web counters counter stats



Jump to content


First deposit bonus

ss Situs Judi Bola Situs Judi Bola Situs Judi Bola Situs Judi Bola Situs Judi Bola Situs Judi Bola Situs Judi Bola

ingin beriklan? hubungi kami: email : megalendir@gmail.com , big.lendir@yahoo.com atau Skype : big.lendir@yahoo.com

Live Dealers Double up bonus ss ss
ss ss ss
vert
vert
Photo
* * * * * 1 votes

Siapa Kamu Sebenarnya?

jilbab cadar suamiistri

  • Please log in to reply
53 replies to this topic

#21 kerendalan

kerendalan

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 16 posts

Posted 06 October 2017 - 10:40 AM

Lanjut suhu,,bagus critanya

#22 sadewa01

sadewa01

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 34 posts

Posted 06 October 2017 - 03:16 PM

Part 9: Siapa Orang Itu?

 

senyuman masih terpancar diwajahku. aku bisa melihat wajah kelelahan mas Fahmi disampingku. aku beranjak dari kasur dan bersiap untuk mandi untuk melakukan solat subuh.

 

“Mas, bangun. ayo ibadah. abis itu sarapan.” kataku membangunkan.

“Iya aisyah..” jawabnya singkat.

 

aku sudah memakai kembali cadarku dan keluar kamar. aku menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. disana aku bertemu mbak Ijah dan mbak Marwah yang sudah sibuk menyiapkan sarapan.

 

“Mbak, aisyah bantu yaa.” kataku

“Iya non..” jawabnya bersamaan diiringi dengan senyuman.

“Biasanya mas Fahmi suka sarapan apa mbak?” tanyaku

“Biasanya sih roti, telor, sama susu non” jawab mbak Marwah.

“Oh, yaudah biar aisyah yang buat. mbak Marwah sama Mbak Ijah siapin yang lain aja.” balasku.

“Iya non, kalo gitu biar saya bersih-bersih rumah aja. Marwah yang masak untuk makan siang” jawab mbak Ijah.

 

Mbak Ijah segera berlalu sedangkan aku dan mbak Marwah tetap di dapur. beberapa saat keadaan hening.

 

“Mbak udah lama kerja disini? sekarang umurnya berapa?” tanyaku memecah keheningan.

“Udah non. 2 tahunan. sekarang saya 24. Sama umurnya kaya Ijah.” jawabnya.

“Ohhh gitu. Bagus deh mbak kalo betah. eh mbak, mas Fahmi itu kerjanya apa sih mbak?” selidikku.

“Emh.. saya kurang tau non.” jawabnya singkat.

 

Setelah aku melihat dari dekat memang mbak Marwah orangnya cukup cantik untuk menjadi sekedar pembantu. beberapa saat aku melamun dan teringat akan pergumulan mbak Marwah, Mbak Ijah, dan mas Tikno malam tadi.

 

“Aisyaaah..” panggilan mas Fahmi membuyarkan lamunanku.

aku segera membawa sarapan ke meja makan.

“Eh, kamu kok buat sarapannya sendiri sih? kan ada mbak Ijah dan mbak Marwah.” tanya suamiku heran.

“Iya mas, gapapa. mau buatin mas.” senyumku.

“hehe. makasih ya cintakuu.. yaudah yuk sarapan dulu.” ajaknya.

 

10 menit kami bersendau gurau dan melahap habis sarapan kami.

“Aisyah, mas mau ajak kamu belanja hari ini. kamu ga boleh nolak. Ok?” ajak suamiku.

“Mau kemana mas?” tanyaku penasaran.

“Udah, nanti kan tau sendiri. jam 9 kita berangkat yaa.” jawabnya.

 

Jam 9 kami berangkat menembus kemacetan Jakarta. mas Fahmi tidak mengajak Mas Joko dan memilih menyetir mobilnya sendiri karena ingin waktu berdua bersamaku katanya. hehehe...

 

“Mas, mas Fahmi kok hari ini ga kerja?” tanyaku.

“Jadi mas itu punya perusahaan sekaligus jadi direkturnya. Mas bebas mau masuk kerja atau enggak. Cuma kalo ada kebutuhan mendesak kaya kemaren ya mas Fahmi harus berangkat.” jawabnya.

 

aku hanya mengangguk seolah mengerti, padahal sebenarnya tidak. hehehe...

Diperjalanan aku kembali mengingat kelakuan mas Tikno malam tadi yang sekaligus menyetubuhi mbak Marwah dan mbak Ijah.

 

“Mas, mas Tikno itu orangnya yang mana? kok Aisyah belum liat ya?” selidikku.

“Ohhh, mas Tikno lagi pulang kampung dik. belum tau baliknya kapan. emang kenapa?” jawab suamiku.

 

Diaaar!!! Seolah petir menyambar. aku kaget mendengar jawaban dari mas Fahmi. aku masih belum mengerti. Kalau bukan mas Tikno yang menyetubuhi mbak Ijah dan mbak Marwah, lalu siapa laki-laki itu? lalu kalau bukan mas Tikno, artinya mbak Ijah dan mbak Marwah sama-sama selingkuh? banyak pertanyaan berkecamuk dibenakku.

 

“Dik, kenapa kok ngelamun?” tanya suamiku memecah lamunanku.

“Eeeh,, enggak mas. gapapa.” jawabku sekenanya.

 

Aku masih tidak mengerti apa yang terjadi, untuk saat ini memang aku masih belum mengerti. sejenak aku berhenti memikirkan itu.

...

Hari ini aku menikmati jalan-jalanku dengan mas Fahmi. mas Fahmi sangat perhatian kepadaku. aku dibelikan banyak pakaian dari gamis panjang dan cadar, hingga pakaian tidur yang menurutku sangat seksi. katanya supaya malamnya lebih romantis. hehe. aku juga dibelikan pakaian renang yang seksi dan sangat minim. sebenarnya aku malu, namun mas Fahmi meyakinkanku dan berjanji akan mengajariku berenang juga karena aku memang belum bisa berenang. hehehe.

 

selain itu aku dan mas Fahmi juga memanjakan tubuh dengan melakukan spa berdua. katanya kalau mas Fahmi nggak dirumah, aku tetap harus rajin melakukan perawatan pada tubuhku dan minta ditemani mbak Ijah atau mbak Marwah. aku hanya mengangguk saja menyetujui permintaannya. 

 

Setelah selesai melakukan perawatan tubuh dan makan, aku dan mas Fahmi langsung menuju istana kami dan beristirahat. 


  • edy_baduree likes this

#23 Bong pay

Bong pay

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 3 posts

Posted 08 October 2017 - 10:03 AM

Nitip sendal hu

#24 sadewa01

sadewa01

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 34 posts

Posted 10 October 2017 - 01:07 PM

Part 10: Kebenaran

 

Beberapa bulan telah berlalu. aku telah hampir bisa melupakan kejadian malam itu. kejadian dimana mbak Marwah dan mbak Ijah bersetubuh dengan lelaki yang entah siapa. Aku bahkan sudah melihat mas Tikno, tukang kebun rumah kami yang waktu itu aku pikir sebagai orang yang menyetubuhi mbak Marwah dan mbak Ijah. umurnya hampir sama dengan umur mas Fahmi.

 

Kini pikiranku hanya fokus tertuju pada mas Fahmi sebagai imamku. Dalam urusan ranjang, aku dan mas Fahmi sangat bahagia. aku belajar banyak hal dan banyak gaya dalam bercinta. mulai dari oral sex, 69, women on top, doggy style, hingga belajar kata-kata kasar yang dapat membangkitkan birahi. Kata mas Fahmi aku sangat pintar ketika melakukan oral sex. Hampir setiap pagi aku memberikan servis oral pada suamiku. aku sangat senang, namun bagiku women on top adalah gaya favoritku. aku merasa menjadi wanita yang liar dan tak terkendali ketika melakukan posisi bercinta itu.

 

semenjak aku dan mas Fahmi menikah, mas Fahmi meminta semua asisten rumah tangga untuk keluar meninggalkan rumah pada hari sabtu dan minggu, sehingga kami memiliki privasi berdua. ketika berdua dirumah aku memakai pakaian yang super sexy karena memang itu salah satu permintaan mas Fahmi. kadang aku hanya pakai pakaian transparan dan tidak memakai pakaian dalam yang membuat badan montokku dan area sensitifku terlihat jelas, tentu itu membuat mas Fahmi tidak jengah menjamahku.

...

Hari ini hari minggu. Asisten rumah tangga kami sudah pergi entah kemana sejak kemarin. aku dan mas Fahmi tinggal berdua dirumah. aku sudah memakai thong berwarna biru muda untuk berenang. setelah beberapa bulan belajar, aku sudah bisa dan tidak perlu bimbingan mas Fahmi lagi. mas Fahmi biasanya hanya bersantai dipinggir kolam renang.

 

Byuuurrr...

Aku melompat dan berenang dengan santai setelah melakukan pemanasan. ini adalah hobi baruku, namun aku tidak bisa melakukannya setiap hari karena pada hari biasa akan selalu ada asisten rumah tangga. aku berenang dengan gaya katak, gaya yang aku kuasai. setelah bolak balik beberapa kali, aku baru sadar mas Fahmi sedang duduk mengamatiku dari pinggir kolam renang dengan hanya menggunakan celana renang, dan yang bikin aku geli adalah mas Fahmi sedang mengelus-elus batang kemaluannya yang sudah menegang.

 

“Mas Fahmi gak ikut Ais berenang?” tanyaku dari pinggir kolam.

“Dingiin airnya. mas ga kuat.” katanya.

 

Aku yang masih berada di tepi kolam langsung berbuat iseng dengar menyipratkan air ke tubuh mas Fahmi.

 

“Aduuuh duuuhh... Dingiiin. mas jadi basah semua nih. hahaha. awas ya dik, mas tangkep loh” candanya.

“Hehe. tangkep aja kalo bisa. sini masuk kolam kalo berani.” tantangku sembari masih menyipratkan air.

 

Mas Fahmi yang tertantang langsung berjalan menuju kolam renang. aku langsung berenang menuju sisi lain kolam menjauhi mas Fahmi.

Byuurr...

Aku dengar mas Fahmi melompat dan berenang cepat ke arahku.

 

“Huuuh, ketangkep juga kamu yaa. dasar nakal.” mas Fahmi berhasil menangkapku ditepian kolam.

“Hehe. Ais kan mau ditemenin mas berenang.” kataku manja.

 

mas Fahmi menangkapku dengan posisi aku memunggunginya. Dia langsung memelukku dengan erat dan meremas toketku.

 

“Auuuhh.. Maaass.. Nanti Ais pengen loohh” racauku.

“Kalo kamu pengen mas bakal puasin kamu.” bisiknya.

 

Mas Fahmi yang kupikir sudah horny, menggesekkan kontolnya ke bokongku. aku yang mulai terangsang mencoba menengok kebelakang dan kami berciuman dengan sangat panas.

 

“Emmhh, kamu sexy banget sayaaang.” kata mas Fahmi.

 

Sambil masih menciumku, dia meremas toketku dan memelintirnya. aku hanya melenguh dan menikmati permainan kasar suamiku. air kolam renang yang merendam tubuh kami hingga bawah dada tidak terasa dingin lagi. puas dengan toketku, mas Fahmi membalik badanku. kini aku dan mas Fahmi berdiri berhadapan. dengan senyum dan lirikan nakalku yang memberi isyarat, aku meminta mas Fahmi mencupang leherku. mas Fahmi yang sudah paham langsung menggigitnya.

 

“Ugghh.. maass.. Ais sayaaang sama mas. Jangan berenti..” kataku manja.

 

Mendengar desahanku, mas Fahmi mencupang leherku dan meremas bokongku dengan lebih kasar. aku sangat menikmatinya. tanganku yang masih bebas berusaha meraih kontol mas Fahmi dan mengurutnya.

 

“Mas, Ais mau dientot di kolam” rengekku.

 

Mas Fahmi hanya tersenyum dan segera melepas celananya. kini mas Fahmi sudah telanjang bulat dengan kontol yang siap tempur. mas Fahmi segera melepas celana thongku dan membuat memekku tidak tertutup lagi. mas Fahmi dengan sigap langsung menaikkan satu kakiku untuk memudahkan penetrasi kontolnya.

 

Bleeesss... Satu hentakan kuat membuat kontol mas Fahmi terbenam seutuhnya di memekku.

 

“Emmhh... Emmmhh enaakk kontol mas Fahmi..” lenguhku

 

Tanpa menunggu lagi, mas Fahmi langsung menggenjot kontolnya. kecipuk suara air makin menambah sensasi kami bercinta. 10 menit aku dipaksa menerima sodokan demi sodokan batang suamiku. aku hanya menikmati dan sesekali berciuman mesra. aku akui stamina mas Fahmi masih cukup bagus. 10 menit menggenjot kemaluanku, mas Fahmi belum menunjukkan tanda kelelahan. suamiku ini selalu bisa membuatku kewalahan.

 

Tidak puas dengan itu, mas Fahmi kemudian mengangkat kedua kakiku. aku dibuat menyender ke tepi kolam renang dan mas Fahmi menggenjotku lagi. toketku yang masih terbungkus berguncang seirama dengan sodokan mas Fahmi.

 

“Ouughh maass, Ais ga tahan. kontol mas enaak bangeet.” desahku.

“Hehe. tadi kan kamu yang minta. kok sekarang jadi kelonjotan gini sih?” ejeknya.

 

Ting tuuungg... Tinng tunnggg...

Suara bel berbunyi. mas Fahmi yang baru mempercepat genjotannya segera melepaskan kontolnya membuatku terkulai lemas.

 

“Duuuh, siapa sih yang ganggu... Kamu ke kamar duluan ya dik.” gumamnya.

 

dengan langkah sedikit gontai, aku mengeringkan badan dan berjalan ke kamarku. sedangkan mas Fahmi berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.

Bruuk... tubuhku terkulai dikasur. meskipun belum mencapai klimaks, aku dibuat lemas oleh mas Fahmi. Aku merasa sedikit kesal dengan orang yang mengganggu kesenangan kami. Beberapa menit beristirahat aku segera mandi membilas tubuhku.

 

Tok tok tokk..

“Dik, ini mas Fahmi..” mas Fahmi mengetuk pintu kamar mandi.

“Iya mas, kenapa?” aku membuka sedikit pintu dan sedikit melongok keluar.

“Mas ikut dong. hehe” pintanya.

 

Aku membukakan pintu dan mas Fahmi segera masuk.

 

“Emang udah balik mas tamunya?” tanyaku.

“Belum, mas suruh tunggu.” jawabnya.

“Siapa?” tanyaku penasaran.

“Sopir kamu. mas udah beliin kamu mobil. nanti sore dateng.” jawabnya sembari senyum.

“Beneran mas??? Makasiihh.. Ais sayaaang sama mas Fahmi.” aku memeluk suamiku

“Eit, tapi puasin mas dulu. masih tanggung ni.” katanya.

 

Aku hanya tersenyum. aku juga masih belum puas dengan permainan tadi. 5 menit kami melakukan quick sex hingga klimaks bebarengan dengan aku menghadap tembok dan kedua kakiku dibuka lebar, sedangkan mas Fahmi menyodok memekku dari belakang.

 

Setelah sama-sama terpuaskan, aku dan mas Fahmi segera berpakaian dan menuju bawah untuk menemui sopir baruku. seperti biasa, aku memakai pakaian gamis serba hitamku dan cadar.

 

“Pak Hari, ini Aisyah istri saya. Aisyah, ini pak Hari.” kata suamiku memperkenalkan.

 

Deeg!!!

Jantungku seolah terhenti melihat orang yang diperkenalkan kepadaku. pikiranku kembali berputar mengingat orang yang berada didepanku ini. ya, aku sangat yakin bapak ini adalah orang yang waktu itu menyetubuhi mbak Marwah dan mbak Ijah. Walaupun waktu itu agak gelap dan jarak pandangku tidak sedekat ini, namun aku yakin dia orangnya. badanku mendadak menjadi lebih panas melihat pak Hari berada didepanku.

 

“Mas, aku ke kamar dulu yaa. aku agak ga enak badan.” kataku.

“Oh, mas anterin aja dik. Oiya pak Hari, besok mulai kerja ya. sekarang bisa pulang dulu.” kata suamiku.

Pak Hari segera pergi meninggalkan rumah dan akupun diantar mas Fahmi kembali ke kamar.

“Kenapa dik kok tiba-tiba ga enak badan? Kamu pucet looh. Mas panggil dokter yaa..” ujar mas Fahmi sembari memegang keningku.

“Enggak usah mas. Ais mau istirahat aja. mungkin kecapean” kilahku.

 

Aku langsung mengistirahatkan badanku namun pikiranku tetap melayang entah kemana.



#25 botaks86

botaks86

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 443 posts

Posted 10 October 2017 - 03:02 PM

Lanjoetkan gan, mantap nih ceritanya :) hehehe..



#26 lukalaki

lukalaki

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 104 posts

Posted 12 October 2017 - 05:36 AM

Akhirnya update teaaaah

#27 kerendalan

kerendalan

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 16 posts

Posted 13 October 2017 - 10:23 AM

Lanjut hu
  • janji.joniii likes this

#28 Mobby Dick

Mobby Dick

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 105 posts
  • LocationBali

Posted 21 October 2017 - 11:13 AM

Pake acara bersambung pdhl lg seru...

#29 sadewa01

sadewa01

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 34 posts

Posted 24 October 2017 - 09:47 AM

Part 11: Let You Go

 

“Mas, kok bisa milih pak Hari sebagai sopirku sih?” tanyaku setelah badanku membaik.

“Pak Hari itu dulu satpam di perumahan ini dik. tapi karena udah tua jadinya dia nggak diperpanjang kerjanya. Trus mas kasian jadinya mas ambil jadi sopir buat kamu.” katanya memaparkan.

 

Mendengar pemaparan dari mas Fahmi aku merasa sedikit iba dengan pak Hari. akhirnya aku melupakan semua kejadian itu dan berharap semua itu tidak terjadi lagi.

 

Hari-hari berikutnya aku mulai menggunakan mobilku untuk jalan-jalan berkeliling kota selagi mas Fahmi masih berangkat kerja. aku selalu pergi ditemani oleh mbak Marwah atau mbak Ijah. jadi aku tidak pernah berdua bepergian dengan pak Hari.

 

Beberapa minggu aku mengenal pak Hari ternyata dia orangnya sangat ramah. hanya kulitnya yang hitam terbakar matahari karena pekerjaan sebelumnya saja yang membuat dia kelihatan sangar. bahkan dalam beberapa kesempatan aku sudah mulai memberanikan diri untuk pergi berdua saja dengan pak Hari.

 

“Mau kemana hari ini non?” tanya pak Hari.

“Anterin Aisyah perawatan badan ya pak.” ujarku.

“Oke siap non.” katanya sigap.

 

Dalam perjalanan, kami mengobrol kesana kemari hingga aku mengetahui kehidupan hingga keluarga dari pak Hari. baru kali ini kami bisa ngobrol berdua saja dan aku mulai merasa nyaman dengan pak Hari sebagai sopirku.

“Non dulu ketemunya sama mas Fahmi gimana?” tanyanya.

“Mas Fahmi dateng ke rumah langsung ngelamar pak. hehe” jawabku sekenanya.

 

Kriiing... Kriiing..

HP ku berbunyi. Aku melihat HP dan ternyata mas Fahmi yang menelpon.

“Halo.. Dik, kamu dimana?” tanya mas Fahmi.

“Dijalan mas mau pergi perawatan.” jawabku.

“Kamu balik sekarang dik. Mas udah di rumah.” katanya singkat.

 

aku pikir cepat sekali mas Fahmi pulang dari kantor. mungkin baru 1 jam dia berangkat, tapi sudah ada di rumah lagi. aku agak khawatir mungkin sesuatu terjadi pada mas Fahmi. Pak Hari langsung kuperintahkan untuk putar balik dan langsung kembali ke rumah.

 

“Mas, kenapa mas?” dengan sedikit buru-buru aku naik ke kamarku.

“Sini dulu dik. mas mau bilang sesuatu.” katanya dengan isyarat memanggil.

 

aku segera duduk di samping mas Fahmi.

“mas mau ketemu rekan bisnis mas dan ngurus bisnis di Malaysia. mungkin 1 bulan mas pergi.” jelas mas Fahmi.

“Ais boleh ikut mas?” tanyaku.

“Iya boleh-boleh aja sayaang. tapi kamu belum ngurus perlengkapan untuk ke luar negeri lho.” katanya.

“Trus gimana mas?” tanyaku memelas.

“yaudah kamu dirumah dulu aja. abis pulang dari Malaysia nanti kita jalan-jalan keluar negeri.” jawabnya merayu.

 

Aku sebenarnya sangat kecewa karena 1 bulan menurutku waktu yang cukup lama. meskipun ada mbak Marwah dan mbak Ijah rasanya akan berbeda jika ditemani mas Fahmi. tapi mau bagaimana lagi, namanya juga kerjaan.

Sore harinya mas Fahmi segera berangkat. aku mengantar mas Fahmi hingga bandara. dengan pelukan hangat aku melepaskan kepergian mas Fahmi ke Malaysia lebih kurang 1 bulan.

 

4 hari berlalu...

Ditinggal mas Fahmi aku benar-benar merasa kesepian. terlebih masalah sex. malam ini libidoku sedang meninggi dan aku mencoba menelpon mas Fahmi untuk mengurangi letupan birahiku.

 

Tuuut... Tuuutt...

Nomor yang anda tuju sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi..

“Huhh.. kemana sih mas Fahmi. masak malem-malem gini masih kerja juga” pikirku.

 

Aku mencoba menelpon beberapa kali namun masih tidak ada jawaban. akhirnya aku memutuskan untuk keluar kamar. diluar aku mempunyai ide yang gila. aku merencanakan untuk mengintip lagi. siapa tau mbak Ijah atau mbak Marwah sedang bersetubuh dengan suaminya. hehehe.. akhirnya untuk kedua kalinya aku mencoba mengendap-endap setelah melihat keadaan sekitar sepi.

 

sesampainya di belakang kamar aku berusaha mengintip melalui jendela kamar mbak Marwah namun aku melihat mbak Marwah dan mas Tikno sudah terlelap. segera aku berganti pandang ke kamar mbak Ijah.

 

Plaaak!

aku melihat satu tamparan telak mendarat di pipi mbak Ijah. aku berusaha memahami apa yang sedang terjadi dan aku melihat mas Joko dan mbak Ijah sedang dalam keadaan bugil. mbak Ijah yang sedang bersimpuh dilantai dan kedua tangannya terikat ke belakang berkali-kali ditampar oleh mas Joko. Buah dada mbak Ijah yang menggantung indah ikut berguncang setiap kali menerima tamparan dari mas Joko. Sedangkan mas Joko dengan kontol yang sudah tegak, berdiri didepan mbak Ijah. Namun anehnya aku tidak melihat mbak Ijah merasa kesakitan setiap tamparan mas Joko mendarat dipipinya. bahkan mbak Ijah terus menjulurkan lidahnya seperti anjing betina yang minta disetubuhi.

 

“Dasar lonte! Isep kontolku.” Hardik mas Joko.

 

Dengan sigap mbak Ijah segera mengulum dan menyedot kontol mas Joko. tangan mas Joko segera memegang kepala mbak Ijah dan memaju-mundurkan dengan sangat cepat dan dalam.

 

“Ohhh.. Nikmat bangeet. Bagus! kamu emang lonte yang pinter Azizah.” racau mas Joko.

 

Aku baru tau ternyata mbak Ijah itu namanya Azizah. hehehe..

aku yang mulai terangsang dengan perlakuan mas Joko mulai mengusap-usap toketku dari luar gamis. aku sengaja tidak memakai BH dan CD sehingga usapanku kali ini langsung terasa di putingku yang mulai mengeras.

 

“Non Aisyah...”

Deeeg! Aku kaget setengah mati mendengar suara tiba-tiba memanggilku. Aku hampir terpeleset karena kaget.

 

Aku melihat Pak Hari berdiri agak jauh.

“Non, ngapain disitu?” Tanya pak Hari pelan.

“Eh, ini pak... Emm.. Tadi Aisyah ketuk kamar mbak Ijah.. Emm.. tapi ga ada yang buka. terus Aisyah liat dari belakang.” jawabku lirih dan terbata.

 

Aku yang terlihat kikuk langsung pergi berlalu meninggalkan Pak Hari. aku berjalan dengan cepat meninggalkan pak Hari, aku takut kalau suara kami terdengar oleh Mbak Ijah dan Mas Joko. Dengan badan yang masih sedikit bergetar karena ketauan mengintip, aku buru-buru menaiki tangga hingga tak sadar aku menginjak bagian yang basah.

 

Bruuk..

“Aduuuuhh..” Teriakku

Aku terpeleset saat menginjak tangga ketiga. tidak terlalu tinggi namun cukup membuat badanku sakit semua.

 

“Eh, non Aisyaaah” pak Hari segera berlari menghampiriku.

“Aduh Pak sakit bangeet. kakiku terkilir.” rengekku kesakitan.

“Aduh non, bisa berdiri nggak? Bapak panggilin mbak Ijah sama mbak Marwah ya..” kata Pak Hari panik.

“Eh, nggak usah pak. Aisyah bisa berdiri sendiri kok.” jawabku.

 

Aku tidak mau melibatkan mbak Ijah dan mbak Marwah karena nanti mereka bisa pada tau aku terpeleset karena ketauan mengintip.

Aku berusaha bangkit sendiri dan hampir kembali terjatuh. namun dengan sigap Pak Hari menangkapku. Aku merasakan tangan Pak Hari menyenggol payudaraku yang hanya terbalut gamis. Aku tau pasti pak Hari sangat merasakan kenyalnya payudaraku karena tidak memakai BH, namun aku pikir dia tidak sengaja melakukannya.

 

“Aduuh, ayo bapak anter aja ke kamar aja non.” Kata Pak Hari.

 

Dengan jalan yang pincang aku dipapah pak Hari untuk bisa sampai kamar


  • badutdut likes this

#30 doggies99

doggies99

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 4 posts

Posted 25 October 2017 - 03:41 PM

lanjut gan

#31 kerendalan

kerendalan

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 16 posts

Posted 26 October 2017 - 09:18 AM

Update dong suhu..

#32 badutdut

badutdut

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 386 posts
  • Locationbatam

Posted 29 October 2017 - 07:40 PM

Apdet apdet~

~badutdut approved~


#33 sadewa01

sadewa01

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 34 posts

Posted 05 November 2017 - 10:40 AM

Part 12: Pijatan

 

Akhirnya dengan kesakitan yang masih terasa dipergelangan kaki kanan dan lututku aku bisa sampai kamarku.

 

“Maaf non, Pak Hari boleh liat kakinya?” tanyanya.

Aku sedikit ragu namun aku kemudian menaikkan sedikit gamisku.

“Non, ini harus cepet dipijet non, biar nggak tambah parah.” katanya.

“Duh, dimana ya pak malem-malem gini nyari dimana tukang pijet?” tanyaku

“Bapak bisa kok mijet. paling nggak untuk ngelemesin ototnya dulu biar ga makin parah non. Besok baru dibawa ke tukang pijet.” jelasnya.

“Maaf pak, bapak turun dulu aja. Saya nanti telpon bapak kalau saya ngerasa nggak bisa ditahan.” Kataku sambil meringis kesakitan.

“Baik non.” kata pak Hari dan segera keluar kamarku.

 

Akhirnya aku menelpon mas Fahmi dan menceritakan kejadian itu.

“iya udah, gapapa. pokonya kamu dipijet sama pak Hari dulu. besok baru panggil tukang pijet.” kata mas Fahmi di telpon dengan nada khawatir.

“Iya mas, yaudah Ais panggil pak Hari. Assalamualaikum.” kataku mengakhiri percakapan.

 

Aku sebenarnya tidak mau kakiku disentuh oleh pak Hari, namun aku juga takut dan tidak ingin yang dibilang oleh pak Hari terjadi.

 

“Pak, tolong naik ya pak.” kataku di telpon.

 

tidak menunggu lama pak Hari kemudian mengetuk pintuku dan aku mempersilakan dia masuk. dia membawa minyak untuk memijat kakiku. Pak Hari segera mengambil posisi duduk dibawah namun aku suruh dia naik ke kasur supaya lebih mudah.

“Diatas aja pak.” Suruhku.

 

Dia  mulai menuangkan minyak dan mengurut kakiku.

“Akhh paak. sakit.” teriakku.

“Sabar bentar ya non.” katanya.

“Iya pak. Pak Hari belajar mijet dimana?” tanyaku mengalihkan perhatian supaya mengurangi rasa sakit.

“Didesa non. Saya dulu diajarin pijet urat sama pijet capek sama bapak saya.” katanya.

 

Beberapa saat aku merasakan kakiku sudah lebih baik karena sudah bisa digerakkan, namun pijatan pak Hari belum selesai. Pijatan pak Hari kini lebih naik untuk memijat betisku. katanya supaya ototnya lemas. aku hanya menurut perkataan pak Hari saja.

 

Aku merasakan pijatan pak Hari benar-benar membuat kakiku rileks, minyak yang digunakan membuat jemari kasarnya menyisir lembut setiap jengkal kulitku. Sentuhan demi sentuhan dari pak Hari sangat kunikmati. Nafsuku kembali meninggi, aku hanya memejamkan mata hingga aku tak sadar pak Hari sedang memperhatikan tubuhku dengan tatapan liarnya sambil tetap memijitku.

 

“Eehh, maaf non.” kata pak Hari ketika aku memergokinya.

 

Aku hanya tersipu malu dipandang seperti itu. baru mas Fahmi yang perah menatapku seperti itu. melihat gelagat pak Hari, aku berniat mengerjainya. aku membuka cadarku dan dengan sengaja memperlihatkan wajah cantikku. aku melihat pak Hari gerogi ketika cadarku terlepas.

 

“Maaf ya pak, saya lepas cadarnya. saya gerah soalnya.” godaku.

“Iya non. Non Aisyah cantik bangeet.” puji pak Hari setelah kubuka cadarku.

“Yaudah pak jangan diliatin terus. hehe” kataku malu.

 

Aku cukup senang dengan pujian yang dilontarkan pak Hari. Aku kembali memejamkan mata untuk menikmati sekaligus memberi pak Hari keleluasaan untuk menelanjangi tubuhku dengan tatapannya. sesekali aku mengintip dan melihat pak Hari sedang melihat tonjolan dadaku yang tertutup jilbab panjang atau betisku yang putih berisi.

 

“Udah non, non mau kaki satunya bapak pijitin juga? biar pegelnya ilang.” katanya

 

aku hanya mengangguk pelan dan kini pak Hari mulai merabai telapak kaki kiriku yang membuat aku sedikit kegelian.

 

“Ughhh pak..” lenguhku.

 

Lenguhanku yang manja membuat birahi pak Hari juga ikut naik. aku bisa melihat dari kegelisan dan pijatannya yang makin mengencang. Dalam hati kecilku aku merasa senang sekali karena bisa menggoda tua bangka didepanku ini. aku menggigit bibirku untuk menambah godaanku. aku melihat pak Hari makin belingsatan melihat wajahku yang sungguh menggodanya.

 

“Non cantik sekali.” pujinya lagi.

 

Aku benar-benar tidak peduli dengan ucapannya kali ini. aku hanya menikmati pijatannya yang sudah mulai naik ke betis kiriku. sedikit melirik ke selangkangan pak Hari, aku melihat kontol pak Hari sudah mulai menegang.

 

“Emmmh.. Enak pak.” racauku lirih.

“Eh, kenapa non? bilang apa?” tanyanya.

“Enggak pak. Saya nggak bilang apa-apa kok.”kilahku.

 

melihat kedua betisku yang sudah terbuka hingga lutut, pak Hari semakin berani untuk menaikkan pijatannya. pak Hari dengan perlahan menyusupkan tangannya ke paha kananku. namun tanganku cepat-cepat menangkisnya.

 

Plaaak!

Dengan sangat telak aku menampar pipi pak Hari.

 

“Jangan kurang ajar ya pak! saya laporin besok ke mas Fahmi biar bapak dipecat!” hardikku.

“Maaf non, bapak nggak sengaja.” katanya.

“Keluar!” bentakku dengan mendorongnya.

 

Pak Hari langsung keluar. Untungnya aku masih tersadar dan tidak terbawa lebih jauh lagi ke dalam permainan yang aku buat. Aku akui permainan kecil tadi sangat nikmat, namun aku enggan mencederai kesucian perkawinanku dengan mas Fahmi.

 

Waktu sudah larut malam. aku pikir hal ini memang perlu kuberitahukan kepada mas Fahmi besok, sehingga mas Fahmi bisa memecat pak Hari atas kelancangan yang dilakukannya kepadaku.



#34 badutdut

badutdut

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 386 posts
  • Locationbatam

Posted 05 November 2017 - 11:50 PM

Mantappp thor~

~badutdut approved~


#35 kerendalan

kerendalan

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 16 posts

Posted 06 November 2017 - 01:15 PM

Ayo hu lgsg tamat aja hu

#36 kerendalan

kerendalan

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 16 posts

Posted 17 November 2017 - 10:10 PM

Lupa password ya hu...
  • Bong pay likes this

#37 Ganteng76

Ganteng76

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 14 posts

Posted 26 November 2017 - 04:44 PM

ceritanya panjang belum nyambung ...lancrotkan



#38 DemiHuman

DemiHuman

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 60 posts

Posted 26 November 2017 - 10:37 PM

Kok blm berlanjut yah~~~~ hiks hiks

#39 sadewa01

sadewa01

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 34 posts

Posted 03 January 2018 - 12:34 PM

Part 13: Kesal

 

“Assalamualaikum mas Fahmi..” kataku di telepon.

pagi ini aku menelponnya untuk memberitahukan kejadian yang aku alami semalam.

“Waalaikumsalam sayaang, ada apa?” sahutnya di telepon. “Siapa sih mas pagi-pagi nelpon?” samar-samar terdengar suara wanita.

“Eh, mas. itu suara siapa?” tanyaku penasaran.

“emm, eeh. itu sekretaris mas Fahmi dek.” jawabnya terbata.

“Sekretaris? ngapain mas subuh-subuh gini di tempat mas?” tanyaku menyelidik.

“Ini dik, mas mau ada acara pagi-pagi jadi udah mulai siap-siap.” katanya.

 

pikiranku campur aduk. antara percaya atau tidak dengan omongan mas Fahmi.

 

“Mas, mau dilanjut gak mas?” suara wanita itu lagi lirih.

“Mas, mas Fahmi selingkuh ya?! aku denger mas!” bentakku.

 

aku langsung mematikan telepon dan menangis sesenggukan. aku bisa memastikan mas Fahmi sedang bermain serong dibelakangku dengan mendengar suara wanita yang begitu menggoda mas Fahmi di telepon. terlebih lagi terkadang memang kami melakukan sex usai subuh.

mas Fahmi berkali-kali mencoba menelponku, namun aku mengacuhkannya. hatiku sudah terlanjur sakit dengan perbuatan mas Fahmi. beberapa jam kedepan aku hanya menghabiskan waktu dengan menangis dikasurku.

 

Tok tok tok...

“Non, sarapannya udah siap non.” ujar mbak Ijah dari balik pintu.

“Mbak, tolong bawain ke dalem aja.” sahutku.

 

Aku sampai tidak sadar sudah pukul 7 pagi. memang sudah waktunya sarapan. aku segera mengusap air mataku. beberapa menit mbak Ijah sudah membawakanku makanan.

“Non, lagi sakit ya? kok tumben makannya minta dibawain.” tanya mbak Ijah.

“Iya mbak, kakiku keseleo tadi malem.” kataku.

“Loh, kok sembab non matanya? Non Ais kenapa?” tanya mbak ijah.

“Gapapa.” jawabku singkat.

 

Meskipun memakai cadar rupanya mbak Ijah masih menyadari mata sembabku. aku masih berpikir kenapa mas Fahmi tega menyakitiku seperti ini. kali ini aku sangat malas untuk makan. aku hanya makan 2 sendok untuk mengganjal perut kemudian aku beranjak mandi. aku merasakan kakiku masih sedikit sakit meskipun sudah lebih baik daripada kemarin.

 

setelah mandi aku kembali mengenakan pakaian gamisku dan hanya bermalas-malasan di kasur. aku masih memikirkan apa yang sekarang sedang dilakukan mas Fahmi namun aku tidak mau untuk menghubunginya.

 

sejenak muncul kembali niat isengku untuk kembali mengerjai pak Hari. kupikir aku harus melakukan sesuatu yang lebih berani kali ini. aku ingin memlampiaskan rasa sakitku atas apa yang dilakukan mas Fahmi.

 

“Pak Hari.. Cepat ke kamar saya bawa minyak urut.” kataku ketus di telpon.

“Baa.. baik non. saya kesana.” kata pak hari terbata-bata.

 

aku terkekeh kecil dalam hati mendengar suara pak Hari yang agak ketakutan.

 

tok tok tok.. pintu kamarku diketuk

 

“masuk!” kataku dengan nada agak tinggi.

pak Hari segera masuk dengan muka tertunduk.

“Kaki Aisyah masih sedikit sakit pak. Tolong diurut lagi. tapi jangan macam-macam.” ancamku.

“Iya non.” jawabnya singkat.

 

pak Hari kini menyingkap sedikit gamisku dan mulai membaluri pergelangan kakiku dengan minyak. perlahan-lahan pak Hari mulai memijat tubuhku. aku melihat raut wajah pak Hari masih sedikit sungkan. Aku hanya menatap pak Hari, melihat dia setengah ketakutan membuatku menjadi dominan.

 

“ Pak, kaki saya pegel. Tolong dipijetin sekalian ya.” kataku judes.

“Iyaa non.” jawabnya.

 

pak Hari mengurut kedua betisku. aku akui pijatannya sangat nikmat dan aku mulai terhanyut menikmati sentuhan demi sentuhan supirku ini. aku merasakan vaginaku mulai gatal dan kulebarkan sedikit kakiku untuk mengurangi gesekan pahaku.

 

Napasku dari balik cadar mulai berat dan semakin berat ketika pak Hari mulai menyentuh dan mengusap lembut lututku. pak Hari mengetahui betul aku mulai terangsang dan mengambil kesempatan emas untuk membalik dominasi.

 

“Gimana pijitan bapak non?” tanyanya mulai berani.

“Biasa aja.” jawabku ketus.

 

pak Hari hanya terkekeh kecil mendengar jawabanku dan membuatku agak sedikit emosi. pijitan pak Hari makin berani dan mulai mengusap pahaku.

 

plaaak!!

aku kembali melayangkan tamparan keras ke pipi pak Hari dan pak Hari mengaduh memegang pipinya.

 

“Masih berani kurang ajar! Dasar tua bangka!” bentakku.

“Non, saya tau non butuh kenikmatan. saya tau! silakan kalau mau pecat saya. saya akan bilang ke suami dan pembantu lain kalau non ngintip Joko dan Ijah lagi ngentot.” katanya dengan nada tinggi dan berlalu.

 

Aku syok mendengar apa yang dikatakan pak Hari. Aku tidak mau rahasiaku itu terbongkar. Aku segera menghentikan langkahnya.

 

“Stop pak.” teriakku.

“Kenapa? Non takut?” katanya sambil berbalik dan menyeringai.



#40 jendelatetangga

jendelatetangga

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 8 posts

Posted 03 January 2018 - 03:42 PM

 

Part 13: Kesal

 

“Assalamualaikum mas Fahmi..” kataku di telepon.

pagi ini aku menelponnya untuk memberitahukan kejadian yang aku alami semalam.

“Waalaikumsalam sayaang, ada apa?” sahutnya di telepon. “Siapa sih mas pagi-pagi nelpon?” samar-samar terdengar suara wanita.

“Eh, mas. itu suara siapa?” tanyaku penasaran.

“emm, eeh. itu sekretaris mas Fahmi dek.” jawabnya terbata.

“Sekretaris? ngapain mas subuh-subuh gini di tempat mas?” tanyaku menyelidik.

“Ini dik, mas mau ada acara pagi-pagi jadi udah mulai siap-siap.” katanya.

 

pikiranku campur aduk. antara percaya atau tidak dengan omongan mas Fahmi.

 

“Mas, mau dilanjut gak mas?” suara wanita itu lagi lirih.

“Mas, mas Fahmi selingkuh ya?! aku denger mas!” bentakku.

 

aku langsung mematikan telepon dan menangis sesenggukan. aku bisa memastikan mas Fahmi sedang bermain serong dibelakangku dengan mendengar suara wanita yang begitu menggoda mas Fahmi di telepon. terlebih lagi terkadang memang kami melakukan sex usai subuh.

mas Fahmi berkali-kali mencoba menelponku, namun aku mengacuhkannya. hatiku sudah terlanjur sakit dengan perbuatan mas Fahmi. beberapa jam kedepan aku hanya menghabiskan waktu dengan menangis dikasurku.

 

Tok tok tok...

“Non, sarapannya udah siap non.” ujar mbak Ijah dari balik pintu.

“Mbak, tolong bawain ke dalem aja.” sahutku.

 

Aku sampai tidak sadar sudah pukul 7 pagi. memang sudah waktunya sarapan. aku segera mengusap air mataku. beberapa menit mbak Ijah sudah membawakanku makanan.

“Non, lagi sakit ya? kok tumben makannya minta dibawain.” tanya mbak Ijah.

“Iya mbak, kakiku keseleo tadi malem.” kataku.

“Loh, kok sembab non matanya? Non Ais kenapa?” tanya mbak ijah.

“Gapapa.” jawabku singkat.

 

Meskipun memakai cadar rupanya mbak Ijah masih menyadari mata sembabku. aku masih berpikir kenapa mas Fahmi tega menyakitiku seperti ini. kali ini aku sangat malas untuk makan. aku hanya makan 2 sendok untuk mengganjal perut kemudian aku beranjak mandi. aku merasakan kakiku masih sedikit sakit meskipun sudah lebih baik daripada kemarin.

 

setelah mandi aku kembali mengenakan pakaian gamisku dan hanya bermalas-malasan di kasur. aku masih memikirkan apa yang sekarang sedang dilakukan mas Fahmi namun aku tidak mau untuk menghubunginya.

 

sejenak muncul kembali niat isengku untuk kembali mengerjai pak Hari. kupikir aku harus melakukan sesuatu yang lebih berani kali ini. aku ingin memlampiaskan rasa sakitku atas apa yang dilakukan mas Fahmi.

 

“Pak Hari.. Cepat ke kamar saya bawa minyak urut.” kataku ketus di telpon.

“Baa.. baik non. saya kesana.” kata pak hari terbata-bata.

 

aku terkekeh kecil dalam hati mendengar suara pak Hari yang agak ketakutan.

 

tok tok tok.. pintu kamarku diketuk

 

“masuk!” kataku dengan nada agak tinggi.

pak Hari segera masuk dengan muka tertunduk.

“Kaki Aisyah masih sedikit sakit pak. Tolong diurut lagi. tapi jangan macam-macam.” ancamku.

“Iya non.” jawabnya singkat.

 

pak Hari kini menyingkap sedikit gamisku dan mulai membaluri pergelangan kakiku dengan minyak. perlahan-lahan pak Hari mulai memijat tubuhku. aku melihat raut wajah pak Hari masih sedikit sungkan. Aku hanya menatap pak Hari, melihat dia setengah ketakutan membuatku menjadi dominan.

 

“ Pak, kaki saya pegel. Tolong dipijetin sekalian ya.” kataku judes.

“Iyaa non.” jawabnya.

 

pak Hari mengurut kedua betisku. aku akui pijatannya sangat nikmat dan aku mulai terhanyut menikmati sentuhan demi sentuhan supirku ini. aku merasakan vaginaku mulai gatal dan kulebarkan sedikit kakiku untuk mengurangi gesekan pahaku.

 

Napasku dari balik cadar mulai berat dan semakin berat ketika pak Hari mulai menyentuh dan mengusap lembut lututku. pak Hari mengetahui betul aku mulai terangsang dan mengambil kesempatan emas untuk membalik dominasi.

 

“Gimana pijitan bapak non?” tanyanya mulai berani.

“Biasa aja.” jawabku ketus.

 

pak Hari hanya terkekeh kecil mendengar jawabanku dan membuatku agak sedikit emosi. pijitan pak Hari makin berani dan mulai mengusap pahaku.

 

plaaak!!

aku kembali melayangkan tamparan keras ke pipi pak Hari dan pak Hari mengaduh memegang pipinya.

 

“Masih berani kurang ajar! Dasar tua bangka!” bentakku.

“Non, saya tau non butuh kenikmatan. saya tau! silakan kalau mau pecat saya. saya akan bilang ke suami dan pembantu lain kalau non ngintip Joko dan Ijah lagi ngentot.” katanya dengan nada tinggi dan berlalu.

 

Aku syok mendengar apa yang dikatakan pak Hari. Aku tidak mau rahasiaku itu terbongkar. Aku segera menghentikan langkahnya.

 

“Stop pak.” teriakku.

“Kenapa? Non takut?” katanya sambil berbalik dan menyeringai.

 

 

 

mantap masuk perangkap...lanjuuuuuut dong ..







Also tagged with one or more of these keywords: jilbab, cadar, suamiistri