web counters counter stats



Jump to content


First deposit bonus

ss Situs Judi Bola Situs Judi Bola Situs Judi Bola Situs Judi Bola Situs Judi Bola Situs Judi Bola Situs Judi Bola

ingin beriklan? hubungi kami: email : megalendir@gmail.com , big.lendir@yahoo.com atau Skype : big.lendir@yahoo.com

Live Dealers Double up bonus ss ss
ss ss ss
vert
vert
Photo
* * - - - 1 votes

Bodyguard


  • Please log in to reply
152 replies to this topic

#1 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 06 September 2017 - 06:15 PM

BODYGUARD CHAPTER ONE

 

PROLOG

 

Kuperhatikan dari balik kaca mobil, seorang wanita cantik berambut panjang bergelombang, memakai kacamata hitam dan bertopi lebar untuk menahan teriknya sinar matahari.  Rok minina yang berwarna hitam cukup memperlihatkan paha bawahnya yang putih dengan betis yang jenjang.  Sangat menawan.  Baju atasnya kaos warna putih dengan potongan dada lurus memperlihatkan sedikit lekuk kecil belahan dadanya dengan kain renda dibagian pundaknya.  Wajah cantiknya tertutup kacamata hitam yang membuatnya tampak keren.  Bibir merahnya yang sensual terlihat merapat, mungkin lelah karena habis rapat di kantor itu atau karena panasnya terik matahari. 

Seorang pria berkacamata hitam, tak kalah gagahnya berjalan tidak jauh di belakangnya.  Memakai blazer tapi tidak menutupi kekekaran bahunya.  Sedikit lebih tinggi dari wanita cantik yang berjalan di depannya.  Pria itu menoleh ke kiri dan ke kanan seakan-akan ingin memeriksa hal-hal yang mencurigakan yang akan mengganggu jalannya wanita cantik itu.  Melihat tampangnya, mungkin orang akan takut.

 

Mereka berdua menuju kemari, ke arah mobil dimana aku duduk di belakang kemudinya.  Iya aku seorang supir.  Wanita cantik itu adalah majikanku.  Namanya Elena, tidak perlu aku sebutkan nama belakangnya.  Mungkin kalian bisa cari nama lengkapnya di internet, karena dia seorang artis terkenal.   Wajah cantiknya banyak menghiasi majalah atau berita-berita infotainment.  Nah orang yang dibelakangnya itu adalah bodyguardnya.  Sangat lincah dan sangat waspada.  Karena memang, Elena banyak penggemarnya, bahkan penggemar fanatik yang kadang terlalu berlebihan, sehingga bisa melakukan sesuatu yang ekstrim demi menemui Elena, mungkin memeluknya, menciumnya atau bahkan hal yang lebih parah. 

 

Siapa yang tidak akan terpesona oleh  Elena.  Wajah orientalnya yang cantik, berambut panjang.  Ditambah tubuhnya yang sintal.  Ukuran payudaranya cukup menantang.  Aku tidak tahu berapa ukurannya.  Pinggul yang bak gitar Spanyol.  Semua dibungkus dengan kulit yang putih mulus.  Aku pun terpesona olehnya sejak melihatnya pertama kali.  Namun siapalah aku?  Aku seorang supirnya.  Paling tidak mungkin itulah pekerjaanku sekarang. 

 

Kenapa demikian?  Karena tidak banyak yang bisa aku ceritakan pada kalian tentang aku.  Karena aku sendiripun tidak tahu tentang diriku.  Semua tentang aku, yang aku ingat adalah satu minggu belakangan ini, ketika pertama kali aku menginjakkan kaki di rumah Elena yang waktu itu banyak orang datang.  Yang kemudian baru aku tahu itu adalah hari ketika suami Elena meninggal dunia.  Aku pun tidak tahu kenapa aku bisa ke rumah Elena.  Tak lama setelah aku melihat wajah Elena yang begitu cantik walaupun terlihat sedang berduka, aku pun jatuh pingsan.  Sejak hari itu, sejak hari itu yang bisa kuingat sampai detik ini.  Melihat aku tanpa identitas apapun. Aku juga bingung apa yang terjadi padaku.  Untung Nyonya Elena begitu baik mau menerimaku dan mempekerjakan aku sebagai supir.  Mungkin aku dulu seorang supir karena ternyata aku bisa mengemudi mobil sedan bmw  ini cukup mahir dan lincah.  Tapi aku tidak yakin juga. 

 

“Bud, ayo kita pulang,” Elena berkata padaku begitu dia masuk ke dalam mobil yang ber-AC ini.

Bodyguardnya, Mas Bambang duduk di depan, di sebelahku.  Tetap memakai kacamata hitamnya.

“Baik Nyonya,” jawabku kemudian sambil menginjak pedal gas.

Iya aku dipanggil Budi.  Dan aku yakin itu bukan namaku.   Seperti yang aku bilang sebelumnya, aku tidak ingat apapun tentang aku sebelum satu minggu kemaren. Ya, aku amnesia.



#2 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 08 September 2017 - 09:42 AM

BODYGUARD CHAPTER TWO

 

Seperti yang aku bilang sebelumnya, aku amnesia.  Penyebabnya aku tidak tahu, hanya ketika aku siuman, aku terbaring di sofa dikelilingi oleh banyak tamu Nyonya Elena, mungkin sanak saudara dan kerabat Nyonya Elena.  Aku memegang dahi bagian kanan yang diperban.  Lalu kepala belakangku seperti ada tonjolan yang lumayan terasa masih nyut-nyutan.

“Anda siapa?” Waktu itu Nyonya Elena yang mengenakan baju terusan hitam menanyaiku.  Lebih tepatnya menyelidiki aku.

Aku siapa.  Siapa namaku.  Kenapa aku tidak ingat?  Wajah nyeri ku bercampur dengan wajah kebingunganku.  Sekali lagi Nyonya Elena menanyaiku dengan suara agak tegas dan pandangan mata yang tajam.  Aku hanya termangu menatap wajah cantiknya.  Terasa akrab wajahnya di pandangan aku.  Melihat semua orang menanti jawaban aku.  Sedangkan aku tidak tahu siapa aku sebenarnya.

“Aku tidak tahu, Nyonya,” jawabku.  “Aku tidak ingat apapun.” Lanjutku kemudian.

 

Terdengar suara orang heboh disekelilingku.  Mereka saling berkomentar satu sama lain.

“Anda tidak bohong?” lanjut Nyonya Elena tetap mencurigai aku. “Boleh liat KTP anda?” tanyanya kemudian.

Otomatis aku merogoh saku celanaku.  Tidak ada apapun.  Tidak ada apapun di semua kantong celanaku.  Aku menggelengkan kepalaku.

“Bambang, coba geledah sakunya,” perintah Nyonya Elena pada bodyguardnya.  Bambang dengan tampangnya yang sangar segera meraba-raba kantong celanaku.  Kepalaku tiba-tiba berdenyut sakit.

“Tidak ada apa-apa di sakunya, Nyonya,” ujar Bambang kemudian.

 

Tiba-tiba ada yang menyeletuk untuk menyerahkan aku ke polisi disambut dengan anggukkan banyak orang.

“Jangan sekarang,” kata Nyonya Elena.  “Sekarang kita lagi berduka, aku tidak mau repot berurusan dengan polisi.  Lagi pula kelihatannya orang ini lagi terluka.  Bambang, tolong jaga dia ya,” perintah Nyonya Elena lagi pada Bambang.  Aku tahu maksudnya menjaga.  Mengawasi aku lebih tepatnya agar aku tidak berbuat yang macam-macam.

 

Semua orang mungkin iba melihat penampilanku yang memang acak-acakan dengan luka di dahiku ditambah tampangku yang seperti orang linglung.  Akhirnya kerumunan bubar meninggalkanku di sofa ditemani Bambang, sang Bodyguard bertubuh kekar.

Untung bagiku, Nyonya Elena percaya padaku.  Mungkin dia kasihan melihatku seperti anak hilang.  Dia tidak menyerahkan aku kepada polisi.  Bahkan aku diberinya kamar kecil, bekas tukang kebunnya. Letaknya jauh di pekarangan belakang.  Nyonya Elena bilang aku boleh bantu bersih-bersih rumah dan pekarangan karena tukang kebunnya sudah pensiun seminggu yang lalu. 

Aku cukup beruntung diperbolehkan tinggal disini.  Ada beberapa pakaian untukku yang masih layak kupakai, lagipula bisa dibilang aku pembantu disini, aku tidak perlu pakaian yang bagus.  Tapi yang membuat aku merasa sangat beruntung bahwa aku bisa terus melihat Nyonya Elena.  Kecantikannya benar-benar sudah menguasai hatiku.  Ya kecantikannya entah kenapa membuat aku seperti terhipnotis.  Sedangkan bagian tubuh lainnya bukannya tidak menarik.  Sangat menggiurkan malahan.  Tapi buatku dengan melihat kecantikannya pun sudah cukup bagiku.

 

Selain aku yang sebagai pembantu, Nyonya Elena juga ada pembantu yang lain, Bi Surti.  Dia yang memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.  Dia sangat berterima kasih dengan kehadiranku, karena untuk kerjaan yang berat bisa diserahkan padaku.

Kejadian menarik pertama buatku adalah ketika aku sedang memotong rumput yang cukup luas di pekarangan belakang.  Nyonya Elena keluar dari rumah menuju kolam renang yang cukup besar, mengenakan kimono berwarna putih.  Yang membuat darahku berhenti berdesir ketika dia membuka kimononya.  Nyonya Elena memakai swimsuit berwarna biru tua.  Begitu ketat memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnya.  Tonjolan di dadanya begitu indah ditambah bokong padat serta kulit putihnya.  Pahanya yang berisi terlihat sampai pangkal selangkangan.  Memang aku amnesia tapi ternyata fungsi organ tubuhku berfungsi dengan normal.  Penisku langsung ereksi menikmati pemandangan pagi yang indah ini. 

 

Nyonya Elena berenang bolak balik beberapa kali sebelum dia rebahan di salah satu kursi kayu panjang yang sandarannya setengah tegak di pinggir kolam renang.  Mengambil sebuah majalah yang tersimpan di meja di sampingnya.  Dengan kaki kanan yang tertekuk ke atas, semakin memperlihatkan paha putihnya yang mulus.  Dia cuek saja tanpa melihat sekeliling membaca majalah. Seakan-akan tidak peduli ada sepasang mata yang langsung tidak konsens memotong rumput.  Penisku memang tidak ereksi maksimal tapi cukup membuat darahku yang sempat terhenti sekarang berdesir cepat.  Entah sudah berapa kali aku memalingkan wajah dari pekerjaanku memotong rumput ke arah tubuh indah yang sedang rebahan di pinggir kolam.  Akhirnya Nyonya Elena memakai kembali kimononya dan sempat menoleh ke arahku, dimana aku cepat-cepat memalingkan wajah, pura-pura konsentrasi memotong rumput, sebelum Nyonya Elena kembali masuk ke dalam rumah.  Kejadian ini membuat aku berkeinginan untuk tetap tinggal di rumah ini.

 

Selain Bi Surti ada juga Pak Dadan, uda cukup tua kira-kira 50.  Dia supirnya Nyonya Elena.  Ya namanya juga pembantu di rumah ini, aku jadi ikut bantuin Pak Dadan nyuci mobil BMW nya Nyonya Elena.  Akhirnya disitu aku tahu bahwa suami Nyonya Elena baru saja meninggal mendadak.  Nyonya Elena tidak punya anak.  Kasian Nyonya Elena kata Pak Dadan.  Mereka baru menikah kira-kira satu tahun yang lalu. Eh sekarang uda ditinggal suaminya.  Memang suaminya Nyonya Elena, Pak Santoso orang kaya sekali.  Umurnya memang sudah tidak muda, umur 45, hampir beda 15 tahun dengan Nyonya Elena.  Aku manggut-manggut sambil berpikir, kok mau-maunya orang secantik Nyonya Elena menikah dengan pria yang lebih tua jauh umurnya.  Aku juga merasa sedikit iri juga.  Aku kembali teringat pemandangan indah yang baru saja tadi kulihat.  Penisku kembali ereksi.  Sebelum aku sempat ereksi lebih jauh, tiba-tiba Bi Surti teriak

 

“Budi! Bukain pintu gerbang ada tamu untuk Nyonya Elena!” iya, karena aku tidak tahu siapa namaku.  Untuk sementara Nyonya Elena menetapkan namaku Budi.  Entah kenapa dia memilih nama itu.  Aku buka gerbang, sebenarnya gerbangnya pake mesin otomatis yang terpasang di dekat garasi.  Sebuah mobil pajero hitam masuk, aku tidak bisa melihat siapa pengemudinya karena kaca mobilnya yang gelap.  Ketika mesin berhenti dan pintu depan kanan terbuka.  Seorang wanita, dengan wajah sangat menarik keluar.  Wajahnya cantik sebenarnya lebih ke sensual dan kembali darahku berhenti berdesir ketika melihat pakaiannya.  Kaos biru ketat memperlihatkan tonjolan payudaranya, hitungan matematika ku sangat cepat, jelas ukurannya lebih besar dari punya Nyonya Elena.  Rok mininya cukup pendek memperlihatkan pahanya, kalah putih sih tapi jelas lebih berisi dari punya Nyonya Elena.  Dia membuka kacamatanya.  Menatapku tajam.  Aku segera mengalihkan pandanganku dari tubuh menggiurkannya.

 

“Kamu siapa?” tanyanya dengan pandangan menyelidik.

“Saya Budi, Nyonya,” jawabku agak gelagapan, takut dia marah karena aku memperhatikan tubuhnya tadi.

“Nyonya...nyonya aku belum kawin kali,” jawabnya agak ketus.

Lalu dia masuk ke arah pintu rumah yang berpintu kembar.  Nyonya Elena yang muncul.  Aku bisa mendengar sedikit percakapan mereka.

“Aduh say, sori banget aku baru sempet ke sini.  Aku kemaren ada di luar kota,” ujar wanita itu sambil memeluk dan mencium pipi kiri dan kanan Nyonya Elena. “Aku turut berduka cita ya.”

“Ga apa-apa, Sally,” jawab Nyonya Elena sambil mengangguk kemudian mereka masuk.  Aku kembali ke garasi memencet tombol untuk menutup gerbang.  Kemudian aku melanjutkan pekerjaanku membantu Pak Dadan cuci mobil.

 

Baru saja aku selesai mencuci mobil, Bi Surti memanggilku lagi

“Budi, kamu dipanggil Nyonya,” katanya.

“Iya,  Bi,” aku mengelap tangan basahku ke celana pendek jeansku, baju bekas tukang kebun yang dulu.

Aku masuk ke dalam rumah. Aku lihat Nyonya Elena, wanita sensual tadi dan Bambang lagi duduk di meja makan.

“Sini, Bud,” panggil Nyonya Elena padaku.

Begitu aku sudah dekat meja makan, Bambang tiba-tiba mendorongku ke tembok dan mengeluarkan pisau yang cukup besar dari pinggangnya dan menempelkannya pada leherku.



#3 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 09 September 2017 - 11:54 PM

BODYGUARD CHAPTER THREE

 

Refleksku kurang cepat karena aku yang terdorong ke tembok oleh Bambang.  Kepalaku yang terluka mengenai tembok sehingga membuat aku pusing seketika.  Pisau Bambang tertempel di leherku, dia menatapku dengan tajam.

Sally yang lagi duduk di kursi di depan meja dapur, menatapku dengan tajam.  Setelah dia menghembuskan asap rokoknya

“Kamu mata-mata kan? Jawab yang jujur atau Bambang akan menghabisi kamu!” ancamnya.  Aku bingung kenapa aku tiba-tiba ditanya seperti begitu.  Dinginnya pisau terasa di leherku.  Aku melihat Nyonya Elena lagi menatap meja makan yang terbuat dari kaca. Terlihat Nyonya Elena memakai celana hot pants warna hijau muda, memperlihatkan pahanya yang putih.  Nyonya Elena sama seperti Sally sedang mengisap sebatang rokok.  Dia seperti tidak mempedulikan kejadian yang sedang terjadi.

 

“Ayo jawab!”  Sally menyilangkan kakinya, rok mininya yang pendek terlihat semakin pendek memperlihatkan pahanya yang mulus, ketika dia menyilangkan kakinya, terlihat selintas celana dalam putihnya.  Kepalaku semakin pusing melihat kedua wanita super menarik di depanku.  Pisau Bambang yang menekan leherku mengingatkan aku akan situasi aku yang sedang diinvestigasi.

“Maksud Nyonya?” tanyaku menatap bergantian Sally dan Nyonya Elena.

“Nyonya! Nyonya! Sudah aku bilang aku belum kawin!” Sally mendengus.

“Aku tidak ngerti maksud Nona?” tanyaku mengkoreksi.

“kamu mata-mata kan yang ingin menyelidiki Lena?” tanya Sally lagi.  Lena?  Oh maksudnya mungkin Nyonya Elena.

Aku menatap Nyonya Elena yang tetap menunduk menatap meja makan sambil menghembuskan asap rokoknya.

“Tidak, aku bukan mata-mata.  Aku tidak ingat siapa aku sebenarnya,” aku mencoba menjawab dengan tenang meskipun kepalaku pusing dan nyeri.

 

“Jangan bohong! Tebas aja lehernya, Bang!” Sally berdiri, rok mininya tetap terangkat tidak turun ke posisi bawah.  Pemandangan yang menggiurkan apabila aku tidak berada di bawah ancaman pisau.

“Aku tidak bohong!” Teriakku sambil menatap Sally tajam dan berharap Nyonya Elena membantu aku.

“Kalo bukan mata-mata, lalu kamu siapa?” Sally mendekatiku dan menghembuskan asap rokoknya ke arah wajahku.  Sialan nih cewek, pikirku.

“Aku tidak ingat siapa aku, Nona!” aku tidak mau kalah oleh mereka.  Aku menatap Sally tajam.

“Ah siapa yang tau kalo kamu amnesia beneran atau bukan?” Sally memberi kode pada Bambang.  Bambang lalu mengubah posisi pisaunya yang tidak tajam ke yang tajam menekan leherku.

 

“Aku tidak bohong, liat aku punya dua luka di kepala, pasti itu yang menyebabkan aku amnesia.  Nyonya Elena, tolong percaya padaku,” aku tahu kunci utamanya ada di Nyonya Elena.

“Atau kamu fans yang pengen deket dengan Lena?” Sally menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, membuat kedua payudaranya terlihat semakin membusung.  Kenapa dia harus seperti itu disaat aku sedang berada dalam ancaman pisau?

“Aku malah tidak tahu kalo Nyonya Elena seorang artis sebelumnya,” aku hampir berteriak mengucapkan itu, sekali lagi berharap Nyonya Elena membantuku.

Keinginanku terkabulkan.

 

“Lepaskan, Bang!  Aku percaya padanya,” ucap Nyonya Elena sambil menatapku.  Bambang terlihat enggan menurunkan pisaunya dari leherku.  Meskipun begitu dia tetap melakukannya.

“Sal, Bang, tolong tinggalkan aku berdua dengan Budi,” Nyonya Elena mematikan rokoknya di asbak.

Sally dan Bambang terlihat ragu-ragu.

“ga akan apa-apa, aku percaya pada Budi,” Nyonya Elena tersenyum meyakinkan mereka.

 

Setelah mereka berdua meninggalkan kami.

“Duduk, Bud!” Nyonya Elena menyuruhku duduk di kursi di meja sebelah kanan.  Aku meraba-raba leherku, agak sedikit perih akibat kegesek pisau tadi.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya Nyonya Elena sambil tersenyum.  Cantik sekali.  Perih di leherku terasa sedikit berkurang.

“Ga apa-apa, Nyonya,” jawabku sambil tersenyum juga. 

“Maaf soal tadi. Sally yang bersikeras ingin melakukan itu.  Dia tidak percaya padamu,” jelas Nyonya Elena.

“Tapi Nyonya percaya ama saya kan?” aku bertanya balik, menatap matanya mencari kejujuran.

“Aku percaya padamu,” tiba-tiba Nyonya Elena memegang tangan kiriku yang berada di dekatnya.  Aku merasa seperti tersetrum ketika tanganku bersentuhan dengan tangannya yang halus.  Otomatis aku menatap ke arah tanganku dan pandanganku tembus ke bawah meja kaca itu, melihat paha mulusnya.  Begitu sempurna wanita ini menurutku.  Ingin aku membalas memegang tangannya, meremasnya, mengelusnya.  Tapi untung tangan Nyonya Elena sudah tidak memegang tanganku lagi.

 

“Kamu sudah ingat tentang kamu?” tanyanya tiba-tiba.

“Belum, nyonya. Kepala saya masih terasa pusing akibat luka ini,” jawabku.

“Ya pelan-pelan aja.  Nanti pasti ingatan kamu akan kembali lagi,” Nyonya Elena tersenyum lagi.  Gigi putihnya pun ternyata sangat menggoda.

“Ngomong-ngomong, kamu bisa nyetir?” tanya Nyonya Elana lagi.

“Aku ga tahu, Nyonya.  Memang kenapa?” tanyaku balik.

“Coba besok kamu tes dengan Pak Dadan besok.  Siapa tau kamu memang amnesia, tapi kamu ternyata bisa nyetir mobil,” ujarnya kemudian.

“Tapi kan uda ada Pak Dadan sebagai supir Nyonya,” aku agak bingung dengan maksud Nyonya Elena.

“Pak Dadan uda tua, dia bilang mau istirahat aja, ga mau kerja lagi,” sambung Nyonya Elena. “Kalo kamu bisa nyetir, nanti kamu yang jadi supir aku.”

 

Aku mengangguk-anggukan kepalaku.  Dalam hatiku, aku berharap aku bisa nyetir sehingga aku bisa lebih sering bersama Nyonya Elena bukan saja di rumah tapi juga diluar ketika aku menyupir mobil untuknya.  Aku tersenyum senang tanpa aku sadari.

“Ya uda, kamu terusin kerjaan kamu lagi,” lalu Nyonya Elena berdiri, masuk ke dalam kamarnya.  Aku memperhatikan sosoknya sampai dia menghilang masuk kamar.  Aroma tubuhnya masih tercium oleh hidungku. 

 

Aku pun bermaksud pergi keluar lewat pintu belakang ketika aku seperti mendengar orang yang sedang berciuman dekat kamar mandi di belakang.  Aku melihat Bambang sedang berciuman mesra dengan Sally.  Kaki kiri Sally menekuk ke atas. Paha mulusnya menekan pinggang kanan Bambang.  Mereka segera menghentikan ciuman mereka ketika mereka mendengar langkahku mendekat.  Jelas mereka pasti lebih membenciku lagi setelah ketauan olehku apa yang telah mereka lakukan.  Aku yakin mereka sedang menatapku tajam.  Aku pergi keluar dengan menundukkan kepala.  Seakan-akan aku tidak mengetahui apa yang baru mereka lakukan.  Sial, belum apa-apa, aku sudah punya dua musuh yang mungkin sangat ingin mengenyahkan aku dari rumah ini.  Aku harus hati-hati.



#4 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 11 September 2017 - 05:38 PM

BODYGUARD CHAPTER FOUR

 

Seperti yang aku ceritakan di awal, aku seorang supir.  Namun aku tetap membantu kerjaan rumah. Dan tentu saja hal favorit yang aku tunggu-tunggu adalah jam 8 ketika aku sedang memotong rumput.  Karena hampir selalu tepat jam 8 atau paling lebih beberapa menit, Nyonya Elena selalu berenang dan habis berenang pasti rebahan dulu di kursi panjang di pinggir kolam.  Sepertinya dia tidak keberatan kalo body seksinya yang terbalut hanya swimsuit atau bikini dilihat oleh supir pribadinya, aku.

 

Mengenai dua musuh dadakan aku, aku pun tidak mau kalah, aku harus mencari sekutu.  Tentu saja pilihan hanya jatuh pada Bi Surti.  Ternyata Bi Surti sudah lama ikut Nyonya Elena, semenjak Nyonya Elena belum menikah dengan Pak Santoso.  Bagus sekali pikirku, apabila ada terjadi sesuatu tentu Nyonya Elena akan lebih memihak Bi Surti.  Lain halnya dengan Sally, ternyata dia managernya Nyonya Elena, yang mengurus segala hal tentang pekerjaan Nyonya Elena sebagai artis.  Kata Bi Surti, Nona Sally adalah sepupu jauhnya Nyonya Elena.  Agak sulit bagiku kalo begitu. Mereka ada hubungan saudara.  Meskipun sepupu jauh.  Maka dari itu sebagai manager Nyonya Elena, Sally diberi kamar di lantai satu di seberang kamar Nyonya Elena dan Sally sering menginap di rumah Nyonya Elena. Nah lain lagi kalo Bambang, dia baru ikut Nyonya Elena dua tahun terakhir ini.  Setelah Nyonya Elena merasa bahwa keselamatannya sebagai artis dan sebagai pribadi agak kurang aman.  Aku tanya lebih jauh, kurang aman gimana maksudnya.  Bi Surti tidak mau menjelaskan lebih dalam lagi.  Aku pun tidak mau memaksanya.

Mengenai amnesiaku, belum ada perubahan, aku masih belum ingat apapun tentang diriku.  Sakit kepalanya masih suka muncul tiba-tiba tapi dua luka dikepalaku sudah hampir sembuh.  Pekerjaan seorang supir ternyata biasa saja.  Tapi karena aku menyupiri Nyonya Elena, sehingga aku bisa sering berdekatan dengannya membuat pekerjaan ini bagaikan surga untukku.  Nyonya Elena cukup baik padaku.  Dia sering menanyakan bagaimana amnesiaku.  Hampir setiap saat dia menanyaiku tentang hal itu.  Aku sangat berterima kasih atas perhatiannya.

 

Dan aku baru tahu, hari ini. Ternyata seorang bodyguard tidak harus setiap saat menemani dan menjaga kliennya.  Seperti hari ini, Nyonya Elena minta diantar olehku ke rumah mamanya.  Bambang agak keberatan mengetahui bahwa Nyonya Elena hanya akan berduaan denganku.  Begitu juga Sally.  Tapi Nyonya Elena sekali lagi bilang bahwa dia percaya padaku.  Aku penasaran apakah Nyonya Elena tahu tentang hubungan mereka?

 

Hari ini Nyonya Elena memakai gaun terusan panjang dengan kancing-kancing besar di bagian dada dan belahan gaun panjangnya di bagian kiri sampai di atas lutut.  Benar-benar bagaikan bidadari seksi bagiku. 

Ketika kira-kira lima menit baru meninggalkan rumah.

“Bud, ganti arah. Kita ke mall dulu,” Nyonya Elena menyebutkan nama mallnya. “Nanti aku kasi tau arah jalannya.”

Mungkin aku bukan orang sini atau karena amnesiaku.  Tapi ada beberapa jalan, sebagian besar sebenarnya, aku tidak tahu tempatnya.  Aku juga bingung kenapa rumah Nyonya Elena yang pertama kali aku datangi ketika aku amnesia.

Karena tidak ada bodyguardnya, Nyonya Elena turun di tempat aku memarkirkan mobil.

“Bud, kamu ikut aku,” katanya kemudian ketika dia sudah membuka pintu mobil.

Ikut.  Aku tidak pernah ikut Nyonya Elena, biasanya beberapa hari ini, aku hanya berdiam di dalam mobil.  Aku merapikan baju sederhanaku.  Celana jeans belel dengan kaos polos warna coklat.  Aku tidak mau tampil tidak pantas jika ingin berjalan bersama Nyonya Elena.

Ketika turun dari mobil, Nyonya Elena langsung memakai kacamata hitam dan topi lebarnya.  Mungkin dia tidak ingin dikenal banyak orang di mall.  Aku berjalan di belakangnya.  Memperhatikan gerak pinggul dan pantatnya yang bergerak ketika dia berjalan.  Sungguh menggoda, pikirku.

“Bud, jalan disamping aku dong,” ujarnya kemudian.

“Ah jangan Nyonya,” jawabku malu.

“Uda cepet, jangan ngebantah,” suaranya agak ketus tapi sambil tersenyum.

 

Aku pun menurutinya.  Mallnya tidak begitu besar.  Lalu tidak lama Nyonya Elena masuk ke sebuah toko pakaian pria.  Dia ngobrol-ngobrol sebentar.  Aku menunggu di dekat pintu toko.

“Bud, sini,” panggilnya sambil melambaikan tangan.

Si pegawai toko, seorang wanita membawakan beberapa pasang pakaian.

“Kamu cobain tuh di tempat nyoba,” Nyonya Elena menunjuk ke pojok toko.

“Buat apa, Nyonya?” aku heran.

“Kamu kan supir aku, masa pakaian kamu lecek begitu bekas Pak Karman,” jawabnya sambil tersenyum.  Pak Karman itu nama tukang kebunnya yang dulu.

“Kamu cobain sepasang-sepasang, nanti kamu keluar sambil pake yang kamu suka,” lanjutnya sambil kemudian mulai ngetik di smartphonenya.

 

Aku masuk ke dalam booth, mencoba semua pakaian yang diberikan karyawan toko tadi.  Akhirnya setelah mencobanya, pilihanku jatuh pada celana panjang hitam dengan kemeja warna biru muda lengan panjang.  Aku keluar membawa sisa pakaian yang tadi aku coba.

Nyonya Elena tidak langsung memalingkan wajahnya dari smartphonenya.  Aku menunggu.  Lumayan bagiku, melihat belahan gaunnya yang memperlihatkan paha kirinya ketika dia sedang duduk.  Begitu selesai mengetik sesuatu, Nyonya Elena baru menatapku.  Terlihat sekali dia menatapku sesaat lebih lama dari semestinya.  Mungkin aku yang ke-geeran, tapi sepertinya dia cukup terpesona oleh penampilanku sekarang.

“Nah kalo pake baju gitu kan, kamu keliatan ganteng,” ucap Nyonya Elena tanpa terlihat malu-malu, seakan-akan itu hal yang biasa baginya.  Aku sedikit kecewa, mungkin aku nya saja yang ke-geeran.

“Bud, yang lainnya cukup ga ukurannya buat kamu?” tanyanya sambil menyimpan smartphonenya di dalam tas.

“Cukup semuanya, bu,” jawabku.

“Ya bagus. Mbak, aku ambil semuanya yah,” sambil Nyonya Elena melangkah ke kasir.

“Nyonya, apa ga kebanyakan bajunya?” tanyaku sambil mengikuti langkahnya.

“Lah masa tiap pergi nyupirin aku, pake bajunya yang ini-ini aja,” katanya sambil tertawa.  Aku hanya garuk-garuk kepala saja.  Ya gimana Nyonya aja, kan Nyonya majikan aku, batinku.

 

Keluar dari toko, Nyonya Elena ngomong lagi

“Kita makan dulu ya Bud,” senyumnya menghiasi bibirnya.

“Lho Nyonya ga jadi ke rumah Mamanya?” tanyaku bingung.

“Itu mah hanya alasanku saja untuk pergi tanpa Bambang dan Sally.  Aku ingin beliin kamu baju.  Aku yakin mereka ga akan setuju dengan rencanaku,” jawabnya sambil berjalan lagi menuju sebuah cafe.

Alangkah baiknya Nyonya Elena, sudah cantik rupawan ternyata hatinya perhatian sekali padaku.  Aku merasa sangat bahagia.  Aku selalu ingin bersamanya terus.

 

Aku duduk di seberangnya Nyonya Elena di sebuah meja bundar di pojok cafe.  Menurutku dia memilih tempat yang paling pojok karena tidak ingin menarik perhatian.  Aku menyimpan kantong belanjaan.  Aku biarkan dia yang memesan makanan untukku.  Apapun pilihan dia, pasti akan kumakan.  Dia meletakkan topi dan kacamata hitamnya di kursi sebelahnya.  Kedua tangannya dimeja.  Payudaranya menekan meja bundar itu sehingga lebih terlihat membusung.  Aku mencoba mengalihkan pandanganku dari dadanya.  Baru kali ini begitu dekat dengannya.  Aroma tubuhnya begitu harum.  Wajah cantiknya terlihat lebih jelas.  Sekali lagi dia menatapku lebih lama dari semestinya.  Atau aku yang ke-geeran lagi.

 

“Gimana, sudah ingat tentang dirimu?” tanyanya sambil menatap mataku.

“Belum Nyonya,” aku sekali lagi berterima kasih atas perhatiannya.

“Lukamu gimana?” tanyanya lagi sambil tangannya bergerak ke belakang kepalanya, simbolik karena luka ku satu lagi di bagian belakang kepala.

“Uda sembuh Nyonya, hanya sakit kepalaku masih suka muncul tiba-tiba,” jelasku.

 

Nyonya Elena mengangguk-angguk.  Tidak lama kemudian, pesanan Nyonya Elena muncul.  Percakapan kami terhenti.  Aku makan sambil sekali-kali mencuri pandang pada wajah Nyonya Elena dan dadanya tentu saja. Aku bahagia meskipun bukan kencan tapi aku menganggap acara makan kami berdua ini adalah kencan pertamaku dengan wanita cantik bernama Elena.

 

Malam itu, aku sulit tidur.  Sakit kepalaku kambuh lagi.  Aku mencoba membayangkan wajah cantik Nyonya  Elena tetap tidak berhasil.   Tiba-tiba aku merasa haus.  Aku berjalan mengitari kolam renang hendak menuju dapur.  Kamar Bi Surti yang terdekat denganku.  Lampu kamarnya sudah mati.  Kamar berikutnya adalah kamar salah satu musuhku. Kamar Bambang.  Lampunya masih menyala.  Aku berjalan dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara.  Aku tidak mau dia tiba-tiba keluar dan menanyaiku hal-hal aneh.  Aku tidak mau ribut dengannya.  Mengingat badannya yang kekar berotot.  Tapi aku yakin bahwa aku bisa mengalahkannya apabila harus terpaksa adu jotos dengannya.  Entah kenapa aku bisa begitu yakin.  Dengan langkah sangat pelan, aku melewati kamar Bambang.  Salah satu tirainya ada yang tidak tertutup dengan penuh.  Ada celah yang terlihat.  Selintas aku melihat ada gerakan.  Gerakan dua orang.  Aku pelan-pelan bersandar pada tembok di sebelah jendela yang tirainya terbuka kecil.  Aku mengintip.  Deg.  Aku melihat Bambang dan Sally sedang telanjang bulat.  Bambang duduk di pinggir ranjang, kedua kakinya membuka.  Sally bersimpuh di depan selangkangannya.  Sedang mengulum penis Bambang.  Dalam posisi berlutut, pinggul Sally terlihat membusung ke belakang.  Kedua payudaranya yang besar tergencet di antara kedua paha Bambang.  Bambang sedang menengadah ke atas, menikmati kuluman dan isapan mulut Sally.  Sally terlihat sangat bernafsu dan liar.  Bibir dan lidahnya, menyapu setiap sisi penis Bambang, seakan-akan itu adalah makanan kesukaannya.  Melihat mereka sedang bermesraan, meskipun mereka tidak menyukaiku, membuat penisku pun ikut menegang.  Aku membetulkan letak posisi penisku sambil tetap mengintip kedua insan yang sedang bermain seks itu.  Kini Sally sedang menjilati buah zakar Bambang, tangan kanannya mengocok-ngocok penis Bambang.  Buah dada Sally yang besar terlihat menggantung begitu menggiurkan.  Penisku berdiri tambah tegak.  Sialan.  Namun anehnya aku tidak beranjak dari situ, ingin terus mengintip.  Mungkin aku tidak akan ketahuan oleh mereka asal aku tidak bersuara keras, tapi sayup-sayup kudengar ada musik mengalun dari dalam kamar.  Mungkin mereka sengaja memutar musik untuk mengurangi suara persetubuhan mereka.  Kalo begitu, mungkin saja jika aku bersuara pun tidak akan didengar oleh mereka.   Tanpa sadar aku menggosok-gosok selangkanganku.  Terasa nikmat juga sambil menikmati tubuh telanjang Sally.  Ketika aku sedang menggosok penisku dari balik celana, terdengar suara pelan, sangat pelan.

 

“Kamu lagi ngapain, Bud?” Nyonya Elena tiba-tiba ada di sebelahku, suaranya hampir berbisik.


  • Partagas likes this

#5 dalijo dalijo

dalijo dalijo

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 16 posts

Posted 11 September 2017 - 08:33 PM

Lanjuttt gan....kentang ni..

#6 Hendrik99

Hendrik99

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 15 posts

Posted 12 September 2017 - 04:36 AM

lanjut suhu...

#7 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 12 September 2017 - 10:32 PM

BODYGUARD CHAPTER FIVE

 

Nyonya Elena berdiri di samping kiriku.  Tirai terbuka di sebelah kananku.  Aku menatap wajahnya yang memperlihatkan kecurigaan.  Tangan kananku menutup selangkanganku dimana penisku berdiri.  Seharusnya aku tidak melirik lagi ke arah tirai yang terbuka itu.  Namun entah kenapa aku melirik sekilas.  Hal ini menarik perhatian Nyonya Elena.  Dengan perlahan-lahan, dia berjinjit mendekati tirai yang terbuka itu.  Aku ingin mencegahnya tapi suaraku tercekat di tenggorokan.

 

Nyonya Elena melongo, bibirnya terbuka tidak terlalu lebar ketika melihat apa yang sedang terjadi di dalam kamar.  Cepat-cepat dia menutup mulutnya dengan tangan kanan.  Melirik aku sekilas sebelum kembali melihat ke balik tirai.  Tangan kirinya memegang dadanya, mungkin dia cukup shock juga melihat Sally dan Bambang sedang bercinta di dalam.  Aku memperhatikannya, celana pendek dari kain sutra dengan daster tanktop warna pink, membuat Nyonya Elena terlihat sangat lembut.  Pandangannya masih terpaku ke balik tirai.  Entah berapa lama waktu berlalu. 

 

Tangan kanannya masih menutupi mulutnya.  Tapi tangan kirinya mulai terlihat gelisah. Bergerak-gerak di sekitar pinggiran dasternya di bagian dada.  Mengelus-elus kulit dadanya yang putih.  Aku pun berusaha menahan birahiku setelah tadi melihat Sally yang sedang mengulum penis Bambang.  Kini melihat wanita cantik di depanku yang terlihat sedang menikmati adegan bercinta di dalam.  Pandanganku tak lepas sedetikpun dari wajah Nyonya Elena.

 

Setelah tampaknya Nyonya Elena berhasil menguasai dirinya, tiba-tiba dia memegang tanganku dan menarikku pelan-pelan masuk ke dalam rumah.  Langkahnya semakin lama semakin cepat.  Aku pun mengikuti derap langkah kakinya.  Dia menarikku ke ruang tamunya.  Lalu dia pun duduk cepat di sofa empuk di ruang tamunya.  Tanganku yang ditariknya membuatku pun ikut duduk di sebelahnya.

Nyonya Elena menatapku.  Seakan-akan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.  Aku pun menatapnya.  Lalu tiba-tiba dia tertawa cekikikan sambil menutup mulut.  Tangan kanannya memegang perutnya.  Entah kenapa aku pun ikut tertawa juga.  Kami tertawa bersama-sama sampai air matanya meleleh sedikit, begitu pula aku.  Setelah puas tertawa, kami pun rebahan di sandaran sofa.  Mencoba mengatur nafas kami.  Kulihat dada Nyonya Elena yang naik turun.  Putingnya tercetak dari balik dasternya. 

 

“Nyonya tau tentang hubungan mereka?” tanyaku agak lirih karena melihat dadanya yang naik turun.

Nyonya Elena menggeleng.  Dia tertawa kecil.

“Oh,” hanya itu yang bisa kuucapkan.  Tanpa aku sadari, lengan kami saling bersentuhan.  Kulit halusnya terasa begitu menghangatkan lenganku.  Penisku berdiri lagi.

“Celana kamu kekecilan ya?” tanyanya sambil tersenyum penuh arti.

Apa! Aku melihat ke arah celanaku.  Penisku membentuk sebuah gundukan di celana pendekku.

“Eeghh, ga..apa?” aku gelagapan menjawabnya.

 

Nyonya Elena tertawa melihat tingkahku.  Aku langsung menggerakkan tangan kiriku menutup selangkanganku.

“Nyantai aja, Bud.  Wajar toh kalo kamu kerangsang setelah melihat mereka bercinta.  Nilai lebihnya meskipun kamu amnesia tapi kamu tahu kalo kamu bukan gay,” lanjutnya sambil tertawa.

Entah seberapa merah wajahku mendengar perkataannya.  Penis sialanku masih berdiri.

 

Nyonya Elena mengubah posisinya, kakinya dilipat di atas sofa.  Kini dia duduk bersila di sebelah kananku.  Tangannya memegang pahaku.

“Badan Sally bagus ya, Bud.  Montok banget,”  Nyonya Elena entah kenapa mengucapkan itu padaku.

“Eghh...anu, Nyonya,” aku jelas bingung bagaimana menjawab kata-kata Nyonya Elena.

“Anu apa?” tampaknya dia sengaja menggodaku.

“Iya montok, Nyonya,” akhirnya aku menjawab juga.

“Bagus mana badannya sama badan aku?” apa sih maksud Nyonya Elena berkata begitu.

Wajahku kembali memerah.  Aku bingung harus menjawab apa.

“Ayo jujur aja,” tangannya sedikit meremas pahaku.  Apakah dia menyadari hal itu?

 

Kutahan tangan kiriku di selangkanganku, menahan penisku agar tidak berdiri lebih tegak.

“Ayo jawab, Bud,” ucapnya manja.  Sambil tangannya menggoyang-goyangkan pahaku.

“Anu Nyonya.  Eggh...” aku melihat Nyonya Elena menatapku dengan pandangan nakalnya, menunggu jawabanku.

“Oh bagusan Sally ya, makanya kamu bingung jawabnya. Kamu merasa ga enak ama aku,” ujarnya kemudian.  Wajahnya sedikit cemberut.

“Bukan..bukan,” aku menggelengkan kepala cepat-cepat.

“Jadi bagusan mana? Ayo jujur Bud,” mimik cemberutnya menghilang.

“Bagusan Nyonya Elena sih, eggh..badannya proporsional,” aku berusaha keras untuk berbicara dengan lancar.

 

Senyuman mulai tersungging di mulutnya.

“Ah yang bener. Kamu sengaja pengen nyenangin aku aja ya?”  Kini dia mencubit pahaku.  Aduh, Nyonya, kamu menyiksaku.  Penisku tidak bisa kutahan lagi, berdiri tegak.

“Bener, Nyonya, aku ga boong.  Aku lebih suka bentuk tubuh Nyonya,”  Apa!!! Kenapa aku bisa bilang begitu.

Nyonya Elena tersenyum senang.  Bibirnya membentuk senyuman yang begitu manis.

“Makasih, Bud.  Aku tidur lagi ya,” Nyonya Elena berdiri.  Aku menghela napas lega.  Kalo lama-lama dia berada di dekatku, aku bisa orgasme.

 

Namun sebelum dia pergi, dengan gerakan sangat cepat.  Dia mengecup pipi kiriku dan lalu berlari pelan menuju kamarnya.  Aku tertegun.  Nyonya Elena mencium pipiku.  Apa maksudnya?  Aku tidak percaya dia melakukan itu.  Aku menyentuh bagian pipiku yang diciumnya.  Aku tabok pipi kananku pelan.  Tidak terasa.  Aku tabok lebih keras.  Sakit.  Ternyata aku tidak bermimpi.  Aku mulai terlihat seperti orang gila.  Senyum-senyum sendiri. Sambil tetap memegang pipi kiriku yang dicium Nyonya Elena, aku berjalan kembali ke kamarku.  Aku lupa tujuan awalku keluar kamar untuk minum.  Tirai yang terbuka di kamar Bambang pun tidak kuhiraukan lagi.  Di dalam kepalaku hanya terngiang-ngiang rasanya dicium oleh Nyonya Elena.  Wanita idamanku.


  • Partagas likes this

#8 gizven1410

gizven1410

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 78 posts

Posted 13 September 2017 - 03:09 AM

Tinggalin jejak dl agh

#9 Amazonhok

Amazonhok

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 56 posts

Posted 13 September 2017 - 07:27 PM

Tegang.. Berakhir romantis... Lanjutannya ditunggu👍

#10 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 14 September 2017 - 12:33 AM

BODYGUARD CHAPTER SIX

 

Malam itu aku sulit tidur, masih teringat akan kecupan Nyonya Elena di pipiku.  Bentuh tubuhnya dan parasnya yang menggoda.  Ditambah kemudian aku teringat dengan persetubuhan Sally dan Bambang.  Udara di kamarku yang biasanya tidak terlalu panas, kini terasa sangat gerah.  Kubuka kaos dan celana pendekku.  Berdirilah dengan tegak tanpa halangan lagi penisku yang menurutku lebih besar dan lebih panjang daripada milik Bambang. Urat-urat penisku pun menyembul, menambah penisku terlihat lebih perkasa.  Aku mulai mengocok penisku sambil membayangkan Nyonya Elena ada di hadapanku. Membayangkannya ada dihadapanku pun, melihat aku sedang masturbasi sudah sangat membuatku horny.  Aku teringat matanya yang melongo melihat Sally dan Bambang sedang bergumul, kini kubayangkan sedang melongo melihat aku sedang mengocok penisku.  Teringat lagi kecupannya di pipiku.

 

“Uuuhhh....,” aku mendesah.  Kocokanku makin cepat.  Pantatku menegang. Pinggulku terangkat tinggi ketika aku memuncratkan spermaku begitu kencang.  Enak sekali rasanya.  Karena aku amnesia, aku tidak tahu kapan terakhir aku mengeluarkan sperma.  Tapi dalam hal mengocok penis, ternyata aku tidak amnesia.  Aku kemudian terlelap karena terasa sangat lelah.

 

Aku terbangun di pagi hari ketika suara pintu kamarku terbuka dan kudengar suara Nyonya Elena memanggilku.

“Bud...”

Aku terbangun. Sedikit agak pusing mungkin karena kurang tidur.

“Ya Nyonya,” jawabku dengan suara serak.  Aku melihat Nyonya Elena memakai kimono putih seperti tiap pagi saat dia ingin berenang.

Aku menggosok mata dan langsung berdiri.  Setelah aku mulai benar-benar tersadar dari tidurku.  Kulihat Nyonya Elena sedang melongo seperti semalam.  Apakah aku masih bermimpi?  Apakah wjah melongo nya terbayang-bayang terus di otakku.  Tapi tampaknya tidak.  Aku sudah terbangun.  Kuperhatikan pandangan mata Nyonya Elena menatap ke bawah, ke arah tubuh bawahku.  Aku mengikuti pandangannya. 

Ya ampun, aku bugil dengan penis berdiri tegak.  Penis pria kan memang tiap pagi selalu ngaceng.  Aku lupa semalam sehabis aku masturbasi aku tidak memakai lagi kaos dan celanaku.  Kini tubuh telanjangku terlihat jelas oleh Nyonya Elena.  Aku bagai kepiting rebus, bukannya cepat-cepat memakai pakaian atau menutupi selangkanganku dengan apapun.  Aku malah diam saja, bingung, kaget dan malu bercampur aduk.  Setelah sekian detik, baru aku menutup selangkanganku dengan tangan.  Tapi  penis besarku dan bulu halus-halus di sekitar selangkanganku tidak bisa tertutup semua.

 

Kulihat wajah Nyonya Elena terlihat jengah dan bercampur malu tapi pandangannya tidak beralih dari selangkanganku.  Matanya sudah tidak terlihat melongo lagi.  Kemudian dia menggelengkan kepala.  Lalu memalingkan pandangannya.

“Ga jadi, Bud,”  suaranya terdengar serak, berbeda ketika dia memanggilku tadi.

Aku cepat-cepat memakai pakaianku ketika Nyonya Elena sudah meninggalkan tempatku.  Betapa bodohnya aku.  Aku tampar pipi kananku.  Telanjang di depan Nyonya Elena.  Bagaimana nanti tanggapannya terhadapku?  Apakah dia akan membenciku?  Membayangkan Nyonya Elena membenciku, membuat aku semakin tidak karuan.

 

Tepat jam 8,  kegiatanku setiap pagi, aku memotong rumput.  Pikiranku semakin tidak karuan karena Nyonya Elena tidak muncul seperti biasanya untuk berenang.  Aku mulai berpikir yang aneh-aneh.  Pasti gara-gara dia melihatku telanjang tadi.  Sakit kepalaku muncul lagi.  Aku berjongkok dan memegang kedua sisi kepalaku.  Aku mencoba mengatur napasku.  Pikirkan sesuatu yang menyenangkan, Bud.  Kecupan semalam aja.  Memikirkan kecupan Nyonya Elena ampuh, membuat sakit kepalaku sedikit berkurang.  Rasa ingin muntah sedikit berkurang juga.

 

“Bud, siapin mobil. Nyonya Elena mau pergi ke kantor,” teriak Bi Surti.  Dengan kepala yang sedikit masih berdenyut tidak enak, aku pergi menyiapkan mobil.  Tidak sampai 15 menit kemudian, aku dan  Bambang duduk di depan.  Nyonya Elena dan Sally duduk di belakang.  Kami sudah di perjalanan menuju kantor Nyonya Elena.  Kantor Nyonya Elena sebenarnya adalah kantor almarhum suaminya, sebuah rumah produksi.  Tidak rutin Nyonya Elena datang ke kantornya, kadang-kadang saja.  Sampai detik ini, Nyonya Elena belum mengatakan apapun padaku.  Aku pun berusaha menahan diri untuk tidak berpikir yang aneh-aneh lagi.  Aku melirik sekilas Bambang di sampingku.  Mendengar suara Sally yang lagi ngobrol dengan Nyonya Elena.  Mengingatkan aku akan kejadian semalam.  Darahku berdesir.  Yang membuat aku kaget adalah ketika aku melihat spion di atas kiriku.  Ternyata meskipun sedang mengobrol, ternyata Nyonya Elena sedang memperhatikan bayanganku yang terpantul di kaca spion itu.  Pandangan kami saling bertemu lewat kaca spion itu.  Aku tertegun sesaat.  Sebelum aku kembali berkonsentrasi menyetir mobil. Jantungku deg-degan.  Belum pernah kulihat pandangan Nyonya Elena seperti itu padaku.  Aku berdehem kecil berusaha menormalkan denyut jantungku.  Tidak berhasil.  Aku gatal ingin tahu apakah Nyonya Elena masih menatapku lewat kaca spion.  Sekali lagi, pandangan kami bertemu.  Sepersekian detik lebih lama dari yang pertama.  Setelah itu aku kembali berkonsentrasi, tepatnya berusaha fokus menyetir.  Kenapa dia melihatku seperti itu?  Tapi bukan pandangan benci atau tidak suka yang kutangkap dari tatapannya.  Aku tidak berani menatap kaca spion lagi.  Aku takut bertatapan lagi dengannya.

 

Dalam perjalanan pulang, beberapa kali aku melihat kaca spion tapi untungnya kami tidak pernah bertatapan seperti tadi.  Aku sedikit lega.  Jantungku aman-aman saja.  Mungkin kalo ada kesempatan, aku ingin minta maaf secara pribadi dengan Nyonya Elena tentang kejadian tadi pagi.  Ya aku harus minta maaf.  Ketika sampai di rumah dan turun dari mobil, Nyonya Elena masih belum mengatakan apapun padaku.  Kumasukkan mobil ke garasi.  Ketika aku hendak menutup garasi, aku melihat ada sesuatu di sudut pekarangan dekat rerumputan.  Seperti sebuah amplop.  Tutupnya tidak disegel.  Aku membukanya, ada selembar kertas.   Aku penasaran apa isinya.  Aku kaget membaca isinya.  Huruf-huruf yang seperti guntingan dari koran atau majalah, bertuliskan “ELENA IS A BITCH. AND I WANT HER DIE”

 

Aku segera membuka pintu gerbang, aku berlari melihat sekeliling. Tidak ada siapapun.  Meskipun surat kaleng ini bukan untukku, tapi tertuju buat Nyonya Elena.  Aku merasa sangat cemas.  Apa aku harus memberikan surat ini pada Nyonya Elena?  Apakah hal itu malah akan membuat dia menjadi khawatir dan menjadi tidak tenang?  Aku bingung, apa yang harus kulakukan.  Aku melangkah menuju pintu depan rumah Nyonya Elena yang terbuka.  Aku berdiri ragu di depan pintu, berusaha menimbang-nimbang apa yang harus kulakukan tentang surat kaleng ini.

Kemudian Sally muncul.

“Apa itu Bud di tangan kamu?” tanyanya.

“Egh..ini...,” aku masih ragu.

 

Sally mendekat dan merebutnya dengan tiba-tiba.  Dia membacanya dan wajahnya berubah.

“Darimana kamu dapet ini?” tanyanya, lebih ke arah menuduh.

“Ada di rerumputan, Nona,” jelasku.

“Kamu liat sesuatu yang mencurigakan?” tanyanya sedikit curiga padaku.

“Waktu aku lari ke luar, ga ada siapa-siapa, Nona.  Mungkin sudah ada disitu waktu kita pergi, Nona” jelasku lagi.

Sally langsung berjalan cepat ke dalam.  Aku mengikutinya.  Sally memberikan surat kaleng itu pada Elena.  Wajah Elena langsung pucat.  Bambang berdiri di belakang Elena.  Bambang mengambil surat kaleng itu dan membolak-baliknya. Seakan-akan dengan melakukan itu, dia bisa tau siapa pengirim surat kaleng itu.

 

Nyonya Elena menatapku dengan wajah cemasnya.  Lalu menatap Sally dan Bambang yang kini berdiri di depannya.

“Mungkin ini orang yang sama, Nyonya,” kata Bambang.  Orang yang sama dengan apa? Pikirku yang berdiri agak jauh dari mereka.

“Mungkin kamu yang nulis ya, Bud?” tanya Sally menuduhku.

Aku menggoyang-goyangkan tanganku dan menggelengkan kepala.

“Bukan aku, aku nemu di rerumputan,” suaraku agak keras.  Aku menatap Nyonya Elena, aku khawatir melihat wajahnya yang pucat.  Sally yang a bitch, nuduh aku sembarangan.

“Ini bukan becandaan, Nyonya.  Ini surat kaleng kedua, dengan jenis yang sama. Menggunakan guntingan huruf dari koran atau majalah,” kata Bambang sambil meletakkan surat itu di meja makan.

Surat kaleng kedua?  Benar seperti kata Bambang, batinku.  Mungkin ini bukan sebuah candaan tapi merupakan hal yang serius.  Seseorang ingin membunuh Nyonya Elena.



#11 gizven1410

gizven1410

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 78 posts

Posted 14 September 2017 - 02:47 AM

Lanjut

#12 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 14 September 2017 - 03:09 PM

BODYGUARD CHAPTER SEVEN

 

Malam itu setelah menerima surat kaleng yang kedua, aku lihat Nyonya Elena duduk termenung di kursi panjang di pinggir kolam. Tentu saja tidak memakai baju renang yang seksi.  Malam itu dia memakai piyama tidur, celana panjang.  Aku menghampirinya.  Apakah ini saat yang tepat untuk minta maaf soal ketelanjanganku tadi pagi?  Atau aku hanya ingin menghiburnya? Melindunginya dari apapun, dari siapapun.

 

“Nyonya tidak apa-apa?” itulah yang aku tanyakan ketika aku sudah duduk di lantai dekat Nyonya Elena.

Nyonya Elena menatapku.

“Bagaimana mungkin aku tidak apa-apa, Bud. Itu surat kaleng kedua yang aku terima dan isinya sangat mengancam,” Nyonya Elena menghela napas.  Aku pun ikut menghela napas.

“Apakah itu mungkin dari fansnya Nyonya?” tanyaku kemudian.

Nyonya Elena mengangkat bahu, dia menatap air di kolam renang.

“Bisa saja itu dari istri pertama suamiku,” jawabnya kemudian yang membuatku sangat terkejut.  Nyonya Elena istri muda, atau mungkin istri simpanan?

“Oh, Pak Santoso sudah beristri sebelumnya.  Kok Nyonya mau nikah sama dia?” tanyaku, sungguh sangat lancang.  Mungkin Nyonya Elena akan marah dengan pertanyaanku.

 

Ternyata tidak. Mungkin dia lebih khawatir dengan isi surat kaleng itu.  Tapi dia hanya mengangkat bahu lagi.  Aku merasa tidak enak untuk bertanya lebih jauh.

“Kamu ngapain duduk di lantai? Duduk disini disebelah aku,” tangannya menepuk tempat kosong di kursi.

 

Aku bangkit berdiri dan duduk di sebelahnya.  Aroma tubuhnya langsung tercium.  Aku ingat kejadian tadi pagi, lalu kejadian kami saling bertatapan.  Ingin kurengkuh tubuhnya dan berkata, jangan khawatir Nyonya, aku akan melindungimu dari apapun.  Ingin aku memegang kedua bahunya agar dia yakin.  Tanganku sudah mulai terangkat untuk melakukannya ketika tiba-tiba Nyonya Elena bersandar di bahu kiriku.

“Apakah aku orang yang pantas mati, Bud?”  aku tidak langsung menjawab.  Aku sedang meredam gejolak detak jantungku.  Wangi rambutnya tercium begitu dekat denganku.

“Tidak Nyonya. Nyonya orang paling baik yang pernah aku temui,” jawabku kemudian.  Hangat tubuh sampingnya yang bersandar di badanku membuat aku membayangkan yang tidak-tidak.  Keparat kau, Bud. Orang lagi cemas, kamu malah mikir yang aneh-aneh.

“Kamu mau melindungiku kalo ada seseorang yang mencoba membunuh aku?” dia mengangkat kepalanya, menatap dalam-dalam mataku.  Aku pun menatapnya balik.  Kejadian di mobil terulang kembali tapi kini tanpa media kaca spion.

 

Padahal ada Bambang, tapi kenapa dia minta tolong padaku?  Begitu pikirku.

“Ya, Nyonya, aku akan selalu melindungimu,” aku menjawab dengan yakin.

Nyonya Elena tersenyum sangat lembut.  Mata kami masih saling menatap. Tanpa kusadari jarak wajah kami semakin dekat.  Aku menatap bibirnya bergantian dengan menatap matanya.  Nyonya Elena pun melakukan hal yang sama.  Lalu bibirnya mencium bibirku.  Hangat bibirnya membuat darahku panas.  Bibir kami saling merekuh.  Tidak ada ciuman panas, tidak ada permainan lidah, tidak ada air liur yang terlibat.  Hanya Bibirku dan bibirnya bertemu.  Ingin aku memeluknya erat.  Tapi tidak kulakukan.  Kunikmati saja momen ini.  Kunikmati bibir lembutnya yang bersentuhan dengan bibirku.

 

“Terima kasih, Bud,” sebenarnya aku ingin lebih lama menikmati ciumannya.  Nyonya Elena bangkit, sekali lagi tersenyum lembut padaku lalu meninggalkan aku tetap duduk di pinggir kolam renang.  Aku merasakan bibirku masih menempel dengan bibirnya.  Ketika aku memalingkan wajah ke belakang, Nyonya Elena sudah tidak kelihatan.  Kusentuh bibirku dengan jari telunjukku.  Aku akan mengorbankan apapun demi melindungimu, Nyonya Elena.

 

Keesokan harinya setelah berdebat dengan Bambang dan Sally, Nyonya Elena masih merasa cemas dengan surat kaleng itu.  Dia memutuskan untuk menginap di rumah mamanya.  Dan dia tidak mau ditemani siapapun. Inilah yang menjadi bahan perdebatan meskipun akhirnya semua tidak bisa memaksa Nyonya Elena untuk ditemani.  Aku tidak ikut berdebat.  Aku hanya diam saja.  Begitu hanya aku dan dia berdua di mobil.  Baru aku bicara

 

“Apakah sebaiknya ada yang menemani Nyonya?” tanyaku sambil melihatnya dari kaca spion.

“Ga usah, Bud. Aku ingin menyendiri.  Kalo ada salah satu dari kalian, aku malah akan terus ingat surat kaleng itu,” jelasnya.

“Aku bisa tidur di mobil,” aku membalikkan wajah sebentar menatapnya lalu kembali melihat ke arah jalan.

Nyonya Elena tertawa.

“Ga usah, Bud.  Malah merepotkan kamu entar,” tetap sambil tertawa kecil.

“Kan aku sudah janji akan melindungi Nyonya semalam,”  tanpa sadar aku menyentuh bibirku.

“Bud, itu rahasia kita yah.  Jangan ada orang yang tau kejadian semalam,” ujar Nyonya Elena kemudian.

“Iya Nyonya.” Dalam hati aku berharap kapan aku bisa menciumnya lagi.

“Kamu sudah ingat tentang dirimu?” tiba-tiba dia bertanya seperti itu.

“Belum, Nyonya,” jawabku.

“Tapi ciuman semalam ga lupa kan?” Nyonya Elena tertawa lagi.  Aku pun tertawa dengan wajah sedikit panas.

“Kenapa Nyonya menciumku semalam?” aku memberanikan diri bertanya.

“Kenapa yah?  Mungkin karena suasana, Bud.  Atau karena aku merasa aku bisa mempercayai kamu. Entah kenapa,” jawabannya tidak memuaskan aku tapi aku tidak bertanya lebih jauh.  Apakah karena Nyonya menyukaiku?  Itu hanya kukatakan dalam hati saja.  Dasar tidak tahu diri, memang siapa aku, pantas dicintai oleh seorang wanita cantik, elegan seperti Nyonya Elena.  Aku tersenyum pedih sesaat. 

 

Malam itu terasa sepi tanpa Nyonya Elena.  Nyonya Elena memintaku untuk menjemputnya besok sore.  Aku duduk di kursi panjang di pinggir kolam.  Mengenang kejadian indah malam sebelumnya, ketika tiba-tiba ada teriakan perempuan dari kamar  Bambang.  Aku segera bangkit dan berlari menuju kamar Bambang.  Terdengar seperti dua orang sedang ribut begitu aku mendekat.  Bi Surti tampaknya tidur dengan lelap. 

“Jadi itu foto siapa yang di hape loe?” terdengar suara marah Bambang.

“Bukan urusan loe!” Sally tidak kalah garangnya di tengah-tengah tangisannya.

Terdengar suara tamparan. Sally berteriak lagi.

“Beraninya loe ama perempuan?” teriak Sally.  Aku tidak tahan mendengar teriakan perempuan.  Aku mencoba membuka pintu, tidak terkunci.  Ketika aku membuka pintu, kulihat Sally lagi bersimpuh di lantai, memegang pipi kirinya.  Tali tanktop sebelah kanannya melorot memperlihatkan belahan dada sebelah kanan.  Bawahnya hanya memakai celana dalam warna hitam.  Mereka kaget melihat aku ada di depan pintu mereka.

“Ayo ngaku!” teriak Bambang. Tanpa sempat aku cegah, posisi Bambang yang sedang berdiri di depan Sally yang bersimpuh.  Kaki Bambang menendang tulang kering kanan Sally.  Sally menjerit.  Air matanya mulai keluar.

 

“Hei bang.  Jangan kasar sama perempuan,” sebenarnya bukan urusanku tapi aku tidak tega melihat seorang perempuan diperlakukan seperti itu.

“Bukan urusan loe, Bud!” telunjuk Bambang diarahkan padaku.  Sally menatap aku.  Seakan-akan minta perlindungan.  Teringat Sally yang sering begitu ketus padaku, sebenarnya aku bisa saja tidak ikut pertikaian mereka.  Tapi tatapan dan air mata Sally membuat aku tidak tega.  Aku mendekati mereka.

“Tolong bang, jangan ribut di rumah Nyonya Elena,” ujarku kemudian.

“Gua uda bilang, jangan ikut campur,” Bambang yang memang sudah emosi, tampaknya semakin emosi melihat aku ikut campur.  Dia ingin menampar pipi Sally dengan tangan kirinya.  Aku dengan sigap bergerak mendekat dan menahan tangan kirinya.

“Tolong bang, jangan begitu,” aku masih bisa berkata dengan normal tanpa emosi.

 

Bambang menatapku tajam.  Tampaknya kini dia ingin melampiaskan kemarahannya padaku.  Aku melihat sekeliling.  Kulihat pisaunya ada di pinggir meja dekat ranjang.  Aman. Jauh dari jangkauan.  Desir darahku bergerak cepat.  Aku merasa adrenalin dalam tubuhku terpompa.  Menajamkan inderaku.  Makanya ketika dia berusaha melepas tangan kirinya yang tertahan oleh tangan kananku.  Bambang menggunakan tangan kanannya ingin menghantam wajahku.  Aku mengelak mundur, melepaskan peganganku di tangan kirinya.  Lalu dengan menekuk jari-jari tanganku sehingga buku-buku jariku meruncing dan kuhantam jakun Bambang dengan keras.  Bambang terbatuk-batuk, seakan-akan sulit bernafas.  Dia memegangi lehernya.  Segera aku menggerakkan kaki kiriku, menendang bagian belakang lututnya sehingga posisi berdirinya lemah.  Ketika dia hampir jatuh, aku segera bergerak ke belakang badannya, mendorongnya jatuh ke lantai. Menikung tangan kirinya kebelakang.  Lutut kiriku menahan lehernya.  Wajah merah Bambang menghadap Sally yang kaget dengan apa yang baru saja aku lakukan.  Wajah meringisnya dan air mata Sally tidak bisa menutup rasa kagetnya.

 

“Minta maaf ga sama Nona Sally?” Aku menekan lehernya lebih kuat dengan lututku.  Bambang seperti berontak, tidak mau melakukan hal itu.  Aku memutar pergelangan tangan kirinya dengan tanganku.  Bambang menjerit kesakitan.

“Minta maaf sekarang!” perintahku.

“Oke..oke!” tidak ada pilihan buat Bambang.

“Gua minta maaf, Sal,” ditengah ringisannya.  Setelah Bambang minta maaf, baru aku melepaskan pergelangan tangannya dan lututku dari lehernya.  Aku berdiri. 

 

Dengan susah payah dan wajah merah padam, Bambang berdiri.  Melihat aku dan Sally yang masih bersimpuh di lantai bergantian.  Tatapannya penuh dendam.  Aku pun tidak kalah tajam menatapnya.  Sepertinya dia masih belum puas.  Jakunnya pasti masih berdenyut karena menerima pukulanku tadi.  Mungkin dia sedang menimbang-nimbang sesuatu sebelum akhirnya dia pergi keluar tanpa berkata apapun pada kami berdua.

Sally menghela napas lega.  Sedangkan aku seperti orang lain yang berbeda.  Semangatku seperti berada pada puncaknya karena adrenalin.  Aku merasa sangat berenergi.  Aku melihat Sally bersandar pada pinggir ranjang.  Memegang tulang keringnya yang tadi ditendang Bambang.  Kedua pipi Sally merah bekas tertampar Bambang.  Sally tidak sadar pakaiannya begitu terbuka.  Bi Surti masih tidak terbangun setelah keributan tadi.

 

“kakinya masih sakit?” tanyaku mendekat.

“Makasih Bud.  Aku ga nyangka kamu bisa mengalahkan bajiangan itu. Padahal badannya kan lebih besar dari kamu.”  Kini pandangan Sally padaku berbeda.

“Nona bisa berdiri?” tanyaku lagi.  Sally berusaha berdiri, menahan sakit pada tulang keringnya.  Wajahnya meringis.  Ketika setengah berdiri, tampaknya dia tidak kuat lagi. Hendak jatuh tapi aku dengan sigap memegang lengannya.  Mengangkat tubuhnya biar bisa berdiri.

“Sakit, Bud.  Kayaknya aku ga bisa jalan ke kamarku deh,”  Sally menatapku.  Aku tidak menyadari tubuhnya yang begitu dekat denganku.

“Ya uda sini aku gendong,” akhirnya aku berkata padanya.  Sambil mengangkat kedua kakinya dengan tangan kiriku dan menahan punggungnya dengan tangan kananku.  Mengangkat tubuhnya.  Otomatis kedua tangan Sally merengkuh leherku untuk menahan bobot tubuhnya.

 

Aku seperti terbiasa melakukan ini. Tubuh Sally tidak terasa berat.  Wajah Sally begitu dekat dengan wajahku.  Hembusan nafasnya mengenai pipiku.  Sally masih menatapku dengan pandangan yang berbeda.

Ketika sampai di kamar Sally, aku membaringkannya di ranjang.  Tali tanktopnya kini dua-duanya melorot, memperlihatkan belahan payudara bagian atas Sally yang bulat membusung.  Pahanya jelas terlihat karena dia hanya memakai celana dalam.

“Non, istirahat aja ya.  Jangan khawatir aku akan menjaga disini siapa tau si Bambang itu kembali lagi,”  aku mengambil sebuah kursi yang ada sandarannya.  Menggesernya dekat ranjang Sally dan duduk disana.

 

Sally menatapku dengan rasa terima kasih.  Sally tidur menyamping, matanya menatapku.  Aku pun menatapnya seakan-akan memberitahu untuk jangan khawatir.  Aku akan ada disini sepanjang malam ini.  Sampai akhirnya Sally pun tertidur.  Setelah dia tertidur, aku baru bisa menghembuskan nafas lega.  Adrenalinku tampaknya sudah normal.  Aku tidak merasa bersemangat lagi.  Dan tanpa aku sadari ternyata aku pun tertidur.



#13 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 15 September 2017 - 12:03 AM

BODYGUARD CHAPTER EIGHT

 

Aku terjaga ketika mendengar bunyi besi beradu.  Aku langsung berdiri, bersiap-siap.  Melihat sekeliling.  Tidak ada siapapun.  Terdengar seperti bunyi kompor dihidupkan.  Aku membuka pintu perlahan.  Ternyata Bi Surti lagi masak di dapur.  Aku menutup pintu lagi.  Aku melihat ke arah tempat tidur.  Sally masih tertidur.  Hanya kini tanktopnya sudah tidak karuan.  Payudara sebelah kanannya terbuka.  Memperlihatkan puting susunya yang coklat.  Payudaranya begitu besar dan bulat.  Aku meneguk ludah sesaat.  Aku harus bisa mengendalikan diri.  Sally baru saja mengalami pengalaman buruk.

 

Aku membuka sebuah selimut di bawah bantal Sally yang tidak ditiduri.  Kututupi tubuhnya dengan selimut.  Aku duduk kembali di kursi.  Kuperhatikan wajah Sally yang sedang tidur nyenyak.  Cantik juga sebenarnya hanya tampangnya lebih galak dari Nyonya Elena.  Tapi hatiku sudah terpincut oleh Nyonya Elena.  Sulit untuk melirik wanita lain.  Mengingat kejadian semalam, seperti keyakinan dalam diriku dulu, bahwa aku yakin aku bisa mengalahkan Bambang.  Dan melihat aksiku semalam, aku juga bingung kenapa aku bisa melakukan gerakan-gerakan seperti itu.  Sebenarnya aku ini siapa?  Kenapa aku bisa berkelahi seperti itu, begitu mudahnya aku mengalahkan Bambang.  Aku melirik jam.  Sudah hampir pukul 7 pagi.  Aku beranjak dari kursi, aku menuju dapur.  Aku minta tolong Bi Surti untuk memasak makan pagi untuk Sally. 

Aku tidak sabar menunggu sore, menjemput Nyonya Elena kembali ke rumah.  Baru tidak ketemu sehari,aku sudah kangen dengannya.  Ciumannya masih menempel erat dalam benakku.  Tidak lama kemudian, Sally terbangun.  Membuka selimutnya, agak kaget mungkin melihat kondisi pakaiannya.  Anehnya dia seperti tidak melakukan sesuatu tentang hal itu.  Aku tersenyum padanya.  Berbeda dari sebelumnya, Sally pun tersenyum manis padaku.  Sangat manis.  Aku belum pernah melihat dia secantik ini.

 

“Gimana Nona Sally, sudah merasa lebih baik?” tanyaku mendekati pinggir ranjang.

“Kok masih panggil Nona sih, panggil aja Sally biar lebih akrab, Bud,” jawabnya sambil tersenyum manis lagi. “Ayo coba panggil lagi, jangan pake Nona.”

“Baiklah, Non...baiklah Sally,” aku menuruti permintaannya.

 

Dia tersenyum senang.  Tidak lama kemudian Bi Surti mengetuk pintu, nganterin nasi goreng buat Sally.

“Hmmm aku lapar banget. Bi Surti tau aja kalo aku butuh makanan,”  Sally membuka selimutnya.  Kondisi pakaiannya masih tetap sama.  Payudaranya kanannya yang montok terlihat. Bagian bawah memakai celana dalam hitam.  Aku berusaha mengalihkan pandanganku dari tubuhnya.

“Aku keluar dulu ya, Non..eh Sally,” ucapku sambil berdiri.

“Jangan Bud.  Aku masih takut tentang kejadian kemaren.  Bagaimana kalo bajingan itu masuk ke kamar aku?” tanyanya sambil meraih tangan kananku.

“Aku berjaga semalaman disini, Sal.  Ga mungkin Bambang kembali lagi ke sini,” jawabku.

“Kamu berjaga semalaman disini untukku, Bud,” wajahnya memperlihatkan rasa terharu atas apa yang telah kulakukan. “Dan kamu tidak berbuat apapun padaku, padahal pakaianku seperti ini?”

“Sudah tugasku Sally sebagai satu-satunya laki-laki dirumah ini,” aku tersenyum, kembali mataku melirik payudaranya yang terbuka.

“Aduh kamu bener-bener seorang gentleman, Bud,”  Sally memelukku.  Tentu saja payudaranya yag terbuka menekan dadaku.  Begitu kenyal.  Aku berusaha penisku agar tidak ereksi.

“Ah biasa aja, Sal,” aku berusaha melepaskan pelukannya.  Tapi Sally malah memelukku erat-erat.  Membuat payudaranya semakin menempel hangat pada dadaku.  Dan aku semakin berusaha keras memikirkan hal lain selain payudaranya.

“Makan dulu Sal, mumpung masih hangat, biar kamu lebih segar,” setelah berkata begitu aku sekali lagi mencoba melepaskan pelukannya, kali ini Sally  menurut.  Dia duduk di pinggir ranjang.  Mulai makan.

 

“Tapi kamu jangan pergi , Bud.  Temenin aku disini ya, please,” mohonnya dengan wajah yang terus terang, terlihat sensual di mataku.  Sialan. 

“Sal, boleh benerin ga tali tanktop kamu,” akhirnya aku memintanya karena aku tidak tahan untuk tidak meliriknya.  Aku yakin penisku sudah setengah ereksi.

“Ah kamu ga suka payudaraku ya?” dia meletakkan piringnya di ranjang.  Tangan kanannya malah menggoyang-goyangkan payudaranya yang montok.  Apa-apaan ini!

“Payudara aku jelek ya?” wajahnya terlihat memelas. Ada apa sih dengan wanita?  Kemaren Nyonya Elena yang mengeluh soal tubuhnya, apakah lebih bagus dari Sally atau tidak. 

“Bagusan payudara Elena ya, Bud?” tanyanya lagi sambil meremas payudara kanannya.  What!!! Apa harus kujawab pertanyaannya.  Pandanganku tidak lepas dari payudaranya yang terlihat lebih membusung karena diremas-remas.

“Ayo Bud jawab.  Lebih bagus punya Elena ya?” tanyanya lagi sambil memelas.

“Bagusan punya Non..bagusan punya Sally,” brengsek, penisku ngaceng.

“ah kamu hanya nyenengin aku aja ya,” meskipun begitu Sally terlihat senang.  “Ya uda kalo kamu suka kamu boleh liat yang satunya lagi.”  Sally langsung melorotkan tali tanktopnya yang satu lagi.  Kini kedua payudaranya terpampang jelas di depanku. 

 

“Sal, kenapa diturunin?” tanyaku salah tingkah dan mukaku memerah.

“Kan kamu suka, Bud.  Aku ingin menyenangkan kamu sebagai ucapan rasa terima kasih aku,” Sally tersenyum manis.  Dia melanjutkan makannya.  Kedua payudaranya tetap dibiarkan terbuka.  Jelas aku bingung harus ngomong apa lagi.  Pemandangan yang aneh, seorang wanita yang menarik, makan nasi goreng hanya dengan memakai celana dalam dan tank top nya diturunkan sehingga buah dadanya yang montok terlihat.  Dan aku ada di ruangan yang sama, berusaha untuk tidak melirik ke pemandangan yang menggoda di depan mata.  Ackward situation.  Eh aku kok bisa bahasa Inggris ya.  Ackward termasuk kata-kata yang tidak umum.  Aku kini duduk melipat kaki, berusaha menyembunyikan penisku yang tegang.

 

Sally makan sambil beberapa kali melirikku.  Keliatannya dia seneng melihat tingkahku yang kaku di hadapannya.  Siapa yang bakalan tenang, melihat kedua payudara montok itu membusung topless.  Aku pria normal sejauh yang kutahu.  Tampaknya Sally sudah melupakan kejadian semalam.  Bagus juga sih.  Repot juga kalo dia masih shock.

“Sal, kenapa kemaren kamu bisa ribut dengan Bambang?” aku penasaran juga.

Wajah Sally sedikit berubah.

“Dia liat foto aku sama cowok di handphone aku. Dia cemburu, Bud.  Langsung naik pitam.” Jawab Sally.

“Aku tidak menyangka perangai aslinya seperti itu.  Ketika emosi, dia maen kekerasan.”  Sally terlihat geram sekarang.

“Untung ada kamu, Bud,”  nasi gorengnya tinggal tersisa sedikit. Dia meletakkan piringnya di ranjang.  Berdiri dan mendekatiku.  Payudaranya terlihat semakin dekat dan terlihat semakin bulat saja.  Tanpa basa basi, Sally langsung menaikkan kaki kanannya melewati pahaku dan kini dia duduk di pahaku dengan kedua kakinya disamping kedua kakiku.

 

Aku menelan ludah.  Tidak berani bernafas. Wajahku kaget.

Payudaranya menempel lagi di dekat dadaku.  Selangkangannya menekan penisku.  Sally tersenyum nakal.  Mungkin dia tahu aku ternyata ereksi.

“Jangan malu-malu, Bud,” tangan Sally mengusap rambut belakangku.

“Eh Sal...jangan ...” aku terbata-bata.

Sally menggoyang-goyangkan pinggulnya, seakan-akan sedang mengocok penisku dengan selangkangannya.

“Jangan apa, sayang?” suaranya dilirihkan sengaja menggodaku. Sally mendekatkan payudaranya ke dadaku.  Pinggulnya masih bergerak maju mundur.  Dia kan hanya pakai celana dalam.  Jelas sedikit sekali bahan kain yang merentangi penisku dan vaginanya.  Sialan, penisku tidak bisa diajak kompromi. Berdiri semakin tegang karena gerakan pinggul Sally.

“Jangan apa, sayang?” tanyanya sekali lagi, kini dia berbisik di telingaku.  Aku mendesah.  Sally tertawa kecil.  Dia tahu aku sudah terangsang olehnya.

“Aku hanya ingin berterima kasih padamu, Bud,” dia menggigit daun telingaku.  Aku mendesah lagi.  Ayo Bud, lakukan sesuatu.  Kini bibir Sally sudah di pipiku. Mengecupi pipiku.  Wake up, Bud!!!  Namun aku masih terpaku, tidak berbuat sesuatu. Hanya mulutku yang bergumam tidak jelas.  Selangkangan Sally makin menekan penisku.  Atau sebenarnya penisku yang semakin tegang.

 

“Kamu mau aku buka celana dalamku, Bud?” nafas Sally mulai memburu.

“Aku...aku...” aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku.

Sally tersenyum manja.

“Aku suka cowo pemalu seperti kamu, Bud,”  Sally berdiri dan mundur dua langkah. Sambil menatapku penuh gairah, tangannya mulai memegang pinggiran celana dalamnya dan menurunkannya perlahan-lahan.  Mulai terlihat bulu halus selangkangannya.  Turun sedikit lagi.

“Bud, ini ada telepon dari Nyonya Elena!” teriak Bi Surti dari luar.



#14 gizven1410

gizven1410

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 78 posts

Posted 15 September 2017 - 04:38 PM

Update lagi dong suhu...

#15 Ikiko

Ikiko

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 57 posts

Posted 15 September 2017 - 06:17 PM

Meninggalkan jejak
  • Loecash likes this

#16 Rik354

Rik354

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 11 posts

Posted 16 September 2017 - 04:10 AM

Lanjut

#17 Bangjoehan

Bangjoehan

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 235 posts

Posted 16 September 2017 - 05:54 PM

Lanjutt brooo...



#18 master7

master7

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 13 posts

Posted 16 September 2017 - 08:13 PM

Lanjutkan suhu

#19 celekbuta

celekbuta

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 9 posts

Posted 16 September 2017 - 10:09 PM

Dah lama nunggu kelanjutanya hu...

#20 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 17 September 2017 - 10:50 PM

BODYGUARD CHAPTER NINE

 

Untung Nyonya Elena menelpon, hampir saja aku jatuh ke tangan Sally.  Ternyata Nyonya Elena minta dijemput sekarang, tidak jadi nanti sore.  Namun Sally memaksa untuk ikut, alasannya dia takut Bambang akan kembali.  Aku memeriksa kamar Bambang, banyak barang yang ditinggalkannya seperti pisau besar yang dulu pernah dia pakai padaku.  Tidak tampak tanda-tanda dia kembali ke kamarnya.  Aku mengatakan hal itu pada Sally tapi Sally tetap bersikeras ingin ikut.  Aku tidak bisa mencegahnya.

Kali ini, Sally duduk di depan, disamping kemudi.  Mengenakan rok mini warna hitam, sangat pendek.  Kalo dia membungkuk, orang bisa melihat celana dalamnya.  Atasnya memakai kaos hitam dengan belahan yang rendah.  Mengganggu konsentrasi orang yang lagi nyetir, maksudnya aku.  Dan memang mungkin itu tujuannya.  Waktu untuk sampai ke rumah mamanya Nyonya Elena kira-kira 30 menit kalo kondisi jalan tidak macet.

 

Beberapa kali tangan kanan Sally sengaja memegang tangan kiriku yang sedang mengganti gigi mobil.  Ketika situasi memungkinkan, Sally mengarahkan tanganku ke arah payudaranya kanannya.  Membimbing tanganku untuk meremasnya.  Delikan mataku padanya tidak menghentikan aksinya.

“Nona Sally!” sempat aku meninggikan suaraku.

Sally hanya tertawa.

“Ini hukuman buat kamu, Bud karena manggil aku pake Nona lagi.  Kan aku sudah bilang panggil Sally aja,” jawabnya sambil menurunkan belahan kaosnya sehingga payudara kanannya yang montok terekspos.  Aku panik

“Sally, kita kan lagi di jalan, nanti dilihat orang gimana?” tanyaku langsung melihat sekeliling luar mobil.  Saat itu kami sedang berhenti di lampu merah.

“Jangan khawatir Bud.  Kaca mobil ini memang dirancang untuk tidak bisa dilihat dari luar,”  kembali Sally membimbing tanganku untuk meremas payudaranya yang kini tidak tertutup.  Apa daya, penisku bereaksi.  Sally tentu saja gembira melihat tonjolan di celanaku.  Gila nih cewek, makiku.

 

Setelah aku mengganti gigi lagi, Sally memegang jari telunjukku, dimasukkan ke mulutnya dan dihisapnya dalam-dalam.  Aku merasa geli nikmat.  Penisku lebih tegang lagi.  Bukan hanya itu, kini jari telunjukku yang basah dimainkannya di puting susunya yang mengeras.  Ditambah Sally pun mendesah keenakan.  Gila! Penisku semakin keras. 

 

Waktu baru berjalan sepuluh menit.  Masih lama nyampai di rumah Mamanya Nyonya Elena.  Penderitaanku, ya penderitaanku menahan birahi karena tingkah laku Sally.  Menahan birahi jelas membuat aku harus lebih konsentrasi menyetir mobil dan memperhatikan jalan.  Hal yang sangat sulit dilakukan dalam kondisiku sekarang.  Setelah puas membimbing tanganku bermain dengan payudara dan putingnya.  Kini tanganku diarahkan ke pahanya yang mulus.  Mulus banget pahanya yang berisi itu.  Penisku tampaknya sudah tegang maksimal.  Berdenyut-denyut, terasa sesak dalam celanaku. 

 

Lama-lama tanganku dibawa naik ke paha atasnya.  Lalu ditarik lebih dalam ke arah pangkal selangkangannya.  Terasa oleh indra perabaku, bulu-bulu halus.  Apa! Sally tidak pakai celana dalam.  Aku tambah keringat dingin, padahal AC mobil berfungsi dengan baik.  Jariku bisa merasakan selangkangan Sally yang lembab, mungkin basah oleh cairan vaginanya.  Lalu Sally membimbing jari-jariku naik turun di belahan vaginanya.  Sally mendesah kenikmatan.  Jalanan terasa berbayang-bayang di mataku, menerima perlakuan Sally.  Wanita maniak seks, makiku.

Kedua kaki Sally sudah menekuk ke atas, kedua pahanya mengangkang.  Jari-jariku merasakan vaginanya semakin basah, sehingga semakin gampang bagi Sally untuk menggerakkan jari-jariku naik turun di bibir klitorisnya.  Erangannya semakin keras. Aku semakin cemas takut didengar orang yang diluar, karena kami sedang berhenti di lampu merah lagi.  Waktu baru berjalan dua puluh menit.  Masih sepuluh menit lagi untuk sampai di tujuan.  Itu pun kalo aku berhasil membawa mobil ini dengan selamat.  Tanpa aku sadari, jari-jariku masih bercokol di vaginanya, ditahan tangan kiri Sally.  Tangan kanan Sally ternyata lagi meremas penisku dari luar celana.  Oh My!  Entah aku ini lagi diberi hadiah atau diberi hukuman.  Kurasakan penisku pun mengeluarkan pelumasnya menerima rangsangan demi rangsangan dari Sally.  Sally mulai merintih tambah cepat sambil menggerakkan jariku di vaginanya dan tangan kanannya meremas penisku.

 

“Kontolmu  besar, Bud,” disela-sela rintihan Sally.  Kepalanya sudah mendongak ke atas.  Matanya merem melek.  Gila nih cewek, masturbasi di mobil.  Aku sudah pasrah, tepatnya sudah kerangsang oleh perlakuan gila Sally.  Remasannya pada penisku semakin cepat.  Ditambah jari-jariku sudah basah oleh cairan vaginanya.  Aku pun kerangsang hebat.  Waktu sisa lima menit lagi sampai di tujuan.  Aku merasakan ada yang mendesak di ujung penisku.  Suara desahan, rintihan Sally membuat aku tambah tidak menentu. 

 

Tak lama kemudian, kurasakan pinggul Sally bergerak naik turun, lalu ditekan jariku kuat-kuat oleh tangan kirinya dan kedua pahanya menjepit jari-jariku.  Sally merintih panjang.  Sally orgasme.  Aku pun mengetahui dia orgasme, tidak tahan lagi menahan spermaku.  Di remas oleh Sally begitu kuat, membuat spermaku pun muncrat di balik celanaku.  Kurasakan penisku menyemprot beberapa kali.  Untung aku pakai celana warna hitam sehingga basahnya bagian selangkanganku mungkin tidak mencolok.  Kulihat seseorang sudah menunggu di depan gerbang.  Nyonya Elena sudah menunggu dengan topi dan kacamata hitamnya. 

 

Sally tersenyum manja padaku.  Tangannya masih meremas penisku.

“Enak, Bud?” tanyanya manja.  Aku kesulitan bicara.  Kurasakan lengketnya spermaku di sekitar selangkanganku.  Membuat aku beberapa kali mengganti posisi dudukku. Tidak nyaman banget.

Ketika sudah hampir dekat, Sally segera merapikan pakaiannya seakan-akan tidak terjadi apa-apa.

Kutekan pedal rem sehingga mobil berhenti di depan Nyonya Elena.

Nyonya Elena masuk

“Halo Lena,” sapa Sally sambil mengerling nakal padaku.  Aku yakin ini bukan yang terakhir kali Sally berbuat begini padaku.