web counters counter stats



Jump to content


First deposit bonus

ss Situs Judi Bola Situs Judi Bola Situs Judi Bola Situs Judi Bola Situs Judi Bola Situs Judi Bola Situs Judi Bola

ingin beriklan? hubungi kami: email : megalendir@gmail.com , big.lendir@yahoo.com atau Skype : big.lendir@yahoo.com

Live Dealers Double up bonus ss ss
ss ss ss
vert
vert
Photo
* * * * * 1 votes

Siapa Kamu Sebenarnya?

jilbab cadar suamiistri

  • Please log in to reply
54 replies to this topic

#1 sadewa01

sadewa01

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 34 posts

Posted 02 September 2017 - 10:18 AM

selamat pagi suhu2 sekalian. ane newby nih lagi mau belajar nulis. mohon komen yang membangun dari suhu2 yang sudah expert.

 

Intro: Siapa yang Datang?

 

Jantungku berdegup kencang tak menentu. Hal ini memang bukan yang pertama untukku namun sudah bisa dipastikan inilah pilihan abi.

 

Hari ini cuaca agak sedikit mendung, namun rombongan dari Ibukota tak mengurungkan niatnya untuk menyambangi desaku yang agak terpencil. Teman Abi, Pak Rusdi akan tiba untuk menikahkan anaknya denganku. Meskipun ada beberapa pemuda yang sebelumnya datang untuk meminangku, namun abi selalu menutup diri dengan meminta syarat harus seorang hafiz dan hafal beribu-ribu hadits. Maklum saja, abi merupakan kyai pesantren di Desa ini. Banyak santri dari daerah datang ke Desaku untuk belajar ilmu agama.

 

Kata Abi, Pak Rusdi ini teman kecil yang sekarang sudah sukses menaklukkan ibukota. Dibenakku aku membayagkan seperti apa rupa calon imamku ini, aku sama sekali belum pernah melihatnya. Aku melayang dalam lamunanku sendiri..


  • siap_crot717 likes this

#2 sadewa01

sadewa01

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 34 posts

Posted 02 September 2017 - 10:24 AM

Part 1: Perkenalanku

Diiinn diiiinn..

klakson mobil membuyarkan lamunanku. satu mobil berwarna hitam memasuki halaman rumahku dan diikuti dengan teriakan salam dari dalam mobil.

 

“assalamualaikum pak kyai.” Suara berat lelaki setengah baya yang kemudian diiringi dengan tawa. Aku pikir itu pak Rusdi.

“Waalaikumsalam warohmatullahiwabarokatuh. Alhamdulillah sampe juga nih yang ditunggu.” Sambut Abi.

 

Aku yang masih duduk di ruang tamu agak sedikit mendangak untuk mencuri pandang melihat calon imamku, namun kaca mobil yang gelap tidak membiarkanku begitu saja.

 

“huussttt.. hussst.. Aisyah, ayo masuk!” suara bisikan umi dari dalam tak membiarkanku terlarut.

 

Aku segera berlari kecil membenamkan diri dalam gubuk tua keluargaku. Aku duduk disamping umi dan memeluknya memberi sinyal kepanikanku. Umi hanya mengelus punggungku sembari tersenyum. Deru langkah mulai memasuki bilik rumahku. Abi mulai mempersilakan tamuku untuk duduk. Mungkin ada 4 atau 5 orang, aku hanya menebak berdasarkan langkah kakinya.

 

“Umiii.. Sini tamunya sudah datang.” Suara Abi lantang memanggil Umi.

“iya baah..” jawab Umi.

Umi yang cukup menenangkanku akan segera berlalu.

“Aisyah, nanti kamu bawain minumnya ke depan ya. Itu udah umi siapkan.” Ucap umi sembari berjalan menuju muka.

 

Aku sedikit ragu untuk membawakan minuman ini. Beberapa menit aku memberanikan diri dan dengan satu tarikan nafas panjang dan bacaan bismillah, aku mulai mengangkat nampan merisi air. Aku melangkah dengan agak gontai dan pikiran yang berkecamuk, sebentar lagi aku akan melihat calon imamku!

 

“permisi” suaraku lirih, bahkan hampir tak ada yang mendengar. Suasana mendadak hening. Aku mulai menyajikan minuman untuk tamu dan orangtuaku. Ada 4 orang tamu yang duduk disana, ya aku pastikan itu! Jantungku bak berhenti begitupun dengan waktu. Aku mungkin juga tidak bernafas. Setelah semuanya tersaji aku berjalan kembali ke dalam seolah lenyap.

 

“Huuuuuhh” aku menghela nafas panjang. Aku kembali memutar memoriku ke belakang beberapa detik. Yang aku tafsir sebagai calon suamiku adalah seorang lelaki berbadan tegap berisi mengenakan baju batik dan celana kain berwarna hitam sedang duduk. Yah! Itu saja! Aku bahkan tak sempat melihat rupanya. Emm, bukan tak sempat, aku memang hanya menunduk sedari tadi. Hilang nyali seketika.

 

Obrolan kembali bersua di ruang tamu. Aku hanya mendengar suara yang aku tafsir sebagai pak Rusdi dan istrinya. Tidak untuk dua lagi yaitu calon suamiku dan perempuan entah siapa.

Beberapa menit aku mulai mengatur nafasku yang sebelumnya tak beraturan hingga teriakan abiku dari ruang tamu menghancurkan semuanya.

 

“Aisyaahh, sini sebentar nak..” Kata Abi.

Aku terbelalak seakan tak percaya ini terjadi. Dengan langkah kecil dan menunduk aku beranjak dari kursi.

“Aisyah duduk sini sebentar” kata Abi sembari menepuk kursi disebelahnya

“Iya bah” suaraku masih lirih.

Kini aku, abi, dan umi duduk berhadapan dengan tamu-tamuku.

“Ini kenalin temen kecil Abi pak Rusdi, istrinya, Imel anak kedua pak Rusdi dan Fahmi anak pertamanya.”

 

Aku yang awalnya masih menunduk mulai berani sedikit mendongakkan kepala dan melihat wajah mereka satu persatu hingga rupa Fahmi. Jantungku kembali berdegup kencang ketika aku melihat calon imamku. Wajah tampan dengan kulit putih menatap dan tersenyum padaku sambil mengangguk. Aku refleks menunduk kembali.

 

Abi yang mengetahui situasi canggung ini langsung kembali berbicara.

“Jadi kedatangan pak Rusdi dan keluarga itu untuk menikahkan anaknya Fahmi dengan kamu Aisyah. Apa kamu setuju?” tanya Abi kepadaku.

“Aisyah ikut Abi saja” balasku cepat.

“Baiklah kalau Aisyah sudah setuju sekarang Fahmi sebagai calon suamimu ingin melihat wajahmu. Kamu bisa lepas sebentar cadarmu Aisyah” Kata Abi memberi instruksi.

 

Aku menoleh ke Umi dan Umi mengangguk, aku agak sedikit ragu karena sebelumnya memang aku belum pernah membuka cadarku dihadapan lelaki yang bukan muhrimku.

Dengan perlahan aku membuka cadarku.

 

“Masya allah.. cantik sekali ya dik Aisyah” Kata bu Rusdi.

Aku melirik ke arah Fahmi dengan masih menunduk dan melihat dia tersenyum lebar. Aku kemudian segera menutup cadarku kembali.

“Gimana dik Fahmi?” celetuk Abi.

“Eee.. eehh.. Cantik sekali pak” kata Fahmi terbata-bata.

“Nah, kalo sudah gini kita bisa rundingin tanggal pernikahannya. Hahaha” Abi tertawa lepas dan diikuti dengan lainnya.

 

Hari yang aku tunggu itu berakhir dengan sangat cepat. Anehnya tak seperti biasanya, abi tak melakukan “tes” kepada Fahmi walaupun hanya bacaan qurannya saja.



#3 sadewa01

sadewa01

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 34 posts

Posted 03 September 2017 - 08:28 AM

Part 2: Hari yang Ditunggu

 

“Saya terima nikah dan kawinnya Aisyah Binti Ibnu Rosadi dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat 500 gram dibayar tunai” Suara Fahmi lantang mengucapkan kalimat sakral itu.

“Saah?” tanya penghulu

“Saah.. Saaahh.. Diikuti dengan semua saksi” Aku tersenyum bahagia dibalik cadarku.

 

Aku melirik Fahmi yang juga terlihat tak kalah bahagia. Hari pernikahan ini merupakan hari dimana kedua kalinya aku dan suamiku bertemu. Suamiku menjulurkan tangannya dan aku menyambut dan mencium tangannya dengan lembut sebagai tanda hormat menggantikan posisi abi sebagai yang bertanggung jawab atasku.

 

Tak pernah terbayang sebelumnya diusiaku yang telah memasuki 20 tahun aku bisa menikah di gedung yang amat mewah dan besar dengan ratusan tamu yang datang berangsur baik dari keluarga suamiku maupun keluargaku dan para santri yang diajak ke ibukota tentunya. Sebenarnya abi tak ingin pernikahanku dirayakan berlebihan seperti ini, namun pak Rusdi yang bersikeras. Aku tidak menyangka suamiku sekaya ini diusianya yang telah memasuki 34 tahun. ya, jarak usiaku dengan mas Fahmi memang jauh, namun itu tak membuat cintaku terpaut jauh dengannya. cieeee. Hehehe..

 

Aku memakai pakaian panjang berwarna putih lengkap dengan jilbab panjang dan cadar dengan sedikit hiasan disekitar pakaianku, sedangkan mas Fahmi mengenakan Pakaian senada yang menampakkan kegagahannya. Seharian kami berdua hanya melayani tamu yang datang dan sesekali berfoto bersama. Aku melihat raut wajah Abi dan umi yang sumringah telah berhasil menikahkan anak satu-satunya ini. Mungkin hingga pukul 3 sore tamu kemudian berangsur pulang. Mas Fahmi untuk kesekian kalinya menawariku minum, dia sangat tahu aku kelelahan meskipun hanya tampak sorotan kedua mataku.

 

Pukul 15.30 aku dan suamiku kemudian dibimbing menuju mobil yang telah disediakan untuk kami. Tamu yang masih tinggal melepas kepergianku. Aku dan suamiku melaju menembus kemacetan ibukota menuju rumahnya yang diikuti dengan keluargaku dan keluarga mas Fahmi di belakang.

 

“Dik Aisyah capek banget ya?” Suara lembut suamiku berdengung.

“Enggak kok mas, gapapa.” Kataku.

 

Aku yang masih canggung duduk berdua agak menjaga jarak meskipun aku tau dia suamiku. Mas Fahmi terlihat juga agak canggung menanggapiku. Beberapa saat keadaan menjadi hening.

 

“Wah bahagia banget ni den. Hehe..” Kata pak sopir didepan memecah keheningan.

“Hehe. iya pak. Akhirnya saya menikah juga ya pak... Oh iya maaf ni sampe lupa ngenalin. Dik aisyah ini mas Joko, sopir pribadi mas. mas Joko, ini Aisyah.”

Aisyah hanya mengangguk pelan sementara mas Joko kembali berceloteh. Mungkin umurnya 40 tahunan.

“Wah, pasti pilihan aden cantik sekali ya..” kata mas Joko diikuti tawanya dan sesekali melihat kearah aisyah dari sepion depan.

“Haha ya sudah jelas itu pak tidak usah ditanyakan lagi” balas Fahmi.

Beberapa menit kemudian aku telah sampai ke sebuah rumah. Aku tak menyangka rumah mas Fahmi bak istana yang sangat megah. Aku terkagum hingga bengong beberapa saat.

“Ayo turun Aisyah. Sekarang ini udah jadi rumah kamu juga.” Kata mas Fahmi sambil membukakanku pintu.

 

Aku turun dengan mantap, dari belakang diikuti rombongan Abi dan pak Rusdi. Ada dua orang wanita muda mungkin 25 tahunan yang kemudian mempersilakan kami masuk. Keluarga kami duduk sebentar sembari melepas penat di ruang tamu.

 

“Waaw, empuk sekali kursinya” begitu dalam benakku.

 

Sangat jauh sekali jika dibandingkan dengan kediamanku yang sangat sederhana. Mungkin jam 5 kemudian abi dan umi langsung beranjak dan berpamitan dengan pak Rusdi. Abi harus mengejar pesawat untuk keberangkatan jam 9 malam ini. Aku sempat menitikkan air mata ketika memeluk umi dan abi untuk berpamitan. Pak Rusdi dan keluarganya mengantar keluargaku ke Bandara. Hanya aku dan mas Fahmi sekarang yang tinggal.



#4 sadewa01

sadewa01

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 34 posts

Posted 03 September 2017 - 08:34 AM

Part 3: Home Sweet Home

 

“Dik, ayo ikut mas. Mas antar ke kamar kita. Barangmu sudah ada diatas tadi dibawa mas Joko.” Kata suamiku.

“Iya mas” sembari mengikutinya dari belakang.

 

aku sangat takjub dengan ukuran dan perlengkapannya. Kamarnya sangat mewah dan dingin pikirku sembari mendengar penjelasan mas Fahmi. Dari penjelasan mas Fahmi aku tahu bahwa di rumah seluas ini hanya kami berdua dan 4 orang asisten rumah tangga yang menetap disini. Sementara adik dan orang tua mas Fahmi tinggal berbeda tempat.

 

Dari 4 orang asisten rumah tangga, aku telah melihat mas Joko sebagai sopir pribadi mas Fahmi dan 2 wanita yang menyambut didepan yakni mbak Ijah dan mbak Marwah. Sedangkan seorang lagi yang bernama mas Tikno sebagai tukang kebun rumah ini aku belum melihatnya. Ternyata baru kutahu bahwa mas Joko adalah suami dari mbak Ijah dan pak Tikno suami dari mbak Marwah.

 

Aku kemudian segera memasukkan pakaianku ke dalam lemari sementara suamiku segera bersiap mandi untuk menyegarkan badannya. Beberapa menit aku hanya duduk ditepi ranjang tak tau apa yang harus aku lakukan.

 

Clekk.. pintu kamar mandi terbuka, aku reflek menoleh dan melihat suamiku telanjang dada hanya berlilitkan handuk saja. Rasa malu setengah mati menjalari seluruh tubuhku. Aku langsung berpaling menghadap sisi lain. Aku mendengar suamiku hanya terkekeh kecil.

 

Tiba-tiba tangannya memelukku dari belakang. Jantungku hampir berhenti mengetahui perlakuan suamiku ini.

“Hihi, kenapa dik? Mas kan sekarang udah jadi suami kamu.” Kata mas Fahmi.

Satu kecupan manis kemudian mendarat dipipiku meski terhalang oleh cadar.

“Sana kamu mandi dulu. Mau mandi sendiri atau mas temenin?” katanya bercanda.

“Ehh, mas. Sendiri bisa kok mas.” Jawabku setengah malu.

 

Aku segera berdiri, mengambil pakaian ganti dan berlalu masuk kamar mandi.

Deeeep... Tangan mas Fahmi tiba-tiba menahan pintu kamar mandi yang hendak kututup. Jantugku kembali berdebar. Apa yang mas Fahmi perbuat??? Aku sudah bilang aku mau mandi sendiri! Dengan senyum misterius mas Fahmi membuka suara.

 

“Kalau kamu mau berendam isi airnya dulu disitu. Kalau mau mandi pakai air hangat, putar krannya ke kanan dik.” Katanya sembari tersenyum.

Aku hanya mengangguk dan segera menutup pintunya. Didalam aku tertawa kecil memikirkan apa yang barusan terjadi. Aku mulai melucuti cadar, jilbab panjang dan pakaianku satu persatu hingga telanjang bulat. Aku melihat di cermin dan membayangkan sebentar lagi tubuhku akan dijamahi oleh suamiku, orang yang sangat aku sayangi.

Mungkin 30 menit aku mandi, aku telah siap bahkan memakai cadarku kembali dan membuka pintu. Aku kembali kaget melihat suamiku tertidur dengan hanya mengenakan celana pendek dan bertelanjang dada sementara TV sedang menyala. Mungkin mas Fahmi terlalu capek hari ini. Aku yang awalnya berpaling mulai mendekati mas Fahmi berdiri disebelah kasur. Jelas tubuhnya sangat atletis dengan wajah tampannya dan sedikit rambut didadanya. namun yang paling bikin aku canggung adalah tonjolan yang ada di balik celana pendeknya.

 

“Mas Fahmi, bangun sebentar mas. Ayo kita ibadah dulu.” Aku membangunkan suamiku.

“Iya dik, kamu duluan. Nanti abis itu bangunin mas lagi ya. Mas ngantuk banget.” Suamiku berkata dan memejamkan matanya kembali.

 

Akhirnya aku menunaikan ibadah terlebih dahulu dan aku kembali membangunkan mas Fahmi. Dia segera beranjak dan menunaikan ibadah sementara aku hanya duduk dipinggir kasur melihat acara TV.

 

“Dik, kamu gak capek? Kok duduk dipinggir kasur aja?” kata suamiku setelah ibadah.

“Gapapa mas” Jawabku singkat.

“Nonton apa dik, serius amat?” tanyanya.

“Ini black and white mas.” Ujarku.

 

Suamiku beranjak dan naik ke kasur. Duduk dengan bersandar pada pangkal kasur empuk ini. Aku hanya mengacuhkannya.

 

“Dik, sini aja sandaran. Duduk sebelah mas. Masak jauh-jauhan gini sih?” Katanya.

Dengan sedikit ragu aku mulai mendekatinya. Mas Fahmi melingkarkan tangannya dipinggulku dan kami melanjutkan menonton tv berdua. Aku merasa sangat nyaman saat ini, belum pernah aku merasa senyaman ini. Dengan tak sadar tiba-tiba saja aku sudah bersandar di bahu kokoh mas Fahmi.

 

Entah sejak kapan mas Fahmi hanya memperhatikanku saja. Aku baru sadar ketika iklan dan meliriknya.

“Kenapa mas? Ada yang salah sama Aisyah?” tanyaku.

“Emm, kita kan udah nikah dik. Cadarnya boleh mas lepas gak?” kata mas Fahmi.

Aku hanya mengangguk mengiyakan permintaannya. Suamiku segera melepas cadarku dengan perlahan.

“Cantik sekali ya istriku ini. Lebih cantik dari pertama kali aku lihat loh.” Gumamnya.

 

Aku dibuatnya tersipu malu hingga wajahku memerah. Mas Fahmi tiba-tiba mendekatkan mukanya ke mukaku. Aku tambah canggung dibuatnya. Bibirnya kini hanya sedikit lebih pendek dari sejengkal tangan. Dia memejamkan matanya dan aku hanya mengikutinya juga.

Tok tok tok! Pintu kamar kami diketuk. Kami segera membuka mata kami dan tertawa ringan.

“Mas Fahmi, maaf mengganggu. Makan malamnya sudah siap.” Sayup mbak Ijah dari balik pintu.



#5 sadewa01

sadewa01

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 34 posts

Posted 03 September 2017 - 08:38 AM

Part 4: Romantic Night

 

Mas Fahmi beranjak mengenakan pakaian dan celana panjang, sedangkan aku kembali memakai cadarku kembali dan sudah bersiap dengan pakaian serba hitam. Mas Fahmi menggandeng tanganku dan aku mengikutinya ke tempat makan.

 

Kami berhenti di depan kolam renang, disana terdapat meja kecil dan dua kursi dan sudah tertata dengan rapi makanan, minuman, dan bahkan satu lilin kecil yang menerangi pekatnya malam. Suamiku segera menarik kursi dan memberikan kode untuk mempersilakan aku duduk. Aku sangat  kagum dengan suamiku ini, ternyata dia orang yang romantis juga. Hehehe..

 

“Gimana makanannya dik, enak nggak?” tanya suamiku seusai makan.

“Iya mas, enak banget. Aisyah belum pernah makan yang seenak ini.” Kataku

“Syukur deh kalau suka. Emm, dik, mas ada hadiah buat kamu. Kamu tutup mata sebentar deh” katanya.

“ada apa sih mas?” kataku penasaran.

“tutup dulu matanya dik” sambil tersenyum.

Aku menutup mataku dan medengar seretan kursinya mendekati kursiku.

“Nah, buka sekarang matanya” katanya.

“Waaah, bagus banget ini mas. Beneran buat Aisyah ini?” HP keluaran terbaru sudah ada didepan mataku.

“iya buat kamu. HP-mu kan cuma bisa dibuat sms sama telpon aja. Nanti kalo pake ini bisa pake aplikasi chat juga” katanya menjelaskan.

“makasih banget ya mass...” aku memeluknya dan dia juga memelukku.

 

Kami kembali ke kamar. Aku hanya berbaring sambil melihat HP baruku ini. Aku tidak paham sebenarnya, tapi aku malu bertanya dan hanya pencet-pencet saja. Hehehe. Maklum dari desaaa..

 

“Dik, nomormu yang di HP lama dimasukin ke HP barunya.” Kata suamiku setelah keluar dari kamar mandi

“Emm, Aisyah ga paham mas. Hehe..” kataku sedikit malu.

“oooh, yaudah sini mas ajarin” sembari mengambil posisi rebahan.

 

Suamiku mengajariku menggunakan HP baruku tapi entah kenapa aku sama sekali tidak fokus dan hanya memandangi suamiku. Aku merasa menjadi wanita yang sangat beruntung karena bisa menikah dengan pria yang sangat mencintaiku.

 

“Kenapa dik, kok ngeliatin mas kaya gitu?” tanya suamiku.

 

Aku kaget hingga jantungku berdegup kencang. Namun mataku seolah tak mau beralih pandang, aku hanya terpaku menatapnya. Suamiku menaruh HP ku dan mengubah posisinya menjadi miring. Aku yang telentang kemudian memejamkan mataku. Aku tidak kuat melihat apa yang akan dilakukan mas Fahmi. Mas Fahmi kemudian membuka cadarku. Dia melingkarkan tangannya ke pinggulku. Satu kecupan mendarat lagi dipipiku. Aku hanya menikmati sambil terpejam. Mas Fahmi kemudian menurunkan kecupannya ke telingaku.



#6 sadewa01

sadewa01

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 34 posts

Posted 03 September 2017 - 08:44 AM

Part 5: It is The Time?

 

“Sekarang ga ada yang ganggu kita lagi dik” bisiknya.

 

Dari balik jilbab panjangku, mas Fahmi menciumi telingaku yang membuatku kegelian, namun aku hanya menahannya dengan menggigit bibirku. Tangan mas Fahmi yang melingkar di pinggulku mulai mengelus dan kadang sedikit meremas membuatku terpekik. Mas Fahmi semakin liar menciumi kuping dan sesekali turun ke leher yang membuatku makin kegelian.

Tangan mas Fahmi mulai bergerilya memasuki pakaian terusanku dan mengelus perutku hingga membuat celana dalam putihku terlihat. Geli sekali rasanya, namun anehnya ada rasa nikmat yang bercampur menjalar ke seluruh tubuhku. Mas Fahmi menyudahi ciumannya dileherku, kini dia hanya menatapku dengan jarak yang amat dekat dan tersenyum. Tangannya perlahan naik meraba payudaraku yang tertutup BH.

 

”Hmm, kamu montok banget dik” Kata mas Fahmi sambil mengelus payudaraku.

 

Ya, dengan tinggi badan 168 cm dan berat badan 73 kg memang aku tergolong montok. Aku cukup percaya diri dengan payudaraku yang berukuran cup D dan bokong yang padat berisi, namun karena aku selalu memakai pakaian yang longgar, lekuk tubuhku tidak akan terlihat.

Mas Fahmi mulai menurunkan cup BHku dan mengelus putingku. Refleks aku hanya memejamkan mata menerima kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Mas Fahmi sedikit memelintir putingku yang membuatku menganga. Tiba-tiba mas Fahmi melumat bibir tipisku dan sesekali menyedotnya. Aku tak tau harus bagaimana, aku hanya menuruti permainan suamiku ini.

 

Cukup lama mas Fahmi memainkan kedua puting dan meremas payudaraku, aku menikmati setiap sentuhan yang dimainkan olehnya. Mas Fahmi kini menyingkap gamisku hingga diatas payudara. Terlihat dengan jelas olehnya bagaimana lekuk tubuhku yang hanya terbalut celana dalam dan BH yang sudah acak-acakan. Mata suamiku dengan buas melihat memandangi setiap inci tubuh istrinya yang sudah tak berdaya ini. Pandangannya berhenti dikedua gunung kembarku. Mulutnya mendekati putingku dan mendaratkan jilatan-jilatan yang membuatku semakin terangsang.

 

“Ooouuugghh maas, jangan dijilatin gitu maas..” desahku

Kata-kataku bahkan membuat suamiku lebih liar lagi. Tangan kanannya meremas satu payudaraku, dan tangan kirinya menjamahi kemaluanku dari luar.  Aku merasa ada cairan yang merembes dicelana dalamku.

 

Kriiingg.. Kriiingg..

HP mas Fahmi berdering. mas Fahmi langsung mengalihkan perhatiannya untuk mencari tau siapa yang menelponnya.

 

“Haloo, gimana?”

mas Fahmi diam sejenak mendengarkan dengan serius apa yang dibicarakan orang dibalik telpon sana. aku merasa sedikit kesal sebenarnya, akhirnya kurapikan pakaianku yang berantakan.

“Iyaa, gue kesana sekarang” kata mas Fahmi.

Suamiku menutup telponnya dan segera bersiap mengenakan baju.

“siapa yang telpon mas? mas mau kemana?” tanyaku.

Mas Fahmi hanya diam saja tidak menjawabku.

“Aisyah mau ikut boleh mas?” tanyaku lagi.

“Mas ini bisa sampe pagi baru balik dik. urusannya agak panjang. kamu dirumah aja.” kata suamiku.

 

aku hanya bisa mengangguk menuruti perkataan suamiku. aku masih bertanya dalam hati ada urusan apa suamiku pergi jam 10 malam? lalu siapa yang menelponnya?



#7 Ikiko

Ikiko

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 57 posts

Posted 04 September 2017 - 05:53 AM

Seru ceritanya nih....dilanjut suhuuuuu, penasaran niih

#8 Julkonak

Julkonak

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 15 posts

Posted 05 September 2017 - 10:39 AM

Mantabssss suhu......
Izin gelaran dimarih yah......

#9 Rizalzig

Rizalzig

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 10 posts

Posted 05 September 2017 - 11:33 AM

Seru ni hu ceritanya..

#10 Bangjoehan

Bangjoehan

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 235 posts

Posted 06 September 2017 - 04:29 PM

Wuuuahhh bakalan seru nih ceritanyaaa...ditunggu aah upadatenyaa.....



#11 gizven1410

gizven1410

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 78 posts

Posted 07 September 2017 - 02:21 AM

Ninggalin jejak dl agh..

#12 sadewa01

sadewa01

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 34 posts

Posted 07 September 2017 - 01:22 PM

Part 6: Mata tak Berdusta

 

Aku mengantarkan suamiku hingga halaman rumah dan mencium tangannya sebagai tanda hormat seorang istri. Mas Joko sudah siap didalam mobil, aku pikir Mas Joko sudah biasa menghadapi situasi seperti ini. Beberapa saat, mobil mas Fahmi segera berlalu meninggalkan rumah.

 

Jujur aku agak kesepian karena biasanya ada Umi yang bisa diajak ngobrol. aku hanya rebahan dikamar saja namun tidak bisa tidur. akhirnya aku memutuskan untuk keluar kamar untuk mencari teman ngobrol. siapa tau mbak Ijah dan mbak Marwah belum tidur. Aku berkeliling rumah mulai dari lantai 1 dan lantai 2 hingga dapur. tidak ada tanda-tanda orang satupun yang masih terjaga. aku pikir rumah ini terlalu luas hanya untuk aku dan mas Fahmi. Aku kemudian berjalan ke kolam renang dan masih belum menemui siapa-siapa. akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke kamar. namun ketika aku berbalik badan aku mendengar teriakan.

 

“Aakhh, aakkhh.. ouughh”

seakan suara itu tidak jauh dari tempatku berdiri. aku mulai penasaran dan mencari sumber suara itu. aku keluar dari bangunan utama dan menemukan bangunan terang yang mungkin aku tafsirkan sebagai kamar dari asisten rumah tangga mas Fahmi. aku berjalan mengendap seperti maling. mencoba mereduksi gesekan suara yang ditimbulkan oleh sandalku dan lantai. akhirnya aku berhasil sampai dibagian belakang kamar dan mengintip melalui jendela untuk mencari tau. sejenak aku masih kerepotan untuk mencari celah karena memang kelambunya ditutup namun masih ada sedikit celah.

 

mataku terbelalak ketika aku melihat mbak Marwah dan satu orang yang aku pikir adalah mas Tikno mungkin umurnya sekitar 50 tahunan sedang melakukan hubungan intim. mbak Marwah yang masih muda dan menurutku cukup cantik dengan posisi nungging diatas kasur sedang digenjot oleh mas Tikno yang kekar dengan posisi berlutut. Aku melihat sangat kontras warna kulit mereka karena mbak Marwah memang agak putih dan mas Tikno berkulit hitam. dengan teratur batang kemaluan mas Tikno keluar masuk liang senggama mbak Marwah. setiap kali mas Tikno menekan kemaluannya, mbak Marwah mendesah dan makin keras setiap kalinya.

 

aku agak sedikit canggung dengan pemandangan ini, namun kakiku seolah terpaku dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. jantungku makin berdegup kencang ketika melihat aksi mas Tikno yang meremas payudara mbak Marwah yang menggantung. remasan demi remasan mas Tikno membuat mbak Marwah sudah kehilangan kendali. aku yang hanya melihat merasakan badanku mulai panas dan napasku makin berat.

 

Masih dengan posisi yang sama, kini mas Tikno menjambak rambut panjang mbak Marwah dengan keras menggunakan tangan kiri sementara tangan kanannya bertumpu di kasur. bibir mas Tikno kini semakin mendekat, dan seolah mengerti, mbak Marwah langsung menengok belakang dan bibir mereka saling berpagutan.

 

mas Tikno mempercepat laju kemaluannya didalam kemaluan mbak Marwah sambil tetap menjambak dan melumat habis bibir mbak Marwah. terdengar sayup-sayup desahan mbak Marwah yang tertahan.

“Emmbhh.. Emmhh..”

 

mungkin 1 menit kemudian badan mbak Marwah mulai menggelinjang hebat dan tangannya makin keras mencengkram kasur. lumatan mas Tikno mulai berhenti dan Mas Tikno menggedor dengan sangat cepat kemaluan mbak Marwah.

 

“Emmhh Mass.. Aku keluaaaar Aaaaaghh..” jerit mbak Marwah

Seketika mbak Marwah ambruk dan kemaluan mas Tikno terlepas dari liang kemaluan mbak Marwah. aku melihat lendir kental yang menetes menyelimuti kemaluan mas Tikno yang besar dan hitam. Bebarengan dengan itu, aku merasakan ada cairan yang keluar dari kemaluanku.



#13 Bapake

Bapake

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 163 posts
  • Locationbanten

Posted 08 September 2017 - 08:48 PM

mulai seru nih critanya lanjut lagi gan

#14 pcfreak

pcfreak

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 78 posts

Posted 09 September 2017 - 09:20 PM

lancrootkan hu... mulai hot ini....



#15 Anarchie

Anarchie

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 30 posts

Posted 10 September 2017 - 03:46 AM

Penasaran suhu. Lanjut suhu

#16 sadewa01

sadewa01

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 34 posts

Posted 10 September 2017 - 05:25 AM

Part 7: Mata tak Berdusta 2

 

Tok tok tok.. Pintu kamar mas Tikno diketuk oleh seseorang dari luar. Masih dengan kondisi telanjang bulat mas Tikno beranjak dari kasur dan mendekati pintu. Terdengar sayup suara perempuan dari balik pintu. tidak jelas bicara apa tapi aku tau bahwa itu suara mbak Ijah

 

“Eh, gila juga mas Tikno, bukannya pake baju malah mau buka pintu” pikirku.

aku tidak habis pikir apa yang akan aku lihat selanjutnya! mas Tikno membuka pintu tanpa rasa malu berdiri didepan mbak Ijah dengan kondisi kemaluan yang masih tegang dan keras. tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka berdua, mas Tikno langsung menarik tangan mbak Ijah dan menutup pintu kamar. mas Tikno dengan sigap langsung melumat bibir mbak Ijah dengan posisi berdiri.

 

“Apa-apaan yang kulihat ini, mbak Ijah selingkuh dengan mas Tikno didepan istrinya sendiri! dan yang lebih parahnya lagi, mbak Marwah hanya diam saja seperti hal ini sudah biasa terjadi.” batinku.

 

mbak Ijah yang aku lihat pikir lebih kalem ternyata cukup liar ketika sedang bercumbu, terbukti dari lumatan bibirnya yang begitu agresif berbalasan dengan lumatan mas Tikno. Sembari bercumbu aku melihat tangan mbak Ijah bergerak menggenggam batang kemaluan mas Tikno dengan mantap dan mulai memijat perlahan. mas Tikno yang aku pikir belum puas menggarap mbak Marwah langsung meremas kedua bokong mbak Ijah dari balik dasternya dengan sedikit kasar.

 

aku sebenarnya agak jengah dengan pemandangan ini namun ternyata rasa pensaranku mengalahkan itu semua. Mas Tikno kemudian mendorong mbak Ijah ke atas kasur hingga rebahan. mbak Marwah yang mengerti langsung memberikan tempat agar dua insan yang berselingkuh ini dapat dengan leluasa memuaskan hasratnya.

 

Mas Tikno kemudian berlutut di lantai dan berinisiatif menaikkan daster mbak Ijah hingga kedua buah dadanya tersingkap dan membuka selangkangan mbak Ijah. aku kembali kaget ketika melihat mbak Ijah ternyata tidak mengenakai pakaian dalam sehingga kemaluan dan buah dadanya langsung mencuat. Mas Tikno dengan pandangan penuh nafsu beberapa detik memelototi kemaluan mbak Ijah yang diselimuti bulu tipis sebelum akhirnya jilatan demi jilatan mendarat diantara selangkangan mbak Ijah.

 

“Ouuggh... Mmhhff.. Enaak mass Auugh..” racau mbak Ijah ketika lidah mas Tikno bermain diatas kemaluannya.

tangan kiri mbak Ijah menjambak kuat rambut dari mas Tikno dan tangan kanannya memainkan putingnya sendiri. Desahan demi desahan terus keluar dari bibir mbak Ijah. aku melihat mbak Marwah yang awalnya masih lemas kemudian mulai duduk dan bersandar di pinggiran kasur mengangkang sambil menggosok-gosok kemaluannya.

 

Mas Tikno kini naik ranjang dan tidur telentang. mbak Ijah seakan sudah fasih langsung mengambil posisi 69 dengan masih menggunakan dasternya yang sudah acak-acakan dan mulai mengulum dan mengocok kemaluan mas Tikno tanpa rasa jijik meskipun kemaluan hitam mas Tikno masih lengket oleh lendir dari mbak Marwah. mas Tikno yang disodori kemaluan mbak Ijah yang menganga tepat didepan mukanya tanpa pikir panjang langsung melahap dengan liar yang membuat mbak Ijah keenakan. aku sempat mual dan hampir muntah melihat kelakuan mereka namun kembali rasa penasaranku mengalahkan itu semua.

 

Mbak Marwah yang dari tadi hanya melihat dan menggosok kemaluannya kini juga mendekat dan memposisikan wajahnya diantara selangkangan mas Tikno. Mbak Marwah mengambil jatah untuk menjilat dan mengulum biji kemaluan dari Mas Tikno. Aku melihat mas Tikno sangat kewalahan menerima perlakuan dua wanita muda ini. terlihat jelas kenikmatan yang amat dasyat dirasakan oleh Mas Tikno. Sambil meremas pantat mbak Ijah, kini dia memasukkan 2 jarinya kedalam kemaluan mbak Ijah hingga membuat mata mbak Ijah terbelalak dan kepalanya mendongak ke atas.

 

“Aaauugghhh maaaass” Jerit mbak Ijah.

Lenguhan terus mengalir dari bibir mbak Ijah seiring dengan dipercepatnya permainan tangan Mas Tikno didalam kemaluan mbak Ijah. mbak Ijah sudah tidak mengulum batang mas Tikno lagi dan hanya meracau tak karuan. mbak Marwah segera mengambil alih mengocok kemaluan mas Tikno dan membungkam bibir mbak Ijah dengan lumatan bibirnya.

 

kejadian ini sama sekali tidak terpikir olehku. Mbak Marwah bercumbu dengan mbak Ijah. Woow! Kocokan mas Tikno semakin cepat dan membuat tubuh mbak Ijah bergetar hebat seperti yang tadi dialami oleh mbak Marwah.

“Emmmh mass, aku mau keluuaar Ogghh...” jerit mbak Ijah

Syuurr.. Syuur.. cairan mbak Ijah kini sudah tak terbendung lagi. dengan sigap mas Tikno menyedot habis bahkan yang meleleh melewati pahanya hingga kemudian tubuh mbak Ijah rubuh.

 

Aku merasa sangat capek karena sedari tadi aku melihat aksi mereka dengan berdiri. aku coba merogoh kemaluanku dari balik CD dan kurasakan kemaluan hingga CD ku terasa becek. Aku pikir sudah cukup aku melihat semua ini. aku memalingkan wajahku dan berbalik badan ketika mas Tikno kembali memulai penetrasi batangnya ke dalam kemaluan mbak Ijah dengan posisi telungkup.

 

Praaaak!!

aku tak sengaja menyenggol pot bunga yang berada didekatku.

“Siaal” pikirku.

Aku langsung berlari kecil menuju kamarku tanpa memperdulikan keadaan sekitar.



#17 sadewa01

sadewa01

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 34 posts

Posted 12 September 2017 - 08:54 AM

Part 8: The Memory

 

Aku tak langsung bisa terlelap sesampainya di kamar. aku mengganti pakaianku dengan pakaian tidur dan melihat jam menunjukkan pukul 23.50. pikiranku bercampur aduk memikirkan persetubuhan dan pot bunga yang aku pecahkan tadi. apakah kehadiranku diketahui oleh mereka atau tidak?

 

Teek, lampu kamarku menyala. aku terbangun dari tidurku dan terdengar deru langkah seseorang memasuki kamarku.

deep... deep.. deep..

“Mas Fahmi... Baru pulang?” tanyaku penasaran.

 

“Eh, iyaa sayaang. maaf yaa kamu jadi bangun. Aku mau mandi dulu.” katanya setelah mencium keningku.

Mas Fahmi berlalu memasuki kamar mandi. Aku ke dapur membuatkan teh. Aku baru sadar ternyata jam menunjukkan pukul 3 dini hari.

 

Cekleek, beberapa menit, pintu kamar mandi dibuka. aku melihat mas Fahmi hanya berlilitkan handuk. aku langsung menundukkan muka karena malu.

“Mas, diminum dulu tehnya. Aisyah udah buatin.” kataku.

 “Mas udah cukup tadi minumnya. Disini mas cuma pengen berdua sama kamu aja.” katanya lirih.

 

deeg.. deeg.. deeg..

jantungku kembali berdebar. Mas Fahmi segera mengambil posisi duduk disebelahku, mengusap pipi dan mengangkat daguku sehingga aku bertatapan langsung dengannya. tiba-tiba bibir mas Fahmi mendekat mencium bibirku dan kami berpagutan dengan cukup lama.

 

“Uuhh.. mas bahagia banget bisa milikin kamu.” bisiknya.

 

Suamiku sepertinya sangat bernafsu dengan kemolekan tubuhku. berkali-kali dia meremas payudara dan bokongku secara bergantian. rangsangan yang diberikan membuatku ikut terlarut dalam nafsu. nafsuku semakin memuncak ketika mas Fahmi menggigit dan menyedot leherku..

 

“Ouughh maas.. Enaak” lenguhku.

 

kupikir suamiku sudah menemukan titik paling sensitifku dan terus merangsangnya. Badanku kemudian didorong hingga berbaring, perlahan tangan mas Fahmi menyusup ke dalam kedua payudaraku dan meremasnya dengan lembut. sesekali mas Fahmi menyentil putingku dengan telunjuknya yang mebuatku menggelinjang.

 

“aduuhh maas, jangan dimainin gituu” desisku.

“Nikmatin aja sayaaang.”  bisiknya.

 

mas Fahmi cukup lihai bermain di kedua payudaraku. baju tidurku sudah acak-acakan dan kancingnya satu per satu mulai terlepas akibat permainan panas mas Fahmi. mata mas Fahmi tidak luput memandangi payudaraku yang montok. aku hanya memejamkan mata dan bersiap untuk mendapatkan rangsangan berikutnya.

 

Kedua tanganku diangkat keatas dan mas Fahmi menurunkan BH ku tanpa melepas kaitnya. Kedua payudaraku seolah berontak dan meloncat memberikan keleluasaan kepada suamiku untuk melahapnya.Dengan tatapan sayu, aku melihat mas Fahmi beberapa kali menelan ludah memandangi dua bongkah payudaraku.

 

“Sluurp... Toketmu indah banget Aisyah.” Satu jilatan mas Fahmi mendarat dipayudaraku.

Aku menggelinjang kegelian namun mas Fahmi tetap melanjutkan dengan beberapa jilatan lagi. aku berusaha menahan geli yang bercampur nikmat dengan menggigit bibirku. tangan mas Fahmi kini mulai meremas dengan lembut payudaraku.

 

“Auuughhh maaass..” rintihku nikmat ketika menyedot putingku yang berwarna kecoklatan.

Aku tidak sadar lilitan handuk yang membalut mas Fahmi sudah terlepas. aku berusaha melihat kebawah dan terlihat kemaluan suamiku yang sudah menegang sempurna. mungkin sekitar 15 cm.

 

Cukup puas memainkan putingku, mas Fahmi kini mulai meraba kemaluanku dan memasukkan jarinya ke celana dalamku.

“Uggh.. udah basah ni.” Jari mas Fahmi mengusap kemaluanku.

“Ehmmm.. Maass.. Enaakk.. Jangan berenti. Aisyah belum pernah ngerasain seenak ini.” racauku ketika mas Fahmi menggosokkan jarinya ke bibir kemaluanku.

 

Aku melihat mas Fahmi hanya menikmati ekspresiku yang sedang terangsang.

 

“Huuuuuh” aku menghela nafas panjang ketika mas Fahmi melepaskan jarinya dikemaluanku setelah menggosoknya selama beberapa menit.

 

aku memperlihatkan ekspresi kekecewaan karena kenikmatan itu telah berlalu. ternyata mas Fahmi mengetahui kekecewaanku dan segera melepas celana dan celana dalamku sekaligus. aku berusaha membantu dengan mengangkat pinggulku.

 

Kini aku telentang dengan tidak sehelai kainpun menutupi kemaluanku. pakaianku sudah berantakan dengan kancing yang terbuka dan payudara yang menyembul keluar. mas Fahmi melebarkan dua kakiku, terlihat kemaluanku dengan bulu yang sangat lebat dan lendir membasahi rambut kemaluanku karena gosokan jari mas Fahmi tadi.

 

Mas Fahmi segera menindih tubuhku dan mengarahkan kemaluannya ke selangkanganku.

“Ugghh sakiiit maass...” jeritku ketika mas Fahmi mulai mendorong kemaluannya.

“Tahan bentar ya Aisyah. Ga lama kok sakitnya” Katanya menenangkan.

 

Mas Fahmi kemudian mendorong kemaluannya lagi. setiap aku memekik, mas Fahmi mengendurkan sodokannya dan memberiku kesempatan untuk bersiap. mas Fahmi kemudian menggigit dan menyedot leherku lagi dan kembali menyodok kemaluanku. Bleeeesss...

 

“Oouuuuhhhh..” lenguhku ketika kemaluan suamiku masuk seluruhnya ke liang vaginaku.

aku masih meringis kesakitan dan sejenak mas Fahmi mendiamkan kemaluannya di liang vaginaku untuk memberiku waktu penyesuaian. mas Fahmi mengecup bibirku dengan penuh kelembutan.

 

“Masih sakit sayaang?” tanyanya.

“Masih dikit maas. ga sesakit pertama masuk” jawabku.

 

Mas Fahmi dengan perlahan mulai menggenjot kemaluanya didalam liang kenikmatanku. terlihat ekspresi mas Fahmi yang sangat menikmati apa yang dia lakukan.

Sakit yang tadi kurasakan perlahan berubah menjadi nikmat dan membuatku mendesah setiap kali mas Fahmi menyodokkan kemaluannya.

 

“aaakkhh... aakkhh.. akhhh.. terus maaas..” racauku.

“emmhh... uugghh.. iya sayaaang..” mas Fahmi juga mendesah mengikuti irama sodokannya.

 

Mas Fahmi mempercepat sodokannya dan membuatku semakin tidak terkendali. payudaraku yang menyembul berayun mengikuti irama sodokan tidak luput dari perhatiannya. Suamiku segera meremas payudaraku dan memilin putingku namun kali ini dengan sedikit kasar. aku hanya melenguh dan menikmati apa yang dilakukan suamiku ini.

 

Aku merasakan ada sesuatu yang mau keluar dari liang vaginaku seperti mau pipis ketika mas Fahmi menggenjot lebih cepat. otot vaginaku mengejang dan aku mengapitkan kedua kakiku dipunggung mas Fahmi. Aku mendongak dan semua ototku menegang berapa saat.

 

“Ugghh maass.. Enaak bangeett mass.. uugghh” jeritku.

 

aku merasakan beberapa detik cairanku mengalir keluar dan ototku melemas. mas Fahmi yang belum selesai segera menggenjot dengan kecepatan penuh menghentak pinggulku.

 

Crooot.. Crooott... Crooot..

 

“Aauuuhh.. Oouuuhh..” mas Fahmi melenguh membenamkan kemaluannya di dalam vaginaku dan ambruk diatas tubuhku.

Beberapa detik mas Fahmi mencabut kemaluannya yang sudah melemas. aku melihat cairanku, sperma mas Fahmi dan darah perawanku telah bercampur dan menetes di seprei.

“Enak sayaang?” tanya mas Fahmi padaku.

Aku hanya mengangguk dan kemudian aku kembali tidur didekapannya dalam kondisi bugil.


  • Rosma Sidauruk likes this

#18 lukalaki

lukalaki

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 104 posts

Posted 18 September 2017 - 05:15 AM

Pagi lagi

#19 kampretmalam

kampretmalam

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 45 posts

Posted 05 October 2017 - 02:12 AM

blom update juga



#20 Joh4n

Joh4n

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 9 posts

Posted 05 October 2017 - 06:34 PM

update gan .. 😊





Also tagged with one or more of these keywords: jilbab, cadar, suamiistri