web counters counter stats



Jump to content


First deposit bonus

Texas Poker Situs Judi Bola Situs Judi Bola Wigo Bet Situs Judi Bola Situs Judi Bola

ingin beriklan? hubungi kami: email : megalendir@gmail.com , big.lendir@yahoo.com atau Skype : big.lendir@yahoo.com

Live Dealers Double up bonus ss ss
ss ss ss
vert
vert
Photo
* * * * * 1 votes

Kisah Kenikmatan Tubuh Para Perawat Di Bandung Bagian 1


  • Please log in to reply
2 replies to this topic

#1 dewibecek

dewibecek

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 3 posts
  • LocationIndonesia

Posted 23 December 2017 - 12:56 AM

Kisah Kenikmatan Tubuh Para Perawat Di Bandung Bagian 1 - Cerita Becek.
 
Hari ini adalah hari pertamaku tinggal di kota Bandung. Karena tugas kantorku, aku terpaksa tinggal di Bandung selama 5 hari dan weekend di Jakarta. Di kota kembang ini, aku menyewa kamar di rumah temanku. Menurutnya, rumah itu hanya ditinggali oleh Ayahnya yang sudah pikun, seorang perawat, dan seorang pembantu. "Rumah yang asri," gumamku dalam hati. Halaman yang hijau, penuh tanaman dan bunga yang segar dikombinasikan dengan kolam ikan berbentuk oval. Aku mengetuk pintu rumah tersebut beberapa kali sampai pintu dibukakan. Sesosok tubuh semampai berbaju serba putih menyambutku dengan senyum manisnya.
 
"Pak David ya...?"
"Ya..., saya temannya Mas Rudi yang akan menyewa kamar di sini."
"Lho, kamu kan pernah kerja di tetanggaku?," jawabku surprise.
 
Perawat ini memang pernah bekerja pada tetanggaku di Bintaro sebagai baby sitter.
 
"Iya, saya dulu pengasuhnya Cindy. Saya keluar dari sana karena ada rencana untuk kimpoi lagi. Saya kan dulu janda pak.., tapi mungkin belum jodoh.., ee dianya pergi sama orang lain.., ya sudah, akhirnya saya kerja di sini..,"
 
Mataku memandangi sekujur tubuhnya. Ratih (nama si perawat itu) secara fisik memang tidak pantas menjadi seorang perawat. Kulitnya putih mulus, wajahnya manis, rambutnya hitam sebahu, buah dadanya sedang menantang, dan kakinya panjang semampai. Kedua matanya yang bundar memandang langsung mataku, seakan ingin mengatakan sesuatu.
 
Aku tergagap dan berkata, "Ee.., Mbak Ratih, Bapak ada?"
"Bapak sedang tidur. Tapi Mas Rudi sudah nitip sama saya. Mari saya antarkan ke kamar."
 
Ratih menunjukkan kamar yang sudah disediakan untukku. Kamar yang luas, ber AC, tempat tidur besar, kamar mandi sendiri, dan sebuah meja kerja. Aku meletakkan koporku di lantai sambil melihat berkeliling, sementara Ratih merunduk merapikan sprei ranjangku. Tanpa sengaja aku melirik Ratih yang sedang menunduk. Dari balik baju putihnya yang kebetulan berdada rendah, terlihat dua buah dadanya yang ranum bergayut di hadapanku. Ujung buah dada yang berwarna putih itu ditutup oleh BH berwarna pink. Darahku terkesiap. Ahh, perawat cantik, janda, di rumah yang relatif kosong. Sadar melihat aku terkesima akan keelokan buah dadanya, dengan tersipu-sipu Ratih menghalangi pemandangan indah itu dengan tangannya.
 
"Semuanya sudah beres Pak, silakan beristirahat."
"Ee, ya.., terima kasih," jawabku seperti baru saja terlepas dari lamunan panjang.
 
Sore itu aku berkenalan dengan ayah Rudi yang sudah pikun itu. Ia tinggal sendiri di rumah itu setelah ditinggalkan oleh istrinya 5 tahun yang lalu. Selama beramah tamah dengan sang Bapak, mataku tak lepas memandangi Ratih. Sore itu ia menggunakan daster tipis yang dikombinasikan dengan celana kulot yang juga tipis. Buah dadanya nampak semakin menyembul dengan dandanan seperti itu. Di rumah itu ada seorang pembantu berumur sekitar 17 tahun. Mukanya manis, walaupun tidak secantik Ratih. Badannya bongsor dan montok. Lina namanya. Ia yang sehari-hari menyediakan makan untukku. Hari demi hari berlalu. Karena kepiawaianku dalam bergaul, aku sudah sangat akrab dengan orang-orang di rumah itu. Bahkan Lina sudah biasa mengurutku dan Ratih sudah berani untuk ngobrol di kamarku. Bagi janda muda itu, aku sudah merupakan tempat mencurahkan isi hatinya. Begitu mudah keakraban itu terjadi hingga kadang-kadang Ratih merasa tidak perlu mengetuk pintu sebelum masuk ke kamarku. Sampai suatu malam, ketika itu hujan turun dengan lebatnya. Aku, karena sedang suntuk memasang VCD porno kesukaanku di laptopku. Tengah asyik-asyiknya aku menonton tanpa sadar aku menoleh ke arah pintu, astaga, Ratih tengah berdiri di sana sambil juga ikut menonton. Rupanya aku lupa menutup pintu, dan ia tertarik akan suara-suara erotis yang dikeluarkan oleh film produksi Vivid interactive itu. Ketika sadar bahwa aku mengetahui kehadirannya, Ratih tersipu dan berlari ke luar kamar.
 
"Mbak Ratih...," panggilku seraya mengejarnya ke luar.
Kuraih tangannya dan kutarik kembali ke kamarku.
"Mbak Ratih, mau nonton bareng? Ngga apa-apa kok."
"Ah, ngga Pak, malu aku..," katanya sambil melengos.
"Lho.., kok malu.., kayak sama siapa saja.., kamu itu.., wong kamu sudah cerita banyak tentang diri kamu dan keluarga.., dari yang jelek sampai yang bagus.., masak masih ngomong malu sama aku?" kataku seraya menariknya ke arah ranjangku.
"Yuk kita nonton bareng..."
 
Aku mendudukkan Ratih di ranjangku dan pintu kamarku kukunci. Dengan santai aku duduk di samping Ratih sambil mengeraskan suara laptopku. Adegan-adegan erotis yang diperlihatkan ke 2 bintang porno itu memang menakjubkan. Mereka bergumul dengan buas dan saling menghisap. Aku melirik Ratih yang sedari tadi takjub memandangi adegan-adegan panas tersebut. Terlihat ia berkali-kali menelan ludah. Nafasnya mulai memburu, dan buah dadanya terlihat naik turun.
 
Aku memberanikan diri untuk memegang tangannya yang putih mulus itu. Ratih tampak sedikit kaget, namun ia membiarkan tanganku membelai telapak tangannya. Terasa benar bahwa telapak tangan Ratih basah oleh keringat. Aku membelai-belai tangannya seraya perlahan-lahan mulai mengusap pergelangan tangannya dan terus merayap ke arah ketiaknya. Ratih nampak pasrah saja ketika aku memberanikan diri melingkarkan tanganku ke bahunya sambil membelai mesra bahunya. Namun ia belum berani untuk menatap mataku. Sambil memeluk bahunya, tangan kananku kumasukkan ke dalam daster melalui lubang lehernya. Tanganku mulai merasakan montoknya pangkal buah dada Ratih. Kubelai-belai seraya sesekali kutekan daging empuk yang menggunung di dada bagian kanannya. Ketika kulihat tak ada reaksi dari Ratih, secepat kilat kusisipkan tanganku ke dalam BHnya, kuangkat cup BHnya dan kugenggam buah dada ranum si janda muda itu.
 
"Ohh.., Pak, jangan..," bisiknya dengan serak seraya menoleh ke arahku dan mencoba menolak dengan menahan pergelangan tangan kananku dengan tangannya.
"Sshh, ngga apa-apa Mbak, ngga apa-apa."
"Nanti ketauanhh..."
"Nggaa, jangan takut..," kataku seraya dengan sigap memegang ujung puting buah dada Ratih dengan ibu jari dan telunjukku, lalu kupelintir-pelintir ke kiri dan kanan.
"Ooh.., hh.., Pak.., Ouh.., jj.., jjanganhh.., ouh..,"
 
Ratih mulai merintih-rintih sambil memejamkan matanya. Pegangan tangannya mulai mengendor di pergelangan tanganku. Saat itu juga, kusambar bibirnya yang sedari tadi sudah terbuka karena merintih-rintih.
 
"Ouhh.., mmff.., cuphh.., mpffhh..," Dengan nafas tersengal-sengal Ratih mulai membalas ciumanku. Kucoba mengulum lidahnya yang mungil, ketika kurasakan ia mulai membalas sedotanku. Bahkan ia kini mencoba menyedot lidahku ke dalam mulutnya seakan ingin menelannya bulat-bulat.
 
Tangannya kini sudah tidak menahan pergelanganku lagi, namun kedua-duanya sudah melingkari leherku. Malahan tangan kanannya digunakannya untuk menekan belakang kepalaku sehingga ciuman kami berdua semakin lengket dan bergairah. Momentum ini tak kusia-siakan. Sementara Ratih melingkarkan kedua tangannya di leherku, akupun melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya. Aku melepaskan bibirku dari kulumannya, dan aku mulai menciumi leher putih Ratih dengan buas.
 
"aahh.. Ouhh.." Ratih menggelinjang kegelian dan tanganku mulai menyingkap daster di bagian pinggangnya. Kedua tanganku merayap cepat ke arah tali BHnya dan, tasss.. terlepaslah BHnya dan dengan sigap kualihkan kedua tanganku ke dadanya. Saat itulah kurasakan betapa kencang dan ketatnya kedua buah dada Ratih. Kenikmatan meremas-remas dan mempermainkan putingnya itu terasa betul sampai ke ujung sarafku. Penisku yang sedari tadi sudah menegang terasa semakin tegang dan keras.
 
Rintihan-rintihan Ratih mulai berubah menjadi jeritan-jeritan kecil terutama saat kuremas buah dadanya dengan keras. Ratih sekarang lebih mengambil inisiatif. Dengan nafasnya yang sudah sangat terengah-engah, ia mulai menciumi leher dan mukaku. Ia bahkan mulai berani menjilati dan menggigit daun telingaku ketika tangan kananku mulai merayap ke arah selangkangannya. Dengan cepat aku menyelipkan jari-jariku ke dalam kulotnya melalui perut, langsung ke dalam celana dalamnya. Walaupun kami berdua masih dalam keadaan duduk berpelukan di atas ranjang, posisi paha Ratih saat itu sudah dalam keadaan mengangkang seakan memberi jalan bagi jari jemariku untuk secepatnya mempermainkan kemaluannya.
 
Hujan semakin deras saja mengguyur kota Bandung. Sesekali terdengar suara guntur bersahutan. Namun cuaca dingin tersebut sama sekali tidak mengurangi gairah kami berdua di saat itu. Gairah seorang lajang yang memiliki libido yang sangat tinggi dan seorang janda muda yang sudah lama sekali tidak menikmati sentuhan lelaki. Ratih mengeratkan pelukannya di leherku ketika jemariku menyentuh bulu-bulu lebat di ujung vaginanya. Ia menghentikan ciumannya di kupingku dan terdiam sambil terus memejamkan matanya. Tubuhnya terasa menegang ketika jari tengahku mulai menyentuh vaginanya yang sudah terasa basah dan berlendir itu. Aku mulai mempermainkan vagina itu dan membelainya ke atas dan ke bawah.
 
"Ouuhh Pak.., ouhh.., aahh.., g..g.ggelliiihh." Ratih sudah tidak bisa berkata-kata lagi selain merintih penuh nafsu ketika clitorisnya kutemukan dan kupermainkan. Seluruh badan Ratih bergetar dan bergelinjang. Ia nampak sudah tak dapat mengendalikan dirinya lagi.
 
Jeritan-jeritannya mulai terdengar keras. Sempat juga aku khawatir dibuatnya. Jangan-jangan seisi rumah mendengar apa yang tengah kami lakukan. Namun kerasnya suara hujan dan geledek di luar rumah menenangkanku. Benda kecil sebesar kacang itu terasa nikmat di ujung jari tengahku ketika aku memutar-mutarnya. Sambil mempermainkan clitorisnya, aku mulai menundukkan kepalaku dan menciumi buah dadanya yang masih tertutupi oleh daster. Seolah mengerti, Ratih menyingkapkan dasternya ke atas, sehingga dengan jelas aku bisa melihat buah dadanya yang ranum, kenyal dan berwarna putih mulus itu bergantung di hadapanku. Karena nafsuku sudah memuncak, dengan buas kusedot dan kuhisap buah dada yang berputing merah jambu itu. Putingnya terasa keras di dalam mulutku menandakan nafsu janda muda itupun sudah sampai di puncak. Ratih mulai menjerit-jerit tidak karuan sambil menjambak rambutku. Sejenak kuhentikan hisapanku dan bertanya, "Enak Mbak?"
 
Sebagai jawabannya, Ratih membenamkan kembali kepalaku ke dalam ranumnya buah dadanya. Jari tengahku yang masih mempermainkan clitorisnya kini kuarahkan ke lubang vagina Ratih yang sudah menganga karena basah dan posisi pahanya yang mengangkang.
 
Dengan pelan tapi pasti kubenamkan jari tengahku itu ke dalamnya dan, "Auuhh.., P.Paak.., hhmmm...."
Ratih menjerit dan menaikkan kedua kakinya ke atas ranjang. "Terrusshh.., auhh..."
 
Kugerakkan jariku keluar masuk di vaginanya dan Ratih menggoyangkan pingggulnya mengikuti irama keluar masuknya jemariku itu. Aku menghentikan ciumanku di buah dada Ratih dan mulai mengecup bibir ranum janda itu. Matanya tak lagi terpejam, tapi memandang sayu ke mataku seakan berharap kenikmatan yang ia rasakan ini jangan pernah berakhir. Tangan kiriku yang masih bebas, membimbing tangan kanan Ratih ke balik celana pendekku. Ketika tangannya menyentuh penisku yang sudah sangat keras dan besar itu, terlihat ia agak terbelalak karena belum pernah melihat bentuk yang panjang dan besar seperti itu.
 
Ratih meremas penisku dan mulai mengocoknya naik turun naik turun.., kocokan yang nikmat yang membuatku tanpa sadar melenguh, "Ahh.., Mbaak.., enaknya.., terusin..." Saat itu kami berdua berada pada puncaknya nafsu. Aku yakin bahwa Mbak Ratih sudah ingin secepatnya memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Ia tidak mengatakannya secara langsung, namun dari tingkahnya menarik penisku dan mendekatkannya ke vaginanya sudah merupakan pertanda. Namun, di detik-detik yang paling menggairahkan itu terdengar suara si Bapak tua berteriak, "Ratiiihhhh, Ratiiihhhh...." Kami berdua tersentak. Kukeluarkan jemariku dari vaginanya, Ratih melepaskan kocokannya dan ia membenahi pakaian dan rambutnya yang berantakan. Sambil mengancingkan kembali BHnya ia keluar dari kamarku menuju kamar Bapak tua itu. Sialan! Kepalaku terasa pening.
 
Begitulah penyakitku kalau libidoku tak tersalurkan. Beberapa saat lamanya aku menanti siapa tahu janda muda itu akan kembali ke kamarku. Tapi nampaknya ia sibuk mengurus orang tua pikun itu, sampai aku tertidur. Entah berapa lama aku terlelap, tiba-tiba aku merasa nafasku sesak. Dadaku serasa tertindih suatu beban yang berat. Aku terbangun dan membuka mataku. Aku terbelalak, karena tampak sesosok tubuh putih mulus telanjang bulat menindih tubuhku. "Mbak Ratih?," tanyaku tergagap karena masih mengagumi keindahan tubuh mulus yang berada di atas tubuhku. Lekukan pinggulnya terlihat landai, dan perutnya terasa masih kencang. Buah dadanya yang lancip dan montok itu menindih dadaku yang masih terbalut piyama itu. Seketika, rasa kantukku hilang.
 
Mbak Ratih tersenyum simpul ketika tangannya memegang celanaku dan merasakan betapa penisku sudah kembali menegang.
 
"Kita tuntaskan ya Mbak?" kataku sambil menyambut kuluman lidahnya. Sambil dalam posisi tertindih aku menanggalkan seluruh baju dan celanaku. Kegairahan yang sempat terputus itu, mendadak kembali lagi dan terasa bahkan lebih menggila. Kami berdua yang sudah dalam keadaan bugil saling meraba, meremas, mencium, merintih dengan keganasan yang luar biasa.
 
Mbak Ratih sudah tidak malu-malu lagi menggoyangkan pinggulnya di atas penisku sehingga bergesekan dengan vaginanya. Tidak lebih dari 5 menit, aku merasakan bahwa nafsu syahwat kami sudah kembali berada di puncak. Aku tak ingin kehilangan momen lagi. Kubalikkan tubuh Ratih, dan kutindih sehingga keempukan buah dadanya terasa benar menempel di dadaku. Perutku menggesek nikmat perutnya yang kencang, dan penisku yang sudah sangat menegang itu bergesekan dengan vaginanya.
 
"Mbak.., buka kakinya.., sekarang kamu akan merasakan surganya dunia Mbak..," bisikku sambil mengangkangkan kedua pahanya. Sambil tersengal-sengal Ratih membuka pahanya selebar-lebarnya. Ia tersenyum manis dengan mata sayunya yang penuh harap itu.
 
"Ayo Pak.., masukkan sekarang." Aku menempelkan kepala penisku yang besar itu di mulut vagina Ratih. Perlahan-lahan aku memasukkannya ke dalam, semakin dalam, semakin dalam dan, "aa.., Aooohh.., paakh.., aahh..," rintihnya sambil membelalakkan matanya ketika hampir seluruh penisku kubenamkan ke dalam vaginanya. Setelah itu, Blesss, dengan sentakan yang kuat kubenamkan habis penisku diiringi jeritan erotisnya, "Ahh.., besarnyah.., ennnakk ppaak..."
 
Aku mulai memompakan penisku keluar masuk, keluar masuk. Gerakanku makin cepat dan cepat. Semakin cepat gerakanku, semakin keras jeritan Ratih terdengar di kamarku. Pinggul janda muda itu pun berputar-putar dengan cepat mengikuti irama pompaanku. Kadang-kadang pinggulnya sampai terangkat-angkat untuk mengimbangi kecepatan naik turunnya pinggulku. Buah dadanya yang terlihat bulat dalam keadaan berbaring itu bergetar dan bergoyang ke sana ke mari. Sungguh menggairahkan! Tiba-tiba aku merasakan pelukannya semakin mengeras. Terasa kuku-kukunya menancap di punggungku. Otot-ototnya mulai menegang. Nafas perempuan itu juga semakin cepat. Tiba-tiba tubuhnya mengejang, mulutnya terbuka, matanya terpejam, dan alisnya merengut. "Aahh......" Ratih menjerit panjang seraya menjambak rambutku, dan penisku yang masih bergerak masuk keluar itu terasa disiram oleh suatu cairan hangat.
 
Dari wajahnya yang menyeringai, tampak janda muda itu tengah menghayati orgasmenya yang mungkin sudah lama tidak pernah ia alami itu. Aku tidak mengendurkan goyangan pinggulku, karena aku sedang berada di puncak kenikmatanku.
 
"Mbak.., goyang terus Mbak.., aku juga mau keluar..." Ratih kembali menggoyang pinggulnya dengan cepat dan beberapa detik kemudian, seluruh tubuhku menegang.
 
"Keluarkan di dalam saja pak," bisik Ratih, "Aku masih pakai IUD."
Begitu Ratih selesai berbisik, aku melenguh, "Mbak.., aku keluar.., aku keluarr., aahh..," dan, Crat.., crat.., craat, kubenamkan penisku dalam-dalam di vagina perempuan itu.
 
Seakan mengerti, Ratih mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi sehingga puncak kenikmatan ini terasa benar hingga ke tulang sumsumku. Kami berdua terkulai lemas sambil memejamkan mata. Pikiran kami melayang-layang entah kemana. Tubuhku masih menindih tubuh montok Ratih.
 
Kami berdua masih saling berpelukan dan akupun membayangkan hari-hari penuh kenikmatan yang akan kualami sesudah itu di Bandung. Sejak kejadian malam itu, kesibukan di kantorku yang luar biasa membuatku sering pulang larut malam. Kepenatanku selalu membuatku langsung tertidur lelap.
 
Kesibukan ini bahkan membuat aku jarang bisa berkomunikasi dengan Ratih. Walaupun begitu, sering juga aku mempergunakan waktu makan siangku untuk mampir ke rumah dengan maksud untuk melakukan sex during lunch. Sayang, di waktu tersebut ternyata Ayah Rudi senantiasa dalam keadaan bangun sehingga niatku tak pernah kesampaian. Namun suatu hari aku cukup beruntung walaupun orang tua itu tidak tidur. Aku mendapat apa yang kuinginkan.
 
Bersambung...


bokep jav bokep jav

#2 Partagas

Partagas

    Kentang

  • Members
  • PipPipPip
  • 86 posts

Posted 03 January 2018 - 05:17 PM

: LOVE : : LOVE : : LOVE : : LOVE : : LOVE : : LOVE : : LOVE : : LOVE : : LOVE : : LOVE :



#3 jendelatetangga

jendelatetangga

    Ubi

  • Members
  • Pip
  • 8 posts

Posted 04 January 2018 - 09:49 AM

  Mantaaap  : CRAZY : : CRAZY :