hit counter code



Jump to content


Situs Judi Bola

ss Situs Judi Bola Situs Judi Bola ss

ingin beriklan? hubungi kami: email : megalendir@gmail.com , big.lendir@yahoo.com atau Skype : big.lendir@yahoo.com

ss ss ss
ss ss ss
vert
vert
Photo
- - - - -

Tetek Besar Bu Mar (Bagian 1)

setengahbaya stwmontok iburumahtangga

  • Please log in to reply
14 replies to this topic

#1 Tlembuk

Tlembuk

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 1 posts

Posted 13 August 2017 - 10:57 PM

Tetek Besar Bu Mar
 
Sebagai orang kepercayaan tauke pemilik usaha perkebunan bawang merah, tugas dan tanggung jawabku lumayan berat. Dari mencari dan mengkoordinasikan para buruh yang hendak dipekerjakan sampai melakukan pembayaran upah mereka. Juga menyiapkan segala kebutuhan usaha perkebunan dari penyediaan bibit bawang merah, pupuk, obat-obatan pembasmi hama sampai penyediaan pompa penyedot air saat saluran irigasi tengah kering.
 
Namun yang cukup berat dan membuatku sempat ragu saat ditawari pekerjaan itu, adalah keharusan tidur di gubuk ladang bawang di saat usia tanaman menjelang panen. Memang tugas menjaga kebun bawang tidak sendirian karena ada beberapa buruh lain yang ditugaskan untuk kepentingan itu dan tugasku hanya memastikan perkebunan dalam kondisi aman. Tetapi karena cita-citaku sejak kecil adalah menjadi pekerja kantoran, maka bekerja di kebun bawang merah awalnya terasa sangat menyiksa.
 
Untung setelah hampir dua bulan bekerja, aku telah mempunyai beberapa orang kepercayaan yang bisa diserahi tanggung jawab untuk meringankan pekerjaan. Semacam mandor yang bisa mewakiliku dalam mengkoordinir para buruh. Pekerjaanku terasa menjadi lebih ringan meskipun buruh yang terlibat terkadang mencapai ratusan orang. Di kalangan buruh pria, tiga orang yang menjadi kepercayaanku adalah Mang Resman, Kang Makali dan Kang Taryani.
 
Sedangkan untuk buruh perempuan, awalnya aku cukup kesulitan mencari yang bisa dipercaya. Karena wanita desa yang bekerja sebagai buruh sortir bibit bawang merah dan pelaksanaan penanaman kebanyakan tidak lancar baca tulis. Padahal sebagai orang kepercayaan ia harus membuat catatan laporan tentang jumlah buruh yang bekerja setiap hari serta jumlah uang yang dibayarkan untuk upahnya.
 
Diantara para buruh perempuan sebenarnya ada Mbak Sum, yang menurut pengakuannya pernah sekolah sampai kelas 1 SLTP. Tetapi janda dengan satu anak itu di mataku terlalu genit dan kadang suka mancing-mancing menyodorkan tubuh montoknya. Aku takut orang-orang menganggap yang bukan-bukan bila mempercayakan kepada Mbak Sum sebagai koordinator buruh perempuan.
 
Belakangan, masuk seorang buruh wanita baru. Orang-orang memanggilnya Bu Mar. Usianya sudah tidak muda dan kutaksir sekitar 50 tahun atau mungkin lebih. Tetapi dibanding buruh wanita lainnya, ia terlihat lebih punya wibawa dan sepertinya melek huruf. Maka setelah kuamati dan kutimbang-timbang, kuputuskan untuk memintanya menjadi koordinator buruh wanita. Dan Suatu siang saat para buruh perempuan tengah melakukan pemotongan bibit bawang untuk persiapan penanaman, Bu Mar kuminta datang ke gubukku.
 
"Mas Win manggil saya?" kata Bu Mar setelah masuk ke dalam gubuk.
 
"Oh.. ii ya Bu. Silahkan masuk," ujarku mempersilahkan.
 
Namun bukannya duduk di bangku panjang yang ada di dalam gubuk, Bu Mar duduk di lantai tanah dan tampak canggung. Ia juga masih mengenakan topi petaninya yang biasa dipakai para buruh wanita untuk melindungi tubuh dari sengatan matahari. Aku jadi nggak enak dan segera kuraih lengannya dan memintanya duduk di bangku panjang dekat tempat dudukku.
 
"Takut bangkunya kotor Mas Win, nanti nggak bisa dipakai duduk. Soalnya kain yang dipakai ibu basah dan terkena lumpur," katanya malu.
 
Tidak seperti buruh wanita lain yang kebanyakan memakai baju kebaya lusuh saat bekerja, Bu Mar memakai baju pria berlengan panjang. Mungkin baju bekas suaminya. Tetapi untuk bawahannya tetap tak berbeda dengan "seragam" para buruh wanita yang lain. Yakni melilit tubuh dengan kain panjang. Ujung kain panjangnya yang hanya beberapa senti di bawah lututnya, memang terlihat basah dan kotor oleh lumpur.
 
Wajah Bu Mar ternyata lumayan cantik. Itu kutahu setelah ia membuka topi petani yang dipakainya. Seperti kebanyakan wanita seusianya, tubuhnya sudah tidak ramping. Namun proposional untuk sosoknya yang agak tinggi. Rambutnya yang lebat digelung sederhana. Terlihat sudah mulai dihiasi uban. Kalau ia berdandan dan memakai pakaian bagus, aku rasa Bu Mar cukup pantas menjadi istri kepala desa atau istri orang terpandang di desanya. 
 
Ia menyatakan kesediaannya ketika kutawari menjadi koordinator penanggungjawab kelompok buruh wanita. Bahkan berkali-kali mengucapkan terima kasih ketika kusampaikan tentang adanya sedikit upah tambahan untuk kesediannya membantu mengkoordinasi buruh perempuan. Senyumnya mengembang menampakkan sederet giginya yang putih terawat. Akhirnya, setelah memberinya beberapa petunjuk tentang cara pembuatan catatan pengeluaran pembayaran terhadap buruh perempuan, kuserahkan padanya buku nota dan sejumlah besar uang untuk pembayaran para buruh yang nantinya harus dipertanggungjawabkan kepadaku setiap pekan.
 
Saat ia keluar dari gubuk baru kusadari ada yang luput dari perhatianku. Bu Mar ternyata memiliki pinggul dan pantat yang bagus. Pantatnya yang membulat besar bergoyang-goyang mantap seiring dengan langkah kakinya saat ia meninggalkan gubuk menuju ke kelompok pekerja wanita. Aku terpana melihatnya. Apakah wanita seusia dirinya masih sering bersetubuh dengan sang suami? Kenapa tadi tidak kuperhatikan bentuk dan ukuran payudaranya, ujarku membathin tanpa melepaskan tatap mataku dari goyangan pantatnya. 
 
Seperti yang kuperkirakan, dipakainya Bu Mar sebagai tenaga koordinator buruh perempuan menjadikan pekerjaanku lebih ringan. Aku tidak perlu lagi repot mencari buruh perempuan baru bila membutuhkan tenaga pekerja lebih banyak. Semua diurus Bu Mar dengan cekatan dan laporan pengeluaran keuangan yang bisa dipertanggungjawabkan. Bahkan penyediaan nasi bungkus untuk makan siang para buruh laki-laki dan perempuan, akhirnya kupercayakan sepenuhnya kepada wanita itu.
 
Kebun bawang merah yang menjadi tanggung jawabku tidak hanya berada di satu lokasi. Tetapi ada di tiga kawasan terpisah. Karenanya bersama Mang Makali, Kang Taryani dan Kang Resman serta Bu Mar, aku sering bersama-sama  meninjau tiap lokasi kebun. Oleh tauke yang menjadi majikanku, aku diberi kepercayaan membawa mobil bak terbuka sebagai sarana transportasi. Tetapi yang paling sering adalah dengan Bu Mar untuk mengambil nasi bungkus tempatnya dipesan untuk dibagikan ke kelompok-kelompok pekerja.
 
Dari cerita Bu Mar, ia terpaksa bekerja sebagai buruh karena tuntutan kebutuhan. Dua tahun lalu, kata dia, suaminya yang bekerja sebagai mandor bangunan di Jakarta mengalami kecelakaan dan menjadi lumpuh. Sejak itu kebutuhan keluarganya banyak ditopang dari anak keduanya yang bersuamikan karyawan sebuah perusahaan juga di Jakarta dengan penghasilan lumayan. 
 
Sedang anak pertamanya yang juga perempuan, menikah dengan warga desa tetangga dan penghasilannya pas-pasan hingga tidak bisa membantu. Tetapi sejak sebulan lalu, menantu yang selama ini membantu menopang kebutuhan keluarganya terkena PHK hingga pengiriman uangnya ke kampung menjadi terhenti. Bu Mar kini harus menghidupi suami dan dirinya secara mandiri dan tidak punya pilihan selain menjadi buruh kebun bawang merah seperti yang banyak dilakukan wanita para tetangganya.
 
"Cucu saya sudah tiga lho Mas Win. Kalau Mas Win kapan nikahnya? Kan sudah punya penghasilan besar. Nunggu apa lagi?," kata Bu Mar suatu hari saat berdua di mobil untuk mengantar jatah makan siang para buruh. 
 
"Iya nih nggak laku-laku. Carikan dong Bu," 
 
"Siapa ya? Sayang putri ibu cuma dua dan semuanya udah nikah. Dan lagi cuman orang desa pasti Mas Win nggak akan mau," 
 
"Eh siapa bilang nggak mau? Meski saya belum pernah melihat putri ibu, kalau masih ada yang sendiri pasti saya mau. Bibitnya saja cantik pasti anaknya juga cantik," 
 
"Walah cuma buruh tani dibilang cantik. Lagian saya kan sudah nenek-nenek," kata Bu Mar menukas.
 
Seulas senyum tampak mengembang di wajah Bu Mar saat kulihat dari spion mobil yang kukendarai. Meski sudah tua, bagaimana pun ia tetap seorang wanita. Senang menerima pujian dari lawan jenisnya. Saat itu baru kusadari busungan buah dada Bu Mar ternyata tak kalah menggoda. Teteknya yang kutaksir berukuran cukup besar terlihat terguncang-guncang di balik baju berkerah yang dipakainya. Guncangan tetek Bu Mar sejalan dengan goyangan kendaraan karena melintasi jalanan buruk tidak beraspal. Dan entah dari mana idenya tiba-tiba aku menjadi keceplosan.
 
"Menurut saya ibu tetap nenek yang masih menarik. Apalagi dengan tetek ibu yang masih merangsang itu,"
 
Upsss! Gila kenapa aku ngomong begitu? Tetapi sudah terucap dan aku tak bisa menarik kembali perkataanku. Dengan agak panik kulihat reaksi Bu Mar. Sebenarnya aku tak bermaksud sembrono kepadanya. Takut ia jadi berpandangan kurang baik kepadaku. Tetapi sepertinya dia tidak marah.
 
"Aduh.. kelihatan ya Mas Win. Ia nih ibu terpaksa nggak pakai BH. Soalnya hujan terus, cucian nggak ada yang kering," ujarnya sambil menyedekapkan tangannya di dada untuk menutupi tonjolan bukit kembarnya.
 
Haah.. tidak pakai BH? Sebenarnya aku tidak tahu sama sekali ia memakai BH atau tidak. Tetapi mendengar pengakuannya pikiranku jadi ngeres. Apalagi hanya berdua di jalanan yang sepi. Melalui kaca spion berkali-kali aku mencuri pandang menatapi busungan buah dadanya. Membuat darah mudaku berdesir dan tanpa bisa kucegah si otong di balik celanaku menggeliat.
 
Menurut Mas Bakri, karyawan yang bekerja pada juragan bawang lain seperti diriku, banyak buruh wanita di kebun-kebun bawang merah yang bisa diajak kencan. "Tetapi jangan yang masih sendiri, nanti kamu bisa dipaksa kawin. Mendingan yang janda atau malah yang ada suaminya. Bener lho Win, coba saja kalau ada yang kamu suka, " kata Mas Bakri suatu hari.
 
Juga menurut Mas Bakri, dari pada main dengan pelacur beresiko terkena penyakit kelamin mending dengan buruh perempuan di perkebunan bawang. Asal mau sama mau dan diberi sedikit uang tambahan, terkadang layanan yang diberikan sangat memuaskan. Mas Bakri bahkan mengaku selalu punya satu dua orang buruh perempuan yang bisa diajaknya kencan di setiap lokasi perkebunan bawang.
 
Kalau melihat kegenitan yang diperlihatkan Mbak Sum, salah satu buruh yang bekerja di kebun bawang yang kukelola rasanya memang benar yang diomongkan Mas Bakri. Sayang aku tidak berselera pada wanita yang berstatus janda itu. Maskipun lumayan cantik dan bersih tetapi kelewat genit hingga aku tidak menyukainya. Kalau Bu Mar? Ah rasanya aku tidak yakin. Ia sudah menjadi nenek dan usianya sudah hampir atau malah lebih dari 50 tahun. Meskipun tubuhnya masih nampak montok dan mampu membuat batang kontolku bangkit, belum tentu ia masih punya gairah dalam urusan ranjang. Juga karena wajahnya yang tidak membersitkan sebagai perempuan gampangan.
 
Sampai di lokasi kebun bawang merah yang dituju, Bu Mar langsung turun dan mengambil jatah makan siang para buruh. Pantat besar Bu Mar kembali menarik perhatianku saat ia membawa paket nasi bungkus menuju rombongan buruh yang tengah bekerja. Aku jadi ingat Bi Surti, tetanggaku. Wanita yang bekerja sebagai buruh nyuci itu, saat aku masih SMP sering kuintip karena kamar mandinya yang terbuat dari dinding bambu banyak memiliki lubang besar. Bokong Bi Surti juga besar meski tidak sebesar Bu Mar. Tetapi jembut keriting di memeknya sangat lebat. Aku sering mengintip sambil ngocok sendiri kontolku karena tak tahan setiap melihat Bi Surti tengah menyabuni memeknya. Seperti apa ya bentuk memek dan kelebatan jembut Bu Mar?
 
Membayangkan itu aku jadi malu sendiri dengan pikiran kotorku. Aku bergegas turun dari mobil menemui Kang Resman di gubuk. Mendung terlihat tebal menggantung siang itu. Kalau tidak segera kembali, mobil bakal terjebak di kubangan kalau hujan keburu turun karena jalanan yang masih jalan tanah dan becek.
 
Saat aku kembali ke mobil Bu Mar sudah menunggu. "Mau hujan Mas Win, nanti mobilnya terjebak lumpur," ujarnya.
 
"Ii.. iya Bu. Ini makanya saya cepetan,"
 
Mobil segera kustater dan perlahan melaju meninggalkan kompleks kebun bawang. Saat kembali iseng melihat dari kaca spion, baru kusadari ada yang berubah pada diri Bu Mar. Baju yang sebelumnya terkancing rapat seluruhnya, kulihat ada tiga kancing yang tidak terpasang. Sebagian busungan buah dada Bu Mar menjadi terlihat. Bahkan dari samping, saat aku meliriknya, tetek Bu Mar terlihat lebih terbuka. Meski tidak melihat keseluruhan, ukurannya kukira cukup besar meski agak melorot. Maklum usianya sudah hampir setengah abad.
 
Tidak mungkin kalau Bu Mar tidak sengaja membuka kancing-kancing bajunya. Sebab tadi semua kancingnya terlihat terpasang rapat. Konsentrasiku membawa kendaraan menjadi buyar. Karena berkali-kali melirik lewat spion atau melihat langsung sebagian buah dada wanita itu dari kancing-kancingnya yang terbuka. Bu Mar terlihat menyandar dan terkantuk-kantuk hingga aku jadi leluasa mengintipi teteknya yang terbuka. Karena sering tidak memperhatikan jalan, mobilku nyaris selip dan hampir terperosok di sebuah jembatan darurat.
 
"Mas Win ngantuk ya?," kata Bu Mar saat aku memundurkan kendaraan agar tidak terperosok ke sungai kecil di sebuah jembatan darurat.
 
"Ah enggak kok. Cu...cuma...,"
 
"Cuma apa Mas? Kok kayaknya bingung," desak Bu Mar. Saat itu hujan mulai mengguyur dan langsung menderas. Seakan jatuh tercurah dari langit.
 
Aku jadi kembali ingat omongan Mas Bakri soal buruh wanita di desa yang katanya gampang diajak kencan. Kenapa tidak dicoba, pikirku membathin. "Sa.. saya lihat tetek ibu bagus banget. Punya saya jadi ngaceng," kataku nekad akhirnya.
 
Kukira Bu Mar akan terkejut dan langsung mengancingi kancing-kancing bajunya yang terbuka. Ternyata hanya tersenyum dan berujar enteng, "Ih Mas Win, wong lihat tetek peot begini kok sampai ngaceng. Seperti yang belum pernah lihat punya perempuan saja." 
 
Bu Mar melihat ke kancing-kancing bajunya yang terbuka tetapi tidak untuk menutupnya. Ia hanya tersenyum dan malah lebih manyibakkan bagian depan penutup tubuhnya itu. Aku jadi bisa melihat lebih jelas bentuk buah dadanya. Termasuk putingnya yang mencuat berwarna kecoklatan. Teteknya yang berbentuk mirip buah pepaya, benar-benar merangsang dan mengundang. 
 
Konsentrasiku mengemudi semakin buyar. Terlebih ketika jalanan telah memasuki kawasan hutan jati milik Perhutani yang sepi. Aku jadi semakin berani. "Kalau tetek ibu peot nggak mungkin dong kontol saya jadi ngaceng," ujarku tambah berani.
 
Lagi-lagi Bu Mar hanya tersenyum. Bahkan kali ini kulihat ia mencuri pandang ke arah bagian celanaku yang menonjol akibat terdesak tonjolan batang zakarku yang menegang. Aku jadi makin nekad. Sambil tetap memegang kemudi kuturunkan risleting celanaku dan kukeluarkan kontolku dari sarangnya. "Ibu nggak pecaya, punya saya bener-bener tegang nih gara-gara melihat tetek ibu," kataku.
 
Rupanya Bu Mar tak menyangka ulahku bakal senekad itu. Namun lagi-lagi ia tidak berpaling atau menghindarkan tatapannya dari batang zakarku yang tegak mengacung. Malah seakan mengagumi alat kejantananku. "Ih.. gede banget Mas Win. Nanti yang jadi istrinya bakal seneng tuh," ujarnya dengan ekspresi kekaguman yang tak ditutupinya.
 
Ternyata wanita yang sudah menjadi nenek dari tiga orang cucu ini, masih punya gairah dalam urusan sex. Tanpa berkedip tatap matanya lekat-lekat memandangi tonggak daging batang kontolku yang makin menegang. "Ibu mau pegang punya saya?"
 
"Ih masa di jalan. Bahaya lho karena Mas Win kan lagi nyetir," ujarnya.
 
Aku jadi ingat. Belum lama ini aku menawar sebuah lapak (tempat penjemuran dan penampungan bawang) milik petani yang hendak disewakan. Memang belum tercapai kesepakatan harga tetapi pemiliknya sudah menyerahkan kuncinya padaku karena sudah meminjam uang. Lokasi gudang tak jauh dari tempat kendaraanku hendak melintas. Maka di pertigaan aku langsung berbelok arah menuju gudang tersebut. Mudah-mudahan di saat hujan deras seperti ini tidak ada petani yang berteduh, ujarku membathin.
 
"Saya mau lihat lapak yang mau hendak kita sewa ya Bu,"
 
"Tapi itu pistolnya masukkan dulu, nanti dikira mau nembak," kata Bu Mar saat turun dari mobil sambil menunjuk rudalku yang mengacung.
 
Wah bener bisa gawat kalau sampai ada yang lihat. Segera kumasukkan kembali senjata pamungkasku dan kubenarkan risleting celanaku. "Tapi ibu mau kan kalau saya tembak?" Ujarku.
 
Kali ini Bu Mar tak menjawab hanya senyum dikulum. Hujan semakin deras mengguyur. Dari jauh kulihat lapak yang hendak kudatangi benar-benar sepi. Persawahan di sekitarnya memang baru selesai panen padi jadi tidak ada aktivitas petani dan tidak ada petani yang berteduh seperti biasanya.
 
Setelah memarkir kendaraan, aku bergegas menuju teras gudang. Kondisi lapak benar-benar sepi. Tak ada petani yang biasanya duduk-duduk beristirahat di bale-bale yang ada di teras gudang. Aku membuka kunci gudang dan mengajak Bu Mar masuk. Setelah di dalam, tanpa membuang kesempatan aku langsung menarik dan mendekap wanita yang usianya sepantaran ibuku itu. Benar, tetek Bu Mar ternyata lumayan besar. Terasa empuk menekan dadaku.


#2 Prabu2525

Prabu2525

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 1 posts

Posted 17 August 2017 - 03:58 PM

lanjutkan mas bro....



#3 Akoyaro

Akoyaro

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 3 posts

Posted 18 August 2017 - 06:43 AM

Lanjuttttt

#4 yagamil

yagamil

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 2 posts

Posted 19 August 2017 - 11:59 AM

Hadohhh dapet kentangggg. Lanjutkan mas bro 👻👻

#5 dewo rengku

dewo rengku

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 57 posts

Posted 19 August 2017 - 09:53 PM

mantap lanjut gan...

#6 langkitang86

langkitang86

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 2 posts

Posted 23 August 2017 - 03:48 PM

Mantap lanjutkan mas bro

#7 klonenganmon

klonenganmon

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 3 posts

Posted 26 August 2017 - 02:21 AM

Wadoooh kok kentang

#8 jconstantine

jconstantine

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 1 posts

Posted 26 August 2017 - 06:43 PM

Lanjut um jangan kentang : SWEAT :



#9 celekbuta

celekbuta

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 9 posts

Posted 27 August 2017 - 12:00 AM

Tiap mlm cuma nungguin sambunganya doank.

#10 lukalaki

lukalaki

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 102 posts

Posted 27 August 2017 - 12:38 AM

Ditinggal ke jogja 5 hari msh gantung itu toket bu mar..

#11 dewo rengku

dewo rengku

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 57 posts

Posted 27 August 2017 - 09:17 PM

kok gak dilanjut gan

#12 belebek

belebek

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 202 posts

Posted 27 August 2017 - 09:27 PM

hahahah .. kena deh ...dibikin kentang kita ya .... bravo ... lanjut bro ... jempol



#13 bayuliar

bayuliar

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 43 posts

Posted 28 August 2017 - 02:22 AM

Lanjut bro

#14 botaks86

botaks86

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 409 posts

Posted 02 September 2017 - 01:43 PM

Lanjutkan gan!!! hehehe..



#15 cersexidn

cersexidn

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 19 posts

Posted 04 January 2018 - 06:28 PM

Kumpulan Cerita Seks berdasarkan Pengalaman Nyata Yang Diambil Dari Narasumber Aslinya dan Bukan Cerita Fiktif Belaka.
 
Update Setiap Harinya
 
Baca Disini :DAUN MUDA
 
Baca Disini :CERITA MASTURBASI
 
Baca Disini :CERITA SEDARAH
 
Baca Disini :CERITA PEMERKOSAAN
 
Baca Disini :CERITA LESBIAN
 
Baca Disini :CERITA PESTA SEKS
 
Baca Disini :CERITA PENYIKSAAN
 
Baca Disini :CERITA LAINNYA
 
Baca Disini :Live Score Bola
 
Follow juga Fanspage FacebookCERITA SEKS untuk melihat update setiap harinya[/url]