web counters counter stats



Jump to content


First deposit bonus

Texas Poker Situs Judi Bola Situs Judi Bola Wigo Bet Situs Judi Bola Situs Judi Bola

ingin beriklan? hubungi kami: email : megalendir@gmail.com , big.lendir@yahoo.com atau Skype : big.lendir@yahoo.com

Live Dealers Double up bonus ss ss
ss ss ss
vert
vert
Photo
* * - - - 1 votes

Bodyguard


  • Please log in to reply
153 replies to this topic

#21 febrigigeh

febrigigeh

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 3 posts

Posted 18 September 2017 - 02:04 AM

Lanjut dong.. Udab seru banget nihh ...
  • Lord likes this

bokep jav bokep jav

#22 botaks86

botaks86

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 443 posts

Posted 18 September 2017 - 10:02 AM

Lanjoetkan gan!!! hehehe.. seru abies nih.. :)



#23 Bangjoehan

Bangjoehan

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 237 posts

Posted 18 September 2017 - 08:09 PM

Lanjutkannn suhuu..mantabb.... : NORMAL : : NORMAL :



#24 master7

master7

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 13 posts

Posted 18 September 2017 - 11:13 PM

Up

#25 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 19 September 2017 - 10:45 PM

BODYGUARD CHAPTER TEN

 

Wajah Nyonya Elena terlihat cerah.  Wajahnya penuh senyum.  Sekilas aku melihat tatapannya padaku dari kaca spion.

“Lho kok loe duduk di depan, Sal?” tanyanya heran. “Bambang ga ikut jemput?”

Sally mencium pipiku kemudian dia melangkahkan kaki melewati celah diantara kursi depan, pindah ke belakang, duduk di sebelah Nyonya Elena.  Aku kaget dicium tiba-tiba oleh Sally.  Sekali lagi aku melihat tatapan Nyonya Elena di kaca spion.  Tatapan heran.

 

Tidak lama kemudian Sally menceritakan apa yang terjadi.  Kulihat Nyonya Elena memperhatikan dengan seksama cerita Sally.  Sally begitu memuja-muja aku.  Setelah Sally selesai bercerita, Nyonya Elena kembali menatapku dari kaca spion.

“Bud, kamu uda inget siapa kamu?” tanyanya dengan pandangan yang tidak bisa kupahami artinya.

“Belum Nyonya,” jawabku singkat.  Spermaku sebagian tampaknya sudah kering.  Membuat bulu jembutku menempel dan terasa gatal di selangkangan.

“Kok kamu bisa ngalahin Bambang, kan badannya kekar, lebih gede dari kamu,” kembali Nyonya Elena melanjutkan.  Tatapannya masih terasa aneh bagiku.

 

“Mungkin hanya insting aja Nyonya karena melihat Sally disakiti,” mungkin Nyonya Elena menyadari aku tidak memanggil Nona lagi pada Sally.

Kembali Sally memuji-muji aku, Sally mencondongkan badan ke depan dan mengusap-usap rambut belakangku.  Apa-apaan nih si Sally, makiku.  Aku tidak ingin Nyonya Elena berpikir yang macam-macam tentang kami berdua.  Perubahan sikap Sally yang tadinya ketus, membenciku, berubah 180 derajat.  Teringat kembali kejadian yang baru kami alami.  Aku merasa jengah sendiri.  Aku membetulkan lagi posisi dudukku.  Mudah-mudahan bau spermaku tidak tercium sampai ke belakang.

 

“Tapi menurut cerita Sally, gerakanmu luar biasa cepat dan mematikan,” lanjut Nyonya Elena lagi.

“Ga tau juga, Nyonya.  Refleks aku yang membuat aku bisa begitu,” aku memperhatikannya dari kaca spion.  Dari tatapannya, jelas dia sedang tidak menyukaiku.  Tangan Sally masih meremas-remas rambut belakangku.  Aku sulit menghindarinya.  Tidak mungkin aku menegurnya di depan Nyonya Elena.

“Aku coba telpon Bambang dulu,” Nyonya Elena mengambil handphone dari tasnya.

 

Aku memperhatikan jalan.  Sekali lagi mata kami bertemu di kaca spion sementara Nyonya Elena menunggu jawaban dari Bambang.  Rambutku masih diremas-remas oleh Sally.  Aku takut Nyonya Elena cemburu melihat Sally berlaku seperti itu padaku.  Cemburu?  Memang siapa aku sampai bisa membuat Nyonya Elena cemburu?

“Tidak ada jawaban,” Nyonya Elena berkata setelah beberapa kali mencoba menghubungi Bambang.

“Baguslah, ke laut aja tuh orang,” ujar Sally ketus.  “Kan uda ada Budi.” Sally maju ke depan mencium pipiku.   Lalu kembali duduk di samping Nyonya Elena.  Entah kenapa aku langsung menatap kaca spion.  Ingin tahu reaksi Nyonya Elena ketika Sally mencium pipiku lagi.  Nyonya Elena menatapku tajam.  Atau mungkin itu hanya perasaanku saja.  Untung kemudian Sally ngobrol asik dengan Nyonya Elena.  Aku bisa fokus menyetir.

 

Begitu kami tiba di rumah.  Nyonya  Elena langsung memanggil Bi Surti.

“Bambang ada ke sini ga?” tanyanya.

Bi Surti menggeleng.  Aku, Nyonya Elena dan Sally masuk ke kamar Bambang.  Masih tergeletak beberapa barang disana termasuk pisau milik Bambang di dekat ranjang.

“Mungkin dia ga akan ke sini lagi, malu tampaknya,” suara Sally terdengar senang.

“Jadi yang jagain gua siapa, Sal?” tanya Nyonya Elena kemudian.

“Kan ada Budi, toh Budi bisa ngalahin si Bambang yang badannya kekar,” ujar Sally. Tapi kenapa dia harus bergelayut manja di bahuku ketika berkata demikian.

 

Nyonya Elena menatap kami berdua bergantian.  Entah apa yang ada dalam pikirannya.

“Tapi kan Budi masih amnesia,” Nyonya Elena melanjutkan.

“Tapi meski amnesia, Budi keliatan jago banget semalam,” Sally tersenyum manja padaku sambil mencubit pinggangku.  Tidak sakit sebenarnya, hanya aku takut Nyonya Elena merasa aku berkhianat darinya.  Berkhianat? Budi, Budi pikiranmu semakin melantur.  Sally semakin merapatkan tubuhnya pada bahuku.  Payudaranya yang montok bergeser-geser di lenganku.  Aku baru ingat, aku belum membersihkan spermaku yang muncrat dalam celana tadi.  Aku minta ijin dari mereka berdua.  Sally enggan melepasku.  Namun akhirnya dia lepaskan lenganku juga ketika Nyonya  Elena memintanya menemaninya di kamar.  Mau diskusi katanya. 

 

Aku merasa sedikit lega.  Dan aku tambah lega ketika aku sudah selesai mandi.  Lengket sekali tadi selangkanganku akibat semburan spermaku. Dasar cewek gila, pikirku akan Sally.  Tapi kenapa loe bisa orgasme, Bud?  Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu.

 

Sore itu, Nyonya Elena memanggilku ke ruang makan. Dia mengajak aku makan bersama dengan Sally.  Sally yang tadinya duduk di sebelah Nyonya  Elena, begitu aku sudah mengambil tempat duduk, dia langsung pindah ke sebelahku.  Waduh, pikirku.

Sambil makan, Nyonya Elena bertanya lagi padaku

“Bud, masih belum ingat?” tanyanya sambil menatap mataku.

“Belum , Nyonya. Tapi sakit kepalaku sudah hilang,” jawabku sambil mengunyah makananku.  Sally yang duduk disebelahku sedang mengunyah juga.  Tapi tangannya mendarat di pahaku.  Mengelus-elusnya dengan ujung jarinya.  Tindakannya tidak dilihat Nyonya Elena karena kami duduk berseberangan.

 

“Tadi aku diskusi dengan Sally.  Dan aku sudah mencoba lagi menelpon Bambang, tetap tidak diangkat.  Untuk sementara ini, kamu mau ga jadi Bodyguard aku?” Nyonya Elena kembali menatapku ketika berkata seperti itu.

Aku tertegun mendengarnya.  Elusan jari Sally sudah mendekati pangkal selangkanganku.

“Bodyguard, Nyonya?  Aku tidak bisa, Nyonya.  Aku tidak punya kemampuan untuk itu.  Lagian nanti siapa yang nyupirin Nyonya?” Jari kelingking Sally mulai mengenai penisku.

“Kata Sally, kamu kayaknya ga kalah dari Bambang.  Mungkin dulunya kamu ada latar belakang bela diri, kata Sally.  Sementara aja Bud sampai ada pengganti Bambang.  Aku masih takut soal surat kaleng itu.  Kalo soal nyetir, kalo kamu ga keberatan.  Kamu tetap bisa jadi supir aku.  Bagaimana?” Nyonya Elena memperhatikan bolak balik aku dan Sally.

 

“Iya Bud. Terima aja.  Aku yakin kamu bisa,” Sally menatapku dengan tatapan memohon.  Kini jari-jarinya bergesekan dengan penisku yang mulai tegang.  Sialan nih cewek.

“Aku coba ya Nyonya,” begitulah jawabanku.  Sally terlihat senang sekali.  Nyonya Elena hanya tersenyum biasa sambil meneruskan makannya.

“Nanti aku beliin kamu smarphone, Bud.  Biar aku gampang ngontak kamunya,” ujar Nyonya Elena kemudian.

“Iya makasih, Nyonya,” jawabku.  Untung elusan tangan Sally tidak berlanjut.  Aku meneruskan makan.  Jadi Bodyguard? Mudah-mudahan aku tidak mengecewakan Nyonya Elena.  Aku memang ingin selalu berada di sisinya, melindunginya.  Mungkin dengan cara begini, aku bisa lebih banyak waktu bersamanya.  Memikirkan hal itu, aku menjadi bahagia.  Aku senyum-senyum sendiri.

 

Malam pun, aku masih merasa bahagia ketika aku berbaring di kamarku.  Membayangkan aku akan lebih sering bersama Nyonya Elena.  Senyuman terbentuk terus di mulutku.  Sampai ketika pintu kamarku terbuka. Aku pikir Nyonya Elena yang masuk. Ternyata Sally.  Memakai kimono putih seperti yang biasa Nyonya Elena pakai di pagi hari.

 

“Ada apa Sal?” tanyaku heran.  Sally tidak menjawab pertanyaanku.  Dia membuka tali kimono dan ternyata dia tidak memakai apapun di baliknya.  Belahan payudaranya yang bulat terlihat jelas dengan puting coklatnya.  Lalu bulu-bulu halus yang terawat rapi menghiasi selangkangannya.  Aku terpana.  Tidak bisa mengatakan apapun.

 

Melihat aku terpana menatapnya, membuat Sally semakin berani.  Dia menurunkan kimononya ke lantai.  Kini berdiri didepanku seorang wanita dengan tubuh bahenol tanpa sehelai benangpun.

“Kamu suka tubuhku, Bud?” tanya Sally manja.  Aku masih tidak bisa mengucapkan apapun.  Hanya penisku yang bereaksi.

 

Dengan kerlingan nakal, Sally berjalan mendekatiku dengan tubuh telanjang.

Langsung mendorong tubuhku ke ranjang dan menindih tubuhku dengan duduk di atas selangkanganku.  Kedua tangannya menarik ujung kaos bawahku sehingga kini perut dan  dadaku terlihat.  Dengan ujung-ujung kukunya, Sally mengelus kulit dada dan perutku.

“Perutmu berotot juga, Bud,” ujar Sally dengan suara sedikit mendesah.  Kelihatannya wanita ini selalu horny. 

“Hmm kontolmu sudah mau keluar tuh, Bud,” jari-jari Sally sudah menyelip masuk ke dalam karet pinggang celana pendekku.  Aku masih terpana melihat betapa membusungnya payudara Sally.  Sekali tarik, celana pendekku sudah terbuka sampai paha.  Sally berubah posisi, kini dia berlutut di samping kananku.  Sally terpana seperti aku, melihat penisku berdiri tegak dengan gagahnya.

 

“Ternyata benar dugaanku, Bud.  Kontol kamu besar banget.”  Matanya terlihat lapar menatap peniskku.  Belum sempat aku berkomentar, Sally langsung mencium kepala penisku.

“Aahh,” aku merasa geli, masih lemot meresponse Sally.  Tangan Sally memegang batang kemaluanku.  Meremasnya seperti tadi siang, hanya kini tanpa halangan apapun.

Sekarang mulut Sally sudah begitu dekat dengan penisku.  Siap-siap dimasukkan ke dalam mulut seksinya.

 

“Bud, aku mau...,” tiba-tiba Nyonya Elena muncul.  Matanya terbelalak melihat kami berdua.  Sally yang sedang bertelanjang bulat sedang memegang penisku yang berdiri panjang dan besar.  Kini posisi mulut Sally sudah mengulum kepala penisku.



#26 Amazonhok

Amazonhok

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 56 posts

Posted 19 September 2017 - 11:32 PM

Lanjuttt bro...

#27 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 20 September 2017 - 12:08 AM

BODYGUARD CHAPTER ELEVEN

 

Sally begitu menyadari kehadiran Nyonya Elena, langsung melepaskan penisku dari mulutnya.  Aku otomatis menutup penis dengan kedua tanganku.  Nyonya Elena masih membelalakan matanya.  Tanpa berkata apapun, dia langsung keluar dari kamarku.

Waduh, mati aku, batinku.  Sudah tidak ada harapan lagi bagiku. Tiba-tiba aku merasa kehilangan semangat.  Sally buru-buru memakai lagi kimononya.

 

“Bud, kamu jangan khawatir, aku tau cara mengatasi Lena,” sambil memberikan cium jauh untukku dan dia menyusul Nyonya Elena.  Dengan tanpa semangat, aku memakai kembali celana pendekku.  Penisku langsung lemas secara drastis.  Apa yang Nyonya Elena pikirkan tadi ketika melihat Sally telanjang bulat dan penisku lagi dikulum Sally.  Harusnya aku dari awal mencegah Sally melakukan itu.  Tapi aku terpana pada tubuh telanjangnya yang begitu menggiurkan.  Benar-benar tubuh montok yang menggoda.  Aku memaki diriku sendiri.  Harusnya kau bisa mencegah hal ini terjadi, Bud.  Dasar cowo tidak berguna.  Semakin memaki diriku sendiri, semakin aku merasa harapanku yang tadinya melambung tinggi karena menjadi bodyguard Nyonya Elena, kini terhempas ke dasar jurang yang paling dalam.  Mudah-mudahan Sally bisa memperbaiki hal ini, toh sebagian besar ini kesalahannya, karena maen nyosor aja ke kamar aku dengan tubuh tanpa busana.  Aku berdoa Sally bisa menyelesaikan masalah ini dan Nyonya Elena tidak salah paham.

 

Waktu berjalan sangat lama bagiku.  Padahal baru dua jam berlalu sejak Nyonya Elena memergoki kami.  Aku haus.  Aku berjalan pelan menuju dapur.  Kamar Bi Surti sudah gelap, pertanda dia sedang tidur sangat lelap.  Beberapa kali kalo Bi Surti sudah tertidur, sulit sekali membuat dia terbangun.  Aku menuju dapur.  Aku ingin minum air dingin.  Kudengar sayup-sayup alunan music disco dari ruang tamu.  Setelah aku minum sebotol air dingin sampai habis.  Ternyata aku haus sekali.  Pelan-pelan aku mengintip ke arah ruang tamu.  Bau alkohol tercium.  Nyonya Elena dan Sally lagi berjoget tidak karuan, tidak sesuai dengan irama musik.  Kulihat beberapa botol, sepertinya minuman beralkohol berdiri di atas meja.  Melihat gerakan mereka, jelas mereka sudah mabuk.  Jadi ini caranya Sally membereskan masalah.  Mabuk-mabukan.

Tanpa aku sadari, posisi aku mengintip tidak terhalang tembok lagi.  Sally melihatku.

 

“Bud, sini!” lambainya.

Nyonya Elena sedang duduk disofa, menuangkan minuman lagi ke gelasnya.  Aku bertanya-tanya sudah berapa gelas yang mereka minum.  Begitu aku mendekat, Sally menarik tanganku dan mendorongku untuk duduk di sofa di seberang Nyonya Elena.  Bau alkohol sangat menyengat dari mulutnya.  Kemudian Sally duduk di samping Nyonya Elena, menuang minuman lagi ke gelasnya.

“Mau, Bud?” tanyanya mendekatkan gelas minumnya ke arahku.

 

Aku menggelengkan kepala.  Nyonya Elena lagi bersandar, menyilangkan kakinya.  Memakai daster terusan sepanjang lutut.  Mereka berdua tos lalu minum beberapa teguk.  Nyonya Elena menatapku dengan pandangan sayu, sepertinya sudah cukup mabuk.  Aku bingung harus ngapain disini.  Tiba-tiba Nyonya Elena berkata

 

“Bud, kata Sally kontolmu besar ya?” sambil nyengir ke arah Sally.  Aku kaget mendengar kata-katanya.  Aku yakin kalo tidak dalam keadaan mabuk, Nyonya Elena tidak akan mengeluarkan kata-kata seperti itu.

“Gua dulu cuma liat sekilas, Sal.  Ga dari deket,” Nyonya Elena mengatakan itu sambil menyeringai mabuk.  Entah kenapa Sally ikut tertawa.  Aku tidak yakin dia mengerti apa yang Nyonya Elena ucapkan.

“Buka celana kamu, Bud. Aku pengen liat lebih dekat kontolmu,” sekali lagi kata-kata Nyonya Elena mengagetkan aku.  Jelas aku tidak melakukan apa yang dimintanya.  Orang lagi mabuk mana sadar apa yang dia ucapkan.

“Loe pengen nyicipin Sally kan?” sambil menyimpan gelas di meja dan tangan kanannya menyusup masuk ke celah kimono Sally.  Dengan hentakan keras, terbukalah kimono Sally.  Belahan payudaranya yang bulat terlihat kembali.  Sangat membusung.  Sally hanya menggumam tidak jelas.  Nyonya Elena menyibakkan kimono Sally hingga bagian atas tubuh Sally kini terbuka. 

 

“Loe dulu boong ama gua, Bud.  Jelas teteknya Sally lebih bagus dari punya gua,”  sudah tidak pakai kata aku dan kamu lagi.  Aku tambah kaget ketika Nyonya Elena meremas payudara kanan Sally.  Sally hanya mendesah tidak jelas.  Entah dia menikmati atau tidak.  Nyonya Elena meremas payudara Sally sambil menatapku.

“Loe mau sentuh teteknya Sally, Bud?” kata-katanya sudah tidak terkontrol lagi.  Namun situasi aneh ini malah membuat penisku kembali berdiri.  Nyonya Elena mendekatkan mulutnya ke arah puting Sally yang coklat.  Mulai mengeluarkan lidahnya dan menjilati puting kanan Sally.

 

Ya ampun, aku kaget tapi birahiku muncul.  Penisku lebih berdiri lagi melihat adegan ini.  Terdengar hisapan Nyonya Elena, menyedot puting Sally.  Sally kini merintih.  Gelasnya sudah disimpan oleh Nyonya Elena di meja.  Mulut menghisap puting Sally, tangan kanan Nyonya Elena meremas payudara Sally sebelah kiri.  Penisku berdiri lebih tegak lagi.  Sally menatapku dengan pandangan sayu ketika kedua payudaranya dipermainkan Nyonya Elena.  Aku ingin menghentikan Nyonya Elena tapi entah kenapa aku malah ikut terlarut dalam permainan yang memabukkan ini.

 

“Liat Sal, cowo munafik. Kontolnya uda berdiri tuh,”  Nyonya Elena tertawa cekikikan.  Sally menjilati bibir bawahnya yang merekah.  Cowo munafik, apa maksudnya.  Maklum saja, dia kan lagi mabuk, pikirku.  Iya penisku sudah sangat menyembul dari balik celana pendekku.  Aku memang tidak pakai celana dalam.

“Sal, loe mau nyobain kontol Budi lagi?” kembali kata vulgar muncul dari mulut mungil Nyonya Elena.  Pandangan Sally kini tertuju pada selangkanganku.

 

“Lena, loe kali yang mau?” Sally yang sudah terbakar birahi, melancarkan balas dendamnya.  Dia menurunkan tali daster Nyonya Elena, sehingga kini payudara kanan Nyonya Elena terlihat penuh sedangkan yang kiri terlihat sebagian.  Putingnya yang merah muda ternyata sangat indah.  Meskipun ukuran payudaranya lebih kecil, tapi jika dipadu dengan wajahnya, jelas lebih menggoda Nyonya Elena.  Celana pendekku semakin sesak.  Aku menelan ludah berkali-kali.  Sudah lama aku ingin melihat tubuh Nyonya Elena tanpa busana.  Ternyata dalam situasi seperti ini baru terkabulkan. 

 

“Lena, gimana kalo kita bikin kontol Budi lebih ngaceng lagi?” Sally berdiri, melepaskan sisa kimono yang masih menggantung di tubuhnya.  Sehingga seperti tadi di kamarku, tubuhnya berdiri polos tanpa busana.  Nyonya Elena sepertinya tidak mau kalah.  Dia pun menurunkan tali dasternya dan kini didepanku Nyonya Elena berdiri hanya mengenakan celana dalam kecil berwarna merah muda, selaras dengan warna puting susunya.

 

Ya ampun.  Dadaku panas, darahku bergolak melihat dua wanita cantik berdiri bugil di depanku.  Tubuh Nyonya Elena yang putih begitu menggiurkan dengan lekuk-lekuknya.  Adegan berikutnya, giliran Sally yang meremas payudara kiri Nyonya Elena.  Meremasnya sedemikian rupa sampai Nyonya Elena merintih tertahan.  Dalam otakku, aku pun ingin ikut bugil seperti mereka dan langsung menyergap mereka untuk bercinta saat ini.  Tapi untung masih bisa kutahan, hanya tidak tahu berapa lama lagi aku bisa bertahan.  Adegan berikutnya lebih gila lagi.  Dengan liarnya, Sally melumat bibir Nyonya Elena yang mungil sambil merengkuh tubuh Nyonya Elena sehingga berhimpit dengan dadanya.  Nyonya Elena pun tidak kalah sengitnya membalas lumatan bibir Sally.  Buah dada mereka saling berhimpit dan saling bergesekan.  Penisku mulai terasa ngilu, berontak ingin keluar kandang.  Tanpa sadar aku mulai meremas penisku sendiri dengan tanganku yang menyelip masuk ke dalam celana pendekku.

 

Nyonya Elena berbisik di telinga Sally.  Entah apa yang dia ucapkan.  Namun sedetik kemudian, Sally berlutut di depan Nyonya Elena dan dengan giginya, menggigit pinggiran celana dalam Nyonya Elena dan menarik celana dalam itu turun.  Bulu-bulu halus terlihat, lalu celana dalam itu semakin turun sampai pangkal paha Nyonya Elena.  Bulu-bulu halus yang terawat rapi seperti Sally terlihat jelas. Belahan vaginanya tampak sekilas.  Mereka tidak sadar, aku sedang mengocok penisku.

“Masih ga mau buka celana, Bud?” goda Nyonya Elena.  Kini tubuhnya sudah sama polosnya dengan Sally.  “Loe ga tergoda dengan vagina Sally?”  Semakin gila adegan di depanku.  Dengan tangan kanannya, Nyonya Elena mengelus selangkangan Sally, seakan-akan mewakili aku untuk menyentuhnya.  Tekanan di kepalaku semakin menjadi-jadi, birahiku sudah di ubun-ubun. 

 

Kembali Nyonya Elena membisikkan sesuatu di telinga Sally.  Lalu selangkah demi selangkah, tangan Nyonya Elena tetap mengelus-elus selangkangan Sally, mereka mendekat ke arahku.  Kepala Sally sedikit bersandar di dada Nyonya Elena, menikmati elusan tangan Nyonya Elena pada vaginanya.  Setelah mereka benar-benar di depanku.  Sally mengangkat kaki kirinya dan ditumpunya ke sandaran tangan sofa tempat aku duduk.  Terlihatlah belahan klitorisnya.  Sudah basah.  Kini dengan jarinya, Nyonya Elena mengelus bibir klitoris Sally.  Membuat Sally menggelinjang kenikmatan.  Pandangan mataku tidak lepas dari vagina Sally.  Lalu aku menatap kedua wanita di depanku.  Pandangan mata mereka seperti gadis binal yang sedang merangsangku.

 

Sepertinya meskipun mabuk, Nyonya Elena bisa melihat bahwa aku sudah terbakar birahiku.  Nafasku sudah sangat memburu.  Nyonya Elena mendorong bahu Sally agar berlutut di depanku.  Tangan Sally langsung mengelus pahaku yang sedikit berbulu.  Lebih gila lagi, Nyonya Elena pun ikut berlutut di samping Sally dan ikut-ikutan mengelus paha kiriku.  Tangan mereka berdua menggerayangi kedua pahaku.  Oh MY God, aku sudah tidak kuat lagi.  Penisku benar-benar berdiri maksimal, berdenyut-denyut kencang.  Seperti diberi komando, mereka berdua masing-masing dari sisi kiri dan kanan, membuka celana pendekku.  Menariknya sampai ke mata kaki.  Aku tidak melawan.  Penisku kini bebas berdiri tanpa halangan.  Nyonya Elena terlihat kagum melihat penisku ereksi sangat hebat.  Sally pun terlihat ingin langsung memegang penisku.  Sekali lagi seperti dikomando. Sally meremas batang kemaluanku dan tampaknya masih malu-malu walaupun sedang mabuk, Nyonya Elena mulai menyusuri buah zakarku dengan jari-jarinya yang mungil. Dirabanya bulu-bulu halus yang tumbuh disana.  Kepalaku mendongak ke atas, menikmati sentuhan-sentuhan tangan mereka.  Kini wajah mereka begitu dekat dengan alat kelaminku.  Hembusan nafas mereka yang hangat terasa menyentuh penisku.

 

“Gede kan, Len?” Sally bertanya dengan suara seperti mendesah. Nyonya Elena mengangguk, tidak berhenti menatap penisku. 

“Loe mau nyicipin ga?” tanya Sally lagi.  Nyonya Elena seperti ragu-ragu.  Tanpa menunggu jawaban Nyonya Elena, Sally langsung saja memasukkan penisku ke dalam mulutnya.  Hangatnya mulut Sally dan lidahnya membuat penisku terasa ngilu nikmat.  Sally begitu buasnya memainkan penisku dengan mulutnya, lidahnya dan bibirnya.  Menjepit, menghisap dan menjilati penisku. Nyonya Elena sementara hanya mulai meremas-remas buah zakarku.  Beberapa kali dia menatap Sally dan menatap ke arahku yang mulai mengerang menikmati kuluman Sally.  Pandangan mata Nyonya Elena seperti ingin melakukan apa yang Sally lakukan pada penisku tapi dia malu. Mungkin dia sudah tidak mabuk lagi.  Sedangkan Sally mau mabuk atau tidak, jelas dia suka bermain dengan penisku.

 

Aku seperti seorang raja di surga yang sedang dilayani oleh dua pelayan cantik aduhai.  Aku memang amnesia, tapi amnesia yang beruntung.  Remasan Nyonya Elena pada buah zakarku semakin kuat, menandakan dia pun sedang horny.  Air liur Sally sudah membasahi penis dan buah zakarku.  Membuat penisku mulai berkedut-kedut cepat.  Sally bisa merasakan bahwa sebentar lagi aku akan ejakulasi.  Dikeluarkannya penisku dari mulutnya dan dia mulai mengocok-ngocok  batang penisku.  Nyonya Elena mendekatkan wajahnya pada penisku.  Begitu dekat dengan kepala penisku.  Sayangnya aku tidak tahan, aku sudah tidak kuat lagi.  Aku menyemprotkan spermaku, mengenai pipi dan hidung Nyonya Elena.  Semprotan kedua sekali lagi mengenai wajahnya.  Nyonya Elena menjerit. Sally mengocok penisku tambah cepat.  Semprotan ketiga meloncat ke atas dan jatuh ke selangkangan dan pahaku.  Nyonya Elena tampak takjub melihat semprotan spermaku yang kencang.  Spermaku mulai mengalir turun ke ujung hidung dan dagunya.  Sally pun seperti tidak ingin menyia-nyiakan spermaku.  Dijilatnya sperma yang ada di wajah Nyonya Elena, lalu yang berceceran di selangkangan dan pahaku.  Setelah terkumpul semua dalam mulutnya.  Dia membuka mulutnya, memainkan spermaku yang kental dengan lidahnya dan akhirnya menelan semua sperma dalam mulutnya.  Penisku masih terasa ngilu melihat apa yang dilakukan Sally.  Aku melihat ada sedikit sperma yang masih menjuntai di dagu Nyonya Elena.  Dengan ragu-ragu, Nyonya Elena mengambil dengan jarinya dan dimasukkan jarinya yang terbalut spermaku ke dalam mulutnya. Dan mengisap jarinya sambil menatapku. Benar-benar sangat cantik ketika dia melakukan itu.



#28 gizven1410

gizven1410

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 80 posts

Posted 20 September 2017 - 12:41 AM

Keren.... Lanjut....

#29 dalijo dalijo

dalijo dalijo

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 16 posts

Posted 20 September 2017 - 03:39 PM

Ajibbbb.....lanjut suhu..

#30 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 20 September 2017 - 04:35 PM

BODYGUARD CHAPTER TWELVE

 

Rupanya aku tertidur.  Celanaku masih berada di mata kaki.  Penisku lemas tertidur di selangkanganku.  Mungkin karena dua kali ejakulasi hari ini, membuat aku capek ketiduran.  Kulihat di sofa seberangku. Dua wanita cantik hampir bugil tertidur berhimpitan.  Aku memakai celana pendekku.  Aku berdiri menghampiri mereka berdua.  Sejujurnya ini pemandangan yang sangat menggoda. Dua wanita yang sangat menarik.  Kulit keduanya mulus.  Payudara mereka saling berhimpitan, membuat siapapun pasti akan tergiur.  Vagina keduanya terbuka, menantang untuk disetubuhi.  Tapi aku bisa menahan diri, aku bukan tipe pria yang biasa mencuri kesempatan tampaknya.  Hawa sudah mulai dingin.  Aku masuk ke kamar Sally, mengambil selimut besar Sally.  Kuselimuti dua wanita cantik menggoda itu.  Lalu aku kembali ke kamarku di pekarangan belakang.  Terbayang kembali ejakulasiku yang terakhir.  Memuaskan pastinya tapi apalah artinya jika mereka melakukannya dalam keadaan mabuk.  Aku hanya berharap seperti apa yang direncanakan Sally, Nyonya Elena tidak akan salah paham lagi padaku.  Semuanya akan baik-baik saja.  Aku harap begitu.  Tapi kalo ternyata mereka lupa apa yang terjadi.  Ya sudahlah.  Toh anggap saja aku masih beruntung pernah hampir bersetubuh dengan dua wanita yang menarik.

 

Seperti biasa jam 8 pagi, aku memotong rumput.  Mungkin Nyonya Elena dan Sally belum bangun.  Jadi tidak ada tontonan sensual di kolam renang.  Sekitar jam 10, Bi Surti menyuruhku menyiapkan mobil.  Nyonya Elena dan Sally mau pergi ke kantor katanya.

Sally duduk di depan.  Nyonya Elena duduk di belakang.  Dia tidak menyapaku tadi, langsung duduk di mobil.  Tampaknya mereka berdua lupa kejadian semalam.  Entah kenapa aku sedikit lega.

 

Sally sering menatapku, seakan-akan menggodaku dengan tubuh sintalnya.  Memang dari arahku, payudaranya terlihat begitu menonjol.  Tapi aku lebih sering menatap kaca spion, menunggu aku dan Nyonya Elena saling bertatapan lagi.  Sayang, itu tidak terjadi.

Ketika kami sudah sampai di kantor. 
“Aku perlu ikut masuk, Nyonya?” kan aku sekarang statusnya bodyguard Nyonya Elena.

Nyonya Elena menatapku.

“Tidak perlu, Bud. Di dalam aman,” jawabannya sedikit ketus.  Sebelum turun, Sally menyentuh tanganku, menenangkanku.

“Sabar Bud.  Bentar lagi juga dia ga akan ngambek lagi kok,” hiburnya sambil tersenyum manis.

 

Tampaknya mereka benar-benar lupa soal semalam, terutama Nyonya Elena.  Kini aku merasa sedih.  Aku pikir setelah kejadian semalam yang begitu panas.  Aku pikir Nyonya Elena sudah melunak.  Tapi jawaban ketusnya tadi dan tatapan tajamnya mengatakan lain.  Jelas dia masih salah paham.  Aku jadi ingin Nyonya Elena mabuk lagi sajalah.  Aku jadi tidak tenang menunggu mereka di mobil.  Tapi aku pun tidak berani masuk ke dalam Nyonya  Elena.  Malah nanti dia tambah marah melihat aku masuk ke sana.

 

Mungkin sudah saatnya aku harus jujur pada perasaanku.  Aku menyukai Nyonya Elena.  Meskipun aku amnesia dan sekarang statusku adalah supir dan bodyguardnya.  Tapi aku tetap manusia.  Aku punya rasa cinta.  Aku pun merasakan Nyonya Elena pun ada menaruh sedikit perhatianku.  Bukannya aku ge-er tapi cukuplah beberapa hari ini, aku bisa menilai dari gerak-geriknya padaku.  Lagipula jika aku menyatakan perasaanku pada Nyonya Elena, mungkin Sally akan berhenti “menyerang” diriku.  Mungkin aneh, aku baru mengenal Nyonya Elena, tapi entah kenapa aku sepertinya sudah mengenalnya dulu.  Jadi wajahnya terasa akrab di benakku.  Ah, mungkin itu hanya perasaanku saja.  Tapi aku laki-laki, apapun yang terjadi aku harus mengungkapkannya.  Agar dia tidak salah paham padaku.  Aku takut dia mengira aku ada hati dengan Sally padahal tidak.  Mumpung Nyonya Elena pun tidak dekat dengan pria manapun, karena memang dia baru saja ditinggalkan suaminya. 

 

Mungkin ini kesempatanku.  Aku tidak berharap dia akan membalas cintaku. Tapi siapa tahu, ternyata dia ada perasaan juga padaku, itu lebih baik.  Tapi yang penting aku harus mengutarakan isi hatiku agar dia tidak salah paham tentang aku dan Sally.  Ya, aku sudah membulatkan tekadku.  Aku akan melakukannya. Lebih bagus lagi aku mengatakannya di depan Sally.  Biar dia pun tahu isi hatiku dan tidak menggangguku lagi.  Terbayang kembali wajah dan bodi Sally yang menggoda.  No, stop!  Aku tidak suka Sally. Aku suka Nyonya Elena.

Tadi aku bosan menunggu tapi sekarang aku bersemangat menunggu mereka kembali ke mobil.  Namun ternyata aku sempat ketiduran.  Aku terbangun ketika pintu depan mobil terbuka.  Sally masuk ke dalam.  Tersenyum manis padaku.  Ah Sally kau memang menggoda, tapi hatiku sudah untuk Nyonya Elena.  Lalu pintu belakang terbuka, Nyonya Elena masuk.

 

Aku tersenyum padanya.  Nyonya Elena hanya mengangguk.  Kuhidupkan mobil.  Tapi kemudian Nyonya Elena bersuara

“Tunggu Bud, ada yang mau ikut kita,” ujarnya padaku.  Aku bertanya-tanya siapa.  Aku menatap Sally.  Dia hanya mengangkat bahunya penuh arti.

Lalu seorang pria masuk ke dalam.  Tampang masih muda, badan atletis, wajahnya itu...ganteng sekali.  Aku pun yang seorang laki-laki harus mengakui ketampanan wajahnya.  Ditambah pakaiannya yang jelas sangat mahal dan terlihat sangat menawan padanya.

“Terima kasih sayang,” sambil nyengir dia mengecup pipi Nyonya Elena.  Aku menatap Sally seakan-akan meminta penjelasannya.  Lalu aku menatap pria itu yang duduk begitu dekat dengan Nyonya Elena dan Nyonya Elena sepertinya sangat senang menerima kecupan dari pria tampan itu.

“Kamu ganteng banget sih, Brian,” Nyonya Elena mengelus pipi pria tampan itu.  Lalu dikecupnya lembut bibir Brian di depan aku dan Sally. 

Aku menatap mereka lekat-lekat.  Panas.  Dadaku bergemuruh.  Dan terasa semakin panas terhimpit.



#31 botaks86

botaks86

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 443 posts

Posted 20 September 2017 - 05:39 PM

Lanjutkan trus gan, seruu bngt euyyy!!! =D



#32 dalijo dalijo

dalijo dalijo

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 16 posts

Posted 20 September 2017 - 06:45 PM

Lanjut lageee....

#33 Irfanman20

Irfanman20

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 5 posts

Posted 21 September 2017 - 09:55 AM

Lanjut bro ane penasaran dibuatnya

#34 putramatahari

putramatahari

    Pista

  • Members
  • PipPipPipPipPip
  • 652 posts

Posted 22 September 2017 - 02:04 AM

salut suhu .. speechless .. tengkiu .. tengkiu .. mohon lanjutanya

#35 Adikkecil

Adikkecil

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 93 posts

Posted 22 September 2017 - 10:32 PM

dari semua cerita yang ada, cuman ini yang paling seru, selebihnya spam ato repost



#36 Jumper

Jumper

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 33 posts

Posted 23 September 2017 - 01:30 AM

Mana lanjutannya bos,,,kentang ni,,,

#37 doggies99

doggies99

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 4 posts

Posted 23 September 2017 - 01:01 PM

lanjut dong brooo

#38 master7

master7

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 13 posts

Posted 23 September 2017 - 04:04 PM

Mantep, lanjutin gan

#39 gizven1410

gizven1410

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 80 posts

Posted 24 September 2017 - 12:47 AM

Suhu jgn lama" update cerita nya...

#40 Pk-699

Pk-699

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 6 posts

Posted 24 September 2017 - 02:41 AM

Lanjut ceritany donk,jgn bikin kentang gini