hit counter code



Jump to content


Situs Judi Bola

ss Situs Judi Bola Situs Judi Bola ss

ingin beriklan? hubungi kami: email : megalendir@gmail.com , big.lendir@yahoo.com atau Skype : big.lendir@yahoo.com

ss ss ss
ss ss ss
vert
vert
Photo
- - - - -

Escape


  • Please log in to reply
53 replies to this topic

#41 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 23 August 2017 - 02:37 PM

ESCAPE CHAPTER FOURTEEN

 

DAY 4

 

Wajah Pak Rahmat tampak bangga dan horny.  Bangga karena berhasil membuat Mia seorang gadis cantik mencapai orgasme.  Horny karena desahan dan ekspresi wajah Mia ketika orgasme begitu sensual.  Membangkitkan gairah mudanya.

 

Mia sendiri masih sedikit termenung, kenapa dia bisa begitu terlena terbawa arus rangsangan Pak Rahmat.  Mungkin karena pertama kali, alat kemaluannya disentuh seorang pria.  Hmm, mungkin karena itu.  Karena tidak mungkin kalo aku suka sama pria tua brengsek ini, orang yang menculiknya.  Pasti  karena ini pengalaman pertamaku, sehingga aku begitu terbawa birahi dan tidak bisa menahan diri, sehingga aku orgasme.  Mengingat orgasmenya tadi, Mia jadi jengah.  Masih terasa selangkangannya basah dan gerah.  Aku tidak boleh kalah untuk lain kali.  Aku harus bisa menahan nafsuku.  Masa aku bisa kerangsang oleh bandot tua ini.  Sambil berpikir begitu, Mia menatap penis Pak Rahmat yang kembali panjang.  Aku harus balas dendam.  Aku mau dia yang bertekuk lutut padaku, bukan sebaliknya.

 

Terlihat mata Pak Rahmat menelusuri lekuk-lekuk tubuh Mia yang jelas tidak tertutup banyak oleh kondisi pakaiannya.  Ingin sekali Pak Rahmat merenggut celana dalam Mia dan memasukkan penisnya ke dalam vaginanya yang Pak Rahmat yakin, masih perawan.  Tapi aku harus menahan diri, putus Pak Rahmat.

 

Melihat Pak Rahmat sedang menatap tubuh setengah telanjangnya.  Mia memutuskan untuk balas dendam.  Sudah tanggung aku seperti ini, aku harus total melakukannya agar dia menyerah padaku.  Yang penting aku bisa mempertahankan kehormatanku dan kabur dari sini.  Dan segera bertemu Anto. 

“Paaakk...” Mia berkata manja.

“Apa, Non?” suara Mia terdengar sangat erotis dalam telinga Pak Rahmat.

Mia mencubit perut Pak Rahmat.

“Bapak sudah bikin Mia keenakan,” Mia memasang wajah malu.

“hehehe...” Pak Rahmat terkekeh senang.

“Bapak seneng kok liat Non mendesah keenakan seperti tadi,” Pak Rahmat mengingat kejadian tadi, membuat penisnya berdiri menegang dalam posisi menyandarnya di tembok.

“iiih bapak,” kini Mia tidak mencubit perut Pak Rahmat yang buncit.  Tapi mencubit buah zakarnya. Kontan Pak Rahmat girang.  Mau lagi kayaknya nih si Non, begitu pikirnya.  Tapi Pak Rahmat kaget begitu Mia langsung menyorongkan kepalanya, menciumi buah zakarnya yang tadi dicubit.

 

“AAAAhhh, Non,” jerit Pak Rahmat kaget dan bercampur geli-geli nikmat. Lidah Mia membasahi kantong buah zakarnya.  Mia tidak peduli lagi dengan bulu-bulu halus Pak Rahmat yang mengenai mulut dan pipinya yang halus.  Dengan liar, Mia mencium dan menjilati buah zakar Pak Rahmat.  Katanya kalo dihisap, pria akan tambah kerangsang.  Mia berpikir kenapa tidak, kali ini dia yang harus kalah.  Mia langsung membuka mulut mungilnya.  Menjepit salah satu seperti tonjolan pada kantong selangkangan Pak Rahmat itu, dan Mia mulai menjepitnya dengan bibirnya dan lidahnya menggelitik tonjolan yang kini ada di dalam mulutnya.

 

“Aaaahhh Non, enak banget,” Pak Rahmat menggelinjang.  Beberapa kali pantatnya terangkat menahan rasa enak yang luar biasa.  Bagaimana tidak bagaikan di surga.  Wajah Mia yang putih cantik sedang berada di tengah-tengah selangkangannya yang berkulit coklat.  Sedang mengulum salah satu buah zakarnya dengan bibirnya yang mungil dan hangat.  Membasahi kantong bijinya dengan air liurnya.  Tapi Pak Rahmat lebih mengejang lagi ketika tiba-tiba mulut Mia beralih ke kepala penisnya.  Menjepit kepala penisnya dengan bibirnya yang lembut.

 

“OOOhhh, Non,” Pak  Rahmat hanya bisa merintih dan mendesah.  Menikmati setiap detik, mulut Mia yang mengerjai alat kemaluannya.

Ya, Mia bertekad harus menang.  Segala upaya dia lakukan agar Pak Rahmat kalah telak.  Dan benar saja, ketika Mia baru saja beberapa kali menjepit kepala penis Pak Rahmat yang licin dan kenyal.  Mia merasakan penis tua itu berkedut-kedut. Hanya sayangnya Mia kurang cepat.  Sperma Pak Rahmat keburu muncrat sebagian dalam mulut Mia sebelum Mia sempat melepaskan penis Pak Rahmat dari mulutnya.  Dan sebagian sempat menyemprot bibir Mia sebelum kepala Mia menjauh.  Mia merasakan rasa yang kecut seperti cairan pemutih dalam mulutnya.  Terasa menempel di rongga-rongga langit mulutnya.  Mia berusaha membuang pejuh Pak Rahmat dengan meludah, tapi dia takut Pak Rahmat tersinggung, dan rencananya malah gagal.  Jadi Mia berusaha  memainkan lidahnya, menyapu rongga mulutnya.  Terasa lengket, dengan memejamkan mata, Mia beberapa kali berusaha menelan ludah.  Berharap sperma Pak Rahmat ikut terbawa masuk ke dalam. Daripada masih bertahan di dalam mulutnya.

 

Pak Rahmat menganggap Mia menyukai spermanya makanya Mia sampai menelannya.  Membuat dia girang bukan main.  Baru kali ini ada gadis mau menelan spermanya. Istrinya Mirna pun belum pernah. Ditambah ini bukan sekedar gadis.  Tapi gadis yang sangat cantik.  Benar-benar sangat beruntung dirinya.  Sperma yang menempel di bibir Mia kini menuruni dagunya dan pelan-pelan jatuh ke kasur.  Benar-benar pemandangan yang menggairahkan.  Ingin sekali lagi Pak Rahmat muncrat, namun terasa sangat lelah.  Pak Rahmat menyandarkan punggungnya ke tembok.

 

“Enak peju bapak, Non?” tanyanya sambil tersenyum lelah.  Wajah mupengnya masih jelas terlihat meskipun wajahnya terlihat capek.

Dia menyangka aku suka spermanya.  Mumpung sudah tertelan sebagian.  Terpaksa menelannya sebenarnya.  Mia tidak mau rugi.

“Iya Pak, Mia senang banget. Kan sperma bapak bergizi,” jawabnya sambil tersenyum manis berharap Pak Rahmat menyangka Mia sudah menyerah diri padanya.

 

Pak Rahmat senang sekali mendengar jawaban Mia.  Dia mengangguk-angguk sambil tersenyum.

Mia duduk bersimpuh di samping Pak Rahmat.  Mulutnya masih terasa ada yang lengket-lengket.  Mia ingin mencoba sesuatu

“Pak Rahmat, bisa ga bukain borgol kaki Mia?  Abis Mia pegel kakinya ga bisa bebas,” mohon Mia.

Pak Rahmat diam, menimbang-nimbang.

“Tapi janji ya Non ga akan bertindak yang aneh-aneh,” tanya Pak Rahmat.

“Janji pak. Aku hanya pegel aja. Lagian kan tangan Mia masih terborgol.  Kecuali bapak mau lepasin juga borgol di tangan Mia,” Mia yakin permintaan yang itu tidak akan dikabulkan.

“Hmmm ga ah kalo yang tangan, tapi kalo yang kaki, bapak lepasin,” Pak Rahmat dengan langkah gontai menuju lemari dekat kasurnya di ujung ruangan.  Mengambil kunci.  Lalu berjongkok di dekat kaki Mia dan melepaskan gembok di kedua kaki Mia.  Lalu dia menarik rantai yang terkait di kaitan di tembok dan membawa rantai dan gemboknya, dimasukkan ke lemari dekat kasurnya. 

 

Lumayan, pikir Mia.  Kakiku bisa bebas.  Berarti dia sudah melunak.  Rencanaku berhasil.  Pak Rahmat yang masih telanjang bulat kembali duduk di kasur dekat Mia dan menyandarkan punggungnya di tembok.

“Makasih ya Pak Rahmat,” ujar Mia manja dan sambil menyandarkan tubuhnya di paha Pak Rahmat yang kakinya sedang diselonjorkan lurus.  Kepala Mia begitu dekat dengan penis Pak Rahmat.

Mia memasang senyumnya lagi.

“Enak yah pak muncratnya tadi?” pancing Mia.

“Enak banget Non,” sambil menatap wajah cantik Mia yang sedang bersandar manja di pahanya yang berbulu lebat.

“Bapak tinggal disini sendirian?” Mia mulai mengorek-ngorek informasi.

Wajah Pak Rahmat yang lemas terlihat sedih.  Tapi dia tetap menjawab

“Sama keluarga saya, Non. Tapi istri dan anak saya sudah meninggalkan saya,” geramnya.

“Kenapa, pak?” Mia terus bertanya.

“Karena saya pengangguran, Non,” jawabnya agak enggan.

“Kenapa bapak bisa dipecat papa?” Mia memberanikan diri bertanya lebih jauh.

“Karena saya tau rahasia papa tiri Non,” wajahnya tidak terlihat lemas lagi tapi tampak gusar.

“Rahasia apa gitu, Pak?” untuk mengurangi amarah Pak Rahmat takutnya dia nanti malah berbuat nekad pada Mia. Mia mengelus-elus paha Pak Rahmat sambil sesekali menyentuh penis dan buah zakarnya.

 

Benar saja, ekspresi marah Pak Rahmat sedikit berkurang, diganti dengan ekspresi geli enak.

“Hmm...tapi Non jangan marah ya, kalo saya cerita tentang rahasia papa Non,” jelas Pak Rahmat sudah tidak fokus ketika jari mungil Mia bermain di celah antara pahanya dan buah zakarnya.

Mia mengangguk sambil sesekali memilin bulu-bulu halus di kemaluan Pak Rahmat.

“Papa Non itu sering maen cewek dan punya banyak simpanan,” jelas Pak Rahmat kemudian.  Kini tangan Pak Rahmat yang tidak diam.  Mulai mengelus perut atas Mia yang mulus.  Mia membiarkan hal itu.  Pria yang terangsang lebih gampang dimanipulasi.

“Kan memang papa dulu duda, wajar dong maen cewek?” Mia merasakan tangan Pak Rahmat mulai bergerak ke atas, mengelus belahan payudaranya bagian bawah.

“Kalo itu saya juga maklum, Non. Tapi ini...,” Pak Rahmat agak bimbang untuk melanjutkan.

“Tapi apa, pak?” Giliran Mia yang mengelus perut buncit Pak Rahmat.  Tangan Pak Rahmat berhenti di atas payudara kanan Mia.

“Tapi setelah menikah dengan mama Non.  Papa Non masih maen cewek dan punya simpenan,” lanjut Pak Rahmat.  Penisnya yang sudah berdiri tegak,  beberapa kali tersentuh lengan Mia yang sedang meraba-raba bulu halus di bawah pusar Pak Rahmat.

 

Mia kaget mendengar perkataan Pak Rahmat.  Ternyata papa tirinya setega itu pada mama. 

“Nah saya sebagai orang yang sudah berkeluarga.  Saya merasa ga enak, saya pernah suatu kali bilang pada papa Non.  Kasian pak, Ibu Mel,”  pandangan Pak Rahmat menatap langit-langit ruangan seakan-akan sedang membayangkan peristiwa yang sedang diceritakannya.

“Papa Non malah marah.  Dan ga lama setelah itu saya dipecat,” lanjut Pak Rahmat, kini matanya memandang Mia yang terlihat geram mendengar cerita Pak Rahmat.

 

Ternyata Pak Rahmat perhatian juga pada mamanya.  Hati Mia sedikit merasa kasihan.  Dengan lembut disentuhnya penis Pak Rahmat.  Dicium oleh Mia dengan lembut.  Biarlah aku berterima kasih untuk perhatian bandot tua ini.  Bibir Mia menelusuri batang Pak Rahmat dari kepala sampai pangkal penisnya.  Membasahinya dengan air ludahnya.  Tangan mungil Mia memainkan puting kanan Pak Rahmat.  Memilinnya seperti Pak Rahmat memilin putingnya waktu itu. 

 

Mia tidak perlu memegang penis Pak Rahmat yang sudah ngaceng berat. Penis itu tertahan oleh wajahnya ketika Mia beberapa kali menjepit batang Pak Rahmat dengan bibirnya.  Pak Rahmat menikmati sambil memejamkan mata, tangannya pun mulai meremas payudara Mia dan memilin-milin putingnya.

 

Mia mendesah pelan.  Kini mulut Mia mulai mengulum kepala penis Pak Rahmat.  Terasa paha Pak Rahmat menegang ketika mulut mungil Mia mulai masuk lebih dalam.  Kini seluruh kepala penisnya berada dalam mulut Mia yang hangat.  Mia belum berani untuk memasukkan penis besar itu lebih dalam ke dalam mulutnya.  Biarlah kini aku melakukan hal ini demi membalas sedikit perhatian Pak Rahmat pada mamanya. Mia mencoba memainkan lidahnya menyapu kepala penis Pak Rahmat.  Desahan Mia tertahan ketika Pak Rahmat menjepit puting kanannya dengan jari telunjuk dan jari tengah Pak Rahmat.  Jari-jari Pak Rahmat menggesek puting sensitif Mia sehingga mengeras.  Mia mulai terbawa nafsu.  Untuk saat ini, dia tidak mencoba untuk menanggap ini penis Anto.  Bibir Mia menjepit.  Kepala Mia digerakkan naik turun sehingga bibir hangatnya menggesek kepala penis Pak Rahmat.

 

Mia sudah siap apabila sperma Pak Rahmat tiba-tiba muncrat.  Untuk kali ini aku akan menikmati menelan pejunya.  Amarahnya pada papanya dan simpatinya pada Pak Rahmat membuat Mia bersikap seperti itu.

Ketika tak lama penis Pak Rahmat mulai berkedut-kedut.  Remasan pada payudara kanan Mia semakin keras.  Mia siap-siap menerima muncratan sperma Pak Rahmat.  Satu kali tembakan terasa sekali mengenai langit-langit mulutnya.  Pak Rahmat kelojotan.  Tembakan kedua semakin membuat mulut Mia terasa lengket dan hangat.  Semprotan-semprotan berikutnya tidak terlalu terasa hanya Mia merasakan mulutnya lengket.  Air ludahnya bercampur dengan sperma Pak Rahmat.  Mia membuka mulutnya, ingin memperlihatkan sperma Pak Rahmat yang berada dalam mulutnya yang mungil.  Pak Rahmat masih merasakan sisa-sisa nikmatnya orgasme barusan.  Penisnya terasa geli lagi ketika melihat spermanya menempel di lidah Mia lalu Mia menutup mulutnya dan berusaha menelan sperma Pak Rahmat masuk ke dalam kerongkongannya.  Rasanya masih sama seperti cairan pemutih. 

 

Jelas Pak Rahmat semakin yakin Mia sudah tunduk padanya.  Mia pun yakin bahwa Pak Rahmat akan berada dalam kontrolnya.  Ronde kali ini bonus untuk Pak Rahmat, tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang.  Dan amarah Mia bukan pada Pak Rahmat sekarang tapi pada papa tirinya, Budianto.



#42 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 25 August 2017 - 09:47 AM

ESCAPE CHAPTER FIFTEEN

 

DAY 6

 

Hari sudah malam ketika Mia akhirnya bisa kembali ke rumah.  Rumah Mia berada di ujung jalan yang buntu.  Jadi tidak banyak orang yang lalu lalang.  Rumah dua tingkatnya terlihat sangat besar sekarang bagi Mia.  Mia mengenakan kaos dan celana olahraganya yang masih disimpan di tas sekolahnya.  Kemeja dan rok abu-abunya dia masukkan ke dalam tasnya.  Menunggu dibukanya pintu setelah dia memencet bel, jantung Mia berdebar-debar kencang entah kenapa.  Mungkin karena akhirnya dia berhasil pulang kembali ke rumah setelah bersama Pak Rahmat hampir satu minggu lamanya.

 

Ternyata Melina, mama Mia yang membukakan pintu.  Langsung memeluknya tanpa bicara sepatah katapun, membawanya ke kamar Mia.  Sesampai di kamar.  Melina langsung memeluknya lagi.

“Kamu ga kenapa-kenapa kan, Mia?” tanyanya dengan wajah khawatir bercampur lega.  Mia memeluk mamanya dengan erat.  Mia menangis di pundak mamanya. 

“Kamu kemana aja, Mia.  Mama khawatir sekali,” Melina mengelus-elus rambut panjang Mia.  Mia merasa sangat lega bisa kembali ke rumah.  Mia sekali lagi menumpahkan air matanya.  Melina tetap diam, mengelus-elus punggung Mia.  Setelah tangis Mia sedikit mereda.  Melina menyuruh Mia duduk di ranjangnya.  Melina duduk disampingnya.

“Apa yang terjadi, Mia?” Melina bertanya sambil mengusap air mata di pipi Mia.  Masih dengan sedikit terisak, Mia menceritakan segalanya.  Tapi belum menceritakan perihal papa tirinya.  Melina mendengarkan tanpa mengucapkan sepatah katapun.  Tentu saja Mia tidak menceritakan tentang penis Pak Rahmat dan bagaimana dia sudah disuruh mengocok, menerima sperma laki-laki itu dan lain-lainnya yang berkaitan dengan hal seks. 

 

“Kamu tidak diapa-apakan ama bajingan itu, kan?  Maksud Mama..,” Melina melirik selangkangan Mia.  Mia cepat-cepat menggeleng. 

“Untung tidak Ma.  Mia masih perawan kok,” jelas Mia menenangkan mamanya.

“Tapi Ma, ada sesuatu yang harus Mia ceritakan soal papa,” lanjutnya kemudian.

“Tentang apa?” Melina menatap anaknya.  Lalu Mia menceritakan apa yang sudah diceritakan Pak Rahmat padanya.  Melina terdiam seribu bahasa mendengar penuturan anaknya.  Melina terlihat seperti merenung.

“Mama ga apa-apa kan?” Mia menggenggam tangan mamanya.  Melina menggeleng.  Melina tidak ingin memperlihatkan gemuruh amarahnya pada Mia.

“Semua pada nyariin Mia ya, Ma? Karena Mia ga pulang hampir seminggu,” Mia bersandar pada pundak mamanya.

“Kita kan masih baru di sini.  Mama ga mau bikin semua orang khawatir.  Jadi mama bilang Mia pulang ke Garut merawat Oma lagi sakit.  Tapi mama tentu saja khawatir dengan menghilangnya kamu.  Mama ada menyewa seorang detektif untuk nyari keberadaan kamu,” jelas Melina pada anaknya sambil mengusap rambut anaknya lagi.

“Jadi ga ada yang tau kalo kamu ternyata diculik orang.  Ada teman sekolah kamu yang tiap hari datang, nanyain kamu.  Anto kalo ga salah namanya.  Ya mama jelasin aja kalo kamu lagi ke Garut,” lanjut Melina.

 

Mendengar nama Anto disebut, apalagi ternyata Anto begitu mengkhawatirkannya, membuat hati Mia berbunga-bunga.  Mia ingat janjinya, bila dia berhasil lolos, dia akan menyatakan cintanya pada Anto.

“Kamu istirahat dulu ya, nak,” Melina memegang kedua bahu Mia lalu mendorongnya agar rebahan di ranjang.

“Mama mau nelpon Om Dodi dulu,” ujarnya.

“Siapa Om Dodi, Ma?” tanya Mia merasa sangat nyaman berbaring di ranjangnya.

“Itu detektif yang mama bilang tadi.  Mama mau ngasi tau kamu uda di rumah,” Melina tersenyum hangat pada Mia.

 

Setelah ditinggal mamanya, Mia menatap langit-langit kamarnya.  Ternyata aku kangen juga dengan kamarku.  Selain aku kangen dengan mama dan tentu saja Anto.  Membayangkan kembali perkataan mamanya tentang Anto yang setiap hari datang ke rumah menanyakan keberadaannya, membuat rasa cinta Mia pada Anto semakin bertambah.  Hatinya berbunga-bunga.  Besok aku harus ketemu Anto.  Saking lelahnya, tanpa terasa Mia tertidur pulas. Mimpinya campur aduk.  Ada Anto, ada Pak Rahmat dan penisnya.  Mia bugil, disampingnya ada Anto dan Pak Rahmat yang juga bugil.  Mimpi yang sangat melelahkan.

 

DAY 7

 

Ketika Mia bangun, Melina lagi duduk di tepi ranjang.

“Ma,” Mia tersenyum.  Enak rasanya bangun melihat mama.  Seminggu ini tidak ketemu mama.  Mia langsung beranjak memeluk mamanya.

“Gimana perasaan kamu sekarang?” Melina memegang pipi kiri Mia. “Kamu aman sekarang, nak.”

“Iya ma,” angguk Mia. “Mia lapar, Ma.”

“Nih mama uda bikin nasi goreng buat kamu,” Melina menyodorkan satu piring nasi goreng.

Melina melihat anaknya dengan lahap makan nasi goreng.

“Kamu yakin ga diapa-apain sama bajingan itu kan?” tanya Melina tiba-tiba.

“Ga, Ma.  Aku bisa menjaga kehormatan aku kok.  Lagipula kayaknya Pak Rahmat tidak bermaksud mencelakai aku,” teringat Mia bagaimana tubuhnya dielus-elus dan dia melayani penis Pak Rahmat.  Tapi dia memutuskan untuk tidak menceritakan hal itu pada mamanya.

Mendengar jawaban yakin Mia, Melina terlihat lega.

 

“kamu nyantai aja di kamar.  Mama uda bilang sama papa dan Susanto kalo kamu uda pulang dari Garut.  Lagian mereka uda pergi sekarang.”

Abis makan, Mia pengen showeran di kamar mandi.  Ketika pancuran air hangat menyirami tubuhnya, Mia merasa sangat nyaman.  Enaknya mandi air hangat.  Disentuhnya kedua payudaranya.  Entah kenapa Mia tiba-tiba ingat ketika tangan Pak Rahmat yang kasar meremas payudaranya.  Masih terasa sentuhan Pak Rahmat pada payudaranya.  Dasar bajingan tua.  Mia berusaha mengenyahkan pikiran itu.  Mia melanjutkan mandinya.

 

“Ma, Mia mau ke rumah Anto ya,” Mia sudah mengenakan kaos santai dan celana jeans sampai lutut.

“Lho emang Anto ga sekolah, Mia?” tanya Melina.

“Oh iya yah,” Mia lupa kalo sekarang hari sekolah.  Mia tertawa dalam hati, saking rindunya pada Anto, Mia sampai lupa hal itu.  Akhirnya Mia malah nemenin mamanya nonton tivi di ruang tamu.  Ketika pandangan Mia melihat foto pengantin Melina dan Budianto.  Mia geram.  Dasar pembohong.  Apalagi melihat senyum Budianto, Mia tambah muak.  Beraninya selingkuh dari mama.

“Ma, mama ga marah kalo pa..eh Budianto selingkuh dari mama?” tanya Mia tiba-tiba sambil menatap mamanya.

“Marah lah, Mia. Tapi mau bagaimana lagi, mama kan sudah nikah ama dia.  Kita juga dihidupi oleh dia,” Melina berkata dengan wajah pasrah.

Kasian mama.  Pasti dia memikirkan masa depanku sampai rela dimadu oleh Budianto bajingan itu.  Mia memeluk mamanya.

“Gimana kalo kita balas dendam, Ma.  Masa kita biarkan saja digituin ama si brengsek itu?” Wajah Mia berada dekat leher Melina.

“Maksud kamu, Mia?”  Melina bertanya dengan heran.

 

“Aku ada cara, tapi mama harus percaya ama aku. Aku tidak rela Mama disakiti oleh laki-laki bodoh itu,”  Mia kini menatap Melina dengan pandangan marah.

“Setelah dulu papa juga selingkuh dari mama,” Mia tahu betul kalo papa kandungnya juga melakukan hal itu pada mamanya.  Makanya Mia sangat marah mengetahui kalo Budianto juga selingkuh dari mamanya.

Melina menatap dalam-dalam mata Mia. 

“Udalah Mia. Lupakan saja.  Anggap saja ini memang nasib kita.  Yang penting kita bisa hidup dengan layak sekarang,” sahut Melina sambil mengusap pipi anaknya.

 

Mendengar perkataan Mamanya, Mia tambah tidak rela, dia tambah penasaran ingin melakukan sesuatu pada Budianto.  Demi dirinya, mamanya rela diperlakukan demikian.  Sangat tidak adil.  Dada Mia dipenuhi rasa amarah yang luar biasa.  Aku rela melakukan apapun demi kebahagiaan mama.  Dengan rasa marahnya yang meluap, membuat Mia semakin yakin ingin melakukan sesuatu untuk balas dendam.

Tapi sebelum melakukan itu, Mia ingin sekali bertemu Anto.  Sore ini Mia akan ke rumah Anto.



#43 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 27 August 2017 - 12:42 AM

ESCAPE CHAPTER SIXTEEN

 

DAY 7

 

Menunggu sore, Mia bersantai di kamarnya yang nyaman, jauh apabila dibandingkan dengan tempat dia menghabiskan satu minggu kemaren.  Mia berbaring telungkup sambil browsing di internet.  Kemewahan yang tidak bisa dia lakukan belakangan ini.  Seperti terkenang-kenang kejadian dengan Pak Rahmat, Mia mencari-cari gambar-gambar yang berbau seks di dunia maya.  Kini sudah tidak aneh bagi Mia, melihat berbagai foto penis di layar laptopnya.  Aku sudah pernah melihat aslinya, memegangnya, memasukkan ke dalam mulut dan menerima spermanya.  Ada sedikit rasa bangga pada diri Mia. Rasa bangga yang menggelikan.  Membuat selangkangannya gatal.  Mia mengambil guling dan menjepitnya dengan kedua pahanya yang memakai hot pants.  Selangkangannya terasa lebih nyaman.  Dadanya yang sebelum ini selalu terbuka sekarang tertutup kaos tanpa memakai bra.  Ketika melihat foto dua orang yang sedang bersetubuh, puting susu Mia pun ikut bereaksi. Mengeras.  Mia merasa sebagai orang yang berbeda ketika melihat hal-hal berbau seks.  Aku sudah bukan bau kencur lagi, batinnya.  Mia tersenyum kecil.  Gila aku rupanya.  Diculik orang kok, malah merasa sedikit beruntung karena merasa sudah mengenal seks.  Selintas teringat penis Pak Rahmat yang besar dan panjang.  Dienyahkan oleh Mia cepat-cepat pikiran itu.

 

Ketika kira-kira sekitar jam 3, Mia merasa sudah waktunya ke rumah Anto, karena biasanya memang jam segini Mia sudah pulang sekolah.  Kemungkinan besar Anto pun sudah pulang ke rumah.  Mia ingin tampil cantik untuk Anto.  Hmm, mungkin sedikit seksi.  Mia merasa ingin memperlihatkan keseksiannya.  Mia ingat, dia punya celana hot pants warna pink. Ga pendek-pendek amat tapi cukup memperlihatkan pahanya yang putih.  Kenapa Mia jadi begini ya? Dia juga bingung. Kenapa dia ingin memperlihatkan keseksian tubuhnya pada Anto.  Ini pasti gara-gara disekap oleh Pak Rahmat dengan pakaian yang begitu terbuka.  Dilihat oleh Pak Rahmat aja pernah, masa untuk Anto, Mia tidak mau memperlihatkan keseksian tubuhnya, begitu pikiran Mia.  Baju atasnya kaos biasa.  Namun kembali Mia berpikir nakal, warna kaosnya hitam.  Kalo dia tidak pakai bra, tentu tidak terlalu kentara oleh Anto.  Dinaikkannya kaos bagian bawahnya, sehingga Mia bisa membuka bra-nya dan Mia melihat di kaca, payudaranya yang sedang dengan puting warna pink-nya.  Cukup menggoda, Anto pasti tambah kesengsem ama aku, batin Mia sambil tersenyum.  Tersenyum penuh arti.

 

Begitu Mia membuka pintu gerbang.  Mia kaget melihat ternyata Anto sedang berdiri di depan rumahnya, tangannya pas sekali mau memencet bel.  Mia merasa sedikit panik.  Mia menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat tidak ada seorang pun, Mia langsung menarik tangan Anto masuk ke dalam dan mengunci gerbangnya.  Anto sedikit kaget ketika ditarik Mia.  Anto lebih kaget lagi ketika tubuhnya langsung dipeluk Mia erat-erat.  Anto kikuk, bingung harus bagaimana.  Dia belum pernah dipeluk oleh seorang gadis.  Sekarang seorang gadis cantik, pujaan hatinya sedang memeluknya.  Namun dasar masih remaja, kekenyalan dada Mia yang menempel di dadanya, malah membuat penisnya di balik celana abu-abunya berontak.  Mia bisa merasakan penis Anto menekan pahanya.  Anto malu sedangkan Mia bukan anak kemaren sore lagi.  Mungkin dulu Mia akan merasa malu.  Memeluk seorang laki-laki tidak pernah dilakukan oleh Mia.  Tapi kini dia melakukannya.  Dia melakukannya karena dia kangen sekali Anto.  Hanya Anto yang ada di dalam pikirannya ketika disekap Pak Rahmat.  Memikirkan Anto lah yang membuat dia bisa kuat bertahan.  Jadi wajar dong kalo dia merasa berterima kasih dengan memeluk Anto.  Memberikan kehangatan tubuhnya dan tentu saja merasakan hangatnya tubuh Anto, laki-laki yang disukainya. 

 

Anto masih bingung harus bagaimana.  Untung Mia sudah melepaskan pelukannya, kini menggandeng tangan Anto untuk masuk ke dalam rumah Mia.

“Anto, aku kangen banget ama kamu,” ketika Anto sudah duduk di sofa.  Mia pun tidak segan-segan mengambil tempat duduk di samping Anto.  Lutut mereka bersentuhan.  Anto kembali kikuk, apalagi dia melihat paha putih mulus Mia yang semakin terlihat karena hot pants tertarik ke atas karena Mia duduk.  Beberapa kali mata Anto mengerling paha Mia.  Dasar mesum, pikir Anto.  Aku kesini kan karena ingin ketemu Mia.  Beberapa kali tidak ketemu.  Sekarang ada orangnya, malah kau melirik pahanya terus.  Dasar otak mesum.  Anto berusaha fokus pada wajah Mia yang cantik.

“Aku juga kangen eh..” Anto kelepasan bicara, maklum pikirannya lagi mengalihkan pandangannya dari paha Mia.

“Ah yang bener?” Mia teriak senang, sambil menggenggam tangan Anto.  Anto semakin kikuk.  Tangan halus Mia menggenggam tangannya erat-erat.  Penisnya berdiri lagi.

Anto berusaha menutupi dengan menyimpan tasnya di atas pahanya.

“Eeh maksud aku...,” Anto gelagapan.

“Kalo kamu kangen aku, kamu mau dong jadi pacar aku?” tanya Mia manja.  Mia selalu ingat janji Mia untuk menyatakan cintanya pada Anto.  Dengan bicara begitu, Mia merasa sama saja artinya.

 

Anto tambah bingung.  Mia tertawa senang melihat kebingungan dan kekikukan Anto.  Inilah yang aku sukai dari Anto.  Mata Mia penuh dengan cinta.

“Ayo, mau ga jadi pacar aku?” tanya Mia lagi dengan manja.

Anto tidak sempat memikirkan perubahan sikap dan tingkah laku Mia.  Anto ingin bilang iya. Tapi entah kenapa kata itu tersangkut di tenggorokannya.  Anto melihat pandangan manja Mia padanya.

Alih-alih mengucapkan kata iya, Anto hanya bisa menganggukan kepalanya.  Sudah cukup jawaban itu bagi Mia.  Langsung saja Mia memeluk Anto lagi dan mencium pipinya.  Wajah Anto berubah menjadi merah.  Pertama karena baru kali ini, pipinya dicium seorang gadis.  Alasan lain lagi karena kembali dia merasakan kenyalnya dada Mia.

 

Wajah Mia yang terlihat sangat bahagia, akhirnya membuat hati Anto menjadi sedikit lebih senang.  Malah dia pun akhirnya ikut bahagia karena secara resmi dia adalah pacar Mia.  Gadis yang dicintainya sejak pertama kali bertemu.  Tidak sia-sia aku, tiap hari datang ke rumahnya, mencari kabarnya kenapa dia tidak masuk sekolah.  Teringat hal itu, Anto bertanya

“Kamu kemana kok hampir seminggu tidak sekolah?” tanya Anto khawatir.

“Kamu khawatir ya, sayang?”  Mia tambah berani menggoda Anto, pake kata sayang segala.

Mia pun heran kenapa dia jadi seagresif ini.  Mia memastikan alasannya karena dia kanget banget ama cowok idamannya ini.

“Eeeh...,” Anto kembali gelagapan dipanggil sayang oleh Mia. “Iya aku khawatir,” jawab Anto akhirnya.

Mia tersenyum sangat manis.

“Aku cinta kamu, Anto,” akhirnya kata-kata itu terucap dari bibir Mia yang mungil.



#44 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 27 August 2017 - 11:38 PM

ESCAPE CHAPTER SEVENTEEN

 

DAY 7

 

“Aku..juga cinta kamu,” ucap Anto balik dengan hati yang berbunga-bunga.  Hati Mia lebih berbunga-bunga lagi.  Akhirnya cintaku kesampaian.  Mia menggenggam tangan Anto lebih erat.  Mia tidak malu lagi menatap wajah Anto.  Anto sudah agak lega, tidak terlalu kikuk lagi, namun masih malu kalo menatap wajah cantik Mia lekat-lekat.  Mereka berdua sedang berbahagia.  Namun Anto ga bisa lama di rumah Mia.  Mamanya masih belum terlalu sehat.  Masih perlu dijaga, sedangkan papanya belum pulang dan Kokonya sebentar lagi mau pergi.  Tak lama kemudian dengan berat hati, Anto pamit pulang.  Sebelum pulang Mia kembali memeluk Anto dan mencium pipinya.  Sebenarnya Mia ingin mencium bibir Anto, hanya khawatir Antonya akan takut kalo dia terlalu agresif, Mia menahan diri.  Anto janji akan segera ketemu Mia lagi.  Mia tersenyum senang mendengar perkataan Anto.

 

Satu hal sudah selesai, pikir Mia.  Kini masuk ke tahap berikutnya.  Aku harus membalaskan sakit hati mama.  Masuk ke  rumah dengan perasaan sangat bahagia.

Melina heran melihat wajah Mia yang tersenyum-senyum sendiri.

“Ada apa nih?” tanya Melina.

“Ada deh. Mama kepo,” jawab Mia sambil menjulurkan lidah.

Melina hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.

“Ma, kan mama bilang kemaren aku ke rumah Oma.  Gimana kalo besok mama beneran yang ke rumah Oma.  Beberapa hari aja.  Siapa tau Oma kangen ama mama,” Mia mulai menjalankan rencananya.

“Besok kan Sabtu tuh, Mama bisa pulang hari Minggu atau Senin.  Lumayan kan berakhir pekan di Garut,” Mia bergelayut di lengan Melina.

Melina terlihat berpikir mengenai saran Mia.

“Boleh juga deh, Mia. Mama juga kangen ama Oma.  Mia mau ikut?” tanyanya.

“Ya kalo Mia ikut, papa dan Koko curiga dong, kan ceritanya aku baru balik dari Garut,” jelas Mia.

“Iya juga ya,” sahut Melina. “Ya uda besok pagi mama pergi deh, mama minta ditemanin om Dodi deh.  Dia bilang ada keperluan juga di Garut,” ucap Melina kemudian.

Yes, rencana berhasil, pekik Mia dalam hati.  Tidak disangka mamanya begitu mudah dibujuk untuk pulang ke Garut. 

 

DAY 8

 

Selepas Melina pergi ke Garut, Mia berbaring di ranjang. Memikirkan langkah selanjutnya.  Mia menulis sesuatu di dua lembar kertas.  Setelah selesai menulis, Mia bermain sebentar dengan handphonenya.  Lalu Mia turun ke bawah.

“Bi Ijah,” panggilnya.

“Iya Non,” suara seorang wanita paruh baya menjawab.

“Bi Ijah, tolong dong beliin ini di Bor**.  Keperluan Mia udah habis,” sambil Mia memberikan uang pada Bi Ijah.

“Tolong cari sampai dapet ya, Bi Ijah,” mohon Mia.

“Siap Non,” jawab Bi Ijah sambil tersenyum.  Bi Ijah senang sekali melihat wajah Mia yang cantik. 

“Makasih Bi Ijah,” sambil Mia mengecup pipi Bi Ijah.

Bi Ijah hanya manggut-manggut.  Langsung segera pergi.

Selesai.  Mia mulai menyiapkan langkah-langkah selanjutnya.  Kira-kira lima belas menit kemudian.

 

Mia tahu papanya hari ini tidak kerja.  Budianto tidak ikut Melina ke Garut.  Males katanya.  Entah apa rencananya selepas mama pergi.  Mungkin pergi maen cewek atau pergi ke selingkuhannya.  Maen cewe.  Biar aku saja yang menggodanya, aku kan cewek, pikir Mia sambil tersenyum penuh rencana.

 

Mia sengaja memakai kemeja lengan kutung,  dua kancing atasnya sengaja dilepas.  Lalu Mia memakai rok mini yang panjangnya 20 centi di atas lutut.  Sudah lama Mia tidak memakai rok ini, terlalu seksi menurut Mia waktu itu.  Sengaja Mia tidak pakai bra dan tidak memakai celana dalam.

Mia merasa agak deg-degan ketika mendekati kamar orang tuanya.

“Pa,” ketok Mia dari luar pintu.

“Ya Mia, masuk,” jawab Budianto dari dalam.  Budianto sedang nonton tivi di ranjang.  Hanya mengenakan celana pendek dan telanjang dada.  Hawa panas hari itu dan dia sengaja tidak menghidupkan AC.  Biar berkeringat pikirnya, sudah lama dia tidak berolahraga.  Walaupun bentuk tubuhnya selalu terjaga, tapi beberapa hari ini dia tidak sempat ke gym.  Budianto tidak merasa heran melihat pakaian Mia, hanya memang terlihat Mia sangat cantik seperti biasa.

“Ada apa, Mia?” tanyanya sambil tetap menonton tivi.

 

Mia sengaja duduk di pinggir ranjang.  Rok mininya terangkat sehingga terlihatlah pahanya yang mulus.  Di sini Budianto baru teralihkan perhatiannya melihat paha mulus Mia, ditambah kini terlihat belahan dada Mia, karena dua kancing atasnya terbuka.  Karena memang gemar maen perempuan, jelas pemandangan indah ini tidak dia sia-siakan.

Mia sengaja memegang paha Budianto.

 

“Pa, Mia kan nanti ada acara ke Yogya dengan sekolah.  Mia kesini...” sengaja Mia menghentikan kata-katanya.  Kaki kanannya sengaja naik ke ranjang.  Sehingga pahanya semakin terlihat dan kalo diperhatikan lebih jauh, jelas terlihat dia tidak memakai celana dalam.  Budianto meneguk ludah. 

“Pa...,” ucap Mia manja.  Mia tahu Budianto sedang memperhatikan tubuh bagian bawahnya.  Mia mengelus paha Budianto lebih ke atas.  Mia ingin memperoleh bukti apakah benar-benar papa tirinya ini berani main gila dengan perempuan lain selain mamanya.  Aku harus mendapat bukti langsung, itu rencananya.

 

Penis Budianto mulai terlihat menggembung di balik celana pendeknya.  Gila ini anak, mentang-mentang di rumah tidak pake celana dalam.  Budianto bisa melihat sedikit belahan vagina Mia dihiasi bulu-bulu halusnya.

“Kok papa bengong sih, kan Mia lagi ngomong,” Mia sengaja memancing lebih jauh.

“Eh...apa Mia?” Budianto gelagapan.

“Ini pa, Mia butuh uang untuk darmawisata ke Yogya dengan sekolahan,” tangan Mia mulai mengelus bulu-bulu di paha Budianto.  Tidak selebat Pak Rahmat.  Penis Budianto mulai ngaceng.  Apalagi ketika Mia mendekatkan diri lebih maju.  Tangan Mia pun hampir mendekati selangkangannya.  Semakin dekat, semakin jelas terlihat belahan payudara Mia.  Pandangan Budianto tidak beralih dari dada Mia.

“Iiih, Papa kok itu celana dalamnya ada yang nonjol,” Mia pura-pura kaget sambil menunjuk selangkangan Budianto.

 

Budianto tambah gelagapan.  Cepat-cepat selangkangannya ditutup dengan bantal.

“Eh itu...” Budianto bingung untuk menjelaskannya.  Sialan, anak ini.

“Kontol papa lagi berdiri ya,” Mia mendapat pelajaran dari Pak Rahmat.  Pria suka sekali kalo cewe mengucapkan kata Kontol.

Benar saja.  Budianto kerangsang hebat mendengar kata kontol dari mulut mungil Mia.

“Kamu mau liat?” entah darimana muncul keberaniannya untuk mengatakan itu pada anak tirinya.

Mia memasang wajah malu.  Dan ternyata wajah malu Mia semakin menambah Budianto semakin horny.  Wajah Mia terlihat begitu menggiurkan dengan pakaian seksinya.

 

“Mau liat ga kontol papa?” tanya Budianto semakin berani.  Birahinya semakin naik.

Akhirnya Mia mengangguk-angguk malu.

“Beneran?” tanya Budianto memastikan.

“Ya papa kalo ga berani, ya ga usah kasi liat, Mia ga apa-apa kok,” Mia sengaja bermain tarik ulur.  Menantang Budianto.

 

Mia beranjak hendak pergi ketika Budianto melempar bantal yang menutup selangkangannya.  Mia sengaja menutup mulutnya pura-pura kaget, melihat tonjolan yang terlihat semakin besar di balik celana dalam Budianto.

Budianto tambah bersemangat melihat reaksi Mia seperti itu.  Mia terlihat semakin cantikd an menggiurkan di mata Budianto.  Kemudian Budianto melepaskan celana pendeknya. Dan terlihat lah penisnya yang coklat muda berdiri tegak.  Tidak besar seperti Pak Rahmat.  Tapi juga tidak kecil. 

 

Mia pura-pura membelalakan matanya melihat penis Budianto.

“Kamu suka liat kontol papa?” tanya Budianto lagi.  Nafasnya sudah memburu.

Mia sudah tidak menutup mulutnya lagi. 

“Boleh Mia pegang, pa?” pertanyaan Mia seakan-akan bagaikan guntur yang menyenangkan.  Tentu saja tidak akan dilewatkan oleh Budianto.  Nafsunya sudah mengalahkan logikanya.

“Boleh,” jawab Budianto.  Mia duduk mendekat dan mulai mengarahkan tangannya yang mungil ke penis Budianto.  Bersikap seakan-akan ini baru pertama kalinya, Mia memegang penis seorang laki-laki.  Ketika tangan Mia menyentuh lubang kencingnya.  Budianto bagaikan kesetrum nikmat.  Tentu saja Mia tau kesenangan laki-laki ketika lubang kencingnya disentuh, seperti waktu dengan Pak Rahmat.

“Ih papa, rasanya kenyal gitu kontol papa,” Mia terkikik pelan.   Terlihat malu-malu untuk memegang lebih jauh. Dalam hatinya, penis ini entah sudah masuk ke berapa vagina wanita.  Dasar penjahat kelamin, makinya dalam hati.

 

“Mia pengen merasa enak ga?” Budianto semakin berani.  Nafsunya sudah di ubun-ubun.  Dia tidak berpikir lagi bahwa Mia adalah anak tirinya.

“Gimana caranya, Pa?” Mia bertanya balik.

“Kamu duduk di atas selangkangan papa,” jelas Budianto ingin segera memeluk tubuh Mia dan menelanjanginya.

“Seperti ini, pa?” Mia merasa sudah waktunya dia bermain agresif.  Mia langsung duduk di selangkangan Budianto, menjepit paha Budianto dengan pahanya.  Rok Mia sudah benar-benar terangkat sekarang.  Terlihat oleh Budianto bulu-bulu halus di pangkal selangkangan Mia.

 

Budianto segera meremas paha Mia. Mia menjerit mendesah. Dia tahu pria suka mendengar wanita mendesah.  Budianto dengan penuh nafsu membuka kancing baju Mia hingga terlihatlah belahan payudaranya dan pusar Mia dengan perutnya yang rata.

“Kamu cantik sekali, Mia,” puji Budianto tulus ketika melihat tubuh Mia yang putih mulus.

“Papa bisa aja.  Katanya pingin Mia merasa enak?” pancing Mia.

 

Mendengar perkataan Mia, Budianto langsung menyibak kemeja yang menutupi payudara kiri Mia.  Langsung meremas payudara sedang Mia.  Membuat Mia mendesah pura-pura.

“Aaah papa,” rintih Mia.

Mendapat lampu hijau. Budianto langsung mengulum puting susu Mia yang berwarna merah.  Mengulum dan mengisap puting susu kiri Mia.  Mia tidak mau kalah.  Menjambak rambut papanya.

“Aah enak. Papa nakal,” ditengah-tengah rintihan Mia.  Terasa penis keras Budianto menekan bibir klitorisnya.  Terasa sedikit enak sungguhan saat itu bagi Mia.

 

Suara isapan Budianto terdengar jelas.  Kena kau, brengsek.  Berani-beraninya kau bermain dengan anak tirimu sendiri.  Ini bukti nyatanya.  Mia gusar dalam hati.

Ketika sedang asik, Budianto bermain dengan puting susu Mia.  Seketika itu, seorang pria dengan pisau terhunus memasuki kamar itu tanpa Budianto sadari.  Ketika pria itu sudah dekat, baru Budianto melihatnya.

“Rahmat, ngapain kamu disini?” teriaknya kaget.



#45 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 30 August 2017 - 11:59 PM

ESCAPE CHAPTER EIGHTEEN

 

DAY 5

 

Semalaman Mia tidak bisa tidur, entah kenapa dia begitu marah pada Budianto, papa tirinya.  Mia paling benci dengan orang yang sudah menjahati mamanya.  Bukan pada Budianto saja, pada papa kandungnya pun, Mia sangat membencinya.  Padahal mama sangat cantik, kurang apanya coba.  Mia tambah geram saja memikirkan hal itu. Mia ingin berbuat sesuatu untuk mamanya.  Mia tidak bisa tinggal diam jika ada seseorang yang menyakiti mamanya.  Mia akhirnya terlelap ketika subuh tiba.

 

Mia terbangun ketika Mia merasakan ada yang menggelitik di dadanya.  Mia baru ingat, dia bisa dibilang tidur berdampingan dengan Pak Rahmat di kasur yang sama.  Pak Rahmat telanjang bulat sedangkan Mia hampir telanjang bulat.  Mia memicingkan mata, melihat kedua payudaranya terbuka lebar.  Dilihat dari posisinya, payudaranya cukup terlihat membusung.  Pak Rahmat sedang memainkan putingnya.  Wajahnya begitu dekat, sehingga Mia dapat merasakan hembusan nafasnya yang hangat di payudaranya yang lembut.  Melihat Pak Rahmat begitu tekunnya memainkan jari-jari kasarnya pada putingnya yang terasa mencuat.  Mungkin karena dingin, karena hari masih pagi.  Terlihat sekali Pak Rahmat ingin sekali melumat putingnya dengan mulutnya, tapi dia terlihat menahan diri.  Pak Rahmat belum sadar kalo Mia sudah bangun.

 

Tiba-tiba terpikir oleh Mia, siapa tahu dia bisa memanfaatkan Pak Rahmat untuk membalas perlakuan Budianto pada mamanya.  Jelas aku harus benar-benar bisa membuat Pak Rahmat bertekuk lutut padaku.  Begitu pikir Mia.  Kemudian, Mia kembali memejamkan matanya.

“Pak Rahmat, ciumin dong putingnya,” Mia bersuara seakan-akan dia sedang mengigau.   Pak Rahmat berhenti sejenak dari kegiatannya.  Memperhatikan apakah Mia sudah bangun.

“Non sudah bangun?” tanyanya hati-hati dengan suara pelan.

Mia tidak menjawab.  Dia pura-pura masih tidur.

“Uggh Pak Rahmat, enak banget puting Mia dikulum oleh Pak Rahmat,” Mia pura-pura mengigau lagi.

 

Setelah yakin bahwa Mia masih tertidur.  Dan mendengar ceracau Mia, Pak Rahmat tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.  Sekalian aja aku kulum putingnya, biar mimpi Non Mia terasa semakin nyata.  Langsung saja mulut Pak Rahmat mengulum puting Mia.  Bibirnya yang kehitam-hitaman menjepit puting Mia.  Air liurnya membasahi puting Mia yang mengeras.

“Uggghhh....,” Mia mendesah, tapi ini murni bukan desahan bohongan, tapi ada sedikit rasa nikmat yang dialami Mia.  Mendengar desahan Mia,

 

Pak Rahmat semakin bernafsu, penisnya sudah keras menekan kasur, karena dia berbaring telungkup.  Rasa nikmat dirasakannya ketika dia menggesek-gesek dan menekan-nekan penisnya pada kasur.  Ditambah kini lidahnya ikut membasahi puting Mia dan lingkaran putingnya.

“Aaahhh, Pak Rahmat nakal...” walau matanya masih terpejam, tapi Mia terbawa arus rangsangan Pak Rahmat.  Pak Rahmat lebih nakal lagi.  Jari-jarinya diselipkan ke dalam celana dalam Mia, mengelus-elus bulu halus selangkangan Mia.  Mia semakin menggeliat.  Dia lupa bahwa dia harus menjaga kehormatannya.  Pak Rahmat semakin gencar menciumi puting Mia.  Payudara Mia pun sudah basah oleh air liurnya.  Jarinya kini menyentuh bibir klitoris Mia.  Ingin dia memasukkan jarinya, mungkin bukan jarinya saja, tapi penisnya juga dalam lubang kemaluan Mia.  Tapi dia harus menahan diri jangan sampai kehormatan Mia terenggut olehnya.  Jari-jarinya menekan kemaluan Mia.  Membuat Mia semakin menggeliat dan menggelinjang.  Desahannya pun muncul tak berhenti.  Tidak lama kemudian, Mia merasakan dorongan dari dalam yang menuntut ingin keluar.  Mia mendesah

“AAAahh Pak,” lalu pahanya menegang dan pinggulnya terangkat.  Mia pun mencapai puncaknya.

“Non sudah bangun rupanya,” Pak Rahmat tersenyum nakal.

“Enak ya Non, pagi-pagi uda orgasme,” Pak Rahmat menggodanya.

Mia tersenyum malu.

“Pak Rahmat nakal,” jawab Mia dengan manja. “Sini Pak Rahmat baring di samping Mia.”

 

Pak Rahmat langsung merebahkan dirinya di samping Mia.  Perut buncitnya melebar, penisnya masih menegang.  Mia mendekatkan dirinya dan bersandar di tangan Pak Rahmat. 

“Pak Rahmat suka yah godain Mia?” tanya Mia manja.  Hembusan nafas hangat Mia begitu dekat di telinga Pak Rahmat.

“Abis Non cantik sih,” jawabnya memuji Mia.

“Aiiih bapak gombal,” tangan Mia menyusuri bulu-bulu halus di perut buncit Pak Rahmat.

Pak Rahmat menggoyangkan kakinya, geli merasakan halusnya tangan Mia di perutnya.

“Pak Rahmat mau kembali lagi ke istri bapak, ga?” tanya Mia mulai ke pokok keinginannya.

“Maksud Non?” Pak Rahmat agak heran mendengar pertanyaan Mia.

“Kalo bapak punya uang banyak, bapak pasti bisa kembali ke keluarga bapak kan?” lanjut Mia lagi.

 

Pak Rahmat terlihat gusar, perkataan Mia membuat dia ingat atas perlakuan istrinya yang brengsek itu.

Melihat Pak Rahmat gusar, Mia berganti cara.  Dia tidak melanjutkan pertanyaannya.  Mia kemudian menggerakkan tangannya mengusap penis Pak Rahmat yang terlihat sedikit lemas tadi ketika dia marah.  Dikocoknya penis Pak Rahmat dengan jari-jari lentiknya.  Mia mendekatkan mulutnya ke telinga Pak Rahmat, dan mulai menggigit lembut daun telinga Pak Rahmat.

Pak Rahmat merintih enak dan geli.  Dia sudah lupa dengan kemarahannya tadi.  Pak Rahmat merasakan basahnya bibir Mia di telingannya, dia semakin menggelinjang ketika lidah Mia menyapu bagian dalam telingannya.  Bergerak-gerak di sekitar lubang telinganya.

“aaaah enak Non,” Penisnya semakin membesar.

 

Mia semakin pintar memainkan penis Pak Rahmat.  Kocokannya berirama sesuai dengan gerakan lidahnya yang mulai menyusuri pipi Pak Rahmat, menjilati pipi Pak Rahmat.  Membuat air liurnya membasahi pipi kanan Pak Rahmat.   Sudah kepalang tanggung.  Aku harus berhasil menaklukannya,  bibir mungil Mia mengecup bibir kasar Pak Rahmat.  Bibir lembutnya menyusuri bibir Pak Rahmat dari kiri ke kanan.  Pak Rahmat memejamkan mata menikmati bibirnya dilumat oleh bibir seorang gadis cantik.  Kini payudara Mia menekan dada Pak Rahmat.  Kocokan Mia semakin kencang karena terasa penis Pak Rahmat semakin membesar dalam genggamannya.  Pak Rahmat mulai membuka mulutnya, lidahnya dijulurkan ingin merasakan bibir lembut Mia.  Mia membiarkan lidah Pak Rahmat memasuki dalam mulutnya, menyapu lidahnya.  Mia merasakan rangsangan yang belum pernah dirasakannya melakukan french kiss.  Rasanya nikmat sekali lidahnya bersentuhan dengan lidah Pak Rahmat.  Bertukar air liur.  Mia tetap tidak lupa mengocok penis Pak Rahmat.  Desahan Mia teredam dalam mulut Pak Rahmat.  Mia merasakan vaginanya basah.  Lidah mereka saling berpagutan.  Payudara Mia semakin menekan dada Pak Rahmat.  Kocokan Mia semakin tidak teratur karena dirinya sudah dikuasai birahi juga.  Namun tak lama kemudian Pak Rahmat ejakulasi dengan spermanya membasahi tangan Mia yang tetap mengocoknya meskipun iramanya sudah tidak teratur lagi.  Pak Rahmat menghentikan ciumannya.  Wajahnya terlihat lemas.  Mia pun harus pasrah, tidak melanjutkan ciumannya lagi.  Aku harus coba lagi untuk melaksanakan tujuanku.  Pokoknya Pak Rahmat harus “membantuku” menghadapi Budianto.  I would do anything for My mother.



#46 d4rk0n22

d4rk0n22

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 15 posts

Posted 03 September 2017 - 05:39 AM

Di tunggu updatenya gan

#47 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 03 September 2017 - 01:14 PM

ESCAPE CHAPTER NINETEEN

 

DAY 5

 

Pak Rahmat berbaring lemas.  Mia tetap menyandarkan kepalanya di tangan Pak Rahmat.  Mia masih merasakan betapa lidahnya tadi berpagutan dengan lidah Pak Rahmat.  Kenapa semakin aku ingin merangsangnya, malahan aku juga jadi ikut kerangsang.  Apakah karena selama ini aku tidak pernah merasakan apa yang dinamakan seks?  Hampir bisa dibilang seminggu ini, apa yang aku dan bandot tua ini lakukan mendekati kriteria seks, meskipun alat kelamin kami belum pernah bersentuhan langsung.  Bagaimana ya rasanya jika penis Pak Rahmat berada dalam vaginaku?  Memikirkan hal itu membuat Mia tersentak kaget, kenapa dia bisa berpikir seperti itu.  Cepat-cepat dia menghilangkan pikiran itu.  Dia menggosok-gosok tangannya di selangkangannya.  Hal itu malahan membuat Mia semakin memikirkan bagaimana penis Pak Rahmat jika masuk ke dalam vaginanya.  Haah, aku sudah gila, batin Mia.  Ingat Mia, tujuanmu melakukan hal ini untuk apa.  Akhirnya untuk menghilangkan pikiran mesum, Mia membayangkan Anto.  Berhasil. 

 

Ternyata untuk sesaat saja memikirkan Anto berhasil menghilangkan pikiran mesum itu.  Bayangan penis Pak Rahmat masuk ke dalam vagina Mia muncul kembali ketika Mia melihat penis Pak Rahmat yang terbaring lemas.  Mia meneguk ludah. Pelan-pelan paha kanannya digerakkan ke atas paha Pak Rahmat,   rok compang camping tersingkap, memperlihatkan paha kanan Mia yang putih mulus.  Pelan-pelan paha Mia terus bergerak menindih penis Pak Rahmat.  Terasa daging kenyal itu bersentuhan dengan paha mulusnya.  Mia menggigit bibir bawahnya.  Rasa penasarannya semakin besar.  Namun tiba-tiba Mia ingat, dia harus menjaga keperawanannya demi Anto.  Tapi rasa ingin tahunya juga sama besarnya.  Bagaimana rasanya jika penis itu bersentuhan dengan vaginanya?  Mia menjerit dalam hati, dia sudah gila rupanya.  Pahanya masih bergerak menggesek penis Pak Rahmat.  Pak Rahmat terlihat setengah sadar menikmat pijatan paha Mia di penisnya.  Dia belum sadar sepenuhnya.  Atau jangan-jangan dia pura-pura tertidur seperti yang tadi aku lakukan, batin Mia.

 

Aku benar-benar sudah gila.  Mia berpikir dia masih memakai celana dalam, penis Pak Rahmat tidak akan langsung bersentuhan dengan vaginanya.  Dan penisnya tidak akan masuk ke lubang kemaluannya.  Nafas Mia semakin memburu.  Mia sangat ingin merasakan geseken penis Pak Rahmat di vaginanya.  Dorongan seksualnya begitu sangat menguasai Mia, mungkin inilah namanya gejolak anak muda.  Melihat Pak Rahmat yang seperti mau terbangun.  Mia segera duduk dengan paha terbuka di selangkangan Pak Rahmat, menekan penisnya.  Pahanya menjepit paha Pak Rahmat.  Pak Rahmat kaget melihat Mia duduk di atas selangkangannya.  Penisnya tertekan selangkangan Mia. Terasa basah celana dalam Mia.  Iya memikirkan hal ini, membuat vagina Mia mengeluarkan cairan membasahi celana dalamnya.  Mia menekan-nekan penis Pak Rahmat, menggoyangkan pinggulnya, ingin merasakan penis Pak Rahmat menggesek vaginanya.  Penis Pak Rahmat tentu saja mengeras menerima gesekan celana dalam Mia yang basah, terasa penisnya menekan vagina Mia yang mungkin kalo dibuka celana dalamnya, terlihat belahan bibir klitorisnya melebar, siap menerima penis Pak Rahmat.  Namun kejadian ini tidak mengurangi rasa nikmat yang dirasakan oleh Mia dan Pak Rahmat.   Mia menengadah, merasakan kenikmatan yang tiada tara, ketika penis Pak Rahmat yang sudah keras, menekan-nekan vaginanya.  Gerakan pinggulnya maju mundur semakin cepat.  Ingin merasakan kenikmatan terus menerus.  Pak Rahmat meremas paha mulus Mia, sangat menikmati batang kemaluannya bergesekan dengan vagina gadis cantik ini.  Kedua tangan Mia bertumpu pada dada Pak Rahmat.  Posisi demikian semakin membuat belahan vaginanya terbuka, penis Pak Rahmat seakan-akan ingin menerobos masuk ke celah kemaluannya.  Sangat basah dirasakan Mia pada celana dalamnya.  Pak Rahmat pun menaikkan pinggulnya dengan ritme tertentu. 

 

Seakan-akan sedang bersenggama dengan Mia.  Memasukkan penisnya pada lubang surganya.  Rasanya enak sekali.  Mia merintih, nafas Pak Rahmat memburu.  Ketika Pak Rahmat akhirnya menyemprotkan spermanya pada celana dalam Mia, saat itulah Mia melenguh keras.  Tubuhnya memeluk Pak Rahmat.  Mia merasakan dorongan cairannya keluar dari vaginanya.  Mia mencapai orgasme yang luar biasa daripada sebelum-sebelumnya.  Mia bisa merasakan hangatnya sperma Pak Rahmat membasahi celana dalamnya.  Mungkin merembes masuk, bersatu dengan cairan vaginanya yang juga membasahi bagian dalam celana dalamnya.  Mia menggeliat menikmati kenikmatan sisa-sisa orgasmenya yang luar biasa.

 

Mia terkulai disamping Pak Rahmat yang juga lemas dan masih menikmati nikmatnya orgasmenya barusan.  Nafas Mia masih terengah-engah.  Nikmat sekali ternyata vaginanya bergesekan dengan penis seorang laki-laki.  Meskipun vaginanya masih terbungkus celana dalamnya.  Basahnya celana dalamnya membuat jarak antara vagina dan penis Pak Rahmat semakin berasa gesekannya.  Kenapa aku bisa sebinal dan seliar itu ya? Mia merasa sedikit jengah.  Jangan lupa tujuanmu, Mia. Hati kecilnya mengingatkan.

“Non, memeknya enak banget.  Kontol bapak masih berasa nempel disana,” Pak Rahmat berucap sambil masih membayangkan nikmatnya vagina Mia yang baru saja bergesekan dengan penisnya.

“Kontol bapak juga enak banget,” Mia bersandar di bahu Pak Rahmat.  Aku harus mencoba lagi, pikir Mia.

“Bapak mau bantu Mia lagi ga?” Mia memulai aksinya. Sambil Mia mengelus-elus bulu-bulu di dada Pak Rahmat.

“Bantuin apa, Non?” Pak Rahmat masih merasa berada di awang-awang.  Penisnya masih bergetar karena ejakulasinya tadi.

“Bantuin aku balas dendam sama papa tiri aku,” lanjut Mia kemudian.

Pak Rahmat menatap rambut Mia sebenarnya ingin menatap wajahnya.

“Balas dendam apaan, Non?” tanya Pak Rahmat kemudian.

“Budianto kan sudah menyakiti hati mama.  Aku tidak suka kalo ada orang yang menyakiti mama,” Mia duduk bersimpuh, menatap Pak Rahmat.

Pak Rahmat melihat wajah Mia yang terlihat serius.

“Balas dendam seperti apa, Non?” kembali Pak Rahmat mengajukan pertanyaan.

“Bapak jangan khawatir, kalo bapak bantu aku.  Aku berani jamin, bapak tidak akan kekurangan uang lagi. Dan bapak bisa kembali ke keluarga bapak.  Kembali ke Bentang, anak bapak,” Mia mulai berani maju menyebut nama anak Pak Rahmat.

“Balas dendam seperti apa dulu, Non?” tanya Pak Rahmat agak ragu-ragu.

“Aku ingin bapak membunuh Budianto,” wajah Mia terlihat tidak main-main.

“Ah, non. Jangan becanda ah,” Pak Rahmat tidak percaya perkataan Mia.

“Bapak ada bukti kan, kalo papa tiri aku selingkuh dari mama?” tanya Mia.

 

Pak Rahmat mengangguk.  Dia berdiri, mengambil handphone di lemari.  Membuka file image.  Dan memperlihatkan beberapa foto Budianto sedang mencium atau sedang memeluk beberapa wanita. 

“Ini non.  Ini juga ada foto Susanto, koko Non,” ujar Pak Rahmat kemudian. “Saya pernah ngantar dia beberapa kali nginep di hotel.  Saya simpan foto-foto ini, sebagai bukti siapa tau ada yang tidak percaya sama saya.”

Mia semakin yakin, dia harus membasmi papa tiri dan kokonya.  Susanto sih tidak masalah, tapi kenapa tidak sekalian aja.

“Ayolah pak.  Inget lho, aku bisa membagi harta Budianto dengan bapak.  Bapak tidak perlu merasa kekurangan uang lagi.  Bapak ingin kan kembali ke keluarga bapak lagi.”  Mia terus melancarkan serangannya.

Pak Rahmat terlihat ragu-ragu lagi.

 

“Aku akan bantu bapak melarikan diri, nanti setelah beberapa lama. Aku bisa mentransfer uangnya ke rekening bapak,” Mia mengelus-elus lagi paha Pak Rahmat sambil tetap duduk bersimpuh di samping tubuh bugil Pak Rahmat.

“Non serius?” sekali lagi Pak Rahmat bertanya.

Mia mengangguk.  Supaya Pak Rahmat lebih yakin lagi.

“Aku rela memberikan keperawananku buat bapak kalo bapak mau bantu aku,” sudah kepalang tanggung, Mia ingin tujuannya tercapai.

Pak Rahmat agak kaget mendengar perkataan Mia yang terakhir.  Jelas sudah bulat tekad Mia.  Membayangkan penisnya menembus vagina Mia yang masih perawan jelas sebuah rejeki yang luar biasa untuknya tapi kembali kepada keluarga, terutama anaknya.  Itu lebih merupakan keinginannya yang paling dalam.

 

Melihat Pak Rahmat masih ragu-ragu.  Mia berdiri.  Pelan-pelan menurunkan celana dalamnya sehingga terlepas.  Memperlihatkan vaginanya yang masih sempit dengan bulu-bulu halus.  Kemudian Mia pun menurunkan rok abu-abunya.  Kini bagian bawah tubuh Mia sudah polos.  Tubuh putih Mia hanya tertutup seragam putihnya yang tentu saja tidak bisa menutupi sebagian buah dadanya.  Pemandangan yang sangat menggoda bagi Pak Rahmat.  Belahan vagina Mia terlihat begitu menggiurkan.  Wajah cantik Mia dengan pandangan sayu benar-benar membangkitkan gairah kelaki-lakiannya.  Mia menatap Pak Rahmat dengan pandangan sayu.

 

“Mau ya pak, bantu aku balas dendam?” tanya Mia sambil menyibakkan kemejanya ke belakang sehingga kini bagian tubuh depan Mia terlihat tanpa tertutup apapun.  Mia tidak bisa melepaskan kemejanya karena tangannya terborgol.  Pak Rahmat bisa melihat hal itu.  Pak Rahmat tanpa berpikir lagi, berdiri dan melepaskan borgol di tangan Mia.  Mia tersenyum berterima kasih.  Lalu kemejanya yang sudah tersibak ke belakang, mulai dilepaskan oleh Mia. Dan kini Mia benar-benar berdiri bertelanjang bulat di hadapan seorang pria tua berperut buncit yang juga dalam keadaan bugil.  Satu kulitnya putih mulus, satu lagi hitam dan kulitnya sudah tidak segar.  Namun penisnya berdiri tegak menantang.



#48 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 04 September 2017 - 10:19 AM

ESCAPE CHAPTER TWENTY

 

DAY 5

 

Dengan tubuhnya yang tanpa sehelai benangpun, Mia mendekati Pak Rahmat.  Tubuhnya pun sudah terlepas dari semua borgol.  Dia sudah bebas, tapi bukan itu fokus Mia sekarang.  Tubuh bagian sampingnya menempel pada tubuh Pak Rahmat.  Mia menatap Pak Rahmat.  Penis Pak Rahmat bergoyang-goyang naik turun.  Mia mengelus dada Pak Rahmat memainkan putingnya dengan jarinya.

“Semua ini untuk bapak kalo bapak mau bantu aku balas dendam,” Mia mengecup pipi kanan Pak Rahmat.

 

Pikiran Pak Rahmat sedang berkecamuk hebat.  Melihat pemandangan gadis cantik telanjang, rencana bunuh Budianto dan Susanto.  Harapan kembali kepada keluarganya.  Dan yang pasti birahinya yang memuncak di ubun-ubun.

“Non ga bohong kan?” tanya Pak Rahmat gemetar menahan nafsu birahi.

“Aku janji akan akan memberikan tubuhku dan uang jika bapak mau bantu aku,” bibir Mia mencium bibir Pak Rahmat yang hitam.  Aku harus terus mengacaukan pikirannya supaya dia mau membantuku, begitu pikir Mia.  Gimana nanti soal keperawananku.  Tujuanku harus tercapai.  Sambil melumat bibir Pak Rahmat, Mia menggeser posisi tubuhnya sehingga benar-benar di hadapan Pak Rahmat.  Penis Pak Rahmat tertekan perut rampingnya.

Pak Rahmat secara otomatis, meremas bongkahan pantat Mia. 

 

Mia membiarkan pantatnya diremas oleh tangan hitam Pak Rahmat.  Mia mulai terangsang.  Tapi tujuannya pun harus terlaksana.

“Bagaimana, pak?” disela-sela ciuman Mia pada bibir Pak Rahmat.  Mia lebih mendorong tubuhnya agar payudaranya menekan dada Pak Rahmat.  Mia bisa merasakan putingnya bersentuhan dengan bulu-bulu dada Pak Rahmat.   Mia merasakan geli yang enak pada putingnya yang juga mengeras.

Pak Rahmat memejamkan mata.  Berusaha menahan gejolak birahi dan logika dalam kepalanya. 

“Baik, Non. Saya mau,” akhirnya keluar kata itu dari mulut Pak Rahmat.

Mia tersenyum.  Mia menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Pak Rahmat.  Badan Mia cukup tinggi.  Tidak beda jauh dari Pak Rahmat.  Tangan kanannya dirangkulkan ke leher Pak Rahmat.  Lidah Mia menyapu dengan lidah Pak Rahmat.  Saling bertukar air liur.  Kini tangan Pak Rahmat berada di punggung Mia yang mulut.  Menekan tubuh Mia padanya sehingga payudara Mia yang kenyal menyentuh dadanya lebih erat.  Mia mulai mendesah dengan pagutan lidah Pak Rahmat.  Mia mengangkat kaki kanannya ke pinggang Pak Rahmat.  Pak Rahmat membantu memegang kaki Mia dengan meremas paha kanannya dengan tangan kirinya.  Hal ini membuat selangkangan Mia terbuka lebih lebar.  Belahan klitorisnya bergesekan dengan penis Pak Rahmat.

 

“Jangan sekarang ya pak.  Keperawananku boleh bapak ambil setelah bapak bantu aku.  Sekarang gesek-gesekin aja kontol bapak ke memek aku,” Mia kembali melumat bibir Pak Rahmat.  Mulut Pak Rahmat dan mulut Mia sudah basah oleh air liur mereka berdua.  Pak Rahmat mulai menggoyangkan pinggulnya maju mundur.  Menggesek penisnya pada belahan klitoris Mia yang sudah licin, basah oleh cairan vagina Mia.  Mia pun ingin lebih menikmati kenikmatan ini, dia menggoyangkan pinggulnya juga, sehingga vaginanya lebih merasakan gesekan maju mundur penis Pak Rahmat.  Pak Rahmat mendesah dalam ciuman Mia.  Mia pun merintih sambil lidahnya bermain dengan lidah Pak Rahmat.  Tangan kanan Pak Rahmat meremas pantat Mia, menekannya mengikuti irama gerakan maju mundurnya.  Penisnya yang tegang terasa tersetrum nikmat ketika bergesekan dengan bibir vagina Mia.  Mia pun merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa.  Ini belum masuk aja, sudah terasa nikmat sekali.  Gerakan pinggul mereka berdua semakin cepat.  Pak Rahmat merasakan kedutan di ujung penisnya.  Spermanya muncrat membasahi sebagian selangkangan Mia dan sebagian jatuh di lantai. Hangatnya sperma Pak Rahmat yang menembak selangkangannya membuat Mia semakin terangsang dan akhirnya Mia pun merasakan tekanan cairan di vaginanya.  Kedua paha Mia menegang dan kepala Mia mendongak ke atas, merasakan orgasme luar biasa yang belum pernah dialaminya.

“aaaaahhh...enak pak,” jerit Mia tidak malu-malu lagi.

 

Akhirnya kedua insan itu terbaring lemas di kasur dengan tubuh bugil berkeringat.  Pak Rahmat terengah-engah menikmati pergumulan dengan gadis cantik putih mulus yang terbaring disampingnya.  Dia siap melakukan apapun demi gadis ini. Dan tentu saja demi keluarganya.  Mia tersenyum puas, sangat menikmati permainan tadi dan tentu saja puas karena berhasil membuat Pak Rahmat membantunya.  Mereka tertidur kecapean sambil berangkulan sampai esok pagi.

 

DAY 6

 

Mia terbangun dengan tubuh pegal-pegal, namun kini bukan karena terborgol tapi karena orgasmenya yang luar biasa semalam.  Masih bisa Mia rasakan nikmatnya vaginanya mencapai klimaks.  Pantesan banyak orang yang ketagihan bermain sex.  Memang nikmat sekali rasanya, padahal dia belum benar-benar ngesex dan partner mainnya seorang pria tua.  Apalagi jika dia benar-benar melakukan persetubuhan dengan pria yang dia sukai.  Langsung terbayang wajah Anto.  Anto hari ini aku akan pulang, Mia merasa senang.  Bibirnya membentuk senyuman.

Mia melihat Pak Rahmat sedang duduk di kasur di ujung ruangan.  Sudah berpakaian.  Sedang melihat foto keluarganya.  Wajahnya tidak terlihat sedih tapi terlihat sedang membulatkan tekad, bahwa dia akan segera kembali pada keluarganya.  Angin dingin bertiup.  Mia baru sadar bahwa dia sedang bugil.

 

“Pak, aku boleh pake baju olahraga aku yang di dalam tas?” tanya Mia hati-hati meskipun dia tahu dia sudah menguasai Pak Rahmat.

“Silakan aja, Non,” jawab Pak Rahmat sambil sekali lagi memperlihatkan muka bertekad bulat sebelum memasukkan foto ke dalam saku kemejanya.

 

Mia mengambil baju olahraganya yang tersimpan dalam tasnya.  Celana dalam merahnya mau tidak mau dipakai lagi.  Hanya bra nya yang sudah ditarik Pak Rahmat waktu itu tidak bisa dikenakan lagi.  Mau tidak mau, Mia memakai kaos tanpa memakai bra di dalamnya.  Lumayanlah, pakaianku masih termasuk sopan.

“Non, perjanjian kita tetap jadi kan?” tanya Pak Rahmat serius.

“Tentu, Pak.  Asal bapak bantu aku, aku akan memberikan semuanya,”  tentang keperawanku, aku bisa atur nanti.  Aku tetap tidak mau memberikan keperawananku pada Pak Rahmat, batin Mia.  Tapi itu urusan nanti.

Pak Rahmat tersenyum sambil menyentuh foto dari balik saku kemejanya dengan tangan kanan.

“Terus rencana kita gimana, Non?” tanyanya kemudian. 

Mia sudah memikirkan sebuah rencana sebelum ini, lalu Mia mengutarakannya pada Pak Rahmat.  Pak Rahmat mengangguk-angguk.  Dia setuju dengan rencana Mia.

“Jadi nanti bapak anter aku malam aja pas sepi,” ujar Mia kemudian.

 

Setelah memberikan Mia makan pagi, Pak Rahmat keluar.  Terdengar oleh Mia, Pak Rahmat sedang menelpon tapi tidak terdengar jelas apa yang sedang dibicarakan.  Mia makan dengan lahap.  Sebentar lagi aku pulang, to.  Mia tersenyum lebar dan bahagia.



#49 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 04 September 2017 - 11:17 AM

ESCAPE CHAPTER TWENTY ONE

 

DAY 8

 

Mia segera turun dari pangkuan Budianto.  Mia melihat Pak Rahmat mendekati Budianto yang sedang duduk diranjang tanpa busana.

“Kamu ngapain disini, Rahmat?!!” sekali lagi Budianto bertanya, dia melihat pisau di tangan Pak Rahmat.  Budianto tidak punya tenaga untuk segera berdiri.  Kepalanya pusing karena nafsunya yang terhenti tiba-tiba.

Pak Rahmat dengan pandangan tajam.  Membekap mulut Budianto dan lalu menusukkan pisau itu ke dadanya berkali-kali hingga akhirnya Budianto menggeliat sebelum ajalnya tiba.  Mia melihat kejadian itu tanpa berkedip.  Setelah yakin Budianto tewas, Pak Rahmat baru melepaskan tangannya dari membekap mulut Budianto.

 

Mia langsung memeluk Pak Rahmat.

“Terima kasih, pak.  Bapak tunggu dulu disini sebentar.  Aku ke kamar Susanto dulu.  Bapak nanti nyusul aku yah, siap-siap untuk tahap berikutnya,”  Mia merapikan bajunya.  Sekali lagi membiarkan dua kancing kemejanya terbuka.  Sekali lagi Mia melihat tubuh Budianto yang sudah bergelimang darah.  Mia tersenyum puas.  Siapa suruh kamu berkhianat dari mama.  Lalu Mia meninggalkan kamar itu menuju kamar Susanto.  Biasanya Susanto belum bangun jam segini.

 

Mia membuka pelan pintu kamar Susanto.  Tidak dikunci, setau Mia memang kamarnya tidak pernah dikunci.  Tapi ternyata Susanto sudah bangun.

“Ada apa, Mia?” Susanto heran karena tiba-tiba Mia masuk kamarnya.  Susanto lebih tertegun ketika melihat pakaian Mia.  Langsung saja penis Susanto tegang melihat belahan dada Mia dan paha putihnya yang terbuka.

“Ga apa-apa, ko,” jawab Mia mendekat Susanto di ranjang.  Mia tahu Susanto lagi terpana menatap tubuhnya.  Mia duduk diranjang, roknya terangkat memperlihatkan paha putihnya lebih terbuka.  Susanto meneguk ludah.  Sama seperti yang Mia lakukan pada Budianto.  Mia sengaja duduk sehingga selangkangannya terbuka lebar.  Memperlihatkan garis belahan vaginanya.  Susanto memegang penisnya dari balik selimutnya.

 

Wajah cantik Mia begitu dekat.  Senyumnya sangat menggoda.   Mia bisa melihat reaksi Susanto menutup selangkangan dengan tangannya.  Mia langsung ikut masuk ke dalam selimut Susanto.

“Apa-apaan, Mia?” tanya Susanto kaget.    Langsung Mia meremas penisnya dari balik celana pendek Susanto.

“Ko, dari dulu aku pengen pegang kontol kamu,” remasan tangan Mia membuat penis Susanto semakin menggeliat tegak.  Susanto merintih menikmati remasan Mia.  Ada apa gerangan adik tirinya ini.  Kenapa begitu binal.  Apakah dia tahu sebenarnya aku sering memperhatikannya.

“Kamu jangan becanda, Mia,” Susanto berusaha mengendalikan dirinya.  Tapi apa daya, Mia lebih gencar dan agresif.  Tangannya kini menyusup masuk ke dalam celana pendek Susanto.  Tubuh Mia menindih tubuh Susanto dari samping.  Membiarkan payudaranya tambah membusung karena tertekan bagian samping tubuh Susanto.  Mia mengocok penis Susanto.  Membuat Susanto tidak berkata-kata lagi, hanya memejamkan mata menikmati kocokan tangan mungil Mia.

 

“Oh Mia. Enak banget,” Mia pun langsung melumat bibir Susanto.  Susanto yang sudah pintar bermain wanita tentu saja tidak melewatkan kesempatan ini.  Lidahnya langsung berpagut dengan lidah Mia.  Membuat penisnya kian mengeras.

Di tengah-tengah pergumulan itu, pelan-pelan Pak Rahmat mendekat. Tidak terdengar suara pintu terbuka karena Mia memang sengaja membiarkan pintunya terbuka.  Begitu sudah dekat, Susanto tidak menyadari kehadiran Pak Rahmat karena matanya sedang terpejam, menikmati berciuman dengan Mia dan menikmati kocokan Mia pada penisnya. 

 

Mia sudah mengetahui keberadaan Pak Rahmat yang sedang berdiri di sisi ranjang sebelah kanan.  Lalu Mia menghentikan ciumannya dan tubuhnya bergeser menjauhi Susanto sedikit sedangkan tangannya masih menggenggam penis Susanto.  Baru saja Susanto membuka mata ketika pisau Pak Rahmat menikam dadanya.  Darahnya muncrat, sebagian mengenai lengan kiri Mia.  Tusukan Pak Rahmat kemudian menewaskan Susanto seketika dengan penis tegaknya masih dipegang oleh tangan Mia.

Mia menatap Pak Rahmat dengan manja.  Melepaskan tangannya dari penis Susanto yang sudah terkulai mati.  Memeluk Pak Rahmat sekali lagi.  Mengecup bibirnya.  Dan tiba-tiba terdengar teriakan Bi Ijah dari bawah. Kok Bi Ijah uda pulang?

 

“Non, ini ada temennya datang,” teriak Bi Ijah cukup kuat terdengar sampai kamar Susanto.  Mia kaget.   Buru-buru merapikan bajunya, mengancing kedua kancing kemejanya. Lalu berlari ke kamarnya memakai celana dalamnya.  Dengan nafas terengah-engah turun tangga dan mendapati Anto sedang duduk di ruang tamunya.

 

Wajah Mia terlihat pucat.  Dia bingung.  Baru saja dia “membunuh” papa tiri dan koko tirinya.  Pak Rahmat masih ada di atas.  Bi Ijah sudah kembali ke dapur.  Mia berusaha mengatur nafasnya.  Dia tidak menyangka Anto datang ke rumahnya sekarang.  Dia lupa kalo Sabtu kan memang tidak sekolah.

Anto berdiri dan mendekati Mia yang terlihat pucat dan sedang mengatur nafasnya.

“Ada apa, Mia?” tanyanya khawatir.  Anto makin terlihat khawatir karena melihat cipratan darah di lengan kiri Mia. 

“Kamu kenapa, Mia?” tanyanya lagi.  Mia lupa membersihkan darah di lengannya.  Mia tergagap, bingung menjawab Anto.  Kejadian ini tidak masuk dalam rencananya.

 

“Jawab aku, Mia,” Anto semakin khawatir karena melihat ekspresi Mia yang terlihat sangat bingung. “Kamu ga apa-apa?”  Anto memegang kedua lengan Mia.  Mia menatap wajah khawatir Anto.  Terbersit rasa senang melihat betapa khawatirnya Anto padanya.  Lalu Mia melihat tatapan Anto yang berganti dari khawatir menjadi kaget. 

 

Sedetik kemudian, Mia baru menyadari kehadiran Pak Rahmat di belakangnya.  Anto dengan sigap, otomatis menarik tubuh Mia untuk berlindung di balik badannya.  Mia bisa melihat pisau yang terhunus di tangan Pak Rahmat, masih terlihat gumpalan darah di situ.

Kejadian berikutnya bagaikan gerakan lamban slow motion.  Terdengar teriakan Anto, lalu Pak Rahmat dengan tatapan kejam karena habis menikam dua orang.  Tangan Anto bergerak ke atas.  Pisau di tangan Pak Rahmat menyayat kulit tangannya.  Mia berteriak, namun suaranya tidak keluar.  Anto menerjang maju dengan tangan kirinya yang terluka, ingin menabrak Pak Rahmat.  Namun pisau di tangan Pak Rahmat lebih cepat. Menusuk berkali-kali punggung Anto yang hendak menubruk maju.  Terdengar teriakan lemah Anto sebelum tubuhnya ambruk ke bawah.  Kaki Mia lemas.  Mia terduduk.  Mia melihat tubuh Anto yang darahnya mulai mengalir membasahi lantai.  Mata Mia berkaca-kaca melihat orang yang dicintainya tergeletak tewas di depannya. 

 

Pak Rahmat menarik tangan Mia hingga Mia bisa berdiri.

“Non, ga apa-apa kan?” tanyanya khawatir.  Mata Mia yang berkaca-kaca menatapnya.  Ada sesuatu yang dipikirkan Mia meskipun tubuhnya terasa dingin.  Mia mengecup Pak Rahmat seperti dua kejadian sebelumnya.  Pak Rahmat menyangka Mia berterima kasih padanya dengan menciumnya.  Pak Rahmat balas menciumnya.  Ketika Lidah Pak Rahmat sedang berpagut dengan lidah Mia.  Dengan gerakan cepat, Mia mengambil pisau di tangan kanan pak Rahmat dan menghujamkan pisau itu di leher Pak Rahmat. Darah bercipratan mengenai wajah Mia.  Semburan darah segar.  Pandangan Pak Rahmat yang tidak percaya apa yang sedang terjadi.  Tangannya berusaha menutupi lubang di lehernya.  Tangan satunya lagi berusaha meraih Mia. Pak Rahmat berusaha membuuka mulutnya seakan-akan ingin berkata-kata.   Langkah Pak Rahmat mulai goyah.  Kakinya gemetar.  Mia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini sekali lagi Mia menusuk perut Pak Rahmat keras-keras dan mendorongnya jatuh.  Tubuh Pak Rahmat terjengkang di sebelah tubuh Anto yang sudah mati.  Kembali darah segar membasahi lantai.  Mia membuang pisaunya. Kakinya lemas, Mia terduduk di lantai dan beringsut pelan mendekati Anto.  Mia mulai menangis dan mulai menjerit histeris.  Teriakannya yang histeris dan keras terdengar oleh Bi Ijah yang tergopoh-gopoh mendatangi ruang tamu.  Bi Ijah kaget melihat dua tubuh bergelimangan darah dengan Mia yang sedang bersimpuh di dekat Anto.  Sedang menangis histeris sambil memeluk tubuh Anto yang sudah tidak bernyawa.



#50 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 04 September 2017 - 03:27 PM

ESCAPE CHAPTER TWENTY TWO

 

DAY 8

 

Bi Ijah bingung tidak tahu mau berbuat apa.  Melihat Mia menangis sambil memangku kepala Anto di pahanya. Bi Ijah menghampiri Mia.

“Non, kok bisa terjadi begini?  Tadi Bi Ijah pulang dari belanja, melihat temen Non dateng.  Suruh dia masuk.  Tadi baik-baik saja.  Kenapa jadi begini?” Bi Ijah jadi panik sekarang.  Bau amis darah tercium.

Mia tidak merespons Bi Ijah.  Dengan bertetes air mata.  Mengusap wajah Anto.

“Sayang, maafin aku.  Kamu jangan mati dong,” isak Mia.  Mia masih sangat shock mendapati cowo yang dicintainya tewas dibunuh Pak Rahmat.  Lebih-lebih lagi dia membenci dirinya sendiri yang sudah merencanakan ini semua.  Sehingga Anto pun jadi terbunuh.  Mia merasa sangat bersalah.

 

“Non, Bibi telpon ibu aja yah?” tanya Bi Ijah kemudian.  Mia mengangguk sambil terus mengusap wajah Anto.  Mia sudah tidak peduli bajunya bersimbah darah dari punggung Anto.

“Anto, bangun.  Bangun sayang,”  melihat Anto diam saja, membuat Mia malah makin menangis.

Bi Ijah sudah selesai nelpon Melina.

“Non, mama mau segera  kembali ke rumah,” ujar Bi Ijah.  Bi Ijah hanya bersimpuh disebelah Mia yang terus memanggil Anto.

 

DAY 11

 

Untung Om Dodi datang bersama Melina waktu itu.  Dia seorang detektif dan sudah berpengalaman menangani hal-hal seperti ini.  Bahkan ketika berurusan dengan polisi.  Mia ditanyai oleh polisi.  Berita-berita muncul di koran.  Semua ditangani oleh Om Dodi.  Om Dodi pulalah yang membereskan Mia sehingga Mia tidak dituduh apapun.  Pembelaan diri.  Ini dendam kesumat seorang karyawan yang dipecat oleh majikannya.  Mia hanya jadi korban.

 

Sejak hari itu, Mia banyak berdiam diri.  Perasaan bersalah semakin menghantuinya.  Jiwanya serasa hampa.  Tidak ada gairah hidup.  Tapi hari ini, Mia berdiri dari kejauhan ketika pemakaman Anto dilaksanakan.  Mia memakai gaun hitam dan memakai kacamata hitam.  Terlihat air mata menetes dari balik kacamatanya.  Ketika semua orang sudah pergi dan penggali kuburan sudah menutup lubang jenazah Anto.    Mia mendatangi nisan Anto.  Mia berlutut dan memeluk nisan Anto.

“Anto maafin aku.  Semua ini salah aku,” tangis Mia.  Kembali lagi dingin menjalari seluruh tubuhnya.

“Kamu tau kan kalo aku sangat mencintaimu.” Memeluk nisan seakan-akan Mia memeluk Anto.

“Tapi kamu jangan khawatir sayang.  Aku tidak akan membiarkan kamu sendirian, kesepian disana.  Aku akan menemanimu,” lanjut Mia kemudian.

 

Mia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.  Sebuah cutter.  Dengan bercucuran air mata.  Mia menyayat pergelangan tangan kirinya.  Darah mengucur deras.  Mia merasakan tubuhnya semakin dingin. Sambil memeluk nisan Anto, Mia membayangkan saat-saat dirinya sedang bersama Anto.  Membuat hatinya terasa hangat.

“Sebentar lagi kita ketemu, to.  Kita akan selalu bersama, tidak terpisahkan,”  Darah semakin banyak membasahi tanah.  Mia tersenyum manis. Terlihat Anto sedang mendatanginya.  Mengulurkan tangannya.  Mia merasa gembira.  Menyambut uluran tangan Anto.  Lalu perlahan-lahan, kepala Mia terkulai di atas nisan Anto.  Wajah Mia tersenyum ketika Mia meninggalkan dunia ini untuk menemani Anto di alam sana.



#51 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 06 September 2017 - 10:17 AM

ESCAPE CHAPTER TWENTY THREE

 

EPILOG

 

Berdiri menunduk di depan nisan bertuliskan “KAREMIA SANJAYA”, seorang wanita cantik berambut panjang, memakai gaun terusan berwarna putih.  Memakai kacamata hitam dan topi bertepi lebar.  Melina menyilangkan kedua tangannya di dadanya.  Angin semilir meniup rambut panjangnya yang indah.  Bibir ranumnya saling berpilin.

 

Teringat kejadian kira-kira dua bulan silam, ketika dia memakai sebuah jasa taksi online.  Ternyata supirnya Pak Rahmat, mantan supir keluarga.  Pak Rahmat cukup kaget melihatnya.  Pak Badu supir keluarga sedang sakit, jadi mau tidak mau Melina memakai taksi online.  Dari percakapan mereka, Melina tau ternyata Pak Rahmat dipecat.  Suaminya, tepatnya almarhum suaminya sekarang bilang dulu dia dirolling ke pabrik.  Akhirnya setelah Melina menanyai detil, akhirnya Pak Rahmat menjawab semuanya.  Bahkan dia menunjukkan bukti foto-foto perselingkuhan suaminya.

 

Seharusnya Melina sakit hati.  Sakit hati sebenarnya tapi dia sudah tidak heran dengan kelakuan laki-laki, apalagi laki-laki kaya seperti Budianto.  Suami pertamanya pun demikian, anak orang terkaya di Garut, kenalan keluarganya.  Berwajah tampan rupawan.  David Sanjaya.  Pertama kali diperkenalkan padanya sudah membuat Melina jatuh hati karena ketampanannya. Siapa pula yang tidak akan jatuh hati, sudah tampan, kaya raya pula.  Dengan senang hati, Melina menyerahkan keperawanannya pada David.  Namun David seorang playboy. Dia hanya mempermainkan Melina.  David sering bermain perempuan.  Sampai Melina hamilpun, David tidak mau bertanggung jawab.  Akhirnya orang tua Melina karena kenal dekat dengan orang tua David campur tangan.  Mau tidak mau, David harus menikahi Melina.  Kehidupan rumah tangga Melina tidak membaik setelah Mia lahir.  David tambah sering bermain perempuan dan mulai berlaku kasar pada Melina. Memukulinya sudah hal yang biasa. 

 

Melina sebenarnya sudah tidak tahan, namun tetap berharap mudah-mudahan setelah Melina besar, David akan berubah.  Harapan tidak kunjung terwujud, kelakuan David padanya semakin menjadi-jadi.  Yang lebih parah, semakin besar wajah Mia terlihat mirip ayah kandungnya.  Terlihat kecantikannya tapi kemiripannya itu yang membuat Melina jadi membenci Mia.  Meskipun ibu kandungnya tapi Melina menyimpan rasa sakit hati pada David.  Sehingga kemiripan wajah Mia, selalu mengingatkan dia pada penderitaan yang disebabkan oleh David.

Namun sayangnya Mia begitu sayang pada ibunya, pernah ketika Mia berumur 5 atau 6 tahun, ketika David habis menampar diri Melina beberapa kali di depan Mia.  Mia tiba-tiba mengambil gunting kain dekat meja dan menusuk papanya dari belakang.  Hal ini membuat David dan Melina pun kaget.  Dengan wajahnya yang penuh air mata, gunting itu ditusukkan sekuat tenaga ke punggung David.  David ternyata tidak tega memukul anak kandungnya.  Setelah kejadian itu, David tidak pernah kembali lagi ke rumah. 

 

Namun bukannya tambah sayang pada Mia, Melina dalam hati semakin membenci Mia.  Apalagi ketika tumbuh semakin besar, wajah Mia benar-benar mirip dengan ayahnya hanya versi wanitanya dan ternyata Mia tumbuh menjadi gadis yang cantik.  Melina berharap mungkin suatu saat Mia akan memberikan keuntungan padanya, makanya Melina di luarnya tetap berperilaku seakan-akan menyayangi Mia.  Lagipula dengan adanya Mia dan Melina sebagai single parent, banyak keluarga yang merasa kasihan padanya sehingga memberikan bantuan materi setiap bulan dengan alasan untuk keperluan Mia.  Dan memang akhirnya Melina bisa menggunakan Mia untuk menjalankan rencananya.

 

Beruntung kemudian, Melina dipersunting Budianto, yang kaya raya juga.  Iyalah, mana mau Melina menyia-nyiakan kecantikannya.  Memang sudah terlihat Budianto seorang yang mata keranjang, meskipun sudah menikahinya tapi Melina sering mendapati Budianto melirik Mia.  Begitu pula anak tirinya Susanto, sering melirik putri cantiknya.  Namun Melina tidak mempedulikan hal itu, yang penting dia bisa menikmati kekayaan Budianto.

 

Ketika bertemu Rahmat hari itu, Melina mendapatkan sebuah ide.  Sakit hati Rahmat bisa dia manfaatkan.  Melina meminta nomor handphone Rahmat waktu itu. 

Seminggu kemudian, Melina janji bertemu Rahmat di sebuah hotel.  Dengan bermodal kecantikan dan tubuh telanjangnya, Melina dengan gampang bisa mempengaruhi Rahmat untuk membantu rencananya.  Tapi dengan catatan, Mia harus tetap terjaga keperawanannya.  Meskipun Melina membenci Mia, tapi dia tidak tega juga untuk membiarkan harga dirinya terenggut. 

“Awas kalo kamu berani mengambil perawannya Mia.  Saya tidak segan-segan akan bertindak kejam padamu dan perjanjian kita tentang membagi dua kekayaan Budianto saya batalkan,” itu yang Melina ucapkan ketika mereka berbaring telanjang di kamar hotel.

“Dan pastikan Mia mengetahui perselingkuhan Budianto, tunjukkan bukti foto-fotonya.”

 

Melina tau Mia anak kandungnya, tapi kebenciannya terhadap Mia karena mirip ayahnya sudah merasuk ke jiwanya.  Melina tahu sifat Mia, dia akan membela mamanya apabila ada orang yang sudah menyakiti mamanya, terbukti waktu kecil dia sudah berani menusuk ayah kandungnya dengan gunting.  Semakin besar pun, terlihat betapa Mia sangat menyayanginya.  Melina menyadari hal itu, tapi kebenciannya pada David sudah meracuni pikirannya.

 

Setelah rencananya dijalankan, hampir tiap hari Melina memantau Rahmat.  Melina sempat kaget ketika ada telepon dari Rahmat masuk.  Karena biasanya dia yang menelpon Rahmat.  Ternyata waktu itu Mia yang diam-diam menelponnya menggunakan hp Rahmat. 

“Beri dia hukuman, tapi ingat jangan ambil perawannya atau perjanjian kita batal,” begitu kata Melina waktu itu.

 

Melina tau sifat keras hatinya Mia.  Dia tidak aneh ketika beberapa kali Mia berusaha membebaskan diri dari Rahmat, bahkan dia tau strategi Mia menggunakan tubuhnya untuk memanipulasi Rahmat.  Melina membiarkan semua itu terjadi.

Dia pun sudah ditelpon Rahmat ketika Mia diantar pulang ke rumah.  Dimana dia sudah menunggu Mia di depan, agar tidak ada orang lain yang menyambutnya di rumah.  Bahkan ketika Mia menyuruhnya untuk pulang ke Garut menemui mamanya, Melina pura-pura enggan tapi akhirnya dia pun menyetujuinya.  Melina sudah mendapat laporan dari Rahmat mengenai rencananya dengan Mia. Hari itu pun Melina tidak ke Garut tapi hanya berhenti mampir makan di daerah Malangbong sehingga ketika ditelpon Bi Ijah dia bisa langsung pulang dengan cepat.

Semua rencananya berhasil, Budianto dan Susanto mati di tangan Rahmat. 

 

Melina menatap nisan Mia.  Bibirnya yang tadinya terpilin kini membentuk senyuman jahat.  Yang tidak disangka adalah munculnya Anto.  Rahmat terbunuh oleh Mia dan Melina tidak menyangka itu terjadi, seharusnya Melina bisa menduganya melihat sifat Mia yang keras kepala dan apa yang bisa dia lakukan untuk orang yang dicintainya.  Mia akhirnya bunuh diri.  Ada sedikit rasa sayang ketika mengetahui Mia bunuh diri.  Tapi ya sudahlah, lagipula aku membencinya.

 

Melina melihat nisan di samping Mia, tertulis “David Sanjaya”

Dasar kau bajingan, kuharap kau senang sekarang di neraka karena anakmu sudah menemanimu sekarang.  Pandangan tajam penuh kebencian menatap nisan itu dari balik kacamata hitam Melina.

Urusan dengan pihak berwajib pun selesai karena Budianto dan Susanto dibunuh karena Rahmat balas dendam setelah dipecat semena-mena oleh Budianto.  Berkat Anto pulalah, dia tidak harus membagi kekayaannya warisan dari Budianto dengan Rahmat, bahkan dia tidak perlu mengurus lagi anak peninggalan di bajingan David itu.  Melina akan memulai hidup baru.  Melina tersenyum dan tertawa laksana iblis wanita yang berhasil mengalahkan musuh-musuhnya.  Melina membalikan tubuhnya, menuju sebuah mobil pajero hitam.  Membuka pintunya.

“Ayo Dodi, kita pulang.  Kita nikmati hidup baru kita yang penuh kekayaan,” sambil Melina mengecup bibir Dodi di belakang kemudi.

 

TAMAT



#52 wingspoker

wingspoker

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 5 posts

Posted 27 September 2017 - 12:01 AM

ijin gelar tiker gan,,, mantep ini cerita nya lanjutkennnn



#53 rangoros

rangoros

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 35 posts

Posted 13 January 2018 - 09:20 AM

Ceritanya benar-benar berkelas, ngk bosen bacanya. Awal alur ceritanya sulit ditebak, salut gan. Juragan hebat

#54 blackpipe

blackpipe

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 76 posts

Posted 13 January 2018 - 10:41 PM

Ane baru baca cerita ini.
Berkelas suhu! Endingnya susah ditebak

Keren!