Mia merasakan lengket dan hangatnya sperma yang mengenai pipinya.  Pengen sekali sebenarnya Mia membersihkan wajahnya dari sperma bau Pak Rahmat. Tapi Mia pernah membaca bahwa pria kebanyakan suka melihat wajah seorang wanita belepotan sperma.  Jadi Mia membiarkan wajah cantiknya belepotan sperma bandot tua itu.

 

Pak Rahmat yang abis orgasme sebenarnya merasa lelah, maklum walaupun nafsunya besar tapi karena faktor umur, tentu saja ada kelelahan yang dirasakannya.  Tapi melihat pejuhnya bertebaran di wajah cantik Mia, mau ga mau nafsunya bangkit lagi.  Tapi dia tidak kuat berdiri.  Lebih baik dia duduk di kasur dan bersandar di tembok.

 

Dengan sisa-sisa sperma yang menempel di penisnya yang lemas, Pak Rahmat duduk bersandar di tembok.  Dengan inisiatif, Mia menyandarkan kepalanya di paha Pak Rahmat yang berbulu lebat.  Sambil menatap sayu pada Pak Rahmat, rambut Mia sebagian menutupi wajah kanannya sehingga rambut Mia pun terkena sisa-sisa sperma Pak Rahmat di pipi Mia, yang sengaja tidak Mia bersihkan.

Mia bisa melihat wajah mupeng Pak Rahmat melihat kondisi wajahnya seperti ini, tapi Pak Rahmat tampaknya masih bernafsu.  Mia menyadari dengan berbaring telentang dan kepalanya bersandar pada paha Pak Rahmat, membuat kondisi kemejanya terbuka dan payudara dan puting susunya jelas terekspos sekali.  Mia membiarkan hal itu.  Dan benar saja tak lama kemudian, tangan kanan Pak Rahmat hinggap di payudara kirinya.  Perlahan-lahan meremas payudara kiri Mia.  Jari telunjuknya menyentil-nyentil kecil putingnya.  Sebelumnya mungkin Pak Rahmat melakukan hal itu dalam keadaan memaksa, tapi karena kini Mia menyadari bahwa hal ini temasuk keinginan Mia sendiri.  Mia merasakan sensasi yang berbeda ketika Pak Rahmat bermain dengan buah dadanya.  Mia merasakan sedikit rasa enak yang aneh ketika jari-jemari Pak Rahmat bermain dengan payudara dan puting merah mudanya.  Mia refleks mendesah, merasakan rasa nikmat pada payudaranya.  Rintihan pelan Mia, membuat penis Pak Rahmat yang tadinya bersandar lemah pada pahanya, sedikit membesar lagi.  Dengan senyum manisnya, Mia mengusap-usap tangan Pak Rahmat yang sedang meremas payudaranya, seakan-akan memberi lampu hijau agar Pak Rahmat terus melakukan hal itu.

 

“Pak Rahmat, buka dong bajunya, biar Mia bisa melihat Pak Rahmat dalam keadaan telanjang,” pinta Mia dengan suara manja.  Tentu saja Pak Rahmat langsung membuka kaosnya, kini perut buncitnya terlihat jelas.  Bugil seluruhnya di pandangan Mia.  Tidak menarik sama sekali, pikir Mia.  Tapi remasan tangan Pak Rahmat semakin kuat, dan pentil susu Mia dipermainkan dengan lebih intens. 

“Uggh...,” desahan Mia terdengar sedikit lebih kuat dari sebelumnya.  Aku harus menahan diri, batin Mia.  Jangan sampai aku yang kalah.  Aku harus merangsangnya lagi.  Aku harus memperoleh kepercayaan Pak Rahmat bahwa aku sudah takluk padanya.

“Pak, ini apa namanya?” Mia menunjuk dengan jari lentiknya pada kantong bulat di bawah penis Pak Rahmat.  Sedikit menyentuhnya.  Kontan penis Pak Rahmat lebih menegang.

“Itu buah zakar, Non,” jelas Pak Rahmat dengan nafas yang kembali memburu ketika buah zakarnya disentuh oleh jari mungil Mia.

 

Pak Rahmat menggerakkan paha kirinya yang tidak disandari Mia sehingga posisi pahanya lebih terbuka, berharap Mia melakukan lebih pada buah zakarnya.

“Boleh Mia pegang?” tanya Mia manja.  Tentu saja Mia tahu itu apa, dan itu juga titik rangsangan pada seorang laki-laki.

“Uhuh...” Pak Rahmat hanya bisa mengangguk, tidak sabar menunggu apa yang akan dilakukan oleh Mia.

Dengan dua jari, jari telunjuk dan jempolnya, Mia seakan-akan mencubit pelan buah zakar Pak Rahmat.  Menyentuh setiap bagian dari kantong biji Pak Rahmat yang berkerut dengan hiasan bulu-bulu halus di sekelilingnya.

“Aaahh...,” Pak Rahmat mulai mendesah menikmati pijitan kecil Mia pada bijinya.

“Boleh aku cium juga, pak?” kepalang tanggung bagi Mia.  Sekalian saja aku merendahkan diriku untuk meraih kepercayaannya, asal bukan kehormatanku.

“oooh boleh banget, Non,” penis Pak Rahmat langsung lebih tegak mendengar permintaan Mia.

Mia bergeser dari paha Pak Rahmat dengan kepalanya menyamping, Mia mendekati buah zakar Pak Rahmat.  Mengangkat penis Pak Rahmat lebih tinggi dan mulut Mia mulai mengecup buah zakar Pak Rahmat.  Kecupan ringan saja sudah membuat penis Pak Rahmat berkedut dahsyat.  Merasakan hangatnya bibir seorang wanita cantik pada selangkangannya masih memberikan sensasi yang luar biasa untuk Pak Rahmat.

Penisnya yang dipegang Mia berkedut-kedut lagi ketika Mia memberikan ciuman dalam dengan menekan buah zakarnya.  Merasakan Pak Rahmat kembali bernafsu, Mia sekalian mengocok penis Pak Rahmat dengan tangannya sambil beberapa kali mencium biji kemaluan Pak Rahmat.

 

Pinggul Pak Rahmat mulai tidak tenang.  Tangan Pak Rahmat mengelus paha Mia sampai menyentuh ujung celana dalam merahnya.  Ingin sekali Pak Rahmat merenggut celana dalam itu.  Tapi ada hal yang menghalangi nafsunya untuk berbuat itu.  Walaupun sebenarnya dia sangat ingin.  Pak Rahmat agak sedikit meremas paha Mia, ketika Mia dengan lebih berani lagi mencoba menjilati buah zakar Pak Rahmat, menyalurkan air liurnya sehingga membuat biji Pak Rahmat basah dan hal ini semakin membuat sperma Pak Rahmat hampir mencapai ujung penisnya.  Dasar karena sudah tua dan sudah lama tidak menikmati tubuh dan rangsangan dari seorang wanita.  Ditambah yang melakukan hal itu sekarang adalah seorang gadis muda nan cantik menawan.  Tapi Pak Rahmat tidak mau segera ejakulasi.  Dia masih berusaha menahan-nahan spermanya keluar.  Tidak ingin kenikmatan ini cepat berakhir.

 

Melihat wajah cantik Mia terbenam dalam selangkangannya, lidahnya menyapu setiap inci kantong kemaluannya, merupakan pemandangan yang luar biasa erotis.  Apa daya, Pak Rahmat tidak sanggup menahannya lagi.  Spermanya kemudian muncrat, tidak sederas yang pertama tapi masih cukup banyak persediaan spermanya.  Membasahi tangan Mia yang sedang mengocok penisnya.  Kini pipi kiri Mia pun terkena cipratan pejuhnya.  Mia tidak peduli terus mengocok dan menjilat buah zakar Pak Rahmat, terus memberikan rangsangan sampai muncratan sperma Pak Rahmat berakhir. Pipi kiri Mia penuh dengan sperma Pak Rahmat juga.  Dengan wajah penuh sperma, Mia tersenyum pada Pak Rahmat dan Pak Rahmat memberikan senyum lemas karena sekali lagi Pak Rahmat berhasil mem-pejuin wajah cantik Mia.  Dengan sangat yakin, Pak Rahmat merasa gadis ini sudah takluk olehnya.  Dua kali klimaks untuk seorang pria tua tentu sangat melelahkan.  Pak Rahmat segera tertidur tidak lama kemudian.

 

Melihat Pak Rahmat sudah tertidur, Mia cepat-cepat mengeringkan sperma di wajahnya dengan sarung Pak Rahmat.  Mia dengan sigap melihat sekeliling.  Pisau Pak Rahmat ternyata ada di ujung ruangan. Handphone...mana handphonenya.  Ternyata handphone Pak Rahmat ada di meja dekat kasur Pak Rahmat di seberang ruangan juga.  Ya sudah, itu memang sudah bukan cara Mia untuk melarikan diri dari Pak Rahmat sekarang.  Mia pun bersandar pada tembok di samping Pak Rahmat.

 

Melihat borgol di rantainya yang cukup keras tampaknya, ingin Mia menghantamkan borgol itu pada kepala Pak Rahmat sampai dia tewas.  Tapi bagaimana caranya lepas dari borgol yang digembok ini karena Mia tidak tahu dimana Pak Rahmat menyimpan kuncinya dan tanpa kunci jelas Mia tidak akan bisa melarikan diri dan malahan akan selamanya mendekam disini.  Tidak ada yang mengetahui keberadaannya dan tidak bisa kemana-mana, malahan dia bisa mati kelaparan. Jelas bukan ide yang baik untuk membunuh Pak Rahmat.  Lebih baik memang aku memanfaatkan kelemahan Pak Rahmat dan aku bisa memanipulasinya sehingga dia akan membebaskan diriku.

Mia memperhatikan pakaiannya, seperti gadis yang binal melihat pakaiannya yang compang camping.  Bagian tubuhnya yang harusnya tidak diperlihatkan ke orang lain, tapi kini malah seakan-akan dipamerkan di depan Pak Rahmat.  Bahkan tadi godaan dan rangsangannya yang dilakukan pada Pak Rahmat sangat-sangat seperti gadis binal murahan.  Memang ada tujuannya dia melakukan hal itu.  Tapi kenapa tadi Mia sempat menikmati remasan Pak Rahmat di payudaranya.  Bahkan ketika puting susunya dimainin oleh jarinya Pak Rahmat, Mia sempat mendesah enak.  Cepat-cepat Mia menghilangkan pikiran itu.  Tidak mungkin dia terangsang oleh bandot tua ini.  Dia melakukan semua ini karena ingin segera bertemu Anto dan mamanya.  Kembali ke orang-orang yang dicintainya.  Sebinal apapun Mia, Mia tetaplah Mia. Puteri dari mamanya, Melina dan calon pacar dari cowo yang dicintainya, Anto.  Calon pacar, memikirkan hal ini membuat hati Mia berbunga-bunga.  Tunggu aku, Anto.



#39 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 21 August 2017 - 01:56 PM

ESCAPE CHAPTER THIRTEEN

 

DAY 4

 

Dengan hati berbunga-bunga, Mia membayangkan apa yang akan dia lakukan bila bertemu
Anto lagi.  Namun ujung-ujungnya, Mia membayangkan bercinta dengan Anto.  Mengelus penisnya, apakah sperma Anto bau nya seperti punya Pak Rahmat.  Apakah penis Anto lebih besar dan panjang dibandingkan Pak Rahmat.  Mia melirik sebentar penis Pak Rahmat yang tergeletak lemas seperti orangnya yang sedang tertidur dengan punggung bersandar tembok, kepalanya terkulai ke kiri.

Wajah Mia menampilkan ekspres sedikit horny membayangkan diri Anto.  Tidak terasa waktu berjalan, ketika Mia melihat tanda-tanda Pak Rahmat akan terbangun.  Mia yang bersandar di sebelah Pak Rahmat, buru-buru menyandarkan kepalanya di bahu kanan Pak Rahmat, berpura-pura tertidur di samping bandot tua itu.

 

Benar saja, tak lama kemudian badan Pak Rahmat bergerak-gerak.  Menyadari Mia yang bersandar di pundaknya, Pak Rahmat tidak berani banyak bergerak takut Mia terbangun. Tidur Pak Rahmat terasa nyaman, apalagi dua kali dia orgasme.  Memang dia tidak bisa tidur lama karena faktor usia.  Tapi setelah apa yang dilakukan gadis remaja cantik seperti Mia, jelas Pak Rahmat sekarang merasa menjadi muda kembali.  Mia sengaja menaruh tangan kirinya di atas penis Pak Rahmat yang tergeletak lemas.  Yang kini berangsur-angsur mengeras karena kini Pak Rahmat sadar, penisnya bersentuhan dengan tangan halus Mia.

“hmm...,” Mia pura-pura mengigau, sedangkan tangannya seakan-akan dalam mimpinya sedang menggenggam sesuatu.  Digenggamnya penis Pak Rahmat.  Pak Rahmat mengerang enak.  Baru bangun langsung dapet rejeki nomplok.  Pantatnya digeser biar mendapat posisi nyaman ketika penisnya digenggam Mia dalam “mimpi”nya.  Mia pun seakan tahu lawannya ini mulai horny.  Karena penis dalam genggaman tangannya mulai membesar.  Seakan-akan tanpa sadar, Mia mengusap kepala penis Pak Rahmat dengan telunjuknya.  Menyusuri belahan lubang kencing Pak Rahmat.  Pak Rahmat memejamkan mata menikmati elusan jari Mia.  Tangan kiri Pak Rahmat mulai melakukan aksinya juga. Meraba paha kiri Mia, berusaha menyibakkan rok Mia sehingga tangannya leluasa mengelus paha putih Mia.  Pak Rahmat mengelus paha mulus Mia dengan hikmat.  Menikmati setiap inci paha Mia yang mulus.  Mia membiarkan saja hal itu, bahkan Mia semakin menggenggam kencang penis Pak Rahmat yang kian besar.  Mia merasakan sedikit geli-geli enak ketika pahanya dielus tangan kasar Pak Rahmat.  Tangan Pak Rahmat semakin berani, kini bergerak menuju pangkal selangkangan Mia, mendekati celana dalam merah Mia.  Mia tetap membiarkan Pak Rahmat.  Jari-jari Pak Rahmat berusaha menyusup melalui celah-celah pinggiran celana dalam Mia.  Beberapa bulu halus Mia tersentuh oleh jari Pak Rahmat.  Membuat Mia sedikit bergetar sehingga menggenggam penis Pak Rahmat semakin kuat.  Ketika jari-jemari Pak Rahmat semakin banyak menembus masuk.  Mia mulai pura-pura terbangun

 

“eeghh...,” suara Mia terdengar lirih seakan-akan baru saja bangun.  Pak Rahmat segera menghentikan aksinya. 

“Eh maaf Pak Rahmat,” Mia pura-pura ketika mendapati tangannya sedang memegang penis Pak Rahmat.

“Ga apa-apa, Non,” ujar Pak Rahmat tersenyum, terlihat sekali wajahnya menahan birahi.

“Abis kontol Pak Rahmat enak untuk dipegang, kenyal-kenyal gitu,” Mia berkata dengan tersipu malu.

Pak Rahmat jelas senang mendengarnya.

“Ya kontol bapak boleh Non pegang kok kapanpun Non mau,” Pak Rahmat tertawa kecil.

“Ah bapak bisa aja menggoda aku,” cubit Mia pada pinggang Pak Rahmat.  Agak sakit sebenarnya, tapi laki-laki mana yang tidak akan senang dicubit oleh gadis cantik seperti Mia.

“Kalo bapak boleh pegang memek Non, ga?” Pak Rahmat bertanya dengan memberanikan diri.

Mia berpikir keras dalam hati.  Sebenarnya tidak mau, tapi sudah kepalang tanggung.

“Hmm..bapak menggoda aku terus deh,” jawab Mia malu-malu.

“Ya kan biar adil, Non,” seringai mesum mewarnai wajah Pak Rahmat.

“Hmmm..tapi dari luar aja ya, Pak,” Mia sudah membulatkan tekad.

 

Bagai disambar petir kenikmatan, tentu saja Pak Rahmat girang bukan main.

“Tapi pelan-pelan ya, Pak.  Vagi..memek aku belum pernah disentuh siapapun,” Mia berkata manja.

“Masa sih belum pernah disentuh siapapun, Non?” Pak Rahmat heran.

Mia mengangguk malu.

“Jangan khawatir, Non.  Bapak orangnya lembut kok,” libido Pak Rahmat memanas di ubun-ubun kepalanya.

Dasar bajingan tua, itulah balasan Mia dalam hati.

 

Mia merasa cemas dan agak takut ketika jari Pak Rahmat dengan perlahan mulai mendekati celana dalamnya.  Ya gila aja, aku membiarkan seorang pria, uda tua lagi menyentuh vaginanya, meskipun dari luar. Tetap saja ini gila.

Pak Rahmat mulai menyentuh celana dalam Mia, terasa bulu-bulu halusnya dari balik celana dalam Mia yang tipis.  Pak Rahmat mulai menekan-nekan jarinya, mencari-cari dimana belahan vagina Mia.

Mia memejamkan mata.  Cemas, takut dan geli bercampur jadi satu.

 

Pak Rahmat mulai bisa menemukan kira-kira dimana bibir klitoris Mia dari balik celana dalamnya.  Dia mulai menekan-nekan jari hitamnya disana.  Mia menggigit bibir bawahnya ketika terasa olehnya jari-jari Pak Rahmat menekan-nekan belahan vaginanya.  Geli rasanya, tapi nikmat.  Mia berusaha keras untuk tidak mengeluarkan suara rintihan, ketika jari Pak Rahmat mulai menggesek-gesek secara vertikal belahan vaginanya.  Terasa bibir vaginanya membuka oleh gesekan jari Pak Rahmat.  Mia semakin kuat menggigit bibir bawahnya.  Menahan rangsangan yang baru pertama kali dia rasakan saat vaginanya disentuh dan digesek oleh jari-jari hitam seorang pria.  Mia mulai kembali membayangkan bahwa Anto yang melakukan hal itu.  Mia tidak kuat ketika jari-jari Pak Rahmat menggesek-gesek lebih cepat belahan vaginanya.  Mia merasa belahan vaginanya seperti terbuka lebih lebar.  Mia merasa sedikit basah disana.

“Non, kakinya dibuka dong, biar bapak lebih gampang menyentuh memek Non,” ucap Pak Rahmat yang merasa bahwa selangkangan Mia basah karena rangsangannya.

 

Seperti minta perlakuan lebih dari Pak Rahmat, Mia melebarkan pahanya.  Sehingga ketika jari Pak Rahmat menekan dan menggesek vaginanya, terasa lebih mengena lubang kemaluannya.

“Aahhh, pak!” Mia akhirnya mendesah sambil memeluk tangan Pak kiri Pak Rahmat.  Menahan sensasi enak yang belum pernah dia rasakan.

Pak Rahmat semakin bersemangat.  Jempolnya semakin menekan-nekan vagina gadis cantik yang terlihat seperti sedang terangsang ini.  Desahannya membuat penis Pak Rahmat berdiri keras.

 

Pak Rahmat menekan, menggesek vagina Mia. Pak Rahmat bisa mengira-ngira mana ujung vagina bawah dan atas Mia sehingga membuat Mia menggelinjang dan selangkangannya semakin basah, terlihat dari celana dalam merahnya.  Noda-noda basah di sekitar pijatan jari Pak Rahmat.  Gerakan jari Pak Rahmat semakin licin karena basahnya vagina Mia. Sehingga tak lama, Mia merasakan dorongan seperti ingin pipis pada vaginanya.  Mia tidak kuasa menahan dorongan itu. 

“Aaah Pak,” diiringi oleh erangan Mia, vagina Mia mengalami orgasme yang belum pernah Mia rasakan.  Rasanya benar-benar enak meskipun kepala Mia sedikit berdenyut-denyut.

Setelah berhasil meredakan nafasnya yang memburu.  Mia merasa menyesal, kenapa dirinya malah yang terbawa arus dan ronde ini Mia kalah oleh Pak Rahmat.  Dasar tua bangka.



#40 mandekuhot

mandekuhot

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 6 posts

Posted 21 August 2017 - 04:33 PM

Mantap ceritanya lanjutkan