web counters counter stats



Jump to content


First deposit bonus

Texas Poker Situs Judi Bola Situs Judi Bola Wigo Bet Situs Judi Bola Situs Judi Bola

ingin beriklan? hubungi kami: email : megalendir@gmail.com , big.lendir@yahoo.com atau Skype : big.lendir@yahoo.com

Live Dealers Double up bonus ss ss
ss ss ss
vert
vert
Photo
* * - - - 1 votes

Bodyguard


  • Please log in to reply
153 replies to this topic

#41 dalijo dalijo

dalijo dalijo

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 16 posts

Posted 24 September 2017 - 08:46 AM

Apa kabar nyonya Elena suhu?

bokep jav bokep jav

#42 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 25 September 2017 - 02:06 PM

BODYGUARD CHAPTER THIRTEEN

 

Dari kaca spion, aku melihat betapa akrabnya Nyonya Elena dengan teman barunya itu.  Tanpa aku sadari aku memegang kemudi dengan erat.  Aku menatap Sally di sampingku.  Kebetulan dia sedang melihatku.  Aku memberikan tatapan bertanya-tanya siapa si brengsek itu.  Sally seakan-akan mengerti maksudku.

“Dia itu lawan main Lena di filmnya yang baru.  Tadi sutradaranya bilang sebelum syuting film dimulai sebaiknya mereka lebih saling mengenal dan akrab dulu.”  Sally tersenyum tidak mengetahui kecemburuanku.

Aku manggut-manggut.

“Dia jadi musuhnya Nyonya Elena di film?” harapku.

Sally tertawa.

“Dia jadi pasangan romance-nya Lena,” Sally menjawab sambil menyentuh tanganku di stik persneling.

Aku manggut-manggut lagi tidak rela.  Lucky bastard.

 

Aku sempat melihat ke belakang.  Tangan pria itu ada di lutut Nyonya Elena.  Ingin kutusuk tangan itu agar tidak bisa berbuat yang aneh-aneh pada tubuh Nyonya Elena.  Aku dilanda rasa amarah atau cemburu sebenarnya.

“Jadi ngapain dia ikut kita?” aku tidak peduli apabila perkataanku terdengar ke belakang atau tidak.  Aku toh bodyguard Nyonya Elena, aku harus tahu tentang hal ini.

“Mungkin dia mau nginap di rumah kita.  Kan tujuannya biar saling mengenal,” tangan Sally mengelus-elus tanganku.

 

What!!! Aku menatap Nyonya Elena dari kaca spion.  Tampaknya dia tengah asik ngobrol dengan pria tampan brengsek itu.  Terdengar tawa renyah dari Nyonya Elena.  Nyonya Elena tampaknya tidak mengindahkan kehadiranku dan Sally di mobil.  Mereka begitu “Hot”nya bercengkerama.  Kulihat tangan pria itu kini berada sedikit di atas lutut Nyonya Elena atau itu hanya perasaanku saja.

Sesampainya dirumah, Nyonya Elena dan Brian langsung ngeloyor pergi tanpa sedikitpun melirik padaku.  Mungkin Sally bisa merasakan kegalauanku.  Sally tersenyum manis padaku.  Sally masih duduk di kursi depan.  Seperti biasa Sally memakai kaos ketat, hari ini warna orange.  Ketika dia menegakkan posisi duduknya.  Payudaranya yang bulat tambah membusung.  Paha kanannya bersilang di atas paha kirinya.  Rok mini biru tuanya terangkat.  Apa Sally dan Nyonya Elena ingat kejadian ketika mereka mabuk?  Aku pikir setelah kejadian itu, Nyonya Elena akan melunak dan bersikap baik padaku lagi.  Tapi ternyata tidak.

 

“Bud, kamu mau ke kamar aku?” Sally menatapku menggoda.  Entah kenapa payudaranya semakin membusung dan rok mininya semakin terangkat.  Aku yang sedang risau memikirkan Nyonya Elena tanpa sadar menganggukkan kepalaku.  Sally tersenyum senang.  Dia turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah.  Aku memarkirkan mobil di garasi.

 

Ketika aku selesai menyimpan mobil dan hendak menutup pintu garasi.  Mataku tertumpu pada sebuah amplop di pekarangan depan dekat pagar.  Langsung teringat surat kaleng yang dulu kutemukan.  Aku berlari mendekati.  Kubuka pagar dan aku melihat sekeliling, tidak ada seorang pun.  Mungkin sudah lama seseorang melemparnya ke situ.  Kubuka dengan perasaan sedikit tegang.

Benar. Sebuah surat kaleng dengan huruf-huruf yang digunting dari koran atau majalah.

“THIS TIME YOU WILL DIE FOR REAL”

 

For real!  Tampaknya surat kaleng yang ini makin serius.  Kalo aku berikan pada Nyonya Elena pasti dia akan stres dan sangat cemas.  Kuputuskan aku akan menyimpan surat ini atau mungkin nanti aku kasi liat Sally.  Aku tidak ingin membuat Nyonya Elena cemas dalam ketakutan.  Aku menyimpan surat kaleng itu di kantong belakang celanaku.  Aku masuk ke dalam.  Kulihat Nyonya Elena sedang ngobrol dengan asiknya dengan si kunyuk itu.  Mereka tidak menghiraukan aku.  Kulihat sekilas, benar saja tangan Brian sudah hinggap lebih atas lagi di paha tengah kanan Nyonya Elena.  Dasar keparat! Makiku tidak berdaya.

 

Aku begitu saja melewati kamar Sally.  Aku kembali ke kamarku.  Bi Surti lagi nyetrika di depan kamarnya.  Aku menghempaskan diriku di ranjang.  Pikiranku berkecamuk antara Nyonya Elena, surat kaleng dan kegalauan hatiku.  Dadaku terasa sesak, panas.  Membayangkan Nyonya Elena dengan ketidakpeduliannya padaku dan kemesraannya dengan Brian. Kepalaku tiba-tiba pusing lagi.  Sekelebat-sekelebat bayangan tidak jelas muncul dalam kepalaku.  Aku meringis kesakitan.  Kupegang dua sisi kepalaku dengan kedua tanganku.  Rasanya ingin menjerit.  Tapi bisa kutahan.  Aku menggertakkan gigiku menahan sakit. 

 

Entah kejadian itu berlangsung berapa lama.  Entah aku pingsan atau tertidur.  Aku terbangun atau siuman ketika terdengar bunyi kecipak kecipuk air kolam.  Sakit kepalaku sudah hilang.  Sudah lama aku tidak pernah merasakan sakit di kepalaku lagi.  Aku bingung kenapa bisa terjadi lagi.  Mungkin efek dari kecemburuanku.  Cemburu?  Mungkin aku memang cemburu.  Entah sampai kapan aku akan bertahan melihat kemesraan Nyonya Elena dan Brian.  Aku berusaha bangkit dari ranjangku. Aku membuka pintu kamarku.  Aku melihat Nyonya Elena sedang berenang bersama si kampret dan Sally pun ikut bergabung dengan mereka.  Aku sebenarnya hendak masuk lagi ketika terdengar suara Nyonya Elena memanggilku.

 

“Bud, sini!” teriaknya.  Tiba-tiba hatiku gembira Nyonya Elena memanggilku.  Semangatku pun bangkit.  Aku segera menghampiri mereka.  Aku tersenyum pada Sally yang entah kenapa seperti terlihat marah padaku.  Lalu aku tersenyum pada Nyonya Elena.  Brian ke laut aja. Atau mungkin dia tenggelam di dasar kolam, mudah-mudahan.

“Ada apa, Nyonya?” aku memberikan senyum termanisku. 

Nyonya Elena menatapku.

“Bud, tolong beliin pizza American Favourite ukuran large di Pizza Hut buat aku, Brian dan Sally.  Kamu minta duitnya sama Bi Surti,”  sambil kemudian dia mendekati Brian dan memeluknya mesra.

Hah!!! Jadi dia memanggilku hanya untuk itu.  Padahal aku sudah senang dan berharap lebih.  Mungkin aku diajak berenang bersama.  Aku menatap Nyonya Elena dan Brian yang sedang saling berpelukan.  Aku menatap Sally yang ternyata sedang menatapku kemudian membuang muka.  Aku ini bodyguard, woi!!! Teriakku dalam hati.  Bukan office boy.  Namun apa daya, mereka bertiga tampaknya tidak mempedulikanku. 

 

Dengan berat hati, aku mencari Bi Surti.  Setelah menerima uang dari Bi Surti, aku segera mengeluarkan mobil dan menuju Pizza Hut terdekat.  Sepanjang perjalanan, aku ngomel-ngomel, menggerutu dan berteriak dalam mobil.  Melepaskan segala kemarahanku.  Tapi kenapa  Sally marah padaku yah?  Aku menepuk jidatku.  Teringat kembali ketika dia menawarkan aku ke kamarnya, aku mengangguk namun aku tidak kunjung datang ke kamarnya.  Ingin kubenturkan kepalaku ke kemudi mobil.  Tapi teringat sakit kepalaku sebelumnya.  Tapi siapa tahu aku malahan sembuh dari amnesia.  Entah kenapa ada perasaan takut muncul, kalo aku sembuh dari amnesia dan ternyata aku ini bukan orang yang baik, bagaimana.  Bisa jadi aku sembuh dari amnesia, bisa menyebabkan aku semakin jauh dari Nyonya Elena.  Ya ampun.  Ada apa dengan diriku sekarang???

 

Sesampai di Pizza Hut, aku memesan pesanan Nyonya Elena.  Aku termenung di tempat tunggu.  Ketika aku melihat ke tv besar di tempat tunggu.  Muncul foto cantik Nyonya Elena dan Brian.  Ternyata acara infotainment.  Mereka duduk di sebuah meja panjang dengan beberapa orang yang tidak kukenal.  Lalu ada para wartawan yang menanyai mereka.  Tampaknya ini acara tanya jawab tentang film mereka yang akan syuting.  Terlihat di kamera kemesraan Nyonya Elena dan Brian.  Mereka duduk berdempetan, kadang saling tersenyum menjawab pertanyaan para wartawan.  Lalu kemudian mereka dishoot berdua di tempat lain, aku kenal tempatnya.  Itu depan kantor Nyonya Elena.  Brian merangkul bahu Nyonya Elena dan Nyonya Elena terlihat senang menempelkan tubuhnya tubuh atletis Brian.  Apa yang mereka bicarakan jelas tidak aku dengar lagi.  Aku ingin cepat-cepat pergi dari sini.

 

Entah apa yang ada dalam pikiranku setelah itu sulit diceritakan.  Aku pun tidak tahu ketika ternyata aku sudah di depan rumah Nyonya Elena.  Pizzanya kutenteng di tangan kanan dan ketika aku tiba di kolam renang.  Kulihat Sally dengan bikini warna merahnya sedang berbaring di kursi panjang.  Bentuk tubuhnya yang seksi tidak membuat reaksi apapun pada tubuhku.  Nyonya Elena melihatku datang.  Dia yang masih di kolam renang bersama Brian segera naik keluar dari kolam renang.  What the fuck!  Baru kali ini aku liat Nyonya Elena berenang dengan hanya memakai swimsuit seperti sebuah bra yang hanya menutupi sebagian payudaranya dan sebuah celana dalam mini yang mungkin hanya sekedar menutupi vaginanya.  Brian mengikut di belakangnya.  Aku meletakkan pizza di meja.  Aku perhatikan Brian yang hanya memakai, tampaknya hanya memakai celana dalam biasa, memeluk Nyonya Elena dari belakang.  Nyonya Elena membungkuk kegelian sambil tertawa cekikikan.  Kuping dan mataku terasa panas.  Sally pura-pura tidak melihatku.  Lalu kejadian yang lebih menghinaku terjadi.  Brian seperti merogoh celananya, mengeluarkan dompetnya dan memberikan selembar uang lima ribu padaku.

 

“Buat tips, Mas.  Makasih ya,” sambil kembali lagi memeluk Nyonya Elena dan menggelitik perutnya.  Nyonya Elena seakan-akan tidak melihat kejadian itu dan kembali tertawa cekikikan karena perut mulusnya digelitik oleh Brian.

Dengan tampang yang pasti sangat kusut. Aku memasukkan “tips” dari si kunyuk ke dalam kantong celanaku dan meremasnya kuat-kuat.  Aku kemudian berjalan secepat mungkin ke dalam kamarku.  Masih terdengar cekikikan mereka berdua dari dalam kamarku.  Aku sekuatnya memukul kasurku beberapa kali.  Aku benar-benar panas.  Aku tidak bisa lagi menahan kecemburuanku.  Dan sekali lagi, kepalaku tiba-tiba pusing seperti tadi.  Urat-uratnya terasa berdenyut kencang.  Ruangan kamarku terasa maju mundur.  Aku tidak mau berteriak kesakitan. Aku tidak mau didengar oleh mereka yang sedang berada di kolam renang.  Aku tidak ingin terlihat lemah.  Kedua tanganku menahan di kedua sisi kepalaku.  Aku berbaring di ranjangku pun tidak membantu.  Seperti tadi, entah aku tertidur atau jatuh pingsan.  Aku tidak tahu.  Karena kesadaranku tiba-tiba hilang.



#43 YondaimeSenju

YondaimeSenju

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 34 posts

Posted 25 September 2017 - 07:40 PM

joss bang lnjut...seru bngt nih....
  • GoodFrey likes this

#44 master7

master7

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 13 posts

Posted 25 September 2017 - 08:36 PM

Iya hu btul. Lanjut hu.. Nungguin iki hehe
  • GoodFrey likes this

#45 dalijo dalijo

dalijo dalijo

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 16 posts

Posted 25 September 2017 - 09:26 PM

Ayo suhu...setia nunggu kisah selanjutnya ni..

#46 Joh4n

Joh4n

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 9 posts

Posted 25 September 2017 - 11:12 PM

Lanjuyytt huu
  • GoodFrey likes this

#47 putramatahari

putramatahari

    Pista

  • Members
  • PipPipPipPipPip
  • 652 posts

Posted 26 September 2017 - 02:46 AM

antara penasaran .. jantungan tegang sama horny campur aduk .. nih kl lama bisa remuk dalam deh ..

#48 cahkota

cahkota

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 5 posts

Posted 26 September 2017 - 06:22 AM

Menanti lanjutan nya om 👌
  • GoodFrey likes this

#49 Bong pay

Bong pay

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 3 posts

Posted 26 September 2017 - 05:52 PM

Mantab huuu terbawa cerita.... Di tunggu kelanjutanya...
  • GoodFrey likes this

#50 kerendalan

kerendalan

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 16 posts

Posted 28 September 2017 - 10:58 AM

Lanjut huu dag penasaran ni

#51 N3wbi3

N3wbi3

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 1 posts

Posted 29 September 2017 - 08:01 AM

Mantaaapp

#52 kerendalan

kerendalan

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 16 posts

Posted 29 September 2017 - 01:01 PM

Ayo hu mn lanjutannya

#53 Irfanman20

Irfanman20

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 5 posts

Posted 29 September 2017 - 03:03 PM

Nyonya elena ohh..lanjut hu

#54 dalijo dalijo

dalijo dalijo

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 16 posts

Posted 02 October 2017 - 07:35 PM

Ditunggu kelanjutannya suhu...

#55 Cak M

Cak M

    Kacang

  • Members
  • PipPip
  • 14 posts

Posted 03 October 2017 - 10:07 AM

Mantap vanget hu...ditunggu chapter 14th

#56 Bangir

Bangir

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 31 posts

Posted 03 October 2017 - 02:16 PM

1 hari..2 hari...1 minggu 2 minggu....tetep setia waelah. ..

#57 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 03 October 2017 - 04:36 PM

maaf agan2 sekalian, kemaren ada kerjaan tambahan. jadi baru sebagian ditulis part berikutnya. maaf ya. thx :)



#58 Joh4n

Joh4n

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 9 posts

Posted 03 October 2017 - 06:14 PM

maaf agan2 sekalian, kemaren ada kerjaan tambahan. jadi baru sebagian ditulis part berikutnya. maaf ya. thx :)



Masih setia menanti gan .. 😊

#59 gizven1410

gizven1410

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 80 posts

Posted 04 October 2017 - 03:55 AM

Sekalian ampe tamat

#60 teddythejoy

teddythejoy

    Mete

  • Members
  • PipPipPipPip
  • 210 posts

Posted 05 October 2017 - 09:36 PM

BODYGUARD CHAPTER FOURTEEN

 

Nyonya Elena berdiri di depanku dengan memakai gaun rok pendek warna putih.  Memakai kacamata hitam dan topi bertepi lebar.  Aku mendekatinya.  Lalu tiba-tiba dia berubah sosok menjadi seorang pria tua.  Sebelum kekagetanku pulih, kini pria tua itu berubah menjadi sosok Sally, lalu sekejap berubah lagi menjadi sosok Bambang.  Bi Surti.  Dan terus menerus berubah wujud menjadi sosok-sosok yang tidak kukenal.  Lalu aku pun terbangun.  Keringat dingin membasahi sekujur tubuhku. Apakah tadi aku bermimpi atau sebagian wajah-wajah yang tadi kulihat adalah orang-orang yang pernah aku kenal.

 

Aku menggosok-gosok wajahku dengan kedua tanganku.  Kepalaku masih terasa pusing sedikit.  Aku mencoba bangkit dari ranjangku.  Aku melangkah keluar kamarku.  Ada seseorang sedang duduk di kursi panjang di pinggir kolam.  Hatiku langsung senang sesaat.  Aku pikir itu Nyonya Elena tapi ternyata itu Sally.  Teringat betapa sikap Sally agak judes padaku tadi.  Aku pikir aku harus meluruskan hal ini juga.  Dengan langkah tidak terburu-buru, aku menghampiri Sally yang sedang memegang lututnya yang tertekuk ke atas.  Tampaknya dia tidak menyadari kedatanganku.  Baguslah.  Jadi dia akan sulit menghindar dariku apabila dia tidak mengetahui kedatanganku.  Atau mungkin dia sengaja tidak ingin melihatku. 

 

Ketika aku sudah tiba di dekatnya.  Sally hanya menoleh sekilas padaku, lalu kembali menatap air kolam renang.  Hmm, paling tidak dia tidak melotot menatap tajam padaku.  Sebuah perkembangan yang baik, pikirku.  Aku memberanikan diri untuk duduk di dekatnya di kursi panjang itu.  Sally tidak bergeser menjauh dariku.  Cukup bagus situasinya.  Aku tahu aku salah, aku harus minta maaf padanya.

“Sal, aku...,” sebelum aku menyelesaikan kata-kataku.  Sally sudah menoleh ke kanan menatapku.

“Kamu suka ama Lena ya?” tembaknya langsung, dia menatapku tajam tapi dengan lebar mata normal tidak melotot.

“Aku...,” ditanya seperti itu jelas membuatku kaget dan bingung harus menjawab jujur atau bohong.

“Aku...,” kembali aku tidak tahu harus menjawab apa.

“Aku...aku...amnesia loe tambah parah ya? Jawab gitu aja susah amat,” kembali terdengar suara ketus Sally.

“Aku....,” kembali aku terhenti untuk meneruskan kalimatku.

“Udahlah ga usah dijawab.  Bikin bete aja,” sambil Sally kembali menatap air kolam.

“Pacarmu lagi berduaan tuh ama si ganteng di kamar,” entah apa maksudnya mengatakan itu padaku.

 

Mendengar itu, kini kata “aku” pun tidak sanggup kuucapkan.  Aku terdiam.  Jelas hatiku panas.  Tapi mengingat siapa diriku dan bagaimana ganteng dan atletisnya si keparat itu, mungkin sudah sewajarnya wanita secantik Nyonya Elena bersama si kampret itu.  Mana dia seorang aktor, jelas aku bukan tandingannya.  Lagipula aku tidak tahu siapa diriku.

 

Setelah aku berhasil mengendalikan diri.  Aku tetap memutuskan untuk minta maaf pada Sally, paling tidak aku harus mengurangi jumlah wanita yang bersikap dingin padaku.

“Sal, aku mau...minta maaf,” akhirnya keluarlah kata-kata itu dari mulutku.

“Minta maaf untuk apa?” ujar Sally.  Dia tidak tahu atau ingin memancingku saja.

“Egh, soal...tentang...kejadian waktu itu,” aku terbata-bata menjelaskan.  Masa aku harus bilang aku minta maaf tentang janji ke kamarnya.

“Kejadian yang mana?” tanya Sally lagi.  Tatapannya tawar padaku.

Haruskah aku mengatakan apa adanya.  Aku ragu.  Tapi mengingat lagi, tujuanku ingin mengurangi jumlah wanita yang membenciku.  Aku menguatkan hati.

“Tentang..kejadian aku tidak jadi ke kamarmu,”  aku agak lega setelah mengucapkan hal itu.

“Kenapa kamu tidak ke kamarku waktu itu?” suaranya terdengar melunak.  Tatapan Sally pun terlihat lebih hangat sedikit.

Aku tidak mungkin menjawab dengan aku menemukan surat kaleng.  Sakit kepalaku kambuh.  Atau aku cemburu dengan Nyonya Elena dan si brengsek itu.

“Aku ketiduran, Sal,” bohongku.  Mungkin dia akan percaya karena waktu itu tampangku agak kusut abis hilang kesadaran karena sakit kepalaku.

 

Tampaknya dia percaya.  Sebentuk senyuman kecil menghiasi bibirnya yang sensual namun seketika langsung cemberut lagi.

“Aku maafin, kalo kamu bercinta denganku disini, sekarang!” ujarnya kembali ketus.

Hah!!! Bercinta disini.  Bagaimana kalo Nyonya Elena lihat?  Tapi teringat olehku perkataan Sally tadi bahwa Nyonya Elena lagi berduaan dengan bajingan itu di kamar.  Entah apa yang sedang mereka lakukan.  Dadaku kembali panas.  Aku menatap Sally.  Dia menatapku, menunggu jawabanku.

“Harus di sini yah?” kacau!! Kok malah kata-kata itu yang keluar dari mulutku.

Sally seperti berusaha menyembunyian senyumnya, “Iya. Harus disini, baru aku maafkan!”

 

Melihat aku ragu-ragu dan sepertinya tidak berniat menolak.  Sally langsung mendekatiku dan mencium bibirku.  Dilumatnya bibirku sambil tangannya yang halus menyusup masuk kaosku dan mengelus perut dan dadaku.  Hatiku yang panas menjadi lebih panas membayangkan apa yang sedang dilakukan Nyonya Elena berdua di kamar.  Sally mencubit pelan puting kananku.  Penisku berdiri.  Lidah Sally kini menyusup masuk ke dalam mulutku.  Bergerak-gerak liar menggesek lidahku.  Terbayang wajah Nyonya Elena yang lagi mencium bibir si kampret itu, aku pun mulai membalas pagutan lidah Sally dengan lidahku.  Penisku semakin tegang.  Entah siapa yang menyuruh, aku mengangkat kedua tanganku secara otomatis ketika Sally memegang tepi bawah kaosku dan mengangkat kaosku ke atas melewati kedua tanganku dan melemparnya ke bawah kursi.  Sally mendorongku bersandar di sandaran kursi panjang.  Sally duduk di atas selanganganku.  Kimono yang dipakai Sally sudah turun sampai dada.  Payudaranya yang montok dan bulat terlihat begitu membusung di cahaya remang-remang tepi kolam.  Dituntunnya kedua tanganku untuk memegang payudaranya.  Begitu lembut dan kenyal.

 

“Remas yang keras, sayang,” desahnya.  Aku menurutinya.  Aku meremas kedua payudara bulat Sally.  Payudaranya memang terlalu besar untuk ukuran tanganku.  Tanganku tidak bisa meremas semuanya.  Dituntunnya kembali tanganku untuk meremas payudaranya lebih kuat.  Sally mendesah semakin kuat.  Aku khawatir akan ada yang mendengar desahannya.  Bukan Bi Surti yang pasti, karena aku tahu kalo beliau sudah tidur, tidak ada apapun yang bisa membangunkannya.  Aku khawatir Nyonya Elena akan mendengar suara desahan Sally.  Tidak mungkin, toh mungkin saja dia sendiri lagi bermesraan dengan si bajingan ganteng itu.  Membayangkan hal itu, aku semakin meremas kedua payudara Sally.

 

Bukannya kesakitan, tapi punggung Sally malah melengkung kenikmatan menikmati remasan kuatku.

Sally jelas sudah kerangsang berat.  Nih cewe kayaknya memang hypersex.  Sally menurunkan badannya, kembali menciumku dengan liar.  Payudaranya yang montok menempel ketat pada dadaku.  Terasa sangat hangat.  Putingnya terasa sudah mengeras menyentuh kulit dadaku.  Penisku semakin membesar.  Tangannya mengacak-acak rambutku.  Ketika bibir Sally yang basah menempel pada telinga kiriku.  Bibirnya menjepit daun telingaku.  Lidahnya menjilati bagian dalam telingaku.  Basah dan hangat.  Membuat penisku semakin menekan selangkangannya.  Sally mungkin merasakan tekanan penisku pada tubuhnya.  Dia merintih begitu dekat di telingaku.  Rintihannya membuat nafsuku semakin tinggi.  Kuremas bongkahan pantatnya yang masih terbungkus kimononya.  Kuremas keras.  Sekali lagi bayangan Nyonya Elena dengan tubuh bugilnya lagi menempel erat dengan tubuh bugil jahanam itu.  Semakin membuatku bernafsu meremas dan menampar lembut bongkahan pantat Sally. 

 

“Uggh sayang, ternyata kamu ganas juga,” rintihnya sambil menggigit daun telinga bawahku dan menggoyangkan pinggulnya menekan penisku.  Giliran aku yang kini merintih pelan menikmati goyangan pinggulnya.  Kimono Sally sudah acak-acak tidak karuan.  Pahanya sudah terekspos, kimononya hanya menutupi sebagian kecil pantatnya.  Bulu-bulu halus vaginanya terlihat samar-samar di cahaya remang-remang pinggir kolam.  Sekali tarik oleh Sally, lepas sudah kimononya melorot jatuh dari pinggir kursi panjang tempat kami terbaring.  Dengan tubuhnya yang kini telanjang bulat, Sally tiba-tiba turun dari kursi dan bersimpuh di pinggir kursi.  Menarik paksa celana pendekku lepas dari tempatnya.  Penisku mencuat berdiri dengan gagahnya.  Mata Sally terlihat kagum melihat betapa perkasanya penisku.

 

“Gila Bud, kontol loe emang benar-bener gede,” Sally menjilati bibir bawahnya dengan lidahnya.  Langsung mulutnya menyambar pangkal penisku.  Diciumnya dan ditelusuri batang penisku sampai puncaknya dengan kedua bibirnya yang sensual.  Aku menggelinjang, menikmati bibir hangat Sally yang menggesek penisku.  Lalu bibirnya kembali menyusuri batang penisku sampai ke pangkalnya.  Lalu Sally tiba-tiba menjilati buah zakarku dan menyedot salah satu buah zakarku.  Membuat aku ngilu tapi aku mengeluarkan desahan yang sedikit lebih keras.  Mendengar desahanku ternyata membuat Sally semakin bernafsu memainkan satu biji pelerku.  Disedotnya dengan mengeluarkan bunyi sambil tangan kirinya mengocok penisku.  Gila liar banget nih cewek.  Birahiku sudah di ubun-ubun.  Terbayang kembali Nyonya Elena sedang mengisap penis cowo kampret itu. Membuat aku semakin menikmati rangsangan Sally.  Kini giliran buah zakarku yang satunya lagi disedotnya.  Kini tangan kanan Sally menyusup ke bawah buah zakarku dan menyentuh belahan pantatku dan lubang anusnya.  Jari lentiknya menekan-nekan titik-titik dekat lubang anusku.  Membuat aku melebarkan kakiku dan mengangkat pinggulku berharap jari Sally lebih menekan titik-titik kenikmatan di daerah situ.

 

Sally seakan-akan tahu keinginanku.  Jari telunjuknya menyusuri belahan pantatku, menggesek-gesek lembut membuat aku semakin menggeliat nikmat.  Ditambah kini Sally memasukkan kepala penisku ke dalam mulutnya.  Kedua bibirnya menjepit lembut kepala penisku, pelan-pelan turun ke bawah.  Bibirnya masih menjepit kepala penisku hingga semuanya masuk ke dalam mulut seksinya.  Tidak sampai situ saja, kini Sally berusaha terus menurunkan mulutnya agar kini batang kemaluanku berada di dalam mulutnya yang basah dan hangat.  Namun akhirnya Sally terlihat agak sulit untuk turun lebih jauh karena ujung penisku seperti sudah mentok dalam lubang mulutnya.  Masih tersisa beberapa senti batang kemaluanku yang berada diluar mulutnya.  Sally tampaknya ingin turun lebih jauh tapi akhirnya seperti kehabisan napas, Sally melepaskan penisku dari mulutnya.  Nafasnya terengah-engah tapi wajahnya terlihat lebih horny.

 

“Gila Bud, Kontol loe bener-bener panjang. Baru kali ini gua ga berhasil deepthroat kontol cowo,”  air liur menetes dari tepi bibirnya membasahi dagunya.  Wajahnya terlihat sangat seksi saat ini.  Aku sudah lupa dengan Nyonya Elena.  Sekali lagi Sally berusaha men-deepthroat penisku.  Namun tetap tidak berhasil masuk semuanya dalam mulutnya.  Batang penisku sudah basah oleh air ludahnya ketika Sally mencoba beberapa kali lagi.  Gila, aku merasakan penisku benar-benar ngilu nikmat diperlakukan dengan liar oleh Sally.

 

“Gila Bud, loe bikin gua benar-benar horny ama kontol loe.  Memek gua udah basah banget nih.  Masukin ke memek gua kontol loe, Bud,” tanpa tunggu sedetikpun lewat, Sally langsung saja berjongkok di atas selangkanganku.  Dipegangnya penisku dan pelan-pelan dia masukkan ke dalam vaginanya.  Memang benar, terasa licin vaginanya ketika kepala penisku menembus masuk.  Cepat sekali kepala penisku sudah berada dalam vaginanya yang basah oleh cairannya.  Sally melenguh ketika pelan-pelan dia menurunkan pinggulnya sehingga batang penisku lebih masuk lagi ke dalam vaginanya.  Aku merasakan jepitan otot vaginanya pada penisku.  Membuat urat-urat penisku menjadi lebih tegang.  Semakin masuk ke dalam dan akhirnya ternyata penisku bisa masuk semua ke dalam vagina Sally.

 

“Aaaah, Bud. Kontol loe benar-bener mentok dalam memek gua.  Benar-benar kontol besar,” Dengan masuknya semua penisku dalam vaginanya, kini Sally mulai menggoyang-goyang pinggulnya memutar, maju mundur.  Aku pun menikmati goyangan pinggulnya, kurasakan ujung penisku menyentuh dinding rahimnya yang paling dalam.  Benar-benar nikmat.  Payudara Sally bergoyang-goyang mengikuti gerakan irama tubuhnya.  Punggung Sally melengkung beberapa kali ketika dia menekan dalam selangkangan pada penisku.  Desahannya semakin besar terdengar.  Mungkin seperti yang dia bilang, ini adalah penis terpanjang yang pernah masuk vaginanya.  Dan hal ini membuat Sally cepat merasakan orgasmenya karena tak lama kemudian paha Sally menjepit pahaku keras-keras.  Gerakan pinggulnya semakin cepat.  Wajahnya mendongak ke atas, punggungnya melengkung dan mengejang.  Dan keluarlah jeritan orgasme yang terdengar sangat nikmat. 

 

Kurasakan penisku seperti tersiram cairan hangat dalam vagina Sally.  Namun entah kenapa aku belum mencapai orgasme seperti kemaren-kemaren.  Mungkin karena bisa dibilang ini bukan pertama kalinya aku “bermain” dengan Sally.  Jadi ketahanan penisku semakin terlatih, tidak cepat mencapai klimaks.  Sally terbaring lemas di dadaku.  Keringat di payudaranya menempel lengket pada dadaku. 

“Loe belum mau keluar, Bud?” tanya Sally terengah-engah. 

“Belum, Sal,” aku kini berusaha menyodok vagina Sally.

“Perkasa benar, Bud.”  Sally tampaknya kembali terangsang menerima sodokan demi sodokan yang dilakukan penisku pada vaginanya.  Namun

Sally tiba-tiba bangkit dan terlepaslah penisku dari vaginanya.  Aku merasakan penisku yang tersiram cairan vagina Sally, dingin kena udara malam. 

 

“Bud berdiri.  Gua pengen disodok ama loe dari belakang,”  aku berdiri dari kursi panjang mengikuti perintahnya.  Kini Sally bertumpu pada kedua tangan dan kedua lututnya, menggoyang-goyangkan pinggulnya seperti anjing.

“Ayo Bud, cepatan sodok gua dari belakang!” nafasnya mulai memburu lagi.  Benar-benar maniak seks.

Aku menghampirinya.  Memegang penisku yang masih mengacung tegak dan mulai menusuk vaginanya dari belakang.  Vaginanya masih licin, bahkan terasa lebih licin.  Mungkin berkat cairan orgasmenya tadi.  Aku mulai menggerakkan penisku maju mundur dalam vaginanya.  Bahkan seringkali aku menghujamkan penisku dalam-dalam karena aku ingin merasakan nikmatnya ujung penisku menyentuh dinding rahimnya yang dalam.  Setiap kali aku menghentakkan penisku dalam-dalam.  Rintihan Sally semakin panjang terdengar dan semakin keras.   Membuat aku semakin bernafsu memompa vaginanya.  Mungkin capek karena bertumpu dengan tangannya.  Kini Sally bertahan dengan kedua lututnya dan punggungnya bersandar di dadaku. Keringat kami saling menempel.  Kepala Sally menoleh ke kiri.  Berusaha mencium bibirku.  Aku memajukan kepalaku, melumat bibirnya tanpa mengendorkan pompaanku pada vaginanya.  Tanpa diperintah oleh Sally kini aku meremas kedua payudaranya dari belakang.  Hal ini membuat Sally semakin menggelinjang menikmati berbagai rangsangan dariku. 

 

Akhirnya aku merasakan dorongan pada ujung penisku.  Ada sesuatu yang mau keluar, tapi sebelum aku mengeluarkan dorongan itu.  Ternyata Sally sudah duluan orgasme lagi.  Kedua tangannya menekan tanganku agar meremas lebih kuat payudaranya.  Giginya menggigit bibir bawahku dan punggungnya menegang dan muncratlah lagi cairannya membasahi penisku.  Namun hal ini semakin mempercepat dorongan sperma pada ujung penisku.

“Sal, aku mau keluar,” erangku.

 

Buru-buru Sally menarik vaginanya melepas penisku dan cepat-cepat duduk dikursi menghadapku dan memasukkan penisku dalam mulutnya.  Tangan Sally mengocok pangkal batang penisku.  Kepala penisku dihisapnya kuat.  Dan akhirnya muncratlah spermaku dalam mulutnya.  Sekali...dua kali...tiga kali dan melemah semprotannya beberapa kali lagi.  Kakiku mengejang berusaha menyemprot spermaku yang terakhir kali.  Kutatap Sally yang sedang menatapku.  Aku tersenyum hangat.  Sally berusaha tersenyum dengan matanya karena mulutnya penuh dengan spermaku.  Kurasakan hisapan Sally pada lubang pipisku, berusaha menghisap dan membersihkan sisa-sisa spermaku.  Lalu dilepaskan mulutnya dari penisku, membuka mulutnya, membiarkan aku melihat cairan lengket warna putih dalam mulutnya, sebelum akhirnya dia menelan semuanya.  Benar-benar pengalaman seks yang luar biasa.  Aku terduduk lemas di kursi.  Merebahkan diri disana.  Sally pun bersandar di dadaku.

“Bud, kamu benar-benar luar biasa,” Sally mencium putingku